Anda di halaman 1dari 15

ETIL ASETAT

DARI ALKOHOL DAN ASAM CUKA

I. JUDUL PERCOBAAN :
ETIL ASETAT DARI ALKOHOL DAN ASAM CUKA

II. PRINSIP PERCOBAAN


Esterfikasi adalah reaksi pengubahan dari suatu asam karboksilat dan alkohol menjadi suatu ester
dengan menggunakan katalis asam.

III. MAKSUD DAN TUJUAN


o Untuk mengetahui pembuatan Etil asetat dari alkohol dan asam cuka
o Untuk memurnikan Etil asetat dengan cara distilasi
o Untuk mengetahui sifat fisika dan kimia Etil asetat
o Untuk mengetahui refraksi dari Etil asetat praktis

IV. REAKSI
C2H5OH + CH3COOH CH3COOC2H5 + H2O

V. LANDASAN TEORI
Senyawa organic secara umum digolongkan sebagai senyawa hidrokarbon aromatis. Senyawa
hidrokarbon aromatis adalah senyawa hidrokarbon dengan rantai atom karbon tertutup (siklis).
Senyawa hidrokarbon aromatis digolongkan menjadi senyawa aromatis hidrokarbon dan senyawa
aromatis heterosiklis. Senyawa romatik hidrokarbon misalnya senyawa benzene dengan turunannya.
Sedangkan senyawa aromatis heterosiklis misalnya pirimidin, furan dan pirol.

Esterifikasi yaitu reaksi pembuatan ester dimana alkohol bereaksi dengan asam karboksilat
membentuk ester dan air. Ester asam karboksilat adalah suatu senyawa yang mengandung gugus (
COOR) dengan (R) dapat berbentuk alkil maupun aril. Esterifikasi berkataliskan asam dan merupakan
reaksi yang reversibel. Kekuatan asam karboksilat hanya memainkan peranan kecil dalam laju
pembentukan ester. Metode ini bisa digunakan untuk mengubah alkohol menjadi ester, tetapi metode
ini tidak berlaku bagi fenol, yaitu senyawa organik dimana gugus (-OH) terikat langsung pada sebuah
cincin Benzena.

BAHAN BAKU
Alkohol
Alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang
memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada
atom hidrogen atau atom karbon lain. Gugus alkil pada alkohol dapat berbentuk alifatik atau siklik,
akan tetapi yang umumnya yang disebut alkohol adalah yang memiliki gugus alkil alifatik.

Alkohol yang memiliki satu gugus (OH) disebut dengan monoalkohol, sedangkan yang memiliki
lebih dari satu gugus (OH) disebut dengan polialkohol. Alkanol merupakan monoalkohol turunan
alkana. Rumus umum dari alkohol aalah CnH2n+1 (-OH) atau ditulis (R-OH), satu atom (H) dari alkana
diganti oleh gugus (OH).

Ada tiga jenis utama alkohol yaitu:

1 Alkohol primer, yaitu alkohol yang mengikat atom C primer.

2 Alkohol sekunder, yaitu alkohol yang mengikat atom C sekunder.

3 Alkohol tersier, yaitu alkohol yang mengikat atom C tersier.

Sifat-sifat Alkohol

Sifat Fisika Sifat Kimia


Dapat dioksidasi, alkohol primer dioksidasi
membentuk aldehid dan bila dioksidasi lebih
lanjut membentuk asam karboksilat, alkohol
Merupakan cairan tidak berwarna. sekunder bila dioksidasi membentuk keton,
alkohol tersier jika dioksidasi maka tidak
teroksidasi.

Reaksi esterifikasi dengan asam membentuk


Mudah terbakar oleh udara
ester.
Titik didih dan titik cairnya semakin tinggi jika
Mengalami reaksi subtitusi dan eliminasi.
bobot molekulnya semakin besar.

Makin banyak atom karbonnya makin tinggi


Alkohol adalah molekul polar dengan adanya
bobot jenisnya.
gugus (-OH)

Pada suhu kamar alkohol bersuhu rendah


berbentuk cairan yang bersifat mobile suhu
Gugus fungsi (-OH) dapat melepaskan proton
sedang serupa cairan kental sedangkan suhu
pada larutan, maka alcohol bersifat asam.
berbentuk padatan.

Kegunaan Alkohol :

Di dunia industri, Alkohol digunakan sebagai bahan baku pembuatan formaldehid, sebagai cairan
antibeku, dan pelarut, seperti varnish, membuat polimer jenis plastik, sebagai bahan baku industri
serat sintetik seperti dacron.

Dalam kehidupan sehari-hari alkohol juga dapat digunakan sebagai bahan pembuat minuman
beralkohol (minuman keras), pelarut berbagai obat-obatan, untuk sterilisasi, untuk obat gosok
(isopropil alkohol).

Asam Asetat
Asam asetat atau asam etanoat atau yang lebih dikenal asam cuka adalah senyawa kimia asam organik
yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus
empiris CH3COOH atau CH3CO2H. Asam alkanoat ini adalah asam-asam karboksilat yang rantai
alkalinya jenuh. Asam asetat murni (disebut asam asetat glacial) adalah cairan higroskopis tak
berwarna dengan titik beku 16,7 C.

Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Asam
asetat diproduksi secara sintesis maupun secara alami melalui fermentasi bakteri. Kebanyakan asam
asetat murni dihasilkan melalui karbonilasi. Dalam reaksi ini, metanol dan karbon monoksida bereaksi
menghasilkan asam asetat. CH3OH + CO CH3COOH

Pembuatannya juga bisa dengan mengoksidasi etanol.

CH3CH2OH + O2 CH3COOH +H2O

Sifat-Sifat Asam Asetat

Sifat Fisik Sifat Kimia


Asam cuka berbentuk cairan berbau menyengat,
Bereaksi dengan basa membentuk garam
larut dalam air

Garam-garam asam asetat yaitu asam aseton


Jika berwujud padatan akan mengkilat enceran, anhidrat dan glacial Asam Asetat
anhidrat

Titik didihnya 118.5C dan titik bekunya 16.7C Sedikit terionisasi dengan air

Kegunaan Asam Asetat

Dalam kehidupan kita sehari-hari kegunaan asam cuka sangat banyak sekali yaitu,sebagai pelarut zat
organik, untuk pengasaman bahan makanan, membuat berbagai ester, membuat tinta dan zat-zat warna
dan propanol, sebagai bahan baku pembuatan polyvinyl acetate, yaitu bahan baku pembuatan lem
kayu, Asam asetat juga digunakan dalam proses pembuatan pestisida dan masih banyak lagi.

BAHAN TAMBAHAN
Asam Sulfat
Asam sulfat (H2SO4) merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada
semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk
utama industri kimia.

Asam sulfat murni yang tidak diencerkan, tidak dapat ditemukan secara alami di bumi oleh karena
sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat merupakan komponen utama hujan asam,
yang terjadi karena oksidasisulfur dioksida di atmosfer dengan keberadaan air (oksidasi asam sulfit).
Sulfur dioksida adalah produk sampingan utama dari pembakaran bahan bakar seperti batu bara dan
minyak yang mengandung sulfur (belerang).

Sifat-Sifat Asam Sulfat

Sifat Fisika Sifat Kimia


Asam Sulfat encer tidak bereaksi dengan Hg, Cu
Cairan tidak bewarna dan berbau asam
dan logam mulia

Asam Sulfat pekat dalam keadaan panas akan


Merusak kulit dan jaringan tubuh seperti terkena
mengoksidasikan logam-logam, sedangkan asam
luka bakar yang serius
itu sendiri direduksikan menjadi (SO4)

Merangsang zat-zat organik (kayu, kertas, gula)

Kegunaan Asam Sulfat

Asam sulfat merupakan komoditas kimia yang sangat penting, , produksi asam sulfat suatu negara
merupakan indikator yang baik terhadap kekuatan industri negara tersebut. Kegunaan asam sulfat,
yaitu untuk memproduksi asam fosfat, yang digunakan untuk membuat pupuk fosfat dan juga
trinatrium fosfat untuk deterjen. Asam sulfat juga digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri
besi dan baja untuk menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil.
Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan aluminium sulfat. Alumunium
sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp kertas untuk menghasilkan
aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas yang
keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk membuat aluminium hidroksida.

PRODUK
Etil Asetat
Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3 atau CH3COOC2H5.
Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan, tak berwarna
tetapi memiliki aroma yang khas. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 30% dan larut dalam air
hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi, namun
senyawa ini tidak stabil dalam air mengandung basa atau asam. Etil asetat dapat dihirdolisis pada
keadaan asam atau basa yang menghasilkan asam asetat dan etanol kembali. Katalis yang digunakan
adalah asam sulfat (H2SO4), karena berlangsungnya reaksi. Reaksi kebalikan hidrolisis yaitu,
esterifikasi ficher. Untuk memperoleh hasil rasio yang tinggi biasanya digunakan asam kuat dengan
proposi stoiklometris, misalnya natrium hidroksida. Reaksi ini menghasilkan etanol dan natrium asetat
yang tidak dapat di reaksi lagi dengan etanol.

Sifat-Sifat Etil Asetat

Sifat Fisika Sifat Kimia


Merupakan cairan tidak berwarna dan mudah
Dapat dihidrolisis dengan air membentuk asam
terbakar dengan bau yang khas
karboksilat dan alkohol

Pada suhu tinggi berubah bentuk berupa minyak


Tidak bereaksi dengan PCl3
dan lemak
Titik didihnya 77C dan titik beku -84C
Bereaksi dengan basa membentuk glisentida

Kegunaan Etil Asetat

Etil asetat digunakan sebagai pelarut dalam bahan cita rasa dan parfume.

METODE PROSES
Distilasi
Distilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan perbedaan titik didik atau titik
cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi terdapat dua
tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap
menjadi cair atau padatan. Atas dasar ini maka perangkat peralatan destilasi menggunakan alat
pemanas dan alat pendingin.
Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan
menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondenser yaitu pendingin, proses pendinginan terjadi karena
kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian luar condenser), sehingga uap yang dihasilkan akan
kembali cair. Proses ini berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat memisahkan seluruh senyawa-
senyawa yang ada dalam campuran homogen tersebut.

Macam-Macam Distilasi :
1. Distilasi Sederhana, prinsipnya memisahkan dua atau lebih komponen cairan berdasarkan
perbedaan titik didih yang jauh berbeda.
2. Distilasi Fraksionasi (Bertingkat), sama prinsipnya dengan distilasi sederhana, hanya distilasi
bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu memisahkan
dua komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan.
3. Distilasi Azeotrop : memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang
sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan
azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
4. Distilasi Kering : memanaskan material padat untuk mendapatkan fasa uap dan cairnya. Biasanya
digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau batu bata.
5. Distilasi Vakum: memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motede yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm, sehingga titik
didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk mendistilasinya tidak
perlu terlalu tinggi.

Kelebihan Destilasi :
1. Dapat memisahkan zat dengan perbedaan titik didih yang tinggi.
2. Produk yang dihasilkan benar-benar murni.
3. Sangat tepat digunakan untuk memisahkan larutan-larutan dalam bentuk homogen.

Kekurangan Destilasi :
1. Hanya dapat memisahkan zat yang memiliki perbedaan titik didih yang besar.
2. Biaya penggunaan alat ini relatif mahal.
3. Diperlukan energi yang besar dalam memanaskan larutan.
4. Dibutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan larutan dengan titik didih yang tinggi.

VI. DIAGRAM ALIR PROSES

urkan 17 ml alkohol dan 17 ml asam asetat ke dalam labu distilasi


Tuangkan 80 ml alkohol dan 67 ml asam asetat ke dalam corong pemisah, lalu rangkai alat-alat

Panaskan oil bath hingga mencapai suhu 140OC


a dalam corong pemisah dengan perbandingan 3:1 (3 tetes corong pemisah : 1 tetes distilat)

Pisahkan lapisan atas dan lapisan bawah yang terbentuk dengan corong pemisah
hkan NaOH 20% sedikit demi sedikit hingga tidak memerahkan kertas lakmus biru

Lapisan atas dipisahkan kemudian dimasukkan ke dalam labu distilasi dengan ditambah sediki
g kedua untuk menghilangkan kandungan alkohol yang masih ada dalam larutan

Hitunglah
mudian Etil asetat dipanaskan dengan fraksi suhu 77OC hasil presentasi praktis dan teoritisnya
78OC
VII. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT :
- Statif - Bunsen
- Termometer - Kaki tiga
- Klem - Kasa
- Corong pemisah - Cooler
- Tutup gabus - Labu Erlenmeyer
- Labu distilasi - Alat gabus
- Oil bath - Lab jack
B. BAHAN :
- H2SO4 pekat
- Asam cuka/asetat
- CaCl2
- Etanol
- NaOH

VIII. PROSEDUR
1) Suatu labu alas bulat bervolume 0,5 L diberi tutup gabus yang berlubang dua
2) Dalam lubang pertama dimasukkan corong pemisah, sedang yang lainnya dimasukkan sebuah pipa
yang berhubungan dengan alat pendingin.
3) Labu diisi campuran 17 cc alkohol dan 17 cc asam sulfat kuat (dicampur dengan hati-hati)
4) Kemudian labu dipanaskan dalam pemanas minyak (oil bath) pada temperatur 140 oC (termometer
dimasukkan ke dalam minyak)
5) Jika temperatur ini sudah dicapai maka diteteskan perlahan-lahan suatu campuran 80 cc alkohol
dan 67 cc asam cuka murni yang sudah diisikan dalam corong pemisah (lihat gambar)
6) Kecepatan tetesan tersebut harus sesuai dengan kecepatan tetesan hasil sulingan (distilat)
7) Hasil sulingan ini mengandung estercuka, alkohol, asam cuka (yang ikut tersuling) dan air
8) Dari hasil sulingan di atas asam cuka harus dihilangkan dahulu dengan dikocok di dalam labu
terbuka memakai larutan soda 10% sedemikian hingga lapisan atas dari cairan tidak lagi
memerahkan kertas lakmus biru
9) Kemudian kedua lapisan cairan yang terjadi dipisahkan memakai corong pemisah
10) Lapisan yang atas (yang mengandung estercuka) dikocok dengan CaCl 2 exicatus untuk
memisahkan alkohol yang masih ada
11) Kedua lapisan yang terjadi dipisahkan lagi dengan corong pemisah
12) Lapisan atas dimurnikan dengan jalan distilasi
13) Fraksi yang diambil adalah antara 77oC 78oC
14) Hitung presentasi hasil praktis dan teoritis
15) Hasil praktis yang didapat 43 gram

VIII. GAMBAR RANGKAIAN ALAT


Gambar : Distilasi Pertama
Keterangan gambar :
1. Statif 8. Bunsen
2. Termometer 9. Kaki Tiga
3. Klem 10. Kasa
4. Corong Pemisah 11. Cooler
5. Tutup Gabus 12. Labu Erlenmeyer
6. Labu Distilasi 13. Alas Gabus
7. Oil bath 14. Lab Jack

Gambar : Distilasi Akhir


Keterangan gambar
1. Statif 7. Cooler
2. Klem 8. Labu Erlenmeyer
3. Termometer 9. Alas Gabus
4. Tutup Gabus 10. Lab. Jack
5. Labu Distilasi
6. Oil Bath

IX. DATA PENGAMATAN


Massa labu Erlenmeyer kosong 250 ml = 104,38 gram
Massa labu Erlenmeyer + Etil asetat = 145,20 gram
Volume Etil asetat = 48 ml
gram
Mr Alkohol = 46 mol

gram
Mr Asam Asetat = 60 mol
gram
Mr Etil asetat = 88 mol

X. PERHITUNGAN
Diketahui :
Volume Alkohol = 17 ml + 80 ml = 97 ml
Volume H2SO4 = 17 ml
Volume As. Asetat = 67 ml
gram
Densitas Alkohol = 0,79 ml
gram
Densitas As. Asetat = 1,05 ml

Massa Alkohol = Densitas Alkohol x Volume Alkohol

gram
= 0,79 ml x 97 ml

= 76,63 gram

gram
Mol Alkohol = Mr

76,63 gram
= gram = 1,665 mol
46
mol

Massa As. Asetat = Densitas As. Asetat x Volume As. Asetat

gram
= 1,05 ml x 67 ml

= 70,35 gram

gram
Mol As. Asetat= Mr

70,35 gram
= gram = 1,173 mol
60
mol

Penyelesaian :

C2H5OH + CH3COOH CH3COOC2H5 + H2O

Mula-mula : 1,173 1,665 - -


Bereaksi :x x x x
Setimbang : 1,173 x 1,665 x x x

[ CH 3 COOC 2 H 5 ][ H 2 O ]
K = [ C 2 H 5OH ] [ CH 3 COOH ]

1 [ x ][ x ]
4 = [ 1,173x ][ 1,665x ]

4 x2 = [1,173 x] [1,665 x]

2 2
0,488 0,709x + 0,25 x - x =0

2
-0,75 x - 0,709 x + 0,488 =0

0,75 x 2 + 0,709 x - 0,488 =0

b b24 ac
X = 2a

0,709 0,709 24 x 0,75 x0,488


X = 2 x 0,75

0,709 1,417
X = 1,5

X1 = 0,472 X2 = 1,418

Secara Teoritis

gram
Massa Etil asetat = 0,472 ml x 88 ml = 41,527 gram

Secara Praktis
Massa Erlenmeyer + Etil asetat = 145,20 gram

Massa Erlenmeyer kosong = 104,38 gram -

Massa Etil asetat = 40,82 gram

Massa Etil asetat praktis


% Rendeman Etil asetat = Massa Etil asetat teoritis x 100%

40,82 gram
= 41,536 gram x 100%

= 98,27 %

Volume Etilasetat praktis = 48 ml

40,82 gram
Densitas Etil asetat = 48 ml

gram
= 0,85 ml

XI. PEMBAHASAN
17 ml alkohol dan 17 ml H2SO4 dicampurkan dalam labu distilasi
80 ml alkohol dan 67 ml asam cuka murni dituangkan dalam corong pemisah
Larutan dalam labu ditilasi dipanaskan mencapai suhu 140C kemudian teteskan larutan dari
corong pemisah
Hasil distilat berwarna kuning bening (karena tabung erlenmeyer berkerak)
Larutan hasil distilat dikocok dengan NaOH 20% hingga lapisan atas tidak memerahkan kertas
lakmus biru
Lapisan atas dan lapisan bawah yang terbentuk dipisahkan dengan corong pemisah
Lapisan atas diberi tambahan CaCl2 (exicatus)
Kemudian larutan tersebut didistilat kembali dengan fraksi suhu 77C - 78C untuk memurnikan
etil asetat
Distilat akhir dicapai pada suhu 75C dengan hasil distilat berwarna bening
Bobot etil asetat yang didapat yaitu 40,82 gram

XI.KESIMPULAN
Etil asetat dapat dihasilkan dengan campuran etanol dan asam asetat dengan reaksi esterifikasi dan
metode distilasi sederhana.

Hasil rendemen yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan karena distilasi akhir tidak
mencapai suhu 77C - 78C melainkan 75C dan hasil rendemennya yaitu 98.27%

XII.TUGAS

1. Analisis 5 Kesalahan
Kurangnya koordinasi antar anggota kelompok
Kecerobohan mengambil tindakan
Pada distilasi pertama terlalu banyak meneteskan Asam Asetat (tidak sesuai dengan
perbandingan 3:1)
Suhu pemanasan Oil bath yang tidak konstan
Penambahan CaCl2 yang berlebihan

2. Mekanisme Pengikatan Etil Asetat


Mekanisme pengikatan reaksi etil asetat terdiri dari beberapa langkah:
1) Transfer proton dari katalis asam ke atom oksigen karbonil, sehingga meningkatkan
elektrofilisitas dari atom karbon karbonil.
2) Atom karbon karbonil kemudian diserang oleh atom oksigen dari alkohol, yang bersifat
nukleofilik sehingga terbentuk ion oksonium.
3) Terjadi pelepasan proton dari gugus hidroksil milik alkohol, menghasilkan kompleks teraktivasi
4) Protonasi terhadap salah satu gugus hidroksil, yang diikuti oleh pelepasan molekul air
menghasilkan ester.
3. Jenis-Jenis Distilasi

Macam-Macam Destilasi :
1. Distilasi Sederhana : prinsipnya memisahkan dua
atau lebih komponen cairan berdasarkan perbedaan titik didih yang jauh berbeda.
2. Distilasi Fraksionasi (Bertingkat) : sama prinsipnya dengan distilasi
sederhana, hanya distilasi bertingkat ini
memiliki rangkaian alat kondensor yang
lebih baik, sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memiliki
perbedaan titik didih yang berdekatan.
3. Distilasi Azeotrop : memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit di
pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop
tersebut, atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
4. Distilasi Kering : memanaskan material padat untuk mendapatkan fasa uap dan cairnya. Biasanya
digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau batu bata.
5. Distilasi Vakum : memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motede yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm, sehingga titik
didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk mendistilasinya tidak
perlu terlalu tinggi.
6. Distilasi Uap : istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa
yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air ke dalam campuran sehingga bagian yang
dapat menguap berubah menjadi uap pada temperatur yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan
langsung. Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan
labu pembangkit uap (lihat gambar alat destilasi uap). Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang
berisi senyawa yang akan dimurnikan, dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut,
karena titik didih suatu campuran lebih rendah dari pada titik didih komponen-komponennya.

4. Mekanisme Pengikatan Katalis


Sebagai asam, asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan basa menghasilkan garam sulfat. Sebagai
contoh, garam tembaga (II) sulfat dibuatdari reaksi antaratembaga (II) oksida dengan asam sulfat.
CuO + H2O4 CuSO4 + H2O

Asam sulfat juga juga dapat digunakan untuk mengasamkan garam dan menghasilkan asam yang
lebih lemah. Reaksi antara natrium asetat dengan asam sulfatakan menghasilkan asam asetat dan
natrium bisulfat:
H2SO4 + CH3COONa NaHSO4 + CH3COOH
Hal yang sama juga berlaku apabila mereaksikan asam sulfat dengan kalium nitrat. Reaksi ini akan
menghasilkan asam nitrat dan endapan kalium bisulfat. Ketika dikombinasikan dengan asam nitrat,
asam sulfat berprilaku sebagai asam sekaligus zat pendehidrasi membentuk ion nitronium NO 2- yang
penting dalam reaksi nitrasi yang melibatkan substitusi aromatik elektrofilik. Reaksi jenis ini
sangatlahpenting dalam kimia organik.
Asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan logam via reaksi penggantian tunggal menghasilkan gas
hidrogen dan logam sulfat. H2SO4 encer menyerang besi, alumunium, seng, mengan, magnesium, dan
nikel. Namun reaksi dengan timah dan tembaga memerlukan asam sulfat yang panas dan pekat.
Timbal dan tungsten tidak bereaksi dengan asam sulfat. Reaksi antara asam sulfat dengan logam
biasanya akan menghasilkan hidrogen seperti yang ditunjukan pada persamaan di bawah ini. Namun,
reaksi dengan timah akan menghasilkan sulfur dioksida daripada hidrogen.
Fe(s) + H2SO4 (aq) H2(g) + FeSO4(aq)
Sn(s) + 2 H2SO4(aq) SnSO4(aq) + 2 H2O(l) + SO2(g)

5. Jelaskan Tentang Metode Fischer


Proses Fischer-Tropsch adalah reaksi katalisasi kimia pada sintesis gas, dimana senyawa
hidrokarbon disintesis melalui pencampuran hidrogen dan karbon monoksida melaui permukaan
logam transisi. Pada proses Fischer-Tropsch ini dapat mengkonversi berbagai macam bahan bakar
menjadi hidrokarbon cair dalam berbagai bentuk.
Pada proses Fischer-Tropsch, senyawa hidrokarbon disintesis melalui pencampuran hidrogen dan
karbon monoksida melaui permukaan logam transisi. Dimana reaktan awal (sintesis gas) yang
digunakan dalam proses Fischer-Tropsch adalah gas hidrogen (H 2) dan karbon monoksida (CO)
menghasilkan sebuah produk hidrokarbon cair yang dapat digunakan sebagai bahan bakar
pengganti.Proses ini telah menerima perhatian baru dari berbagai kalangan untuk memproduksi bahan
bakar diesel rendah belerang untuk meminimalkan kerusakan lingkungan dari penggunaan mesin
diesel dan mengurangi emisi gas karbon dioksida di udara.
Tujuan utama dari proses ini adalah untuk menghasilkan minyak sintetik pengganti, biasanya dari
batu bara, gas alam atau biomassa, untuk digunakan sebagai minyak pelumas sintetik atau sebagai
bahan bakar sintetik karena seiring penggunaan diesel meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Bahan bakar sintetik ini dapat digunakan pada truk, mobil, dan beberapa mesin pesawat terbang.
Kombinasi gasifikasi biomassa (BG) dan sintesis Fischer-Tropsch (FT) adalah sebuah cara alternatif
untuk memproduksi bahan bakar transportasi terbarukan (biofuels).
Proses Fischer-Tropsch yang melibatkan proses berbagai persaingan reaksi kimia, yang
menghasilkan sejumlah produk sampingan yang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Yang paling
penting adalah reaksi yang dihasilkan dalam bentuk alkana. Selain bentuk alkana, reaksi juga
menghasilkan bentuk alkena, alkohol dan hidrokarbon oksigenasi lainnya. Biasanya, jumlah produk
non-alkana yang dihasilkan hanya relatif kecil, meskipun katalis pendukung dari beberapa produk
tersebut telah dikembangkan.

6. Pengertian Dekantasi
Dekatasi adalah proses pemisahan zat pada yang tidak ikut terlarut di dalam pelarutnya dengan
cara dituangkan, sehingga akibatnya cairan tersebut akan terpisah dari zat padat yang tercampur.
Kalau bicara tentang dekantasi pasti akan berkaitan dengan kristalisasi, filtrasi, ekstraksi, dan juga
sublimasi. Karena beberapa istilah tersebut digunakan untuk mendefinisikan cara-cara pemisahan
campuran dari bahan pencampurnya. Faktor yang mempengaruhi kelarutan endapan:
Suhu
pH
Efek garam
Kompleksasi
Derajat supersaturasi
Sifat pelarut

XIII. DAFTAR PUSTAKA

Fessenden dan Fessenden.. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid I.1986. Jakarta : Erlangga.
2014.Buku penuntunpraktikum Teknik Kimia III.Jakarta: Universitas Muhammadiyah Jakarta.
2014.Ilmu Kimia Organik 2 Sekolah Menengah Farmasi,Jakarta.Anshory Irfan.2000.Kimia 2
SMU.Jakarta: Erlangga
Fesenden.Kimia Organik Jilid I.
Http ://belajar menulis. Info/benzene dan nitro benzen.html