Anda di halaman 1dari 10

Rr.

Dwi Setyani Hanindita


1306381471
Kelas Hukum Organisasi Perusahaan A

Legal Opinion Perjanjian Kontrak Karya

A. Definisi Kontrak Karya

Secara terminologi, pengertian Kontrak Karya adalah kontrak antara Pemerintah RI


dengan Perusahaan Penanaman Modal Asing (berbentuk badan hukum Indonesia dan
berkedudukan di Indonesia) yang memuat persyaratan teknis finansial dan persyaratan lain
untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan bahan galian Indonesia, kecuali minyal dan
gas bumi, batubara dan uranium1

Sedangkan, dalam Pasal 1 angka 1 Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 1614 Tahun 2004 tetang Pedoman Permohonan Kontrak Karya dan
Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara dalam rangka penanaman modal
Asing Berdasarkan keputusan Menteri tersebut, Kontrak Karya di definisikan sebagai berikut2
Perjanjian antara Pemerintah Indonesia dengan perusahaan berbadan hukum Indonesia
dalam rangkan penanaman modal asing untuk melaksanakan usaha pertambangan galian,
tidak termasuk minyak bumi, gas alam, panas bumi, radio aktif, dan batubara

Beberapa ahli hukum pertambangan pun ikut memaparkan pendapatnya mengenai


pengertian dari Kontrak Karya. Ismail Suray mengartikan Kontrak Karya yaitu kerja sama
modal asing dalam bentuk Kontrak Karya (contract of work ) terjadi apabila penanaman
modal asing membentuk suatu badan hukum Indonesia dan badan hukum ini mengadakan
kerja sama dengan suatu badan hukum yang mempergunakan modal asing3

1 Abrar Saleng, Hukum Pertambangan (Yogyakarta: UII Press, 2004) hlm 146
2 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
1614 Tahun 2004,Pasal 1 angka 1
3 Erman Rajagukguk, dkk, Hukum Penanaman Modal (Depok : FHUI, 2007), hlm 186
1
Selanjutnya,Sri Woelan Azis mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian Kontrak
Karya yaitu suatu kerja sama di mana pihak asing membentuk suatu badan hukum di
Indonesia dan badan hukum Indonesia ini bekerjasama dengan badan hukum Indonesia yang
menggunakan modal nasional 4

Sedangkan, H. Salim HS mengemukakan pengertian Kontrak Karya guna melengkapi


dan menyempurnakan deifinisi kontrak kerja tersebut, yakni :5
Suatu perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Indonesia dengan kontraktor asing, semata-
mata dan atau merupakan patungan antara badan hukum domestik untuk melakukan kegiatan
eksplorasi maupun eksplorasi dalam bidang pertambangan umum, sesuai jangka waktu
disepakati oleh kedua belah pihak

B. Unsur-Unsur Kontrak Karya


Setelah mendapatkan beberapa pengertian mengenai kontrak karya kemudian, dapat ditarik
beberapa unsur-unsur dari sebuah kontrak karya, yaitu :6
1. Adanya kontraktual, yaitu : perjanjian yang dibuat oleh para pihak;
2. Adanya subyek hukum, yaitu: Pemerintah Indonesia/ Pemerintah Daerah (provinsi/
kabupaten/kota) dengan kontraktor asing semata-mata dan/atau gabungan antara pihak asing
dengan pihak indonesia;
3. Adanya objek, yaitu: eksplorasi dan eksploitasi;
4. Dalam bidang pertambangan umum;
5. Adanya jangka waktu di dalam kontrak

C. Ketentuan Hukum Keberlakuan Kontrak Karya

Dasar hukum kontrak karya terdiri dari beberapa peraturan yang berkembang setelah tahun
1967, dimana selain kontrak karya berkembang, pada saat itu juga telah di sah kan Undang-
Undang mengenai Penanaman Modal Asing dan Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.
Berikut adalah undang-undang terkait dengan kontrak karya :

4 Sri Woelan Aziz, 1996 hlm 62 dalam Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak
Innominaat Di Indonesia( Jakarta : Grafika, 2003) hlm 129
5 Salim HS, Hukum Pertambangan di Indonesia, (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2005), 130
6 Salim HS ,Op.Cit. 64
2
1. Undang- Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing jo UU No, 11
Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang
Penanaman Modal Asing.
Undang- Undang ini menjelaskan mengenai pengertian penanaman modal asing,
bentuk hukum, kedudukan dan daerah berusaha, bidang usaha modal asing, tenaga kerja,
pemakaian tanah, kelonggaran-kelonggaran perpajakan dan pungutan lain, jangka waktu
penanaman modal asing, hak transfer dan repatriasi, nasionalisasi dan kompensasi kerja sama
modal asing dan modal nasional, kewajiban-kewajiban lainnya bagi penanam modal asing,
ketentuan-ketentuan lain, dan ketentuan peralihan.
Di dalam Pasal 8 UU No. 1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal Asing menyatakan
bahwa:
1. Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pasa suatu kerjasama
ntah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
2. Sistem kerjasama atas dasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat
dilaksanakan dalam bidang bidang usaha lain yang akan ditentukan oleh pemerintah.

2. Undang-Undang No. 6 Tahun 1968 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam negeri
jo Undang- Undang No. 12 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undng
No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri
3. Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.
Undang-undang ini menjelaskan mengenai penggolongan bahan galian, pelaksanaan
pengusahaan bahan galian, bentuk dan organisasi pengusahaan pertambangan, kuasa
pertambangan, cara dan syarat-syarat bagaimana memperolah kuasa pertambangan,
berakhirnya kuasa pertambangan, hubungan kuasa pertambangan dengan hak-hak tanah,
pungutan-pungutan negara, pengawasan pertambangan dan juga sanksi-sanksi yang
diatuhkan.
Pasal 10 UU No.12 Tahun 1967 berbunyi sebagai berikut :
1. Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dilaksanakan sendiri oleh
instansi pemerintah atau perusahaan negara yang bersangkutan selaku pemegang
kuasa pertambangan
2. Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud
dalam ayat 1 pasal ini, Instansi Pemerintah atau Perusahaan negara harus berpegang
3
pada pedoman-pedoman, petunjuk-petunjuk dan syarat-syarat yang diberikan oleh
menteri
3. Perjanjian karya tersebut dalam ayat 2 pasal ini mulai berlaku sesuadah disahkan
oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat apabila
menyangkut eksplorasi golongan A sepanjang mengenai bahan-bahan galian yang
ditentukan dalam Pasal 13 UU ini atau yang diperjanjian kerjanya berbentuk
penanaman modal asing.

Penjelasan lebih lanjut mengenai undang-undang in dituangkan dalam berbagai PP,


Kepres, Penmen, Kepmen dan peraturan lainnya, seperti :
1. Undang-Udang No. 12 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan
2. Undang-Undang No. 6 Tahun 1968 tetang Penanaman Modal Dalam Negeri
3. Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 tentang Pertambangan.
4. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1992 tentang Persyaratan Pemilikan Saham dalam
Perusahaan Penanaman Modal Asing
5. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1993 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 17
Tahun 1992 tentang Persyaratan Pemilikan Saham dalam Perusahaan Penanaman Modal
Asing
6. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1993 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah No. 24
Tahun 1986 tentang Jangka Waktu Perusahaan Penanaman Modal Asing
7. Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan
yang Didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing

Disamping peraturan perundang-undangan di atas, masih banyak peraturan yang


dibuat oleh Menteri Investasi/Ketua BKPM. Peraturan itu bersifat teknis dan merupakan
penjarahan dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi kedudukannya serta
menjadi pedoman dalam pelaksanaan kontrak karya di Indonesia.7

7Salim HS(1), Ibid. hlm 64

4
D. Ciri-Ciri Kontrak Karya Pertambangan

Kontrak karya merupakan salah satu dari jenis-jenis kerja sama dalam usaha pertambangan
selain kontrak karya ada juga Kuasa Pertambangan (KP) dan Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara (PKP2B). Objek dari kontrak karya sendiri adalah perjanjian-
perjanjian pertambangan diluar minyak bumi dan gas bumi seperti emas, tembaga, dan batu
bara. Pengusahaan pertambangan umum mencakup kegiatan penyelidikan umum eksplorasi,
eksploitasi, pengolahan, dan pemurnian, pengangkutan serta penjualan bahan galian. Khusus
untuk Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B)
mencakup juga kegiatan studi kelayakan dan konstruksi. Bahan-bahan galian ini
dikelompokkan menjadi 3 golongan: Pertama, bahan galian strategis disebut golongan A,
kedua bahan galian vital disebut golongan B, dan ketiga, bahan galian bukan strategis dan
bukan vital A disebut golongan C.
Kontrak karya merupakan perjanjian innomirat yaitu perjanjian yang pengaturannya
tidak diatur dalam Kitab Undang-Undanng Hukum Perdata . Karena kontrak karya adalah
perjanjian khusus yang ketentuaanya merujuk pada pasal 1338 Kitab Undang-Undanng
Hukum Perdata, yang terkenal dengan asas kebebasan berkontrak. Dimana dalam pasal 1338
para pihak yang sepakat untuk mengikatkan dirinya dalam perjanjian, maka perjanjian
tersebut menjadi hukum dan mengikat bagi para pihak yang menandatanganiny, Tetapi
dibatasi oleh pasal 1320 Kitab Undang-Undanng Hukum Perdata. Kontrak karya adalah
perjanjian yang bersifat dinamis dimana terdapat butir-butir yang dapat direnegosiasi antara
lain: luas wilayah, tenaga kerja, royalti, masa kontrak, pajak, pengembangan wilayah usaha
setempat, domestic market obligation, dan kepemilikan saham 8

E. Prosedur Pembentukan Perjanjian Kontrak Karya

Sebuah permohonan kontrak karya baru dilakukan apabila telah terbit persetujuan
pencadangan wilayah pertambangan oleh menteri atau gubernur , atau bupati/walikota.
Permohonan kontrak karya itu diajukan oleh pemohon kepada pejabat sesuai dengan
kewenangannya, dengan melampirkan9:
8 Robby Ferliansyah, Analisis Mengenai Pemberian Fasilitas Khusus Di Bidang Perpajakan
Dalam Kontrak Karya Antara PT FIC Dengan Pemerintah Indonesia, Skripsi Program Sarjana
Ilmu Hukum FHUI ( Jakarta; Program Sarjana, 2011), hal. 33
9 Salim HS (2), Op.Cit 151-152
5
1. Peta wilayah yang diterbitkan oleh Unit Pelayanan Informasi Wilayah Pertambangan
(UPIWP) Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral;
2. Salinan fotokopi tanda terima penyetoran uang jaminan kesungguhan dari Bank
Pemerintah untuk wilayah yang berada pada kewenangan pemerintah atau Bank
Pembangunan Daerah untuk wilayah yang berada pada kewenangan pemerintah daerah, atau
salinan/kopi tanda pengiriman uang (transfer) dari bank pemohon;
3. Laporan tahunan perusahaan pemohon dan laporan keuangan untuk periode tiga tahun
yang telah diaudit oleh akuntan publik, apabila waktu pendirian perusahaan pemohon kurang
dari tiga tahun, dapat menggunakan laporan untuk perusahaan atau afiliasinya dengan syarat
bahwa induk perusahaan atau afiliasi tersebut memberikan pernyataan akan menyediakan
dana bagi pelaksanaan kontrak karya dimaksud;
4. Surat kuasa khusus dari direksi yang diketahui oleh komisaris perusahaan kepada wakil
yang ditugasi menandatangani permohonan atau melakukan perundingan atau membubuhkan
paraf rancangan atau penandatanganan kontrak karya apabila direksi tidak melakulannya
sendiri
5. Kesepakatan bersama dalam hal pemohon lebih dari satu
6. Tanda terima Surat Pemberitahuan (SPT) pajak tahun terakhir atau NPWP bagi perusahaan
nasional

Selain syarat-syarat tersebut, pemohon kontrak karya juga harus menyampaikan syarat-
syarat lainnya yang disampaikan dalam waktu satu bulan sejak diberikan persetujuan prinsip oleh
Direktur Jenderal atau gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya, yang
meliputi: 10
1. Rencana kerja dan anggaran sampai dengan tahap penyelidikan umum;
2. Akta pendirian perusahaan;
3. Perjanjian kerja sama (joint venture agreement) dalam hal pemohon lebih dari satu;
4. Surat pernyataan dari pemegang kuasa pertambangan dalam hal wilayah kuasa pertambangan
dimaksud akan digabung menjadi wilayah kontrak karya;
5. Salinan Keputusan Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral atau gubernur atau
bupati/walikota yang masih berlaku tentang pemberian kuasa pertambangan.

10 Salim HS (2),Ibid hlm 152-153


6
Kemudian, prosedur permohonan kontrak karya yang diajukan kepada Direktorat Jenderal
Geologi dan Sumber Daya Mineral, antara lain 11
1.Pengajuan permohonan kontrak karya kepada Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya
Mineral.
2. Direktur Pengusahaan Mineral dan Batu Bara menyampaikan hasil pemrosesan dan
menyiapkan konsep persetujuan prinsip atau penolakan Direktur Jenderal.
3. Penyampaian persetujuan prinsip atau penolakan Direktur Jenderal kepada pemohon.
4. Direktur Jenderal menugaskan Tim Perunding untuk melaksanakan perundingan/ penjelasan
naskah KK dengan pemohon.
5. Tim Perunding melaksanakan perundingan/ penjelasan naskah KK dengan pemohon.
6. Ketua Tim Perunding menyampaikan hasil perundingan yang telah dibubuhi paraf bersama
pemohon kepada Direktur Jenderal.
7. Direktur Jenderal menyampaikan naskah KK yang telah dibubuhi paraf bersama antara
gubernur dan bupati/walikota kepada menteri.
8. a. Menteri menyampaikan naskan KK kepada DPR RI untuk dikonsultasikan. b. Menteri
menyampaikan naskan KK kepada BKPM untuk mendapat rekomendasi.
9. a. DPR RI menyampaikan tanggapan atas naskah KK kepada menteri. b. BKPM
menyampaikan rekomendasi kepada presiden untuk persetujuan.
10. Menteri mengajukan permohonan kepada presiden untuk mendapat persetujuan KK.
11. Presiden memberikan persetujuan sekaligus memberikan wewenang kepada menteri untuk
dan atas nama pemerintah menandatangani KK.
12. Penandatangan KK antara menteri atas nama pemerintah dengan pemohon dan disaksikan
oleh gubernur atau bupati/walikota setempat.

Prosedur permohonan kontrak karya yang diajukan kepada gubernur, antara lain: 12
1. Permohonan kontrak karya diajukan kepada gubernur.
2. Penyampaian persetujuan prinsip atau penolakan gubernur kepada pemohon.
3. Gubernur meminta kepada Direktur Jenderal dan bupati/walikota mengenai pejabat yang
ditunjuk dan ditugaskan sebagai anggota Tim Perunding yang akan dibentuk oleh gubernur.
Selanjutnya Direktur Jenderal mengkoordinasikan penunjukan anggota Tim gubernur Perunding
dari Departemen Energi dan Sumber daya Mineral dan Instansi Terkait di Pusat.

11 Ibid, hal 153-159


12 Ibid, hal. 159-165
7
4. Gubernur membentuk Tim Perunding yang diketuai oleh pejabat yang ditunjuk dan sekaligus
menugaskan tim tersebut untuk melaksanakan perundingan/penjelasan naskah KK kepada
pemohon.
5. Tim Perunding melaksanakan perundingan/ penjelasan naskah KK dengan pemohon.
6. Ketua Tim Perunding menyampaikan hasil perundingan yang telah dibubuhi paraf bersama
pemohon kepada gubernur.
7. gubernur menyampaikan naskah KK yang telah dibubuhi paraf bersama antara bupati/walikota
kepada Direktur Jenderal.
8. Direktur Jenderal menyampaikan naskah KK yang telah dibubuhi paraf kepala menteri
a. Menteri menyampaikan naskah KK kepada DPR RI untuk dikonsultasi
b. Menteri menyampaikan naskah KK kepada BPKM untuk mendapat rekomendasi
9. a. DPR RI menyampaikan tanggapan atas naskah KK kepada menteri. b. BKPM
menyampaikan rekomendasi kepada presiden untuk persetujuan.
10. Menteri mengajukan permohonan kepada presiden untuk mendapat persetujuan KK.
Presiden memberikan persetujuan sekaligus memberikan wewenang kepada menteri untuk dan
atas nama pemerintah menandatangani KK. Penandatanganan KK/PKP2B antara menteri atas
nama pemerintah dengan pemohon dan disaksikan oleh gubernur atau bupati/walikota setempat.

F. Hak dan Kewajiban Para Pihak Dalam Kontrak Karya

Di dalam sebuah kontrak karya yang disusun oleh para pihak telah diatur dan ditentukan tentang
hak dan kewajiban para pihak. Seperti yang sudah dijelaskan juga bahwa pihak-pihak yang
melakukan perjanjian adalah pihak Pemerintah Indonesia dan Pihak Asing. Pihak Pemerintah
Indonesia berhak atas royalty, pajak-pajak, dan lain-lain . Kemudian, kewajibannya adalah
menjaga keamanan, mengjaga, dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh pihak investor.
Sedangkan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh investor adalah :
Hak Pihak Investor 13:
a. Hak tunggal untuk mencari dan melakukan eksplorasi mineral di dalam wilayah kontrak karya;
b. Mengembangkan dan menambang secara baik setiap endapan mineral yang ditemukan di
wilayah pertambangan;
c. Mengolah dan memurnikan, menyimpan, dan mengangkut dengan cara apa pun semua mineral
yang dihasilkan
d. Memasarkan, menjual, atau melepaskan semua produksi di dalam maupun luar negeri;

13 Salim HS (1), Op.Cit, hlm81


8
e. Melakukan semua operasi dan kegiatan lainnya yang mungkin perlu atau memudahkan serta
akan dilaksanakan dengan betul-betul memperhatikan persetujuan ini.
Kewajiban Pihak Investor 14:
a. Menyetorkan iuran tetap untuk wilayah kontrak karya atau wilayah pertambangan, untuk
eksploitasi/produksi tambahan atas mineral yang di eksport
b. Menyetorkan pajak penghasilan atas segala jenis keuntungan atau yang diperoleh perusahaan,
penghasilan perorangan, Pajak Penghasilan Nilai (PPN) ata spembelian dan barang-barang kena
pajak, menyetorkan kepada negara bea materai atas dokumen-dokumen yang sah, menyerahkan
pajak bumi dan bangunan (PBB) untuk wilayah kontrak karya, menyetorkan ke pemerintah desa,
menyetorkan pungutan adiministrasi umum dan pembebanan untuk hasilitas atau jasa, dan
menyetor pajak atas pemindahan hak kepemilikan kendaraan bermotor dan kapal di Indonesia

H. Berakhirnya Kontrak Karya

Berdasarkan Pasal 20 Undang-Undang No.11/1967 tentang Pertambangan, Pasal 38 Peraturan


Pemerintah No.32 Tahun 1969 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.11?1967 tentang
Pertambangan telah ditentukan cara berakhirnya kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan
berakhir karena15:
1. pertambangan berakhir
2. dibatalkan, dan
3. habisnya waktu
Pemegang kuasa pertambangan yang berakhir karena pertambangan berakhir adalah Menteri,
yang dituangkan dalam Keputusan Menteri. Faktor-faktor yang menyebabkan pembatalan kuasan
pertambangan adalah :
1. pemegang kuasa pertambangan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan;
2. pemegang kuasa pertambangan ingkar menjalankan perintah dan petunjuk-petunjuk yang
diberikan oleh para pihak yang berwajib untuk kepentingan negara.

Kuasa pertambangan yang berakhir demi hukum adalah kuasa pertambangan berakhir
karena jangka waktu yang ditentukan dalam kuasa pertambangan telah habis dan tidak dilakukan
perpanjangan.

14 Ibid, hlm 82
15 Ibid, hlm 86
9
I. Contoh Kontrak Karya
Berikut adalah contoh perjanjian dari Kontrak Karya yang dilakukan oleh Pemerintah
Indonesia dan Perusahaan Asing.16 ( TERLAMPIR)

16Fifiek Noorfitrie W, Perbandingan Kontrak Karya dan Kontrak Bagi Hasil Dalam Sektor Pertambangan
Umum, Skripsi Program Sarjana Ilmu Hukum FHUI ( Jakarta; Program Sarjana, 1998), halaman lampiran.

10