Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Mitokondria merupakan salah satu komponen di dalam sel yang penting untuk
berbagai proses seluler. Salah satu mekanisme penting yang dilakukan mitokondria
adalah fosforilasi oksidatif. Fosforilasi oksidatif ini bertujuan untukk memproduksi
energi seluler dalam bentuk adenosine trifosfat (ATP). Gangguan yang terjadi pada
mitokondria akan berupa sekelompok penyakit heterogen yang biasanya bermanifestasi
pada jaringan yang membutuhkan energi tinggi seperti otot, otak, jantung, dan saraf,
sehingga disebut dengan mitochondrial encephalomyopathies.
Penyakit mitokondria pada anak semakin diakui keberadaannya. Penyakit ini telah
dilaporkan sebagai penyakit neurometabolik paling sering yang dapat diturunkan pada
populasi berbeda di Inggris. Prevalensi penyakit yang sebenarnya sulit dipastikan,
mengingat penyakit mitokondrial jarang dilaporkan. Akan tetapi, bukti epidemiologis
menunjukkan sebuah prevalensi 1 dari 7.634 kelahiran hidup dan resiko seumur hidup
mengalami penyakit mitokondria sekitar 1 dari 5.000. Mutasi individual dilaporkan
berada pada frekuensi karier lebih tinggi, mendekati 1 dari 400, namun hanya sebagian
kecil dari individu tersebut akan mengalami penyakit tersebut.
BAB II

PEMBAHASAN

Mitokondria

Mitokondria adalah suatu organel yang terdapat pada semua sel berinti dan merupakan
pembentuk utama ATP melalui reaksi oxidative phosphorylation (OXPHOS). Proses ini
melibatkan tahapan transfer elektron pada rantai respirasi (kompleks IIV) dan ATP synthase
(kompleks V). Mitokondria mempunyai DNA sendiri, namun organel ini bekerja di bawah
kendali genetik dari DNA inti maupun dari genome mitokondria.

DNA mitokondria (mtDNA) merupakan molekul dengan ukuran 16,569-kb berbentuk


sirkuler, double-stranded, yang mengandung 37 gen: 2 gen rRNA, 22 gen tRNA, dan 13 gen
structural yang mengkode protein enzim yang bekerja pada respiratory chain (OXPHOS) di
mitokondria, Rantai respirasi ini merupakan tahap akhir dari metabolism oksidatif dan
terbentuknya ATP.

Gambar 1. DNA mitokondria


Penyakit Mitokondria/Mutasi DNA Mitokondria

Seperti halnya pada DNA inti, DNA mitokondria juga dapat mengalami mutasi. Point
mutation pada mtDNA dapat mengakibatkan penurunan jumlah enzim yang diperlukan pada
respiratory chain sehingga produksi ATP juga akan sangat berkurang. Gangguan produksi energi
dalam sel pada akhirnya akan menimbulkan berbagai kelainan pada individu yang menderita.
Kelainan ini terutama terjadi pada organ yang membutuhkan energi yang besar, yaitu otak dan
otot. Oleh sebab itu, manifestasi klinis penyakit akibat kelainan mitokondria sebagian besar
diakibatkan oleh kerusakan pada otak/sistem saraf pusat dan otot.

Lebih dari 150 mutasi titik dan kesalahan urutan mtDNA yang telah diketahui
berhubungan dengan beberapa macam penyakit. Penyakit yang terkait dengan mutasi pada
mtDNA dibagi menjadi dua kelompok besar: 1) kelompok gangguan yang disebabkan oleh
mutasi pada gen yang terlibat pada sintesis protein (sindrom deplesi DNA mitokondria), dan 2)
kelompok gangguan yang disebabkan mutasi pada gen yang mengkode protein individual yang
terlibat dalam respiratory chain (sindrom delesi DNA mitokondria). Sindroma delesi mtDNA
lebih bermanifestasi pada dewasa, sedangkan sindrom deplesi mtDNA biasanya terjadi pada
anak, dengan karakteristik keterlibatan satu organ saja atau multisistem. Pembagiannya adalah
sebagai berikut :

TIPE MUTASI KLINIS BIOKIMIAWI

KSS Penurunan I, III, IV

Mutasi yang Delesi tunggal PEO Penurunan I, III, IV


mempengaruh
PS -
i sintesis
protein Mutasi tRNA MELAS Penurunan I, III, IV
mitokondria in
vivo MERRF &
multisitem Penurunan I, III, IV
lain

Miopati Penurunan I, III, IV


LHON Penurunan I (+/-)

Gen ND MELAS, LS Penurunan I

Miopati Penurunan I

Multisitem Penurunan III


Cyt b
Mutasi pada Miopati Penurunan III
gen pengkode
protein Multisistem Penurunan IV
Gen COX
Miopati Penurunan IV

Gen ATPase 6 NARP/MILS Penurunan V

Keterangan : LA (lactic acidosis), ND (NADH dehydrogenase), KSS (Kearns-Sayre syndrome),


PEO (progressive external ophtalmoplegia), PS (Pearson syndrome), MELAS (mitochondrial
encephalomyopathy,lactic acidosis, stroke-like episodes), MERRF (myoclonus epilepsy and
raggered fibers), LHON (Leber hereditary optic neuropathy), LS (Leigh syndrome), NARP
(neuropathy, ataxia, retinitis pigmentosa), MILS (maternally inherited Leigh syndrome).

Etiologi

Etiologi dari penyakit mitokondria secara psti masih belum diketahui, tetapi ada beberapa
penelitian yang menyebutkan bahwa etiologi dari penyakit mitokondria antara lain mutasi
MtDNA, kombinasi defek pada mtDNA dan DNA nucleus.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis pada penyakit mitokondria sendiri tergandung dari penyakit yang
disebabkan oleh mutasi DNAnya, seperti berikut ini :
Tabe : Manifestasi Klinis sindrom mitokondrial

Penyakit Yng Disebabkan

a. Leber hereditary optic neuropathy (LHON)


Penyakit ini diturunkan dalam bentuk gejala penurunan indra penglihatan.
Kondisi tersebut biasanya dimulai pada individu umur sekitar belasan tahun atau dua
puluhan tahun, jarang terjadi pada umur balita atau umur dewasa. Pria biasanya lebih
sering mengalami daripada wanita. Prevalensi kejadiannya masih belum jelas didunia, di
Eropa, terutama di Inggris bagian Timur-laut dan Finlandia, prevalensinya 1 diantara
30.000 sampai 50.000 orang.
Etiologi
Penyebab penyakit ini erat hubungannya dengan mutasi DNA mitokondria
(mtDNA), mutasi terjadi pada gen MT-ND1, MT-ND4, MT-ND4L, dan MT-ND6 yang
menyebabkan gejala penyakit Leber hereditary optic neuropathy. Gen yang berhubungan
dengan LHON tersebut masing-masing menyediakan perintah untuk menyusun protein
supaya mitokondria berfungsi normal. Protein tersebut bagian dari komplek enzim dalam
mitokondria yang membantu merubah oksigen dan gula sederhana menjadi energi.
Terjadinya mutasi pada salah satu atau lebih dari gen tersebut menyebabkan proses tidak
berjalan. Sampai sekarang belum jelas hubungan antara kematian sel dalam saraf optik
dapat menyebabkan penyakit tersebut, hal tersebut masih dalam penelitian.
Gejala
Daya penglihatan yang kabur dan berkabut merupakan gejala yang biasanya
dialami penderita. Gangguan penglihatan tersebut dimulai pada salah satu mata atau
kedua mata secara bersamaan, bila daya penglihatan mulai kabur pada salah satu mata,
mata lainnya biasanya terpengaruh menjadi kabur setelah beberapa minggu atau bulan.
Dengan berlangsungnya waktu, daya penglihatan kedua mata mulai memburuk dengan
ketajaman mata yang sangat berkurang dan juga citra terhadap membedakan warna
sangat turun. Kondisi tersebut berefek terhadap pusat penglihatan, yaitu ketidak
mampuan untuk membaca, mengemudi, dan mengenali barang atau wajah orang.
Kehilangan penglihatan disebabkan oleh matinya sel pada saraf yang mengirim informasi
dari mata ke otak (saraf optik). Walaupun sentral penglihatan secara perlahan membaik
pada beberapa kasus, pada hampir seluruh kasus menunjukkan keparahan dan terjadi
kebutaan permanen. Gejala penurunan penglihatan merupakan gejala khas LHON, tetapi
gejala lainnya ditemukan pada suatu keluarga, hal tersebut dinamakan LHON plus.
Selain gejala penglihatan yang menurun, pada LHON plus menderita gejala gangguan
pergerakan badan, tremor, dan ketidak normalan signal listrik yang mengontrol denyut
jantung (cardiac conduction defect), menyebabkan kelemahan otot, inkoordinasi saraf,
numbness, dan gangguan kesehatan lainnya.
b. Kearns-Sayre Syndrome (KSS)
Penyakit ini sangat jarang ditemukan, gangguan multi-sistem yang sangat fatal
yang biasanya berefek pada baik pria maupun wanita umur sekitar 20 tahun, dan terciri
dengan gejala progresif eksternal ophthamoplegia, kelemahan otot ringan, pigmentasi
retina, gangguan penyumbatan aorta kiri atau defek conduksi intrakardial. Tanda-tanda
lain adalah gangguan pendengaran, peningkatan kandungan protein pada cairan
serebrospinal, gejala serebral, disfungsi persepsi, diabetis melitus, gangguan endokrin
lainnya. Mitokondrial encephalopaty ditemukan banyak gangguan lainnya dari sistem
saraf pusat dan perifer yaitu : atrophy optik, defek vestibular, myopaty, gejala pyramidal,
kebodohan, gangguan mental seiring dengan adanya hypogonadisme, hypothyroidisme
dan renal dysfungsi.
Etiologi
KSS terjadi karena adanya mutasi skala besar disebabkan oleh delesi tunggal dari
mtDNA, biasanya tidak diturunkan dan terjadi secara spontan(mutasi spontan). Mutasi
tersebut diduga terjadi pada sel germinal atau pada fase awal dari perkembangan
embryo. Terjadinya resiko transmisi maternal pada keturunannya sekitar 1 diantara 24
orang. Terjadinya delesi mtDNA bervariasi pada ukuran dan lokasi genome mtDNA
untuk setiap individu yang berbeda, tetapi yang paling sering pada 4.9 kB ditemukan
paling tidak pada seper-tiga pasien penderita KSS. Delesi yang sama ditemukan pada
pasien dengan dua gejala yang berbeda yaitu: Pearson syndrom, dengan gejala
sideroblastik anemia pada anak-anak, pancytopenia, dan kegagalan eksokrin pankreas.
Chronic progressive external ophthalmoplegia (CPEO), dengan gejala ophthalmoplegia
eksternal, ptosis bilateral, dan proximal myopathy. Delesi mitokondrial pada CPEO
cenderung terlokasi dalam jaringan otot. Sedangkan pada Pearson syndrom, mutasi
terjadi dalam sel hematopoietic. Bila terjadi banyak mtDNA yang mengalami delesi pada
semua jaringan menyebabkan gejala Pearson syndrom, dimana paling menojol adalah
gejala pancytopenia, sedangkan bila terjadi delesi lebih sedikit pada mtDNA gejala yang
terlihat adalah Kearns-Sayre sydnrom. Pada CPEO, delesi mtDNA hanya dapat terdeteksi
pada jaringan otot.

Diagnosis
Untuk diagnosis pada penyakit mitokondria masih belum ditemukan yang benar-benar
pasti dapat mendiagnosis penyakit ini. Kebanyakan ahli kedokteran mitokondria menggunakan
sebuah pedoman yang didasarkan pada konsep teoritis, rekomendasi yang terbatas, dan
pengalaman pribadi. Diagnosis penyakit mitokondria memiliki beberapa sistem skor dalam
kriteria diagnosisnya. Wolf mengajukan sistem skor kriteria diagnostik mitokondria (MDC)
untuk bayi dan anak pada tahun 2002. Sistem ini mengevaluasi manifestasi klinis (I; skor klinis
maksimum: 4 poin) dari gejala otot (IA; skor maksimum: 2 poin), abnormalitas sistem saraf
pusat (IB; skor maksimum: 2 poin), dan keterlibatan multisistem (IC; skor maksimum: 3 poin),
ditambah dengan abnormalitas metabolik dan neuroimaging (II; skor tambahan maksimum: 4
poin). Anomali histologis (III) dapat meningkatkan skor sebanyak 4 poin, menyebabkan skor
maksimal sebesar 12 poin. Skor 8-12 didefinisikan sebagai definite, skor 5-7 didefinisikan
sebagai probable, skor 2-4 didefinisikan sebagai possible, dan skor 1 didefinisikan sebagai
unlikely.

Tabel: Kriteria Wolf

Beragamnya manifestasi klinis yang dapat terjadi pada penyakit mitokondria membuat
kepentingan pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah, survei metabolik, pencitraan, biopsi jaringan,
pemeriksaan enzimatik, dan uji genetik mitokondria.

Terapi

Terapi Simptomatis
Manifestasi klinis utama dari penyakit akibat mutasi mtDNA adalah kelainan pada otot
dan sistem saraf pusat. Oleh karena itu gejala-gejala yang terkait gangguan saraf dan otot seperti
gangguan perkembangan mental dan motoris, kejang, atonia/distonia, dan kontraktur otot banyak
ditemukan pada penderita. Masing-masing penderita dapat menunjukkan gejala yang berbeda,
oleh karena itu pendekatan terapinya harus disesuaikan dengan gejala klinis yang ada, bila perlu
penanganan oleh ahli dari masing-masing disiplin ilmu yang sesuai dapat dilakukan.

Sebagai contoh, gejala kejang yang timbul pada penderita Leigh Syndrom perlu
penanganan dengan pemberian obat-obatan antikonvulsan. Obat psikotropika efektif pada pasien
dengan gejala psikiatrik, khususnya depresi, Hambatan perkembangan mental dan motoris pada
penderita PDH defisiensi memerlukan penanganan khusus antara lain terapi wicara dan terapi
okupasi. Tindakan pembedahan oleh opthalmologist diperlukan untuk penanganan ptosis parah
pada pasien dengan oftalmoplegia eksternal progresif. Katarak kongenital juga dapat ditangani
dengan pembedahan.

Pada pasien dengan sindroma Kearns-Sayre disertai blockade konduksi jantung. Perlu
dilakukan pemasangan pacemaker untuk menyelamatkan nyawa pasien. Pada pasien dengan
kardiomiopati dan gangguan multisystem dapat dipertimbangkan tindakan transplantasi jantung.

Kehilangan pendengaran neurosensoris dapat ditangani dengan implantasi koklea. Gagal


hepar yang sering terkait dengan sindroma deplesi mtDNA, dapat ditangani dengan transplantasi
liver. Myoglobinuria rekuren dapat ditemukan pada pasien dengan defisiensi coenzyme Q10
(CoQ10) primer atau dengan mutasi gen pengkode protein mtDNA. Selama episode akut, semua
pasien harus dilakukan rehidrasi dan menjalani dialysis ginjal karena myoglobinuria dapat
menyebabkan komplikasi gagal ginjal.

Terapi Farmakologis

Dalam makalah ini, yang dimaksud dengan terapi farmakologis adalah pemberian obat-obatan
yang bekerja dengan menghambat metabolit toksik sebagai hasil dari metabolism alternative,
maupun obat-obatan yang bekerja meningkatkan fungsi dan life time enzim pada rantai respirasi.
Yang termasuk di sini adalah:

1. Pengeluaran Metabolit Noxius

Asidosis laktat adalah salah satu tanda khas dari penyakit akibat kelainan
mitokondria. Karena metabolism aerob di mitokondria mengalami gangguan, maka jalur
metabolisme anaerob meningkat dan menghasilkan metabolit asam laktat. Asam laktat
bersifat neurotoksik, sehingga kadarnya perlu diturunkan. Obat penurun asam laktat yang
umum digunakan adalah dikloroasetat (DKA) yang bekerja dengan menghambat piruvat
dehydrogenase (PDH) kinase, menyebabkan PDH tetap defosforilasi, bentuk aktif dan
membantu metabolism piruvat dan oksidasi laktat. DKA sendiri mempunyai efek
samping neuropati perifer, sehingga DKA tidak boleh digunakan dalam jangka panjang
pada kelainan mitokondria yang rentan terkena neurophaty perifer.

Sindroma ensefalopati neurogastrointestinal mitokondrial (MNGIE) mempunyai


tanda khas adanya defek pada sinyal intergenomik. Pasien dengan kelainan multisistemik
ini mengalami mutasi pada gen TP yang mengkode enzim timidin kinase, akibat yang
ditimbulkan adalah akumulasi timidin dalam darah. Strategi pengobatan yang dapat
dilakukan adalah dengan menurunkan metabolit ini dengan hemodialisa. Pendekatan
yang lebih radikal seperti transplantasi sel stem allogenik dapat dipertimbangakan karena
hasilnya cukup menjanjikan.

Dari beberapa pengamatan, telah diketahui bahwa sel satelit dan mioblas
mengandung jumlah mtDNA mutan lebih sedikit dibandingkan serabut otot matur. Dari
data ini, beberapa peneliti berusaha mengembangkan strategi pengobatan dengan
menggunakan agen miotoksik, bupivocaine, untuk menyebabkan nekrosis otot terbatas,
yang dapat menghasilkan jaringan otot dengan jumlah mutan mtDNA lebih sedikit.
Sayangnya, percobaan dengan injeksi unilateral bupivocaine pada otot levator palpebral
pada lima pasien dengan oftalmoplegia eksternal progresif atau KSS tidak menghasilkan
perbaikan apapun. Pendekatan lain berdasar pada fakta bahwa latihan isometric
menyebabkan mikrotrauma dan nekrosis otot terbatas. Salah satu penelitian pada 1 pasien
dengan mioglobinuria rekuren karena mutasi nonsense gen COX I mtDNA,
mengindikasikan bahwa ada sebuah proses regenerasi. pada beberapa serabut otot yang
dibiopsi. Fakta ini mendukung pendekatan terapi dengan menginduksi myoglobinuria
pada pasien yang mengalami intoleransi latihan atau kelemahan karena mutasi mtDNA
spesifik otot. Selain itu, baik latihan ketahanan dan resistance dapat digunakan sebagai
kombinasi untuk penanganan miopati mitokondria.

2. Pemberian Akseptor Elektron

Encephalomiopati mitokondrial dapat disebabkan oleh defisiensi CCoQ10 primer.


Kekurangan CoQ10 di mitokondria akan mengganggu aliran eklektron dari kompleks I
dan II ke kompleks III, dimana akan mengurangi sintesis ATP. Sebagai tambahan, CoQ10
berfungsi sebagai antioksidan sehingga defisiensinya akan berdampak pada sel post-
mitotik seperti neuron dan otot yang rentan terhadap kerusakan oksidatif Pendekatan
terapi yang dapat dilakukan adalah pemberian 2 akseptor elektron buatan, yaitu menadiol
difosfat 40 mg/hari dan vitamin C 4 g/hari.

Beberapa clinical trial dengan kedua obat itu menunjukkan kembalinya kekuatan dan
ketahanan otot, biopsy otot setelah 8 bulan terapi menunjukkan bahwa level CoQ10
kembali normal, penumpukan lipid menghilang, aktivitas enzim rantai pernafasan
meningkat, dan penurunan proporsi miofibril yang terapoptosis. Meskipun demikian,
pasien yang mengalami ataksia membutuhkan dosis yang lebih besar (hingga 1.000
mg/hari) dan berespon lambat, hal ini mungkin diakibatkan kerusakan serbelar yang
ireversibe.

3. Pemberian Vitamin dan Kofaktor

Berbagai macam vitamin dan kofaktor telah digunakan pada pasien


ensepalomiopati mitokondrial dan menunjukkan hasil yang positif, antara lain adalah
riboflavin (vitamin B2), thiamine (Vitamin B1), Asam folat, CoQ10, I-Carnitine, dan
creatine. Beberapa diantaranya seperti riboflavin dan CoQ10 adalah komponen dari rantai
respiratori. Sedangkan kofaktor yang lain menurun pada beberapa kondisi seperti asam
folat yang lebih rendah dari normal pada darah dan CSF pasien dengan KSS. Pada
beberapa pasien, kadar carnitin bebas cenderung menurun karena carnitine teresterifikasi
meningkat. Pergeseran ini mencerminkan kerusakan parsial dari -oksidasi disertai
gangguan CoQ10. Gabungan vitamin yang dapat digunakan untuk kasus ini adalah L-
carnitine (1000 mg 3x/hari) dan CoQ10 (minimal 400 mg/hari) dengan tujuan
mengembalikan level carnitine bebas dan meningkatkan aktivitas oxygen radical
scavenger CoQ10.

Pada pasien MELAS, terjadi defisiensi carnitin primer, pendekatan terapi yang
dapat dilakukan adalah pemberian Carnitine Monohidrat. Pada suatu percobaan,
pemberian Carnitine monohidrat pada 6 pasien dengan MELAS dan 1 dengan kelainan
mitokondrial yang tidak jelas menunjukkan adanya perbaikan pada aktifitas yang berat
tetapi tidak pada latihan aerobik yang ringan.

Suplementasi tembaga memberikan hasil yang positif pada beberapa penelitian in


vitro untuk terapi ensepalomiopati infantile yang terkait dengan defisiensi COX. Pada
kelainan ini terjadi mutasi gen SCO2, yang mengkode protein COX-assembly yang
dibutuhkan untuk insersi cooper ke holoenzim. Ketika tembaga ditambahkan pada
medium kultur dari mioblast defisit COX yang memiliki mutasi SCO2, aktivitas COX
dapat kembali normal. Hal ini menunjukkan bahwa suplementasi tembaga kemungkinan
besar bermanfaat untuk bayi yang menderita cardiomiopati dan mutasi SCO2.

Deplesi mtDNA juga dapat dicegah dengan penambahan produk defektif enzim
(deoksiguinosine monofosfat dan deoxyadenosin monofosfat), deoxiguinase kinase, pada
fibroblas dari pasien dengan sindrom hepatoserebral dan mutasi homozigus pada gen
DGUOK.

4. Pemberian Oxygen Radical Scavengers (ORS)

Defek rantai respirasi memiliki efek yang berbahaya yaitu kerusakan produksi
ATP, gangguan intracellular calcium buffering, produksi ROS berlebih, dan peningkatan
apoptosis. Peningkatan produksi ROS merusak membran sel melalui peroksidasi lipid
dan juga dapat memperparah jumlah mutasi mtDNA.
Dalam percobaan menurunkan ROS, beberapa Oxygen radical Scavengers telah
digunakan pada sebagian besar kelainan yang disebutkan termasuk vitamin E, CoQ10,
idebenone, dan dihidrolifoat. CoQ10 telah digunakan untuk penyakit mitokondria dengan
hasil positif dan efek negatif yang minimal. CoQ10 dan analognya, idebenone, telah
digunakan secara luas sebagai terapi kelainan neurodegenerative yang terkait dengan
peningkatan ROS.

5. Terapi Gen

Seperti halnya pada kelainan akibat mutasi DNA inti, pendekatan terapi gen dapat
dilakukan pada kelainan akibat mutasi DNA mitokondria. Untuk penyakit mitokondria
yang disebabkan mutasi pada gen inti, masalahnya tidak berbeda dengan terapi gen untuk
gangguan genetic mendelian, termasuk pemilihan vector viral atau non-viral yang sesuai,
pengiriman ke jaringan yang sakit, dan reaksi imunologis potensial.

Namun pada penyakit akibat mutasi pada mtDNA murni, masalahnya jauh lebih
kompleks. Genome mitokondria yang bersifat poliploid, fenomena heteroplasmy,
ketidakmampuan untuk mentransfeksikan asam nukleat yang potensial untuk terapi ke
mitokondria serta belum adanya realisasi model hewan coba dengan penyakit mtDNA
menjadi masalah utama dalam pengembangan terapi berbasis gen. Walaupun demikian,
beberapa strategi untuk menyelamatkan fungsi mitokondria melalui komplementasi defek
genetic atau manipulasi langsung level mtDNA mutan telah dipertimbangkan. Salah satu
cara melengkapi protein mitokondria disfungsional adalah melalui allotopic expression.
Dengan menggunakan pendekatan ini, menjadi mungkin untuk mengekspresikan protein
ATPase 6 wild-type secara allotopic dari suatu konstruksi nucleus-transfected pada sel
cybrid transmitochondrial yang bersifat homoplasmy untuk mutasi pada 8993T>G
MTATP6 (subunit 6 dari ATP synthase mitokondria) dimana dapat menyebabkan
kelemahan neurogenik, ataxia dan retinitis pigmentosa (NARP syndrome). Intervensi ini
ternyata menyebabkan pemulihan parsial pada defek biokimia akibat mutasi mtDNA.
Strategi yang sama juga digunakan untuk mengekspresikan gen modifikasi subunit 4
NADH dehydrogenase (ND4) untuk melengkapi (complementation) mutasi 1778G>A
yang menyebabkan LHON.

Strategi terapi selanjutnya adalah melakukan pergeseran pada heteroplasmy, yaitu


menurunkan rasio genom mutan terhadap wild-type (gene shifting). Pendekatan ini dapat
dicapai melalui beberapa cara: (1) menghambat replikasi genome mutan secara selektif
dengan peptide asam nukleat; (2) memasukkan RNAs ke mitokondria; (3) memasukkan
polipeptida ke mitokondria; (4) memilih untuk fungsi respirasi; (5) induksi regenerasi
otot; dan (6) induksi fusi mitokondria.

Hibridisasi selektif derivate asam nukleat mtDNA mutan dapat menghambat


replikasinya selama propagasi genome wild-type, sehingga menyebabkan proporsi
genome mutan turun di bawah ambang patogenik (pathogenic threshold). Beberapa
percobaan in vitro berhasil menurunkan rasio mutan A8344G MERRF.

Strategi terapi selanjutnya adalah memasukkan polipeptida ke mitokondria.


Strategi terapi ini mempunyai implementasi logistic yang berbeda, meliputi ekspresi
allotopik, ekspresi xenotopik, dan impor endonuclease restriksi. Ekspresi allotopik
mengacu pada strategi yang ditujukan untuk menurunkan beban protein mutan dengan
mengimpor versi normal dari protein mutan yang dikode mtDNA dari gen snuck ke
dalam nucleus. Sebagai contoh, gen ATPase 6 mtDNA dapat diubah dari mitokondria ke
kode genetic inti. Untuk meyakinkan bahwa protein inti baru dikode oleh gen yang telah
diubah dikenali, dan ditranspor ke mitokondria, maka pada protein tersebut diberi leader
peptide, dimana sekuen genetiknya dipinjam dari protein yang dikode mtDNA yang lain.
Setelah genetic Trojan horse dibawa ke nucleus, produk translasinya di sitoplasma
ditranspor ke mitokondria, dilepaskan iktan leader peptide-nya, dan bergabung dengan
komponen F0 dari kompleks V bersama dengan ATPase 8 yang disintesis di mitokondria.
Pendekatan ini telah direalisasikan in vitro untuk mengkoreksi defek biokimia sel cybrid
yang mengalami mutasi T8993G NARP/MILS dan cybrid yang mengalami mutasi
G11778A LHON (Lebers hereditary optic neuropathy).

Trik molekuler lain yang digunakan untuk mengkoreksi defek rantai respirasi
yang disebabkan mutasi mtDNA dengan transfeksi sel mamalia yang sakit adalah dengan
gen mitokondria maupun gen inti dari organisme lain tetapi mengkode cognate protein
xenotopic expression. Pendekatan molekuler langsung adalah dengan mengimpor
endonuclease restriktif spesifik sebagai magic bullets untuk merusak mtDNA mutan
secara selektif. Pendekatan ini telah dilakukan pada sel cybrid model mutasi pada gen
ATPase 6 T8993G NARP/MILS dengan membuat site Smal unik pada mtDNA manusia.
Gen untuk Smal fusi ke sekuen target mitokondria dan secara transien diekspresikan pada
cybrid heteroplasmik yang kehilangan mtDNA mutan.

Pendekatan lain yang cukup efektif untuk menurunkan beban mutasi mtDNA
secara in vitro adalah pemaparan terhadap metabolit keton. Sel hybrid yang mengalami
delesi tunggal mtDNA dibiakkan dalam medium yang mengandung keton sebagai sumber
karbon. Sel yang homoplasmik untuk delesi mtDNA mati, sedangkan sel homoplasmik
untuk mtDNA wild-type hidup. Pada heteroplasmic cell lines, proporsi mtDNA wild-type
meningkat dari 13% menjadi 22% setelah 5 hari perlakuan dalam medium ketogenik, dan
pada percobaan ini didapatkan perbaikan sintesis protein mitokondria. Pergeseran
heteroplasmik (heteroplasmic shifting) tidak hanya terjadi diantara sel (seleksi
interseluler) tetapi juga di dalam sel (seleksi intraseluler). Hasil ini dapat dijadikan
rujukan kemungkinan dilakukannya percobaan in vivo pada pasien menggunakan diet
ketogenik.
Dalam kaitannya dengan heteroplasmic shifting, mungkin tidak perlu lagi
menurunkan jumlah mutasi jika kita dapat mendistribusikan ulang proporsi mtDNA
mutan dengan wild-type dalam mitokondria, mengubah organel mutan homoplasmi dan
organel wild-type homoplasmi menjadi organel heteroplasmi. Dengan cara ini, maka
dapat dimanipulasi populasi mitokondria mutan di bawah threshold untuk mengobati
disfungsi mitokondria .

Pendekatan terapi selanjutnya adalah mengurangi produksi ROS. Pendekatan


genetic dengan menangkap ROS telah berhasil dilakukan pada hewan coba tikus.
Pertama, defisiensi kompleks I disebabkan oleh ekspresi anti-NDUFA1 ribozyme
(NDUFA1 merupakan subunit katalitik kompleks I) menginduksi lesi retina dan saraf
optic sama dengan LHON pada manusia. Kedua, regulasi penurunan MnSOD oleh
ekspresi anti-SOD2 ribozyme pada tikus juga menginduksi lesi menyerupai LHON. Data
ini mendukung konsep bahwa produksi ROS berlebihan merusak retina dan saraf optic.
Ketika peneliti melakukan ko-ekspresi anti-NDUFA1 rybozyme (racun) dan SOD2
(antidot) pada tikus yang sama, lesi tidak muncul. Fakta ini menjelaskan bagaimana
potensi terapi suatu SOD scavengin.
DAFTAR PUSTAKA

1. Reeve AK, Krishnan KJ, Turnbull D. 2008. Mitochondrial DNA Mutations in Disease,
Aging, and Neurodegeneration. Annals of the New York Academy of Sciences; 1147: 21-
29
2. Darmono. Penyakit genetik karena mutasi DNA mitochondria dan multifaktor genetic.

Anda mungkin juga menyukai