Anda di halaman 1dari 13

Sajian Kasus Yunior

04 Mei 2010
Rosidin
S.590109005

SEORANG ANAK DENGAN MORBILI, DIARE AKUT TANPA


DEHIDRASI, PNEUMONIA, DAN GIZI KURANG

MORBILI

Morbili merupakan penyakit infeksi yang memiliki pengaruh luas pada


anak dan tetap mejnadi kasus yang sangat substansial atas mortalitas anak di
seluruh dunia, terutama di negara berkembang.1 Penyakit ini mempunyai empat
stadium yaitu: (1) stadium masa tunas yang berlnagsung 10-12 hari ditandai
dengan beberapa tanda klinis; (2) stadium prodormal dengan adanya gejala batuk
dan pilek yang meningkat, ditemukannya enantem (bercak koplik) pada mukosa
pipi depan molar tiga, kemudian suhu tubuh makin meningkat, mukosa
konjungtiva sedikit meradang; (3) stadium erupsi yang ditandai dengan keluarnya
ruam yang dimulai dari belakang telingan menyebar ke wajah, dada, punggung,
lengan dan kaki disertai dengan suhu tubuh yang lebih meningkat; (4) stadium
penyembuhan yang ditandai dengan menurunnya suhu tubuh dan ruam menjadi
hitam (hiperpigmentasi) dan selanjutnya mengelupas (deskuamasi).2

Morbili merupakan penyekit endemis pada sebagian besar dunia. 3 Di


Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), campak menduduki
tempat ke-5 dalam urutan 10 penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempat ke-5
dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0,77%).4

DIARE

Diare merupakan masalah kesehatan di masyarakat karena morbiditas dan


mortalitasnya yang cukup tinggi. Diare merupakan penyakit yang sering terjadi

1
pada anak, dan sampai saat ini merupakan penyebab utama kematian pada anak.
Di Indonesia, angka kejadian diare akut diperkirakan masih sekitar 60 juta episode
setiap tahunnya dan 1-5% diantaranya berkembang menjadi diare kronik. Penting
bagi kita melakukan pendekatan dengan batasan yang benar. Secara umum kita
mengenal diare akut, diare kronis, dan sindrom disentri.5,6

Beberapa hal yang perlu dilakukan bila mendapakan anak dengan diare
akut adalah menilai derajat dehidrasi, memberi pengganti cairan dan elektrolit
yang keluar, mencegah penyebaran kuman enteropatogen dan mencari
etiologinya, serta memberikan pengobatan yang spesifik sesuai dengan indikasi.3
Derajat dehidrasi diklasifikasikan sesuai dengan gejala-gejala dan tanda-tanda
yang mencerminkan jumlah cairan yang hilang selama diare. Beratnya dehidrasi
secara akurat dinilai berdasarkan berat badan yang hilang sebagai persentasi
kehilangan total berat badan dibandingkan berat badan sebelumnya sebagai baku
emas. Penurunan asupan makanan dan penyerapan nutrisi merupakan masalah
yang sering secara bersama-sama menyebabkan penurunan berat badan.6,7

PNEUMONIA

Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak


berusia di bawah 5 tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian anak
di seluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita, meninggal setiap tahun akibat
pneumonia, sebagiian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Menurut Survei
Kesehatan Nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8% kematian balita
di Indonesia disebabkan oleh penyakit sistem respiratori, terutama pneumonia.8

Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru. Sebagian


besar disebabkan oleh mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh hal
lain.9

Virus pernafasan adalah penyebab pneumonia yang paling sering selama


usia beberapa tahun pertama. Mycoplasma pneumoniae adalah penyebab
pneumonia paling sering selama usia beberapa tahun pertama.10 Pneumonia sering

2
kali dipercaya diawali oleh infeksi virus yang kemudian mengalami komplikasi
infeksi bakteri. Secara klinis pada anak sulit membedakan antara pneumonia
bakterial dan pneumonia viral. Demikian pula pemeriksaan radiologis maupun
laboratorium tidak menunjukkan perbedaan nyata. Namun sebagai pedoman dapat
disebutkan bahwa pneumonia bakterial awitannya cepat, batuk produktif, pasien
tampak toksik, lekositosis dan perubahan nyata pada pemeriksaan radiologi.
Secara umum, bakteri yang berperan pentinmg dalam pneumonia adalah
Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphilococcus aureus,
Streptococcus grup B, serta kuman atipik klamidia dan mikoplasma.9

KASUS

Seorang anak laki-laki, R berusia 1 tahun 1 bulan, dengan nomor rekam


medik 99.93.78, datang ke IGD Rumah Sakit Dr. Moewardi ( RSDM ) Surakarta
pada tanggal 14 Maret 2010 dengan keluhan utama panas tinggi.

Berdasarkan alloanamnesis dengan ibu penderita, sejak empat hari


sebelum masuk rumah sakit penderita mengalami panas tinggi yang dirasakan
terus menerus. Pasien juga merasakan batuk berdahak dan pilek. Penderita tidak
mengalami kejang. Karenanya oleh orang tuanya, penderita kemudian di bawa ke
puskesmas untuk mencari pengobatan. Di puskesmas pasien diperiksa dan diberi
obat penurun panas. Setelah meminum obat tersebut, suhu badan penderita turun
tetapi kemudian naik kembali dan disertai mata kemerahan dan mengeluarkan
kotoran mata. Karena keluhan tidak berkurang, pasien kemudian di bawa ke
RSDM.

Pada dua hari sebelum masuk rumah sakit, penderita BAB cair Penderita
mengalami diare cair antaraempat sampai lima kali kali sehari, setiap kali diare
banyaknya seperempat sampai setengah gelas aqua, cairan lebih banyak dari
ampas, warna kuning, tidak ada lendir atau darah, bau tidak menyengat, pada saat
diare penderita tidak menangis atau tampak kesakitan. Selama diare nafsu makan
dan minum penderita tidak berkurang. Sebelum diare penderita makan-minum

3
seperti biasa, selama ini penderita minum air susu ibu, dan susu formula. Buang
air kecil terakhir kurang lebih enam jam sebelum masuk Rumah Sakit, jumlah
sekitar seperempat gelas aqua berwarna kuning jernih. Di lingkungan rumah
tempat tinggal penderita tidak ada yang diare. Selain itu, pada tubuh penderita
juga timbul bercak-bercak kemerahan, yang awalnya timbul di belakang telinga
dan di bawah rambut, terus menyebar ke wajah dan seluruh tubuh.

Riwayat penyakit dahulu: Penderita sebelumnya tidak pernah mengalami


diare, selama ini penderita hanya mengalami panas, batuk, pilek beberapa kali
yang dalam beberapa hari sembuh setelah mendapat obat dari bidan atau dokter.
Pasien baru pertama kali mengalami sakit seperti yang dialami sekarang.

Riwayat penyakit keluarga: tidak ada anggota keluarga yang mengalami


morbili

Riwayat kehamilan dan kelahiran: penderita merupakan anak yang


diharapkan dalam keluarga, anak kedua dari 2 bersaudara, selama hamil, ibu rutin
kontrol di bidan dan dokter, minum vitamin secara teratur dan tidak pernah
menderita sakit selama kehamilan. Penderita dilahirkan di puskesmas secara
spontan, langsung mengangis, dengan umur kehamilan 9 bulan, berat badan lahir
2.900 gram, panjang badan dan l;ingkar kepala saat lahir orang tua mengaku lupa.

Riwayat imunisasi: penderita mendapatkan imunisasi di Puskesmas untuk


BCG (skar BCG tampak di lengan kanan atas), hepatitis B I, II, III, DPT I, II, III.
Pasien tidak mendapatkan iminsasi campak.

Riwayat asupan nutrisi: penderita mendapatkan ASI dan diberi susu


formula, sehari 8-12 kali, tiap kali pemberian 150 ml. Kesan asupan nutrisi
kuantitas dan kualitas baik.

Riwayat tumbuh kembang: kesan pertumbuhan dan perkembangan dalam


batas normal.

4
Riwayat keluarga: ayah penderita berumur 45 tahun, suku jawa, agama
islam, pendidikan terakhir SPM, bekerja sebagai buruh bangunan, dengan
penghasilan Rp. 600.000,00 perbulan. Penderita merupakan anak kedua dari 2
bersaudara. Kakak penderita berjenis kelamin laki-laki, berumur 2 tahun dan
dalam keadaan sehat.

POHON KELUARGA

An. R, 1 tahun 1 bulan

Pada pemeriksaan fisik tanggal 14 Maret 2010 keadaan umum penderita


tampak lemah, compos mentis, rewel, gizi kesan baik. Tanda vital didapatkan laju
nadi 128 kali per menit (isi dan tegangan cukup), laju napas 28 kali per menit,
suhu per aksila 39,7C, berat badan 6 kg ( BB/U= P < 3; CDC 2000 ), panjang
badan 73 cm ( TB/U= P < 3 ; cdc 2000 ), berat badan menurut tinggi badan
( BB/TB= P -2 SD<z-score <-3 ; CDC 2000) kesimpulan gizi kurang (secara
antropometri). Pada pemeriksaan fisik didapatkan kepala bentuk normal dengan
lingkar kepala 45 cm, rambut hitam kokoh tidak mudah dicabut, ubun-ubun besar
tidak cekung. Pada mata tidak tampak cekung, tidak didapatkan konjungtiva
pucat, sklera tidak ikterik, pupil bulat dan isokor (diameter 2mm/2mm), reflek
cahaya normal. Pada pemeriksaan telinga tidak didapatkan cairan yang keluar dari
kedua liang telinga, didapatkan bercak eritema makulopapular di belakang telinga.

5
Pada hidung dijumpai napas cuping hidung, dijumpai sekret pada kedua lubang
hidung. Pada pemeriksaan mulut didapatkan mukosa basah, faring hiperemis,
didapatkan stomatitis, bercak koplik pada mukosa bukal di dekat gigi molar 3
bawah, tonsil T1-T1 tidak hiperemis. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah
bening, didapatkan bercak eritema makulopapular. Bunyi jantung l-ll normal,
tidak ditemukan bising maupun irama derap. Suara napas vesikuler, tidak ada
ronkhi maupun mengi, tidak tampak retraksi interkostal. Pada pemeriksaan
abdomen dinding perut sejajar dengan dinding dada, terdengar bising usus
meningkat, hepar dan lien tidak teraba, tidak teraba massa, turgor kulit abdomen
kembali cepat. Pada ekstremitas didapatkan akral hangat, arteri dorsalis pedis
teraba kuat dan capillary refill time (CRT) kurang dari dua detik, dan eritema
makulopapular di seluruh ekstremitas. Hasil pemeriksaan laboratorium pada
waktu masuk Rumah Sakit Dr. Moewardi, Surakarta (di IGD): Hemoglobin 10,2
g/dL, Hematokrit 30,3%, eritrosit 4.620.000/L, leukosit 9.900/L, trombosit
403.000/L, golongan darah AB. Penderita kemudian didiagnosis dengan febris
hari ke-4 dengan differential diagnosis morbili, eksantema subitum, faringitis
akut. Pasien juga didiagnosis dengan diare akut tanpa dehidrasi, stomatitis, dan
conjungtivitis. Terapi yang diberikan adalah mondok bangsal infeksi (isolasi),
IVFD RL kecepatan 32 cc/jam, oralit 60 cc bila diare, parasetamol empat kali 120
mg per oral, vitamin A 100.000 IU, dan gentamisin tetes mata. Diet penderita
adalah ASI/ASB 8X10-20 ccperoral. Direncanakan untuk pemeriksaan darah rutin
yaitu hemoglobin, hematokrit, lekosit, eritrosit, trombosit dan indeks eritrosit,
hitung jenis leukosit, analisis urin dan feces, elektrolit, ureum, kreatinin, SI, TIBC
dan gambaran darah tepi. Monitoring dilakukan setiap empat jam dengan menilai
status hidrasi, keadaan umum dan tanda vital, balans cairan dan diuresis. Edukasi
pada penderita untuk minum yang banyak serta kompres hangat.

Pada pemeriksaan tanggal 15 Maret 2010 keadaan umum penderita tampak


sakit berat, tampak sesak dan batuk, compos mentis, gizi kesan kurang. Tanda
vital didapatkan laju nadi 100 kali per menit (isi dan tegangan cukup), laju napas
38 kali per menit, suhu per aksila 37,0C. Pada pemeriksaan fisik lain didapatkan

6
napas vesikuler, ronkhi basah halus di basal lapang paru, tidak tampak retraksi
interkostal, didapatkan chest indrawing. Hasil pemeriksaan laboratorium pada hari
itu adalah: Hemoglobin 10,4 g/dL, Hematokrit 30,3%, eritrosit 4.280.000/L,
leukosit 15.100/L, trombosit 369.000/L, golongan darah AB. Penderita
kemudian didiagnosis dengan febris hari ke-4 dengan differential diagnosis
morbili, eksantema subitum, faringitis akut. Pasien juga didiagnosis dengan diare
akut tanpa dehidrasi, stomatitis, dan conjungtivitis. Indeks eritrosit : MCV: 65,5 /
um, MCH: 19.7 pg, MCHV: 30,1 g/dl, RDW: 17,2 %, HDW: 3.4 g/dl, MPV: 8.4
fl, PDW: 39 % Hitung jenis: Eosinofil: 0.20 %, Basofil: 1.20 %,Netrofil: 48,80
%,Limfosit: 45,40 %, Monosit: 4,50%,LUC: 8.90 %. Analisa urin dalam batas
normal, analisa feces didapatkan tinja lunak, warna kuning, tidak ditemukan
parasit maupun jamur patogen. Diuresis 4,16 cc/kgbb/jam. Diagnosis saat itu
adalah morbili DD eksantema subitum DD faringitis akut (febris hari ke-5).
Pasien juga didiagnosis dengan diare akut tanpa dehidrasi, pneumonia DD
bronkiolitis. Terapi yang diberikan adalah O2 nasal 3 liter permenit, diet nasi lauk
700 kalori perhari, IVFD D1/4 S kecepatan 32 cc/jam, injeksi chloramphenicol
150 mg/6jam, injeksi ampicillin 150 mg/6 jam, parasetamol 4 kali 120 mg, vit A
100.000 IU, gentamicin tetes mata, oralit 60 cc jika diare, zink satu kali 20 mg,
probiotik dua kali satu sachet. Direncanakan pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht,
lekosit, trombosit) dan foto thorax AP/Lateral. Monitoring dilakukan dengan
memeriksa keadaan umum dan tanda vital setiap 2 jam, balans cairan dan diuresis
setiap 8 jam. Pukul 22.00 hasil analisa gas darah menunjukkan kesan asidosis
respiratorik tak terkompensasi. Kemudian dilakukan konsultasi ke bagian PICU
untuk perawatan, tetapi PICU penuh. Setelah itu dilakukan pemberian O2
headbox 8 liter permenit dan pemasangan NGT. Reesidu NGT berwarna putih
hijau. NGT dialirkan dan pasien dipuasakan untuk sementara.

Pada pemeriksaan tanggal 16 dan 17 Maret 2010 keadaan umum penderita


tampak sakit sedang, tampak sesak, compos mentis, gizi kesan kurang. Tanda vital
didapatkan laju nadi 130 kali per menit (isi dan tegangan cukup), laju napas 48
kali per menit, suhu per aksila 36,7C. Pada pemeriksaan fisik bercak koplik

7
masih didapatkan, eritema makulopapular masih didapatkan. Balans cairan
+109ml/24 jam dan diuresis cc/kgbb/jam. Hasil pemeriksaan laboratorium 16
Maret 2010: Hemoglobin 12,4 g/dL, Hematokrit 39,0%, eritrosit 5.340.000/L,
leukosit 10.500/L, trombosit 280.000/L. Hasil foto thorax: kesan pneumonia
lobus superior kanan. Diagnosis dan terapi dilanjutkan.

Pada tanggal 18,19, 20 Maret 2010 keadaan umum penderita tampak


lemah, compos mentis, gizi kesan kurang. Tidak diare, tidak muntah, tidak panas,
dan tidak batuk. Tanda vital didapatkan laju nadi 110-132 kali per menit (isi dan
tegangan cukup), laju napas 24-34 kali per menit, suhu per aksila 36,5-36,8C.
Pemeriksaan fisik yang lain tetap, balans cairan +104-150 ml/24 jam dan diuresis
2,7-4,2 cc/kgbb/24 jam.

Pada tanggal 20, 21, 22 Maret 2010 keadaan umum penderita tampak baik,
compos mentis, gizi kesan kuang. Tidak diare, tidak muntah, tidak sesak, tidak
panas, dan tidak batuk. BAK kuning jernih. Tanda vital didapatkan laju nadi 110-
118 kali per menit (isi dan tegangan cukup), laju napas 24-32 kali per menit, suhu
per aksila 36,6-36,8C. Pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi basah haslus
menghilang, eritema makulopapuler menghitam. Penderita diperbolehkan pulang
dan diberikan terapi cefixime 2 kali 30 mg peroral, paracetamol 4 kali 120 mg,
oralit 60 cc jika diare, zink satu kali 20 mg, probiotik dua kali satu sachet,
ambroxol 3 kali 3 mg.

DISKUSI

Morbili merupakan penyakit infeksi yang memiliki pengaruh luas pada


anak dan tetap mejnadi kasus yang sangat substansial atas mortalitas anak di
seluruh dunia, terutama di negara berkembang.1 Penyakit ini mempunyai empat
stadium yaitu: (1) stadium masa tunas yang berlnagsung 10-12 hari ditandai
dengan beberapa tanda klinis; (2) stadium prodormal dengan adanya gejala batuk
dan pilek yang meningkat, ditemukannya enantem (bercak koplik) pada mukosa
pipi depan molar tiga, kemudian suhu tubuh makin meningkat, mukosa

8
konjungtiva sedikit meradang; (3) stadium erupsi yang ditandai dengan keluarnya
ruam yang dimulai dari belakang telingan menyebar ke wajah, dada, punggung,
lengan dan kaki disertai dengan suhu tubuh yang lebih meningkat; (4) stadium
penyembuhan yang ditandai dengan menurunnya suhu tubuh dan ruam menjadi
hitam (hiperpigmentasi) dan selanjutnya mengelupas (deskuamasi).2

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan kelompok klinis yang sangat


berkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam
beberapa hari, diikuti timbulnya ruam yang memeiliki ciri khas, yaitu diawali dari
belakng telinga kemudian menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan dan kaki
bersamaan dengan meningkatnya suhu dan selanjutnya mengalami
hiperpeigmentasi dan mengelupas. Pada stadium prodormal dapat ditemukan
enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonik campak (bercak
koplik).4

Diare merupakan masalah kesehatan di masyarakat karena morbiditas dan


mortalitasnya yang cukup tinggi. Diare merupakan penyakit yang sering terjadi
pada anak, dan sampai saat ini merupakan penyebab utama kematian pada anak. 5,6

Beberapa hal yang perlu dilakukan bila mendapakan anak dengan diare
akut adalah menilai derajat dehidrasi, memberi pengganti cairan dan elektrolit
yang keluar, mencegah penyebaran kuman enteropatogen dan mencari
etiologinya, serta memberikan pengobatan yang spesifik sesuai dengan indikasi.3
Derajat dehidrasi diklasifikasikan sesuai dengan gejala-gejala dan tanda-tanda
yang mencerminkan jumlah cairan yang hilang selama diare. Beratnya dehidrasi
secara akurat dinilai berdasarkan berat badan yang hilang sebagai persentasi
kehilangan total berat badan dibandingkan berat badan sebelumnya sebagai baku
emas. Penurunan asupan makanan dan penyerapan nutrisi merupakan masalah
yang sering secara bersama-sama menyebabkan penurunan berat badan.6,7

Langkah diagnosis untuk menegakan diare akut dilakukan melalui


anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Pada anamnesis ditanyakan lama

9
dan frekuensi diare, Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995 dapat dilihat
pada tabel 3.6 Warna dan konsistensi tinja, lendir dan atau darah dalam tinja,
adanya muntah, anak lemah, kesadaran menurun, rasa haus, rewel, suhu badan,
kapan buang air kecil terakhir, ditanyakan juga jumlah cairan yang masuk selama
diare, jenis makanan yang diberikan sebelum diare dan riwayat lingkungan
dengan diare. Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan tanda utama, yaitu
kesadaran, rasa haus dan turgor kulit abdomen. Perhatikan juga tanda tambahan
yang lain.7 Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan pada diare akut meliputi
darah, urin dan tinja. Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995 dapat
dilihat pada tabel 3.6

Tabel 3. Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995.


Penilaian A B C
1.Lihat : Baik, sadar * Gelisah, rewel * Lesu, tdk sadar
Keadaan umum Normal Cekung Sangat cekung
Mata Ada Tidak ada Kering
Air mata Basah Kering Sangat kering
Mulut & lidah Minum biasa tdk * Haus, ingin *Malas minum/ tidak
Rasa haus haus minum bisa minum
banyak
2.Periksa : turgor Kembali cepat * Kembali lambat *Kembali sangat
Kulit lambat
3.Hasil Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan/ Dehidrasi berat bila
Pemeriksaan sedang bila ada 1 ada 1 tanda *
tanda * ditambah 1 ditambah 1 atau lebih
atau lebih tanda lain tanda lain
4.Terapi : Rencana terapi A Rencana terapi B Rencana terapi C

Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak


8
berusia di bawah 5 tahun (balita). Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai
parenkim paru. Sebagian besar disebabkan oleh mikroorganisme dan sebagian
kecil disebabkan oleh hal lain.9

Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara


ringan hingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil
yang berat, mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi sehingga
memerlukan perawatan di RS.8

10
Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada
anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang
luas, gejala klinisnya yang kadang-kadang tidak khjas terutama pada bayi,
terbatasnya penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi noninfeksi yang
relatif lebih sering, dan faktor patogenesis.

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi,
suara nafas melemah, dan ronki. Gambran klinis pneumonia pada bayi dan anak
bergantung pada berat-ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai
berikut:

Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual muntah atau diare;
kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner
Gejala gangguan respiratorik yaiotu batuk, sesak nafas, retraksi dada,
takipnea, nafas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

Pada kasus kami, berdasarkan alloanamnesis didapatkan sesak nafas,


demam tinggi, diare, batuk, pilek, dan muncul yang awalnya timbul di belakang
telinga dan di bawah rambut, terus menyebar ke wajah dan seluruh tubuh. Dari
hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, rewel, komposmentis,
dan tampak sesak. Penderita juga mengalami diare cair 4-5 kali sehari, tiap kali
diare gelas aqua. Turgor kulit baik, CRT kurang dari 2 detik. Tampak bercak
eritema makulopapuler di seluruh tubuh, bercak koplik, ronki basah halus, dan
chest indrawing. Laju nadi 138 kali permenit, laju nafas 38 kali per menit, suhu
39,7 0C. Pemeriksaan laboratorium didapatkan hemoglobin 10,2 g/dL, Hematokrit
30,3%, eritrosit 4.620.000/L, leukosit 9.900/L, trombosit 403.000/L, golongan
darah AB. Hasil pemeriksaan BGA kesan asidosis respiratorik tak terkompensasi.
Pemeriksaan foto thorax kesan pneumonia lobus superior kanan.

Berdasarkan data tersebut, diagnosis ditegakkan sebagai morbili, diare


akut tanpa dehidrasi, dan pneumonia.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Harsono Salimo. Measles in Indonesia: A Continuing Chalenge. Dalam:


Kumpulan Naskah Lengkap PIT IV Medan 2010. Medan: USU Press,
2010; p. 51-4

2. Harsono Salimo. Manifestasi Klinis, Profil, Serologis, dan Genotip Virus


Campak di Jawa (Suatu Pendekatan Serologis dan Epidemiologis
Molekuler). Naskah Disertasi, 2006; p. 9

3. Maldonado Y. Measles. Dalam: Bherman RE, Kliegman RM, Jenson HB.


Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak ed. 15. Jakarta: CV EGC, p. 1068-9

4. Sumarmo S. Poorwo Soedarmo, Herry Garna, Sri Rezeki S. Hadinegoro,


Hindra Irawan satari, penyunting. Campak. Dalam: Buku Ajar Infeksi &
Pediatri Tropis Edisi Kedua. Jakarta: Bina Rupa Aksara, 2008; p.109-21

5. Firmansyah A. Permasalahan Diare di Indonesia. Dalam: Modul Pelatihan,


Tatalaksana Diare pada Anak, Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak
Indonesia. Jakarta: 2007. Hal 1-5

6. Soebagyo B. Diare Akut pada Anak. Penyunting Sebelas maret University


Press

7. Soenarto Y, Juffrie M, Oswari H, Rosalina I, Arif S, Sayuti Y, Santosa B,


Diare Akut Dalam : Hardiono, Sri Rejeki, Dody Firmanda, Bambang,
Antonius, Sholehastuti, Penyunting. Standar Pelayanan Medis Kesehatan
Anak, edisi 1, Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2004 Hal 50-2

8. Mardjanis Said. Pneumonia. Dalam: Buku Ajar Respirologi Anak edisi


Pertama. Jakarta: Bina Rupa Aksara, 2008; p.350-1

9. Campak. Dalam: Modul Pulmonologi; 2008

12
10. Charles G. Prober. Pneumonia. Dalam: Bherman RE, Kliegman RM,
Jenson HB. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak ed. 15. Jakarta: CV EGC, p.
883-9

13