Anda di halaman 1dari 2

Dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang sebuah teknik pemeriksaan pendengaran

objektif yang dapat menentukan ambang dengar pada frekuensi tertentu secara spesifik, yaitu
auditory steady-state response (ASSR). Pemeriksaan tersebut merupakan pemeriksaan
elektrofisiologis terhadap respons sistem pendengaran berupa gelombang di otak yang
dibangkitkan oleh stimulasi suara. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan ambang
dengar dengan teknik ASSR ini lebih cepat karena dapat secara simultan memeriksa empat
frekuensi masing-masing pada kedua telinga. ASSR dapat memberikan informasi frekuensi
spesifik dibandingkan click ABR yang telah lebih dulu dikenal luas. Dengan pemeriksaan
ASSR intensitas dapat diberikan sampai 127,8 dB, sehingga dapat mengidentifikasi ambang
dengar pada subjek dengan gangguan pendengaran sangat berat atau dengan kata lain dapat
menentukan sisa pendengaran. Pemeriksaan ASSR tidak dipengaruhi oleh soundfield speaker
atau hearing aid amplifier karena respons pada ASSR sifatnya steady-state dan stimulusnya
simultan, sehingga ASSR dapat digunakan untuk memperkirakan ambang dengar pada pasien
implan koklea atau untuk kepentingan pemasangan alat bantu dengar. Kelemahan
pemeriksaan ASSR ini adalah tidak dapat menentukan lokasi lesi dan belum banyak data
yang dipublikasikan mengenai pemeriksaan hantaran tulang. Sampai saat ini penelitian
mengenai ASSR masih banyak dilakukan di sentra-sentra pendengaran terkemuka, namun
belum ada data mengenai sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan ini.

Auditory Steady State Response (ASSR)


Dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang sebuah teknik pemeriksaan pendengaran
objektif yang dapat menentukan ambang dengar pada frekuensi tertentu secara spesifik, yaitu
auditory steady-state response (ASSR). Pemeriksaan tersebut merupakan pemeriksaan
elektrofisiologis terhadap respons sistem pendengaran berupa gelombang di otak yang
dibangkitkan oleh stimulasi suara. Dengan ASSR dapat dibuat prediksi atau estimasi
audiometri (predicting audiometry) atau evoked potential audiometry karena dapat
memberikan gambaran audiogram pada bayi dan anak. Hal ini dimungkinkan karena ASSR
memberikan informasi ambang pendengaran pada frekuensi spesifik secara otomatis dan
simultan, yaitu pada frekuensi 500, 1.000, 2.000 dan 4.000 Hz. Bila perlu dapat di setting
untuk frekuensi lainnya.
Stimulasi berupa bunyi modulasi yang kontinu berupa AM (Amplitude Modulation) dan FM
(Frequency Modulated) melalui insert phone. Intensitas stimulus dapat mencapai 127 dB HL.
Selain dapat memberikan informasi ambang pendengaran, ASSR sangat bermanfaat untuk
fitting alat bantu dengar pada bayi dan menilai sisa pendengaran sebagai pertimbangan untuk
implantasi koklea. Kelemahan pemeriksaan ASSR ini adalah tidak dapat menentukan lokasi
lesi dan belum banyak data yang dipublikasikan mengenai pemeriksaan hantaran tulang.
Sampai saat ini penelitian mengenai ASSR masih banyak dilakukan di sentra-sentra
pendengaran terkemuka, namun belum ada data mengenai sensitivitas dan spesifisitas
pemeriksaan ini.
Gambar 17. Auditory Steady State Response