Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pemahaman terhadap latar belang filsafat moderen adalah


perihal yang sangat uregensi dalam memasuki kajian filsafat
abad moderen dengan tujuan untuk memperoleh kebenaran
universal. Dengan mempelajari pemikiran filsafat abad
moderen seorang akan memperoleh bagaimana nikmatnya
mengarungi dunia pemikiran yang berbeda dan menkaji dan
memperoleh kebenaran selalu didahului dengan sintesa
terhadap sejumlah aliran filsafat yang berkembang.

Filsafat moderen adalah periodesasi filsafat yang


mengantarkan Barat menuju pemikiran yang rasional, empiris,
idealis serta progresivme. Dari sini kami akan membahas
diantaranya yakni aliran idealisme dan progresivme.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud aliran idealisme?
2. Apa yang dimaksud dengan aliran prograsivme?
3. Apa yang membedakan kedua aliran ini?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Aliran Idealisme

1
1. Pengertian idealisme
Aliran ini berasal dari kata idea artinya cita-cita, gagasan,
angan-angan, paham, jiwa, dan sebagaimya. Dengan
demikian idealisme adalah suatu faham serba cita-cita atau
seraba Roh.
Idealisme berpendapat bahwa kenyataan itu terdiri dari
atau tersusun atas substansi-substansi sebagaimana gagasan
jiwa.1 Alam fisik ini tergantung dari jiwa universal atau Tuhan
dan alam ini merupakan ekspresi dari jiwa universal tersebut.
Jiwa universal tidak punya bentuk dan ruang. Demikian
dalam pandangan idealisme apa yang nampak itu bukanlah
hakikat yang sebenarnya akan tetapi yang hakikat itu adalah
berada diluar alam nyata disebut alam idea. Idealisme
berpendapat bahwa realita terdiri dari idea-idea, pikiran-
pikiran, akal atau jiwa, bukan pada benda yang tampak.
2. Jenis-jenis idealisme
a. Idealisme subyektif immaterialisme
Idealisme ini berpendapat bahawa akal, jiwa, dan
presepsinya merupakan segala yang ada.2 Obyek
pengalaman bukanlah benda material tapi presepsi. Oleh
karena banda-benda seperti bangunan itu hanya ada
adalam akal yang mempresepsikannya. Tokohnya antara
lain; George Markeley.
b. Idealisme obyektif
Tokohnya adalah Plato sedang idealisme obyektif moderen
adalah George William Fredrick Hegel. Menurut Hegel semua
bagian alam tercakup dalam satu tatatertib yang mencakup
segala sesuatu yang disebut dengan idea. Yaitu akal yang
mutlak (absolute Mind). Sebagai esensi dari alam adalah
keseluruhan jiwa yang diobyektifkan. Jika Plato mengatakan

1 Ahmad Sadly, op.cit., h. 110

2 Ibid., h. 113

2
bahwa idea berasal dari luar alam (idea of God)
transendental. Maka Hagel berpendapat bahwa hakikat
berada pada idea itu sendiri dan idea itu tidak lagi berda
diluar alam tapi sudah masuk dalam diri manusi (idea
internal human).
c. Idealisme person
Idealisme ini muncul sebagai protes terhadap sebagai
proses tanggapan materialisme mekanik dan idealisme
monistik. Menurut aliran ini realitas dasar itu bukanlah
terletak pada pemikiran yang abstrak akan tetapi terletak
pada seseorang atau sesuatu jiwa atau pada seseorang
filosof.

B. Aliran progresivime
1. Pengertian progresivme
Aliran Progressivisme ini adalah salah satu aliran filsafat
pendidikan yang berkembang dengan pesat pada permulaan
abad ke XX dan sangat berpengaruh dalam pembaharuan
pendidikan yang didorong oleh terutama aliran naturalisme
dan experimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme
dan pragmatisme sehingga penyebutan nama progressivisme
sering disebut salah satu dari nama-nama aliran tadi.
Progressivisme dalam pandangannya selalu berhubungan
dengan pengertian "the liberal road to cultural" yakni liberal
dimaksudkan sebagai fleksibel (lentur dan tidak kaku),
toleran dan bersikap terbuka, serta ingin mengetahuidan
menyelidiki demi pengembangan pengalaman.
Progressivisme disebut sebagai naturalisme yang mempunyai
pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam
semesta ini (bukan kenyataan spiritual dari supernatural).
Naturalisme dapat menjadi materialisme karena
memandang jiwa manusia dapat menurun kedudukannya
menjadi dan mempunyai hakikat seperti unsur-unsur materi.

3
Dan progressivisme identik dengan experimentalisme berarti
aliran ini menyadari dan memperaktekkan bahwa experiment
(percobaan ilmiah) adalah alat utama untuk menguji
kebenaran suatu teori dan suatu ilmu pengetahuan. Disebut
juga dengan instrumentalisme karena aliran ini menganggap
bahwa potensi intelegensi manusia (merupakan alat,
instrument) sebagai kekuatan utama untuk menghadapi dan
memecahkan problem kehidupan manusia. Dengan sebutan
lain yakni environtalisme, karena aliran ini menganggap
lingkungan hidup sebagai medan tempat untuk berjuang
menghadapi tantangan dalam hidup baik lingkungan fislk
maupun lingkungan sosial. Manusia diuji sejauh mana
berinteraksi dengan lingkungan, menghadapi realita dan
perubahan. Sedangkan disebut sebajai aliran pragmatisme
dan dianggap aliran ini pelaksana terbesar dari
progressivisme dan merupakan petunjuk bahwa pelaksanaan
pendidikan lebih maju dari sebelumnya. Dari pemikiran yang
demikian ini maka tidaklah heran kalau pendidikan
progressivisme selalu menekankan akan tumbuh dan
berkembangnya pemikiran dan sikap mental, baik dalam
pemecahan masalah maupun kepercayaan kepada diri sendiri
bagi peserta didik. Progres atau kemajuan menimbulkan
perubahan dan perubahan menghasilkan pembaharuan. Juga
kemajuan adalah di dalamnya mengandung nilai dapat
mendorong untuk mencapai tujuan. Kemajuan nampak kalau
tujuan telah tercapai. Dan nilai dari suatu tujuan tertentu itu
dapat menjadi alat jika ingin dipakai untuk mencapai tujuan

4
lain lagi. misalnya faedah kesehatan yang baik akan
mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.3
2. Ciri-ciri utama aliran progresivisme
Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh
pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu
mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat
menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat
menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri.
Berhubung dengan itu progresivisme kurang menyetujui
adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul
pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang.
Pendidikan yang bercorak otoriter ini dapat diperkirakan
mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan-tujuan (yang
baik), karena kurang menghargai dan memberikan tempat
semestinya kepada kemampuan-kemampuan tersebut dalam
proses pendidikan. Padahal semuanya itu adalah ibarat motor
penggerak manusia dalam usahanya untuk mengalami
kemajuan atau progres.
Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi inti
perhatian progresivisme, maka beberapa ilmu pengetahuan
yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang oleh
progresivisme merupakan bagian-bagian utama dari
kebudayaan. Kelompok ini meliputi: Ilmu hayat, Antropologi,
Psikologi dan Ilmu Alam.4
3. Perkembangan aliran progresivisme
Meskipun pragmatisme-progressivisme sebagai aliran
pikiran baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke
19, akan tetapi garis perkembangannya dapat ditarik jauh ke
3 Drs. H. M. Djumberansyah Indar, M.Ed. Filsafata pendidikan, (Surabaya:
Karya Abditama, 1994) hal. 131-132

4 Prof. Imam Barnadib, MA. Ph.D. Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode
(Yogyakarta: Andi Offset, 1990) hal. 28

5
belakang sampai pada zaman Yunani purba. Misalnya
Heraclitus ( 544 - 484), Socrates (469 - 399), Protagoras
(480 - 410), dan Aristoteles mengemukakan pendapat yang
dapat dianggap sebagai unsur-unsur yang ikut menyebabkan
terjadinya sikap jiwa yang disebut prag matisme-
progressivisme. Heraclitus mengemukakan, bahwa sifat yang
terutama dari realita ialah perubahan. Tidak ada sesuatu
yang tetap di dunia ini, semuanya berubah-ubah, kecuali asas
per ubahan itu sendiri. Socrates berusaha mempersatukan
epistemologi dengan axiologi. la mengajarkan bahwa
pengetahuan adalah kunci untuk kebajikan. Yang baik dapat
dipelajari dengan kekuatan intelek, dan pengetahuan yang
baik menjadi pedoman bagi manusia untuk melakukan
kebajikan (perbuatan yang baik). la percaya bahwa manusia
sanggup melakukan yang baik.
Dalam asas modern - sejak abad ke-16 - Francis Bacon,
John Locke, Rousseau, Kant dan Hegel dapat disebut sebagai
penyumbang-penyumbang pikiran dalam proses terjadinya
aliran pragmatisme-progressivisme. Francis Bacon
memberikan sumbang an dengan usahanya untuk
memperbaiki dan memperhalus motode experimentil
(metode ilmiah dalam pengetahuan alam). Locke dengan
ajarannya kebebasan politik. Rousseau dengan keyakinannya
bahwa kebaikan berada di dalam manusia melulu karena
kodrat yang baik dari para manusia. Menurut Rousseau
manusia lahir sebagai makhluk yang baik. Kant memuliakan
manusia, menjunjung tinggi akan kepribadian manusia,
memberi martabat manusia suatu kedudukan yang tinggi.
Hegel mengajarkan, bahwa alam dan masyarakat bersifat
dinamis, selamanya berada dalam keadaan gerak, dalam
proses perubahan dm penyesuaian yang tak ada hentinya.

6
Dalam abad ke 19 dan ke 20 ini tokoh-tokoh pragmatisme
terutama terdapat di Amerika Serikat. Tkinas Paine dan
Thomas Jefferson memberikan sumbangan pada
pragmatisme karena kepercayaan mereka akan demokrasi
dan penolakan terhadap sikap yang dogmatis, terutama
dalam agama. Charles S. Peirce mengemuka kan teori
tentang pikiran dan hal berpikir: pikiran itu hanya berguna
atau berarti bagi manusia apabila pikiran itu "bekerja", yaitu
memberikan pengalaman (hasil) baginya. Fungsi berpikir
tidak lain dari pada membiasakan manusia untuk berbuat.
Perasa an dan gerak jasmaniah (perbuatan) adalah
manifestasi-manifestasi yang khas dari aktivitas manusia dan
kedua hal itu tak dapat di pisahkan dari kegiatan intelek
(berpikir).5

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

5 Drs. Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Angkasa,


1975) hal. 22-24

7
Aliran idealisme merupakan aliran yang membahas
mengenai idea-idea, cita-cita serta tujuan sedang aliran
progresivisme adalah aliran progresivisme menekan pada
proses baik itu eksperimen maupun natural. Akan tetapi
kedua aliran ini sangat berpengaruh dalam dunia
pendidikan. Dalam pengembangannya atau dalam
pencapaiannya.

DAFTAR PUSTAKA

8
Sadly, Ahmad dkk. 1997. Filsafat umum. Pustaka Setia: Bandung

Drs. H. M. Djumberansyah Indar, M.Ed. Filsafata pendidikan,


(Surabaya: Karya Abditama, 1994)

Prof. Imam Barnadib, MA. Ph.D. Filsafat Pendidikan Sistem dan


Metode (Yogyakarta: Andi Offset, 1990)

Drs. Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi


Angkasa, 1975)

Dr. Abdullah h. Abd. Thalib, m. Ag. Pengantar filsafat,(Gowa:


Gunadarma ilmu, 2014)