Anda di halaman 1dari 18

2.

4 PENEGAKKAN DIAGNOSIS

2.4.1 Identifikasi pasien9

Pencatatan identitas pasien meliputi :

1. Nama Pasien : Nama pasien dicatat dengan benar sesuai dengan yang dimaksud pasien.

2. Umur : Pencatatan umur diperlukan untuk :

Mengetahui apakah pasien masih dalam masa pertumbuhan atau sudah berhenti

Pertumbuhan gigi-geligi masih termasuk periode gigi susu/ decidui , campuran/

mixed atau tetap/ permanent.

Gigi yang sudah erupsi sudah sesuai dengan umur pasien (menurut umur erupsi

gigi).

Menetapkan jenis alat ortodontik yang tepat untuk digunakan (alat cekat atau

lepasan, alat aktif atau fungsional)

Untuk memperkirakan waktu /lama pe rawatan yang diperlukan. Apakah perawatan

bisa segera dilaksanakan atau harus ditunda, berapa lama dibutuhkan perawatan

aktif dan berapa la ma diperlukan untuk periode retensi

3. Jenis kelamin : Pencatatan jenis kelamin pasien diperlukan berkaitan segi psikologi

perawatan : Pasien wanita lebih sensitif dari pada pasien lelaki oleh karena itu perawatan

harus dilakukan dengan cara yang lebih lemah lembut dari pasien lelaki.

Pasien wanita lebih memperhatikan secara detil keteraturan giginya dari pada pasin

laki-laki.

Pasien wanita biasanya lebih tertib le bih sabar dan lebih telaten dari pada pasien

lelaki dalam melaks anakan ketentuan perawatan.


4. Alamat : Pencatatan alamat (dan nomer telepon) diperlukan ag ar operator dapat

menghubungi pasien dengan cepat bila diperlukan . Sebaliknya pasien juga diberi alamat

(dan nomer telepon) ope rator untuk mempermudah komunikasi.

5. Pendidikan : Dengan mengetahui pendidikan pasien, operator dapat menyesuaikan cara

memberi penerangan, cara memotivasi pasien).

6. Suku bangsa : Pencatatan suku bangsa diperlukan karena suatu kelompok suku bangsa

atau ras tertentu akan mempunyai ciri-ciri spesifik yang masih termasuk normal untuk

kelompok tersebut (misalnya suku bangsa Negroid sedikit protrusif masih termasuk

normal).

7. Pekerjaan pasien/pekerjaan orangtua :pencatatan pekerjaan pasien diperlukan untuk

mengetahui keadaan ekonomi pasien.

2.4.2 Anamnesis/pemeriksaan subjektif9,10

Anamnesis adalah salah satu cara pengumpulan data status pasien yang didapat dengan

cara operator mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan pasien :

Anamnesis meliputi :

1. Keluhan Utama (chief complain/main complain ) :

Keluhan utama adalah alasan/motivasi yang menyebabkan pasien datang untuk dirawat. Dari

keluhan yang telah dikemukakan itu akan dapat diketahui:

Apa sebenarnya yang pasien inginkan untuk mendapat perbaikan dari operator/dokter gigi
Apakah keluhan itu memungkinkan untuk ditanggulangi dengan perawatan ortodontik ?
Apakah keluhan itu menyangkut faktor estetik atau fungsional (bicara , mengunyah) ?
Keluhan utama bisanya diikuti oleh keluhan sekunder yaitu keluhan yang baru disadari

setelah mendapat penjelasan dari operator: Apakah ada keadaan lain yang tidak disadari

oleh pasien yang merupakan suatu kelainan yang memungkinkan untuk dirawat secara

ortodontik ? Jika ada ini perlu dijelaskan dan dimintakan persetujuan untuk dirawat.
2. Riwayat Kasus (Case History)

Disini dimaksudkan agar operator dapat menelusuri riwayat pertumbuhan dan

perkembangan pasien yang melibatkan komponen dentofasial sampai terjadinya kasus maloklusi

seperti yang diderita pasien saat ini. Rawayat kasus dapat ditelusuri dari beberapa aspek :

a. Riwayat Gigi-geligi (Dental History):

Anamnesis riwayat gigi-geligi dimaksudkan untuk mengetahui proses pertumbuhan

dan perkembangan gigi-geligi pasien sampai keadaan sekarang sehingga dapat diketahui

mulai sejak kapan dan bagai mana proses perkembangan terbentuknya maloklusi pasien.

Meliputi riwayat pada :

Periode gigi susu (Decidui Dentition ) : Untuk mengetahui adakah poses

pertumbuhan dan perkembangan maloklusi pasien dimulai pada periode ini ?


- Adakah gigis ( rampant caries) pada waktu masa gigi susu ?
- Adakah karies pada sela-sela gigi-gigi (proximal caries) pada waktu gigi susu ?

Di daerah mana ?
- Apakah karies ini ditambalkan ke dokter gigi?
- Penahkah mendapat benturan (trauma) pada gigi-gigi susu? Di bagian mana ?
Periode gigi campuran (Mixed Dentitition) : Adakah proses pergantian dari gigi

susu ke gigi permanen ini sebagai penyebab terjadinya maloklusi? Perlu diketahui

kemungkinan adanya persistensi /prolonged retensi bahkan prematur loss .


- Ketika gigi-gigi susu mulai goyah apakah dicabutkan kedokter gigi secara

teratur ?
- Adakah gigi-gigi yang sampai kesundulan / persistensi? Di daerah mana ?
- Adakah gigi susu yang karies besar tidak dirawat. Adakah sisa-sisa akar gigi susu

yang tertinggal pada saat gigi permanen mulai erupsi ?


- Adakah gigi-gigi permanen yang terlam bat tumbuh (terlalu lama ompong)
Periode gigi permanen ( Permanent Dentition) : Untuk mengetahui apakah

maloklusi pasien dimulai pada periode ini ?


- Adakah karies pada gigi permanen. Apakah sudah ditambal / apakah mendapat

perawatan syaraf (endodontik) ?


- Adakah gigi permanen yang telah dicabut ? Kapan ? Karena apa ? Apakah ada

gigi yang telah dicabut dibiarkan tidak diganti dalam waktu yang lama ?
- Adakah gigi tidak bisa tumbuh / impaksi ? Apakah sudah dica but atau agenese ?
- Adakah benturan / trauma pada gigi-gigi permanen , dibagian mana ?

b. Riwayat Penyakit (Desease History) :

Anamnesis Riwayat penyakit tujuannya untuk mengetahui :

Adakah penyakit yang pernah / sedang diderita pasien dapat menggangu proses

pertumbuhan, perkembangan rahang dan erupsi normal gigi-geligi, sehingga diduga

sebagai penyebab maloklusi.


Adakah penyakit yang diderita pasien dapat mengganggu / menghambat proses

perawatan ortodontik yang akan dilakukan.


Adakah penyakit yang kemungkinan dapat menular kepada operator
Perlu diketahui pada umur berapa dan berapa lama penyakit itu diderita pasien dan

apakah sekarang masih dalam perawatan dokter, dokter siapa ?


Penyakit yang dimaksud antara lain :
- Penyakit kekurangan gizi pada masa kanak-kanak
- Tonsilitis atau Adenoiditis
- Hypertensi atau penyakit Jantung
- Hepatitis atau Lever
- Asthma
- Tubercolosis
- HIV atau AIDS
- Allergi terhadap obat tertentu
- Dll.

c. Riwayat keluarga (Family History) :

Tujuan dari anamnesis riwayat keluarga adalah untuk mengetahui apakah maloklusi

pasien merupakan faktor herediter (keturunan) yang diwariskan dari orang tua. Untuk iru

perlu ditanyakan keadaan gigi-geligi kedua orang tua dan saudara kandung pasien.

2.4.3 Pemeriksaan klinis/pemeriksaan objektif 9,10


1. Umum / General
Pemeriksaan klinis secara umum pada pasien dapat dilakukan dengan mengukur

dan mengamati :
Tinggi badan : cm.
Berat badan : kg.
Keadaan jasmani : baik / cukup / jelek
Keadaan mental : baik / cukup / jelek
Status gizi : baik / cukup / jelek
Maksud pemeriksaan klinis menyangkut tinggi badan, berat badan, keadaan jasmani

serta keadaan gizi pasien adalah untuk memperkirakan pertumbuhan dan perkembangan

pasien secara umum, sedangkan data keadaan mental pasien diperlukan untuk

menentukan apakah pasien nanti dapat bekerj a sama (kooperatif) dengan baik bersama

operator dalam proses perawatan untuk mendapatkan hasil perawatan yang optimal.
2. Khusus / Lokal :
a. Luar mulut / Ekstra Oral :
Bentuk muka : simetris / asimetris
Tipe muka : Menurut Martin (Graber 1972) dikenal 3 tipe muka yaitu :
- Brahisepali : lebar, persegi
- Mesosepali : lonjong / oval
- Oligisepali : panjang / sempit
Otot-otot mastikasi dan otot-otot bibir Serabut otot bersifat elastis , mempunyai

dua macam keteganga n (tonus), aktif dan pasif. Pada waktu kontraksi terdapat

ketegangan yang aktif dan apabila dalam keadaan dilatasi terdapat ketegangan

pasi f. Dengan demikian pada waktu istirahat otot-otot mastikasi dan bibir

mempunyai tonus yang dalam keadaan normal terdapat keseimbangan yang

harmonis, bila tidak normal tonus otot sangat kuat ( hypertonus) atau sangat

lemah (hipotonus ) dapat menimbulkan anomali pada lengkung gigi akibat

adanya ketidakseimbangan atara tekanan otot di luar dan di dalam mulut.


b. Dalam mulut /Intra oral :
Pemeriksaan intraoral dilakukan dengan mengamati :
Kebersihan mulut (oral hygiene / OH) : baik / cukup / jelek
Ini dapat ditetapkan dengan Indeks OHIS, pasien yang kebersihan mulutnya

jelek kemungkinan besar kebersihan mulutnya akan lebih jelek lagi selama

perawatan dilakukan , oleh karena itu motivasi kebe rsihan mulut perlu

diberikan sebelum perawatan ortodontik dilakukan.


Keadaan lidah : normal / macroglossia / microglossia Pasien yang mempunyai

lidah besar ditandai oleh :


- Ukuran lidah tampak besar di bandingkan ukuran lengkung giginya
- Dalam keadaan relax membuka mulut, lidah tampak luber menutupi

permukaan oklusal gigi-gigi bawah.


- Pada tepi lidah tampak bercak-bercak akibat tekanan permukaan lingual

mahkota gigi ( tongue of identation)


- Gigi-gigi tampak renggang-re nggang (general diastema)
Palatum : normal / tinggi / rendah serta normal / lebar / sempit Pasien dengan

pertumbuhan rahang rahang atas kelateral kurang (kontraksi) biasanya

palatumnya ti nggi sempit, sedangkan yang pertumbuhan berlebihan (distraksi)

biasanya mempunyai palatum rendah lebar. Jika ada kelainan lainnya se perti

adanya peradangan, tumor, torus, palatoschisis, dll.


Gingiva : Normal / hypertophy / hypotropy. Adanya peradangan pada gingiva

bisa ditetentukan dengan gingival indeks (GI)


Mucosa : normal / inflamasi / kelainan lainnya. Pasien dengan oral hygiene

yang jelek biasanya mempunyai gingiva dan mucosa yang inflamasi dan

hypertropy.
Frenulum labii superior : normal / tinggi / rendah , tebal / tipis
Frenulum labii inferior : norma l / tinggi / rendah , tebal / tipis
Frenulum lingualis : normal / tinggi / rendah , tebal / tipis
Tonsila palatina : normal / inflamasi / hypertrophy
Tonsila lingualis : normal / inflamasi / hypertrophy
Tonsila pharengea : normal / inflamasi / hypertrophy
Bentuk lengkung gigi rahang atas dan rahang bawah : Parabola / Setengah

elips / Trapeziod / U-form / V-form / Setengah lingkaran


Pemeriksaan gigi geligi.
2.4.4 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang pada perawatan ortodontik adalah analisis sefalometri dan

analisis model studi.

a) Analisis sefalometri
Pada awalnya analisis sefalometri l ebih banyak digunakan untuk mempelajari

pertumbuhkembangan kompleks kraniofasial kemudian berkembang sebagai sarana

untuk mengevaluasi keadaan klinis misalnya membantu menentukan diagnosis,

merencanakan perawatan, menilai hasil perawatan dalam bidang ortododntik. Analisis

sefalometri meliputi analisis dental, skeletal, dan jaringan lunak. Analisis ini berguna

untuk mengetahui pertumbuhan skeletal, diagnosis sefalometri, perencanaan perawatan

dan hasil perawatan.2


b) Analisis model studi

Analisis model studi merupakan salah satu sumber informasi penting untuk

menentukan diagnosis ortodonti. Diagnosis yang menyeluruh akan menentukan

kelengkapan rencana perawatan. Rencana perawatan yang lengkap dan akurat akan

menetukan keberhasilan perawatan.

Analisis model studi adalah penilaian tiga dimensi terhadap gigi geligi pada

rahang atas maupun rahang bawah, serta penilaian terhadap hubungan oklusalnya.

Kedudukan gigi pada rahang maupun hubungannya dengan geligi pada rahang lawan

dinilai dalam arah sagital, transversal, dan vertikal.12

Untuk keperluan diagnosis ortodonti, model studi harus dipersiapkan dengan baik dan

hasil cetakan harus akurat. Hasil cetakan tidak hanya meliputi seluruh gigi dan jaringan

lunak sekitarnya, daerah di vestibulum pun harus tercetak sedalam mungkin yang

dapat diperoleh dengan cara menambah ketinggian tepi sendok cetak hingga dapat
mendorong jaringan lunak di daerah tersebut semaksimal mungkin, sehingga inklinasi

mahkota dan akar terlihat. Jika hasil cetakan tidak cukup tinggi, maka hasil analisis

tidak akurat. Model studi dengan basis segi tujuh, yang dibuat dengan bantuan

gigitan lilin dalam keadaan oklusi sentrik serta diproses hingga mengkilat, akan

memudahkan pada saat analisis dan menyenangkan untuk dilihat pada saat menjelaskan

kasus kepada pasien.12

LO 3. Menjelaskan penanganan kasus

3.1. Anamnesa dan diagnosa

3.1.1. Pemeriksaan Subjektif

Status Pasien

Nama untuk tujuan komunikasi, identifikasi, sentuhan personal


Umur kronologis & tanggal lahir membantu diagnosis, rencana perawatan, prediksi
pertumbuhan dan penggunaan prosedur perawatan tertentu
Jenis kelamin membantu dalam rencana perawatan, waktu & dorongan pertumbuhan,
erupsi gigi, pubertas, reaksi psikologis
Alamat & pekerjaan untuk komunikasi, penilaian status sosio-ekonomi, jenis
perawatan

Anamnesa
Riwayat kasus, yaitu informasi yang diperoleh dari pasien dan/atau orang tua dan/atau wali
yang berguna untuk diagnosis keseluruhan dari kasus tersebut untuk membina hubungan
yang baik dengan pasien & memperoleh keluhan yang akurat dari pasien
Keluhan utama: dicatat dengan bahasa pasien sendiri & mencakup kondisi yang dideritanya
untuk membantu identifikasi prioritas & keinginan pasien, menentukan tujuan perawatan dan
memuaskan keluarga secara umum
Riwayat medis misalnya pasien dengan demam rematik/kelainan jantung butuh antibiotic
Riwayat dental mencakup informasi umur erupsi dan eksfoliasi gigi sulung & permanent,
alasan eksfoliasi untuk mengetahui sikap & kemampuan pasien dalam menjaga OH
Riwayat prenatal terfokus pada kondisi ibu selama hamil (kondisi nutrisi, infeksi,
penggunaan obat-obatan) & cara melahirkan (penggunaan forcep mengakibatkan injuri pada
TMJ)
Riwayat pascanatal meliputi cara memberi makan, adanya kebiasaan buruk terutama
digit/thumb sucking dan fase pertumbuhan normal
Riwayat keluarga maloklusi skeletal terutama kelas III & kondisi congenital seperti cleft
lip dan palatum

3.1.2. Pemeriksaan Objektif

Pemeriksaan Ekstraoral

1) Pemeriksaan kepala dan wajah


Bentuk dari kepala dan dievaluasi berdasarkan cephalic index yang diformulasikan oleh Martin
dan Seller (1975), yaitu:
Mesocephalic (rata-rata) 76,0-80,9, Brachycephalic (tengkorak lebar dan pendek) 81,0-85,4,
Dolicocephalic (tengkorak panjang dan sempit) x 75,9

2) Penilaian simetris wajah


Asimetris dengan derajat tertentu pada sisi kanan dan kiri wajah dapat ditemukan di kebanyakan
individu. Wajah harus diperiksa dalam bidang transversal dan vertikal untuk menentukan apakah
derajat asimetris masih termasuk normal.

3) Profil Wajah
Profil diperiksa dengan mengambil foto wajah pasien dari jarak tertentu dengan bidang FH
paralel terhadap lantai. Profil diperoleh dengan menghubungkan dua garis referensi yaitu garis
yang menghubungkan dahi dengan titik A jaringan lunak, dan garis yang menghubungkan Titik A
dan pogonion jaringan lunak.

4) Facial Divergence
Wajah bagian bawah dapat berupa lurus atau terinklinasi secara anterior atau posterior
relatif terhadap dahi. Sebuah garis ditarik dari dahi menuju ke dagu untuk menentukan apakah
wajah termasuk ke dalam kategori:
anterior divergent(garis terinklinasi ke anterior), posterior divergent(garis terinklinasi ke
posterior), straight/orthognathic,(garis lurus, tidak terlihat kemiringan.)
5) Penilaian Hubungan Anteroposterior Rahang
Gambaran yang baik dari hubungan skeletal secara sagital dapat diperoleh dengan
menempatkan jari telunjuk dan jari tengah terhadap kurang lebih titik A dan B setelah retraksi
bibir. Idealnya, maksila berada 2-3 mm lebih anterior dibandingkan mandibula saat oklusi
sentris.

6) Penilaian Hubungan Vertikal Skeletal


Hubungan vertikal yang normal adalah saat jarak antara glabella dan subnasale sama
dengan jarak antara subnasale dengan bagian bawah dagu. Tinggi wajah bagian bawah yang
kurang deep bite sedangkan apabila lebih besar dari normal menunukkan adanya anterior open
bites.

7 Evaluasi proporsi wajah.


Wajah yang proporsional dapat dibagi menjadi 3 bagian vertikal sama besar
8 Penilaian bibir.
Jarak, lebar, dan kurvatur bibir harus dinilai. Pada wajah yang seimbang jara bibir atas
sepertiga dan bibir bawah duapertiga dari tinggi wajah bagian bawah. Tepi gigi insisal yang
terlihat saat bibir atas pada posisi istirahat normalnya adalah 2 mm. Bibir dapat diklasifkasikan
menjadi:
a Competent lips: bibir berkontak saat otot relaks.
b Incompetent lips: secara anatomis bibir pendek, tidak terdapat kontak saat otot relaks,
c Potentialy incompetent lips: bibir saat ingin berkontak terhambat oleh Insisiv RA yang
protrusi. Perkembangan bibir normal.
d Everted lips: bibir yang hipertrofi dengan jaringan bibir yang berlebihan tetapi tonusitas
otot yang lemah.

9 Penilaian Hidung.
Ukuran, bentuk dan posisi hidung menentukan penampakan estetik dari wajah dan oleh
karena itu penting dalam prognosis kasus
10 Penilaian dagu
Bentuk dari dagu ditentukan tidak hanya oleh struktur tulang, tetapi juga oleh ketebalan
dan tonusitas dari otot mentalis.

Pemeriksaan Intraoral
a) Kebersihan Mulut : baik / cukup / jelek
b) Keadaan lidah: normal / macroglossia / microglossia
c) Palatum : normal / tinggi / rendah serta normal / lebar / sempit
d) Jaringan Periodonsium
lakukan pemeriksaan dengan periodontal probe.
Gingiva: Normal / hypertophy / hypotropy
Sulkus gingiva
Mobilitas gigi
e) Mukosa normal / inflamasi / kelainan lainnya
f) Frenulum
Pemeriksaan frenulum dilakukan untuk mengetahui posisi perlekatannya (insersio) pada
marginal gingiva serta ketebalannya, apakah akan mengganggu pengucapan kata-kata tertentu
dan apakah akan mengganggu pemakaian plat ortodontik yang akan dipasang.
g) Tonsil
Dilakukan pemeriksaan dengan menekan lidah pasien dengan kaca mulut, jika dicurigai
adanya kelaianan yang serius pasien dikonsulkan ke dokter ahli THT
Bentuk Lengkung Gigi Rahang Atas dan Bawah : Parabola / Setengah elips / Trapeziod / U-
form / V-form / Setengah lingkaran
h) Pemeriksaan Gigi Geligi

3.1.3. Pemeriksaan Penunjang


Radiograf
Kegunaan sefalogram
a. Membantu diagnosis ortodontik melalui studi struktur skeletal, dental, dan jaringan
lunak pada regio kraniofasial
b. Membantu menentukan klasifikasi abnormalitas skeletal dan dental, serta membantu
menentukan tipe fasial.
c. Membantu dalam rencana dan evaluasi hasil perawatan
d. Sebagai alat bantu penelitian yang berhubungan dengan regio dentokraniofasial
Landmark Sefalometri
o Landmarks yang digunakan dalam sefalometri harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu
harus mudah terlihat pada suatu radiograf, outline harus tegas, harus reproducible, dan harus
memungkinkan pengukuran kuantitatif yang valid pada garis dan sudut yang diproyeksikan

* Mandibular plane
o menurut Tweed: bersinggungan dengan batas bawah mandibula
o menurut Steiner: garis yang menghubungkan gonion-gnathion
o menurut Downs: garis yang menghubungkan gonion-menton
DOWNS ANALYSIS
Analisis Down terdiri dari 10 parameter (5 skeletal dan 5 dental).
Parameter Skeletal
a. Facial Angle
o Sudut yang dibentuk antara nasion-pogonion dengan FHP yang menunjukkan posisi
antero-posterior mandibula terhadap wajah bagian atas.
b. Angle of convexity
o Sudut yang dibentuk antara nasion-point A dan point A-pogonion yang menunjukkan
konveks dan konkafnya profil skeletal.
c. A-B plane angle
o Sudut yang dibentuk antara point A-point B dengan nasion-pogonion (facial plane)
yang menunjukkan hubungan maksila-mandibula terhadap bidang fasial.
d. Mandibular plane angle
o Sudut yang dibentuk antara perpotongan mandibular plane dengan FHP.
o Y - axis (growth axis)
Sudut yang dibentuk antara sella-gnathion dengan FHP yang menunujkkan pola
pertumbuhan seseorang.
Parameter Dental
a. Cant of occlusal plane: sudut yang dibentuk antara occlusal plane dengan FHP.
b. Inter-incisal angle: sudut yang dibentuk antara sumbu panjang gigi I RA dan RB.
c. Incisor occlusal plane angle: sudut yang dibentuk dari perpotongan antara sumbu
panjang I RB dan occlusa plane
d. Incisor mandibular plane angle: sudut yang dibentuk antara perpotongan sumbu panjang
gigi I RB dengan mandibular plane.
e. Upper incisor to A Pog line: pengukuran linear antara incisal edge I RA ke garis yang
menghubungkan point A-pogonion.

STEINER ANALYSIS
Dibagi menjadi 3 bagian:.
Analisis Skeletal
S.N.A. angle, S.N.B. angle, A.N.B. angle, Mandibular plane angle, Occlusal plane angle
Analisis Dental
Upper incisor to N-A (angle), Upper incisor to N-A (linear), Lower incisor to N-B (angle),
Lower incisor to N-B (linear), Inter-incisor angle
Analisis Jaringan Lunak
Menurut Steiner, pada wajah yang seimbang, bibir harus menyentuh garis yang memanjang
dari kontur jaringan lunak dagu ke tengah sebuah S yang dibentuk oleh batas bawah hidung.

ANALISIS TWEED
Analisis Tweed memakai 3 bidang yang membentuk suatu segitiga diagnostik:
Frankfort mandibular plane angle (FMPA)
Incisor mandibular plane angle (IMPA)
Frankfort mandibular incisor angle (FMIA)

Foto Fasial
- Foto ekstraoral (dilakukan sebelum dan setelah perawatan)
Fungsi
o Evaluasi hubungan & proporsi kraniofasial sebelum dan setelah perawatan
o Penilaian profil jaringan lunak
o Kebutuhan analisis perhitungan ruang
o Monitor progress perawatan
o Deteksi & pencatatan ketidakseimbangan otot dan asimetri fasial
o Identifikasi pasien
Jenis
o Foto frontal wajah dengan bibir relaksasi
o Foto profil wajah dengan bibir relaksasi
o Pandangan bagian sambil tersenyum atau frontal wajah sambil tersenyum
Syarat:
Posisi kepala pasien normal, tanpa background, telinga harus terlihat untuk tujuan orientasi, tidak
menggunakan kacamata

Model Studi
Model studi merupakan diagnostic records yang membantu mempelajari oklusi dan gigi-
geligi dari semua dimensi. Model ini merupakan reproduksi plaster akurat dari gigi dan jaringan
lunak di sekitarnya.

Syarat-syarat model studi yang ideal:


a Model dengan akurat mereproduksi gigi dan jaringan lunak sekitarnya
b Model harus ditrim agar simetris dan dental oklusi dapat terlihat
c Model harus memiliki permukaan yang bersih, halus, dan dengan sudut yang tajam.

Urgensi model studi:


a Model studi memiliki pandangan tiga-dimensi dari gigi-geligi pasien, sehingga sangat
penting dalam rencana perawatan.
b Oklusi dapat dilihat dari aspek lingual
c Model memberikan permanent record dari hubungan intermaksila dan oklusi pada awal
perawatan
d Merupakan visual aid untuk dokter gigi saat memonitor perubahan
e Membantu memotivasi pasien dengan menunjukkan perkembangan perawatan.
f Dibutuhkan untuk perbandingan tujuan pada akhir perawatan.

Fungsi model studi, yaitu mendirikan dan mendata anatomi dental dan interkuspasi,
memperkirakan dan mendata bentuk lengkung rahang dan kurva oklusi, mengevaluasi oklusi
dengan bantuan articulator, mengukur perkembangan selama perawatan, dan menghitung analisa
ruang.

3.2. RENCANA PERAWATAN

3.2. Tujuan
Ada tiga jenis tujuan (goal) perawatan ortodonsi, yakni:
Perawatan Ideal
Goal ideal yang dimaksud meliputi kesehatan mulut, fungsi, dan kosmetik
Perawatan Kompromis
Beberapa kasus tidak dapat dirawat secara ideal.
Perawatan Simptomatik / Paliatif

3.3. Rencana Perawatan pada Primary Dentition


Alasan Perawatan
Untuk menghilangkan halangan dari pertumbuhan normal wajah dan gigi, serta untuk
mempertahankan atau mengembalikan fungsi normal.
Kondisi yang harus dirawat
Crossbites anterior dan posterior
Kasus dimana gigi susu telah hilang dan dapat menghasilkan kehilangan ruang dalam
lengkung
Tertahannya erupsi incisive primer (tidak sesuai dengan erupsi normalnya)
Gigi-gigi malposisi yang menyebabkab ketidaksesuaian fungsi oklusi
Semua kebiasaan atau malfungsi yang dapat merubah atau mengganggu pertumbuhan
Kontraindikasi perawatan pada primary dentition
Tidak ada jaminan bahwa hasilnya dapat bertahan
Hasil yang lebih baik dapat diperoleh dengan usaha yang lebih ringan di lain waktu
Ketidakdewasaan sosial dari anak yang menyebabkan perawatan impractical.

3.4. Rencana Perawatan pada Transitional/Mixed Dentition


Periode mixed dentition merupakan kesempatan terbaik untuk occlusal guidance dan
pencegahan maloklusi.
Alasan Perawatan
Perawatan tidak menghalangi pertumbuhan normal dari gigi geligi
Maloklusi tidak dapat dirawat lebih efisien pada saat densisi permanen
Kondisi yang harus dirawat
Kehilangan gigi sulung yang membahayakan available space di lengkung rahang
Penutupan space yang disebabkan premature loss dari gigi sulung; space yang hilang
harus diperoleh kembali
Malposisi gigi geligi yang tidak sesuai dengan perkembangan fungsi oklusi normal, yang
menyebabkan pola erupsi maupun mandibular closure yang buruk, atau membahayakan
kesehatan gigi.
Supernumerary teeth yang memungkinkan terjadinya maloklusi
Crossbite gigi permanen
Maloklusi yang disebabkan oleh bad habit.
Oligodonsia, jika penutupan ruang akan dibuatkan protesis
Spacing antara gigi I1 Atas
Neutroklusi dengan labioversi ekstrim dari gigi anterior atas (Maxillary dental
protraction)
Kasus kelas II (Distoklusi), tipe fungsional, dental, dan skeletal.

3.5. Rencana Perawatan pada Permanent Dentition


Terapi ortodonsi dapat dilakukan pada orang dewasa yang sehat, namun strategi dan
taktik berubah secara radikal ketika terdapat penyakit periodontal dan atau kehilangan gigi.