Anda di halaman 1dari 21

Asuhan Keperawatan Depresi pada Anak

(Childhood Depression)

1. Pendahuluan

Mungkin banyak dari masyarakat atau bahkan kita sendiri sebagai seorang tenaga
kesehatan yang tidak menyadari bahwa anak-anak dan remaja juga bisa mengalami
depresi. Selama ini kita cenderung berpikir bahwa depresi hanyalah masalah yang
dihadapi oleh orang dewasa. Kehidupan keluarga yang tidak harmonis, kesulitan
membangun hubungan dengan orang lain, tuntutan akademik yang semakin hari semakin
berat adalah sedikit contoh masalah yang bisa menjadi predisposisi dari depresi pada
anak-anak dan remaja.

Secara epedemiologik prevalensi depresi pada anak dan remaja


adalah 5% dari populasi anak-anak dan remaja menderita depresi. Anak-anak dibawah
stress, mempunyai pengalaman kehilangan, kurang perhatian, kesulitan belajar atau
gangguan cemas (anxiety disorder) berada pada risiko tertinggi mengalami depresi.
Penelitian lain yang dilakukan di Amerika Serikat menyebutkan prevalensi depresi mayor
adalah 1% pada usia prasekolah, 2% pada usia sekolah dan kira-kira 5-8% pada remaja.
Prevalensi depresi ini cenderung meningkat dari generasi sebelumnya. Rasio jenis
kelamin pada penderita depresi sama saja pada masa prapubertas dan meningkat menjadi
2 banding 1 antara perempuan dan laki-laki pada masa remaja.

Mengingat bahwa anak-anak adalah aset bagi masa depan sebuah keluarga bahkan bagi
sebuah bangsa dan angka prevalensi yang tinggi maka penting bagi kita untuk lebih peka
dan lebih banyak memberi perhatian pada kasus ini. Salah satunya dengan penemuan
kasus depresi pada anak-anak sedini mungkin. Deteksi dini dan diagnosis yang akurat
tentu akan memberikan hasil yang lebih baik dalam penatalaksaannya.

2. Tinjauan Teori

1. Definisi

Depresi adalah suatu gangguan keadaan tonus perasaan yang secara umum
ditandai oleh rasa kesedihan, apatis, pesimisme, dan kesepian. Keadaan ini sering
disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan.

2. Klasifikasi
Klasifikasi gangguan depresi sangat bervariasi. Dahl dan Brent membagi gangguan
depresi dalam 3 kategori, yaitu :

3. Gangguan depresi berat (major depressive disorder) yaitu perasaan sedih selama 2
minggu, jemu atau lekas marah (irritable) dan tlisertai 4 gejala lain menurut
kriteria DSM-IV.

4. Gangguan distemik (dysthymic), yaitu bentuk depresi yang lebih kronis tanpa ada
bukti episode depresi berat. Dahulu disebut depresi neurosis.

5. Gangguan efektif bipolar alau siklotiraik (bipolar affective illness or cyclothymic


disorder).

6. Etiologi

Depresi merupakan salah satu dari sekelompok penyakit gangguan alam perasaan
dengan dasar penyebab yang sama. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh
terhadap etiologi depresi, khususnya pada anak dan remaja adalah:

1. Faktor genetik

Meskipun penyebab depresi secara pasti tidak dapat ditentukan, faktor


genetik mempunyai peran terbesar. Gangguan alam perasaan cenderung
terdapat dalam suatu keluarga tertentu. Bila suatu keluarga salah satu
orangtuanya menderita depresi, maka anaknya berisiko dua kali lipat dan
apabila kedua orangtuanya menderita depresi maka risiko untuk mendapat
gangguan alam perasaan sebelum usia 18 tahun menjadi empat kali lipat.

Pada kembar monozigot, 76% akan mengalami gangguan afektif


sedangkan bila kembar dizigot hanya 19%. Bagaimana proses gen
diwariskan, belum diketahui secara pasti. Bahwa kembar monozigot tidak
100% menunjukkan gangguan afektif, kemungkinan ada faktor non-
genetik yang turut berperan.

2. Faktor Sosial

Dilaporkan bahwa orangtua dengan gangguan afektif cenderung akan


selalu menganiaya atau menelantarkan anaknya dan tidak mengetahui
bahwa anaknya menderita depresi sehingga tidak berusaha untuk
mengobatinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan
orangtua, jumlah sanak saudara, status sosial keluarga, perpisahan
orangtua, perceraian, fungsi perkawinan, atau struktur keluarga banyak
berperan dalam terjadinya gangguan depresi pada anak. Ibu yang
menderita depresi lebih besar pengaruhnya terhadap kemungkinan
gangguan psikopatologi anak dibandingkan ayah yang mengalami depresi.
Levitan et al (1998) dan Weiss et al (1999) melaporkan adanya hubungan
yang signifikan antara riwayat penganiayaan fisik atau seksual dengan
depresi, tetapi mekanismenya belum diketahui secara pasti.

Diyakini bahwa faktor non-genetik seperti fisik maupun lingkungan


merupakan pencetus kemungkinan terjadinya depresi pada anak dengan
riwayat genetik.

3. Faktor Biologis lainnya

Dua hipotesis yang menonjol mengenai mekanisme gangguan alam


perasaan terfokus pada: terganggunya regulator sistem monoamin-
neurotransmiter, termasuk norepinefrin dan serotonin (5-
hidroxytriptamine). Hipotesis lain menyatakan bahwa depresi yang terjadi
erat hubungannya dengan perubahan keseimbangan adrenergik-asetilkolin
yang ditandai dengan meningkatnya kolnergik, sementara dopamin secara
fungsional

7. Gambaran Klinis

Gambaran klinis yang tampak pada anak dipengaruhi oleh usia dan pengalaman
psikologis anak. Hingga usia 7 tahun, umumnya anak belum dapat
mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata, tetapi hanya dengan tingkah
laku. Komunikasi verbal anak yang belum berkembang akan mempersulit
diagnosis depresi pada anak sebelum usia 7 tahun. Komunikasi non-verbal seperti
ekspresi wajah dan postur tubuh dapat membantu menegakkan diagnosis depresi
pada anak yang lebih muda. Anak yang lebih muda akan menunjukkan fobia,
gangguan cemas perpisahan, keluhan somatik, dan perubahan tingkah laku.

Tanda eksternal depresi pada anak dan remaja:

1. Pada batita

Nampak kurang motivasi, menolak makan, tangis terus menerus dan


meningkatknya kemarahan.

2. Usia prasekolah atau awal sekolah dasar

Anak kelihatan seperti sakit serius, tidak bersemangat, lekas marah


(irritable), bersedih seperti sedang mengalami frustrasi, bahkan dapat
sampai mencederai dirinya sendiri.

3. Usia akhir SD hingga remaja


Anak memperlihatkan gangguan tingkah laku, bermasalah dengan teman,
dan penurunan prestasi belajar. Kadang-kadang bertingkah laku agresif,
lekas marah (irritable), dan berbicara tentang bunuh diri.

Kriteria diagnostik berdasarkan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders 1994 fourth edition) dikatakan gangguan depresi berat bila
sedikitnya ada 5 gejala selama priode dua minggu pegamatan yang disertai
perubahan fungsi berupa:

1. Alam perasaan terdepresi atau mudah tersinggung, atau

2. Hilangnya minat atau kesenangan, desertai sedikitnya 4 gejala berikut:

3. Anak gagal mencapai BB yang diharapkan;

4. Insomnia atau hipersomnia tiap hari;

5. Retardasi psikomotor atau agitasi;

6. Kelelahan atau kehilangan tenaga setiap hari;

7. Rasa tidak berdaya atau rasa bersalah yang tidak wajar;

8. Tidak mampu berfikir atau berkonsentrasi;

9. Pikiran akan kematian yang berulang (recurrent).

Gejala tersebut harus menimbulkan ganggauan sosial atau akademik dan bukan
efek langsung alkohol atau kondisi medis umum, misalnya hipotiroidisme.
Diagnosis depresi berat tidak dapat ditegakkan dalam dua bulan setelah
kehilangan seseorang yang dicintai, kecuali jika ditemukan gangguan fungsional
yang nyata, rasa tidak berharga, ingin bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi
prikomotor.

Sementara Shives tanda klinis dan kriteia diagnostik depresi pada anaka dan
remaja adalah sebagai berikut:

4. Tanda klinis depresi pada anak

Kesedihan yang dirasakan setiap saat

Menarik diri

Irritable, menunjukkan perilaku negative; destruktif

Harga diri rendah


Perasaan sangat berdosa, khusunya setelah terjadi insiden kecil atau situasi yang
sebenarnya bukan karena kesalahan anak

Gangguan tidur seperti insomnia, night terrors, atau tidur hanya sebentar-sebentar

Perilaku melarikan diri

Perubahan selera makan seperti penurunan atau tidak ada nafsu makan atau justru
berlebihan

keluhan somatic atau fisik seperti nyeri kepala, nyeri perut atau nyeri telinga

Kesulitan dalam belajar yang terlihat dengan kurang perhatian, kecemasan (school
anxiety) atau perubahan penampilan yang mendadak, dan peringkat yang buruk

Preokupasi terhadap kematian, misalnya tidak ada perhatian sama sekali dengan
kesehatan orang tua, kesedihan yang lama karena kematian hewan kesayangan
atau ide untuk bunuh diri.

1. Tanda klinis depresi pada remaja

kesedihan

Fluktuasi antar apatis dan banyak bicara

Marah; sarkasme verbal atau menyerang

Sering mengkritik

Merasa berdosa

Perasaan tak akan mampu mencapai ideal diri

Harga diri rendah

Kehilangan kepercayaan diri

Merasa putus asa dan tak berdaya

Sangat ambivalen antara mandiri atau tergantung

Merasakan kekosongan dalam hidupnya

Agitasi dan tidak mampu beristirahat


Pesimis akan masa depan

Keinginan untuk mati; ide untuk bunuh diri, merencakan atau melakukan
percobaan bunuh diri

Menolak untuk malakukan tugas di kelas atau bekerjasam dengan orang lain

Gangguan tidur

Peningkatan atau penurunan selera makan, sehingga terjadi penurunan atau


peningkatan berat badan

1. Pathways

1. Penatalaksanaan medis

1. Penatalaksanaan umum

Tujuan dari penatalaksanaan primer adalah untuk memperpendek episode depresi


(remission), mencegah kekambuhan dan untuk mengurangi konsekuensi negatif
dari episode depresi. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, intervensi yang
dapat dilakukan adalah psikoterapi individual, terapi keluarga/pendidikan serta
terapi famakologi.

2. Psikoterapi

Pada anak yang menagalami depresi, pengembangan kognitif dan emosi


merupakan intervensi psikoterapetik yang harus dibangun. Beberapa pendekatan
psikoterapi berbeda yang digunakan telah menunjukkan hasil positif antara lain:

1. Psikoterapi perorangan (individual psychotherapy)

2. Terapi bermain (play therapy)

3. Terapi berorientasi kesadaran (insight-oriented therapy)

4. Terapi tingkah laku (behavioral therapy)

5. Model stres hidup (life stress model)

6. Psikoterapi kognitif (cognitive psychotherapy)


7. Lain-lain, seperti terapi kelompok (group therapy), latihan orangtua
(parent training), terapi keluarga (family training)25, pendidikan remedial
(remedial education), dan penempatan di luar rumah (out of homeplacement).

3. Terapi psikofarmaka

Sampai saat ini penggunaan oabt-obat psikofarmaka pada kasus depresi pada
anak-anak dan remaja masih banyak diperdebatkan oleh para ahli. Beberapa
pertimbangannya adalah obat-obat antidepresan yang biasa diberikan pada
penderita dewasa ternyata tidak memberikan hasil yang sama ketika diberikan
pada anak-anak. Belum lagi timbulnya efek yang tidak diinginkan pada
pemberian obat antidepresan tersebut. Beberapa terapi psikofarmaka yang bisa
dijadikan alternatif antara lain:

1. Golongan antidepresi trisiklik: Amitriptilin, Imipramin, dan Desipramin.

Berbeda dengan orang dewasa, pada anak tidak menunjukkan perbedaan


yang berarti antara antidepresi golongan trisiklik dengan plasebo. Obat ini
bersifat kardiotoksik dan cenderung berakibat fatal bila melampaui dosis.

2. Golongan obat yang bekerja spesifik menghambat ambilan serotinin:


fluoksetin dan sertralin.

Obat ini memberikan harapan yang cerah dalam pengobatan depresi pada
anak dan remaja. Merupakan obat pilihan pertama pada anak dan remaja
karena dapat ditoleransi dengan baik dan efek yang merugikan lebih
sedikit dibandingkan dengan antidepresi golongan trisiklik. Sayangnya,
sedikit sekali penelitian tentang pengobatan rumatan (maintenance) pada
anak dan remaja. Dibandingkan dengan usia dewasa, pada masa remaja
cenderung berkembang untuk agitasi atau menjadi mania bila meraka
mendapat SSRIs (Selective serotinine reuptake inhibitors). Obat ini juga
dapat menurunkan libido.

3. Litium karbonat

Obat ini telah digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang
mengalami agresi, mania, depresi, dan masalah tingkah laku, tetapi lebih
berguna pada kasus yang berisiko menjadi bipolar.

2. Penatalaksanaan keperawatan

1. Pengkajian

1. Faktor predisposisi

2. Faktor presipitasi
3. Aktifitas/istirahat

Fatigue, malaise, penurunan energi dan letargi.

Gangguan tidur (misal insomnia) terjadi dalam 90% kasus salah satunya
anxiety insomnia (kesulitan untuk tidur) atau depressive insomnia (bagun
lebih awal dan tidak bisa tidur kembali), atau hipersomnia.

4. Integritas ego

Perasaan tak mampu untuk marah (worthlessness): pernyataan yang


menghina diri sendiri, perasaan berdosa, membesar-besarkan ketidak
berdayaan, mungkin mengalami waham berdosa.

Kesedihan yang berlebihan: kehilangan yang aktual atau stressor yang


pahami sebagai suatu kehilangan (misal kehilangan pekerjaan, perceraian
sakit, menjadi tua, dll) namun kadang tidak bisa diketahui hubungan
antara kehilangan tersebut dengan onset depresi.

Perasaan tidak akan ada pertolongan, tidak ada harapan, ketidakberdayaan,


pesimis, iritabel dan marah yang berlebihan.

5. Nutrisi dan cairan

Penurunan atau justru peningkatan nafsu makan yang berhubungan dengan


perubahan berat badan secara signifikan.

6. Eliminasi

Mungkin ditemukan kontipasi atau retensi urine.

7. Personal hygiene

Tidak ada perhatian pada kebutuhan diri serta penampilan, bau badan tak
sedap.

8. Neurosensori

Kehilangan interest terhadap suatu aktivitas yang biasa dilakukan.


Mengekspresikan kesedihan, tidak ada kepedulian dengan apapun, tidak
mampu melihat masa depan diri.

Iritabel dan kadang mengeluh nyeri kepala.

Mungkin mengalami delusi atau halusinasi.


Retardasi psikomotor: gerakan badan lambat, bicara pelan.

Karakteristik kognitif: sulit untuk berkonsentrasi, penurunan daya ingat,


dan ide bunuh diri.

9. Keamanan

Keinginan untuk mengakhiri hidup atau percobaan bunuh diri.

10. Seksualitas

Tidak ada ketertarikan pada aktifitas seksual.

11. Interaksi social

Memperlihatkan perilaku menarik diri.

12. Pola asuh

Riwayat keluarga dengan depresi, penyalahgunaan alcohol dan zat.

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Risiko terhadap membahayakan diri sendiri berhubungan dengan perasaan


keputusasaan dan kesepian

2. Harga diri rendah berhubungan dengan perasaan tidak berharga skunder


terhadap (uraikan)

3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan minat pada tubuh,


ketidakmampuan untuk membuat keputusan, dan perasaan
ketidakbergunaan.

4. Perubahan proses pikir berhubungan dengan tatanan kognitif negatif.

5. Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan memulai


interaksi sosial.

6. Risiko terhadap perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan


dengan hospitalisasi.

7. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


penurunan keinginan untuk makan sekunder terhadap depresi
8. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan panik, menarik diri, stres
berat yang mengancam ego yang lemah.

3. Perencanaan dan rasionalisasi

1. Risiko terhadap membahayakan diri sendiri

Intervensi Rasional

Jika klien telah memverbalkan keinginan untuk mati


Ciptakan lingkungan yang aman
maka prioritas utama adalah

Persiapkan support system Klien mungkin akan merasa lebih nyaman


misalnya guru klien, pelatih atau mendiskusikan perasaannya dengan individu yang
orang tua mengenal klien dan mungkin temannya.

Mengenali faktor penyebab keinginan untuk bunuh diri


Gali perasaan dan penyebab
membantu pemilihan pendekatan pada klien yang paling
perasaan ingin bunuh diri
tepat.

Konsultasi dengan psikiater Tempat yang sesuai untuk terapi klien ikut menentukan
mengenai lingkungan yang paling keberhasilan dari pengobatan. Terkadang rumah sakit
tepat untuk pengobatan klien justru menambah intensitas depresi klien

1. Harga diri rendah

Intervensi Rasional

Jangan biarkan klien berfikir Klien mungkin mempunyai perasaan bersalah akan
terus tentang masa lalu kejadian di masa lalunya.

Berikan umpan balik yang Klien mungkin tidak mempunyai perasaan yang realistik
realistik tentang kejadian tentang suatu kajadian. Umpan balik yang realistik bisa
traumatic klien meningkatkan rasa penghargaan diri klien
Penghargaan atas keberhasilan klien dan perasaan
Berikan kesempatan untuk anak
diperlukan oleh orang lain akan meningkatkan kepercayaan
berhasil dan merasa diperlukan.
dan harga diri.

Berikan waktu bermain


Bermain dapat mengembangkan interaksi social dan peran
terstruktur dan tidak terstruktur
diri serta meningkatkan harga diri anak.
bagi anak.

Jamin kontinuitas pengalaman


akademik baik di rumah sakit Memperkecil isolasi sosial klien.
maupun dirumah

1. Kurang perawatan diri

Intervensi Rasional

Kaji faktor yang berperan; kurang motivasi, Diperlukan untuk menentukan pilihan
regresi atau penurunan energi. intervensi.

Partipasi menumbuhkan kemandirian dan


Tingkatkan partisipasi optimal klien pada
mengembangkan minat tehadap
perawatan dirinya.
perawatan diri

Beri dorongan untuk tidak tergantung dan Penghargaan pada keterlibatan klien
meningkatkan keterlibatan. Hargai setiap sekaligus akan meningkatkan harga diri
keterlibatan yang dilakukan klien. klien.

Bantuan diperlukan klien untuk


Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri
pemenuhan perawatan diri diberikan
namun hindari sikap tergantung.
secara minimal.

Berikan jadwal rutin untuk pemenuhan perawatan Jadwal akan membantu klien untuk
diri klien seperti makan, mandi dan berpakaian. terlibat dalam perawatan dirinya.
1. Perubahan proses pikir

Intervensi Rasional

Tunjukkan bahwa anda menerima keyakinan pasien


Penting untuk dikomunikasikan kepada
yang salah tersebut, sementara itu biarkan pasien
pasien bahwa anda tidak menerima
tahu bahwa anda tidak mendukung keyakinan
delusi sebagai suatu realita
tersebut.

Membantah pasien atau menyangkal


keyakinannya tidak akan bermanfaat
Jangan membantah atau menyangkal keyakinan
apa-apa, ide-ide waham tidak dapat
pasien. Gunakan teknik KERAGUAN YANG
dikurangi dengan pendekatan ini, dan
BERALASAN sebagai teknik terapeutik : "Saya
mungkin akan menghalangi
merasa sukar untuk mempercayai hal tersebut".
perkembangan hubungan saling
percaya.

Bantu pasien untuk mencoba menghubungkan


keyakinan-keyakinan yang salah tersebut dengan
Jika pasien dapat belajar untuk
peningkatan ansietas yang dirasakan oleh pasien.
menghentikan ansietas yang meningkat,
Diskusikan teknik-teknik yang dapat digunakan
pikiran wahamnya mungkin dapat
untuk mengontrol ansietas (misal : latihan nafas
dicegah.
dalam, latihan-latihan relaksasi yang lain, teknik
berhenti berpikir).

Diskusi yang berfokus pada ide-ide yang


Fokus dan kuatkan pada realita. Kurangi lama
salah tidak akan berguna dan mencapai
ingatan tentang pikiran irasional. Bicara kejadian
tujuan, dan mungkin membuat
dan orang yang nyata.
psikosinya menjadi lebih buruk.

Ungkapan perasaan secara verbal


Bantu dan dukung pasien dalam usahanya untuk dalam lingkungan yang tidak
mengungkapkan secara verbal perasaan ansietas, mengancam akan menolong pasien
takut atau tidak aman mengungkapkan perasaannya yang
mungkin sudah terpendam cukup lama.

1. Kerusakan interaksi sosial


Intevensi Rasional

Kehadiran, penerimaan dan penyampaian


Berikan klien hubungan yang suportif penghargaan positif anda meningkatkan rasa
harga diri pasien.

Setelah pasien nyaman dalam hubungan


Terapi kelompok dapat membantu klien
individual, dorong klien untuk hadir
mengembangkan interkasi sosialnya.
dalam terapi kelompok.

Ajarkan kepada orangtua untuk:

Menghindari kritik kasar


Perilaku mengkritik orang tua akan menekan
Jangan tidak setuju didepan anak kepercayaan diri anak. Kontak mata menujukkan
kehadiran fisik dan atusiaame dalam berinteraksi.
Tetapkan kontak mata sebelum
memberikan instruksi dan meminta anak
mengulangi apa yang dikatakannya.

Bila ada perilaku antisocial, abntu untuk:

Menggambarkan perilaku yang


mempengaruhi sosialisasi Memberikan gambaran pada anak perilaku-
perilaku yang menghambat atau membantu
Bermain peran sesuai respon interaksi soial.

Munculkan umpan balik sebaya untuk


perilaku positif dan negative

1. Risiko terhadap perubahan pertumbuhan dan perkembangan

Intervensi Rasional
Ajarkan pada orang tua tentang Pengetahuan orang tua tentang tugas perkembangan
tugas perkembangan sesuai diperlukan agar orang tua mampu memberikan tindakan
kelompok usia. yang sesuai tingkat perkembangan klien.

Lakukan tindakan keperawatan sesuai dengan kelompok usia tumbuh kembang seperti di
bawah ini :

1. 0 - 1 tahun

Berikan stimulasi dengan menggunakan bermacam mainan yang berwarna di tempat


tidur seperti mobil, mainan dengan musik, dan lain-lain

Pangku atau gendong anak saat mau makan dalam lingkungan yang tenang.

Berikan waktu istirahat dan lakukan observasi kepada orang tua selama interaksi dan
makan.

Berikan perawatan secara penuh (pengasuhan).

Biarkan tangan dan kaki bebas jika memungkinkan.

1. 1 - 3,5 tahun

Anjurkan melakukan perawatan diri sendiri seperti makan sendiri, pakai baju sendiri,
mandi, dan lain-lain.

Berikan stimulasi atau dorong untuk mengemukakan kata atau bahasa.

Beri kesempatan bermain dengan kelompok sebayanya seperti teka-teki, buku dengan
gambar-gambar, mobil-mobilan, balok mainan, dan lain-lain.

1. 3,5 - 5 tahun

Anjurkan melakukan perawatan diri seperti pakai baju sendiri, mandi, merawat mulut
rambut, dan lain-lain.

Beri kesempatan bermain dengan kelompok seperti model mainan musik, boneka,
buku-buku, kendaraan sepeda roda tiga, dan lain-lain. Dan berikan buku cerita.

Anjurkan orang tua untuk aktif dalam perawatan anak.


1. 5 - 11 tahun

Bicarakan dengan anak tentang perawatan yang akan dilakukan dan mintakan masukan
dari anak.

Beri kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya. dan Hargai
perilaku yang positif.

Berikan buku cerita dan mainan seperti buku teka-teki, video games, melukis atau
lainnya.

Orientasikan dengan lingkungan sekitar.

1. 11 - 15 tahun

Bicarakan dengan anak tentang perawatan yang akan dilakukan dan mintakan masukan
dari anak.

Beri kesempatan anak berinteraksi dengan anak lain.

Libatkan dalam segala tindakan keperawatan.

Anjurkan orang tua, saudaranya untuk berkunjung atau berinteraksi dengan anak.

Lakukan identifikasi minat atau hobi anak.

1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

Intervensi Rasional

Kolaborasi ahli gizi, tentukan jumlah kalori


yang dibutuhkan untuk memberikan nutrisi
Pemberian diet harus sesuai dengan
yang adekuat dan pertambahan berat badan
kebutuhan nutria klien.
yang realistis (menurut struktur dan tinggi
tubuh).

Pastikan bahwa dietnya meliputi makanan Pasien-pasien depresi khususnya mudah


yang mengandung tinggi serat untuk untuk mengalami konstipasi sehubungan
mencegah konstipasi. Dorong pasien untuk retardasi psikomotor. Konstipasi juga
meningkatkan konsumsi cairan dan latihan merupakan efek samping yang umum untuk
fisik untuk meningkatkan fungsi defekasi
banyak obat-obatan antidepresan.
normal.

Informasi ini penting untuk membuat suatu


Dokumentasi ketat tentang masukan,
pengkajian nutrisi yang akurat dan
haluaran, dan jumlah kalori.
mempertahankan keamanan pasien.

Penurunan atau pertambahan berat badan


Timbang berat badan pasien setiap hari. merupakan informasi pengkajian yang
penting.

Tentukan makanan yang disukai dan tidak


Pasien lebih suka makan makanan yang
disukai pasien dan kolaborasi ahli diet untuk
disukainya.
menyediakan makanan kesukaan pasien.

Pastikan bahwa pasien menerima makanan


Jumlah makanan yang besar mungkin tidak
dengan porsi sedikit tapi sering termasuk
disetujui atau tetap tidak dapat ditoleransi
makanan kecil sebelum tidur, daripada makan
pasien.
3 kali sehari dalam porsi yang lebih besar.

Berikan suplemen vitamin dan mineral dan


Mengurangi risiko kontipasi dan defisiensi
pelunak feses atau bulk tambahan, sesuai
nutrient.
pesanan dokter

Untuk membantu sesuai kebutuhan dan untuk


Temani pasien selama makan
memberikan dukungan dan dorongan.

Pantau hasil laboratorium, dan laporkan


Hasil laboratorium memberikan data objektif
perubahan-perubahan yang bermakna kepada
berkenaan dengan status nutrisi.
dokter

Pasien mungkin tidak memiliki pengetahuan


Jelaskan pentingnya nutrisi dan masukan
adekuat dan akurat berkenaan peran nutrisi
cairan yang adekuat.
yang baik untuk kesehatan menyeluruh.
1. Perubahan persepsi sensori

Intervensi Rasional

Observasi pasien dari tanda-tanda halusinasi (sikap Intervensi awal akan mencegah
seperti mendengarkan sesuatu, bicara atau tertawa sendiri, respons agresif yang diperintah
terdiam, ditengah-tengah pembicaraan). dari halusinasinya.

Pasien dapat saja mengartikan


Hindari menyentuh pasien sebelum anda mengisyaratkan
sentuhan sebagai suatu ancaman
kepadanya bahwa anda juga tidak apa-apa bila
dan berespons dengan cara yang
diperlakukan seperti itu.
agresif.

Hal ini penting untuk mencegah


kemungkinan terjadinya cedera
Sikap menerima akan mendorong pasien untuk
terhadap pasien atau orang lain
menceritakan isi halusinasinya dengan anda.
karena adanya perintah dari
halusinasi.

Jangan dukung halusinasi. Gunakan kata-kata "suara


tersebut" dari pada kata-kata "mereka" yang secara tidak
Perawat harus jujur kepada
langsung akan memvalidasi hal tersebut. Biarkan pasien
pasien sehingga pasien
tahu bahwa anda tidak sedang membagikan persepsi
menyadari bahwa halusinasi
anda. Katakan "Meskipun saya menyadari bahwa suara-
tersebut adalah tidak nyata.
suara tersebut nyata untuk anda, saya sendiri tidak
mendengarkan suara-suara yang berbicara apapun".

Jika pasien dapat belajar untuk


Coba menghubungkan waktu terjadinya halusinasi
menghentikan peningkatan
dengan waktu meningkatnya ansietas. Bantu pasien untuk
ansietas, halusinasi dapat
mengerti hubungan ini.
dicegah.
Keterlibatan pasien dalam
kegiatan-kegiatan interpersonal
dan jelaskan tentang situasi
Coba untuk mengalihkan pasien dari halusinasinya.
kegiatan tersebut, hal ini akan
menolong pasien untuk kembali
kepada realita.

1. Issue Kontemporer tentang Depresi pada Anak

Bagi kebanyakan orang, masa yang paling indah adalah masa remaja. Namun mungkin
tidak demikian bagi anak dan remaja lain yang kebetulan mengalami tekanan berat dan
berujung pada depresi. Tuntutan akademik disekolah yang semakin berat, waktu bermain
yang tergusur oleh kegiatan yang padat, makin renggangnya hubungan orang tua dan dan
anak, dan banyak lagi fenomena yang berkembang di masyarakat.

Banyak orang tua mengeluh anak remajanya menjadi pemurung, prestasi disekolahnya
turun, jarang berbicara, atau mungkin mulai terlibat pada penyalahgunaan zat berbahaya.
Tetapi mungkin tidak banyak orang tua yang menyadari bahwa mungkin anak-anaknya
tengah mengalami depresi yang jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan efek
yang tidak baik. Bahkan sampai ada yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena
depresi yang berkepanjangan.

Berbagai surat kabar atau televisi sudah sering menayangkan praktek dan percobaan
bunuh-diri yang dilakukan remaja. Terkadang sebabnya sepele menurut kita. Mungkin,
karena sudah mengakumulasi, akhirnya hal-hal yang sepele itu menjadi besar yang tidak
disadari akibatnya. Di Jawa Timur misalnya ada remaja yang bunuh diri karena diputus
pacar. Di Jawa tengah seorang remaja melakukan percobaan bunuh diri karena
menghabiskan uang SPP. Di Bali, seorang remaja mau gantung diri karena nilai UN-nya
jeblok dan takut dimarahi orangtua. Motif mereka ada yang karena sudah buntu dan ada
yang karena mencari perhatian. Apa yang sebenarnya ada dibalik fenomena ini?

2. Pembahasan

Seseorang tentu akan mengalami masa remaja sebagai konsekuensi dari proses
pertumbuhan dan perkembangannya. Masa remaja yang merupakan masa peralihan dari
masa anak-anak ke masa dewasa, masa transisi dimana remaja rawan mengalami masalah
psikologis. Sebenarnya tugas perkembanagan (masalah) yang dialami remaja adalah satu
hal yang biasa dan tidak bisa dihindarkan, tetapi tidak semua remaja mampu melewatinya
dengan baik sehingga menimbulkan dampak psikologis baginya. Masalah yang tidak bisa
dihindarkan tetapi tidak terpecahkan itulah yang bisa membuat remaja tenggelam dalam
depresi.

Sesuai dengan tahap perkembangannya tentu masalah yang sering mengakibatkan depresi
pada remaja kebanyakan tidaklah sama dengan usia sebelum pubertas. Beberapa hal yang
banyak menjadi faktor pencetus depresi pada remaja adalah:

1. Panggilan menemukan jati diri

Remaja adalah masa transisi perkembangan fisik dan mental yang terjadi antara
masa anak-anak dan masa dewasa. Kalau kembali lagi ke teori Erik Erikson,
masalah yang paling dekat dengan para remaja adalah search for identity
(dorongan untuk unjuk diri, pencarian identitas) dan role confusion (menghadapi
kebingungan peran). Remaja di sini, menurut Erikson, adalah anak yang sudah
mulai masuk umur 12 sampai 18 tahun.

Satu sisi, mereka punya dorongan untuk menunjukkan siapa dirinya, tetapi di sisi
lain, mereka belum memiliki kemampuan untuk membuktikan siapa dirinya.
Mereka ingin dipandang, tetapi orangtua belum memiliki alasan untuk
memandangnya. Mereka ingin dibebaskan, tetapi orangtua masih meragukan
konsistensinya. Inilah yang kerap memicu bentrokan dalam keluarga. Bentrokan
ini yang memicu stress yang dialami remaja. Jikalau persoalan ini berlarut-larut
dan tidak ada jalan keluar yang tepat, tidak tertutup kemungkinan remaja itu bisa
mengalami depresi.

2. Urusan cinta

Masalah lainnya adalah urusan cinta (puberty). Banyak istilah mengenai hal ini
seperti cinta monyet dan sebagainya, mereka berhadapan dengan persoalan ini.
Namun perlu diingat tidak semua remaja dibekali persiapan menghadapinya.
Banyak kaum ibu yang dibuat pusing tujuh keliling karena memikirkan anaknya
yang jatuh cinta, sms tengah malam, bolos sekolah, atau membengkaknya tagihan
telepon rumah. Lebih-lebih jika si anak jatuh cintanya pada teman yang menurut
orang tua "kurang baik". Dan masalahnya akan lebih rumit jika ternyat mereka
telah menjalin hubungan yang sangat jauh dari perkiraan kita. Dan diakui atau
tidak masalah percintaan adalah salah satu sumber masalah.

Secara psikologis, munculnya cinta pada remaja bisa berarti ganda, positif atau
negatif. Positif misalnya: mereka bisa merasakan sensasinya cinta, cinta
menyemangati pertumbuhannya, memunculkan kemerdekaan dalam hidupnya,
menghadirkan dukungan, dorongan, dan perlakuan yang menyenangkan, dan yang
lebih penting lagi, cinta membuat mereka merasa menjadi orang penting dan
spesial. Sedangkan yang negatif antara lain: cinta memunculkan cemburu,
dendam, posesivitas, dorongan ingin mengendalikan kebebasan pasangan,
depresi, dan mengundang potensi bunuh diri karena ketakutan atau kekhawatiran
akan kehilangan orang tersayang.

3. Tuntutan prestasi

Hal lain yang juga ikut menjadi sumber masalah remaja adalah standar prestasi
yang terlalu tinggi dan terlalu mengancam dirinya, entah itu yang ditetapkan
orangtua, lembaga atau lingkungan. Jika standar yang tinggi itu kita maksudkan
untuk menyemangati tekad dan visinya dalam berprestasi, kita sesuaikan dengan
kelebihan, perkembangan, dan keadaan (anak dan orangtua), sekaligus disediakan
ruang untuk melatih kemandirian, tanggung jawab, dan kebebasannya, ini sangat
bagus. Orangtua mempunyai posisi kuat untuk menegaskan arahan, namun tetap
memberikan ruang kreativitas untuk si anak agar meng-eksplorasi potensinya.

Masalah timbul ketika standar prestasi tinggi tersebut justru menjadi sesuatu yang
sangat menekan. Misalnya ketika remaja dihadapakan pada Ujian Nasional
dengan standar nilai kelulusan tertentu. Untuk menghadapi ujian tersebut saja
seorang remaja mungkin sudah berada pada keadaan cemas yang luar biasa.
Apalagi jika orang tua atau sekolah terus membuat target-target yang sangat sulit
dicapai. Belum lagi jika ternyata hasil yang diterima tidak sesuai harapan.
Akumulasi perasaan tertekan dan cemas seperti inilah yang menjadi pintu masuk
bagi seorang remaja mengalami depresi.

Perawat sebagai salah satu unsur dari sistem pelayanan kesehatan tentu mempunyai peran
yang strategis dalam pengelolaan depresi pada anak dan remaja. Jika kita bekerja di unit
pelayanan kesehatan (misalnya rumah sakit) tentu perawat akan menempatkan diri dalam
mengelola asuhan keperawatan bagi penderita tersebut. Namun di masyarakat
(komunitas) perawat juga bisa dalam upaya preventif agar masyarakat terhindar dari
masalah ini. Salah satunya dengan deteksi dini depresi pada anak-anak dan remaja karena
semakin cepat diketahui, semakin cepat mendapat penanganan, semakin baik pula
keberhasilan terapi.

Peran lain dari seorang perawat dalam upaya prevensi adalah memberikan pendidikan
kesehatan bagi masyarakat (komunitas). Hal-hal apa yang perlu diwaspadai, bagaimana
cara orang tua menunjukkan kepedulian bagi remaja sehingga remaja tidak merasa
sendiri ketika ia merasa cemas, takut dan tertekan dan bagaimana cara memberi
penguatan kemampuan menghadapi realitas kehidupan adalah beberapa contoh
pendidikan kesehatan yang bisa diberikan oleh perawat.
Daftar Pustaka

American Academy of Chlid and Adolescent Psychiatry, The depressed Child,


http://www.aacap.org/cs/root/facts_for_families/the_depressed_chlid diakses tanggal 11
Maret 2009

Anonym, Nursing Care Plan: NCP Major Depression/Dysthymic Disorder,


http://www.nursingcareplan.blogspot.com/2006/12/ncp_major_depression_dysthymic.ht
ml diakses 12 Maret 2009

Carpernito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta, 2000

Emslie, Graham J., M.D dan Mayer, Taryn L., M.S, New Advances in The
Psychopharmacological Treatment of Mood Disorder,
http://www.aacap.org/cs/root/developmentor/new_advances_in_the_psychopharmacologi
cal_treatment_ of_mood_disorder diakses tanggal 11 Maret 2009

Kaplan, H.I. dan Sadock, B.J., Buku Saku Psikiatri Klinik (Terjemahan), Binarupa
Aksara, Jakarta, 1994

Maslim Rusdi, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, EGC, Jakarta. 1998.

Rambe, Abdul Muthalib, Depresi pada Anak,


http://www.tempo.co.id/medika/arsip/042001/pus-3.htm diakses tanggal 13 Maret 2009

Shives, Louise Rebraca, Basic Concepts of Psychiatric-Mental Health Nursing, 6th


Edition, Lippincott Williams & Wilkins, florida, 2005

Son, Sung E. dan Kirchnes, Jeffrey T., Depression in Chlidren and Adolescent,
http://www.aafp.org/afp/20001115/2297.html diakses tanggal 16 Maret 2009

Ubaydillah, Menangani Depresi para ABG, http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis.asp diakses


tanggal 16 Maret 2009

Diposkan oleh kraton kayunanan di 16:17