Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sangat diperlukan dalam
mengisi pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Salah
satu upaya peningkatan derajat kesehatan adalah perbaikan gizi
masyarakat, gizi yang seimbang dapat meningkatkan ketahanan tubuh,
dapat meningkatkan kecerdasan dan menjadikan pertumbuhan yang
normal (Depkes RI, 2004). Namun sebaliknya gizi yang tidak seimbang
menimbulkan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh
Indonesia, masalah gizi yang tidak seimbang itu adalah Kurang Energi
Protein (KEP), Kurang VitaminA (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY) dan Anemia Gizi Besi (Depkes RI, 2004 ).
Status gizi adalah ekspresi dari keseimbangan dalam bentuk
variabel-variabel tertentu. Status gizi juga merupakan akibat dari
keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan
zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi
dalam seluruh tubuh (Supariasa, 2002).
Status Gizi Anak pada dasarnya adalah keadaan kesehatan anak
yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain
yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur
secara antroppometri (Suharjo, 1996), dan dikategorikan berdasarkan
standar baku WHO-NCHS dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB. Status
gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan
(TB). dan disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu: berat
badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Prevalensi provinsi NTB
untuk gizi buruk dan kurang adalah 24,8%. Bila dibandingkan dengan
target pencapaian program perbaikan gizi (RPJM) tahun 2015 sebesar 20%
dan target MDG untuk NTB sebesar 24,8% berada di atas nasional yang

1
18,5% maka NTB belum melampaui target nasional 2015 sebesar 20%.
Dari 9 kabupaten/kota hanya ada 1 kabupaten yang sudah mencapai target
nasional dan target MDGs 2015, yaitu Kota Mataram. Sedangkan
prevalensi tertinggi gizi kurang+buruk ada di Kabupaten Bima (33,2%).
Di provinsi NTB masalah gizi lebih juga perlu diperhatikan. Secara umum,
prevalensi balita gizi lebih sebesar 3,7 %, dengan Kabupaten Lombok
Barat yang perlu diwaspadai karena memiliki prevalensi gizi lebih
mendekati 10%. Prevalensi balita pendek+sangat pendek di propinsi NTB
adalah 43,7% Angka tersebut berada di atas angka nasional (36,5%), dan
secara umum masalah balita pendek+sangat pendek di provinsi NTB
masih cukup tinggi karena memiliki prevalensi di atas 20%. Prevalensi
tertinggi Balita pendek+sangat pendek ada di Kota Bima (49,5%). Di NTB
masalah kekurusan (15,5%) masih merupakan masalah kesehatan, dan
masih berada di atas nasional (13,8%), sehingga di NTB berada pada batas
kondisi yang dianggap kritis (di atas 15%). Dari 9 kabupaten/kota di NTB,
hanya Kabupaten Lombok Tengah yang berada di bawah batas keadaan
serius menurut indikator status gizi BB/TB (di bawah 10%). Prevalensi
teringgi balita kurus+sangat kurus terdapat di Kabupaten Dompu (21,5%).
Masalah kegemukan di provinsi NTB juga perlu diperhatikan karena
prevalensinya sudah 12,9% sedangkan angka nasional 12,2% (Riskesdas
2007).
Khusus untuk masalah Kurang Energi Protein (KEP) atau biasa
dikenal dengan gizi kurang atau yang sering ditemukan secara mendadak
adalah gizi buruk terutama pada anak balita, masih merupakan masalah
yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh pemerintah, walaupun
penyebab gizi buruk itu sendiri pada dasarnya sangat sederhana yaitu
kurangnya intake (konsumsi) makanan terhadap kebutuhan makan
seseorang, namun tidak demikian oleh pemerintah dan masyarakat karena
masalah gizi buruk adalah masalah ketersediaan pangan ditingkat rumah
tangga, tetapi anehnya didaearah-daearah yang telah swasembada pangan
bahkan telah terdistribusi merata sampai ketingkat rumah tangga
(misalnya program raskin), masih sering ditemukan kasus gizi buruk,

2
padahal sebelum gizi buruk ini terjadi, telah melewati beberapa tahapan
yang dimulai dari penurunan berat badan dari berat badan ideal seorang
anak sampai akhirnya terlihat anak tersebut sangat buruk (gizi buruk). Jadi
masalah sebenarnya adalah masyarakat atau keluarga balita belum
mengatahui cara menilai status berat badan anak (status gizi anak) atau
juga belum mengetahui pola pertumbuhan berat badan anak, sepertinya
masyarakat atau keluarga hanya tahu bahwa anak harus diberikan makan
seperti halnya orang dewasa harus makan tiap harinya.
Angka Kecukupan Gizi adalah suatu kecukupan rata-rata zat gizi
setiap hari bagi hampir semua populasi , menurut golongan umur, jenis
kelamin, ukuran tubuh dan kegiatan fisik agar hidup sehat dan dapat
melalukan kegiatan sosial ekonomi yang diharapkan (Supariasa, 2002)
Konsumsi energi dan protein diperoleh berdasarkan jawaban
responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART)
dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu. Responden adalah ibu rumah tangga
atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di
rumah tangga (RT) tersebut. Rumah tangga disebut dengan konsumsi
energi rendah adalah bila rumah tangga mengkonsumsi energi di bawah
rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. Sedangkan
rumah tangga dengan konsumsi protein rendah adalah bila rumah tangga
mengkonsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data
Riskesdas 2007. Untuk konsumsi energi, Provinsi NTB sedikit lebih
rendah dari pada angka nasional (1644,65 gram), sedangkan untuk
konsumsi protein provinsi NTB juga sedikit lebih rendah dari pada angka
nasional (52,4 gram). Kabupaten/Kota dengan angka konsumsi energi
terendah adalah Kota Mataram (1334,67 gram), dan kabupaten dengan
angka konsumsi energi tertinggi adala Kabupaten Lombok Barat (1906.87
gram). Kabupaten dengan konsumsi protein terendah adalah Kabupaten
Lombok Tengah (46,58 gram), dan kabupaten dengan konsumsi protein
tertinggi adalah Kabupaten Lombok Barat (61,50 gram). Sebanyak 1
kabupaten dengan rerata angka konsumsi energi di atas rerata angka
konsumsi energi nasional, yaitu Kabupaten Lombok Barat, sedangkan 8

3
Kabupaten/Kota di bawah rerata nasional. Sebanyak 3 kabupaten dengan
rerata angka konsumsi protein diatas angka nasional yaitu Kab. Lombok
Barat (61,5 g), Sumbawa Barat (61,4 g) dan Kabupaten Bima (56,5 g),
(Riskesdas 2007).
Antropometri merupakan salah satu metode yang dapat digunakan
untukmenilai status gizi. Secara umum antropometri diartikan sebagai
ukuran tubuh,ditinjau dari sudut gizi maka antropometri ditinjau dari
berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri sangat umum
digunakan untuk mengukur status gizi untuk berbagai ketidak seimbangan
antara asupan energi dan protein (Gibson 2005).
Pertumbuhan dan perkembangan mencakup dua peristiwa yang
statusnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan susah dipisahkan.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah,
ukuran dan fungsi tingkatsel, organ maupun individu, yang diukur dengan
ukuran berat (gram, pound,kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur
tulang dan keseimbanganmetabolik (Suparasia, dkk., 2001).
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur
dan dapatdiramalkan sebagai hasil proses pematangan. Pertumbuhan
terbagi atas duayaitu pertumbuhan linier dan massa jaringan dimana kedua
jenis pertumbuhan tersebut merupakan ukuran antropometri gizi.
Pertumbuhan linier misalnya tinggi badan (TB), lingkar dada, dan lingkar
kepala sedangkan pertumbuhan massa jaringan yaitu berat badan, dan
lingkar lengan atas (LILA). Antropometri sangat umum digunakan utuk
mengukur status gizi dari berbagai ketidak seimbangan antara asupan
protein dan energi.Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan
fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam
tubuh.
Lingkar lengan atas merupakan salah satu pilihan untuk penentuan
status gizi, karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur
yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran tentang keadaan
jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit.

4
Risiko kurang energi kronis (KEK) pada WUS digambarkan dengan
menggunakan LILA (lingkar lengan atas) yang disesuaikan dengan umur
(age adjusted). Ditemukan prevalensi KEK di NTB sebesar 12,4%
(nasional 13,6%) dan terdapat 3 Kabupaten dengan prevalensi risiko KEK
di atas angka nasional yaitu Kab. Lombok Tengah, Kab. Bima sedangkan
Kab. Sumbawa Barat sama dengan rerata nasional dan di atas rerata
provinsi NTB (12,4%).(Riskesdas 2007).
Ibu KEK adalah ibu yang mempunyai kecenderungan menderita
KEK. Untuk memastikan seorang ibu berisiko KEK, maka ibu tersebut
perlu diperiksa LILA, Ibu yang mempunyai ukuran LILA <23,5 cm
(AsAd, 2002).
Tindakan pencegahan KEK yang berkaitan dengan konsumsi energi
adalah mengkonsumsi makanan yang bervariasi dan cukup mengandung
kalori dan protein termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang
setiap hari dan makanan yang mengandung protein seperti daging, ikan,
telur, kacang-kacangan atau susu sekurang-kurangnya sehari sekali.
Minyak dari kelapa atau mentega dapat ditambahkan pada makanan untuk
meningkatkan pasokan kalori (Chinue, 2009).
Kondisi KEK pada ibu hamil harus segera ditindaklanjuti. Pemberian
makanan tambahan yang tinggi kalori dan tinggi protein dan dipadukan
dengan penerapan porsi kecil tetapi sering, faktanya memang berhasil
menekan angka kejadian BBLR di Indonesia. Penambahan 200 450
Kalori dan 12 20 gram protein dari kebutuhan ibu adalah angka yang
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin. Meskipun penambahan
tersebut secara nyata (95%) tidak akan membebaskan ibu dari kondisi
KEK, bayi dilahirkan dengan berat badan normal ( Chinue, 2009).
Menurut Nega Assefa1,dkk (2012), menyatakan bahwa LLA pada
ibu yang kurang dari 23cm dianggap menjadi tanda miskin nutrisi. LLA
tidak berbeda jauh selama kehamilan dan karena itu merupakan langkah
yang tepat status gizi daripada BMI atau berat badan. Bayi yang lahir dari
ibu yang miskin, gizi, kekerasan fisik dialami selama kehamilan akan
mengalami BBLR. Dalam komunitas ini sebagian besar miskin di mana

5
cakupan ANC rendah, untuk mengurangi kejadian BBLR, adalah penting
untuk meningkatkan akses untuk perawatan kesehatan ibu. Keterlibatan
suami dan masyarakat luas untuk mencari tindakan kolektif pada BBLR
sangat penting
Dalam rangka mempersiapkan hal tersebut, maka FKM-UNTB
berupaya menghasilkan lulusan sarjana kesehatan masyarakat (SKM) yang
profesional dan siap bekerja sesuai dengan bidangnya di masyarakat.
Fakultas kesehatan masyarakat dalam kurikulumnya telah merancang dan
mengembangkan kegiatan akademik lapangan yang wajib diikuti oleh
setiap mahasiswa yaitu praktikum lapangan Gizi.
Praktikum lapangan adalah suatu proses kegiatan untuk
meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memecahkan berbagai
masalah kesehatan masyarakat pada kondisi riil di masyarakat dan
sekaligus sebagai program pengabdian untuk pemberdayaan masyaraka
yang dilaksanakan oleh mahasiswa diluar perkuliahan yang bertujuan
untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk mengenal dan
memahami segala permasalahan di bidang kesehatan yang terjadi di
masyarakat serta bagaimana upaya untuk mengatasinya.
Lokasi praktikum untuk tahun akademik 2014/2015 dilaksanakan di
desa Mekar Sari, kecamatan Gunung Sari, kabupaten Lombok Barat.
Terdiri dari 5 (lima) dusun yang tersebar di wilayah tersebut. Praktikum
lapangan Gizi dilaksanakan secara berkelompok berdasarkan lokasi yang
ditentukan, yang terdiri dari kelompok 01 dusun Lilir, kelompok 02 di
dusun Ranjok Barat, kelompok 03 di dusun Ranjok Timur, kelompok 04
di dusun Lingkuk Waru, kelompok 05 di dusun Malaka , kelompok 06 di
dusun Erat Mate, dan kelompok 07 di dusun Gertok , dengan 1 (satu)
orang pembimbing dari fakultas untuk masing-masing kelompok.

6
1.2. Tujuan Praktikum
1.2.1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat mengetahui Penilaian status gizi secara
antropometri yang ada di dusun Lilir, desa Mekar Sari, Kecamatan
Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi status balita dengan kriteria gizi seimbang, gizi
kurang dan gizi lebih.
b. Mengidentifikasi konsumsi balita dengan food recall 24 jam.
c. Mengidentifikasi status kek ibu hamil dengan pengukuran LILA.
d. Mengidentifikasi status kek Wanita Usia Subur dengan pengukuran
LILA.
e. Merencanakan intervensi terhadap prioritas masalah kesehatan yang
ada di dusun Lilir, desa Mekar Sari, kecamatan Gunung Sari,
kabupaten Lombok Barat.

1.3. Prinsip Praktikum


1. Untuk pengukuran berat badan dan tinggi badan dilakukan tanpa
mengenakan alas kaki
2. Timbangan berada pada penunjukan skala 0,0
3. Membuka pakaian ketika pengukuran LILA.

1.4 Manfaat Praktikum


Adapun manfaat dari praktikum Gizi ini adalah agar dapat
mengetahui status gizi seseorang melalui pengukuran antropometri
dengan perhitungan BB/U, TB/U atau PB/U, BB/TB atau BB/PB, dan
LILA

7
BAB II
RENCANA KEGIATAN

2.1. Rencana Kegiatan


Sebelum kami melaksanakan praktikum Gizi ini, kami terlebih
dahulu mendapatkan pembekalanan dan arahan dari para dosen
pembimbing, setah itu baru kami merencanakan berbagai jenis kegiatan
yang akan kami lakukan. Adapun rincian rencana kegiatan yang kami
susun adalah
1. Kunjungan ke kantor desa Mekar Sari, bertemu dengan kepala desa
untuk pemberitahuan dan permakluman.
2. Mengunjungi kepala dusun Lilir untuk mencari informasi tentang
dusun Lilir dan sekaligus permakluman.
3. Mempersiapkan alat ukur antropometri yang akan digunakan .
4. Mengunjungi kader untuk mengambil data cakupan posyandu dusun
Lilir.
5. Mendokumentasikan kegiatan praktik lapangan Gizi melalui foto.
6. Mengunjungi kegiatan posyandu.
7. Menyusun laporan kegiatan praktikum lapangan Gizi.
8. Seminar laporan praktikum lapangan Gizi.

8
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Waktu dan tempat pelaksaan kegiatan praktikum oleh kelompok I
adalah dusun Lilir, desa Mekar Sari, kecamatan Gunung Sari, kabupaten
Lombok Barat yang dimulai dari hari kamis tanggal 10 Desember 2015
s/d Senin 14 Desember 2015.

3.2. Data Geografis


Dusun Lilir, desa Mekar Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten
Lombok Barat, propinsi Nusa Tenggara Barat. Adapun batas-batas
wilayah dusun Lilir yakni:
1. Sebelah Utara : Dusun Malaka
2. Sebelah Selatan : Penimbung
3. Sebelah Timur : Dusun Gertok
4. Sebelah Barat : Dusun Mambalan
a. Dusun Lilir meliputi 7 RT, yakni :

No Nama Batasan Jumlah Jumlah


Wilayah Wilayah Penduduk /KK Penduduk /
Jiwa
1 RT I 27 85

2 RT II 27 94

3 RT III 42 146

4 RT IV 32 109

5 RT V 70 242

6 RT VI 23 97

7 RT VII 50 150

Jumlah 276 KK 923 Jiwa

9
a. Peta Wilayah

Dusun Lilir sebagian besar dimanfaatkan oleh masyarakat setempat


sebagai areal perkebunan pohon aren dan pertanian. Adapun distribusi
jumlah KK (Kepala Keluarga) tahun 2015 berdasarkan data dari kepala
dusun dengan Jumlah 276 KK dengan jumlah Penduduk 923 jiwa.

3.3. Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
timbangan digital, microtoice, langdboard, dan pita LILA.

3.4. Metode Praktikum

3.4.1 Pengukuran Status Gizi Balita

1. Berat badan
a. Digunakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian minimal),
subjek tidak menggunakan alas kaki.
b. Dikalibrasi alat yang akan digunakan sebelum pengukuran.
c. Dipastikan timbangan berada pada penunjukkan skala dengan
angka 0,0.
d. Subjek berdiri di atas timbangan dengan berat yang tersebar merata
pada kedua kaki dan posisi kepala dengan pandangan lurus ke
depan diusahakan tetap tenang.
e. Dibaca berat badan dengan tampilan skala 0,1 kg terdekat.
2. Tinggi badan / Panjang Badan

10
a. Diposisikan subjek tetap di bawah mikcrotoice denga tidak
mengenakan alas kaki
b. Kaki rapat, lutut lurus, tumit, pantat, dan bahu menyentuh dinding
vertikal.
c. Subjek dengan pandangan lurus ke depan, kepala tidak perlu
menyentuh dinding vertikal. Tangan lepas ke samping badan
dengan telapak tangan mengahadap paha.
d. Diminta subjek untuk menarik nafas panjang dan berdiri tegak
tanpa mengangkat tumit untuk membantu menegakkan tulang
belakang usahakan bahu tetap santai .
e. Ditarik mikcrotoice hingga menyentuh ujung kepala, dipegang
secara horizontal. Pengukuran tinggi badan di ambil pada saat
menarik nafas maksimum. Dengan mata pengukur sejajar dengan
alat penunjuk angka untuk menghindari kesalahan penglihatan .
catatan tinggi badan pada skala 0.1 cm terdekat.
f. diposisikan subjek tetidur terlentang dengan kaki tegak lurus pada
posisi langdboard dan tidak mengenakan alas kaki,
Berat badan normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai
tingkat kesehatan yang optimal. Beberapa keuntungan yang diberikan
adalah penampilan baik, lincah dan risiko sakit rendah.(Arisman, 2002).
3.4.2. Food Recall 24 jam pada balita
Pada praktikum ini adalah merecall balita dalam jangka waktu dua
hari yang akan di rata ratakan tingkan konsumsi balita perhari. Dari
perbandingan asupan E/p berdasarkan recall dengan angka kecukupan gizi
individu maka dapat kita klasifikasikan tingkat konsumsi dengan empat
cut of point sebagai berikut :
a. Baik : 100%
b. Sedang : 80 90% AKG
c. Kurang : 70 80% AKG
d. Deficit : < 70% AKG

3.4.3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)


a. Ditentukan titik mid point pada lengan
1) Subjek diminta untuk berdiri tegak

11
2) Diminta subjek untuk membuka lengan pakaian yang menutupi
lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan kanan).
3) Ditekukan subjek 90, dengan telapak tangan dihadap keatas.
Pengukur berdiri di belakang subjek dan ditentukan titik tengah
antara tulang atas pada bahu kiri dan siku .
4) Ditandai titik tengah tersebut dengan pena
b. Mengukur Lingkar Lengan Atas
1) Dengan tangan digantung lepas dan siku lurus di samping badan
telapak tangan dihadapkan ke bawah
2) Diukur lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita
LILA ditempel pada kulit. Diperhatikan jangan sampai pita
menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita
3) Lingkar lengan atas di catat pada skala 0,1 cm terdekat.
Tabel 1: Ambang Batas Pengukuran LiLA :

Klasifikasi Batas Ukur


Wanita Usia Subur & Ibu Hamil
KEK < 23,5 cm
Normal 23,5 cm
(Sumber: Sirajuddin, 2012).
LiLA mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan:
KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: risiko lahir bayi BBLR
Kelemahan dari pengukuran LILA:
- Baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang
memadai untuk digunakan di Indonesia.
- Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada TB.
- Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitive
untuk golongan dewasa.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
LAPORAN

4.1. Hasil Kegiatan dan Pembahasan


Pada praktikum ini dilakukan penilaian status gizi Balita, wanita usia
subur dan ibu hamil secara antropometri. Praktikum ini dilakukan secara

12
berkelompok dimana masing-masing anggota kelompok mempraktikan
mengukur baliata, wanita usia subur, dan ibu hamil yang ada di dusun
Lilir, dan yang akan dibahas di bawah ini merupakan penilaian status gizi
Balita, wanita usia subur dan ibu hamil. Percobaan yang dilakukan dalam
penilaian status gizi secara antropometri ini dibagi menjadi dua tahap.
Tahap yang pertama yaitu mengukur berat badan, tinggi badan, dan umur.
Dari ketiga pengukuran tersebut, kita bisa melakukan perhitungan
menentukan tinggi badan,tinggi badan, dan panjang badan, berdasarkan
Umur pada balita. Tahap yang kedua yaitu lingkar lengan atas pada WUS
dan Ibu hamil. Dengan pengukuran-pengukuran yang dilakukan kita dapat
mengetahui status gizi.
4.1.1. Status Gizi Balita
Pada subbab perhitungan ini, hanya ditampilkan perhitungan pada
perorangan sebagai contoh model perhitungan setiap parameter
antropometri yang membutuhkan perhitungan untuk mengetahui status
balita berdasarkan BB/U, TB/U Atau PB/U, Dan BB/TB Atau BB/PB
sebagai berikut :

Nama : Redo
Ardian
Umur 4 Tahun
10 Bulan
16 Hari
Untuk BB/U = 16.2 - 18.3 -2.1 SD (gizi
= = -1.05
16.3 - 18.3 -2 baik)

Untuk TB/U = 102 - 108.8 -6.8


= = -0.75SD (normal)
99.7 - 108.8 -9.1

Untuk BB/TB = 15.57 - 16.1 -0.53


= = -0.44SD (normal)
14.9 - 16.1 -1.2

13
Umur
No Nama BB TB Status Gizi
L P BB/U TB/U Atau PB/U BB/TB

1. Firda Aulia 2,5th 11 79,7 Gizi baik Sangat pendek Normal


2. M.Ely. S 1,8 th 9,2 76,5 Gizi baik Pendek Normal
3. M.Zaini 2 th 8 74 Gizi buruk Sangat pendek Normal
4. Reno S. 3 th 10 81,9 Gizi buruk Sangat pendek Normal
5. Bilal Maula 1,3 th 8 68 Gizi baik Normal Normal
6. Dita Ayu 2 th 10 78,2 Gizi baik Normal Normal
7. Keisa Alfina 5 bln 7 65,8 Gizi baik Normal Normal
8. M.Iqbal 3,5 th 12 93 Gizi kurang Pendek Normal
9. Saufa zaida 4 th 12 96 Gizi kurang Normal Normal
10. Akila Quin 6 bln 7,2 61 Gizi baik Pendek Normal
11. M.Adanil 9 bln 7,7 67 Gizi baik Pendek Normal
12. Sazki adelia 2 th 12 87,2 Gizi baik Normal Normal
13. Marlina 3 th 13 93 Gizi baik Normal Normal
14. Redo Ardian 4 th 16,2 99,7 Gizi baik Normal Normal
15. A. Alwadani 1 th 8,6 67,2 Gizi baik Sangat pendek Normal
16. Fandi Akbar 6 bln 6,7 66,1 Gizi baik Normal Normal

Parameter yang penting digunakan dalam pengukuran status balita


adalah BB/U, TB/U atau PB/U, dan BB/TB atau BB/PB, yang langsung
diolah dengan hasil pengukuran standar atropometri dari WHO. Sehingga
diperoleh hasil pengukuran dan perhitungan dengan menggunakan
standar defiasi status gizi BB/U (Gizi buruk : <-3), (Gizi kurang : -3 s/d <-
2), (Gizi baik : -2 s/d 2), TB/U atau PB/U (sangat Pendek :<-3), (Pendek :
-3 s/d <-2), (normal : -2 s/d 2), BB/TB atau BB/PB (Sangat kurus : <-3),
(Kurus : -3 s/d <-2), (Normal :-2 s/d 2) yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil pengukuran dan dihubungkan dengan standar Nilai
defiasi status gizi maka terdapat BB/U : (12,5 %) 2 orang balita BGM
(berat badan dibawah garis merah), TB/U atau PB/U : (12,5 %) 2 orang
balita teridentifikasi stunting atau pendek, dan BB/TB atau BB/PB :
(100%) Semua balita normal maka dapat dilihat bahwa pengukuran status

14
balita didusun Lilir perlu adanya pembinaan terkait dengan asupan
makanan yang baik bagi balita nya agar mencapai status gizi yang baik.
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi merupakan masalah yang
sangat penting karena dapat memicu terjadinya penyakit degeneratif. Berat
badan yang kurang pada balita memungkinkan akan terjadi gizi buruk,
stunting/pendek,
4.1.2. Asupan Makanan Sehari (Recall 24 jam) Balita

No Nama Umur Nilai Gizi


L P Energi Protein Lemak Karboh Vit A Vit B1 Vit C Fe
idrat
1. Firda A. 2,5 th 520,15 32,1 28,6 28,25 1018 0,2200, 2,33 4,92
2. M.Ely. S 1,8 th 621,07 22,63 10,4 108,6 585,5 319 5 5,09
3. M.Zaini 2 th 459,2 20,86 12,17 65,35 487,5 0,253 22 4,64
4. Reno S. 3 th 434,3 22,39 17,17 48,79 1116 0,262 8,15 4,69
5. Bilal M. 1,3 th 973,3 50,47 34,6 111,6 1706 0,519 10,5 11,3

4.1.3. Klasifikasi Tingkat Konsumsi

No Nama Umur Tingkat Konsumsi (%)


L P Energi Protein Lemak Karbohi Vit A Vit B1 Vit C Fe
drat
1. Firda A. 2,5 th 46,2 123,4 65 18,2 254,5 36,6 5,82 61,5
2. M.Ely. S 1,8 th 55,2 87,0 23,6 70,0 146,3 53,1 12,5 63,6
3. M.Zaini 2 th 40,8 80,2 27,6 42,1 121,8 42,1 55 58
4. Reno S. 3 th 34,6 86,1 39,0 31,4 279 43,6 20,2 58,6
5. Bilal M. 1,3 th 86,5 194,1 78,6 72 426,5 86,5 26,2 141,2

Dengan melihat klasifikasi tingkat konsumsi balita didusun Lilir kita


dapat mengidentifikasi hasil perhitungan rata rata dari masing masing
indicator nilai gizi seperti energi balita (90%) deficit, protein balita (99%)
sedang, lemak balita (89%) deficit, karbohidrat balita (50%) kurang, vit A
baliata (100%) baik, vit B1 baliata (99%) deficit, vit C balita (100%)
deficit, dan Fe baliata (99%) deficit.

15
4.1.4. Penentuan Status Gizi pada ibu hamil dan wanita usia subur
Dengan pengukuran LILA
a. Data Hasil Pengukuran LILA pada Ibu Hamil
Klasifikasi LILA
No Nama Ibu Hamil Umur Nilai Keterangan

1. Rabiah 31 28 cm Normal
2. Martina Wijayati 23 29 cm Normal
3. Haerani 27 28 cm Normal
4. Sanaah 24 27,4 cm Normal
5. Marianah 22 25,5 cm Normal

b. Data Hasil Pengukuran LILA pada Wanita Usia Subur


Klasifikasi LILA
No Nama Wanita Usia Subur Umur Nilai Keterangan
1. Hayati 16 25 cm Normal
2. Wanti Susianti 18 23,5 cm Normal
3. Paniah Rasika 19 24,3 cm Normal
4. Sri Wahyuni 20 27,2 cm Normal
5. Idayani 16 24,7 cm Normal
6. Yuliani 19 25 cm Normal
7. Hartini 16 23,7 cm Normal
8. Lisa. S 19 24,8 cm Normal
9. Wanda 20 26 cm Normal
10. Rohan 22 28,2 cm Normal
11. Widia Astuti 18 24,2 cm Normal

Berdasarkan hasil pengukuran LILA pada ibu hamil dan wanita usia
subur di dusun Lilir dapat kami identifkasi bahwa rata rata asupan
nutrisinya sudah baik karna hasil pengukuran LILA pada kedua kreteria
tersebut tidak ada di bawah 23,5 cm dapat dikatakan (100%) semua
kreteria normal.
Karnena itu jika LILA pada ibu yang kurang dari 23,5 cm dianggap
menjadi tanda miskin nutrisi. LLA tidak berbeda jauh selama kehamilan
dan karena itu merupakan langkah yang tepat status gizi dari pada BMI
atau berat badan. Bayi yang lahir dari ibu yang miskin, gizi, kekerasan
fisik dialami selama kehamilan akan mengalami BBLR. Dalam komunitas

16
ini sebagian besar miskin di mana cakupan ANC rendah, untuk
mengurangi kejadian BBLR, adalah penting untuk meningkatkan akses
untuk perawatan kesehatan ibu. Keterlibatan suami dan masyarakat luas
untuk mencari tindakan kolektif pada BBLR sangat penting.

4.2. Rencana Intervensi.


Terkait dengan hasil pengukuran dan perhitungan status balita
didusun Lilir, Salah satu intervensi yang harus dianjurkan pada masyarakat
didusun Lilir adalah memberikan asupan makanan tambahan yang bergizi
terutama susu sebagai minuman utama pada balita, karena susu merupakan
sumber utama kalsium yang diperlukan untuk kesehatan tulang.
Dari hasil penelitian-penelitian ini membuktikan bahwa pemberian
susu pada Balita berpengaruh positif terhadap perubahan status gizi balita.
Pada pengukuran antropometri dengan indikator status gizi melalui standar
defiasi secara umum dilakukan dengan pengukuran tinggi badan dan berat
badan, jadi berat badan normal adalah idaman bagi setiap orang agar
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Dan terdapat beberapa
keuntungan yang diberikan adalah penampilan baik, lincah dan resiko
sakit rendah.
Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi
untuk dapat memberikan sumber penghasilan pada masa paceklik maupun
penghasilan sepanjang waktu. Identifikasi dan pengembangan potensi
usaha produktif melalui studi fisibilitas, peningkatan kapasitas sasaran,
yang antara lain dapat dilakukan melalui penguatan kelompok usaha atau
pembentukan Badan Usaha Milik Petani atau sejenisnya (misal BUMP
untuk produksi dan pengolahan kacang mete, kemiri, kacang hijau, ikan
olahan, dsb). Kegiatan yang dikembangkan berupa segala upaya
peningkatan added value produk pertanian setempat dengan porinsip
pengembangan dari hulu ke hilir sehingga memungkinkan menciptakan
lapangan kerja pada masa paceklik atau di luar paceklik.

17
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari hasil praktikum gizi yang di lakukan di dusun Lilir desa
Mekar Sari kecamatan Gunung Sari kabupate Lombok Barat tahun 2015
dapat disimpulkan bahwa :

18
a. Terjadinya status pendek dan sangat pendek pada balita menurut
TB/U atau PB/U didusun Lilir, bukan saja disebabkan oleh
rendahnya intake makanan, takaran makanan dan waktu makan yang
teratur terhadap kebutuhan makanan anak, tetapi kebanyakan orang
tua tidak tahu melakukan penilaian status gizi pada balitanya,
sepertinya masyarakat atau keluarga hanya tahu bahwa balita harus
diberikan makan seperti halnya orang dewasa harus makan tiap
harinya.
b. Di lihat dari klasifikasi tingkat konsumsi balita didusun Lilir, hasil
perhitungan rata rata dari masing masing indicator nilai gizi
balita masih belum mencapai batas maksimal dikatakan asupan
makanan yang baik bagi balita sehingga perlu adanya makanan
tambahan untuk balita agar nilai gizi dari masing masing indikator
tidak terjadi defisit dan kurang.
c. Di lihat dari hasil pengukuran LILA pada ibu hamil dan wanita usia
subur di dusun Lilir, rata rata asupan nutrisinya sudah baik karna
hasil pengukuran LILA pada kedua kreteria tersebut tidak ada di
bawah 23,5 cm.

5.2. Saran
Diharapkan juga semoga rencana intervensi yang kami buat dapat
bermanfaat dan dilaksanakan pada kegiatan praktik berikutnya, dibantu
oleh petugas kesehatan khususnya PuskesSmas Penimbung yang
bekerjasama dengan lintas sektor untuk perbaikan sarana dan prasarana
yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Arisman, 2002 Perhitungan Kebutuhan Gizi. Malang.


Arisman, 2007. Perhitungan Kebutuhan Gizi. Malang.
Chinue, 2009 Perhitungan Kebutuhan Gizi. Malang.
Depkes RI, 2004, cakupan Penilaian Status Gizi Dalam Antropometri.
Jakarta .

19
Gibson 2005. Tinjauan Pustaka LILA. (Online)
http://www.scribd.com/doc/46253718/Tinjauan-Pustaka-Lila-
Antropo-Dsb (Diakses pada tanggal 2 Agustus 2012)
Riskesdas, 2007. Katagori IMT. Sumber: Rise Kesehatan Dasar . Jakarta
Riskesdas, 2007. Laporan Riskesdas tahun 2007. Sumber: Rise Kesehatan
Dasar . NTB
Sirajuddin, S. 2011. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi
Secara Biokimia dan Antropometri. Makassar: Laboratorium Terpada
Fakultas kesehatan Masyarakat Universitas hasanuddin.
Suharjo. 1896. Penilaian Status Gizi Dalam Antropometri.(Online)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25638/4/Chapter
%20II.pdf (diakses pada tanggal 14 januari 2014)

Supariasta, N. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC


Supariasa,2001. Penilaian Status Gizi Dalam Antropometri.(Online)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25638/4/Chapter
%20II.pdf (diakses pada tanggal 2 Agustus 2012)
Supariasta, N. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta
Supariasta, N. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta

20
LAMPIRAN

21