Anda di halaman 1dari 17

HITUNG JENIS LEUKOSIT (DIFFERENTIAL COUNT) DAN EVALUASI mekanisme hemostatis.

mekanisme hemostatis. Darah terdiri atas dua komponen utama yaitu plasma darah

HAPUSAN DARAH TEPI (HDT) yang merupakan bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan

protein darah, sedangkankan butir darah (blood corpuscles) terdiri atas eritrosit,

Tanggal Praktikum : 2 Mei 2012 leukosit dan trombosit.

16 Mei 2012 Pada pembentukan eritrosit yang melalui tahapan sebagai berikut eritroblast,

basophilic normoblas, policromatofilik normoblast, asidofilik normoblas, retikulosit

dan eritrosit. Namun hanya retikulosit yang ditemukan pada darah tepi pada keadaan
23 Mei 2012
normal. Sedangkan pada pembentukan leukosit (jalur mieloid) pada awalnya mieloblast

menjadi progranulosit (neutrofil), eosinofil maupun basofil selanjutnya menjadi


Materi Praktikum : Hitung Jenis Leukosit (Differential Count) dan Evaluasi
promielosit kemudian menjadi metamielosit. Semua aktifitas ini secara normal
Hapusan Darah Tepi (HDT)
dijumpai dalam sumsum tulang dan pada perkembangan di darah tepi akna menjadi

stab/band serta segmen. Sedangkan trombosit terbentuk dari pecahan sitoplasma


1. I. Tujuan
megakarioblast (Anonim, 2010).

2. Tujuan Umum
4.2 Hapusan Darah Tepi

Mahasiswa mampu memahami teknik serta cara melakukan hitung jenis


Darah dapat dibuat preparat apus dengan metode supra vital yaitu suatu metode
leukosit pada hapusan darah tepi.
untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang hidup. Sel-sel darah yang hidup

dapat mengisap zat-zat warna yang konsentrasinya sesuai dan akan berdifusi ke dalam
Mahasiswa mampu memahami teknik serta cara melakukan evaluasi
sel darah tersebut, selanjutnya zat warna akan mewarnai granula pada sel bernukleus
darah tepi.
polimorf (Anonim, 2012).

1. Tujuan Khusus
Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai berbagai unsur sel

darah tepi seperti eritosit, leukosit, dan trombosit dan mencari adanya parasit
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit.
seperti malaria, tripanasoma, microfilaria dan lain sebagainya. Sediaan apus yang

dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil

Untuk mengetahui kesan jumlah leukosit, eritrosit, dan trombosit yang baik (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).

serta mengetahui jenis -jenis leukosit dan kelainan morfologi sel pada

hapusan darah tepi.


Dasar dari pewarnaan Romanowsky adalah penggunaan dua zat warna yang berbeda

yaitu Azur B (Trimetiltionion) yang bersifat basa dan eosin y (tetrabromoflurescein)


1. II. Prinsip yang bersifat asam. Azur B akan mewarnai komponen sel yang bersifat asam seperti

kromatin. DNA dan RNA. Sedangkan eosin y akan mewarnai komponen sel yang

2. Mengidentifikasi dan menghitung jenis leukosit sekurang- kurangnya bersifat basa seperti granula eosinofil dan hemoglobin. Ikatan eosin y pada Azur B

100 sel, dan dinyatakan dalam %. yang bergenerasi dapat menimbulkan warna ungu, dan keadaan ini dikenal sebagai efek

Romanowsky giemsa efek ini sangat nyata pada DNA tetapi tidak pada RNA sehingga

3. Pemeriksaan gambaran darah tepi dapat dilakukan di counting areal menimbulkan kontras antara inti yang berwarna untuk sitoplasma yang berwarna biru

setelah melakukan pemeriksaan hitung jenis leukosit, mula-mula dengan (Arjatmo Tjokronegoro, 1996).

pembesaran 100 x kemudian dengan pembesaran 1000 x dengan minyak

emersi selanjutnya dilihat masing-masing morfologi selnya. Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal dari kapiler atau

vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan tertentu dapat pula digunakan

1. III. Metode darah EDTA. (Arjatmo Tjokronegoro, 1996)

Metode yang digunakan yaitu pemeriksaan dengan sediaan kering secara mikroskopik Kriteria preparat yang baik :

1. IV. Dasar Teori 1. Lebar dan panjangnya tidak memenuhi seluruh kaca benda sehingga

masih ada tempat untuk pemberian label.

4.1 Darah

2. Secara granulapenebalannya nampak berangsur-angsur menipis dari

Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup yang merupakan bagian kepala ke arah ekor.

terpenting dalam system transport. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu ada dalam

pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai: pembawa 3. Ujung atau ekornya tidak berbentuk bendera robek.

oksigen(oksigen carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan


4. Tidak berulang-ulang karena bekas lemak ada di atas kaca benda. Netrofilia

5. Tidak terputus-putus karena gerakan gesekan yang ragu-ragu. Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai normal.

Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam berat,

6. Tidak terlalu tebal (karena sudut penggeseran yang sangat kecil) atau gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan kelainan

tidak terlalu tipis (karena sudut penggeseran yang sangat besar). mieloproliferatif.

7. Pewarnaan yang baik (Imam Budiwiyono 1995). Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti

penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan

pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan Diplococcus


Jenis Apusan darah:
pneumonine menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella

typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-


1. Sediaan darah tipis
anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang

lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai netrofilia.
Ciri-ciri sediaan apus darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan darah untuk
Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang karena jaringan
pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal, morfologinya lebih jelas,
nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance sehingga abses yang luas
dan perubahan pada eritrosit dapat terlihat jelas.
akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian

adrenocorticotrophic hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia


1. Ciri-ciri sediaan apus darah tebal yaitu lebih banyak membutuhkan
tetapi pada penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.
darah untuk pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah

tipis, jumlah selnya lebih banyak dalam satu lapang pandang, dan
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya
bentuknya tak sama seperti dalam sediaan apus darah tipis (Imam
granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri atau
Budiwiyono 1995).
shift to the left.

4.2 Diferential Count (Hitung Jenis Leukosit)


Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai netrofilia

ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi berat dijumpai
Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang
netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan
diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah
netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi
mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel
atau respons penderita yang kurang.
darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan mengalikan

persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam sel/L.


Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi, yang

sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap yang disebut
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran
granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik pada
100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis
inti maupun sitoplasma
leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah

harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang
Eosinofilia
lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol

(Ripani,2010).
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi nilai normal.

Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan pada
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit.
reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil.
Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus
Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi
dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan
parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik
basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai
kronik.
infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif

dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing
Basofilia
jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/l).

Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai normal.
Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak
Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik. Pada
dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit
penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan kolitis ulserativa juga
juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan
dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan
lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%.
histamin dari granulanya.

Bila pada hitung jenis leukosit, diperoleh eritrosit berinti lebih dari 10 per 100
Limfositosis
leukosit, maka jumlah leukosit/l perlu dikoreksi. Berikut ini merupakan beberapa

hasil yang mungkin diperoleh pada hitung jenis leukosit:


Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit 4.3 Evaluasi Darah Tepi

melebihi nilai normal. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti

morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis Evaluasi darah atau disebut juga sebagai pemeriksaan gambaran darah tepi dapat

dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan dilakukan di counting areal setelah melakukan pemeriksaan hitung jenis leukosit, mula-

makroglobulinemia primer. mula dengan pembesaran 100X kemudian dengan pembesaran 1000 x dengan minyak

emersi selanjutnya dilihat masing-masing morfologi selnya. Pemeriksaan hapusan

Monositosis darah tepi terdiri atas (Anonim, 2010)

Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi nilai normal. Pemeriksaan dengan pembesaran kecil (objektif 10x).

Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia monositik akut

dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus eritematosus 1. Penilaian kwalitet hapusan darah dan penyebaran sel-sel dalam hapusan.

sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit infeksi baik oleh

bakteri, virus, protozoa maupun jamur.


s Lapisan darah harus cukup tipis sehingga eryhtrosit dan leukosit jelas terpisah

satu dengan lainnya.

Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada

tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara


s Hapusan tidak boleh mengandung cat.
jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada

tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3.
s Eryhtrosit, leukosit dan thrombosit harus tercat dengan baik.

Netropenia
s Leukosit tidak boleh menggerombol pada akhir (ujung) hapusan.

Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari nilai normal.
1. Penafsiran jumlah leukosit dan eryhtrosit, penaksiran penghitungan
Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu meningkatnya
differential leukosit dan pemeriksaan apakah sel-sel ada yang
pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan netrofil dan yang
abnormal. Dilakukan pada daerah area penghitungan dari bagian
terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
hapusan tempat eryhtrosit terletak berdampingan, tidak tertumpuk.

Bila didapatkan 20-30 leukosit perlapang pandang kira-kira sesuai


Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek karena
dengan junlah leukosit 5.000 dan 40-50 perlapang pandang sesuai
drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan
dengan leukosit 10.000.
merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat

terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan
Pemeriksaan dengan menggunakan minyak imersi (perbesaran 1000x)
fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak

diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan
a. Eryhtrosit
rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.
Penaksiran jumlahnya dan bagaimana morfologinya. Dillihat adanya eryhtrosit berinti

dan dihitung jumlahnya pada 100 leukosit untuk mengkoreksi hitung leukosit cara
Limfopenia
Turk.

Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari nilai normal.
b. Leukosit
Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada penyakit
Penghitungan Differensial dan dicari kelainan morfologi. Dihitung dalam 100 sel
Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan oleh
leukosit dan dilihat adanya kelainan selnya.
radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan kehilangan yang meningkat

seperti pada thoracic duct drainage dan protein losing enteropathy.


c. Thrombosit

Dilihat penyebaran, morfologi dan ukuran selnya. Hapusan yang baik thrombosit tidak
Eosinopenia dan lain-lain
menggerombol pada bagian akhir hapusan. Bila sukar ditemukan thronbosit berarti

jumlahnya sedikit, bila terlihat banyak berarti terjadi peningkatan jumlah. Dilhat juga
Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal ini dapat
adanya giant cell yang berukuran 6-8 mikron.
dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat;

juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks adrenal dan pengobatan dengan
d. Sel abnormal : Pemeriksaan morfologi. Kelainan-kelainan dan variasi dari leukosit,
kortikosteroid.
erythrosit dan thrombosit perlu dicatat.

Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil,


4.4 Kelainan Eritrosit dan Trombosit
sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah

basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinik.
a) Kelainan Eritrosit
Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil

maupun eosinofil.
1. Variasi Kelainan Dari Besar Eritrosit Eritrosit dengan diameter kurang dari 6,5 mikron tetapi hiperkrom, misalnya pada

sferositosis.

1. Makrositosis

1. Leptosit

Keadaan dimana diameter rata-rata eritrosit lebih dari 8,5 mikron dengan tebal rata-

rata 2,3 mikron. Ditemukan misalnya pada anemi megaloblastik,anemia pada kehamilan Misalnya pada hemoglobinapati Ca atau E.

dan anemia pada malnutrition. Makrosit dengan bentuk agak oval dengan diameter 12

15 mikron disebut megalocyt ditemukan pada anemi deficiency vitamin B 12 dan 1. Sel Target

atau deficiency asam folat.

Bulls eyo cell;misalnya pada thalasemia

1. Mikrositosis

1. Ovalosit

Keadaan dimana diameter rata-rata eritrosit kurang dari 7 mikron dan tebal rata-rata

1,5 1,6 mikron.


Elliptosit misalnya pada elliptositosis hereditaria

1. Anisositosis
1. Drepanosit

Keadaan dimana ukuran besarnya eritrosit bervariasi, jadi terdapat makro,normo dan
Sickle cell misalnya pada sickle cell anemia.
mikrosit, sedang bentuknya sama. Ditentukan misalnya pada anemia kronika yang

berat.
1. Sehistocyte

B. Variasi Warna Eritrosit


Heimet cell merupakan pecahan eritrosit misalnya pada anemia hemolitika.

1. Normokromia
1. Stomatosit

Keadaan dimana eritrosit dengan konsentrasi Hb normal.


Misalnya pada thalassemia dan anemia pada penyakit hati yang menahun.

1. Hipokromia
1. Tear drop cell

Keadaan eritrosit dengan konsentrasi kurang dari normal. Bila daerah pucat di central
Misalnya pada anemia megaloblastik.
sel melebar,terjadilah ring erythrocyte atau anulosit. Ditemukan misalnya pada

anemia deficiency besi,thalassemia,hemoglobinopati C atau E.


1. Poikilositosis

1. Hiperkromia
Keadaan dimana terdapat bermacam-macam bentuk eritrosit dalam satu sediaan

hapus,misalnya pada hemoposis extramedullaris (Anonim, 2010).


Keadaan eritrosit dengan warna oxyphil yang lebih dari normal bukan karena

kejenuhan Hb, melainkan karena penebalan membran sel. Ditemukan pada


Keterangan serta gambar kelainan eritosit:
spherocytosis.

1. Polikromasia
No Gambar Keterangan

Keadaan beberapa warna pada eritrosit misalnya basofilik asidofilik ataupun

polikromatofilik.

1 Eliptosit, ciri ciri :

1. Variasi Bentuk Eritrosit

s Eritrosit berbentuk oval (ovalosyt) yang lonjong (pensil cell/sel

1. Echnosit cerutu)

Crenated erythrocyte. Misalnya eritrosit pada media hipertonik. s Osmotic fragility meningkat

1. Sferosit s Distribusi cholesterol dalam membrane akumulasi


s Cholesterol dipinggir s Nama lain Tear Drop Cell

Eliptosit, ciri ciri : 6. Polikrom/Sperocytes

s Eritrosit berbentuk oval atau lonjong s Eritrosit tanpa pucat di tengah

s Distribusi dalam darah: < 10 % dari eritrosit dalam darah normal s Bentuk lebih kecil, tebal

s Akibat dari developmental defect

2. Stomatosit, ciri ciri :

s Eritrosit pucat memanjang di tengah

s Normal, 5% Keterangan serta gambar morfologi jenis leukosit:

s Akibat meningkatnya Sodium dalam sel dan menurunnya Potasium

No Gambar Keterangan

1 Stab/bend

Keberadaan: Bentuk sel: oval atau bulat


3. Akantosit

Warna sitoplasma: pink


s Eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang runcing

Bentuk inti: semicircular


s Tonjolan tidak teratur

Tipe kromatin: condensed


s Akibat defisiensilow-dencity betha Lipoprotein

Nukleolus: tidak terlihat

4. Burr Cell

2 Segmen/netrofil
s Eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang tumpul teratur

Bentuk sel: oval atau bulat


s Akibat dari passage through fibrin network

Warna sitoplasma: pink

Bentuk inti: obulated (normall kurang dari 5 lobus)

5. Lakrimasit Tipe kromatin: condensed

s Eritrosit berbentuk tetesan air Nukleolus: tidak terlihat


7. Tiap kolom mengandung 10 sel yang sudah diidentifikasi, dan bila ke- 10

kolom sudah terisi berarti sudah 100 leukosit yang diidentifikasi dan
3 Limfosit
dihitung.

Bentuk: bulat, kadang-kadang oval


1. B. Pemeriksaan Evaluasi Hapusan Darah Tepi

Warna sitoplasma: biru


2. Disiapkan semua peralatan serta bahan yang telah disediakan.

Granularitas: tidak ada


3. Ditaruh object glass hapusan darah tepi pada meja mikroskop.

Bentuk inti: bulat atau agak oval


4. Pemeriksaan dengan pembesaran kecil ( Objektif 10 X )

Tipe kromatin: homogen, padat


Dicari lapangan pandang pada perbesaran 100X ( Objektif 10X )

Nukleolus: tidak terlihat, kadang-kadang hampir tidak


Ditentukan Counting Area
terlihat , satu nukleolus kecil

Dilakukan penafsiran atau kesan jumlah leukosit dengan cara:

menghitung jumlah leukosit pada 15 lapang pandang, kemudian total


4 Monosit
jumlah leukosit tersebut dikalikan 300.

Monosit khas dengan sitoplasma biru lembayung yang berisi vakuola-


Dibandingkan hasil yang diperoleh dengan jumlah leukosit normal
vakuola kecil.

Dilanjutkan dengan pemeriksaan dengan minyak emersi (Objektif

100X)

1. V. Alat-alat dan Bahan

1. Pemeriksaan dengan minyak emersi ( Objektif 100 X )

s Alat alat

Dilakukan pengamatan eritrosit ( apakah ada kelainan atau variasi

1. Preparat Hapusan Darah Tepi ( HDT ) morfologik pada ukuran, warna, dan apakah ada sel- sel eritrosit muda)

s Bahan Dilakukan hitung jenis leukosit ( Diff. Count) dan melihat apakah ada

sel sel leukosit muda atau abnormal

1. Oil Emers

Dan dilakukan penafsiran jumlah trambosit dengan cara: menghitung

1. VI. Prosedur kerja jumlah trombosit pada 18 lapangan pandang, kemudian total jumlah

trombosit tersebut dikalikan 1000. Dan dibandingkan hasil yang

diperoleh dengan jumlah trombosit normal. Serta diamati pula


2. A. Pemeriksaan Hitung Jenis Leukosit
morfologi trombosit (platelet).

3. Identifikasi dilakukan di daerah penghitungan ( counting area) dengan


1. VII. Data Hasil Pengamatan
perbesaran lensa objektif 100x.

2. Praktikum tanggal: 2 Mei 2012


4. Identifikasi sel dimulai dari satu sisi bergerak ke sisi lain, kemudian

kembali ke sisi semula dengan arah zigzag berjarak 3 lapangan

pandang. Differential Count.

5. Untuk memudahkan penghitungan, maka dibuat kotak penghitungan

jenis leukosit. Leu I II III IV V VI VII VIII

6. Jenis leukosit yang mula- mila terlihat dimasukkan dalam kolom -1, bila

jumlah sel sudah 10 pindah ke kolom-2.

EOSINOFIL 7 1 1 4 1 1
BASOFIL 2 II 25

STAB 2 1 1 3 III 25

SEGMEN 5 8 7 2 4 4 IV 15

LIMFOSIT 1 1 2 4 5 V 42

MONOSIT 2 1 1 2 1 2 6 VI 34

TOTAL 10 10 10 10 10 10 7 VII 31

Nilai Normal: 8 VIII 20

Eosinofil / Basofil / Stab / Segmen / Limfosit / Monosit

9 IX 21
1 4% / 0 1% / 2 5%/ 36 66%/ 22 40%/ 4 8%

Dilaporkan:
10 X 24

Eosinofil / Basofil / Stab / Segmen / Limfosit / Monosit

21% / - / 5% / 41% / 14% / 19% 11 XI 33

Hasil Pemeriksaan: Netrofilia.

12 XII 29

1. Praktikum tanggal: 16 Mei 2012

Evaluasi HDT I
13 XIII 36

1. Perbesaran 100X ( objektif 10X )

14 XIV 36
Penafsiran atau kesan jumlah leukosit

15 XV 50
No Lapang Pandang Ke- Jumlah Leukosit

TOTAL JUMLAH 425


1 I 26
5 V 9

Nilai normal Leukosit: 4.500 11.000/l 6 VI 8

Perhitungan:

7 VII 10
Jumlah Leukosit = Total jumlah pada 15 Lapang pandang x 300

5
8 VIII 8

= 425 x 300

5 9 IX 10

= 28 x 300

10 X 15

= 8.499

Jadi kesan jumlah Leukosit NORMAL pada evaluasi hapusan darah tepi.
11 XI 13

b) Perbesaran 1000X ( Objektif 100X )

12 XII 15
Eritrosit : Normokromik

Normositer

13 XIII 20

Piokilositosis: Burr cell, Eliptosit, Tears drop cell

Trombosit :
14 XIV 10

Kesan jumlah trombosit

15 XV 9

NO LAPANG PANDANG KE-

16 XVI 8

1 I

17 XVII 17

2 II

18 XVIII 13

3 III

TOTAL JUMLAH 240

4 IV

Nilai Normal Trombosit: 150.000 440.000/l


Perhitungan: infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif

dari masing-masing jenis sel. Praktikum dilakukan dengan cara yaitu pertama- tama

Jumlah Trombosit = Total Trombosit pada 18 Lapang Pandang x 1000 disiapkan semua peralatan serta bahan yang akan digunakan. Kemudian ditaruh objek

glass (hapusan darah tepi) di atas meja mikroskop. Dan dicari lapang pandang pada

perbesaran 10X lensa objektif. Setelah ditemukan lapang pandang, objek glass
= 240 x 1000
ditetesi dengan oil emersi dan diputar lensa objektif kearah perbesaran lensa 100X.

Kemudian diidentifikasi jenis leukosit pada setiap lapang pandang. Identifikasi


= 240.000
dilakukan di daerah penghitungan ( counting area). Identifikasi sel dimulai dari satu

sisi bergerak ke sisi lain, kemudian kembali ke sisi semula dengan arah zigzag berjarak
Jadi kesan jumlah trombosit NORMAL pada evaluasi hapusan darah tepi.
3 lapangan pandang. Untuk memudahkan penghitungan, maka dibuat kotak

penghitungan jenis leukosit. Jenis leukosit yang mula- mila terlihat dimasukkan dalam
1. Praktikum tanggal: 23 Mei 2012
kolom-1, bila jumlah sel sudah 10 pindah ke kolom-2. Setiap kolom mengandung 10 sel

yang sudah diidentifikasi, dan bila ke- 10 kolom sudah terisi berarti sudah 100
Evaluasi HDT II (CML)
leukosit yang diidentifikasi dan dihitung. Selanjutnya ditentukan hasil diff.count

dengan cara mencocokkan hasil yang diperoleh dengan nilai rujukan dari hasil
1. Perbesaran 100X ( objektif 10X ) differential count.

Penafsiran atau kesan jumlah leukosit Pada praktikum diperoleh hasil hitung jenis leukosit yaitu sebagai berikut:

Pada praktikum ini diperoleh kesan jumlah leukosit MENINGKAT, namun tidak Eosinofil / Basofil / Stab / Segmen / Limfosit / Monosit
dilakukan penghitungan karena jumlah leukosit yang sangat banyak dijumpai dalam

setiap lapang pandang di bawah mikroskop.


21% / - / 5% / 41% / 14% /

19%
1. Perbesaran 1000X ( Objektif 100X )

Setelah dicocokkan dengan nilai rujukan dari differential count diperoleh bahwa

Eritrosit pasien menderita eosinofilia. Hal ini karena jumlah eosinofil yang diperoleh melebihi

nilai normal yaitu, 1 4%. Dalam pemeriksaan ini juga terjadi peningkatan monosit,

Tidak dapat ditafsirkan, karena kondisi Eritrosit yang yang dujumpai dalam setiap namun peningkatan eosinofil jauh lebih tinggi sehingga pasien dikatakan menderita

lapang pandang saling bertumpukan dan banyak ditemukan sel muda seperti. eosinofilia.

Trombosit : Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi nilai normal.

Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan pada

Kesan trombosit MENURUN karena hamper tidak ditemukan trombosit dalam setiap reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil.

lapang pandang. Penyebab lain dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi

parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik

Jenis Leukosit kronik.

Banyak ditemukan sel- sel leukosit dalam setiap lapang Praktikum dilanjutkan pada tanggal 16 Mei 2012 dengan materi evaluasi hapusan
o

pandang sehingga kesan Diff.Count yaitu terjadi darah tepi. Pada praktikum ini pertama- tama disiapkan semua peralatan serta bahan

peningkatan pada setiap jenis sel leukosit. yang telah disediakan, kemudian ditaruh object glass hapusan darah tepi pada meja

mikroskop. Dan dilakukan pemeriksaan dengan pembesaran kecil (Objektif 10X )

dengan cara: pertama mencari lapangan pandang, lalu ditentukan Counting Area.
Diagnosa : CML (Chronic Myeloblastic Leukemia)
Kemudian dilakukan penafsiran atau kesan jumlah leukosit dengan cara: menghitung

jumlah leukosit pada 15 lapang pandang, kemudian rata- rata jumlah leukosit tersebut
Contoh gambaran hapusan darah tepi pada penderita CML:
dikalikan 300. Dan dibandingkan hasil yang diperoleh dengan jumlah leukosit normal.

Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan dengan minyak emersi (Objektif 100X).


1. VIII. Pembahasan
Pada pemeriksaan dengan minyak emersi (Objektif 100X) dilakukan pengamatan

eritrosit (apakah ada kelainan atau variasi morfologik pada ukuran, warna, dan apakah
Dalam praktikum hematologi yang telah dilakukan, terdapat dua materi yang
ada sel- sel eritrosit muda) dan dilakukan hitung jenis leukosit ( Diff. Count) dan
dikerjakan, yaitu hitung jenis leukosit (Diff. Count ) dan evaluasi hapusan darah
melihat apakah ada sel- sel darah yang muda atau abnormal juga dilakukan penafsiran
tepi. Praktikum hitung jenis leukosit dilakukan pada tanggal 2 Mei 2012. Hitung jenis
jumlah trambosit dengan cara: menghitung jumlah trombosit pada 18 lapangan
leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima
pandang, kemudian total jumlah trombosit tersebut dikalikan 1000. Dan dibandingkan
jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan
hasil yang diperoleh dengan jumlah trombosit normal. Serta diamati pula morfologi
patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil( stab/ segmen ), limfosit, monosit, eosinofil, dan
trombosit (platelet).
basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai
Berdasarkan praktikum yang telah dikerjakan, diperoleh hasil yaitu, didapatkan pada saat pemeriksaan darah karena alasan lain. Setelah beberapa lama fase kronis,

kesan jumlah leukosit dan trombosit normal sedangkan pada eritrosit ditemukan hampir semua pasien masuk ke fase akut atau krisis blast (sel muda) dengan tingkat

terjadi poikilositosis. Dimana dalam satu lapang pandang ditemukan beberapa bentuk kematian yang lebih tinggi akibat leukemia akut atau berbagai komplikasinya.

eritrosit seperti:

1. IX. KESIMPULAN

1. Burr Cell, yaitu eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang tumpul

teratur. Akibat dari passage through fibrin network. Pada praktikum Differential Count, disimpulkan bahwa pasien

menderitsa eosinofilia. Karena jumlah eosinofil yang diperoleh melebihi

2. Eliptosit, yaitu Eritrosit berbentuk oval (ovalosyt) yang lonjong (pensil nilai normal.

cell/sel cerutu)

Pada praktikum evaluasi hapusan darah tepi pada sampel dengan kode x

3. Tears drop cell, yaitu Eritrosit berbentuk tetesan air. pada tanggal 16 Mei 2012, diperoleh kesan jumlah leukosit dan

trombosit normal. Namun ditemukan eritrisit yang beragam bentuk

Pada tanggal 23 Mei 2012 kembali dilakukan praktikum dengan materi yang sama pada setiap lapang pandang ( poikilositosis).

dengan materi pada praktikum yang dilakukan pada tanggal 16 Mei 2012, yaitu

evaluasi hapusan darah tepi. Dengan cara yang sama seperti praktikum sebelumnya, Pada praktikum hapusan darah tepi pada sampel No. 618 ditemukan

diperoleh hasil evaluasi darah tepi pada hapusan darah dengan kode 618 yaitu sebagai kesan jumlah leukosit meningkat, kesan jumlah trombosit menurun,

berikut: eritrosit yang tidak dapat ditafsirkan, dan banyak ditemukan sel- sel

muda dari seri myeloid. Hapusan darah yang diperiksa didiagnosa

Perbesaran 100X ( objektif 10X ) pasien menderita CML (Chronic Myeloblastic Leukemia).

Penafsiran atau kesan jumlah leukosit 5 jenis yang bersirkulasi :

Pada praktikum ini diperoleh kesan jumlah leukosit MENINGKAT, namun tidak Basofil ( 0-1% )

dilakukan penghitungan karena jumlah leukosit yang sangat banyak dijumpai dalam

setiap lapang pandang di bawah mikroskop. Granula menghasilkan HISTAMIN (Reaksi alergi HEPARIN)

Perbesaran 1000X ( Objektif 100X )

Eritrosit

Tidak dapat ditafsirkan, karena kondisi Eritrosit yang yang dujumpai dalam setiap

lapang pandang saling bertumpukan dan banyak ditemukan sel muda.

Trombosit :

Kesan trombosit MENURUN karena hampir tidak ditemukan trombosit dalam setiap
basofil eosinofil
lapang pandang yang diamati.

Eosinofil ( 1-3% )
Jenis Leukosit

Granula Azurofilik
Banyak ditemukan sel- sel leukosit dalam setiap lapang pandang sehingga kesan

Diff.Count yaitu terjadi peningkatan pada setiap jenis sel leukosit.


Dijumpai pada: infeksi parasit internal, misal cacing.

Hasil pemeriksaan hapusan darah tepi pada yang diperoleh diatas, yaitu hasil
Neutrofil staff ( 2-6% )
pemeriksaan hapusan darah tepi pada penderita CML ( Chronic Myeloblastic

Leukemia).
Spesialisasi fagositosis

Leukemia mieloid kronis (CML) merupakan penyakit mieloproliferatif yang ditandai


Sel pertahanan terutama terhadap invasi bakteri & jamur
oleh proliferasi sel mieloid yang berlebihan dengan kemampuan diferensiasi yang

masih baik. Terdapat fase kronis dimana pasien tidak menunjukkan gejala klinis. Hal
Neutrofil segmen (50-70%)
inilah yang sering menyebabkan pasien tidak terdiagnosis lebih awal. Biasanya

diagnosis pada fase ini ditemukan kebetulan pada saat dilakukan hapusan darah tepi
Jenis ini merupakan jenis terbanyak di leukosit
Sel pertahanan terutama terhadap invasi bakteri & jamur 1. Hemocytometer (bilik hitung, pipet leukosit, pipet eritrosit)

Limfosit ( 20-40% ) 2. Kaca Penutup

Limfosit B (Menghasilkan Antibodi yg beredar dalam darah) 3. Mikroskop

Limfosit T (Tidak menghasilkan antibodi, Menghancurkan virus, Respon 4. Larutan Truk (asam asetat glacial 2 ml, gentian violet 1 ml, aquades

Imun Seluler) 100 ml)

Monosit ( 2-8% ) 5. Darah Vena/Darah Kapiler

Fagosit. Cara Kerja

Agranulosit Mononuklear 1. Bilik hitung di cari dengan menggunakan mikroskop, cari kotak sedang

di tempat ujung bilik hitung

2. hisap darah dengan pipet leukosit sampai angka 1 (pengenceran =

10x) atau sampai angka 5 (pengenceran = 20x)

3. hapus darah yang melekat pada ujung pipet dengan menggunakan

Neutrofil Staff Neutrofil Segmen tissue

4. kenudian dengan pipet yang sama hisap larutan truk sampai angka 11

5. campur (kocok) secara horisontal

6. buang tetesan pertama

7. tuangkan dalam bilik hitung yang telah ditutup dengan kaca penutup

dan diletakkan di mikroskop

8. lakukan perhitungan sel leukosit dengan perbesaran obyektif 10 atau

40 x.

Perhitungan

jumlah leukosit = rata-rata jumlah leukosit tiap kotak X pengenceran :

volume kotak
Pemeriksaan Hitung Jumlah Leukosit

Nilai Normal menurut Dacie


Prinsip : Darah diencerkan dengan larutan asam lemah, yang

menyebabkan sel-sel erotrosit hemolisis serta darah menjadi encer,


1. dewasa pria : 4 11 ribu/mmk
sehingga sel-sel leukosit mudah dihitung.

2. dewasa wanita : 4 11 ribu/mmk


Alat dan Bahan :
3. bayi : 10 -25 ribu/mmk 3. Batang : 2 6 %

4. 1 tahun: 6 18 ribu/mmk 4. Segmen : 50 70 %

5. 12 tahun : 4,5 13 ribu/mmk 5. Limfosit : 20 40 %

Pemeriksaan Hitung Jenis Leukosit 6. Monosit : 2 8 %

Prinsip : terdapat perbedaan daya serap terhadap zat asam Nilai Normal Leukosit : 4.000 10.000/mm3

Alat dan Bahan : Umur Limfosit : 100 300 hari

1. Mikroskop LEUKOSIT

2. Obyek glass

3. Lancet steril

4. Pencatat waktu

5. Rak pengecatan

6. Rak pengering

1.
7. Minyak imersi
Karakteristik

a. jumlah
8. Kaca penggeser
- dalam keadaan normal 7.000 - 9.000/mm3

- dalam keadaan infeksi akan mengalami


9. Pensil kaca
peningkatan jumlah total

b. fungsi

10. Larutan Wright - melindungi tubuh dari benda asing seperti

virus dan bakteri

11. Larutan buffer pH 6,4 - sebagian besar aktifitas leukosit berada di

jaringan tubuh bukan dalam aliran darah

Cara Kerja c. kemampuan

- diapedesis

dapat menembus pori-pori kapiler masuk ke


1. Buat hapusan darah tepi
jaringan

- gerak amuboid
2. Cat hapusan dengan lar. Wright 2 menit
dapat bergerak seperti gerak amuba, mampu

bergerak tiga kali lebih panjang dibanding


3. Tetesi dengan lar buffer sama banyak selama 5 menit
tubuhnya dalam satu menit

- kemotaksis
4. Siram dengan aquadest
pelepasan zat kimia oleh jaringan yang rusak

menyebabkan leukosit bergerak mendekati


5. Keringkan dan baca dengan mikroskop
(kemotaksis positif) atau menjauhi (kemotaksis

negatif)

Harga Normal: - fagosit

semua leukosit adalah fagositik, tapi kemampuan

1. Eosinofil : 1 3 % ini lebih berkembang pada neutrofil dan monosit

d. rentang kehidupan

2. Basofil : 0 1 % - setelah di produksi pada sumsum tulang leukosit

bertahan kurang lebih satu hari dalam sirkulasi


sebelum masuk ke jaringan.

- leukosit akan tetap berada di jaringan dengan

rentang yang berbeda-beda bergantung kepada

leukositnya

2. Klasifikasi Leukosit

Ada lima jenis leukosit dalam sirkulasi darah,

dibedakan berdasarkan ukuran betuk nukleus dan ada

atau tidaknya granula sitoplasma.

- Agranulosit : leukosit yang tidak memiliki granula

sitoplasma

- Granulosit : leukosit yang memiliki granula

sitoplasma

A. AGRANULOSIT B. GRANULOSIT

a. Agranulosit

terdiri dari 2 jenis, yaitu monosit dan limfosit

1. monosit

- jumlah : 3%-8% dari jumlah total leukosit

- struktur : sel darah terbesar, nukleus berbentuk

seperti telur atau ginjal dikelilingi

sitoplasma berwarna kebiruan atau

abu-abu pucat.

- fungsi : sangat fagosit dan aktif, siap bermigrasi struktur monosit dan perbandingannya dengan eritrosit
ke jaringan. Jika telah meninggalkan

pembuluh darah maka sela akan - limfosit


berubah menjadi histiosit jaringan atau - jumlah : 30% dari jumlah total leukosit dalam
makrofag tetap darah sebagian ditemukan dalam

jaringan limfatik

- umur : mencapai beberapa tahun

- struktur : nukleus bulat berwarna biru gelap

- asal : sel-sel batang sumsum tulang merah

berdiferensiasi dan froliferasi dalam

organ lain

- fungsi : reaksi immunologis


2. Eosinofil

- jumlah : 1% - 3% dari jumlah total leukosit

- struktur : memiliki granula besar dan kasar

berwarna orange kemerahan, nukleus

berlobud dua

- fungsi : (i) fagositik lemah, jumlah meningkat

saat terjadi alergi atau infeksi oleh

parasit, berkurang saat stress ber-

kepanjangan.

(ii) detoksikasi histamin yang dihasilkan

sel mast dan jaringan yang luka

saat inflamasi berlangsung


b. Granulosit
(iii) mengandung peroksidase dan
terdiri dari 3 jenis yaitu, neutrofil, eosinofil
fosfatase yaitu enzim yang me-
dan basofil dikelompokkan berdasarkan
nguraikan protein. Enzim ini
warna granula sitoplasmanya saat dilakukan
mungkin terlibat dalam detok-
oleh pewarna Wright
sifikasi bakteri.
1. Neutrofil
struktur neutrofil
- mencapai 60%-65% dari total leukosit

- memiliki granula kecil berwarna merah muda

- nukleus 3 - 4 lobus masing-masing lobus

dihubungkan oleh benang kromatin halus

- bersifat fagositik dan sangat aktif, hingga

dapat mencapai jaringan terinfeksi untung

menyerang virus dan bakter

2. Basofil
- jumlah : mencapai kurang dari 1% dari jumlah Netofil

total leukosit

- struktur : - bentuk granula besar dan tidak ber- Sel ini yang paling banyak terdapat dalam sirkulasi sel darah putih dan lebih cepat

aturan dengan warna keunguan merespons adanya infeksi dan cedera jaringan daripada jenis sel darah putih lainnya.

sampai hitam. Selama infeksi akut, netrofil berada paling depan di garis pertahanan tubuh. Netrofil

- nukleus berbentu huruf S yang beredar di darah tepi terbanyak adalah segmen, yaitu netrofil yang matur.

- fungsi : - menghasilkan histamin untuk me- Batang atau stab adalah netrofil imatur yang dapat bermultiplikasi dengan cepat

micu aliran darah ke sekitar luka. selama infeksi akut.

- menghasilkan heparin yaitu zat

antikoagulan untuk mencegah Dalam keadaan normal, jumlah netrofil berkisar antara 50-65 % atau 2.5-6.5

gumpalan darah di pembuluh. x10^3/mmk.

Peningkatan jumlah netrofil (disebut netrofilia) dijumpai pada infeksi akut (lokal dan

sistemik), radang atau inflamasi (reumatoid arthritis, gout, pneumonia), kerusakan

jaringan (infark miokard akut, luka bakar, cedera tabrakan, pembedahan), penyakit

Hodgkin, leukemia mielositik, hemolytic disease of newborn (HDN), kolesistitis akut,

apendisitis, pancreatitis akut, pengaruh obat (epinefrin, digitalis, heparin,

sulfonamide, litium, kortison, ACTH)

Penurunan jumlah netrofil (disebut netropenia) dijumpai pada penyakit virus, leukemia

(limfositik dan monositik), agranolositosis, anemia defisiensi besi (ADB), anemia

aplastik, pengaruh obat (antibiotic, agen imunosupresif).

Limfosit

Limfosit berperan penting dalam respons imun sebagai limfosit T dan limfosit B.

Dalam keadaan normal, jumlah limfosit berkisar 25-35 % atau 1.7-3.5 x10^3/mmk.

Jumlah limfosit meningkat (disebut limfositosis) terjadi pada infeksi kronis dan virus.

Limfositosis berat umumnya disebabkan karena leukemia limfositik kronik. Limfosit

mengalami penurunan jumlah (disebut leukopenia) selama terjadi sekresi hormon

adenokortikal atau pemberian terapi steroid yang berlebihan.

Peningkatan jumlah limfosit dijumpai pada leukemia limfositik, infeksi virus

(mononucleosis infeksiosa, hepatitis, parotitis, rubella, pneumonia virus, myeloma

multiple, hipofungsi adrenokortikal.

Penurunan jumlah limfosit dijumpai pada kanker, leukemia, hiperfungsi adrenokortikal,

agranulositosis, anemia aplastik, sklerosis multiple, gagal ginjal, sindrom nefrotik,

SLE.

Monosit

Monosit adalah baris pertahanan kedua terhadap infeksi bakteri dan benda asing. Sel

ini lebih kuat daripada netrofil dan dapat mengonsumsi partikel debris yang lebih

besar. Monosit berespons lambat selama fase infeksi akut dan proses inflamasi, dan

terus berfungsi selama fase kronis dari fagosit.

Dalam keadaan normal, jumlah monosit berkisar antara 4-6 % atau 0.2-0.6

x10^3/mmk.

Peningkatan jumlah monosit (disebut monositosis) dapat dijumpai pada : penyakit virus

(mononucleosis infeksiosa, parotitis, herpes zoster), penyakit parasitic (demam bintik

Rocky Mountain, toksoplasmosis, bruselosis), leukemia monositik, kanker, anemia (sel

sabit, hemolitik), SLE, arthritis rheumatoid, colitis ulseratif.

Penurunan jumlah monosit dapat dijumpai pada leukemia limfositik, anemia aplastik.

Eosinofil
Jumlah eosinofil meningkat selama alergi dan infeksi parasit. Bersamaan dengan Selain melakukan fagositosis terhadap kuman, neutrofil juga memakan jaringan tubuh

peningkatan steroid, baik yang diproduksi oleh kelenjar adrenal selama stress maupun yang rusak atau mati.

yang diberikan per oral atau injeksi, jumlah eosinofil mengalami

penurunan.
2. Eosinofil

Jumlah eosinofil pada kondisi normal


Plasmanya bersifat asam.
berkisar antara 1-3 % atau 0.1-0.3

x10^3/mmk. Peningkatan jumlah Itulah sebabnya eosinofil

eosinofil (disebur akan tampak berwarna merah

eosinofilia) dapat dijumpai pada tua bila ditetesi eosin.

alergi, pernyakit parasitic, kanker


Eosinofil juga bersifat
(tulang, ovarium, testis, otak), feblitis,
fagosit dan jumlahnya akan
tromboflebitis, asma, emfisema, penyakit ginjal (gagal ginjal, sindrom nefrotik).
meningkat jika tubuh terkena

infeksi.
Penurunan jumlah eosinofil dapat

dijumpai pada stress, luka bakar, syok,

hiperfungsi adrenokortikal. 3. Basofil

Basofil

Plasmanya bersifat basa. Berwarna biru jika ditetesi


Dalam keadaan normal, basofil dijumpai dalam kisaran 0.4-
larutan basa. Basofil juga bersifat fagosit. Selain
1 % atau 0.04-0.1 x
itu, basofil mengandung antikoagulan (anti
10^3/mmk. Peningkatan jumlah basofil (disebut

basofilia) dapat dijumpai pada proses inflamasi, penggumpalan darah), yaitu heparin.

leukemia, tahap penyembuhan infeksi atau

inflamasi, anemia hemolitik didapat. 4. Limfosit

Penurunan jumlah dapat dijumpai pada stress, reaksi hipersensitivitas, kehamilan,


Limfosit tidak dapat bergerak dan
hipertiroidisme.
berinti satu. Ukurannya ada yang besar

dan ada yang kecil. Limfosit berfungsi


1. Leukosit bergranula (granulosit)

untuk membentuk antibodi.

Neutrofil

5. Monosit
Eosinofil

Basofil

2. Leukosit tidak bergranula

(agranulosit)
Monosit dapat bergerak seperti Amoeba dan mempunyai inti yang bulat/bulat panjang.

Monosit diproduksi pada jaringan limfe

(getah bening) dan bersifat fagosit.

Limfosit

Monosit

1.

Beginilah proses

Neutrofil
fagositosis

Plasmanya bersifat netral, inti selnya berjumlah banyak (polimorf) dengan bentuk
Dari bermacam leukosit di

bermacam-macam. Neutrofil melawan antigen dengan cara memakannya (fagositosis).


atas yang berperan penting

terhadap kekebalan tubuh ada 2, yaitu sel fagosit dan limfosit.


Sel fagosit akan menghancurkan antigen yang dengan cara menelannya (fagositosis).

Ada 2 macam sel fagosit, yaitu neutrofil, dan Makrofag. Sel makrofag dapat keluar

dari dalam peredaran darah untuk masuk ke dalam jaringan tubuh. Kemampuan ini

disebut diapedesis, dan berguna untuk melacak/mencari lokasi dimana antigen atau

kuman berada. Jika antigen ditemukan maka sel makrofag juga akan melakukan

fagositosis.

Sedangkan limfosit terdiri atas:

limfosit T (T Sel)

limfosit B (B sel). Keduanya dihasilkan oleh sumsum tulang dan diedarkan ke seluruh

tubuh melalui pembuluh darah, dan menghasilkan antibodi yang disesuaikan dengan

antigen yang masuk ke dalam tubuh.

Seringkali antigen semacam virus memasuki tubuh tidak melalui pembuluh darah tetapi

melalui kulit dan selaput lendir untuk menghindari leukosit. Namun ada bentuk

pertahanan lain di sana. Sel-sel tubuh akan menghasilkan interferon yaitu zat yang

berfungsi sebagai penghalang pembentukan virus baru (replikasi).

Sebuah sel makrofag sedang melakukan fagositosis (memakan) bakteri