Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK)
Bumigora merupakan salah satu perguruan tinggi akan terus berusaha untuk
menghasilkan generasi muda yang ahli dalam bidang teknologi informasi (IT).
Dimana di harapkan kepada generasi muda tersebut agar kedepannya mampu
bersaing di dalam dunia kerja dan dapat menciptakan lapangan kerja baik untuk
dirinya maupun masyarakat di sekitarnya. Atas dasar tujuan inilah STMIK
Bumigora menerima siswa/i untuk melaksanakan Praktik Sistem Ganda (PSG)
yang di selenggarakan oleh sekolah masing-masing, dimana siswa/i dapat di beri
kesempatan terjun langsung ke lapangan yakni dalam dunia kerja dan mengamati
kegiatan kerja secara langsung.
Dalam penerapannya, STMIK Bumigora memberikan kesempatan kepada
semua siswa/i untuk menerapkan ilmu yang di dapatkan di sekolah sesuai dengan
jurusan kami masing-masing salah satunya dengan tujuan untuk pengembangan
diri. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami sebagai siswa/i memilih STMIK
Bumigora sebagai tempat PSG kami. Untuk itu kebredaan STMIK Bumigora
sebagai tempat PSG para siswa/i sangat membantu kami karena salah satu mata
kuliah disini bertepatan dengan mata pelajar yang ada di sekolah kami
Keberadaan komputer dalam unit kerja sudah tidak asing lagi, maka
komputer merupakan alat pengolah data yang handal dikarenakan kemampuannya
dalam menyimpan data dalam jumlah yang besar, disamping kecepatan
pemerosesan serta ketelitiannya sehingga semua persoalan akan lebih mudah
teratasi.
Terkait dengan hal tersebut, maka khususnya di Perpustakaan STMIK
Bumigora sedang dilakukan pengembangan aplikasi perpustakaan yang
terintegrasi dengan pusat teknologi (PUSTIK). Dimana sedang dilakukan
pembaharuan terhadap seluruh pengolahan buku dan anggota yang semuanya
dilakukan menggunakan aplikasi perpustakaan yang disebut SLIMS (Senayan
Library Managemen System) versi Meranti.

20
Berhubung pengolahan buku dan pembaharuan data anggota perpustakaan
masih banyak yang belum selesai, maka kami ditugaskan untuk prakerin di
Perpustakaan oleh Ibu Pembantu Ketua I (membawahi perpustakaan) untuk
membantu penyelesaian tugas-tugas tersebut. Dengan harapan juga kami bisa
mendapatkan pengetahuan baru seputar teknologi informasi maupun ilmu baru
berupa pustakawan (pengolahan buku).

A. Tujuan PSG
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam Kegiatan Peraktek kerja Industri
dalam menjalani aktivitas pengolahan dan entry buku di STMIK Bumigora
Mataram sebagai berikut:
1. Sebagai salah satu syarat untuk kenaikan kelas ke kelas III
2. Untuk mengetahui sistem jaringan dan penggunaan aplikasi perpustakaan
yang diterapkan di Perpustakaan STMIK Bumigora
3. Untuk membandingkan teori yang pernah diperoleh dibangku Sekolah
dengan kenyataan yang ada di STMIK.
4. Untuk lebih memperdalam pengetahuan yang kita dapat di bangku
Sekolah.
5. Untuk membantu pihak pengelola jaringan STMIK dalam kegiatan
pengolahan jaringan STMIK.

20
BAB II
LANDASAN TEORI
1. Pendahuluan
Upaya pembaharuan pendidikan harus dilakukan secara terus menerus
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan ekonomi,
dan perubahan dalam masyarakat. Khususnya pada pendidikan kejuruan, telah
banyak upaya pembaharuan penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) yang dilakukan selama ini. Namun, berdasarkan hasil-hasil
kajian, pengamatan, dan penelitian, upaya pembaharuan tersebut banyak
menghadapi kendala-kendala di lapangan, yang perlu dicari alternatif
pemecahannya.
Pembaharuan pola penyelenggaraan pendidikan di SMK dimulai sejak
dilaksanakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) tahun 1994, dan dilengkapi dengan
sejumlah perangkat pelaksanaannya. Dalam perkembangan selanjutnnya,
pelaksanaan PSG lebih dimantapkan lagi dengan menggunakan acuan yang lebih
mendasar yaitu yang tertulis dalam buku Keterampilan Menjelang 2020 untuk
Era Global yang disusun oleh Satuan Tugas Pengembangan Pendidikan dan
Pelatihan Kejuruan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

20
(1997). Kemudian, penyelenggaraan PSG dibakukan dalam Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor 323/U/1997 tentang Penyelenggaraan
Sistem Ganda pada Sekolah Menengah Kejuruan tanggal 31 Desember 1997,
yang memuat komponen-komponen yang diperlukan dalam penyelenggaraan
PSG. Inti dari gerakan ini adalah upaya untuk mendekatkan pendidikan
kejuruan ke dunia usaha/industri.
Dari aspek kurikulum, terjadi perubahan karakteristik dari Kurikulum
SMK Tahun 1994 menjadi Kurikulum SMK Edisi 1999. Perbedaan kedua
kurikulum tersebut terletak pada: pendekatan, struktur program, periode ajaran,
dan evaluasi. Pertama, Kurikulum SMK Tahun 1994 menggunakan pendekatan
competency based, sedangkan Kurikulum Edisi 1999 menggunakan pendekatan
kombinasi competency based dan broad based. Kedua, struktrur program
Kurikulum SMK Tahun 1994 terdiri dari program umum dan program kejuruan,
sementara itu Kurikulum SMK Edisi 1999 terdiri dari program normatif, program
adaptif, dan program produktif. Ketiga, pembelajaran menurut Kurikulum SMK
1994 disajikan dalam periode catur wulan, sedangkan Kurikulum 1999 disajikan
dalam sistem semester. Keempat, evaluasi Kurikulum 1994 dilaksanakan secara
parsial, sebaliknya pelaksanaan Kurikulum 1999 akan dievaluasi secara
menyeluruh.
Dalam pelaksanaan PSG, kendala dirasakan oleh kedua belah pihak,
yaitu sekolah dan industri (Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 1996).
Disebutkan bahwa kendala yang dihadapi oleh sekolah antara lain: (1) keragaman
geografis, (2) keragaman kesiapan dan tingkat kemajuan SMK, dan (3) keragaman
program SMK yang belum seimbang dengan keragaman industri di sekitarnya.
Selanjutnya, kendala yang dirasakan oleh industri antara lain: (1) belum dimiliki
struktur jabatan dan keahlian yang mantap, terutama pada industri kecil, dan
menengah, (2) belum ada perencanaan alokasi biaya untuk pengembangan
pendidikan, (3) belum dimilikinya persepsi tentang keuntungan PSG bagi industri,
dan (4) kurangnya kesadaran tentang peningkatan keefektifan, efisiensi, dan
kualitas dalam pelaksanaan pelatihan di industri. Sementara itu, menurut hasil
penelitian Sonhadji, dkk. (1997), pelaksanaan PSG menghadapi kendala-kendala,
aptara lain sebagai berikut: (1) pendelegasian tugas dan tanggung jawab di antara

20
perangkat organisasi Pokja PSG belum merata, dan ada kecenderungan dominan
pada Ketua Pokja, (2) guru pembimbing belum berfungsi secara optimal di
industri, dan diantara mereka ada yang tidak relevan dengan bidangnya, (3)
kesulitan menjalin kerjasama dengan institusi pasangan yang tergolong menengah
dan besar, (4) rendahnya manajemen pengelolaan pelatihan siswa oleh industri,
terutama pada industri kecil, (5) instruktur di industri banyak yang tidak
memenuhi persyaratan serta belum berperan secara efektif, (6) masih banyak
siswa yang mencari sendiri tempat pelatihan industri, (7) kurangnya waktu yang
disediakan Majelis Sekolah untuk berkoordinasi, (8) lamanya pengurusan
perijinan dan permohonan pelatihan, (9) kurangnya disiplin dan rendahnya
kepedulian siswa terhadap keselematan kerja, dan (10) tidak berimbangnya antara
jumlah SMK dan jumlah dunia usaha/industri. Dari temuan-temuan di atas dapat
disebutkan bahwa pelaksanaan PSG selama ini mengalami kendala-kendala
struktural, geografis, potensi teknologis, psikologis, akademis, manajerial, dan
kultural.
2. Konsep Pendidikan Sistem Ganda (PSG)
Link and match adalah kebijakan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan
relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yaitu relevansi dengan kebutuhan
pembangunan umumnya dan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia
industri khususnya. Beberapa prinsip yang akan dipakai sebagai strategi dalam
kebijakan Link and Match diantaranya adalah model penyelenggaraan Pendidikan
Sistem Ganda (PSG).
PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan
pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron
program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh
melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu
tingkat keahlian profesional tertentu. Pada hakekatnya PSG merupakan suatu
strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi
proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku
pendidikan di tingkat SMK, masyarakat dan dunia usaha/industri dalam
menyikapi perubahan dinamika tersebut.

20
Bila pada pendidikan konvensional, program pendidikan direncanakan,
dilaksanakan dan dievalusi secara sepihak dan lebih bertumpu kepada
kepemimpinan kepala sekolah dan guru, maka pada PSG program pendidikan
direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi bersama secara terpadu antara sekolah
kejuruan dengan institusi pasangannya, sehingga fungsi operasional dilapangan
dilaksanakan bersama antara kepala sekolah, guru, instruktur dan manager terkait,
untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi guru serta
instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa
PSG dilapangan secara kondusif.
Menurut Dikmenjur (1994 : 19), kualitas guru tetap memegang peranan
kunci, oleh sebab itu program Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) akan
dilaksanakan dengan kegiatan pokok peningkatan mutu dan relevansi, diantaranya
melalui peningkatan mutu, karena itu program penataran guru akan tetap penting,
terutama dalam meningkatkan kemampuan professional guru yang akan
dilaksanakan melalui penataran yang memakai pendekatan production.
Training Serta peningkatan penataran dalam bentuk on the job training di
industri.
Hal tersebut menunjukkan, bahwa peranan dan fungsi guru dalam PSG
merupakan salah satu parameter terhadap keberhasilan pelaksanaanya
sebagaimana dinyatakan pranarka (1991), bahwa peran gurulah pelaksana utama
di medan pendidikan aktual . Menurut T. Raka Joni (1991) tugas guru adalah
teramat penting, secara makro tugas itu berhubungan dengan pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM) yang pada akhirnya akan menentukan kelestarian
dan kejayaan kehidupan bangsa karenanya Nana Sujana (1989 : 12) menyatakan,
bahwa kehadiran guru dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) tetap memegang
peranan penting dan belum dapat digantikan oleh alat secanggih apapun.
Gambaran oleh pakar pendidikan tersebut dapat dipahami, sebab masih terlalu
banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, system nilai perasaan, motivasi,
kebiasaan, kesiapan dan lainnya yang diharapkan merupakan hasil proses
pengajaran.
Fenomena tersebut menunjukkan, bahwa dalam suatu proses pendidikan,
keprofesionalan sangat iperlukan, lebih tegas Pranarka (1991) menyatakan, bahwa

20
para guru sebagai perwira- perwira tempur didalam medan pendidikan yang
aktual.
Ini mengisyaratkan bahwa keprofesionalan guru betul-betul diharapkan
sebagai pelaksanaan pendidikan dalam proses belajar mengajar sehingga proses
dari pendidikan tersebut peserta didik memiliki kesiapan dan kemampuan dalam
dunia yang nyata dan ini sejalan dengan tujuan PSG yaitu menghasilkan tenaga
kerja yang memiliki keahlian professional, yakni tenaga kerja yang memiliki
tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan
lapangan kerja (Aburizal Bakrie,1996:8).
Dalam upaya merealisasikan kebijakan link and match melalui
pelaksanaan PSG, selain diperlukan guru SMK yang profesional serta instruktur
yang mewakili dunia usaha / industri yang profesional pula. Instruktur dalam PSG
memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam menentukan
keberhasilan peserta PSG. Menurut slamet PH. (1997) tugas instruktur dalam
PSG antara lain adalah memberikan bimbingan, pengarahan, melatih, memotivasi
dan menilai peserta PSG, oleh karenanya instruktur dituntut mampu memahami
aspek-aspek pendidikan dan pengajaran.
Dari uraian diatas, diketahui bahwa salah satu faktor yang dapat
menentukan keberhasilan pelaksanaan PSG adalah guru dan instruktur, oleh sebab
itu baik guru maupun instruktur dituntut memiliki kompetensi yang
dipersyaratkan untuk melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing dalam
PSG, hal ini senada dengan pernyataan T. Raka Joni (1991) bahwa diluar lapisan
tenaga propesional untuk bidang-bidang ajaran yang memiliki kandungan
keterampilan tinggi, penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan
efisien mempersyaratkan peran serta instruktur.
Namun demikian kenyataan yang ada menunjukkan, bahwa guru dan
instruktur belum sepenuhnya memiliki kemampuan yang dipersyaratkan dalam
melaksanakan PSG, sebagaimana dinyatakan Dikmenjur (1997).
Bahwa permasalahan yang dihadapi adalah guru pada saat ini belum
memiliki wawasan industri dan tenaga instruktur belum memiliki wawasan
kependidikan. Rusdiono (1999) menyebutkan bahwa alasan utama melencengkan
pelaksanaan PSG. Lebih jauh Rusdiono menyebutkan bahwa alasan utama

20
melencengkan pelaksanaan PSG di Indonesia disebabkan oleh belum
dipahaminya konsep/pengertian PSG oleh pihak sekolah.
Bertolak dari sejumlah permasalahan, tersebut apabila dicermati ada satu
permasalahan yang perlu dikaji lebih mendalam sebab masalah itu dihadapi baik
oleh guru maupun instruktur, yakni tentang kemampuan membimbing siswa PSG.
Kemampuan (kompetensi) guru dan instruktur dalam membimbing siswa
PSG adalah salah satu tugas dan tanggung jawab mendidik yang paling esensi
terutama dalam pelaksanaan PSG. Kemampuan guru dan instruktur dalam
membimbing siswa PSG ini banyak dipengaruhi berbagai aspek, seperti
pengetahuan, pengalaman, minat, sikap, persepsi, wawasan latar belakang
pendidikan dan faktor lingkungan lainnya.

A. Peran Guru dan Instruktur dalam PSG


Menurut Dikmenjur (1997) guru dipandang sebagai ujung tombak yang
sangat menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda
(PSG), yang secara khusus guru dalam PSG didefinisikan sebagai berikut : Guru
PSG adalah individu yang memiliki kemampuan kompetensi, profesi keguruan
atau pendidik secara dominan tetapi juga harus memiliki kompetensi teknis
keahlian tertentu dan memiliki jiwa enterpreneurship (Dikmenjur, 1997).
Dalam pelaksanaan PSG guru dipersyaratkan harus memiliki sejumlah
kompetensi atau kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk melaksanakan
keprofesiannya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru
PSG, oleh sebab itu Sahertian (1994 : 54) menyatakan bahwa yang dimaksud
profil kompetensi ialah penampilan guru dalam melakukan tugasnya yang
memiliki syarat sesuai dengan kriteria kemampuan yang dipersyaratkan.
Sehubungan dengan kemampuan guru dalam PSG, Dikmenjur (1997)
menjelaskan kompetensi profesi guru dalam PSG adalah sebagai berikut : (a)
Mampu mengorganisasikan program pembelajaran di SMK yang kondusif, (b)
Mampu memberikan inovasi dan motivasi kerja kepada siswa, (c) Mampu
menguasai keahlian baik secara teknis maupun secara teoritis, (d) Mampu

20
menguasai emosi sehingga menjadi suri teladan oleh siswa dan kawan seprofesi,
(e) Mampu berkomunikasi dan berjiwa enterpreneurship.
Berdasarkan dari sejumlah unsur kompetensi guru dalam PSG seperti
tersebut diatas, maka salah satu kemampuan yang diperlukan dari guru dalam
melaksanakan program PSG diantaranya adalah kemampuan membimbing
siswa PSG, referensi-referensi yang menekankan pentingnya guru memiliki
kemampuan membimbing adalah seperti yang dinyatakan oleh Nana Sujana
(1989), bahwa dari sepuluh kompetensi guru menurut PSG Depdiknas guru harus
mengenal fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa guru harus memiliki
kemampuan membimbing dalam kegiatan proses belajar mengajar sehingga
pengajaran berlangsung dengan efektif, hal yang sama seperti yang dinyatakan
oleh Nolker (1988), Sukamto (1988), Sahertian (1994), Soekartawi dan Sardiman
(1997) serta Soedijarto (1997), bahwa salah satu profil seorang guru adalah
mempunyai keahlian dalam memberikan bimbingan kepada siswa didiknya.
Instruktur yang diidentikan sebagai pengajar praktik (Nolker, 1998) dan
menurut T. Raka Joni (1991) instruktur ialah tenaga pengajar bantu yang bertugas
melatih secara intensif keterampilan.
Dalam PSG didefinisikan sebagai berikut : instruktur PSG adalah
individu yang telah menguasai keahlian / kompetensi tertentu dan telah memiliki
kemampuan enterpreneurship, secara dominan tetapi juga dituntut untuk memiliki
kompetensi kejuruan (Dikmenjur, 1997).
Menurut Nolker (1998 : 173) Instruktur memberikan bimbingan ahli
bagi peserta didik dalam melakukan pekerjaan latihan serta memberikan petunjuk-
petunjuk praktis, sesuai dengan perkembangan teknologi mutakhir. selanjutnya
Nolker (1988) menyebutkan, bahwa instruktur juga menyiapkan pertemuan
pengajaran dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip didaktik dan ia juga
memberikan nilai terhadap hasil pekerjaan latihan dan berperan serta dalam
penyelenggaraan ujian.
Bertolak dari kemampuan guru dan instruktur dalam membimbing siswa
PSG, menurut Yusuf Gunawan (1992), dan Sukardi (1995), bahwa membimbing
adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari

20
pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam
pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan dalam
mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan
lingkungan. Winkel (1981), lebih rinci menguraikan bahwa bimbingan
(guidance) mempunyai hubungan dengan guiding : Showing a Way (menunjukkan
jalan), conducting (menuntun), giving instruction (memberikan petunjuk),
regulating (mengatur) governing (mengarahkan), giving advice (memberikan
nasehat).
Pada pelaksanaan PSG, guru dan instruktur dalam memberikan
bimbingan kepada siswa yang melaksanakan praktik industri, tentunya kegiatan
membimbing itu sendiri lebih difokuskan kepada kegiatan memimpin,
mengarahkan, menuntun dan memberikan petunjuk atau penjelasan yang secara
khusus berhubungan dengan kegiatan PSG, sehingga dengan demikian seluruh
potensi yang dimiliki siswa PSG dapat dioptimalkan sedemikian rupa mengarah
kepada pencapaian PSG.
Menurut Sukamto (1988) guru bertugas membimbing anak didik
mengembangkan rasa tanggung jawab dan disiplin, dengan memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan minat mereka pada tingkat tingkat usia tertentu, menurut
piters yang dikutif Nana Sudjana (1989) tugas dan tanggung jawab guru sebagai
pembimbing memberikan tekanan pada tugas (aspek mendidik) dan memberi
bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah masalah yang dihadapinya.
Senada dengan itu Imam Syafeie (1992) menyatakan, bahwa guru
sebagai pembimbing membantu siswa agar mampu mengarahkan dan
menyesuaikan diri pada lingkungan kehidupannya, ini berarti guru hendaknya
mampu membantu siswa untuk mengubah dan memecahkan masalah melalui
proses hubungan interpersonal.
Selanjutnya Soedijarto (1997) menyebutkan, bahwa bagi para pendidik
yang professional harus mampu menggunaka segala pengetahuan baik teori,
konsep, definisi, disiplin ilmu, penilaian dan teknologi pendidikan untuk
memecahkan masalah kependidikan, terutama dalam tanggung jawabnya
membimbing peserta didik mencapai tujuan pendidikan nasional.

20
Pernyataan di atas menjelaskan salah satu tugas guru dalam Proses
Belajar Mengajar (PBM) yang mengandung keterampilan, guru dalam
melaksanakan tugasnya tersebut dapat dibantu oleh instruktur seperti yang
dinyatakan oleh T Raka Joni (1991), bahwa diluar lapisan tenaga professional,
untuk bidang-bidang ajaran yang memiliki kandungan yang tinggi,
penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien akan
mempersyaratkan peran serta instruktur yang bertugas melatih secara intensif
keterampilan.
Guru dan instruktur dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing
siswa PSG, selain memiliki kemampuan membimbing, secara umum dalam
pelaksanaan program praktik dasar maupun praktik keahlian produktif dituntut
memenuhi persyaratan tertentu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Dikmenjur
(1997), yaitu : memiliki kepedulian terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan
pada SMK, memiliki pengetahuan dan keterampilan memiliki sikap dan etos kerja
serta dedikasi yang tinggi terhadap bidang pekerjaan/profesinya, memiliki
wawasan dunia kerja, peka terhadap perkembangan IPTEKS, menghargai
profesinya maupun profesi lainnya dan interpersonal communication.
Dengan memiliki sejumlah persyaratan seperti diatas, maka baik guru
kejuruan maupun instruktur diharapkan mampu melaksanakan tugas
pembimbingan terhadap siswa PSG dengan baik, terarah dan efektif. Dikmenjur
(1997) menjelaskan tentang ruang lingkup tugas pembimbing PSG, baik pada
waktu siswa melakukan praktik dasar kejuruan maupun melaksanakan praktik
keahlian pada lini produksi didunia usaha / industri, yaitu : (1) Menyeleksi calon
peserta calon PSG, (2) Mengkondisikan siswa peserta PSG, (2) Melatih dan
membimbing secara sistematis pada program praktik dasar dan praktik keahlian
produktif pada lini produksi, (3) Menilai secara kontinyu terhadap sikap dan
kinerja praktik, (4) Menguji pada waktu ujian kompetensi, (5) Memberikan
motivasi kerja dan (6) Memberikan peringatan atau hukuman.
Pemahaman (comprehension) dapat diartikan menguasai sesuatu dengan
pikiran, memahami maksudnya dan menangkap maknanya (Sardiman, 1997).
Pemahaman memiliki arti sangat mendasar yang meletakkan bagian-bagian
belajar pada proporsinya, oleh sebab itu pemahaman tidak sekedar tahu, tetapi

20
juga menghendaki agar subjek belajar dapat memanfaatkan bahan-bahan yang
telah dipahaminya. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman merupakan
unsur psikologis yang penting dalam proses belajar-mengajar.
B. Pelaksanaan Prakerin
1) Pengertian Prakerin
Praktik Kerja Industri yang disingkat dengan prakerin merupakan
bagian dari program pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh setiap
peserta didik di Dunia Kerja, sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sistim
pendidikan di SMK yaitu Pendidikan Sistim Ganda (PSG). Program prakerin
disusun bersama antara sekolah dan dunia kerja dalam rangka memenuhi
kebutuhan peserta didik dan sebagai kontribusi dunia kerja terhadap
pengembangan program pendidikan SMK.
Dengan prakerin peserta didik dapat menguasai sepenuhnya aspek-
aspek kompetensi yang dituntut kurikulum, dan di samping itu mengenal
lebih dini dunia kerja yang menjadi dunianya kelak setelah menamatkan
pendidikannya.
2) Prinsip-prinsip Pendidikan Kejuruan (Charles Prosser)
Keberhasilan pendidikan kejuruan / SMK diukur dari tingkat
keterserapan tamatan di dunia kerja. Untuk mencapai hal tersebut berbagai
usaha dilakukan oleh SMK melalui peningkatan mutu pembelajaran. Dalam
desain pembelajaran perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran
sebagai berikut:
Efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih merupakan replika
lingkungan dimana nanti bekerja
Efektif jika tugas-tugas diklat dilakukan dengan cara, alat, dan mesin
yang sama seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu.
Efektif jika melatih kebiasaan berpikir dan bekerja seperti di DuDi
Efektif jika setiap individu memodali minatnya, pengetahuan dan
ketrampilannya pada tingkat yang paling tinggi
Efektif untuk setiap profesi, jabatan, pekerjaan untuk setipa orang yang
menginginkan dan memerlukan dan dapat untung

20
Efektif jika diklat membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir
yang benar diulang sehingga sesuai/cocok dengan pekerjaan
Efektif jika GURUnya mempunyai pengalaman yang sukses dalam
penerapan kompetensi pada operasi dan proses kerja yang telah
dilakukan.
Pada setiap jabatan ada kemampuan minimum yang harus dipunyai oleh
seseorang agar dia dapat bekerja pada jabatan tersebut
Pendidikan Kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar / tanda-
tanda pasar
Pembiasaan efektif pada siswa tercapai jika pelatihan diberikan pada
pekerjaan nyata sarat nilai
Isi diklat merupakan okupasi pengalaman para ahli
Setiap okupasi mempunyai ciri-ciri isi (Body of content) yang berbeda-
beda satu dengan lainnya
Sebagai layanan sosial efisien jika sesuai dengan kebutuhan seseorang
yang memerlukan
Pendidikan Kejuruan efisien jika metoda pengajarannya
mempertimbangkan sifat-sifat peserta didik
Pembiasaan efektif pada siswa tercapai jika pelatihan diberikan pada
pekerjaan nyata sarat nilai

3) Tujuan Prakerin
a. Pemenuhan Kompetensi sesuai tuntutan Kurikulum
Penguasaan kompetensi dengan pembelajaran di sekolah sangat
ditentukan oleh fasilitas pembelajaran yang tersedia. Jika ketersediaan
fasilitas terbatas, sekolah perlu merancang pembelajaran kompetensi di
luar sekolah (Dunia Kerja mitra). Keterlaksanaan pembelajaran
kompetensi tersebut bukan diserahkan sepenuhnya ke Dunia Kerja, tetapi
sekolah perlu memberi arahan tentang apa yang seharusnya dibelajarkan
kepada peserta didik.
b. Implementasi Kompetensi ke dalam dunia kerja

20
Kemampuan-kemampuan yang sudah dimiliki peserta didik, melalui
latihan dan praktik di sekolah perlu diimplementasikan secara nyata
sehingga tumbuh kesadaran bahwa apa yang sudah dimilikinya berguna
bagi dirinya dan orang lain. Dengan begitu peserta didik akan lebih
percaya diri karena orang lain dapat memahami apa yang dipahaminya dan
pengetahuannya diterima oleh masyarakat.
c. Penumbuhan etos kerja/Pengalaman kerja.
SMK sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan dapat
menghantarkan tamatannya ke dunia kerja perlu memperkenalkan lebih
dini lingkungan sosial yang berlaku di Dunia Kerja. Pengalaman
berinteraksi dengan lingkungan Dunia Kerja dan terlibat langsung di
dalamnya, diharapkan dapat membangun sikap kerja dan kepribadian yang
utuh sebagai pekerja.

BAB III
KEGIATAN PRAKTEK
3.1. Waktu dan Tempat
Kegiatan prakerin ini dimulai dari tanggal 4 Pebruari 6 Maret 2013
dan bertempat di Ruang Perpustakaan STMIK Bumigora Mataram.
3.2. Profil/Lokasi PSG
A. Sejarah Berdirinya STMIK Bumigora Mataram
Didorong oleh ke inginan serta tanggung jawab sebagai warga
Negara yang baik dengan tujuan ikut mengembang misi mencerdaskan
kehidupan bangsa seperti di amanatkan dalam pembukaan UUD 1945,
maka didirikan Yayasan Pendidikan Eksekutif Komputer Dengan Akte
Nomor: 39, tanggal 26 september 1987 di hadapan notaris Abdullah, SH
di Mataram.
Pengurus Yayasan setalah mempelajari lagi dengan seksama dan
mengamati secara cermat terhadap jenis pendidikan yang dapat
menunjang pembangunan bangsa dalam kaitannya dengan ahli teknologi

20
canggih yang sangat mendesak, menyepakati untuk mendirikan Sekolah
Tinggi Teknologi Komputer (STTK) Bumigora.
Gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi tersebut telah di rintis
sejak tahun 1987. Namun adanya kebijaksanaan baru mengenai
pendidikan PTS oleh Dirjen Dikti No:2834/D/T1987, tanggal 26
September 1987 dan No.086a/D/T1988, tanggal 16 Januari 1988, rencana
tersebut tertunda dan baru dapat di wujudkan dalam Tahun Akademik
1989/1990 atas dasar.
Surut petunjuk dari Kopertis Wilayah VIII
Nomor:117/Kop.8/N/1989 tanggal 11 mei 1989 perihal pendidikan
PTS baru
Rekomendasi Bapak Gubenur KDH Tingkat 1 Propinsi NTB Nomor:
421.4/873/008 Tanggal 15 juni 1989.
Rekomendasi Bapak Bupati KDH II Lombok Barat No.425.12/563
Tanggal 26 juni 1989.

Keberadaan Lembaga Pendidikan STMIK Bumi gora tersebut


kemudian semakin di mantapkan lagi dengan dikeluarkannya Surat
Keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan melalui coordinator
Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VIII yang memberi statatus
terdaftar untuk jenjang studi strata nol (S0) Program Studi Diploma Tiga
(DIII) Manajemen Informatika berdasarkan surat keputusan
No.0390/0/1991 tertanggal 22 Juni 1991 merubah nama Sekolah Tinggi
Teknologi Komputer (STTK) Bumigora menjadi Sekolah Tinggi
Manajeman Informatika dan Komputer (STMIK) Bumigora. Selang
beberapa waktu pada tanggal 8 Januari 1992 dengan Surat Keputusan
No.026/0/1992 menyusun program Diploma Teknik Informatika pun
mendapat status terdaftar.
Memperhatiakan sistem pengolahan kedua program studi tersebut
dinilai cukup baik, STMIK Bumigora di perkenankan pula untuk
menyelenggarakan jenjang studi Strata Satu (S1) program studi Teknik
Informatika dengan status terdaftar berdasarkan surat keputusan

20
No.608/DIKTI/EP/1993 tertanggal 23 Nopember 1993, dan dengan
menunjuk No.699/D4.II/1998 perihal menyelenggarakan Program D2
dan D1. Sejak tahun akademik 1998/1999 STMIK Bumigora Mataram
membuka jenjang pendidikan D1 dan D2 Manejeman Informatika
Komputer denagn status Terdaftar.
Pada tanggal 9-10 Mei 2000 telah di lakukan visitasi oleh Badan
akreditasi Nasional perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk program studi
Teknik Informatika jenjang Strata satu (S1) dan telah mendapatkan Status
TERAKRE-DITASI. Sedangkan untuk Program studi Manajeman
Informatika jenjan Diploma tiga (D3) mendaptkan Status
TERAKREDITASI pada tanggal 4 April 2002, dan saat ini telah di
lakukan pengajuan perpanjangan akreditasi untuk program Studi Teknik
Informatika jenjang S1, proses perpanjangan akreditasi program studi
Manajeman Informatika jenjang D3 dan pengajuan untuk diakreditasi
program studi Teknik Informatika jenjang Diploma tiga (D3).
Kondisi dan perkembangan STMIK Bumigora sampai saat ini di
gunakan sebagai dasar untuk melihat lingkuangan eksternal, sepereti
deregulsi bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai salah satu bentuk
restrukturalisasi sosial ekonomi. Keadaan ini tentunya akan
mengakibatkan Indonesia harus terbuka bagi lembaga pendidikan luar
negeri. Dengan segala konsekwensi tentu STMIK Bumigora harus
mempersiapkan diri agar kondisi yang akan datang dapat membantu
perkembangan yang akan di rencanakan, dan justru tidak menjadi
ancaman. Keadaan tersebut tentunya akan banyak berpengaruh terhadap
kebijaksanaan yang akan di tempuh oleh STMIK Bumigora. Oleh karena
itu Rencana Strategis (Restra) STMIK Bumigora disusun dengan
memperhatikan faktor-faktor penentu, sebagai berikut:
Kedudukan Georafis, potensi sumberdaya, dan kesadaran akan peran
dan tanggung jawab STMIK Bumigora dalam ekosistem
pengembangan wilayah Indonesia Timur.
Peranannya dalam rangka pengembangan sistem pendidikan nasional
regional dan daerah.

20
B. Struktur Organisasi
Berikut adalah struktur organisasi dari Perpustakaan STMIK
Bumigora Mataram.

Struktur Organisasi Perpustakaan

Pembantu Ketua I

Kepala Bagian Perpustakaan Pustik

Staf Pelayanan dan Otomasi Staf Pengolahan dan Perawatan


Pelayanan

Keterangan :
= Garis Koordinasi
= Garis Komando
Gambar 1. Struktur Organisasi (sumber : perpustakaan STMIK Bumigora)

3.3. Kegiatan atau Pelaksanaan Prakerin


Selama melaksanakan PSG di perpustakaan, berikut adalah bentuk
kegiatan yang kami lakukan berdasarkan pembagian tugas yang telah diberikan :
a) Pengentrian data buku
b) Pembuatan barcode secara manual dan otomatis dari aplikasi SLIMS
c) Membantu dalam sirkulasi/pelayanan peminjaman dan pengembalian buku
mahasiswa, terdapat mesin barcode dalam memudahkan dan mempercepat
pelayanan ini

20
d) Membantu merapikan dan menyusun buku yang telah diolah dengan rapi

Begitulah kegiatan yang kami lakukan selama PSG dari awal sampai selesai
prakerin.

20
BAB IV
PEMBAHASAN

Seperti yang telah dijelaskan diatas, selama kami PSG di Perpustakaan


STMIK Bumigora Mataram, tugas utama kami adalah membantu dalam proses
pengentrian data buku dan pelayanan sirkulasi. Oleh pendamping kami diarahkan
terlbih dahulu untuk merapikan dan memilih buku-buku mana yang akan diolah
berhubung ada buku yang sudah rusak dan masih bagus.
Kami diajarkan bagaimana cara menggunakan aplikasi SLIMS dengan baik
dan benar, berikut dengan menu-menu yang terdapat dalam aplikasi tersebut.
Selain itu kami juga diajarkan bagaimana cara menggunakan mesin barcode untuk
memudahkan dalam pelayanan peminjaman dan pengembalian buku oleh
mahasiswa.
Aplikasi senayan SLIMS yang kami diajarkan adalah versi meranti yang
kata pendamping kami disana merupakan aplikasi terbaru dari senayan
perpustakaan. Tiap hari kami bermain menggunakan SLIMS, sampai kami juga
diajarkan bagaimana cara membuat barcode buku secara manual dan otomatis dari
program aplikasi.
Buku-buku yang kami telah entri kemudian diminta untuk dipasangkan
barcode koleksi, baru setelah itu dipajang pada rak-rak buku yang telah diatur.
Kami juga sebelumnya diminta untuk membuat dan menempel nama label dari
setiap rak buku. Ini sangat penting karena dapat memudahkan pencarian
mahasiswa dalam penelusuran buku baik secara langsung maupun melalui
SLIMS.
Kami juga diajarkan oleh staff pustakawan yang ada disana untuk mengolah
buku dengan baik dan benar sebelum dientri ke aplikasi. Terasa ilmu kami
bertambah karena selain bisa dari segi aplikasi juga bisa dari ilmu pustakawannya.
Akhirnya kami merasa puas karena selain mendapat pengalaman didunia
kerja, kami juga mendapatkan ilmu yang luar biasa bermanfaatnya..

20
BAB V
PENUTUP

I . KESIMPULAN
Bedasarkan hasil kegiatan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang telah di
kemukakan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diberikan adalah :
Kami mendapat ilmu tambahan berupa pengetahuan penggunaan aplikasi
SLIMS perpustakaan (teori dan praktek) berupa :
a. Entry buku dan anggota
b. Pelayanan peminjaman dan pengembalian buku (transaksi)
c. Pembuatan barcode manual dan otomatis dari aplikasi SLIMS
Bisa menggunakan mesin barcode yang terintegrasi dengan aplikasi SLIMS
Bisa berselancar dengan internet dengan komputer yang tersedia diruangan

II. SARAN
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah semoga kedepannya di
STMIK Bumigora, selain diberikan tugas khusus dalam ruangan tertentu misalnya
perpustakaan, juga diberikan ilmu tambahan yang sesuai dengan bidang siswa
prakerin misalnya kami dengan jurusan multimedia. Ataupun tambahan skill lain
misalnya pengetahuan dasar aplikasi komputer (Ms. Office).
Kemudian untuk pihak SMKN 1 Sakra sendiri saran kami adalah semoga
kedepannya juga bisa menerapkan perpustakaan digital seperti di STMIK
Bumigora Mataram. Dengan harapan dapat membantu dan memudahkan staff
perpustakaan khususnya dalam pengolahan dan siswa pada umumnya.

20