Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah matakuliah Pemodelan Dan Evaluasi Cadangan
ini dengan judul SNI 1998 Klasifikasi Sumberdaya Dan Cadangan. Terima kasih penulis
kepada Bapak Haqul Baramsyah, S.T., M Eng.Sc. selaku dosen pengasuh matakuliah Pemodelan
Dan Evaluasi yang telah membimbing. Tak lupa pula terimakasih kami kepada teman-teman
seperjuangan mahasiswa teknik pertambangan Universitas Syiah Kuala yang mengambil
matakuliah yang sama.

Laporan ini disusun bertujuan tak hanya memenuhi tugas matakuliah ini, tetapi juga agar
mengetahui isi dari SNI 1998 tentang Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan, tujuan dari
klasifikasi dan untuk lebih memahami permasalahan mengenai sumberdaya dan cadangan yang
ada di Indonesia.

Tetapi penulis menyadari bahwa didalam laporan ini masih terdapat banyak kekurangan.
Maka dari itu penulis berharap adanya saran dan kritikan yang bersifat membangun sehingga
penulis kedepannya dapat menulis laporan lebih baik lagi. Besar harapan penulis agar laporan ini
dapat bermanfaat untuk banyak orang.

Banda Aceh, 28 Februari 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................................i

Daftar Isi................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................4

1.1 Latar Belakang...........................................................................................................

1.2 Tujuan........................................................................................................................

BAB II DASAR TEORI........................................................................................................

2.1 Pengertian Mineral Dan Batubara..............................................................................

2.2 Sumberdaya Dan Cadangan.......................................................................................

2.2.1 Sumberdaya Mineral Dan Cadangan................................................................

2.2.2 Sumberdaya Batubara Dan Cadangan..............................................................

2.3 Tujuan Pengklasifikasian...........................................................................................

2.4 Dasar Klasifikasi Dan Persyaratan.............................................................................

2.4.1 Mineral..............................................................................................................

2.4.2 Batubara............................................................................................................

BAB III PEMBAHASAN......................................................................................................

3.1 Tahap Eksplorasi Menurut SNI 1998.........................................................................

3.2 Kelas Sumberdaya Dan Cadangan Menurut SNI 1998..............................................

3.3 Sumberdaya Mineral..................................................................................................

3.3.1 Pengkajian Kelayakan Tambang.......................................................................

3.3.2 Faktor Pengkajian Layak Tambang dan Persyaratannya..................................

3.4 Sumberdaya Batubara................................................................................................

2
3.4.1 Tipe endapan batubara dan kondisi geologi......................................................

3.4.2 Batubara energy rendah....................................................................................

3.4.3 Batu bara energy tinggi.....................................................................................

3.5 Persyaratan Sumberdaya Batubara Berhubungan dengan Aspek Ekonomi.............

BAB IV PENUTUP...............................................................................................................

4.1 Kesimpulan................................................................................................................

4.2 Saran..........................................................................................................................

Daftar Pustaka........................................................................................................................

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Endapan mineral (bahan tambang) merupakan salah satu kekayaan alam yang
berpengaruh dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu upaya untuk mengetahui kuantitas
dan kualitas endapan mineral itu hendaknya selalu diusahakan dengan tingkat kepastian yang
lebih tinggi, seiring dengan tahapan eksplorasinya. Semakin lanjut tahapan eksplorasi, semakin
besar pula tingkat keyakinan akan kuantitas dan kualitas sumber daya mineral dan cadangan.
Batu bara merupakan bahan galian yang strategis dan salah satu bahan baku energi nasional yang
mempunyai peran yang besar dalam pembangunan nasional. Informasi mengenai sumber daya
dan cadangan batu bara menjadi hal yang mendasar di dalam merencanakan strategi
kebijaksanaan energi nasional.
Di Indonesia, masalah yang ada adalah belum terwujudnya klasifikasi sumber daya dan
cadangan yang baku sehingga berbagai pihak baik instansi pemerintah maupun perusahaan
pertambangan menggunakan klasifikasi secara sendiri-sendiri, klasifikasi yang dianggap paling
sesuai dengan sifat-sifat endapan mineralnya dan kebijakasanaan yang ada di perusahaan
tersebut. Berkenaan dengan kenyataan tersebut diatas, Pemerintah Indonesia dalam hal ini
Departemen Pertambangan dan Energi memandang perlu untuk menyusun suatu klasifikasi baku
yang bisa digunakan untuk mengelompokkan jenis-jenis sumberdaya dan cadangan serta
menentukan kriteria yang digunakan untuk pengelompokan itu yaitu Standar Nasional Indonesia
(SNI) Amandemen 1 - SNI 13-4726-1998.

1.2 Tujuan
Memenuhi tugas Pemodelan dan Evaluasi Cadangan
Mengetahiu isi dari Standar Nasional Indonesia (SNI) 1998.
Mampu membedakan sumberdaya mineral dan sumberdaya batubara, serta
menganalisis cadangnya.

4
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pengertian Mineral dan Batubara

a. Pengertian Batubara

Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan
sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa
tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan.

b. Pengertian Mineral

Mineral adalah padatan senyawa kimia homogen, non-organik, yang memiliki


bentuk teratur (sistem kristal) dan terbentuk secara alami

2.2 Tujuan Pengklasifikasian

Cara penggolongan sumber daya dan cadangan di Indonesia masih beragam


sehingga dirasakan perlu untuk membuat suatu standar yang dapat digunakan sebagai
pedoman di dalam pengklasifikasian sumber daya dan cadangan Indonesia. Departemen
Pertambangan dan Energi memandang perlu untuk menyusun suatu klasifikasi baku yang
bisa digunakan untuk mengelompokkan jenis-jenis sumberdaya dan cadangan serta
menentukan kriteria yang digunakan untuk pengelompokan itu. Dengan demikian, standar
ini diharapkan dapat menghindari kerancuan dalam menafsirkan berbagai istilah dan
pengertian yang berkenaan dengan sumber daya dan cadangan batu bara Indonesia.

2.3 Sumber daya dan Cadangan

a. Sumber daya Mineral dan Cadangan

Pengertian Sumber Daya Mineral (Mineral Resource)

Endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata.


Sumber daya mineral dengan keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi

5
cadangan setelah dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi
kriteria layak tambang.

Pengertian Cadangan (Reserve)

Endapan mineral yang telah diketahui ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas


dan kualitasnya dan yang secara ekonomis, teknis, hukum, lingkungan dan sosial
dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan.

b. Pengertian Sumber daya Batubara dan Cadangan

Pengertian Sumber daya Batubara

Bagian dari endapan batu bara yang diharapkan dapat dimanfaatkan.


Sumber daya batu bara ini dibagi dalam kelaskelas sumber daya berdasarkan
tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi
geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi.
Sumberdaya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan
kajian kelayakan dinyatakan layak.

Pengertian Cadangan Batubara (Reserve)

Bagian dari sumber daya batu bara yang telah diketahui dimensi,
sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan di
nyatakan layak untuk ditambang.

2.4 Dasar Klasifikasi dan Persyaratan

2.4.1 Dasar Klasifikasi Mineral

Tingkat keyakinan geologi ditentukan oleh 4 tahap eksplorasi, yaitu :


a) Survai tinjau
b) Prospeksi
c) Eksplorasi umum
d) Eksplorasi rinci

6
Kegiatan dari a) ke d) menunjukkan makin rincinya penyelidikan, sehingga tingkat
keyakinan geologinya makin tinggi dan tingkat kesalahannya makin rendah.

2.4.2 Dasar Klasifikasi Batubara

Klasifikasi sumber daya dan cadangan batu bara didasarkan pada tingkat
keyakinan geologi dan kajian kelayakan. Pengelompokan tersebut mengandung dua
aspek, yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi.

Aspek Geologi

Berdasarkan tingkat keyakinan geologi, sumber daya terukur harus


mempunyai tingkat keyakinan yang lebih besar dibandingkan dengan sumber
daya tertunjuk, begitu pula sumber daya tertunjuk harus mempunyai tingkat
keyakinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumber daya tereka. Sumber
daya terukur dan tertunjuk dapat ditingkatkan menjadi cadangan terkira dan
terbukti apabila telah memenuhi kriteria layak.

Tingkat keyakinan geologi tersebut secara kuantitatif dicerminkan oleh


jarak titik informasi (singkapan, lubang bor).

Aspek Ekonomi

Ketebalan minimal lapisan batu bara yang dapat ditambang dan ketebalan
maksimal lapisan pengotor atau dirt parting yang tidak dapat dipisahkan pada
saat ditambang, yang menyebabkan kualitas batu baranya menurun karena
kandungan abunya meningkat, merupakan beberapa unsur yang terkait dengan
aspek ekonomi dan perlu diperhatikan dalam menggolongkan sumber daya
batu bara.

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Tahapan Ekplorasi Menurut SNI 1998

Tahap eksplorasi (Exploration Stages) adalah urutan penyelidikan geologi yang


umumnya dilaksanakan melalui 4 tahap sebagai berikut : Survai tinjau, Prospeksi, Eksplorasi
Umum dan Eksplorasi Rinci. Persamaan dari tujuan penyelidikan geologi pada mineral dan
batubara adalah untuk menentukan ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitas dari pada
suatu endapan mineral untuk kemudian dapat dilakukan analisa/kajian kemungkinan
dilakukannya investasi. Sedangkan perbedaan tujuannya adalah pada penyelidikan mineral
dilakukan untuk mengidentifikasi pemineralan (mineralization) dan penyelidikan batubara
dilakukan untuk mengindentifikasi keterdapatan dan keberadaan dari batubara.

3.1.1 Survey Tinjau (Reconnaissance)


a. Survey Tinjau Mineral
Survai Tinjau mineral adalah tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-
daerah yang berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional terutama
berdasarkan hasil studi geologi regional, di antaranya pemetaan geologi regional,
pemotretan udara dan metoda tidak langsung lainnya, dan inspeksi lapangan
pendahuluan yang penarikan kesimpulannya berdasarkan ekstrapolasi. Tujuannya
adalah untuk mengidentifikasi daerah-daerah anomali atau mineralisasi yang prospektif
untuk diselidiki lebih lanjut.
b. Survey Tinjau Batubara
Survei tinjau barutaba merupakan tahap eksplorasi batu bara yang paling awal
dengan tujuan mengindentifikasi daerahdaerah yang secara geologis mengandung
endapan batu bara yang berpotensi untuk diselidiki lebih lanjut serta mengumpulkan
informasi tentang kondisi geografi, tata guna lahan, dan kesampaian daerah.
Kegiatannya, antaralain, studi geologi regional, penafsiran penginderaan jauh, metode
tidak langsung lainnya, serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta
dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1:100.000

8
3.1.2 Prospeksi (Prospecting)
a. Prospeksi Mineral
Prospeksi mineral adalah tahap eksplorasi dengan jalan mempersempit daerah
yang mengandung endapan mineral yang potensial. Metoda yang digunakan adalah
pemetaan geologi untuk mengidentifikasi singkapan, dan metoda yang tidak langsung
seperti studi geokimia dan geofisika. Paritan yang terbatas, pemboran dan pencontohan
mungkin juga dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi suatu endapan
mineral yang akan menjadi target eksplorasi selanjutnya. Estimasi kuantitas dihitung
berdasarkan interpretasi data geologi, geokimia dan geofisika.
b. Prospeksi Batubara
Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk membatasi daerah sebaran endapan batu
bara yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. Kegiatan yang dilakukan pada
tahap ini, di antaranya, pemetaan geologi dengan skala minimal 1:50.000, pengukuran
penampang stratigrafi, pembuatan paritan, pembuatan sumuran, pemboran uji (scout
drilling), pencontohan, dan analisis. Metode eksplorasi tidak langsung, seperti
penyelidikan geofisika, dapat dilaksanakan apabila dianggap perlu.

3.1.3 Eksplorasi Umum (General Exploration)


a. Eksplorasi Umum Mineral
Tahap ini merupakan deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi.
Metoda yang digunakan termasuk pemetaan geologi, pencontohan dengan jarak yang
lebar, membuat paritan dan pemboran untuk evaluasi pendahuluan kuantitas dan
kualitas dari suatu endapan. Interpolasi bisa dilakukan secara terbatas berdasarkan
metoda penyeledikan tak langsung. Tujuannya untuk menentukan gambaran geologi
suatu endapan mineral berdasarkan indikasi sebaran, perkiraan awal mengenai ukuran,
bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya. Tingkat ketelitian sebaiknya dapat
digunakan untuk menentukan apakah studi kelayakan tambang dan eksplorasi rinci
diperlukan.
b. Eksplorasi Umum Batubara
Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga-
dimensi endapan batu bara yang meliputi ketebalan lapisan, bentuk, korelasi, sebaran,

9
struktur, kuantitas dan kualitas. Kegiatan yang dilakukan antaralain, pemetaan geologi
dengan skala minimal 1:10.000, pemetaan topografi, pemboran dengan jarak yang
sesuai dengan kondisi geologinya, penampangan (logging) geofisika, pembuatan
sumuran/paritan uji, dan pencontohan yang andal. Pengkajian awal geoteknik dan
geohidrologi dimulai dapat dilakukan.

3.1.4 Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration)


a. Eksplorasi Rinci Mineral
Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) adalah tahap eksplorasi untuk
mendeliniasi secara rinci dalam 3-dimensi terhadap endapan mineral yang telah
diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang bor, shafts dan terowongan.
Jarak pencontohan sedemikian rapat sehingga ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan
kualitas dan ciri-ciri yang lain dari endapan mineral tersebut dapat ditentukan dengan
tingkat ketelitian yang tinggi. Uji pengolahan dari pencontohan ruah (bulk sampling)
mungkin di perlukan.
b. Eksplorasi Rinci Batubara
Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta
model tiga-dimensi endapan batu bara secara lebih rinci. Kegiatan yang harus
dilakukan adalah pemetaan geologi dan topografi dengan skala minimal 1:2.000,
pemboran dan pencontohan yang dilakukan dengan jarak yang sesuai dengan kondisi
geologinya, penampangan (logging) geofisika, serta pengkajian geohidrologi dan
geoteknik. Pada tahap ini perlu dilakukan penyelidikan pendahuluan pada batu bara,
batuan, air dan lainnya yang dipandang perlu sebagai bahan pengkajian lingkungan
yang berkaitan dengan rencana kegiatan penambangan yang diajukan.

3.2 Kelas Sumberdaya Dan Cadangan


a. Sumber Daya
Dalam konteks ini suberdaya (Resource) baik itu mineral dan batubara, menurut
Standar Nasional Indonesia (SNI) sumberdaya adalah endapan mineral yang diharapkan
dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumberdaya terbagi lagi menjadi :
Sumberdaya Hipotetik (Hypothetical Resource)

10
Sumberdaya hipotetik (hypothetical resource) adalah jumlah bahan galian
di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang dihitung
berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap
survei tinjau.
Sumberdaya Tereka (inferred Resource)
Sumberdaya tereka (inferred resource) adalah jumlah bahan galian di
daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang dihitung
berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap
prospeksi.
Sumberdaya Tertunjuk (Indicated Resource)
Sumberdaya terunjuk (indicated resource) adalah jumlah bahan galian di
daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang dihitung
berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap
eksplorasi pendahuluan.
Sumberdaya Terukur (Measured Resoured)
Sumberdaya terukur (measured resource) adalah jumlah bahan galian di
daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang dihitung
berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap
eksplorasi rinci.

b. Cadangan
Cadangan (Reserve) menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah endapan
mineral atau batubara yang telah diketahui ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan
kualitasnya dan yang secara ekonomis, teknis, hukum, lingkungan dan sosial dapat
ditambang pada saat perhitungan dilakukan.
Cadangan Terkira (Probable Reserve)
Cadangan terkira (probable reserve) adalah sumberdaya bahan galian
terunjuk dan sebagian sumberdaya bahan galian terukur, tetapi berdasarkan
kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga
penambangan dapat dilakukan secara layak.

Cadangan Terbukti (Proved Reserve )


Cadangan terbukti (proven reserve) adalah sumberdaya bahan galian
terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah
terpenuhi sehingga penambangan dapat dilakukan secara layak.
11
3.3 Sumberdaya Mineral
3.3.1 Pengkajian Kelayakan Tambang
Dalam pengkajian kelayakan tambang ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
diantaranya:
a. Laporan Penambangan (Mining Report)
Laporan Penambangan (Mining Report) adalah dokumentasi mutakhir
mengenai pengembangan suatu endapan mineral termasuk rencana-rencana
penambangan mutakhir. Dalam laporan telah di perhitungkan kuantitas dan
kualitas mineral yang diekstrasi, adanya perubahan harga dan biaya,
perkembangan teknologi terkait, peraturan untuk masalah lingkungan dan
peraturan lainnya serta data eksplorasi yang dilaksanakan bersamaan dengan
penambangan. Laporan tersebut memberikan status mutakhir mengenai sumber
daya mineral dan cadangan secara rincian dan tepat.
b. Studi Kelayakan Tambang (Mine Feasibility Study)
Studi Kelayakan Tambang (mine Feasibility Study) adalah pengkajian
mengenai aspek teknik dan prospek ekonomik dari suatu proyek penambangan,
dan merupakan dasar untuk penentuan keputusan investasi. Kajian ini merupakan
dokumen yang memenuhi syarat dan dapat diterima untuk keperluan analisa bank
(bankable document) dalam kaitannya dengan pelaksanaan investasi atau
pembiayaan proyek. Studi ini meliputi pemeriksaan seluruh informasi geologi
berdasarkan laporan eksplorasi dan faktor-faktor ekonomi, penambangan,
pengolahan, pemasaran, hukum/perundang-undangan, lingkungan, sosial serta
faktor lain yang terkait.

12
c. Layak Tambang
Layak Tambang adalah keadaan yang menunjukkan bahwa berdasarkan
faktor-faktor dalam studi kelayakan tambang telah memungkinkan endapan
mineral dapat ditambang secara ekonomik.
d. Belum Layak Tambang
Belum Layak Tambang adalah keadaan yang menunjukan bahwa salah
satu atau beberapa faktor dalam studi kelayakan tambang belum mendukung
dilakukannya penambangan. Bila faktor tersebut telah mendukungnya, maka
sumberdaya mineral dapat berubah menjadi cadangan.
3.3.2 Faktor Pengkajian Layak Tambang dan Persyaratannya
a. Faktor Pengkajian Layak Tambang
Pengkajian layak tambang meliputi faktor-faktor ekonomi, penambangan,
pemasaran, lingkungan, sosial, dan hukum / perundang-undangan. Untuk
endapan mineral bijih, metalurgi juga merupakan faktor pengkajian layak
tambang.
Pengkajian layak tambang akan menentukan apakah sumber daya mineral
akan berubah menjadi cadangan atau tidak.
Berdasarkan pengkajian ini, bagian sumber daya mineral yang layak
tambang berubah statusnya menjadi cadangan sedangkan yang belum
layak tambang tetap menjadi sumber daya mineral.
b. Persyaratan
Penggolongan ke dalam klas sumber daya mineral dan cadangan harus
memenuhi syarat kriteria yang telah ditentukan.
Setiap klas sumber daya mineral dan cadangan mempunyai tingkat
kesalahan maksimal yang diperbolehkan. Tingkat kesalahan dapat
bervariasi berdasarkan komoditas, tipe endapan dan metoda penghitungan
yang digunakan.
Klasifikasi sumber daya mineral dan cadangan serta tingkat kesalahan
yang dihasilkan dicantumkan dalam laporan dan harus dapat dijelaskan
dalam batasan-batasan yang dapat diterima oleh Panitia/Lembaga Penguji.

13
3.4 Sumberdaya Batubara
3.4.1 Tipe Endapan Batubara dan Kondisi Geologi
Secara umum endapan batubara utama di indonesia terdapat dalam tipe endapan
batubara ombilin, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Bengkulu. Tipe endapan
batubara tersebut masing-masing memiliki karakteristik tersendiri yang mencerminkan
sejarah sedimentasinya. Selain itu, proses pasca pengendapan seperti tektonik,
metamorfosis, vulkanik dan proses sedimentasi lainnya turut mempengaruhi kondisi
geologi atau tingkat kompleksitas pada saat pembentukan batubara. Berdasarkan proses
sedimentasi dan pengaruh tektonik, karakteristik geologi tersebut dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok utama : Kelompok geologi sederhana, kelompok geologi
moderat, dan kelompok geologi kompleks.
a. Kelompok Geologi Sederhana
Endapan batu bara dalam kelompok ini umumnya tidak dipengaruhi oleh
aktivitas tektonik, seperti sesar, lipatan, dan intrusi. Lapisan batu bara pada
umumnya landai, menerus secara lateral sampai ribuan meter, dan hampir tidak
mempunyai percabangan. Ketebalan lapisan batu bara secara lateral dan
kualitasnya tidak memperlihatkan variasi yang berarti. Contoh jenis kelompok ini
antara lain, di lapangan Bangko Selatan dan Muara Tiga Besar (Sumatera
Selatan), Senakin Barat (Kalimantan Selatan), dan Cerenti (Riau).
b. Kelompok Geologi Moderat
Batu bara dalam kelompok ini diendapkan dalam kondisi sedimentasi
yang lebih bervariasi dan sampai tingkat tertentu telah mengalami perubahan
pasca pengendapan dan tektonik. Sesar dan lipatan tidak banyak, begitu pula
pergeseran dan perlipatan yang diakibatkannya relatif sedang. Kelompok ini
dicirikan pula oleh kemiringan lapisan dan variasi ketebalan lateral yang sedang
serta berkembangnya percabangan lapisan batu bara, namun sebarannya masih
dapat diikuti sampai ratusan meter. Kualitas batu bara secara langsung berkaitan
dengan tingkat perubahan yang terjadi baik pada saat proses sedimentasi
berlangsung maupun pada pasca pengendapan. Pada beberapa tempat intrusi
batuan beku mempengaruhi struktur lapisan dan kualitas batu baranya. Endapan
batu bara kelompok ini terdapat antara lain di daerah Senakin, Formasi Tanjung

14
(Kalimantan Selatan), Loa Janan-Loa Kulu, Petanggis (Kalimantan Timur), Suban
dan Air Laya (Sumatera Selatan), seta Gunung Batu Besar (Kalimantan Selatan).
c. Kelompok Geologi Kompleks
Batu bara pada kelompok ini umumnya diendapkan dalam sistim
sedimentasi yang komplek atau telah mengalami deformasi tektonik yang
ekstensif yang mengakibatkan terbentuknya lapisan batu bara dengan ketebalan
yang beragam. Kualitas batu baranya banyak dipengaruhi oleh
perubahanperubahan yang terjadi pada saat proses sedimentasi berlangsung atau
pada pasca pengendapan seperti pembelahan atau kerusakan lapisan (wash out).
Pergeseran, perlipatan dan pembalikan (overturned) yang ditimbulkan oleh
aktivitas tektonik, umum dijumpai dan sifatnya rapat sehingga menjadikan lapisan
batu bara sukar dikorelasikan. Perlipatan yang kuat juga mengakibatkan
kemiringan lapisan yang terjal. Secara lateral, sebaran lapisan batu baranya
terbatas dan hanya dapat diikuti sampai puluhan meter. Endapan batu bara dari
kelompok ini, antara lain, diketemukan di Ambakiang, Formasi warukin, Ninian,
Belahing dan Upau (Kalimantan selatan), Sawahluhung (Sawahlunto, Sumatera
Barat), daerah Air Kotok (Bengkulu), Bojongmanik (Jawa Barat), serta daerah
batu bara yang mengalami ubahan intrusi batuan beku di Bunian Utara (Sumatera
selatan).
3.4.2 Batubara Energi Rendah
Batubara energi rendah adalah jenis batubara yang paling rendah peringkatnya,
bersifat lunak, mudah di remas, mengandung kadar air yang tinggi (10-70%), terdiri
atas batubara energi rendah lunak (soft brown coal) dan batubara lignitik atau batu bara
energi tinggi (lignitic atau hard brown coal) yang memperlihatkan struktur kayu. Nilai
kalorinya = 7000 kalori/gram (dry ash free -ASTM).
3.4.3 Batubara Energi Tinggi
Batu bara energi tinggi adalah semua jenis batu bara yang peringkatnya lebih
tinggi dari brown coal, bersifat lebih keras, tidak mudah diremas, kompak, mengandung
kadar air yang relatif rendah, umumnya struktur kayu tidak tampak lagi, dan relatif
tahan terhadap kerusakan fisik pada saat penanganan (coal handling ). Nilai kalorinya >
7000 kalori/gram (dry ash free-ASTM).

15
3.5 Persyaratan Sumberdaya Batubara Berhubungan dengan aspek Ekonomi
Batubara jenis batubara energi rendah (brown coal) menunjukkan kandungan panas
yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan batubara jenis batubara energi tinggi (hard
coal). Karena pada hakikatnya kandungan panas merupakan parameter utama kualitas
batubara, persyaratan batas minimal ketebalan batubara yang dapat ditambang dan batas
maksimal lapisan pengotor yang tidak dapat dipisahkan pada saat di tambang untuk batubara
jenis batubara energi rendah (brown coal) dan batu bara jenis batubara energi tinggi (hard
coal) akan menunjukkan angka yang berbeda.

16
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Endapan mineral dan batubara (bahan tambang) merupakan salah satu kekayaan alam
yang berpengaruh dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu upaya untuk mengetahui
kuantitas dan kualitas endapan mineral itu hendaknya selalu diusahakan dengan tingkat kepastian
yang lebih tinggi, seiring dengan tahapan eksplorasinya. Semakin lanjut tahapan eksplorasi,
semakin besar pula tingkat keyakinan akan kuantitas dan kualitas sumber daya dan cadangan.
Berdasarkan tahapan eksplorasi, yang menggambarkan pula tingkat keyakinan akan potensinya,
dilakukan usaha pengelompokan atau klasifikasi sumber daya mineral dan batubara beserta
cadangannya.
Cara pengelompokan sumberdaya dan cadangan mineral dan batubara di Indonesia masih
beragam sehingga dirasakan perlu untuk membuat suatu standar yang dapat digunakan sebagai
pedoman di dalam pengklasifikasian sumber daya dan cadangan mineral dan batubara di
Indonesia. Dengan demikian, standar ini diharapkan dapat menghindari kerancuan dalam
menafsirkan berbagai istilah dan pengertian yang berkenaan dengan sumber daya dan cadangan
batubara di Indonesia

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Information on SNI 13-4726-1998, Klasifikasi Sumberdaya Mineral dan cadangan


2. Information on SNI 13-5104-1998, Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara

18