Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Batubara adalah endapan senyawa organik karbon yang terbentuk secara alamiah dari sisa
tumbuh-tumbuhan. Batubara merupakan salah satu sumber energi yang cukup penting untuk
menunjang kehidupan manusia. Di Indonesia, batubara merupakan sumber energi ketiga setelah
minyak, gas bumi, dan beberapa pembangkit listrik sudah menggunakan batubara sebagai
sumber energinya (Irawan, 2014: 187).
Kebutuhan batubara sebagai sumber energi alternatif kian hari semakin meningkat. Untuk
mengetahui keberadaan potensi endapan batubara tersebut, dilakukan eksplorasi. Dari data-data
hasil eksplorasi yang didapatkan, dan dari data tofografi yang telah dilakukan kita dapat
menghitung sumberdaya batubara. Sumberdaya batubara akan menjadi cadangan batubara jika
pada saat kajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang sehingga diperlukan perhitungan
cadangan. Perhitungan cadangan berperan penting dalam menentukan kuantitas (jumlah) suatu
endapan bahan galian. Jumlah cadangan menentukan umur tambang.Dalam hal ini Reserves
coal merupakan kapasitas (jumlah) cadangan batubara yang dapat ditambang (tertambang) pada
kondisi teknologi penambangan sekarang, dengan telah mempertimbangkan faktor lingkungan,
hukum & perundang - undangan serta peraturan yang berlaku (legalitas), serta kebijakan
pemerintah yang diterapkan. Pemodelan geologi adalah bagian awal dari suatu proses
pembuatan perencanaan tambang. Pemodelan geologi mempunyai peranan yang sangat penting
dalam memberikan gambaran hasil interpretasi bentuk endapan batubara. Setelah dilakukan
perhitungan cadangan, untuk dapat melanjutkan usaha pertambangan maka diperlukan kegiatan
perencanaan dan permodelan tambang.
1.2. Tujuan
1. Membuat rancangan pit dan menentukan batas penambangan.
2. Menghitung jumlah cadangan tertambang dan volume batuan penutup.
3. Membuat jadwal produksi dan tahapan penambangan.
4. Menghitung keperluan alat gali muat dan alat angkut.
5. Membuat rancangan disposal dan timbunan tanah pucuk.
6. Membuat rencana topografi setelah penambangan
1.3. Metodologi
Metode ini dilakukan dengan cara mengolah data yang diperoleh dari data yang didapat
sebagai sumber informasi sehingga kita dapat menarik kesimpulan. Pengolahan data
perhitungan cadangan dibantu dengan memakai program komputer (Software) Minescpae
4.118, AutoCad 2007, strater 4 dan 12d.
1.4. Perencanaan Tambang
Perencanaan adalah penentuan persyaratan teknik pencapaian sasaran kegiatan serta
urutan teknik pelaksanaan dalam berbagai macam anak kegiatan yang harus dilaksanakan untuk
pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan. Perencanaan tambang dapat diartikan sebagai kegiatan
berikut; 1. Penentuan tujuan dan sasaran kegiatan yang ingin dicapai, 2. proses persiapan secara
sistematik mengenai kegiatan yang akan dilakukan, 3. cara mencapai tujuan dan sasaran dengan
menggunakan sumber dan kemampuan yang tersedia secara berdaya guna dan berdaya hasil, 4.
pembahasan dari persoalan, kemungkinan dan kesempatan yang dapat terjadi yang dapat
mempengaruhi pencapaian tujuan, dan 5. penentuan dari tindakan yang akan diambil untuk
mencapai tujuan berdasarkan analisa tujuan dan kesempatan.
Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya
dibagi menjadi tugas-tugas sebagai berikut :

I-1
1. Penentuan batas dari pit
Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu cebakan
bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan ditambang (tonase dan
kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut. Dalam
penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum diperhitungkan.
2. Perancangan pushback
Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang habis
cadangan bijih tersebut mulai dari titik masuk awal hingga ke batas akhir daripit. Perancangan
pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi ultimate pitmenjadi unit-unit
perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah
perancangan tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini
elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke dalam rancangan penambangan karena urut-urutan
penambangan pushback telah mulai dipertimbangkan.
3. Penjadwalan produksi
Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang
mengikuti urutan pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk
tiap pushback yang diperoleh dari tahap 2). Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut off grade)
dan berbagai tingkat produksi bijih dan waste dievaluasi dengan menggunakan kriteria nilai
waktu dari uang, misalnya net present value. Hasilnya akan dipakai untuk menentukan sasaran
jadwal produksi yang akan memberikan tingkat produksi dan strategi kadar batas yang terbaik.
4. Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu
Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar atau
peta-peta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun). Peta-
peta ini menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang datangnya bijih dan waste untuk
tahun tersebut. Rencana penambangan tahunan ini sudah cukup rinci, di dalamnya sudah
termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian rupa sehingga merupakan bentuk
yang dapat ditambang. Peta rencana pembuangan lapisan penutup (waste dump) dibuat pula
untuk periode waktu yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari kegiatan penambangan
dapat terlihat.
5. Pemilihan alat
Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari tahap 4)
dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu. Dengan mengukur profil jalan
angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode
(setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.)
dihitung pula.
6. Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital
Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung jumlah
gilir kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi. Jumlah dan
jadwal kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat
ditentukan. Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.
1.5. Perancangan Tambang
Istilah Perancangan tambang biasanya dimaksudkan sebagai bagian dari proses
perencanaan tambang yang berkaitan dengan masalah-masalah geometri. Perancangan tidak
berhubungan dengan waktu (Nurhakim, 2008 : 1).
Ada empat ketentuan dalam merancang tambang, yaitu:
1. Membuat rancangan jalan masuk alat untuk mencapai setiap jenjang kerja. Jalan di dalam
pit biasanya bersifat sementara, berubah-ubah sesuai kemajuan tambang.
2. Memenuhi persyaratan geoteknik, berupa rekomendasi kemiringan lereng penambangan.
3. Menyesuaikan keadaan endapan, dalam menentukan wilayah dan tahap penambangan,
menentukan penempatan jalan, atau menentukan lokasi endapan akan tersingkap.

I-2
4. Memaksimalkan efisiensi kegiatatan penambangan, misalnya dengan cara menyediakan
lebar jenjang kerja optimum yang diperlukan untuk keleluasaan kerja alat (Lambert, 2005 :
3-4)
1.5.1. Geometri Jenjang
Kegiatan stripping dan mining diselenggarakan pada satu atau lebih jenjang secara
berurutan. Pada keadaan overburden (atau lapisan batubara) yang tebal diperlukan beberapa
bench bertingkat, sehingga irisan (section) tambang open pit dapat digambarkan sebagai kerucut
terbalik.
Secara individu, bench dirancang untuk memberi kesempatan dan ruang bagi peralatan
agar dapat menggali material (overburden atau batubara) secara leluasa. Oleh karena itu
dimensinya harus diatur sedemikian rupa. Tinggi bench tidak melebihi kemampuan jangkauan
alat gali (Budirahardja, 2000 : 1).
Komponen dasar dalam penggalian di tambang terbuka adalah jenjang. Bagian-bagian
jenjang ditunjukkan pada gambar 3.1. Tiap-tiap jenjang memiliki permukaan bagian atas dan
bagian bawah yang dipisahkan oleh jarak H yang disebut tinggi jenjang. Permukaan sub-vertikal
yang tersingkap disebut muka jenjang (bench face). Semuanya itu digambarkan dengan kaki
lereng (toe), puncak (crest) dan sudut muka jenjang (face angle). Sudut muka jenjang ini dapat
bervariasi tergantung pada karakteristik batuan, orientasi jenjang dan peledakan
Tatanama geometri jenjang dapat dilihat pada gambar 1.1. dibawah ini.

Sumber : Fourie and Dohm, 2001 : 1275


Gambar 1.1.
Bagian-Bagian Jenjang

Overall Slope dapat dihitung dengan rumus:

(1.1)

Keterangan:
nh : jumlah tinggi jenjang
dh : tinggi jenjang
nw : jumlah lebar jenjang
dw : lebar jenjang
tan : slope angle
Sedangkan jika terdapat jalan pada jenjang, maka Overall Slope dapat dihitung dengan rumus:

I-3
(1.2)

Keterangan:
nh : jumlah tinggi jenjang
dh : tinggi jenjang
nw : jumlah lebar jenjang
dw : lebar jenjang
tan : slope angle
l : lebar jalan (Hustrulid & Kuchta, 1998 : 288)
1.5.2. Geometri Jalan
a. Lebar jalan pada kondisi lurus.
Lebar jalan minimum pada jalan lurus dengan lajur ganda atau lebih, menurut Aasho
Manual Rural High Way Design, harus ditambah dengan setengah lebar alat angkut pada bagian
tepi kiri, kanan jalan, dan jarak antar kendaraan (lihat Gambar 1.2.). Dari ketentuan tersebut
dapat digunakan cara sederhana untuk menentukan lebar jalan angkut minimum, yaitu
menggunakan rule of thumb atau angka perkiraan seperti terlihat pada Tabel 1.1, dengan
pengertian bahwa lebar alat angkut sama dengan lebar lajur.
Tabel 1.1.
Lebar Jalan Angkut Minimum
Jumlah Jalur Truk Perhitungan Lebar Jalan Angkut Minimal
1 1 + (2 x ) 2
2 2 + (3 x ) 3,5
3 3 + (4 x ) 5
4 4 + (5 x ) 6,5
Sumber : Awang Suwandhi, 2004 : 2
Dari kolom perhitungan pada Tabel 3.1 dapat ditetapkan rumus lebar jalan angkut
minimum pada jalan lurus. Seandainya lebar kendaraan dan jumlah lajur yang direncanakan
masing-masing adalah Wt dan n, maka lebar jalan angkut pada jalan lurus dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Lmin n.Wt ( n 1).(0,5.Wt ) (1.3)
Keterangan:
Lmin = lebar jalan angkut minimum (m)
Wt = lebar alat (m)
n = jumlah jalur

Sumber : Awang Suwandhi, 2004 : 3

Gambar 1.2.

I-4
Lebar Jalan Angkut Dua Jalur Pada Jalan Lurus
b. Lebar jalan angkut pada tikungan
Lebar jalan angkut pada tikungan selalu dibuat lebih besar dari pada jalan lurus. Hal ini
dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya penyimpangan lebar alat angkut yang disebabkan
oleh sudut yang dibentuk oleh roda depan dengan badan truk saat melintasi tikungan (lihat
gambar 3.3) Untuk jalur ganda, lebar jalan minimum pada tikungan dihitung dengan
mendasarkan :
1) Lebar jejak roda.
2) Lebar juntai atau tonjolan (overhang) alat angkut bagian depan dan belakang pada saat
membelok.
3) Jarak antar alat angkut saat bersimpangan.
4) Jarak alat angkut terhadap tepi jalan.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung lebar jalan angkut minimum pada
tikungan yaitu:
W nU Fa Fb Z C
(1.4)
C Z 0,5U Fa Fb
Keterangan :
Wj = lebar jalan angkut pada tikungan, meter
U = jarak jejak roda, meter
Fa = lebar juntai depan, meter
Fb = lebar juntai belakang, meter
Z = lebar bagian tepi jalan, meter
C = jarak antara alat angkut saat bersimpangan, meter
(Nurhakim, 2002 : 9-4)

Sumber : Awang Suwandhi, 2004 : 4


Gambar 1.3.
Lebar Jalan Angkut Dua Jalur Pada Belokan
c. Kemiringan
Kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut baik
dalam pengereman ataupun dalam mengatasi tanjakan. Kemiringan jalan umumnya dinyatakan
dalam persen (%).
Kemiringan maksimum yang dapat dilalui dengan baik oleh alat angkut truck berkisar
10-15% atau sekitar 6-8.50. Akan tetapi untuk jalan naik atau turun pada lereng bukit lebih
aman bila kemiringan jalan maksimum sekitar 8% (=4,5) (Awang Suwandhi, 2004).
Tabel 1.2.
Perbandingan Kecepatan Maksimum Terhadap Kemiringan

Sumber: Direktorat Jenderal Bina Marga dalam Suwandhi, 2004.

I-5
1.6. Tahapan Penambangan
Tahapan penambangan merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris)
yang menunjukkan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk
akhir pit. Pentahapan penambangan disebut juga dengan nama sequence, pushback, phase, slice,
dan stage. Tujuan dari tahapan penambangan adalah untuk menyederhanakan seluruh volume
yang ada dalam overall pit kedalam unit-unit pit penambangan yang lebih kecil, sehingga
memudahkan penanganannya. Dalam perancangan tahapan penambangan. Parameter waktu
harus diperhitungkan, karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh dalam suatu
penjadwalan tambang (mine scheduling) untuk dapat mongoptimalkan target produksi (Arif &
Adisoma, 2002 : 5).
Contoh Gambar Tahapan Penambangan tampak atas dan tampak samping dapat dilihat
pada Gambar 1.4. dan Gambar 1.5.

Sumber : Martson, 2009, halaman 2.


Gambar 1.4.
Contoh Tahapan Penambangan Tampak Atas

Sumber : McCarter, 2001. p 3168


Gambar 1.5.
Contoh Tahapan Penambangan Tampak Samping
1.7. Penjadwalan Produksi

I-6
Suatu penjadwalan produksi tambang menyatakan, dalam periode waktu (tahun atau
bulan), ton bahan galian, kadar , dan pemindahan material total yang akan dihasilkan oleh
tambang tersebut. Sasarannya adalah menghasilkan suatu jadwal untuk mencapai beberapa
sasaran / kriteria ekonomik seperti memaksimumkan Net Present Value (NPV) atau Rate of
Return (ROR). Kriteria lain misalnya menghasilkan sejumlah material dengan biaya semurah
mungkin, dan lain-lain. Dalam perencanaan jangka panjang akan menghasilkan suatu jadwal
produksi dan kemudian menentukan kebutuhan peralatan untuk mengoperasikan jadwal
tersebut. Pada penjadwalan jangka pendek fokusnya mungkin berbeda, dengan kendala jumlah
peralatan, ditentukan jadwal yang terbaik. Selama proses penjadwalan, evaluasi beberapa
alternatif sering dlakukan:
1. Berbagai tingkat produksi bijih atau batubara.
2. Berbagai jadwal pengupasan tanah penutup.
3. Berbagai strategi kadar batas (cut-off grade).
Data masukan dasar adalah pernyataan tonase dari tahap-tahap penambangan, yaitu
tabulasi ton dan kadar per jenjang dari material yang akan ditambang untuk tiap tahapan.
Asumsi awal yang diperlukan untuk mengembangkan suatu jadwal adalah :
1. Tingkat produksi bijih atau batubara untuk tiap periode waktu
a. Dapat ditentukan dengan studi perbandingan tingkat produksi.
b. Tingkat produksi dapat berubah / meningkat dengan waktu.
2. Cut-off grade untuk tiap periode waktu
Beberapa jadwal sering dibuat untuk mengevaluasi strategi cut-off grade yang berbeda.
3. Dua butir di atas hingga tingkat tertentu akan mempengaruhi jadwal pengupasan tanah /
material penutup.
Pengamatan terhadap tabulasi cadangan per jenjang untuk tiap tahapan perlu dilakukan,
karena jenjang-jenjang di bagian atas biasanya terdiri dari material penutup (waste) yang harus
dikupas. Jenjang-jenjang yang lebih ke bawah umumnya terdiri dari bahan galian . Inilah
sumber bahan galian yang diandalkan untuk menjaga kelangsungan pabrik pengolahan. Pada
elevasi jenjang berapakah akan terjadi peralihan dari material penutup (waste) ke sumber bahan
galian yang dapat diandalkan. Satu kriteria adalah nilai nisbah pemgupasan. Pada elevasi
jenjang berapakah nisbah pemgupasan jenjang akan lebih rendah dari nisbah pengupasan rata-
rata.
Besarnya pengupasan pada saat pra-produksi juga perlu dilakukan, yaitu dalam kaitan :
1. Jumlah material penutup yang harus dikupas selama masa pra-produksi
2. Jumlah minimum material penutup yang harus dipindahkan dari tahap penambangan
(pushback) pertama sehingga pushback ini akan menjadi sumber bijih yang andal ketika
produksi tahun pertama dimulai.
3. Proses penjadwalan produksi ini dapat mengindikasikan jumlah material yang lebih besar
daripada yang didiskusikan pada butir 2. Karena itu mungkin perlu dilakukan pengupasan
pada pushback kedua, dan seterusnya.
4. Material bijih atau batubara yang ditambang selama pra-produksi biasanya di tumpuk di
dekat crusher dan menjadi bagian dari bijih atau batubara untuk tahun pertama.
(Arif & Adisoma, 2002)

I-7