Anda di halaman 1dari 10

Peran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK) dalam

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia

1. Pendahuluan

Uang menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tetapi tidak semua
orang punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan uang dengan mudah. Banyak cara
orang untuk mendapatkan uang tersebut, ada yang dengan cara bekerja keras atau ada juga
yang mendapatkannya memang dalam jumlah banyak namun melanggar hukum. Karena cara
mendapatkannya illegal, agar tetap aman banyak pelaku kejahatan ini selalu berusaha
menyelamatkan uang hasil kejahatannya melalui berbagai cara. Bahkan uang hasil
kejahatan tersebut dari sebuah negara dapat ditransfer ke negara lain dan di investasikan ke
dalam berbagai bisnis yang sah. Kegiatan ini disebut dengan praktek pencucian uang ( money
laundering ). Dengan cara ini, mereka berusaha mengubah atau mencuci sesuatu yang
didapat secara haram (illegal) menjadi halal (legal). Pencucian uang ini umumnya dilakukan
terhadap uang hasil tindak kejahatan perdagangan narkotika, korupsi, penyelundupan senjata,
perjudian, penggelapan pajak, dan insider trading dalam transakasi saham di pasar modal.
Dengan pencucian uang ini, pelaku kejahatan dapat menyembunyikan asal-usul yang
sebenarnya dana atau hasil kejahatan yang dilakukannya. 1 Jadi melalui kegiatan ini para
pelaku dapat menikmati dan menggunakan hasil kerjahatannya secara bebas seolah-olah
seperti yang hasil kegiatan yang legal.
Kegiatan money laundering sangat terkait dengan kejahatan asal (predicate-crime) yang
dilakukan oleh kejahatan yang terorganisasi (organized crime), maka berkembangnya money
laundering ini juga akan mempengaruhi berkembangnya tindak pidana lain pemicu money
laundering seperti korupsi, perdagangan illegal narkotika, penyelelundupan dan illegal
logging. 2 Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi target dari para pelaku
kejahatan kerah putih internasional untuk melakukan pencucian uang. Hal ini
1 Philips Darwin, Money Launderung; Cara Memahami Dengan tepat dan benar Soal
Pencucian Uang, , (Jakarta : Sinar Ilmu, 2012), hlm.9
2 Randy Andario, Peranan PPATK ( Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan)
Dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang ,( Lex Administratum, Vol.IV, April 2016
)hlm. 38
1
disebabkan para pelaku kejahatan melihat banyaknya peluang bisnis yang sah yang
dapat mereka masuki. Apalagi dengan keterpurukan perekonomian Indonesia
belakangan ini dan kebutuhan Indonesia untuk mendatangkan investor asing telah
menjadikan Indonesia sebagai negara yang menarik untuk dimasuki. Dalam perspektif
Indonesia, tentunya Indonesia akan mendapatkan kesan yang buruk dimata dunia sebagai
tempat subur untuk praktek pencucian uang. Bagi Indonesia hal ini berdampak buruk karena
seolah-olah Indonesia adalah sorga (safe heaven) untuk berinvestasi bagi para pelaku
kejahatan internasional. Oleh karenanya Indonesia perlu melakukan upaya-upaya di
tingkat nasional untuk memerangi praktek pencucian uang. Di samping itu Indonesia
mendapat desakan dari berbagai negara maju dan Lembaga Internasional agar
Indonesia melarang masuknya uang hasil kejahatan. Negara maju menginginkan agar
pelaku kejahatan internasional dipersempit peluangnya untuk memutar dan mencuci
uang.

II. Berdirinya Pusat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK)
dalam Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia

A. Pembentukan PPATK
Dalam praktek intemasional di bidang pencucian uang lembaga semacam dengan PPATK
disebut dengan nama generik Financial Intelligence Unit (FlU). Keberadaan FlU ini pertama
kali diatur secara implisit dalam Empat Puluh Rekomendasi (Forty Reccomendations)3dari
Fanancial Action Task Force on Money Laundering (FATF)4 Dalam rekomendasi ke
enambelas disebutkan, bahwa If Financial Institutions suspect that funds stem from a
criminal activity, they should be permitted or required to report promptly their suspision to
the competent authorities . Rekomendasi tersebut tidak menyebutkan competent
authorities yang dimaksud. Kebanyakan negara membentuk atau menugaskan badan

3 Rekomendasi ini ini merupakan standard yang dikeluarkan oleh FA TF dan diharapkan dipakai oleh masing-
masing negara dan diterapkan secara intemasional dengankonsisten. Rekomendasi dikeluarkan pertama kali
pada tahun 1990, kemudian direvisi tahun 1996 dan sekarang sedang dalam proses direvisi kembali
4 FATF didirikan tahun 1989 dengan sponsor utanma negara-negara industri besar (Group of Seven atau G 7
danEuropean Union. FATF beranggotakan 29 negara dan dua organisiasi intemasional, yaitu the European
Commissiondan the Gulf Cooperation Council.

2
tertentu untuk menerima laporan tersebut yang secara umum sekarang dikenal dengan nama
Financial Intelligence Unit (FlU).
FlU adalah lembaga permanen yang khusus menangani masalah pencuclan uang.
Lembaga ini merupakan salah satu infrastruktur terpenting dalam upaya pencegahan dan
pemberantasan kejahatan pencucian uang di tiap negara. Keberadaan lembaga khusus ini
mutlak ada dan memainkan peranan sangat strategis karena masalah pencucian uang
merupakan persoalan yang cukup rumit, melibatkan organized crime yang memahami
berbagai teknik dan modus kejahatan canggih. Penanganan issue pencucian uang menjadi
bertambah berat terlebih karena karakteristik kejahatan ini pada umumnya dilakukan
melewati batas-batas negara (cross border).
Dalam praktek intemasional ada empatjenis FIU, yaitu5:
a. Police model, model Kepolisian yang biasanya juga diletakkan di bawah institusi
Kepolisian, misalnya NCIS (United Kingdom), Slovakia (OFIS), New Zealand,
Swiss, Hongkong, STRO (Singapura), Di sini laporan transaksi keuangan yang
mencurigakan atau laporan transaksi tunai ditujukan langsung kepada lembaga ini
yang pada umumnya mempunyai kewenangan penyidikan.
b. Judicial Model, misalnya Islandia dan Portugal. Biasanya laporan transaksi yang
mencurigakan ditujukankepada kantor kejaksaan Agung untuk diproses.
c. Model gabungan, dalam hal ini laporan ditujukan pada joint police/judicial unit
institusi gabungan seperti di Norwegia dan Denmark.
d. Administrative model, dengan variasi: merupakan lembaga independen di bawah
pemerintahan, seperti Austrac (Australia), Fintrac (Canada), Fincen (USA) atau di
bawah Bank Sentral seperti di Malaysia atau di bawah Financial Service Authority
seperti di Jepang.
Keempat macam model FIU tersebut berbeda dalarn hal besar kecilnya, struktur dan
organisasinya serta tanggung jawabnya yang semuanya tergantung pada pengaturan di
masingrnasing negara. Jadi tidak ada satupun FIU di dunia ini yang benar-benar sarna atau
seragarn dengan FIU di negara lain.
Oleh karena itu, pembentukan lembaga khusus yang menangani masalah pencucian
uang telah dilakukan cukup lama di beberapa negara. Australia misalnya memiliki
AUSTRAC (Australian Transaction Reports and Analysis Centre) yang didirikan pada tahun
1989. FINCEN (Financial Crime Intelligence Network) kita kenaI sebagai financial

5 William C Gilmore, Dirty Money: The Evolution of Money Laundering Countermeasures, ( Council of Euroe
Belgium: Publishing) 1999, hlm.72.

3
intelligence unit di Arnerika Serikat yang didirikan pada tahun 1990. Sementara itu kehadiran
lembaga sejenis di wilayah Asia Tenggara relatif baru dikenal beberapa tahun belakangan ini.
Kita mengenal beberapa lembaga semacam AMLO (Anti Money Laundering Office) di
Thailand yang didirikan pada tahun 1999, Unit Perisikan Kewangan di Malaysia yang berdiri
pada tahun 2001, Suspicious Transaction Reports Office (STRO) Singapura pada tahun 2000
serta The Office of Anti Money Laundering di Filipina sejak tahun 2001. Di Indonesia sendiri
dalam rangka menjalankan misi di atas telah didirikan Pusat Pelapora dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK) sejak 17 April 2002.
PPATK merupakan lembaga sentral (focal point) yang mengkoordinasikan
pelaksanaan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di
Indonesia. Secara internasional PPATK merupakan suatu Financial Intelligence Unit (FIU)
yang memiliki tugas dan kewenangan untuk menerima laporan transaksi keuangan,
melakukan analisis atas laporan transaksi keuangan, dan meneruskan hasil analisis kepada
lembaga penegak hukum.6 Lembaga ini dikenal dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun
2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang diundangkan tanggal 17 April 2002.
Namun kemudian pada tanggal 13 Oktober 2003, Undang-Undang tersebut mengalami
perubahan dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Dalam rangka
memberikan landasan hukum yang lebih kuas dan mencegah serta memberantas tindak
pidana pencucian uang, maka pada tanggal 22 Oktober 2010 diundangkan Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
yang menggantikan Undang-undang terdahulu.

Keberadaan Undang-undang No. 8 Tahun 2010 memperkuat keberadaan PPATK


sebagai lembaga independen dan bebas dari campur tangan dan pengaruh dari kekuasaan
manapun. Dalam hal ini setiap orang dilarang melakukan segala bentuk campur tangan
terhadap pelaksanaan tugas dan kewenangan PPATK. Selain itu, PPATK wajib menolak
dan/atau mengabaikan segala campur tangan dari pihak mana pun dalam pelaksanaan tugas
dan kewenangan.7 PPATK bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Sebagai bentuk
akuntabilitas, PPATK membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas, fungsi dan

6 http://www.ppatk.go.id/home/menu/2/profile.html, diakses Senin 5 Desember 2016


7 Ibid
4
wewenangnya secara berkala setiap 6 (enam) bulan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan
Rakyat.

Di dalam UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak


Pidana Pencucian Uang dalam konsiderans pada bagian Menimbang disebutkan bahwa
pertimbangan dibuatnya dan diundangkannya UU ini adalah karena tindak pidana pencucian
uang tidak hanya mengancam stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan,
tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, demikian lebih lanjut
dikemukakan dalam bagian menimbang, memerlukan ladasan hukum yang kuat untuk
menjamin kepastian hukum, efektivitas penegakan hukum, serta penelusuran dan
pengembalian Harta Kekayaan hasil tindak pidana.8
Pencucian uang adalah suatu upaya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-
usul harta kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan di wilayah negara
Republik Indonesia atau di luar wilayah negara Republik Indonesia. Dalam rangka mencegah
dan memberantas tindak pidana pencucian uang di Indonesia, maka ada dua (2) cara yang
dapat dilakukan yaitu : 9
1. Pembentukan PPATK (Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan).
2. Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principle).

B. Peranan PPATK

Pembentukan badan ini yaitu PPATK adalah penting, karena masalah-masalah


kejahtaan money laundering cukup berat, rumit dan berskala transnasional, yakni melewati
batasbatas instansi atau lembaga, organisasi, dan batas-batas yurisdiksi negara atau bersifat
transnasional dan internasional.10 Lembaga ini memiliki kelembagaan yang bersifat
independen, yang bebas dari campur tangan yang bersifat politik seperti Lembaga Negara,
Penyelenggara Negara dan pihak lain, dan dalam melaksanakan tugasnya wajib menolak

8 Indonesia, Undang-Undang Nomor tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dan


Terrorisme, UU No. 8 , Ln No.122 Tahun 2010, TLN No. 5164, Bagian Konsiderans
9 N.H.T Siahaan, Money Laundering: Pencucian Uang dan Kejahatan Perbankan ( Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan) hlm 36
10 Ibid, hlm.107
5
campur tangan itu dari pihak siapapun. Prinsip ini bisa ditafsirkan dari ketentuan Pasal 37
yang brbunyi sebagai berikut 11 :
(1). PPATK dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya bersifat independen dan
bebas dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan manapun.
(2). PPATK bertanggung jawab kepada Presiden.
(3). Setiap orang dilarang melakukan segala bentuk campur tangan terhadap
pelaksanaan tugas dan kewenagan PPATK.
(4). PPATK wajib menolak dan/mengabaikan segala bentuk camput tangan dari pihak
manapun dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewenangannya.

Penjelasan Pasal 37 menyatakan yang dimaksud dengan independen adalah bebas


dari intervensi dari pihak manapun. Supaya lebih meyakinkan, UU ini menegaskan pula di
dalam ayat berikutnya bahwa lembaga ini yang diwakili oleh kepala dan wakil kepalanya
untuk menolak campur tangan pihak lain. Jika membaca ketentuan Pasal 37 di atas,
jelas sekali bahwa PPATK adalah suatu lemabaga yang otonom. Sebagai lembaga yang
bersifat otonom, badan ini mempunyai kapasitas yang penuh untuk mewakili dirinya
baik di dalam maupun di luar pengadilan, hal ini tercantum dalam Pasal 28. Dalam masalah
yang berhubungan dengan kedudukan perdata atau kepentingan anggaran rumah tangga
instansinya, badan ini memiliki kedudukan penuh untuk mewakili dirinya, baik di
pengadilan atau dalan kepentingan lainnya. Sebagaimana dikatakan pada awal
pembahasan tentang PPATK ini bahwa PPATK adalah merupakan suatu lembaga yang
bertujuan untuk mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang, maka dapatlah
dikatakan bahwa PPATK sebenarnya adalah pemegang peranan kunci dari mekanisme
pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia.
Mengapa dikatakan bahwa PPATK sebagai pemegang peranan kunci dari mekanisme
pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia? Ini dikarenakan apabila PPATK
tidak menjalankan fungsinya, artinya bersikap pasif, atau tidak menjalankan fungsinya
dengan benar, maka efektifitas dari pelaksanaan UU ini tidak akan tercapai. PPATK ini
dibentuk dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang. PPATK adalah lembaga independen di
bawah Presiden RI yang disahkan dalam UU NO. 8 Tahun 2010. Lembaga ini mempunyai
fungsi:
1. Mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.
2. Mengelola data dan informasi yang diperoleh PPATK.
11 Indonesia, Op,Cit, pasal 37
6
3. Mengawasi kepatuhan pihak pelapor12
PPATK adalah merupakan administrative model yang merupakan lembaga independen
yang bertanggungjawab kepada Presiden.13

Selanjutnya dalam Pasal 38 dijelaskan bahwa PPATK berkedudukan di Ibukota Negara


Kesatuan Republik Indonesia. Dan dalam hal diperlukan, perwakilan PPATK dapat dibuka di
daerah.
C. Tugas, Fungsi dan Wewenang PPATK

Dalam Pasal 39 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan


Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, menetapkan PPATK mempunyai tugas
mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. Peran PPATK yang berfungsi
sebagai financial intellegence unit (FUI) di Indonesia juga memiliki tugas dan wewenang
khusus serta sumber daya manusia yang dimiliki. Pasal 26 Undang-Undang Nomor 8 Tahun
2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU menetapkan bahwa tugas pokok PPATK
yaitu14 :
1. Mengumpul, menyimpan, menganalisis, mengevaluasi informasi yang diperoleh
oleh PPATK sesuai dengan Undang-undang ini;
2. Memantau catatan dalam buku daftar pengecualian yang dibuat oleh Penyedia Jasa
Keuangan;
3. Membuat pedoman mengenai tatacara pelaporan transaksi keuangan mencurigakan;
4. Memberikan nasehat dan bantuan kepada instansi yang berwenang tentang informasi
yang diperoleh oleh PPATK sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang ini;
5. Mengeluarkan pedoman dan publikasi kepada Penyedia Jasa Keuangan tentang
kewajibannya yang ditentukan dalam undang-undang ini atau dengan peraturan
perundang-undangan lain, dan membantu mendeteksi perilaku nasabah yang
mencurigakan;
6. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya-upaya pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana pencucian uang;

12 Phillips Darwin, Op.Cit, hlm.84


13 Yunus Husein, PPATK: Tugas, Wewenang Dan Peranannya Dalam Memberantas Tindak PidanaPencucian
Uang, (Jurnal Hukum Bisnis, Vool.22 No. 3 Tahun 2003, Jakarta, )hlm. 25.

14 http://www.komisikepolisianindonesia.com/main.php?page=ruu&id=146, diakses Senin 5


Desember 2016
7
7. Melaporkan hasil analisis transaksi keuangan yang berindikasi tindak pidana
pencucian uang kepada Kepolisian dan Kejaksaan;
8. Membuat dan memberikan laporan mengenai analisis transaksi keuangan dan
kegiatan lainnya secara bekala 6 (enam) bulan sekali kepada Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat, dan Lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap
Penyedia Jasa Keuangan; dan
9. Memberikan informasi kepada publik tentang kinerja kelembagaan sepanjang
pemberian informasi tersebut tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.

Dalam melaksanakan tugasnya, PPATK mempunyai fungsi sebagai berikut berdasarkan


Pasal 40 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010, yaitu : 15
1. pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang;
2. pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK;
3. pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor;
4. analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi Transaksi Keuangan yang berindikasi
tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana lain (''predicate crimes'').
Dalam melaksanakan fungsi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian
uang, PPATK mempunyai wewenang sebagai berikut berdasarkan Pasal 41 Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2010, yaitu :16
(1) Dalam melaksanakan fungsi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian
Uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf a, PPATK berwenang:
a. meminta dan mendapatkan data dan informasi dari instansi pemerintah dan/atau
lembaga swasta yang memiliki kewenangan mengelola data dan informasi, termasuk
dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang menerima laporan dari profesi
tertentu;
b. menetapkan pedoman identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan;
c. mengoordinasikan upaya pencegahan tindak pidana Pencucian Uang dengan instansi
terkait;
d. memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya pencegahan tindak
pidana Pencucian Uang;
e. mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi dan forum internasional
yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian
Uang;
f. menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan antipencucian uang; dan

15 Indonesia, Loc.Cit, Pasal 40


16 Indonesia, Ibid, Pasal 41
8
g. menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
Pencucian Uang.
(2) Penyampaian data dan informasi oleh instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta
kepada PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikecualikan dari ketentuan
kerahasiaan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian data dan informasi oleh
instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Kemudian dalam Pasal 42 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 mengatur kewenangan


PPATK sebagai berikut : Dalam melaksanakan fungsi pengelolaan data dan informasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b, PPATK berwenang menyelenggarakan sistem
informasi. Pada Pasal Pasal 43 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 mengatur kewenangan
PPATK sebagai berikut :17
Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf c, PPATK berwenang:
a. menetapkan ketentuan dan pedoman tata cara pelaporan bagi Pihak Pelapor;
b. menetapkan kategori Pengguna Jasa yang berpotensi melakukan tindak pidana
Pencucian Uang;
c. melakukan audit kepatuhan atau audit khusus;
d. menyampaikan informasi dari hasil audit kepada lembaga yang berwenang melakukan
pengawasan terhadap Pihak Pelapor;
e. memberikan peringatan kepada Pihak Pelapor yang melanggar kewajiban pelaporan
f. merekomendasikan kepada lembaga yang berwenang mencabut izin usaha Pihak
Pelapor; dan
g. menetapkan ketentuan pelaksanaan prinsip mengenali Pengguna Jasa bagi Pihak
Pelapor yang tidak memiliki Lembaga Pengawas dan Pengatur

Pasal 44 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 mengatur kewenangan PPATK sebagai


berikut :18
(1) Dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf d, PPATK dapat:
a. meminta dan menerima laporan dan informasi dari Pihak Pelapor;
b. meminta informasi kepada instansi atau pihak terkait;

17 Indonesia, Ibid, Pasal 43


18 Indonesia, Ibid, Pasal 44
9
c. meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan pengembangan hasil analisis
PPATK;
d. meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan permintaan dari instansi
penegak hukum atau mitra kerja di luar negeri;
e. meneruskan informasi dan/atau hasil analisis kepada instansi peminta, baik di dalam
maupun di luar negeri;
f. menerima laporan dan/atau informasi dari masyarakat mengenai adanya dugaan
tindak pidana Pencucian Uang;
g. meminta keterangan kepada Pihak Pelapor dan pihak lain yang terkait dengan dugaan
tindak pidana Pencucian Uang;
h. merekomendasikan kepada instansi penegak hukum mengenai pentingnya melakukan
intersepsi atau penyadapan atas informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
i. meminta penyedia jasa keuangan untuk menghentikan sementara seluruh atau
sebagian Transaksi yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana;
j. meminta informasi perkembangan penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh
penyidik tindak pidana asal dan tindak pidana Pencucian Uang;
k. mengadakan kegiatan administratif lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab
sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini; dan
l. meneruskan hasil analisis atau pemeriksaan kepada penyidik.

Pasal 44 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 menegaskan bahwa dalam melaksanakan


kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010,
terhadap PPATK tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan dan kode etik yang
mengatur kerahasiaan.

10