Anda di halaman 1dari 7

Nama : Mohamad Sofwan Rizky Dikumpulkan Tanggal: 01-03-2017

NPM : 1506728081 Paraf Asisten :


Kelompok :9
Topik Pemicu : Perpindahan Kalor Konduksi

I. Outline
1. Sistem Konduksi-Konveksi
Lampiran Soal Hitung No. 1 dari Pemicu

II. Pembahasan
1. Sistem Konduksi-Konveksi
Dalam kehidupan sehari-hari, kalor yang dihantarkan melalui benda sering
harus dibuang (atau dilepaskan) melalui proses konveksi. Contohnya, rugi kalor
yang terjadi melalui konduksi di dinding tanur harus dilesap ke lingkungan
melalui konveksi. Dalam alat penukar kalor diterapkan susunan tabung bersirip
(finned-tube) untuk membuang kalor dari cairan panas. Perpindahan kalor dari zat
cair ke pipa bersirip berlangsung dengan konveksi. Kalor dihantarkan melalui
bahan, dan akhirnya dilepaskan ke lingkungan melalui konveksi. Jadi, jelaslah
bahwa dari segi praktis, analisis sistem konduksi-konveksi sangatlah penting
(Holman, 1994).

Sirip
Sebuah sirip satu dimensi yang bersinggungan dengan fluida lingkungan
yang suhunya T memiliki tampilan seperti yang terlihat pada gambar. Suhu
di dasar sirip ialah . Pendekatan terhadap masalah ini dilakukan dengan
membuat neraca energi untuk unsur sirip setebal dx seperti terlihat pada gambar
tersebut.

Gambar 1. Sistem konduksi-konveksi pada Sirip


(Sumber: Perpindahan Kalor, Holman, 1994)

Sehingga,
Energi masuk di muka kiri = energi keluar di muka kanan + rugi energi
karena konveksi.
Persamaan dasar untuk koefisien perpindahan kalor yaitu
q=h A (Tw T )

[1.1]
di mana luas bidang di dalam persamaan ini adalah luas permukaan untuk
konveksi. Jika luas penampang sirip adalah A, kelilingnya adalah P, maka
kuantitas energinya adalah
dT
Energi masuk di muka kiri = qx=k A dx

dT dT d 2 T
Energi keluar di muka kanan = qx +dx=k A =k A( + dx)
dx dx d x 2

Rugi energi karena konveksi h P dx(T T )

Di sini terlihat bahwa diferensial luas muka konveksi adalah hasil


perkalian keliling sirip dengan diferensial panjang dx. Jika besaran-besaran itu
digabungkan, maka dari neraca energi diperoleh
d 2 T hP (
T T )=0
d x 2 kA

[1.2]

Dengan menganggap =T T . Maka persamaannya menjadi


2
d hP
2
=0
d x kA

[1.3]
Di mana salah satu kondisi batasnya adalah
= 0=T T pada x =0

Dinding
Salah satu contoh penerapan konduksi-konveksi adalah dinding turbin
yang mengalami pendinginan oleh fluida yang mengalir pada setiap sisinya.
Gambar 2. Dinding berkonduksi dengan perpindahan panas secara
konveksi
(Sumber: http://web.mit.edu)
Dengan menggunakan persamaan dasar mengenai perpindahan kalor
secara konveksi, maka
q=h A (Tw T )

Di mana perpindahan kalor pada fluida 1 dan 2 dapat digambarkan sebagai


berikut, dengan menyertakan perpindahan kalor per luas unit dari fluid.

[1.4]

[1.5]
Perpindahan kalor juga terjadi secara konduksi pada dinding

[1.6]
Melihat nilai perpindahan kalor per luas unit dari fluid dalam tiga kondisi
di atas adalah sama, maka hal ini dapat diturunkan untuk mengetahui temperatur
jatuh keseluruhan antara perpindahan kalor dan temperatur jatuh keseluruhan.

[1.7]
Untuk sebuah turbin yang berada pada mesin gas turbin, pendinginan
merupakan suatu hal yang krusial. Dalam kasus ini, nilai T 2 adalah keluaran
combuster, sementara T1 adalah keluaran kompresor. Sehingga, dalam kasus ini
yang perlu dicari nilainya dan dipertimbangkan besarnya adalah Tw2, karena
merupakan temperatur tertinggi dari material metal.

[1.8]
Dengan nilai resistensi termal (R) pada dinding yang mengalami
perpindahan kalor secara konveksi di setiap sisinya,

[1.9]
Maka persamaan temperatur pada dinding, Tw2, dapat dinyatakan sebagai
berikut

[1.10]
Di mana nilai yang ingin dicapai adalah Tw2 yang bernilai rendah,
sehingga diperlukannya nilai h1/h2 yang besar, k yang besar, dan nilai L yang
kecil.

Silinder
Kasus sistem konduksi-konveksi selanjutnya adalah silinder yang dikenai
sebuah fluida yang mengalir.

Gambar 3. Silinder dalam fluida yang mengalir


(Sumber: http://web.mit.edu)
Untuk fluks kalor pada permukaan luar silinder dapat digambarkan sebagai

[1.11]
Pada interface antara silinder dengan fluida, yakni pada r = r2, maka
temperatur dan aliran kalor bersifat kontinu.

[1.12]
Memasukkan bentuk distribusi temperatur ke dalam persamaan maka

[1.13]
Dengan konstanta integrasi, a, yang bernilai

[1.14]
Dan deskripsi dari nilai temperatur dalam bentuk non-dimensional yakni

[1.15]
Maka laju kalor per unit panjang, Q, dapat digambarkan sebagai berikut

[1.16]
Dalam satuan W/m.s
III. Sumber Rujukan

Holman, J.P. 1994. Perpindahan Kalor, Edisi Keenam, Alih Bahasa Ir. E. Jasjfi, Msc,
Erlangga, Jakarta: Penerbit Erlangga

Frank P. Incropera, David P. Dewitt. 1996. Fundamentals of Heat and Mass Transfer,
Fifth Edition, New York

MIT Education. Combined Conduction and Convection. [online] Tersedia di:


http://web.mit.edu/16.unified/www/FALL/thermodynamics/notes/node123.html.
[Diakses pada 27 Februari 2017]
LAMPIRAN
Soal Hitungan No. 1 dari Pemicu

Soal:
A furnace wall is to be designed to transmit a maximum heat flux of 200 Btu/h ft3 of wall
area. The inside and outside wall temperature are to be 2000F and 300F, respectively.
Determine the most economical arrangement of bricks measuring 9 by 4 by 3 in. If they
are made from two materials, one with a k of 0.44 Btu/h ft F and a maximum usable
temperature of 1500 F and other with a k of 0.94 Btu/ h ft F and a maximum temperature of
2200 F. Bricks made of each material cost the same amount and may be laid in any manner.