Anda di halaman 1dari 7

abortus inkomplit

2.1.1 Abortus
Istilah Abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan. Banyak kepustakaan menetapkan batasan berbeda tentang
Abortus dari segi usia kehamilan yaitu antara lain :
1. Abortus diartikan sebagai berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat akibat tertentu) pada atau
sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah ke hamilan belum mampu hidup di luar
kandungan ( Ika Pantikawati.2010)
2. Abortus adalah Keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat
badan kurang dari 1000 gr atau umur kehamilan kurang dari 28 minggu (yeyeh, 2010).
2.1.2 Klasifikasi abortus
Menurut ika pantikawati (2010, hal 125), abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:

1. Menurut terjadinya abortus dibedakan menjadi :


1) Abortus spontan

Adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi luar (buatan) untuk mengakhiri
kehamilan tersebut.
2) Abortus Provokatus

Adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri
proses kehamilan. Biasanya karena kehamilan yang tidak diinginkan. Abortus provokatus terdiri
dari abortus mediasinalis dan abortus kriminalis.

2. Menurut gambaran klinis, dibedakan atas:


1)Abortus Iminens

Terjadinya pendarahan uterus pada kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu, janin
masih dalam uterus, tanpa adanya dilatasi servik. (yulia fauziyah 2012)
2)Abortus Insipiens
Peristiwa peradangan uterus pada kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu dengan
adanya dilatasi servik.
3)Abortus Inkomplit

Pengeluaran sebagian janin pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa
dalam uterus.Pada pemeriksaan vagina servikalis terbuka dan jaringan dapat di raba dalam
kafum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Pendarahan tidak
akan berhenti sebelum sisa janin di keluarkan, dapat menyebabkan shok.
4)Abortus Komplit

Merupakan seluruh hasil konsepsi telah keluar dari uterus pada kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Semua hasil konsepsi telah dikeluarkan, ostium
uteri telah menutup, uterus telah mengecil sehingga pendarahan sedikit.
5)Missed Abortion

Abortus yang ditandai dengan embrio atau janin yang telah meninggal dalam kandungan
sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih ada di dalam kandungan.

Penderita biasanya tidak merasa keluhan apapun kecuali merasakan pertumbuhan


kehamilannya tidak seperti yang diharapkan.Bila kehamilan di atas 14 minggu 20 minggu
penderita justru merasakan rahimnya semakin mengecil dengan tanda-tanda kehamilan sekunder
pada payudara mulai menghilang.
6)Abortus infeksi dan abortus septik

Abortus infeksi adalah abortus yang disertai dengan infeksi genital. Kejadian ini
merupakan salah satu komplikasi tindakan abortus yang paling sering terjadi apalgi bila
dilakukan kurang memperhatikanasepsis dan antisepsis. Abortus septik, adalah abortus yang
disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ataupun toksinya kedalam peredaran darah atau
peritonium.
7) Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut-turut atau lebih. Penderita pada umumnya
tidak sulit untuk menjadi hamil kembali tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran secara
berturut-turut.
2.1.3 Penyebab Terjadinya Abortus

Penyebab abortus menurut Rukiyah (2010) antara lain adalah :

1. Faktor janin

Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik, gangguan pertumbuhan zigot, embrio,
janin atau plasenta.

2. Faktor ibu

Faktor endokrin (hormonal), faktor kekebalan, infeksi kelemahan otot leher rahim, kelainan
bentuk rahim.

3. Faktor bapak

Kromosom dan infeksi sperma

4. Faktor genetik

Penyebab yang paling sering menimbulkan abortus spontan adalah abnormalitas kromosom pada
janin, abnormalitas genetik, yang paling sering terjadi adalah aneoploidi (abnormalitas komposisi
kromosom).

5. Faktor psikologi

Tingkat kepekaan terhadap terjadinya abortus adalah wanita yang belum matang secara emosi
atau jiwa.

6. Faktor nutrisi

Malnutrisi umum nya yang sangat berat memiliki kemungkinan paling besar terjadinya
predisposisi abortus. (Rukiyah, 2010)
2.1.4 Patofisiologis

Pada awal abortus terjadi pendarahan dalam desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan
sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing di uterus. Kemudian
uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8
minggu, vili korialis belum menembus desidua secara mendalam, jadi hasil konsepsi dapat
dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8-14 minggu, villi korialis sudah menembus lebih
dalam hingga plasenta tidak dapat dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak pendarahan.
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin janin dikeluarkan terlebih dahulu dari pada plasenta.
Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau tampak
didalamnya benda kecil tanpa tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum). ( yeyeh rukiyah2010 )

2.1.5 Manifestasi klinis Abortus Inkomplit

manifestasi klinis abortus inkomplit antara lain sebagai berikut :

A. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.

B. PP Test positif

C. Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah
normal atau menurun, denyut nadi normal, atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau
meningkat.

D. Pendarahan pervaginam, pendarahan yang bisa sedikit atau banyak biasanya berupa darah beku,
sudah ada keluar jaringan.

E. Rasa mulas atau nyeri perut di darerah atas simfisis, sering di sertai nyeri pinggang akibat
kontraksi uterus, kadang nyeri digambarkan menyerupai nyeri saat persalinan. (Nugroho, 2012)

2.1.6 Pemeriksaan ginekologi:

Pemeriksaan ginekologi abortus inkomplit antara lain sebagai berikut :

A. Inpeksi vulva: pendarahan pervaginam, ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak
bau busuk dari vulva.
B. Inspekulo: pendarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak
jaringan yang keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.

C. Colok vagina: porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum
uteri, besar uteri lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang. ( Nugroho,
2012 )

2.1.7 Pemeriksaan penunjang Abortus Inkomplit

Menurut Sujiyatini ( 2009 ), pemeriksaan penunjang abortus inkomplit yaitu USG. USG
kehamilan untuk mendeteksi adanya sisa kehamilan. Pada USG didapatkan endometrium yang
tipis.

2.1.8 Komplikasi Abortus Inkomplit

Komplikasi Abortus menurut Sujiyati, ( 2009) antara lain sebagai berikut :

A. Pendarahan
Diatasi dengan pengosongan uterus dan sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian
transfusi darah. Kematian yang disebabkan oleh perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan
tidak diberikan pada waktunya.

B. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jikaterjadi peristiwa penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya,
perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk peforasi, penjahitan luka
operasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam
menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan lebih luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada
kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan terjadinya perforasi, laparatomi harus segera
dilakukan untuk menentukan luasnya cidera ,untuk selanjutnya mengambil tindakan seperlunya
guna mengatasi komplikasi.
C. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan
abortus inkomplit yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman.
D. Shok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (shok hemoragik) dan karena infeksi berat
(shok endoseptik).
2.1.9 Diagnosis Abortus

Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang
pendarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, rasa mules. kecurigaan tersebut
diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dengan tes
kehamilan secara biologis atau imunologik. Harus diperhatikan macam dan banyaknya
pendarahan, pembukaan serviks dan adanya jaringan dalam kavum uteri atau vagina ( Sujiyatini,
2009 ).

Abortus inkomplit pendarahan biasanya masih terjadi jumlahnya pun bisa banyak atau
sedikit tergantung pada jaringan yang tersisa dan membbahayakan ibu. Servik terbuka karena
masih ada benda didalam rahim yang dianggap sebagai benda asing. Oleh karena itu, uterus akan
berusaha mengeluarkannyadengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri. Besar
uterus lebih kecil dari umur kehamilan dan kantong gastasi sudah sulit dikenali. ( Ika Pantika,
2010 )

2.1.10 Penanganan Umum Abortus

Menurut sujiyanti (2009), Penanganan umum abortus antara lain sebagai berikut:
A. Riwayat penyakit dahulu
1. Kapan abortus terjadi, apakah pada trimester pertama atau pada trimester berikutnya. Adakah
penyebab mekanis yang menonjol.
2. Mencari kemungkinan adanya toksin, lingkungan dan pecandu obat terlarang.
3. Infeksi obstetrik dan ginekologi.
4. Faktor genetik antara suami dan istri.
5. Riwayat keluarga yang pernah mengalami terjadinya abortus berulang atau sindrom yang
berkaitan dengan kejadian abortus ataupun partus prematurus yang kemudian meninggal.
6. Pemeriksaan diagnostik yang terkait dan pengobatan yang pernah didapat.
B. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan fisik secara umum.
2. Pemeriksaan ginekolgi.
3. Pemeriksaan labolatorium.
4. kariotik darah tepi dari kedua orang tua.
5. Histerosangografi diikuti dengan histeroskopi atau laparaskopi apabila ada indikasi.
6. Biopsy endometrium pada fase luteal.
7. Pemeriksaan hormon TSH dan antibody anti tiroid.
8. Antibody antifosfolipid (cardiolipin, fosfatidilserin).
9. Lupus antikoagulan .
10. Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit.
11. Cultur cairan serviks (mycoplasma, ureaplasma, chylamydia) bila diperlukan.