Anda di halaman 1dari 4

Karakteristik Ruptur Traumatik Bekas Luka Operasi Katarak

Tujuan: untuk menentukan sifat kondisi klinis ruptur bekas luka operasi katarak
Desain: Retrospektif, studi perbandingan
Metode: Subyek penelitian adalah kasus trauma mata terbuka (848 kasus trauma pada 846 pasien)
yang mendapat terapi bedah di Massachusetts Eye and Ear Infirmary antara tahun 2000 dan
2009 dengan desain penelitian retrospektif. Data yang dianalisis adalah data tentang rentang
waktu mulai dari operasi hingga terjadi ruptur luka bekas operasi, jenis operasi, skor trauma
okuli, usia, jenis kelamin, mekainsme trauma dan ketajaman penglihatan.
Hasil: dari 846 pasien dengan 848 trauma mata terbuka, 63 mengalami ruptur luka bekas operasi
katarak. Mayoritas adalah bekas luka ECCE, sedangkan hanya 7 kasus (11%) yang merupakan
bekas luka fakoemulsifikasi. Rata-rata usia pasien pada kelompok ruptur bekas luka operasi
adalah 78.2 tahun. Mayoritas pasien adalah wanita (67%). Mekanisme yang paling sering
menyebabkan trauma adalah jatuh (65%), trauma tumpul (23%) dan kecelakaan lalulintas (7%).
Rata-rata skor trauma okuli adalah 47 pada pasien ruptur bekas luka operasi. Pada kelompok
pasien ruptur bekas luka operasi, tajam penglihatan/visus hanya sebatas persepsi cahaya. Tajam
penglihatan pasca operasi lebih buruk terjadi pada kelompok ruptur luka bekas operasi (gerakan
tangan) dibanding kelompok lain (20/40, p=0.0002). Ketika mempertimbangkan
fakoemulsifikasi untuk ekstraksi katarak, pasien akan mendapat kondisi yang lebih baik dengan
rata-rata tajam penglihatan pasca operasi adalah 20/60.
Kesimpulan: meskipun kini terjadi perkembangan dalam bedah katarak, ruptur bekas operasi masih
menjadi penyebab gangguan tajam penglihatan, terutama pada pasien geriatri. Ruptur bekas
operasi ECCE memiliki prognosis tajam penglihatan yang buruk. Untungnya pasien dengan
ruptur bekas operasi fakoemulsifikasi menunjukkan adanya perbaikan tajam penglihatan yang
pesat, bahkan bisa sampai seperti semula/ seperti sebelum mengalami ruptur.
Karakteristik Ruptur Traumatik Bekas Luka Operasi Katarak

Dengan semakin berkembangnya teknologi fakoemulsifikasi, ekstraksi katarak


ekstrakapsular (ECCE) dengan menggunakan insisi limbus yang besar atau dengan pembentukan
terowongan sklera untuk mengeluarkan lensa kemudian dijahit untuk menutup luka, kurang dipilih
sebagai metode untuk ekstraksi katarak. ECCE hanya digunakan untuk ekstraksi katarak tertentu,
yaitu katarak dengan lensa yang padat dan kecoklatan, serta untuk ekstraksi katarak pengganti saat
terjadi kesulitan dalam operasi. Banyak orang tua yang mengalami pseudofakia karena menjalani
ECCE. Hal ini terjadi sebelum penggunaan fakoemulsifikasi secara luas. Operasi alternatif selain
ECCE dengan insisi yang besar adalah SICS. SICS merupakan sebuah metode yang paling sering
digunakan untuk ekstraksi katarak pada negara berkembang karena operasi ini dapat dilakukan
dengan cepat, dan efisien dalam segi ekonomi. SICS seringkali dilakukan dengan menggunakan
prosedur sedikit jahitan/sutureless dengan cara membuat terowongan sklera yang lebih pendek
dibanding ECCE.
Ekstraksi katarak dengan fakoemulsifikasi dilakukan dengan membuat terowongan sklera
kecil atau, lebih sering, insisi miring pada limbus atau tepi kornea. Fakoemulsifikasi memberikan
lebih banyak keuntungan dibanding ECCE, termasuk peningkatan kekuatan bekas luka operasi.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh penelitian sebelumnya bahwa fakoemulsifikasi memiliki
kemungkinan ruptur luka bekas operasi untuk lebih rendah dan luka bekas operasi menjadi lebih
cepat sembuh.
Luka bekas operasi katarak sangat rentan untuk ruptur, terutama akibat trauma tumpul.
Penelitian sebelumnya telah mendeskripsikan bahwa ruptur pada bekas operasi katarak, mayoritas
terjadi pada bekas insisi ECCE. Masih sedikit literatur yang membahas tentnag ruptur akibat
fakoemulsifikasi. Pasien yang ada pada penelitian ini telah mengalami perbaikan tajam penglihatan
setelah mendapat terapi pada ruptur bekas luka operasi. Tujuan penelitian kami adalah untuk
menentukan sifat pada ruptur luka bekas operasi katarak akibat trauma di pusat rujukan trauma
oftalmia.

Metode
Penelitian retrospektif dilakukan pada 846 pasien dengan 848 kasus trauma mata terbuka
(open globe injury) di Massachusetts Eye and Ear Infirmary mulai 1 januari 2000 hingga 30 april
2009. Trauma mata terbuka merupakan trauma dengan kerusakan ketebalan penuh (full-thickness)
pada dinding korneosklera mata. Pasien pada penelitian kohort ini telah mendapat terapi trauma
okuli, baik itu kasus trauma mata terbuka terisolasi (hanya trauma mata terbuka saja) atau trauma
mata terbuka dengan trauma multipel (dengan diikuti trauma di lokasi lain). Data demografik dan
klinis dari semua pasien dimasukkan ke dalam database komputer untuk ditinjau dan dianalisis.
Data yang dianalisis adalah usia, jenis kelamin, informasi tentang waktu dan lokasi trauma,
mekanisme trauma, pemeriksaan awal, terapi spesifik trauma mata terbuka, pemeriksaan follow up,
prosedur operasi dan hasil terapi. Jika data spesifik tidak dapat diperoleh, pasien harus dieksklusi
dari penelitian ini.
Pasien dievaluasi dan mendapat terapi untuk trauma mata terbuka di Massachusetts Eye and
Ear Infirmary berdasarkan protokol yang sudah ada. Ketika sampai di ruang gawat darurat (IGD),
dilakukan anamnesis pada pasien dan pemeriksaan mata lengkap. Pasien mendapat pemeriksaan CT
scan tanpa kontras dengan potongan tipis melalui orbita. Pasien juga mendapat terapi antibiotik
intravena. Perbaikan trauma mata terbuka dilakukan dalam 24 jam pertama pasca trauma apabila
tidak ada penyulit lain atau kondisi klinis pasien yang tidak memadai. Setelah operasi, pasien
diobservasi dan tetap mendapat antibiotik intravena selama 48 jam. Jika memungkinkan, skor
trauma mata dihitung berdasarkan data yang ada, seperti yang telah dijelaskan oleh Kuhn dkk.
Sistem skoring ini dapat membantu menentukan derajat keparahan trauma dan memperkirakan
tajam penglihatan pasca operasi dengan menilai ketajaman penglihatan awal, defek pupil aferen,
endoftalmitis, pelepasan retina, dan mekanisme trauma. Skor berkisar antara 0 hingga 100, dengan
nilai 100 adalah trauma yang paling sedikit.
Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan unpaired t test untuk membandingkan
rata-rata antar kelompok, tes Mann-Whitney untuk data nonparametrik atau 2-tailed Fisher exact
test untuk membandingkan data kategori. Nilai p<0.005 menunjukkan hasil statistik yang
signifikan.
Hasil
Karateristik pasien ditunjukkan dalam tabel. Sebanyak 848 kasus trauma mata terbuka
dievaluasi dan ditatalaksana di MEEI mulai tahun 2000 hingga 2009. Sebanyak 63 kasus (7.4%)
menunjukkan ruptur traumatik dari bekas luka operasi katarak. Dari 63 kasus tersebut, mayoritas
adalah kasus ruptur akibat luka bekas operasi (56/63 atau 89%) pasca ekstraksi katarak
ekstrakapsuler, sedangkan 7 pasien lainnya (11%) akibat menjalani fakoemulsifikasi. Tanggal
dilakukannya ekstraksi katarak didapatkan dari 25 instansi. Dari 25 pasien ini, rata-rata waktu
antara operasi katarak hingga terjadi ruptur luka bekas operasi adalah 102 bulan (rentang antara 2
minggu hingga 24 tahun). Waktu mulai dari operasi hingga ruptur lebih panjang pada kelompok
ECCE dibanding kelompok fakoemulsifikasi (p=0.0145); waktu rata-rata antara operasi ECCE
hingga trauma adalah 127 bulan (rentang antara 2 minggu hingga 24 tahun) sedangkan rata-rata
waktu antara fakoemulsifikasi hingga ruptur luka operasi adalah 3.7 bulan (rentang antara 2 minggu
hingga 1 tahun).
Pasien yang menderita ruptur traumatik luka bekas operasi katarak adalah > 65 tahun . Usia
rata-rata pasien dengan ruptur traumatik luka bekas operasi katarak adalah 78,2 tahun (rentang
antara 29-95 tahun), secara signifikan lebih tua dari rata-rata usia pasien tanpa ruptur luka katarak
(38.6 tahun; rentang antara 9 bulan hingga 97 tahun; P<0.0001). Sepertiga dari trauma mata terbuka
pada geriatri (54/166, atau 33%) disebabkan oleh ruptur luka katarak. Hanya 6 pasien (6/63 atau
10%) yang memiliki usia dibawah 65 tahun yang mengalami ruptur. Dua pertiga pasien pada
kelompok ruptur adalah perempuan (42/63 atau 67%) yang mana secara signifikan memiliki
proporsi yang lebih besar dibanding kelompok dengan trauma jenis lain (140/785 atau 18%;
p<0.0001). Waktu follow up rata-rata untuk ruptur traumatik luka bekas operasi katarak adalah 4
bulan, sedangkan pasien lainnya adalah 10 bulan.
Jatuh merupakan mekanisme yang paling sering terjadi pada pasien yang mengalami ruptur
luka katarak (39/63 atau 65%). Mekanisme trauma lainnya adalah trauma tumpul (14/63 atau 23%),
kecelakaan sepeda motor (4/63 atau 7%), perkelahian (1/63 atau 2%) dan lain-lain (5/63 atau 3%).
Rata-rata skor trauma okuli lebih berat pada pasien dengan ruptur luka (48) dibanding pada pasien
tanpa ruptur luka operasi (69; P<0.0001)
Tajam penglihatan sebelum operasi lebih buruk pada kelompok ruptur luka katarak. Rata-
rata tajam penglihatan sebelum operasi pada kelompok ruptur luka adalah persepsi cahaya, yang
secara signifikan lebih buruk dari pada pasien tanpa ruptur luka (gerakan tangan; p=0.0005). Selain
itu, 17 pasien dengan ruptur luka (17/63 atau 27%) menunjukkan adanya defek pupil aferen.
Terapi awal trauma mata terbuka pada kelompok luka katarak sering kali memerlukan
beberapa prosedur. Dari 63 total pasien, 42 (67%) memerlukan reposisi uvea, 15 (24%) menjalani
vitrektomi anterior, 4 (6%) mengharuskan perbaikan laserasi palpebra dan 2 (3%) memerlukan
perbaikan muskulus rektus.
Tajam penglihatan pasca operasi lebih buruk pada kelompok ruptur traumatik luka bekas
operasi katarak dibanding kelompok lainnya. Rata-rata tajam penglihatan terbaik pada kelompok ini
adalah gerakan tangan, yang mana secara signifikan lebih buruk dibanding pasien tanpa ruptur luka
(20/40; p=0.0002). Lebih dari setengah pasien dengan ruptur traumatik luka bekas operasi katarak
(35/63 atau 56%) menunjukkan timbulnya hifema pasca operasi. Selain itu, kebanyakan pasien
ruptur luka katarak diikuti dengan diagnosis patologis segmen posterior: 25 perdarahan viterus
(25/63 atau 40%), 9 retinal detachment (9/63 atau 14%), 2 choroidal detachment (2/63 atau 3%), 2
perdarahan retina (2/63 atau 3%) dan 3 jaringan parut retina (3/63 atau 5%). Satu trauma
disebabkan oleh ftisis bulbi. Sebanyak 24 pasien (24/63 atau 38%) tetap menderita APD meski telah
menjalani operasi perbaikan mata secara terbuka. Lima pasien (5/63 atau 8%) mengalami glaukoma
traumatik. Pada keadaan ini tidak ada yang dilakukan enukleasi primer atau sekunder. Selain itu,
juga tidak terdapat endoftalmitis pada kelompok ini.
Terdapat 7 kasus dengan ruptur luka bekas operasi fakoemulsifikasi pada penelitian ini.
Rata-rata usia pasien ini adalah 71 tahun (rentang antara 42-90). Diantaranya 4 laki-laki dan 3
perempuan. Mekanisme trauma yang paling sering adalah jatuh (4), kemudian trauma tumpul (2)
dan perkelahian (1). Rata-rata skor trauma okuli adalah 64 pada kelompok ini. Ketujuh trauma ini
menyebabkan ruptur mata, tanpa trauma tembus. Tidak terdapat benda asing intraokuli pada
kelompok ini. Semua pasien pada kelompok ini memiliki ketajaman visus 20/200 atau lebih baik
pasca operasi. Rata-rata ketajaman penglihatan terbaik pada kelompok ini adalah 20/60. Meski
begitu, rata-rata waktu follow up adalah 42 hari sehingga terkesan meremehkan keadaan ini. Selama
follow up, 3 pasien mengalami perdarahan vitreus, 1 pasien memiliki hifema postoperasi dan 1
pasien mengalami glaukoma traumatik. Meski begitu, tidak terdapat kasus retinal detachment,
choroidal detachment, ftisis bulbi, endoftalmitis atau APD postoperatif pada kelompok ini. Tidak
dilakukan follow up bedah vitroretina pada semua pasien dengan ruptur luka fakoemulsifikasi.
Diskusi
Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa ruptur pasca operasi katarak merupakan 1/3
dari trauma mata terbuka pada populasi orang tua. Meski terjadi penurunan frekuensi ekstraksi
katarak dengan ECCE, ruptur luka ECCE merupakan kasus terbanyak pada trauma mata terbuka.
Ruptur luka ECCE memiliki prevalensi lebih tinggi dibanding dengan luka fakoemulsifikasi pada
penelitian ini dan juga pada penelitian sebelumnya. Pasien dengan ekstraksi katarak SICS
diperkirakan memiliki risiko ruptur luka yang lebih rendah dibanding ECCE karena SICS memiliki
insisi sklera yang lebih panjang dan sempit. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk
mendeskripsikan secara akurat respon populasi ini terhadap trauma tumpul.
Mekanisme yang paling sering menyebabkan ruptur adalah jatuh. Jatuh merupakan
penyebab trauma paling banyak pada orang tua. Beberapa pendekatan multifaktorial untuk
mencegah jatuh pada orang tua menunjukkan derajat keberhasilan yang bervariasi. Dengan
mengetahui faktor risiko okular, seperti jatuh, ahli oftalmologi dapat berpartisipasi dalam
pendekatan mutlidisiplin untuk mencegah jatuh pada orang tua.
Ruptur luka ECCE berhubungan dengan keadaan patologi pada retina, yang menyebabkan
buruknya tajam penglihatan sebelum dan sesudah operasi. Temuan yang paling sering adalah
perdarahan koroid dan retinal detachment pasca mengalami ruptur. Tampaknya penyebab keadaan
patologi retina ini multifaktor, seperti tekanan pada mata yang menyebabkan ruptur luka bekas
operasi, penunuruan tekanan intraokular secara cepat dan usia pasien.
Kelompok pasien yang menunjukkan ruptur luka bekas fakoemulsifikasi memiliki keadaan
klinik yang unik. Tidak ada trauma yang menyebabkan kerusakan pada retina. Sedangkan usia,
mekanisme trauma, dan skor trauma okuli pada pasien fakoemulsifikasi sama dengan kelompok
ECCE, namun pasien kelompok fakoemulsifikasi memiliki prognosis tajam penglihatan yang lebih
baik, dengan tajam penglihatan paling baik pasca opreasi adalah 20/60. Akibatnya pasien ini hanya
mendapat follow up beberapa minggu saja.
Berdasarkan hasil penelitian ini, kami memperkirakan bahwa ahli oftalmologi memiliki
ambang yang rendah untuk melakukan eksplorasi mata untuk mengeksklusi kemungkinan
rupturbekas operasi katarak pada orang tua dengan pseudofakia, terutama pada perdarahan
subkonjungtiva dan dengan gangguan penampakan fundus. Dengan peningkatan SICS pada negara
berkembang sebagai metode primer untuk ekstraksi katarak. Hal ini sangat penting bagi klinisi
untuk waspada terhadap tanda klinis ruptur luka katarak. Selain itu, ternyata pasien dapat
mengalami ruptur meski telah lebih dari 20 tahun pasca operasi katarak. Hal ini menunjukkan
bahwa tidak terdapat batas waktu kelemahan luka bekas operasi.
Penelitian sebelumnya menunjukkan keamanan operasi katarak meski pada orang yang
sangat tua. Penelitian ini menunjukkan prognosis buruk pada ruptur bekas operasi katarak ECCE.
Informasi ini sangat penting disampaikan ketika konseling pasien dan keluarga, baik sebelum
operasi dan pasca operasi untuk memberikan ekspektasi yang tepat pada pasien. Meski begitu,
masih ada bukti bahwa ECCE merupakan metode yang tepat untuk ekstraksi katarak. Potensi
terjadinya ruptur pasca operasi pada orang tua harus dipertimbangkan dalam memilih metode
ekstraksi katarak, baik itu ECCE atau fakoemulsifikasi.