Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PENGARUH KEGIATAN REKLAMASI DAN PASCA TAMBANG BAGI


PENGEMBANGAN WILAYAH

Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penutupan Tambang


Program Studi Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2016/2017

Al Imam Achmad Fadilah (10070111064)

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2016 M / 1438 H

2
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
makalah yang berjudul Implementasi Kegiatan Pasca Tambang Bagi Pengembangan
Wiilayah. Atas dukungan moral dan materi yang diberikan dalam penyusunan makalah ini,
maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Kedua Orangtua penulis yang selalu mendoakan dan memotivasi dalam proses
pembuatan Makalah ini.
2. Bapak Ir. Dudi Nasrudin Usman, M.T. selaku dosen mata kuliah penutupan tambang.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu upaya
perbaikan akan selalu dilakukan terutama akan disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan
teknologi saat ini.
Akhirul kalam, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis
sendiri dan umumya bagi pembaca. Kritik dan saran serta bahan masukan yang sifatnya
membangun masih sangat diperlukan guna penyempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bandung, 17 Oktober 2016

Al Imam Achmad Fadilah


10070111064

1
DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar............................................................................................. i
Daftar Isi........................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................. 1
1.2 Ruang Lingkup................................................................................. 1
1.3 Tujuan.............................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 2
2.1 Pengembangan Wilayah..................................................................... 2
2.2 Pertambangan..................................................................................... 3
2.3 Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang............................................. 4

BAB III KESIMPULAN................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam suatu usaha pertambangan erat kaitannya dalam merubah wilayah yang
digunakan sebagai lahan penambangan baik dari segi morfologi, hingga ekosistem yang berada
dalam wilayah tersebut, sehingga menimbulkan dampak negatif juga dampak positif dari
perubahan tersebut. Perubahan bentuk wilayah ini diperlukan suatu industri pertambangan
guna mengekstrak bahan tambang yang terdapat didalam permukaan bumi, menjadi suatu
komoditi yang memiliki nilai ekonomis, dan manfaat bagi kehidupan manusia pada era teknologi
ini.
Untuk mengurangi dampak negatif dari suatu kegiatan pertambangan, perlu adanya
kajian mengenai keadaan lingkungan sebelum wilayah tersebut dijadikan sebagai area
pertambangan, baik itu dari flora maupun fauna di wilayah tersebut, juga bagaimana ekosistem
yang terdapat dalam wilayah tersebut. Oleh karena itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78
Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang, mengharuskan pelaku pertambangan untuk
melakukan kegiatan reklamasi dan pascatambang agar dampak negatif dari kegiatan
pertambangan dapat dihindari, dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan juga
masyarakat yang merupakan bagian dari pembangunan wilayah.
Maka dari itu penulis tertarik untuk mengkaji tentang bagaimana suatu implementasi dari
kegiatan reklamasi dan pascatambang bagi pembangunan wilayah.

1.2 Ruang Lingkup


Penyusunan makalah ini mencakup bagaimana peraturan, kebijakan, dan nilai penting
dari suatu kegiatan reklamasi dan pascatambang bagi pengembangan wilayah.

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Dapat memahami kegiatan reklamasi dan pascatambang.
2. Dapat memahami peraturan dan kebijakan kegiatan reklamasi dan pascatambang.
3. Dapat mengimplementasikan nilai penting kegiatan reklamasi dan pascatambang bagi
pembangunan wilayah.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengembangan Wilayah


Pengembangan adalah untuk memajukan atau memperbaiki atau meningkatkan sesuatu
yang sudah ada (Jayadinata, J.T, 1986). Pengembangan wilayah dalam arti ekonomi regional
merupakan bagian dari masalah pemerataan ekonomi, dengan demikian sasaran
pengembangan wilayah adalah untuk menciptakan keseimbangan kemajuan ekonomi antara
daerah yang satu dengan yang lain. Di dalam suatu pengembangan wilayah juga terdapat
aspek lingkungan yang tidak dapat dihiraukan, mengingat bahwa lingkungan merupakan bagian
dari wilayah juga merupakan salah satu faktor pendukung adanya kehidupan. Jadi
pengembangan wilayah dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memacu perkembangan sosial
ekonomi, mengurangi kesenjangan wilayah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Wilayah dalam pengertian geografi, merupkan kesaruan alam yaitu alam yang serba
sama, atau homogen, atau seragam, dan kesatuan manusia, yaitu masyarakat serta
kebudayaan yang serba sama yang mempunyai iri yang khas,, sehingga wilayah tersebut dapat
dibedakan dari wilayah yang lain. Ada dua macam pengertian wilayah, yaitu pengertian
internasional (dapat meliputi beberapa negara yang mempunyai kesatuan alam dan kesatuan
manusia), dan pengertian nasional (merupakan sebagian dari negara tetapi bagian tersebut
mempunyai kesatuan alam dan kesatuan manusia.
Dalam mengembangkan suatu wilayah, ada 2 faktor yang menyebabkan wilayah
tersebut bisa berkembang, yaitu :
1. Faktor Internal
Faktor internal terdiri dari potensi wilayah yang berupa Sumber Daya Alam (SDA),
Sumber Daya Manusia (SDM), dan Sumber Daya Buatan (SDB).
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal dari globalisasi ekonomi dan kerjasama ekonomi antarnegara, faktor
eksternal ini membutuhkan ruang dan prasarana wilayah untuk dapat memanfaatkan lahan
yang terbatas agar dapat berkembang dengan baik.

2
2.2 Pertambangan
Di dalam Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara, definisi pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka
penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan
umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan sangat rumit,
sarat risisko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang, melibatkan teknologi tinggi, padat
modal, dan aturan regulasi yang dikeluarkan dari beberapa sektor. Selain itu, kegiatan
pertambangan mempunyai daya ubah lingkungan yang besar, sehingga memerlukan
perencanaan total yang matang sejak tahap awal sampai pasca tambang. Pada saat membuka
tambang, sudah harus difahami bagaimana menutup tambang. Rehabilitasi/reklamasi tambang
bersifat progresif, sesuai rencana tata guna lahan pasca tambang.
Tahapan kegiatan perencanaan tambang meliputi penaksiran sumberdaya dan
cadangan, perancangan batas penambangan (final/ultimate pit limit), pentahapan tambang,
penjadwalan produksi tambang, perancangan tempat penimbunan (waste dump design),
perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja, perhitungan biaya modal dan biaya operasi,
evaluasi finansial, analisis dampak lingkungan, tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate
Social Responsibility) termasuk pengembangan masyarakat (Community Development) serta
Penutupan tambang.
Perencanaan tambang, sejak awal sudah melakukan upaya yang sistematis untuk
mengantisipasi perlindungan lingkungan dan pengembangan pegawai dan masyarakat sekitar
tambang (Arif, 2007).Kegiatan pertambangan pada umumnya memiliki tahap-tahap kegiatan
sebagai berikut :
1. Eksplorasi
2. Ekstraksi dan pembuangan limbah batuan
3. Pengolahan bijih dan operasional pabrik pengolahan
4. Penampungan tailing, pengolahan dan pembuangannya
5. Pembangunan infrastuktur, jalan akses dan sumber energi
6. Pembangunan kamp kerja dan kawasan pemukiman.
Pengaruh pertambangan pada aspek lingkungan terutama berasal dari tahapan
ekstraksi dan pembuangan limbah batuan, dan pengolahan bijih serta operasional pabrik
pengolahan.

3
2.3 Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang
Merujuk pada definisi yang tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No 7 Tahun 2014
tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara, Reklamasi didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan sepanjang
tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kondisi lingkungan
dan ekosistem. Sedangkan Pascatambang diartikan sebagai kegiatan setelah akhir kegiatan
atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan dan fungsi
sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah pertambangan.
Untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha pertambangan harus
dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi dan partisipasi
masyarakat. Prinsip pengelolaan lingkungan hidup meliputi perlindungan terhadap kualitas air
permukaan, air tanah, air laut, dan udara sesuai dengan standar baku mutu lingkungan hidup
dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berhubung keanekaragaman hayati Indonesia begitu kaya, maka reklamasi tambang
wajib mempertimbangkan perlindungan keanekaragaman hayati tersebut. Untuk memastikan
keamanan daerah timbunan bagi lingkungan sekitarnya, reklamasi dan pascatambang juga
harus menjamin stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas
tambang serta struktur buatan (man made structure) lainnya. Selanjutnya, reklamasi dan
pascatambang pun harus memiliki nilai manfaat sesuai peruntukannya, dan menghormati nilai-
nilai sosial dan budaya setempat.
Perencanaan dan pelaksanaan yang tepat merupakan rangkaian pengelolaan
pertambangan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sehingga akan mengurangi
dampak negatif kegiatan usaha pertambangan. akhir lahan pascatambang, program
pascatambang, organisasi, kriteria keberhasilan pascatambang, dan rencana biaya
pascatambang. Namun, dalam menyusun rencana pascatambang, pemegang IUP dan IUPK
harus berkonsultasi dengan instansi pemerintah dan/atau instansi pemerintah daerah yang
membidangi pertambangan mineral dan/atau batubara, instansi terkait, dan masyarakat. Hal itu
dilakukan untuk mengakomodir kepentingan pemerintah (pusat dan daerah) dan masyarakat.
Dalam Pasal 99 dan Pasal 100, UU Minerba memberi amanat kepada setiap pemegang
IUP dan IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan rencana pascatambang dan
melaksanakan reklamasi dan pascatambang. Dalam rangka menjamin kesungguhan
pelaksanaan reklamasi dan pascatambang, setiap pemegang IUP dan IUPK wajib
menempatkan Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pascatambang. Jaminan tersebut diperlukan

4
sebagai wujud kesungguhan setiap pemegang IUP dan IUPK untuk memulihkan lahan
bekas tambang dan lahan diluar bekas tambang sesuai peruntukkan yang disepakati para
pemangku kepentingan dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
Jaminan pascatambang ditetapkan sesuai dengan rencana pascatambang. Jaminan
tersebut ditempatkan setiap tahun dalam bentuk deposito berjangka pada bank pemerintah.
Besarnya jaminan pascatambang dihitung berdasarkan biaya:
1. Biaya langsung meliputi:
Pembongkaran bangunan dan sarana penunjang yang sudah tidak digunakan;
Reklamasi tapak bekas tambang, fasilitas pengolahan dan pemurnian, serta fasilitas
penunjang;
Penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan limbah B3;
Pemeliharaan dan perawatan;
Pemantauan; dan
Aspek sosial, ekonomi, dan budaya.
2. Biaya tidak langsung meliput i:
Mobilisasi dan demobilisasi;
Perencanaan kegiatan;
Administrasi dan keuntungan pihak ketiga sebagai kontraktor pelaksana penutupan
tambang; dan
Supervisi.
Pelaksanaan reklamasi wajib dilakukan pada lahan yang terganggu akibat
pertambangan. Lahan tersebut baik berada pada bekas tambang maupun lahan di luar bekas
tambang yang tidak digunakan lagi. Lahan di luar bekas tambang meliputi:
1. Timbunan tanah penutup;
2. Timbunan bahan baku/produksi;
3. Jalan transportasi;
4. Pabrik/instalasi pengolahan/pemurnian;
5. Kantor dan perumahan; dan/atau
6. Pelabuhan/dermaga.
Ruang lingkup pelaksanaan kegiatan reklamasi dimulai dari eksplorasi, pembersihan
lapangan (land clearing), penggalian tanah pucuk dan over borden, penggalian batubara,
penataan lahan, revegetasi termasuk penyiapan pembibitan, dan pemeliharaan serta evaluasi
hasil kegiatan.

5
BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan yang sudah dilakukan maka dapat di ambil kesimpulan bahwa
kegiatan reklamasi adalah kegiatan pemulihan lingkungan dan ekosistem yang dilakukan
selama operasi prosuksi berlangsung, sedangkan pascatambang adalah kegiatan pemulihan
lingkungan dan ekosistem yang dilakukan setelah seluruh kegiatan pertambangan berakhir.
Peraturan dan kebijakan dalam kegiatan reklamasi dan pascatambang, mengharuskan
suatu perusahaan tambang memberikan rencana dan jaminan reklamasi dan pascatambang,
berupa biaya langsung dan biaya tidak langsung yang harus dibayarkan setiap tahun pada bank
pemerintah.
Nilai penting dari kegiatan reklamasi dan pascatambang adalah kembalinya atau
pengembangan kondisi lingkungan dan ekosistem pada suatu wilayah dari sebelum ditambang,
hal ini merupakan kriteria kesuksesan suatu pelaku pertambangan dalam melakukan usaha
pertambangan. Dengan diterapkannya nilai penting tersebut, maka suatu wilayah tidak akan
mendapatkan dampak negatif dari usaha pertambangan, tetapi dampak positif yang diterima
akan membantu wilayah tersebut untuk berkembang.

6
DAFTAR PUSTAKA

Heriyansyah, 2015, IMPLEMENTASI PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 78 TAHUN 2010


TENTANG REKLAMASI DAN PASCATAMBANG, ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id.
Jayadinata, J.T., 1986, TATA GUNA TANAH DALAM PERENCANAAN PEDESAAN,
PERKOTAAN, DAN WILAYAH, Penerbit Bandung.
Irsan,SH., M.Hum, dkk. 2016, KEBIJAKAN REKLAMASI PASCA TAMBANG SEBAGAI
BENTUK PENGENDALIAN LAHAN BEKAS TAMBANG, ejournal.unsri.ac.id.
Sabtanto Joko Suprapto, TINJAUAN REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG DAN ASPEK
KONSERVASI BAHAN GALIAN, psdg.bgl.esdm.go.id.