Anda di halaman 1dari 6

DASAR HUKUM PKK

1. Keputusan Menteri Dalam Negeri Dan Otonomi Daerah Nomor 53

Tahun 2000 Tentang Gerakan Pemberdayaan Dan Kesejahteraan

Keluarga;

2. Keputusan Walikota Madiun Nomor 411.4-401.204/173/2009

Tentang Pembentukan Tim Penggerak PKK Kota Madiun Masa Bhakti

2009 2014;

3. Keputusan Walikota Madiun Nomor 411.4-401.204/126/2010

Tentang Pembentukan Dewan Penyantun Tim Penggerak

Pemberdayaan Dan Kesejahteraan Keluarga Kota Madiun;

4. Keputusan Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi Jawa Timur Nomor

04/SKEP/PKK-Prop/IV/2009 Tentang Pemberhentian dan

Pengangkatan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Madiun.


Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga

(PKK)

Latar Belakang

Keberhasilan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh perempuan. Perempuan mempunyai
andil besar dalam membentuk sebuah keluarga yang bermartabat. Lebih dari itu, perempuan
juga mempunyai andil besar dalam kegiatan penanggulangan kemiskinan melalui
pemberdayaan masyarakat dan kelompok. Salah satu buktinya, bahwa perempuan mampu
meningkatkan kesejahteraan keluarganya dengan melakukan kegiatan usaha produktif rumah
tangga.

Salah satu wadah organisasi perempuan dimasyarakat Desa dan Kelurahan adalah PKK. PKK
merupakan sebuah gerakan yang tumbuh dari bawah dengan perempuan sebagai penggerak
dan dinamisatornya dalam membangun, membina, dan membentuk keluarga guna
mewujudkan kesejahteraan keluarga sebagai unit kelompok terkecil dalam masyarakat.

Kesejahteraan keluarga menjadi tujuan utama PKK. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan
unit terkecil masyarakat yang akan berpengaruh besar terhadap kinerja pembangunan. Dari
keluarga yang sejahtera ini, maka tata kehidupan berbangsa dan bernegara akan dapat
melahirkan ketentraman, keamanan, keharmonisan, dan kedamaian. Dengan demikian,
kesejahteraan keluarga menjadi salah satu tolok ukur dan barometer dalam pembangunan.

Oleh karena itu, sesuai amanat Permendagri Nomor 5 Tahun 2007, PKK merupakan salah
satu Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Kelurahandan merupakan mitra pemerintah dan
organisasi kemasyarakatan. PKK mempunyai peran untuk membantu pemerintah Desa dan
Kelurahan dalam meningkatkan kesejahteraan lahir batin menuju terwujudnya keluarga yang
berbudaya, bahagia, sejahtera, maju, mandiri, dan harmonis serta mempunyai peran dalam
menumbuhkembangkan potensi dan peran perempuan dalam meningkatkan pendapatan
keluarga. Selain itu, peran PKK sebagai penggali, pengembang potensi masyarakat
khususnya keluarga, pembina, motivator, serta penggerak prakarsa, gotong royong dan
swadaya perempuan dalam pembangunan sebagai bagian integral dalam mewujudkan
pembangunan partisipatif.

Pada era orde baru, PKK merupakan lembaga kemasyarakatan yang peran dan kiprahnya
tidak dipertanyakan lagi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui berbagai
macam kegiatan ketrampilan yang banyak dilakukan mulai dari hidup sehat, pendidikan
keluarga yang dimulai dari lingkungan terbawah Rumah Tangga (RT) hingga Desa dan
kelurahan. PKK merupakan wadah bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuan dan
potensi yang dimiliki perempuan agar secara mandiri mempunyai ketrampilan dan keahlian
dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi secara mandiri melalui peningkatan kapasitas
dan kualitas hidup. Oleh karena itu, PKK dibentuk untuk menumbuhkan, menghimpun,
mengarahkan, dan membina keluarga guna mewujudkan keluarga sejahtera.

PKK menjadi gerakan untuk mendata beberapa aspek yang diperlukan seperti data warga, ibu
hamil, bayi, dan balita, kelahiran, kematian, sampai kegiatan masyarakat. PKK juga harus
menembus pemahaman agama yang kurang tepat, tentang pelarangan penggunaan alat
kontrasepsi termasuk mereka harus memberikan penjelasan yang utuh tentang manfaat
program KB kepada masyarakat yang rata-rata berpendidikan rendah, mereka membantu
korban kekerasan perempuan dalam rumah tangga dan masyarakat. PKK consern dalam
membela kaum miskin yang kelaparan dengan cara membantu ekonomi kaum perempuan.
Program kerja PKK berorientaasi pada praksis, artinya PKK bergerak pada aksi-aksi nyata
memberdayakan dan memihak kaum perempuan. Dan lebih dari itu, PKK mempunyai andil
besar dalam mensukseskan lomba desa.

Terkait dengan hal tersebut, dalam upaya mempercepat terwujudnya tujuan pembangunan
yang pro poor, pro gender, dan pro job, maka pemberdayaan PKK perlu terus ditingkatkan.
Pemberdayaan PKK dalam keluarga meliputi segala upaya Bimbingan, Pembinaan dan
Pemberdayaan agar keluarga dapat hidup sejahtera, maju dan mandiri. Untuk mewujudkan
hal tersebut, maka diberikan penghargaan (reward) bagi PKK yang telah berhasil
menjalankan 10 (sepuluh) programnya sehingga menjadi pemenang dalam perlombaan Desa
dan Kelurahan di Jawa Timur. Penghargaan (reward) ini merupakan stimulan bagi PKK
dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga baik sosial maupun ekonomi dengan
pemberdayaan masyarakat sebagai ujung tombaknya.

Tujuan

Tujuan dilakukannya Kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga adalah:

1. Meningkatkan kinerja Kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga dalam


pembangunan.
2. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Kader Pemberdayaan
Kesejahteraan Keluarga dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya
lokal untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan beserta keluarganya.
3. Meningkatkan pemberdayaan dan penguatan lembaga PKK sebagai
lembaga kemasyarakatan Desa dan Kelurahan yang produktif, kreatif, dan
responsif.

4. Memberdayakan lembaga PKK agar mampu mengembangkan inovasi-


inovasi dalam mendorong masyarakat yang menjadi binaannya secara
partisipatoris, yang pendekatan metodenya berorientasi pada kebutuhan
kelompok masyarakat sasaran.

Prinsip Dasar Program

Landasan operasional kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga didasarkan pada


prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Partisipatif, bahwa pengambilan keputusan dalam pengelolaan dan


pengembangan dalam setiap tahapan dilakukan dengan
memeransertakan semua pelaku terutama kelompok masyarakat miskin
dan marginal lainnya.
2. Transparant dan akuntable, bahwa pengelolaan kegiatan harus dilakukan
secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat serta dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

3. Keterpaduan, bahwa pengelolaan kegiatan dilaksanakan secara utuh dan


menyeluruh sesuai dengan potensi, kemampuan dan dukungan yang
tersedia serta mengoptimalkan kerjasama antara masyarakat dengan
pemerintah, pengusaha, LSM, Perguruan Tinggi, dan pelaku pembangunan
lainnya secara sinergis.

4. Peningkatan Peran dan Kapasitas Perempuam, bahwa kelompok


perempuan sebagai pengelola dan penerima manfaat kegiatan serta
memiliki peran yang sama dalam proses pengambilan keputusan.

5. Pembelajaran, bahwa pengelolaan kegiatan ini merupakan suatu proses


pembelajaran pola penanggulangan kemiskinan yang efektif berdasarkan
praktek-praktek dilapangan melalui proses transfer pengetahuan, sumber
daya, teknologi dan informasi dari Perguruan Tinggi/LSM.

6. Sustainable, pengelolaan kegiatan dapat dilakukan secara berkelanjutan


melalui pengembangan kegiatan sesuai dengan potensi, kondisi, dan
kinerja yang ada serta mampu menumbuhkan peran serta masyarakat
dalam manfaat, memelihara, melestarikan, dan mengembangkan
kegiatan untuk berkelanjutan.

DASAR HUKUM

Dasar Hukum Pelaksanaaan Kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga adalah :

1. Undang - undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan lembaran Negara
Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2005 (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4548);
2. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

3. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4587);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 159, Tambahan Lembaran
Negera Republik Indonesia Nomor 4593);

5. Peraturan Presiden RI Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi


Penanggulangan Kemiskinan;

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman


Penataan Lembaga Kemasyarakatan;

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pelatihan


Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Kelurahan;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan


Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pedoman


Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2010;

10.Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor: 53 Tahun


2000 tentang Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga;

11.Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2009 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur
Tahun 2009 -2014;

12.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2010 tentang


Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011;

13.Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 109 Tahun 2010 tentang


Penjabaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur
Tahun Anggaran 2011;

14.Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor : 188/410/KPTS/013/2009, tentang


Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Tahun 2011;

15.Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor: 188/326/KPTS/013/2011 tentang


Pemenang Perlombaan Desa dan Kelurahan Provinsi Jawa Timur Tahun
2011.

16.Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor : 188/ /KPTS/ ........./2011


tentang Bantuan Dana Hibah Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan
Kelurahan Kabupaten/Kota Pemenang Perlombaan Desa dan Kelurahan
Provinsi Jawa Timur;
17.Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-
SKPD) Badan pemberdayaan Masyarakat Provinsi Jawa Timur tanggal 03
Januari 2011 Nomor: 914/62/213/2011;

Anda mungkin juga menyukai