Anda di halaman 1dari 32

REFERAT

KATARAK SENILIS

Disusun oleh:

Sayyid Affan Muadzi


03011264

Pembimbing:
dr. Adri Subandiro, SpM

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


PERIODE 23 JANUARI 2017 25 FEBRUARI 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RSUD DR SOESELO SLAWI

LEMBAR PENGESAHAN
Presentasi referat dengan judul

Katarak Senilis

Telah diterima, disetujui dan disahkan oleh pembimbing, sebagai syarat untuk
menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata di RSUD dr. Soeselo Slawi
periode 23 Januari 2017 25 Februri 2017.

Slawi, 18 Februari 2017

dr. Adri Subandiro, SpM

KATA PENGANTAR

2
Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul
Katarak Senilis. Referat ini disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik Ilmu
Penyakit Mata di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soeselo Slawi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Adri Subandiro, SpM yang telah
membimbing penulis dalam menyusun referat ini, dan terima kasih juga untuk semua
pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan referat ini.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam referat ini.
Penulis menerima kritik dan saran sebagai pembelajaran dan semoga referat ini dapat
memberikan manfaat.

Slawi, 18 Februari 2017

Penulis

DAFTAR ISI

3
LEMBAR PENGESAHAN...............................................................................................
KATA PENGANTAR.......................................................................................................iii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I.................................................................................................................................
BAB II...............................................................................................................................
2.1 Definisi................................................................................................................
2.2 Epidemiologi.......................................................................................................
2.3 Anatomi...............................................................................................................
2.4 Fisiologi...............................................................................................................
2.5 Etiologi................................................................................................................
2.6 Klasifikasi............................................................................................................
2.7 Stadium..............................................................................................................11
2.8 Patofisiologi.......................................................................................................14
2.9 Manifestasi Klinis..............................................................................................14
2.10 Diagnosis.........................................................................................................15
2.11 Penatalaksanaan...............................................................................................15
2.12 Komplikasi.......................................................................................................23
2.13 Prognosis.........................................................................................................24
2.14 Pencegahan......................................................................................................25
BAB III............................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................27

TABEL GAMBAR

4
Gambar 1. Anatomi Mata..................................................................................................
Gambar 2. Anatomi Lensa.................................................................................................
Gambar 3. Anatomi Lensa.................................................................................................
Gambar 4. Tipe Katarak Senilis.......................................................................................11
Gambar 5. EKEK.............................................................................................................18
Gambar 6. Fakoemulsifikasi............................................................................................21

5
BAB I
PENDAHULUAN

Katarak berasal dari bahasa Yunani (Katarrhakies), Inggris (Cataract), dan


Latin (Cataracta) yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular
dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah
setiap kekeruhan pada lensa.(1)

Katarak merupakan penyebab kebutaan utama di Indonesia. Berdasarkan data


dari World Health Organization (WHO), sekitar 48% kebutaan di sebabkan oleh
katarak.(2) Katarak dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu trauma, toksin,
penyakit sistemik (diabetes), merokok dan herediter namun penyebab utama katarak
adalah penuaan yang disebut katarak senilis.

Katarak senilis adalah setiap kekeruhan pada lensa yang terdapat pada usia
lanjut yaitu di atas 50 tahun. Pada suatu penelitian didapatkan prevalensi katarak pada
umur 65 - 75 tahun sebanyak 50%, dan prevalensi tersebut meningkat hingga 70%
pada usia di atas 75 tahun.(1) Katarak senilis merupakan jenis katarak yang paling
sering ditemukan yaitu sekitar 90% dari seluruh jenis katarak. Prevalensi katarak
senilis di Indonesia menurut Riskesdas tahun 2007 adalah di Aceh Selatan sebanyak
53,2%, Aceh Barat Daya sebanyak 41,5%, Maluku Tenggara sebanyak 38,5% dan
Timor Tengah Utara sebanyak 36,7%.(7)

Teori proses terjadinya katarak masih belum jelas. Namun pada katarak senilis
yang di pengaruhi oleh proses penuaan diduga terjadi karena adanya proses
kondensasi normal dalam nukleus lensa yang menyebabkan terjadinya sklerosis
nuklear. Biasanya katarak senilis didapatkan bilateral.(1)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Katarak adalah kekeruhan pada lensa. Penuaan adalah merupakan penyebab
katarak yang terbanyak yaitu katarak senilis. Katarak senilis adalah semua kekeruhan
lensa yang terdapat pada usia lanjut yaitu usia di atas 50 tahun.(3)

2.2 Epidemiologi
Katarak merupakan penyebab kebutaan utama di seluruh dunia yaitu sebanyak
48%.(2) Insidensi katarak di Indonesia pada tahun 2005 sebanyak 1,5% atau sekitar 3,3
juta penduduk yang mengalami kebutaan akibat katarak.(2)
90% katarak adalah katarak senilis yaitu yang di alami oleh usia di atas 50
tahun.(3,7) Pada suatu penelitian didapatkan prevalensi katarak pada umur 65 - 75 tahun
sebanyak 50%, dan prevalensi tersebut meningkat hingga 70% pada usia di atas 75
tahun.(1)
Penelitian di Amerika Serikat oleh Eye Institute Wilmer pada tahun 2004 di
dapatkan sekitar 20,5 juta atau 17,2 % dengan usia lebih dari 40 tahun mengalami
katarak dan 5,1% di antaranya pseudofakia atau afakia. Jumlah ini diperkirakan akan
meningkat menjadi 9,5 juta kasus pada tahun 2020. Rata-rata 3 juta orang Amerika
menjalani operasi katarak setiap tahunnya dengan tingkat keberhasilan 95%.(4)

2.3 Anatomi
Lensa mata berbentuk bikonveks, tidak mengandung pembuluh darah, tembus
pandang dengan diameter 9 mm dan tebal 5 mm. Di sebelah anterior lensa terdapat
aqueous humor dan di sebelah posteriornya adalah vitreus. (1) Pada orang normal lensa
berkekuatan 15 20 dioptri. Lensa di gantung pada prosesus siliaris oleh zonula zinnii
(ligamentum suspensorium lentis) yang melekat pada ekuator lensa. Permukaan
posterior lensa lebih cembung dari permukaan anterior. Lensa di bungkus oleh
kapsula lentis yang merupakan membran semipermeabel yang berfungsi sebagai
nutrisi untuk lensa. Di bagian anterior lensa terdapat epitel subkapsuler. Substansi
lensa terdiri dari korteks dan nukleus, yang terdiri dari serat-serat yang saling
berhubungan membentuk huruf Y yang tegak di depan dan huruf Y terbalik di
belakang.(5) nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Seiring dengan
bertambahnya usia, serat-serat lamelar subepitel terus diproduksi sehingga lensa
perlahan-lahan menjadi lebih besar dan kurang elastik. 65% lensa terdiri atas air,
sekitar 35%nya adalah protein.(1) Lensa terdiri dari :

1. Kapsul

Kapsul lensa atau kapsula lentis merupakan membran dasar yang elastis dan
transparan tersusun dari kolagen tipe IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul
ini mengandung isi lensa serta mempertahankan bentuk lensa pada saat akomodasi.(6)

2. Zonula Zinni

Lensa di tahan di tempatnya oleh ligamentum suspensorium yang dikenal sebagai


zonula (zonula zinnii), yang tersusun atas banyak fibril, fibril-fibril ini berasal dari
permukaan corpus ciliare dan menyisip ke dalam ekuator lensa.(1)

3. Epitel Lensa

Tepat di belakang kapsul anterior lensa terdapat satu lapis sel-sel epitel. Sel-sel
epitel ini dapat melakukan aktivitas seperti yang dilakukan sel-sel lainnya, seperti
sintesis DNA, RNA, protein dan lipid. Sel-sel tersebut juga dapat membentuk ATP
untuk memenuhi kebutuhan energi lensa. Sel-sel epitel yang baru terbentuk akan
menuju equator lalu berdiferensiasi menjadi serat lensa.(6)

4. Nukleus dan Korteks

Sel-sel berubah menjadi serat, lalu serat baru akan terbentuk dan akan menekan
serat-serat lama untuk berkumpul di bagian tengah lensa. Serat-serat paling tua yang
terbentuk merupakan lensa fetus yang diproduksi pada fase embrionik dan masih
menetap hingga sekarang. Serat-serat yang baru akan membentuk korteks dari lensa.(6)

Gambar 1. Anatomi mata


Gambar 2. Anatomi lensa

Gambar 3.
Anatomi lensa
2.4 Fisiologi
Fungsi
lensa untuk
memfokuskan
cahaya diretina
dengan cara daya
refraksi harus di ubah sesuai dengan sinar datang sejajar atau divergen. Perubahan
daya refraksi disebut akomodasi. Proses sklerosis bagian sentral lensa dimulai pada
masa anak-anak dan terus berlangsung perlahan-lahan sampai dewasa dimana nukleus
menjadi lebih besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua lensa menjadi lebih
besar, lebih gepeng, warnanya kekuningan, kurang jernih dan tampak gray reflex atau
senile reflex. Karena proses sklerosis ini lensa menjadi kurang elastis dan daya
akomodasinya berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia. Pada orang Indonesia
dimulai pada umur 40 tahun.(5)

Terdapat 2 mekanisme pada lensa yaitu(6) :


1. Keseimbangan Elektrolit dan Air

Dalam lensa normal mengandung 65% air, dan jumlah ini tidak banyak berubah
seiring bertambahnya usia. Sekitar 5% dari air di dalam lensa berada di ruangan
ekstrasel. Konsentrasi sodium di dalam lensa adalah sekitar 20M dan potasium
sekitar 120M. Konsentrasi sodium di luar lensa lebih tinggi yaitu sekitar 150M dan
potasium sekitar 5M. Keseimbangan elektrolit antara lingkungan dalam dan luar
lensa sangat tergantung dari permeabilitas membran sel lensa dan aktivitas pompa

+ +
sodium, Na , K -ATPase.

2. Akomodasi Lensa

Mekanisme yang dilakukan mata untuk merubah fokus dari benda jauh ke benda
dekat disebut akomodasi. Akomodasi terjadi akibat perubahan lensa oleh aksi badan
silier terhadap serat-serat zonula. Setelah umur 30 tahun, kekakuan yang terjadi di
nukleus lensa secara klinis mengurangi daya akomodasi. Saat otot silier berkontraksi,
serat zonular relaksasi mengakibatkan lensa menjadi lebih cembung. Ketika otot silier
berkontraksi, ketebalan axial lensa meningkat, kekuatan dioptri meningkat, dan terjadi
akomodasi. Saat otot silier relaksasi, serat zonular menegang, lensa lebih pipih dan
kekuatan dioptri menurun.

Tabel 1. Perubahan yang terjadi saat akomodasi(6)


Akomodasi Tanpaakomodasi

Ototsilier Kontraksi Relaksasi

Keteganganseratzonular Menurun Meningkat

Bentuklensa Lebihcembung Lebihpipih

Tebalaxiallensa Meningkat Menurun

Dioptrilensa Meningkat Menurun

Terjadinya akomodasi dipersarafi oleh saraf simpatik cabang nervus III


(okulomotorius). Obat-obat parasimpatomimetik (pilokarpin) memicu akomodasi,
sedangkan obat-obat parasimpatolitik (atropine) memblok akomodasi. Obat-obatan
yang menyebabkan relaksasi otot silier disebut cycloplegik.(6)

2.5 Etiologi
Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui secara
pasti. Terdapat beberapa teori konsep penuaan sebagai berikut(3):

- Teori putaran biologik (A biologic clock).

- Jaringan embrio manusia dapat membelah diri 50 kali mati.

- Imunologis; dengan bertambah usia akan bertambah cacat imunologik yang


mengakibatkan kerusakan sel.

- Teori mutasi spontan.

- Terori A free radical

Free radical terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat.

1 Free radical dengan molekul normal mengakibatkan degenerasi.

2 Free radical dapat dinetralisasi oleh antioksidan dan vitamin E.

- Teori A Cross-link.
Ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan bersilang asam nukleat
dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi.

Perubahan lensa pada usia lanjut(3):

1. Kapsul

- Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak)

- Mulai presbiopia

- Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur

- Terlihat bahan granular

2. Epitel makin tipis

- Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat

- Bengkak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata

3. Serat lensa:

N - Lebih iregular

N - Pada korteks jelas kerusakan serat sel

- Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah


protein nukleus (histidin, triptofan, metionin, sistein dan tirosin) lensa,
sedang warna coklet protein lensa nukleus mengandung histidin dan
triptofan dibanding normal.
-
4. Korteks tidak berwarna karena
- Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi.
- Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.
Penyebab katarak diduga terjadi karena(5) :

1. Proses pada nukleus

Oleh karena serabut serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong
kearah tengah maka serabut serabut lensa bagian tengah menjadi lebih padat
(nukleus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion calcium dan sclerosis. Pada nukleus
ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa menjadi lebih
hipermetrop.

2. Proses pada korteks

Timbulnya celah celah diantara serabut serabut lensa, yang berisi air dan
penimbunan calcium, sehingga lensa menjadi tebal, lebih cembung dan membengkak,
menjadi lebih miop. Pada perjalanan katarak dapat terjadi penyulit. Yang tersering
adalah glaukoma, yang terjadi karena proses:

a. Fakotopik
Berdasarkan kedudukan lensa. Oleh karena proses intumesensi, iris
terdorong kedepan, sudut coa dangkal, aliran coa tak lancer sedang
produksi terus berlangsung, sehingga tekanan intraokuler meninggi dan
menimbulkan glaukoma.
b. Fakolitik
- Lensa yang keruh, jika kapsulnya menjadi rusak, substansi lensa yang
keluar akan diresorpsi oleh serbukan fagosit atau makrofag yang banyak di
coa, serbukan ini sedemikian banyaknya, sehingga dapat menyumbat sudut
coa dan menyebabkan glaukoma.
- Penyumbatan dapat terjadi pula oleh karena substansi lensa sendiri yang
menumpuk disudut coa, terutama bagian kapsul lensa, dan menyebabkan
exfolation glaukoma.

c. Fakotoksik

Substansi lensa di coa merupakan zat yang toksis bagi mata (protein asing)
sehingga terjadi reaksi alergi dan timbulah uveitis. Uveitis ini dapat menyebabkan
glaukoma.

2.6 Klasifikasi
2.6.1 Katarak Nuklear

Dalam tingkatan tertentu sklerosis dan penguningan nuklear dianggap normal


setelah usia pertengahan. Pada umumnya, kondisi ini hanya sedikit mengganggu
fungsi penglihatan. Jumlah sklerosis dan penguningan yang berlebihan disebut
katarak nuklear, yang menyebabkan opasitas sentral. Tingkat sklerosis, penguningan
dan opasifikasi dinilai dengan menggunakan biomikroskop slit-lamp dan pemeriksaan
reflex merah dengan pupil dilatasi.(9,10)

Katarak nuklear cenderung berkembang dengan lambat. Sebagian besar


katarak nuklear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik. Ciri khas dari katarak nuklear
adalah membaiknya penglihatan dekat tanpa kacamata, keadaan inilah yang disebut
sebagai penglihatan kedua. Ini merupakan akibat meningkatnya kekuatan fokus
lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi bergeser ke myopia (penglihatan dekat).
Kadang-kadang, perubahan mendadak indeks refraksi antara nukleus sklerotik dan
korteks lensa dapat menyebabkan monocular diplopia. Penguningan lensa yang
progresif menyebabkan diskriminasi warna yang buruk. Pada kasus yang sudah lanjut,
nukleus lensa menjadi opak dan coklat dan disebut katarak nuklear brunescent.(9)

Secara histopatologi, karakteristik katarak nuklearis adalah homogenitas


nukleus lensa dengan hilangnya lapisan tipis seluler.(9)

2.6.2 Katarak Kortikal

Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Ini adalah jenis katarak
yang paling sering terjadi. Lapisan korteks lensa tidak sepadat pada bagian nukleus
sehingga lebih mudah terjadi overhidrasi akibat ketidakseimbangan elektrolit yang
mengganggu serabut korteks lensa sehingga terbentuk osifikasi kortikal, yang
ditunjukkan pada diabetes dan galaktosemia. Perubahan hidrasi serat lensa
menyebabkan terbentuknya celah - celah dalam pola radial disekeliling daerah
ekuator. Katarak ini cenderung bilateral, tetapi sering asimetrik. Derajat gangguan
fungsi penglihatan bervariasi, tergantung seberapa dekat kekeruhan lensa dengan
sumbu penglihatan. Gejala yang sering ditemukan adalah penderita merasa silau pada
saat mencoba memfokuskan pandangan pada suatu sumber cahaya di malam hari.(9,10)

Pemeriksaan menggunakan biomikroskop slitlamp akan mendapatkan


gambaran vakuola, degenerasi hiropik serabut lensa, serta pemisahan lamella korteks
anterior atau posterior oleh air. Kekeruhan putih seperti baji terlihat di perifer lensa
dengan ujungnya mengarah ke sentral, kekeruhan ini tampak gelap apabila dilihat
menggunakan retroiluminasi. Secara histopatologi, karakteristik dari katarak kortikal
adalah adanya pembengkakan hidrofik serabut lensa. Globula Morgagni (globules-
globulus material eosinofilik) dapat diamati di dalam celah antara serabut lensa.(9)

2.6.3 Katarak Subkapsularis Posterior

Katarak subkapsularis posterior terdapat pada korteks di dekat kapsul posterior


bagian sentral. Katarak ini biasanya didapatkan pada penderita dengan usia yang lebih
muda dibanding kedua jenis katarak yang lain. Gejalanya antara lain adalah fotofobia
dan penglihatan yang buruk saat mata berakomodasi atau diberikan miotikum. Ini
dikarenakan ketika pupil konstriksi saat berakomodasi, cahaya yang masuk ke mata
menjadi terfokus ke sentral, dimana terdapat katarak subkapsularis posterior,
menyebabkan cahaya menyebar dan mengganggu kemampuan mata untuk
memfokuskan pada makula.(9,10)

Deteksi katarak subkapsularis posterior paling baik menggunakan


biomikroskop slitlamp pada mata yang telah ditetesi midriatikum. Pada awal
pembentukan katarak akan ditemukan gambaran kecerahan mengkilap seperti pelangi
yang halus pada lapisan korteks posterior. Sedangkan pada tahap akhir terbentuk
kekeruhan granular dan kekeruhan seperti plak di korteks subkapsular posterior.
Kekeruhan lensa di sini dapat timbul akibat trauma, penggunaan kortikosteroid
(topical atau sistemik), peradangan atau pajanan radiasi pengion.(9)

Gambar 4. Tipe katarak senilis

2.7 Stadium
Katarak senilis dibagi dalam empat stadium yaitu insipien, imatur, intumesen,
matur, hipermatur dan morgagni.(3)

Tabel 2. Perbedaan stadium katarak senil(3)

Insipien Imatur Hipermatur


Matur

Kekeruhan Sebagian Seluruh


Ringan Masif

Berkurang
Cairan lensa Bertambah Normal
Normal (air + masa lensa
keluar)

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Normal
Bilik mata depan Normal Dangkal Dalam

Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka

Iris shadow test Positif Negatif


Negatif Pseudopos

Penyulit - Glaukoma - Uveitis + Glaukoma


1. Katarak Insipien

Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator
menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di
dalam korteks. Pada katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat
anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi
jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak insipien. Kekeruhan ini dapat
menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua
bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.(3)

2. Katarak Intumesen.

Pada katarak intumesen terjadi kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa


akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa
mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris
sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal.
Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaukoma. Katarak
intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan
miopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan
mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi.

Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak
lamel serat lensa.(3)

3. Katarak Imatur

Pada katarak senilis stadium imatur sebagian lensa keruh atau katarak yang
belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah
volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif.
Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil,
sehingga terjadi glaukoma sekunder.(3)

4. Katarak Matur
Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa
lensa. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila
katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar,
sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh
lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan
berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa
yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.(3)

5. Katarak Hipermatur

Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut, dapat


menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi kelur dari
kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada
pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang
pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn menjadi
kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka
korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan
memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang
terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai
katarak Morgagni.(3)

2.8 Patofisiologi
Patogenesis katarak senilis bersifat multifaktorial dan berhubungan dengan
proses degenerasi, akan tetapi belum dimengerti sepenuhnya. Semakin
bertambahnya usia, terjadi akumulasi berbagai macam faktor yang dapat
mempermudah pembentukan katarak. Jumlah protein kristalin yang larut
dalam air akan semakin berkurang seiring dengan maturasi lensa. Perubahan
kimiawi protein lensa menyebabkan agregasi protein dan menghasilkan
pigmen warna kuning kecoklatan yang berlebihan selain itu seiring dengan
bertambahnya usia, lensa menjadi lebih tebal dan berat. Produksi serabut lensa
yang terus menerus akan menyebabkan kompresi dan pengerasan nukleus
(sklerosis nukleus). Proses ini dapat menyebabkan penurunan kejernihan
lensa, penurunan kekuatan akomodasi, perubahan indeks bias dan penyebaran
sinar yang masuk ke mata.

Perubahan pada lensa yang terkait usia lainnya adalah penurunan


konsentrasi glutation dan kalium, peningkatan konsentrasi natrium dan
kalsium, serta peningkatan hidrasi terutama berhubungan dengan
pembentukan katarak kortikalis, nuklearis, dan subkapsular posterior. Selain
perubahan yang terjadi di dalam lensa, katarak senilis juga dapat terjadi akibat
akumulasi pengaruh lingkungan. Penelitian melaporkan bahwa penduduk di
daerah tropis seperti Indonesia menderita katarak 15 tahun lebih cepat
dibandingkan daerah subtropis. Hal ini dikarenakan lensa memiliki komposisi
dan struktur biokimiawi yang memungkinkan untuk menyerap sinar UV B
yang merupakan radikal bebas dan dapat merusak sel melalui mekanisme stres
oksidatif. Faktor yang paling berperan dalam pembentukan katarak adalah
peroksidasi lipid membran plasma lensa. Hasil akhirnya adalah pembentukan
malondialdehida yang dapat bereaksi silang dengan protein maupun lipid
membran sehingga menyebabkan gangguan fungsi membran. Hal ini dapat
menyebabkan peningkatan jumlah protein kristalin yang tidak larut air.(8)

2.9 Manifestasi Klinis

Gejala katarak senilis biasanya berupa keluhan penurunan tajam


penglihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif).
Penglihatan seakan - akan melihat asap/kabut dan pupil mata tampak berwarna
keputihan. Apabila katarak telah mencapai stadium matur lensa akan keruh
secara menyeluruh sehingga pupil akan benar-benar tampak putih. Gejala
umum gangguan katarak meliputi(4):
1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2. Peka terhadap sinar atau cahaya.
3. Dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata.
4. Memerlukan pencahayaan yang baik untuk dapat membaca.
5. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.

2.10 Diagnosis

Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis dan


pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk
mendeteksi adanya penyakit - penyakit yang menyertai (contoh: diabetes
melitus, hipertensi, cardiac anomalies). Penyakit seperti diabetes militus dapat
menyebabkan perdarahan perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini
sehingga bisa dikontrol sebelum operasi. Pada pasien katarak sebaiknya
dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui kemampuan melihat pasien.
Visus pasien dengan katarak subkapsuler posterior dapat membaik dengan
dilatasi pupil. Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan
palpebra, konjungtiva, dan kornea dalam keadaan normal. Iris, pupil, dan COA
terlihat normal. Pada lensa pasien katarak, didapatkan lensa keruh. Lalu,
dilakukan pemeriksaan shadow test untuk menentukan stadium pada penyakit
katarak senilis. Ada juga pemeriksaan - pemeriksaan lainnya seperti
biomikroskopi, stereoscopic fundus examination, pemeriksaan lapang pandang
dan pengukuran TIO.(9)

2.11 Penatalaksanaan
2.11.1 Medikamentosa

Pada katarak yang masih ringan dapat di berikan obat obatan dengan
harapan proses pengeruhan dapat dihentikan atau diperlambat. Obat yang
dapat di berikan adalah Catalin, Quinax dan Catarlen di teteskan 5 kali sehari
satu tetes terus menerus.(5)

2.11.2 Non Medikamentosa

Pengobatan katarak adalah pembedahan. Beberapa pembedahan


katarak yang di kenal(3) :

- Menekan lensa sehingga jatuh ke dalam badan kaca (couching)


- Kemudian penggunakan midriatika
- Jarum penusuk dari emas (tahun 1700)
- Aspirasi memakai jarum
- Memakai sendok Daviel
- Pinset kapsul + zolise
- Erisofek (erisiphake)
- Memakai krio teknik karbon dioksid, Freon, termoelektrik
- Mengeluarkan nukleus lensa dan aspirasi korteks lensa
- Fako (phacoemulsification)

Indikasi Ekstraksi Katarak pada umur lanjut adalah(5) :


a. Indikasi klinis
Jika katarak menimbulkan penyulit uveitis atau glaukoma, meskipun
visus masih baik untuk bekerja maka dilakukan operasi setelah keadaan
menjadi tenang.
b. Indikasi visual
Tergantung dari katarak monokuler atau binokuler
- Katarak monokuler
Bila sudah masuk dalam stadium matur, bila visus pasca bedah
sebelum dikoreksi lebih baik dari pada sebelum operasi
- Katarak binokuler
Bila sudah masuk dalam stadium matur, bila visus meskipun telah
dikoreksi tidak cukup untuk melakukan pekerjaan sehari hari.

Indikasi operasi katarak lainnya adalah(11) :


1. Indikasi Optik
Merupakan indikasi terbanyak dari pembedahan katarak. Jika penurunan tajam
penglihatan pasien telah menurun hingga mengganggu kegiatan sehari-hari, maka
operasi katarak bisa dilakukan.
2. Indikasi Medis
Pada beberapa keadaan di bawah ini, katarak perlu dioperasi segera, bahkan jika
prognosis kembalinya penglihatan kurang baik :
- Katarak hipermatur
- Glaukoma sekunder
- Uveitis sekunder
- Dislokasi/Subluksasio lensa
- Benda asing intra-lentikuler
- Retinopati diabetika
- Ablasio retina

BEDAH KATARAK

Terdapat macam macam ekstraksi katarak, sesuai konsistensi dari kataraknya


yaitu(5) :

1. Katarak cair (umur kurang dari 1 tahun) : disisi lensa yaitu kapsul anterior
dirobek dengan menggunakan pisau Discission dan cairan lensa akan keluar ke
COA dan akan di absorsi.
2. Katarak lembek (umur kurang dari 35 tahun) : dilakukan ekstraksi liner /
ekstraksi katarak ekstrakapsuler.
3. Katarak keras (umur lebih dari 35 tahun) : ekstraksi katarak intrakapsuler.

I. Ekstraksi Liner
Ekstraksi liner di lakukan pada katarak dengan konsistensi lembek.
Caranya adalah di buat flap konjungtiva, konjungtiva di lepaskan dari
dasarnya kira kira 5 mm. lalu daerah limbus di tembus dengan keratom,
dengan ujung keratom di buat luka pada kapsul lensa anterior selebar
lebarnya. Jangan sampai mengenai kapsul lensa posterior karena akan
menyebabkan keluarnya badan kaca. Lalu melalui luka tersebut isi lensa
mengalir ke luar, kemudian di keluarkan dari coa dengan menggunakan
sendok Daviel. Bila yakin lensa posterior utuh maka di lanjutkan dengan
bilasan menggunakan garam fisiologis.(5)

II. Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK)

Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK) adalah metode operasi dengan


meninggalkan bagian posterior kapsul lensa.(1) Tindakan pembedahan ini pada lensa
katarak dimana dilakukan pengeluaran lensa dengan memecah atau merobek kapsul
lensa anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan
tersebut, kemudian dikeluarkan melalui insisi 9 10 mm, lensa intraocular diletakkan
pada kapsul posterior.(3)

Termasuk ke dalam golongan ini ekstraksi linear, aspirasi dan irigasi.


Pembedahan ini dilakukan pada pasien dengan katarak imatur, kelainan endotel,
keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, implantasi sekunder lensa intra
ocular, kemungkinan dilakukan bedah glaukoma, predisposisi prolapse vitreus,
sebelumnya mata mengatasi ablasi retina dan sitoid macular edema.(3)

Metode ini merupakan salah satu metode operasi yang sering di lakukan.
Keuntungan dari teknik operasi ini adalah karena kapsul lensa posteriornya di tetap
utuh maka dapat dimasukkan lensa intraokuler ke dalam kamera posterior dan insiden
komplikasi pasca operasi seperti ablasi retina dan edema macula sistoid lebih kecil di
bandingkan metode EKIK. Sedangkan kerugiannya adalah dapat terjadi katarak
sekunder akibat masih adanya sisa lensa dalam coa.(5,9)
Operasi ini dilakukan bila :

- Ragu nukleus lentis sudah terbentuk atau belum


- Diduga badan kaca mencair pada keadaan myopia tinggi setelah menderita
uveitis
- Telah terjadi perlengketan luas antara iris dan lensa
- Telah terjadi ablasi atau prolapse badan kaca
- Setelah operasi mata lainnya, timbul penempelan badan kaca pada kornea
yang menyebabkan ditrofi kornea
- Untuk memasang lensa intraokuler buatan

Tindakan operasi(5) :
- Buat flap konjungtiva, dengan melepaskan konjungtiva bulbi dari dasarnya
kira kira 5 mm dari limbus
- Insisi daerah limbus bagian atas 160 180o
- Kapsul lensa di robek dengan pisau disisi di daerah inferior
- Kemudian kapsula lensa anterior diangkat seluas mungkin, dengan
menghindari robeknya kapsul didaerah ekuator
- Dengan tekanan yang ringan pada daerah limbus bagian bawah, nukleus lentis
digeserkan keluar
- Irigasi sisa lensa supaya sisa lensa dapat dikeluarkan sebanyak mungkin tetapi
dengan irigasi sesedikit mungkin
Gambar 5. EKEK

III. Ekstraksi Katarak Intra Kapsular (EKIK)

Pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Dapat


dilakukan pada zonula Zinn telah rapuh atau berdegenerasi dan mudah di putus.(3)

Pada katarak ekstraksi intrakapsular tidak akan terjadi katarak sekunder dan
merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama popular. Pembedahan ini
dilakukan dengan mempergunakan mikroskop dan pemakaian alat khusus sehingga
penyulit tidak banyak seperti sebelumnya.(3)

Katarak ekstraksi intrakapsular ini tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi


pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligament hialoidea
kapsular.(3)
Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmat, glaukoma, uveitis,
endoftalmitis dan perdarahan.(3)

Tindakan operasi(5) :

- Lepaskan konjungtiva bulbi sampai ke limbus, setengah lingkaran limbus


- Buat 3 buah preplaced suture, yang menghubungkan kornea sklera, sehingga
sesudah lensa keluar, tinggal mengikatnya saja. Kalau sesudah lensa keluar,
baru dibuat suture, ada bahaya prolapse badan kaca. Ada macam macam cara
memasang preplaced suture ini, tergantung yang melakukan operasi
- Kemudian dilakukan pemotongan limbus dengan keratom, luka dilebarkan
dengan gunting sampai kurang lebih setengah lingkaran limbus
- Lakukan iridektomi perifer, supaya selama operasi memperkecil kemungkinan
prolaps badan kaca dan pasca bedah mempermudah pengaliran cairan bilik
mata dari cop ke coa. Jika tidak dilakukan iridektomi perifer, badan kaca dapat
menonjol ke daerah pupil, menimbulkan hambatan aliran dari cop ke coa, coa
menjadi dangkal, karena iris terdorong kedepan dan terjadilah glaukoma
dengan segala akibatnya
- Sesudah ini jepitlah kapsul lensa dengan pinset atau dengan penghisap kapsul
lensa (cryo pencil), untuk kemudian lensa diluksasi kekanan dan kekiri secara
perlahan lahan, sehingga zonula zinnia terlepas. Hal ini penting, sebab bila
zonula zinnii belum lepas dan lensa dicoba dikeluarkan dengan menekan
limbus, secara menarik lensa keluar, maka lensa itu dapat keluar dengan
mendadak, disusul dengan prolaps dari badan kaca
- Sesudah lensanya keluar, preplaced suture diikat, jahitan dikornea di tambah 4
buah lagi
- Bilik mata dibentuk kembali dengan memasukkan cairan BSS (Balance Salt
Solution)
- Konjungtiva di jahit
- Berikan garamisin 20 mg subkonjungtiva
- Kedua mata ditutup 24 jam pertama

IV. Fakoemulsifikasi

Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstraksi katarak yang paling sering di


gunakan.(1) Pembedahan ini dengan menggunakan vibrator ultrasonic untuk
menghancurkan nukleus yang kemudian di aspirasi melalui insisi 2,5 3 mm
dan kemudian dimasukkan lensa intraocular yang dapat dilipat (foldable
intraocular lens).(3)

Keuntungan yang didapat dengan tindakan insisi kecil ini adalah


kondisi intraoperasi lebih terkendali, menghindari penjahitan, perbaikan luka
yang lebih cepat dengan derajat distorsi kornea yang lebih rendah (induksi
astigmatis minimal), pemulihan visus lebih cepat dan mengurangi peradangan
intraocular pascaoperasi yang semuanya berakibat pada rehabilitasi
penglihatan yang lebih singkat.(1,3)

Kerugian dari fakoemulsifikasi adalah terjadinya pergeseran materi


nukelus ke posterior melalui suatu robekan kapsul posterior, tindakan ini
membutuhkan tindakan bedah vitreoretinal yang kompleks.(1,3)

Tindakan operasi :

- Di buat irisan sepanjang 3 mm di pinggir kornea bagian atas dengan keratom


- Melalui irisan ini dimasukkan pipa halus ke dalam coa. Melalui pupil yang
lebar, pipa menerobos kapsul lensa
- Dengan menekan tombol, ahli bedah dapat membuat pipa ini bergetar dan
vibrasi suara ultra ini dapat menghancurkan lensa. Pada saat yang sama,
melalui pipa ini juga di lakukan cairan garam fisiologis atau cairan lain
sebagai larutan irigasi, untuk membersihkan kepingan lensa
- Melalui pipa yang sama, cairan ini disedot bersama sama sisa sisa lensa
sampai bersih
Gambar 6. Fakoemulsifikasi

V. Small Incision Cataract Surgery (SICS)

Insisi dilakukan pada sclera dengan ukuran insisi bervariasi dari 5-8 mm.
teknik operasi ini dapat dilakukan pada stadium katarak immature, mature, dan
hypermature.

Setelah tindakan bedah katarak ekstrakapsular apapun mungkin terdapat


kekeruhan sekunder pada kapsul posterior yang memerlukan disisi dengan
menggunakan laser YAG.(1)
Sesudah ekstraksi katarak, mata tidak memiliki lensa lagi yang disebut afakia
dengan tanda tanda coa dalam, iris tremulans dan pupil hitam. Keadaan ini harus di
koreksi dengan lensa sferis + 10 dioptri supaya dapat melihat jauh. Koreksi ini di
berikan 3 bulan setelah operasi, karena sebelum 3 bulan keadaan refraksinya masih
berubah ubah karena lukanya belum tenang. Hal tersebut juga yang menimbulkan
astigmatisma tidak menetap dan edema kornea atau jaringan lainnya. Untuk
penglihatan dekatnya harus di tambah lagi dengan lensa sferis + 3 dioptri.(5)

Penanaman lensa buatan intraocular (pseudofakos) dilakukan segera setelah


lensa keruh dikeluarkan. Dengan cara ini maka penderita dapat segera melihat jauh
dengan baik, untuk penglihatan dekatnya masih harus di berikan lensa sferis + 3
dioptri. Pemasangan lensa pada orang tua biasanya diletakkan di posterior atau di
belakang iris.(5)

2.12 Komplikasi
Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan
penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma, uveitis dan kerusakan retina.
(9)

Komplikasi sewaktu operasi (5) :

1. Perdarahan
Dapat terjadi sewaktu insisi kornea. Dapat juga terjadi perdarahan
retrobulber sewaktu melakukan blocking dari ganglion siliaris sehingga
TIO dapat meningkat.
2. Prolaps iris
Dapat terjadi sewaktu memasukan keratom, sehingga iris tidak dapat
dimasukkan lagi.
3. Prolaps badan siliar
Iris akan tertarik ke atas sehingga pupil hilang tak terlihat.

Komplikasi pasca operasi :

1. Hari pertama timbul peradangan yang dapat diobati dengan antibiotika local
dan sistemik.(5)
2. Udara (untuk membentuk coa) masuk ke belakang iris sehingga coa menjadi
dangkal. Pengobatannya tidur tanpa bantal, berikan sulfas atropine 1% 3 kali
sehari sehingga pupil melebar dan udara naik ke coa.(5)
3. Prolapse iris karena ada lubang di antara jahitan, coa dangkal, pupil lonjong
dan tampak bitnik bitnik hitam di antara jahitan. Lakukan jahitan ulang.(5)
4. Sesudah prolapse iris jika di biarkan hari ke 4 5 akan menyebabkan coa
dangkal, kemudian dapat timbul ablasi retina akibat badan siliar ke depan.
Kedaan ini dapat timbul saat batuk atau karena mobilisasi yang terlalu cepat.(5)

5. Astigmatisma pascaoperasi. Mungkin diperlukan pengangkatan jahitan kornea


untuk mengurangi astigmatisma kornea. Ini dilakukan sebelum melakukan
pengukuran kacamata baru namun setelah luka insisi sembuh dan tetes mata
steroid dihentikan. Kelengkungan kornea yang berlebih dapat terjadi pada
garis jahitan bila jahitan terlalu erat. Pengangkatan jahitan biasanya
menyelesaikan masalah ini dan bisa dilakukan dengan mudah di klinik dengan
anastesi lokal, dengan pasien duduk di depan slit lamp. Jahitan yang longgar
harus diangkat untuk mencegah infeksi namun mungkin diperlukan jahitan
kembali jika penyembuhan lokasi insisi tidak sempurna. Fakoemulsifikasi
tanpa jahitan melalui insisi yang kecil menghindarkan komplikasi ini. Selain
itu, penempatan luka memungkinkan koreksi astigmatisma yang telah ada
sebelumnya.(9)

2.13 Prognosis

Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan yang tepat


sehingga tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan tindakan pembedahan pada
saat yang tepat maka prognosis pada katarak senilis umumnya baik.(9)

2.14 Pencegahan

Katarak senilis tidak dapat dicegah karena penyebab terjadinya katarak senilis
ialah oleh karena faktor usia, namun dapat dilakukan pencegahan terhadap hal-hal
yang memperberat seperti mengontrol penyakit metabolik, mencegah paparan
langsung terhatap sinar ultraviolet dengan menggunakan kaca mata gelap dan
sebagainya. Pemberian intake antioksidan (seperti asam vitamin A, C dan E) secara
teori bermanfaat.(11)

BAB III
KESIMPULAN

Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terjadi pada usia lanjut,
yaitu usia diatas 50 tahun. Katarak senilis merupakan jenis katarak yang paling sering
terjadi. Penyebab terjadinya katarak senilis ialah karena proses degeneratif. Selain itu
katarak senilis juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti adanya penyakit
metabolisme, trauma serta paparan sinar ultraviolet.

Katarak senilis secara klinis dikenal dalam empat stadium, yaitu stadium
insipien, imatur, matur dan hipermatur. Gejala umum gangguan katarak meliputi
penglihatan tidak jelas seperti terdapat kabut menghalangi objek, peka terhadap sinar
atau cahaya, dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata memerlukan pencahayaan
yang baik untuk dapat membaca, lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca
susu.

Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan kapan


katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan
dikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita. Katarak senilis tidak dapat dicegah
karena penyebab terjadinya katarak senilis ialah disebabkan oleh faktor usia, namun
dapat dilakukan pencegahan terhadap hal - hal yang memperberat seperti mengontrol
penyakit metabolik, mencegah paparan langsung terhatap sinar ultraviolet dengan
menggunakan kaca mata gelap dan sebagainya. Pemberian intake antioksidan (seperti
asam vitamin A, C dan E) secara teori bermanfaat.

Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan yang tepat


sehingga tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan tindakan pembedahan pada
saat yang tepat maka prognosis pada katarak senilis umumnya baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Eva PR, Whitcher JP. Voughan & Asbury Oftalmologi Umum. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta: 2013
2. Ilham. Epidemiologi Katarak. Available at http://www.scribd.com/doc/2028
3414/EPIDEMIOLOGI-KATARAK Access on January 15 2017
3. Ilyas S. Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Badan Penerbit Fakultas Universitas
Indonesia. Jakarta: 2014
4. Senile Cataract. Available at http://emedicine.medscape.com/article/1210914-
overview#a7 Access on January 15 2017
5. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. 1983
6. Lens and Cataract. American Academy of Ophtalmology. San Fransisco:
1997-1998
7. Riskedas 2007. Available at
https://www.k4health.org/sites/default/files/laporanNasional%20Riskesdas
%202007.pdf Access on January 15 2017
8. Pathogenesis of Senile Cataract. Kirby DB. JAMA Ofthalmology. New York.
1932:97-119;doi:10.1001/archopht.1932.00820140107013
9. Katarak senilis. Available at
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/56180/4/Chapter%20II.pdf
Access on January 15 2017
10. Type of senile cataracts. Available at https://healdove.com/older-adults/Types-
of-Senile-Cataracts Access on 15 January 2017
11. Cataract Surgery. Available at
http://en.wikipedia.org/wiki/cataractsurgery Access on 15 January 2017