Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ada beberapa metode yang umum digunakan sebagai pengukuran temperatur (sensor)
meliputi termokopel, sistem yang diisi (filled system), tahanan listrik dan elemen bimetal.
Pemilihan sensor temperatur dan sistem yang ingin digunakan bergantung pada empat faktor,
yaitu : harga, ketepatan (akurasi), kepercayaan dan kesesuaian.
Faktor pertama pasti dipertimbangkan karena pengaruh harga sangat penting sekali. Faktor
kedua dapat dipahami sebab bila suatu proses ingin dikontrol dengan satu atau dua derajat (kadang-
kadang dengan derajat fraksi), proses lain dapat berubah beberapa derajat tentunya tanpa kehilangan
efisiensi atau kualitas.
Faktor kepercayaan dapat digambarkan sebagai berikut : termokopel besi-konstantan dapat
dipakai untuk pengukuran temperatur sekitar 760C. Tetapi, oksidasi menyebabkan kesalahan awal
dan termokopel besi-konstantan membutuhkan pergantian berulang. Agar lebih dapat dipercaya,
termokopel dengan range temperatur besar dan ketahanan yang lama dapat digunakan.
Faktor kesesuaian pada proses yang hendak diukur turut menentukan pemilihan
sensor; dimana sensor tidak berubah atau bercampur dengan proses. Misalnya menempatkan
termokopel pada sumber panas (thermowell) dalam aliran dimana proses berlangsung
mencegah terjadinya perpindahan panas dengan konsekuensi kesalahan indikasi temperatur.
Prinsip termoelektrik yang ditemukan oleh Seebeck pada tahun 1821 merupakan satu dasar
dari beberapa jenis alat pengukuran temperatur yaitu termokopel. Bila dua logam yang berbeda
dihubungkan bersama pada satu sisi dan sisi tersebut dipanaskan, akan timbul pada potensial pada sisi
yang lain. Dua kaki bebas tersebut dapat dihubungkan dengan mili voltmeter atau potensiometer
untuk mengukur besarnya emf (electromotive force) yang dihasilkan. Instrumen yang bekerja sesuai
prinsip ini dikenal sebagai pirometer termoelektrik.
Electromotive force yang didapat pada rangkaian termoelektrik disebabkan oleh dua
fenomena, satu dikenal efek Peltier dan yang lain adalah efek Thomson. Efek Peltier mengatur besar
emf hasil dari kontak dua logam berbeda (tetapi besarnya berubah sejalan dengan temperatur pada
titik kontak). Emf akibat dari efek Thomson (kurang dominan) dihasilkan oleh gradien temperatur
kabel tunggal.
Selama kedua titik kontak dan kedua kabel terdapat gradien temperatur maka akan timbul dua
emf Peltier dan dua amf Thomson. Total emf yang bekerja pada rangkaian adalah hasil keempat emf
tersebut, dengan polaritas ditentukan dari material yang digunakan dan hubungannya terhadap
temperatur pada kedua sisi. Besar emf ini dapat diukur pada rangkaian di setiap titik dengan
instrumen pengukur emf atau potensiometer.
Termokopel yang umumnya diperdagangkan dapat membangkitkan 20 sampai 50 mV untuk
suatu jangkauan temperatur tertentu.
Selama material yang digunakan adalah termokopel komersial (umum diperdagangkan), efek
Thomson dapat diabaikan. Total emf menjadi jumlah kedua emf yang dibangkitkan oleh efek
Peltier. Bila temperatur pada satu sambungan (reference junction) dipertahankan konstan,
atau bila besar emf dikompensasi, emf efektif termokopel hanya yang dibagkitkan oelh
temperatur yang tidak terkompensasi (measuring junction). Besar emf inilah yang digunakan
untuk mengukur perubahan temperatur.

Tujuan
- Untuk memenuhi tugas praktikum instrumen
- Untuk mengetahui hubungan antara perubahan suhu terhadap output
thermocouple
- Untuk mengetahui prinsip kerja dari thermocouple
- Untuk mengetahui nilai output thermocouple
- Untuk mengetahuni jenis-jenis thermocouple
- Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan thermocouple.
LANDASAN TEORI

Suatu termokopel bekerja atas dasar prinsip fenomena dari Seebeck (pada tahun
1821), yaitu : bila suatu rangkaian yang terdiri dari dua buah logam yang tidak sejenis dan
bila temperatur pada sambungan-sambungan dari kedua kawat tersebut tidak sama, maka
akan ada gaya listrik (electromotive force = emf).
Konduktor tambahan ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu, dan mengalami
perubahan tegangan secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda. Menggunakan
logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan yang berbeda,
meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran, yang
bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70 microvolt
tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam modern. Beberapa
kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya, ketersediaanya,
kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil. Sangat penting diingat bahwa
termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2 titik, bukan temperatur absolut.
Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan (sambungan yang dingin) dijaga sebagai
temperatur referensi, sedang yang lain dihubungkan pada objek pengukuran. contoh, pada
gambar di atas, hubungan dingin akan ditempatkan pada tembaga pada papan sirkuit. Sensor
suhu yang lain akan mengukur suhu pada titik ini, sehingga suhu pada ujung benda yang
diperiksa dapat dihitung. Termokopel dapat dihubungkan secara seri satu sama lain untuk
membuat termopile, dimana tiap sambungan yang panas diarahkan ke suhu yang lebih tinggi
dan semua sambungan dingin ke suhu yang lebih rendah. Dengan begitu, tegangan pada
setiap termokopel menjadi naik, yang memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang
lebih tinggi.
Dengan adanya suhu tetapan pada sambungan dingin, yang berguna untuk pengukuran di
laboratorium, secara sederhana termokopel tidak mudah dipakai untuk kebanyakan indikasi
sambungan lansung dan instrumen kontrol. Mereka menambahkan sambungan dingin tiruan
ke sirkuit mereka yaitu peralatan lain yang sensitif terhadap suhu (seperti termistor atau
dioda) untuk mengukur suhu sambungan input pada peralatan, dengan tujuan khusus untuk
mengurangi gradiasi suhu di antara ujung-ujungnya. Di sini, tegangan yang berasal dari
hubungan dingin yang diketahui dapat disimulasikan, dan koreksi yang baik dapat
diaplikasikan. Hal ini dikenal dengan kompensasi hubungan dingin.
Biasanya termokopel dihubungkan dengan alat indikasi oleh kawat yang disebut kabel
ekstensi atau kompensasi. Tujuannya sudah jelas. Kabel ekstensi menggunakan kawat-kawat
dengan jumlah yang sama dengan kondoktur yang dipakai pada Termokopel itu sendiri.
Kabel-kabel ini lebih murah daripada kabel termokopel, walaupun tidak terlalu murah, dan
biasanya diproduksi pada bentuk yang tepat untuk pengangkutan jarak jauh - umumnya
sebagai kawat tertutup fleksibel atau kabel multi inti. Kabel-kabel ini biasanya memiliki
spesifikasi untuk rentang suhu yang lebih besar dari kabel termokopel. Kabel ini
direkomendasikan untuk keakuratan tinggi.
Kabel kompensasi pada sisi lain, kurang presisi, tetapi murah. Mereka memakai perbedaan
kecil, biasanya campuran material konduktor yang murah yang memiliki koefisien
termoelektrik yang sama dengan termokopel (bekerja pada rentang suhu terbatas), dengan
hasil yang tidak seakurat kabel ekstensi. Kombinasi ini menghasilkan output yang mirip
dengan termokopel, tetapi operasi rentang suhu pada kabel kompensasi dibatasi untuk
menjaga agar kesalahan yang diperoleh kecil. Kabel ekstensi atau kompensasi harus dipilih
sesuai kebutuhan termokopel. Pemilihan ini menghasilkan tegangan yang proporsional
terhadap beda suhu antara sambungan panas dan dingin, dan kutub harus dihubungkan
dengan benar sehingga tegangan tambahan ditambahkan pada tegangan termokopel,
menggantikan perbedaan suhu antara sambungan panas dan dingin.
Tersedia beberapa jenis termokopel, tergantung aplikasi penggunaannya

1. Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy))Termokopel untuk


tujuan umum. Lebih murah. Tersedia untuk rentang suhu 200 C hingga
+1200 C.
2. Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy))Tipe E memiliki output yang
besar (68 V/C) membuatnya cocok digunakan pada temperatur rendah.
Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik.
3. Tipe J (Iron / Constantan) Rentangnya terbatas (40 hingga +750 C)
membuatnya kurang populer dibanding tipe K
4. Tipe J memiliki sensitivitas sekitar ~52 V/C
5. Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy)) Stabil dan tahanan
yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk pengukuran
suhu yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 C.
Sensitifitasnya sekitar 39 V/C pada 900 C, sedikit di bawah tipe K.
Tipe N merupakan perbaikan tipe K

Termokopel tipe B, R, dan S adalah termokopel logam mulia yang memiliki


karakteristik yang hampir sama. Mereka adalah termokopel yang paling stabil, tetapi
karena sensitifitasnya rendah (sekitar 10 V/C) mereka biasanya hanya digunakan
untuk mengukur temperatur tinggi (>300 C).

1. Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh) Cocok mengukur suhu di atas 1800 C.


Tipe B memberi output yang sama pada suhu 0 C hingga 42 C sehingga
tidak dapat dipakai di bawah suhu 50 C.
2. Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)Cocok mengukur suhu di
atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya tinggi membuat
mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum.
3. Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium)Cocok mengukur suhu di
atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya tinggi membuat
mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya yang
tinggi Tipe S digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas
(1064.43 C).
4. Type T (Copper / Constantan)Cocok untuk pengukuran antara 200 to 350
C. Konduktor positif terbuat dari tembaga, dan yang negatif terbuat dari
constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak penelitian
kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43 V/C:

Prinsip Kerja Termokopel (Thermocouple)

Prinsip kerja Termokopel cukup mudah dan sederhana. Pada dasarnya Termokopel
hanya terdiri dari dua kawat logam konduktor yang berbeda jenis dan digabungkan
ujungnya. Satu jenis logam konduktor yang terdapat pada Termokopel akan berfungsi
sebagai referensi dengan suhu konstan (tetap) sedangkan yang satunya lagi sebagai
logam konduktor yang mendeteksi suhu panas.
Untuk lebih jelas mengenai Prinsip Kerja Termokopel, mari kita melihat gambar
dibawah ini :Konstruksi Termokopel (thermocouple)

Berdasarkan Gambar diatas, ketika kedua persimpangan atau Junction memiliki suhu
yang sama, maka beda potensial atau tegangan listrik yang melalui dua persimpangan
tersebut adalah NOL atau V1 = V2. Akan tetapi, ketika persimpangan yang
terhubung dalam rangkaian diberikan suhu panas atau dihubungkan ke obyek
pengukuran, maka akan terjadi perbedaan suhu diantara dua persimpangan tersebut
yang kemudian menghasilkan tegangan listrik yang nilainya sebanding dengan suhu
panas yang diterimanya atau V1 V2. Tegangan Listrik yang ditimbulkan ini pada
umumnya sekitar 1 V 70V pada tiap derajat Celcius. Tegangan tersebut kemudian
dikonversikan sesuai dengan Tabel referensi yang telah ditetapkan sehingga
menghasilkan pengukuran yang dapat dimengerti oleh kita

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
Waktu dan tempat

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium instrumentasi STEM Akamigas


pada hari tanggal

Alat dan Bahan

No Nama Alat dan Bahan Jumlah Satuan


1 Thermocouple tipe K 1 Buah
2 Multimeter digital 1 Buah
3 Kabel NYF 30 Cm
4 Heater 1 Buah
5 Air 500 mL
6 Power suplay 1 220 Vac
7 Tabel koncersi suhu 1 Buah
8 Handler Stand 1 Buah
9 Thermometer glass standar 1 Buah
10 Alat ukur suhu ruangan 1 Buah

Prosedur Kerja

1. Mendengarkan materi yang disampaikan, lalu membaca insruksi kerja yang


telah disampaikan.
2. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan, periksa kondisi alat tersebut
3. Memasang seluruh peralatan sesuai instruksi yang disampaikan
4. Setelah semua alat terpasang, isi heater dengan air 500 mL
5. Hubungkan heater dengan sumber listrik
6. Mengamati perubahan output tegangan thermocouple yang terbaca pada

voltmeter setiap kenaikan suhu 10 dengan range 30 - 90


7. Apabila suhu sudah mencapai 90 maka segera putuskan sambungan

listrik
8. Melakukan pendinginan air hingga 30 dan amati setiap penurunan suhu

10
9. Mencatat hasil pengamatan
10. Membuat laporan sementara
HASIL PENGAMATAN
VAB Pengukuran VAB
Naik Turun
To C Vj1 Vj2 VAB Pengukura Eror
n
30 1,203 1,203 0 - - - -
35 1,407 1,203 0,204 0,22 0,22 0,22 -0,016
40 1,612 1,203 0,409 0,39 0,300 0,345 0,064
45 1,817 1,203 0,614 0.60 0,47 0,535 0,079
50 2,003 1,203 0,820 0.73 0,75 0,74 0,08
55 2,230 1,203 1,027 1,07 0,96 1,015 0,012
60 2,436 1,203 1,233 1,3 1,24 1,27 -0,037
65 2,644 1,203 1,441 1,56 1,49 1,525 -0,084
70 2,851 1,203 1,648 1,79 1,80 1,795 -0,147
75 3,059 1,203 1,856 2,03 1,98 2,005 0,149
80 3,267 1,203 2,064 2,21 2,23 2,22 -0,156
85 3,474 1,203 2,271 2,5 2,47 2,485 -0,214
90 3,682 1,203 2,479 2,70 2,69 2,705 -0,226
PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA

Thermocoupel merupakan sebuah alat yang bekerja akibat adanya perbedaan


suhu antara dua bimetal yang akan menimbulkan gaya gerak listrik termis,hal inilah
yang membuat sebagai referensi hasil pengukuran.
Pada percobaan yang telah dilakukan suhu dimulai dari 30 sampai

dengan 90 . Pada pengukuran tegangan di Vj1 terjadi kenaikkan tegangan tiap

kenaikkan suhunya. Vj2 tegangan dibuat konstan karena sebagai referensi untuk
menghitung Vab. Hasil perhitungan Vab naik karena kenaikkan suhu. Sedangkan error
juga cenderung naik jauh sehingga hasil pengukuran tidak linier dan presisi.
Daftar Pustaka
Hikaru, Sartika. Instrumentasi Termokopel. 4 Desember 2015.
http://sartikahikaru.blogspot.co.id/2011/10/instrumentasi-termokopel.html