Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

Kesehatan indera pendengaran merupakan syarat penting bagi upaya peningkatan kualitas
sumber daya manusia karena sebagian besar infomasi diserap melalui proses mendengar yang
baik. Periode kritis perkembangan pendengaran dan berbicara dimulai dalam 6 bulan pertama
kehidupan dan terus berlanjut sampai usia 2 tahun. Proses belajar mendengar bagi bayi dan anak
sangat kompleks dan bervariasi karena menyangkut aspek tumbuh kembang, perkembangan
embriologi, anatomi, fisiologi, neurologi, dan audiologi.1,2

Gangguan pendengaran pada bayi dan anak kadang-kadang disertai keterbelakangan


mental, gangguan emosional maupun alasia perkembangan. Gangguan pendengaran dibedakan
menjadi tuli sebagian (hearing impaired) dan tuli total (deaf). Tulli sebagian (hearing impaired)
adalah keadaan fungsi pendengaran berkurang namun masih dapat dimanfaatkan untuk
berkomunikasi dengan atau tanpa bantuan alat bantu dengar, sedangkan tuli total (deaf) adalah
keadaan fungsi pendengaran yang sedemikian terganggunya sehingga tidak dapat berkomunikasi
sekalipun mendapat perkerasan bunyi (amplikasi).2

Mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi tidak mudah, gangguan pendengaran sering
diabaikan karena orang tua tidak langsung sadar anaknya menderita gangguan, kadang-kadang
anak dianggap sebagai anak autis atau hiperaktif karena sikapnya yang sulit diatur. Orang tua
baru menyadari adanya gangguan pendengaran pada anak bila tidak ada respons terhadap suara
keras atau belum/terlambat berbicara. Oleh karena itu informasi dari orang tua sangat bermanfaat
untuk mengetahui respons anak terhadap suara dilingkungan rumah, kemampuan vokalisasi dan
cara mengucapkan kata.1

Gangguan pendengaran pada anak perlu dideteksi sedini mungkin mengingat pentingnya
peranan fungsi pendengaran dalam proses perkembangan bicara. Identifikasi gangguan
pendengaran secara dini dengan cara mengamati reaksi anak terhadap suara atau tes fungsi
pendengaran dengan metode dan peralatan yang sederhana. Saat ini sudah banyak metode untuk
menilai fungsi pendengaran anak. Tes pendengaran pada anak tidak bisa ditunda hanya dengan
alasan usia anak belum memungkinkan untuk dilakukan tes pendengaran. Tanpa program
skrining pendengaran, gangguan pendengaran baru diketahui pada usia 18 24 bulan.1
BAB II
ISI
2.1 Definisi
Skrining (penapisan) adalah deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha untuk
mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas dengan menggunakan
test, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan
orang-orang yang kelihatannya sehat tetapi sesungguhnya menderita suatu kelainan. Test
skrining dapat dilakukan dengan pertanyaan (anamnesa), pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium.3
Skrining gangguan pendengaran pada anak merupakan Identifikasi gangguan
pendengaran secara dini dengan cara mengamati reaksi anak terhadap suara atau tes fungsi
pendengaran dengan metode dan peralatan yang sederhana.1

2.2 Epidemiologi
Kasus kehilangan pendengaran cukup tinggi di Indonesia. Sekitar 4000-5000 bayi di
Indonesia lahir setiap tahunnya. Berdasarkan survei Multi Center Study di Asia Tenggara,
beberapa negara mempunyai termasuk dalam 4 negara dengan prevalensi gangguan pendengaran
cukup tinggi yaitu 4,6% di Indonesia, sedangkan 3 negara lainnya yaitu Srilanka (8,8%),
Myanmar (8,4%), dan India (6,3%).4
Di Indonesia, angka kejadian diasabilitas bicara dan suara pada kelompok umur 1-4 tahun
adalah 3,0%. Sedangkan prevalensi disabilitas bicara dan suara pada kelompok umur 5-14 tahun
adalah 0,6%. Survei yang dilakukan di 7 provinsi di Indonesia pada tahun 1994-1996
menunjukkan angka kejadian tuli sejak lahir sebesar 0,1% dari total 19.375 sampel yang
diperiksa. Jadi, terdapat 1-2 anak dengan tuli sejak lahir setiap 1000 kelahiran hidup.5
Merujuk pada Guideline of Universal Newborn Hearing Screening yang dikeluarkan
Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) tahun 2007, pemeriksaan pendengaran pada anak
harus dilakukan sebelum usia 3 bulandan harus diterapi sebelum usia 6 bulan. Pemeriksaan
pendengaran anak sebelum berusia 6 bulan, memiliki pengaruh yang sangat baik terhadap
kehidupan anak. Anak dengan gangguan pendengaran yang dideteksi sebelum berusia 6 bulan
mengalami perkembangan pendengaran dan bicara yang lebih baik daripada anak dengan
gangguan pendengaran yang dideteksi setelah berusia 6 bulan. 6
Kenyataannya di Indonesia, orang tua baru menyadari bahwa anaknya mengalami
gangguan pendengaran saat anak berusia 1-3 tahun. Kenyataan ini berdasarkan data bahwa di
Poliklinik THT-Komunitas RSCM Atmaja (1992-2006) didapatkan 3.087 bayi/anak tuli saraf
berat bilateral terbanyak saat usia 1-3 tahun (43,79%) sedangkan hanya 6,41% yang berusia di
bawah 1 tahun.7