Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PORTOFOLIO JIWA

DEPRESI

Disusun Oleh:
dr. Asti Pramita Sari

Pendamping:
Dr. Hj. Umi Aliyah, MARS

RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN


2016
Nama peserta : dr. Asti Pramita Sari
Nama wahana: Puskesmas Kembangbahu
Topik: Depresi
Tanggal (kasus): 7 Desember 2016
Nama Pasien: Ny. S No. RM: -
Tanggal presentasi: Nama pendamping: 1. dr. Hj.Umi Aliyah,MARS
2. dr. Suhariyanto, Sp.BS
Tempat presentasi: Rumah Sakit Muhammadyah Lamongan
Obyektif presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Ny. S 45 tahun
Tujuan: mengetahui terapi yang tepat
Bahan bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi Email Pos
dan diskusi
Data pasien: Nama: Ny. S Nomor RM: -
Nama klinik: Puskesmas Telp: - Terdaftar sejak: 7 Desember
Kembangbahu 2016
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / gambaran klinis:
Sulit tidur sejak 5 bulan yang lalu yang dirasakan terus-menerus. Keluhan
memberat sejak 1 bulan yang lalu, dimana pasien sudah tidak dapat tidur hingga
pagi hari. Awalnya, 6 bulan yang lalu pasien melakukan pemeriksaan gula darah
di apotik dekat rumah, hasil GDA 200-an, pasien diberitahu menderita DM dan
diharuskan mengurangi asupan makanan dan diberi obat glibenklamid oleh
apoteker tanpa konsultasi dengan dokter. Setelah minum obat glibenklamid
pertama kali, pasien langsung merasa lemas. Kemudian pasien tidak pernah
meminum obatnya lagi dan hanya melakukan cek gula darah ke klinik lain. Dari
5 klinik yang didatangi berikutnya hasil GDA selalu menunjukkan angka
normal dan setelah pasien konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam
pasien dinyatakan tidak memiliki penyakit DM. Namun pasien masih mengaku
sering ketakutan terkena DM sehingga pasien tidak bisa tidur, sering menangis
sendirian dan akhirnya selalu berpikiran bahwa besok akan mati. Pasien juga
mengaku sering pusing pada pagi hari, cepat lesu jika melakukan aktifitas
sehari-hari seperti : memasak, mencuci, mengepel dan nafsu makan pasien juga
berkurang. Menurut suaminya, pasien menjadi selalu sedih dan murung serta
selalu menganggap bahwa dirinya terkena penyakit DM.
2. Riwayat pengobatan: minum racikan dari dokter spesialis syaraf namun tidak tahu isi
obatnya.
3. Riwayat kesehatan / penyakit:
Riw. HT dan DM disangkal.
4. Riwayat keluarga:
HT dan DM disangkal, tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama
dengan pasien.
5. Riwayat Pernikahan :
Pasien baru menikah 1x selama 20 tahun, memiliki 2 anak laki-laki.
6. Riwayat Pekerjaan dan Sosial :
Pasien bekerja sehari-sehari sebagai ibu rumah tangga.
7. Lain-lain:
Status Mental
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan : Seorang wanita umur 45 tahun, wajah sesuai umur, kulit sawo
matang, tinggi badan 155cm, proporsi badan normal, berpakaian rapi muslimah.
2. Kesadaran : Baik
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tenang
4. Pembicaraan : Spontan, lancar, intonasi sedang
5. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

B. Keadaan Afektif (mood), Perasaan, dan Empati, Perhatian :


1. Mood : Murung
2. Afek : Depresi
3. Empati : Dapat diraba rasakan

C. Fungsi Intelektual (kognitif) :


1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : Sesuai dengan taraf
pendidikan
2. Daya konsentrasi : Baik
3. Orientasi (waktu, tempat, dan orang) : Baik
4. Daya ingat : Jangka panjang baik, jangka pendek baik, dan jangka segera baik.
5. Pikiran abstrak : baik
6. Bakat kreatif : tidak ditelusuri
7. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik

D. Gangguan Persepsi :
1. Halusinasi : Tidak ada
2. Ilusi : Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi : Tidak ada

E. Proses Berpikir :
1. Arus pikiran :
a. Produktivitas : Cukup
b. Kontinuitas : Relevan, koheren
c. Hendaya berbahasa : Tidak ada
2. Isi pikiran :
a. Preokupasi : Masalah penyakit pasien
b. Waham : Tidak ada
c. Obsesi : Tidak ada
d. Fobia : Tidak ada
e. Fantasi : Tidak ada

F. Pengendalian Impuls : Cukup

G. Daya Nilai
Norma sosial : Baik
Uji daya nilai : Baik
Penilaian realitas : Baik

H. Tilikan (insight) : Derajat 6 (sadar kalau dirinya sakit dan perlu pengobatan)

I. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya

Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum : pasien tampak gelisah
TB : 155cm
BB : 45kg
Tanda Vital
Nadi : 11 kali/ menit
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Suhu : 36,50 C
Nafas : 18 kali / menit
GCS 456
Kepala Leher : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, sianosis -/-, dispnea -/-,
pembesaran KGB
Thoraks : pergerakan hemithoraks kanan dan kiri simetris, retraksi -/-,
Paru : Bunyi nafas vesikuler/vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
Cor : Bunyi jantung S1, S2 normal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : flat, bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan -
Ekstremitas : anemis -/-, ikterik -/-, edema -/-, akral hangat, kering

Pemeriksaan Laboratorium Darah


GDA 120 mg/dl
Daftar pustaka:
1. Sadock, Benjamin J. Sadock, Virginia A. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis
Edisi 2. 2010. Jakarta:EGC. P.147-168.
2. Maslim, R. Penggunaan Klinisi Obat Psikotropika Edisi 3. Jakarta: PT Nuh Jaya
Hasil pembelajaran:
1. Subyektif : Ny. S 45th datang dengan keluhan utama Sulit tidur sejak 5 bulan yang lalu
yang dirasakan terus-menerus. Keluhan memberat sejak 1 bulan yang lalu, dimana
pasien sudah tidak dapat tidur hingga pagi hari. Awalnya, 6 bulan yang lalu pasien
melakukan pemeriksaan gula darah di apotik dekat rumah, hasil GDA 200-an, pasien
diberitahu menderita DM dan diharuskan mengurangi asupan makanan dan diberi obat
glibenklamid oleh apoteker tanpa konsultasi dengan dokter. Setelah minum obat
glibenklamid pertama kali, pasien langsung merasa lemas. Kemudian pasien tidak
pernah meminum obatnya lagi dan hanya melakukan cek gula darah ke klinik lain. Dari
5 klinik yang didatangi berikutnya hasil GDA selalu menunjukkan angka normal dan
setelah pasien konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam pasien dinyatakan
tidak memiliki penyakit DM. Namun pasien masih mengaku sering ketakutan terkena
DM sehingga pasien tidak bisa tidur, sering menangis sendirian dan akhirnya selalu
berpikiran bahwa besok akan mati. Pasien juga mengaku sering pusing pada pagi hari,
cepat lesu jika melakukan aktifitas sehari-hari seperti : memasak, mencuci, mengepel
dan nafsu makan pasien juga berkurang. Menurut suaminya, pasien menjadi selalu
sedih dan murung serta selalu menganggap bahwa dirinya terkena penyakit DM.
2. Obyektif: Dari status mental, tidak didapatkan hendaya dalam menilai realita, sehingga
digolongkan dalam Gangguan Jiwa Non-Psikotik. Pada pemeriksaan fisik tidak
ditemukan kelainan organobiologik sehingga digolongkan ke dalam Gangguan Jiwa
Non-Organik. Pemeriksaan Status Mental pada pasien ditemukan afek depresif.
Ditemukan pula gejala-gejala berkurangnya energi yang menuju meningkatnya
keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas, nafsu makan berkurang, dan tidur terganggu. Dari gejala di atas, pasien telah
memenuhi 2 dari 3 gejala utama depresi dan ditambah 2 dari gejala lainnya sehingga
dapat digolongkan ke dalam Episode Depresif Ringan (F.32.0). Disamping itu, juga
tampak adanya gejala somatik pada pasien seperti susah tidur dan nafsu makan
berkurang sehingga berdasarkan PPDGJ-III didiagnosis sebagai Episode Depresif
Ringan Dengan Gejala Somatik (F32.01).
3. Assestment: berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang,
dapat ditegakkan diagnosis Episode Depresif Ringan Dengan Gejala Somatik (F32.01).
4. Plan:
a. Rawat Jalan
b. Obat-obatan yang diberikan
Amitryptilin 25 mg 0-0-1
Diazepam tab 2mg-2mg-0
b)Psikoterapi:
-Ventilasi: memberi kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan isi hati dan
keinginannya sehingga pasien merasa lega.
-Konseling: memberikan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar
pasien memahami kondisi dirinya.
Pembelajaran Portofolio
Terapi Depresi :
Pengobatan secara biologis
1. Tricyclic Antidepressants
Obat ini membantu mengurangi gejala-gejala depresi dengan mekanisme mencegah reuptake
dari norephinefrin dan serotonin di sinaps atau dengan cara megubah reseptor-reseptor
dari neurotransmitter norephinefrin dan seroonin. Obat ini sangat efektif, terutama dalam
mengobati gejala-gejala akut dari depresi sekitar 60% pada individu yang mengalami depresi.
Tricyclic antidepressants yang sering digunakan adalah imipramine, amitryiptilene, dan
desipramine.
2. Monoamine Oxidase Inhibitor
Obat lini kedua dalam mengobati gangguan depresi mayor adalah Monoamine Oxidase
Inhibitors. MAO Inhibitors menigkatkan ketersediaan neurotransmitter dengan cara
menghambat aksi dari Monoamine Oxidase, suatu enzim yang normalnya akan melemahkan
atau mengurangi neurotransmitter dalam sambungan sinaptik. MAOIs sama efektifnya dengan
Tricyclic Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan karena secara potensial lebih berbahaya.
3. Selective Serotonine Reuptake Inhibitors and Related Drugs Obat ini mempunyai struktur
yang hampir sama dengan Tricyclic Antidepressants, tetapi SSRI mempunyai efek yang lebih
langsung dalam mempengaruhi kadar serotonin. Pertama SSRI lebih cepat mengobati gangguan
depresi mayor dibandingkan dengan obat lainnya. Pasien-pasien yang menggunakan obat ini
akan mendapatkan efek yang signifikan dalam penyembuhan dengan obat ini. Kedua, SSRI juga
mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan obat-obatan lainnya. Ketiga,
obat ini tidak bersifat fatal apabila overdosis dan lebih aman digunakan dibandingkan dengan
obat-obatan lainnya.

Pengobatan secara psikologikal


1. Terapi Kognitif
Terapi kognitif merupakan terapi aktif, langsung, dan time limited yang berfokus pada
penanganan struktur mental seorang pasien. Struktur mental tersebut terdiri ; cognitive triad,
cognitive schemas, dan cognitive errors.
2. Terapi Perilaku
Terapi perilaku adalah terapi yang digunakan pada pasien dengan gangguan depresi dengan cara
membantu pasien untuk mengubah cara pikir dalam berinteraksi denga lingkungan sekitar dan
orang-orang sekitar. Terapi perilaku dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, sekitar 12
minggu.
3. Terapi Interpersonal
Terapi ini didasari oleh hal-hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal seorang individu,
yang dapat memicu terjadinya gangguan mood. Terapi ini berfungsi untuk mengetahui stressor
pada pasien yang mengalami gangguan, dan para terapis dan pasien saling bekerja sama untuk
menangani masalah interpersonal tersebut

Pendamping, Pendamping,
(dr. H.U mi Aliyah,MARS) (dr. Suhariyanto, Sp.BS)