Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Maloklusi mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap kualitas hidup
individual. Seiring dengan pengetahuan masyarakat dan keinginan untuk
memperbaiki kualitas hidup, maka permintaan kebutuhan ortodonti di kalangan
masyarakat meningkat. Perawatan ortodonti merupakan perawatan yang dilakukan di
bidang kedokteran gigi yang bertujuan untuk mendapatkan penampilan dentofasial
yang baik secara estetika. Pada dasarnya, perawatan ortodonti adalah usaha
pengawasan untuk membimbing dan mengoreksi struktur dentofasial yang sedang
tumbuh atau yang sudah dewasa.3Pencapaian keharmonisan fungsional dan proporsi
kraniofasial yang estetik merupakan tujuan dari perawatan ortodonti.Perawatan
ortodonti mencakup perawatan terhadap gigi dan skeletal wajah. Pertumbuhan dan
perkembangan wajah merupakan pertimbangan penting untuk perawatan
ortodonti.6Ricketts (cit, Jefferson 2004) menyatakan pentingnya meramalkan proporsi
normal wajah dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Ricketts juga menyatakan bahwa
manusia tidak hanya ingin terlihat menarik tetapi juga sehat.Seiring waktu, standard
ideal kecantikan berubah. Pada zaman Yunani kuno profil datar dan retrusif lebih
menarik. Ini dilihat dari hasil pahatan patung pada zaman tersebut. Sekarang ini,
persepsi profil wajah yang ideal adalah profil yang protrusif dan mempunyai bibir
yang penuh.
7
Struktur skeletal fasial mempunyai nilai estetik dan pengaruh psikologi yang
lebih besar daripada kelainan morfologi gigi. Beberapa alat untuk mendukung
diagnostik telah dipakai, termasuk radiografi sefalometri. Analisis sefalometri
digunakan untuk menentukan posisi skeletal fasial yang ideal. Nilai sefalometri
biasanya dibedakan berdasarkan ras tertentu. 14 Tidak ada garis panduan yang pasti
untuk menentukan posisi ideal dari maksila dan mandibula dengan kriteria universal
tanpa membedakan umur, ras, jenis kelamin, dan variabel lain. 12 Walaupun demikian,
permintaan perawatan ortodonti yang meningkat mengharuskan dokter gigi mencari
standar untuk menentukan posisi maksila dan mandibula yang ideal.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Maloklusi
Maloklusi adalah bentuk hubungan rahang atas dan bawah yang menyimpang
dari bentuk normal. Menurut Salzman (1957), maloklusi adalah susunan gigi dalam
lengkung gigi, ataupun hubungan geligi dalam suatu susunan lengkung gigi dengan
gigi antagonis, yang tidak sesuai dengan morfologi normal pada kompleks maksilo
dentofasial.

2.1.1 Tiga bidang yang digunakan sebagai pedoman menentukan maloklusi

Untuk menyatakan hubungan rahang terhadap dasar tulang kepala (basis


cranii) Untuk ini diperlukan pengertian tiga bidang yang digunakan sebagai
pedoman, yaitu:
a. Bidang sagital, yaitu bidang vertikal yang melewati garis tengah (median line)
rahang, tegak lurus terhadap bidang horisontal..

b. Bidang transversal, yaitu bidang vertikal yang melewati kedua titik infraorbital
kanan dan kiri, tegak lurus terhadap bidang horisontal. Bidang ini disebut juga
bidang orbital ( Simon )

c. Bidang horisontal Frankfurt (FHP = Frankfurt Horizontal Plane), yaitu bidang


horisontal yang melewati titik Tragus dan titik infraorbital.

2
Istilah untuk menyatakan kedudukan rahang terhadap ketiga bidang tersebut :

a. Terhadap bidang sagital :

1. Kontraksi (contraction), yaitu kedudukan rahang yang lebih mendekati


bidang sagital. Istilah kontraksi digunakan untuk mendiagnosis
pertumbuhan rahang ke arah lateral yang kurang dari normal.

2. Distraksi (distraction), yaitu kedudukan rahang yang menjauhi bidang


sagital. Istilah distraksi digunakan untuk mendiagnosis pertumbuhan
rahang ke arah lateral yang lebih dari normal.

b. Terhadap bidang transversal ( bidang orbital )

1. Protraksi (protraction) atau protrusi (protrusion), yaitu kedudukan rahang


yang menjauhi bidang transversal atau bidang orbital. Protrusi rahang atas :
Protrusi maksila Protrusi rahang bawah : Protrusi mandibula = prognasi =
progeni Protrusi RA dan RB : Protrusi bimaksiler 2. Retraksi (retraction)
atau retrusi (retrusion), yaitu kedudukan rahang yang mendekati bidang
transversal atau bidang orbital. Retraksi/ retrusi rahang bawah = retrognasi

c. Terhadap bidang horisontal (FHP)

1. Atraksi (attraction), yaitu kedudukan rahang yang mendekati bidang


horisontal

2. Abstraksi (abstraction), yaitu kedudukan rahang yang menjauhi bidang


horisontal.

2.1.2 Jenis Maloklusi


Secara umum, maloklusi dapat dibagi menjadi tiga kelas, yaitu:
1. Maloklusi intra lengkung
Maloklusi intra lengkung adalah malposisi gigi dan hubungannya terhadap
lengkung. Yang dimaksud dengan malposisi gigi seperti inklinasi lebih ke
distal/mesial/lingual/bukal, pergeseran ke mesial/distal/lingual/bukal, oklusi supra
versi/infra versi, rotasi gigi, maupun transposisi.

3
2. Maloklusi inter lengkung
Maloklusi ini dikarakteristikkan ke dalam hubungan abnormal antara dua atau
lebih gigi dari satu lengkung ke lengkung yang lain. Maloklusi ini dapat terjadi pada
arah sagital, vertikal, maupun transversal. Maloklusi sagital berupa oklusi prenormal
dan post normal. Oklusi prenormal yaitu lengkung bawah lebih ke depan ketika
pasien melakukan oklusi sentrik. Oklusi post normal yaitu lengkung bawah lebih ke
distal ketika pasien melakukan oklusi sentrik.
Maloklusi vertikal berupa deep bite dan open bite dimana terdapat hubungan
vertikal yang abnormal antara gigi pada rahang atas dan bawah. Sedangkan
maloklusi transversal berupa crossbites dimana hubungan transversal abnormal antara
rahang atas dan bawah.
3. Maloklusi skeletal
Maloklusi skeletal disebabkan karena ketidaknormalan pada maksila atau
mandibula. Ketidaknormalan ini dapat berupa ukuran, posisi, maupun hubungan
antara rahang.Maloklusi skeletal juga dapat terjadi dalam tiga arah yaitu sagital,
vertikal, maupun transversal. Pada arah sagital berupa rahang mengalami prognati
ataupun retrognati. Pada arah vertikal berupa tinggi wajah. Pada arah transversal
berupa rahang sempit ataupun lebar.

2.2 Lengkung Gigi


Menurut Barber, lengkung gigi merupakan suatu garis lengkung imaginer
yang menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas dan bawah. 3 Moorrees dan
Reed menyatakan bahwa lengkung gigi adalah lengkung yang dibentuk oleh susunan
mahkota gigi.
Garis oklusi merupakan garis lengkung gigi yang mulus, tidak terputus dan
simetris.Garis ini ditarik dari gigi molar pertama kanan ke kiri. Garis lengkung gigi
atas ditarik melalui fossa sentral gigi molar, singulum kaninus, insisivus, dan garis
lengkung gigi bawah ditarik melalui tonjol bukal molar dan tepi insisivus.

4
Menurut Moyers lengkung gigi dibedakan atas lengkung alveolar dan
lengkung basal. Lengkung alveolar atau lengkung prosessus alveolar adalah tempat
gigi tertanam di dalam tulang basal. Lengkung alveolar menghubungkan ukuran dan
bentuk lengkung basal dengan lengkung gigi. Lengkung basal adalah lengkung
korpus mandibula dan merupakan bagian terbesar rahang bawah. Bentuk dan ukuran
lengkung basal tidak berubah meskipun gigi telah hilang atau prosessus alveolaris
mengalami resorpsi.

Gambar 3. Hubungan lengkung gigi, lengkung basal dan


lengkung alveolar
2.3 Displacement Mandibula
Displacement mandibula merupakan deviasi dari hubungan oklusal sentrik
akibat defleksi dari kontak awal gigi. Penyebab terjadinya displacement mandibula
yaitu:
a. Kontak prematur dapat menyebabkan displacement mandibula untuk
mendapatkan hubungan antartonjol gigi yang maksimum.
b. Dalam jangka panjang displacement dapat terjadi selama pertumbuhan gigi.
Pada beberapa keadaan displacement terjadi pada fase geligi sulung,

5
kemudian pada saat gigi permanen erupsi gigi tersebut akan diarahkan oleh
kekuatan otot ke letak yang memperparah terjadinya displacement.
c. Displacement dapat juga terjadi pada usia lanjut karena gigi yang maju dan
tidak terontrol disebabkan hilangnya gigi posterior akibat pencabutan.

Penyebab terjadinya displacement dalam jurusan transversal,sagital dan


posterior:
1. Displacement dalam jurusan transversal
a. Sering berhubungan dengan adanya gigitan silang posterior. Bila lengkung
geligi atas dan bawah sama lebarnya, suatu displacement mandibula ke
transversal diperlukan untuk mencapai posisi oklusi maksimum. Bila hal
tersebut terjadi maka akan didapatkan relasi gigitan silang posterior pada
satu sisi.
b. Displacement ke transversal tidak berhubungan dengan bertambahnya jarak
antar oklusal atau adanya overclosure.
c. Adanya gigitan silang unilateral gigi posterior yang disertai dengan adanya
garis median atas dan bawah yang tidak segaris akan menimbulkan dugaan
adanya displacement ke transversal. Bila terdapat gigitan silang silang
unilateral pada keadaan ini, perlu dilakukan ekspansi regio posterior rahang
atas ke arah transversal.
d. Tidak semua gigitan silang unilateral berhubungan dengan adanya
displacement. Kadang-kadang didapatkan asimetri rahang atas dan bawah.

2. Displacement dalam jurusan sagital


a. Dapat terjadi karena adanya kontak prematur pada daerah insisivi. Pada
keadaan ini biasanya didapatkan over closure mandibula.
b. Pada kasus kelas III ringan terdapat gigitan edge to edge pada insisivi,
mandiula bergeser ke anterior untuk mendapatkan oklusi di daerah bukal.

3. Displacement dalam jurusan posterior.


Perlu diperhatikan perbedaan displacement mandibula ke posterior yang
sering terjadi pada relasi insisivi kelas II dengan displacement ke posterior pada
pasien dengan gigi yang masih lengkap. Displacement ke posterior lebih sering
terjadi pada pasien yang kehilangan gigi posterior.

6
2.4 Rotasi Mandibula
Basis kranii anterior (Sella-Nasion) sering digunakan sebagai garis acuan
untuk menentukan kemiringan bidang mandibula (MP). Individu dengan sudut MP-
SN yang lebih besar akan cenderung memiliki wajah panjang karena rotasi mandibula
menjauhi maksila sehingga menghasilkan pertambahan panjang vertikal wajah.
Sebaliknya, individu dengan sudut MP-SN yang lebih kecil cenderung mempunyai
wajah yang lebih pendek karena rotasi mandibula mendekati maksila.
` Rotasi mandibula dapat terjadi dalam dua arah, yaitu searah jarum jam atau
berlawanan arah jarum jam. Rotasi mandibula yang searah jarum jam mengarahkan
pertumbuhan mandibula ke bawah dan ke belakang. Ini menyebabkan pengurangan
overbite atau bahkan menjadi anterior open bite. Rotasi pertumbuhan mandibula yang
berlawanan arah jarum jam mengarahkan pertumbuhan mandibula ke atas dan ke
depan. Ini menyebabkan pertambahan overbite.

2.5 Analisis Sefalometri


Sefalometri adalah peralatan yang terdiri dari alat penghasil sinar x-ray yang
ditempatkan pada jarak tertentu dari pasien, sefalostat untuk fiksasi kepala pada jarak
yang ditentukan dan film yang diletakkan pada kaset untuk menangkap bayangan
kepala. Analisis sefalometri meliputi analisis dental, skeletal dan jaringan lunak.

Adapun kegunaan sefalometri dalam bidang ortodonti yaitu:


a. Studi pertumbuhan kraniofasial.
Sefalogram telah membantu menyediakan informasi tentang beragam pola
pertumbuhan, gambaran struktur kraniofasial yang baik, memprediksi
pertumbuhan, dan memprediksi kemungkinan dampak dari rb. Diagnosis
kelainan kraniofasial. Sefalogram digunakan dalam mengidentifikasi,
menentukan gambaran dan melihat kelainan dentokraniofasial.
Permasalahan utama dalam hal ini adalah perbedaan antara malrelasi
skeletal dan dental.
b. Rencana Perawatan.

7
Sefalogram digunakan untuk mendiagnosis dan memprediksi morfologi
kraniofasial serta kemungkinan pertumbuhan di masa yang akan datang.
Hal tersebut dilakukan dengan menyusun rencana perawatan yang baik
dan benar.
c. Evaluasi Pasca Perawatan.
Sefalogram yang diperoleh dari awal hingga akhir perawatan dapat
digunakan dokter gigi spesialis ortodonti untuk mengevaluasi dan menilai
perkembangan perawatan yang dilakukan serta dapat digunakan sebagai
pedoman perubahan perawatan yang ingin dilakukan.
d. Studi kemungkinan relaps.
Sefalometri membantu untuk mengidentifikasi penyebab relapse nya
perawatan ortodonti dan stabilitas dari maloklusi yang telah dirawat.

Titik-titik sefalometri pada jaringan keras yang biasa digunakan dalam


analisis sefalometri, yaitu:2,22-24
a. Sella ( S ) : titik pusat geometric dari fossa pituitary.
b. Nasion ( N ) : titik yang paling anterior dari sutura fronto nasalis atau
sutura antara tulang frontal dan tulang nasal.
c. Orbitale ( Or ) : titik paling rendah dari dasar rongga mata yang terdepan.
d. Sub-spina ( A ): titik paling cekung di antara spina nasalis anterior dan
prosthion, biasanya dekat apeks akar gigi insisivus sentralis maksila.
e. Supra-mental ( B ) : titik paling cekung di antara infra dental dan pogonion
dan biasanya dekat apeks akar gigi insisivus sentralis mandibula.
f. Pogonion ( Pog ) : titik paling depan dari tulang dagu.
g. Gnathion ( Gn ) : titik di antara pogonion dan menton.
h. Menton ( Me ) : titik paling bawah atau inferior dari tulang dagu.
i. Articulare ( Ar ) : titik perpotongan antara batas posterior ramus dan batas
inferior dari basis kranial posterior.
j. Gonion ( Go ) : titik bagi yang dibentuk oleh garis bagi dari sudut yang
dibentuk oleh garis tangen ke posterior ramus dan batas bawah dari
mandibula.
k. Porion ( Po ) : titik paling superior dari meatus acusticus externus.

8
l. Pterygomaxilary ( PTM ) : Kontur fissura pterygomaxilary yang dibentuk di
anterior oleh tuberositas retromolar maksila dan di posterior oleh kurva
anterior dari prosesus pterygoid dari tulang sphenoid.
m. Spina Nasalis Posterior ( PNS ) : Titik paling posterior dari palatum
durum.
n. Anterior nasal spine ( ANS ) : Ujung anterior dari prosesus maksila pada
batas bawah dari cavum nasal.
o. Basion ( Ba ) : Titik paling bawah dari foramen magnum.
p. Bolton : Titik paling tinggi pada kecekungan fosa di belakang kondil
osipital.

. Titik titik sefalometri pada jaringan keras26

9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Maloklusi adalah bentuk hubungan rahang atas dan bawah yang menyimpang
dari bentuk normal. 7 Struktur skeletal fasial mempunyai nilai estetik dan pengaruh
psikologi yang lebih besar daripada kelainan morfologi gigi. Beberapa alat untuk
mendukung diagnostik telah dipakai, termasuk radiografi sefalometri. Analisis
sefalometri digunakan untuk menentukan posisi skeletal fasial yang ideal.

10
DAFTAR PUSTAKA
http://cendrawasih.a.f.staff.ugm.ac.id/wp-content/buku-ajar-orto-i-th-2008.pdf
Harty,F.J.dkk. Kamus Kedokteran Gigi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24992/4/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37836/4/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38210/4/Chapter%20II.pdf
http://wayanardhana.staff.ugm.ac.id/pwpnt_orto2_diag.pdf

11