Anda di halaman 1dari 7

NASKAH DRAMA

Teman yang Dapat Dipercaya

Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas


Mata Kuliah: Pendidikan Seni Tari dan Drama di SD
Dosen Pengampu: Drs. M. Ismail S., M. Pd.

Disusun Oleh:
Aginia Ashari
K7113006
7A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
Teman yang Dapat Dipercaya

Adegan 1
(Alkisah, di gang belakang Pasar Agrabah tinggallah Jenna bersama kedua
adiknya, Rafi dan Salima. Setiap pagi Jenna bersama kedua adiknya pergi ke
pasar untuk mencari makan. Di suatu pagi, Pasar Agrabah terlihat sangat ramai.
Para pedagang sibuk menjajakan buah-buahan yang ranum, keju, kurma, dan
roti hangat, sedangkan para pembeli sibuk menawar dan memilih apa yang akan
mereka beli. Di sudut pasar terlihat Jenna bersama kedua adiknya
memperhatikan semua dagangan tersebut. Perutnya keroncongan, ia dan kedua
adiknya merasa sangat lapar, tetapi ia tak punya uang sepeserpun untuk membeli
makanan. Jenna menatap kedua adiknya dengan penuh iba kemudian ia meminta
kedua adiknya untuk pulang.)
Jenna : Kalian tunggu kakak di rumah ya. Kakak akan mencari makanan
untuk kita. (sambil menatap Rafi dan Salima)
Rafi : Nggak mau, Kak! Kami ikut kakak, ya? (sambil bergelayut di
baju Jenna)
Salima : Iya, Kak. Kami ikut. (merengek)
Jenna : Kakak akan segera kembali. Kakak janji. (sambil mendorong
Rafi dan Salima pergi menyusuri gang kecil berdebu)
Rafi : Baik, Kak. Kakak hati-hati yaa. (Rafi mengajak Salima pergi
dari pasar)
Jenna : Iya, Sayang.
Adegan 2
(Jenna berjalan menyusuri pasar berharap menemukan uang kecil yang
sengaja dijatuhkan orang-orang yang berbelanja. Tapi sayangnya, ia tak kunjung
menemukan apa-apa. Ia terus berjalan melewati pasar dan jalan raya. Sampai
akhirnya, ia tiba di istana Sang Sultan.
Jenna : Waaa.. bagaimana ya rasanya tinggal di istana semegah itu?
Mungkin perlu peta supaya tidak tersesat ketika berjalan-jalan di
dalamnya. (sambil tertawa lirih)
(Jenna semakin mendekat ke istana, kemudian ia melihat pohon apel tua
yang tingginya melampaui tembok taman istana. Bahkan, salah satu dahan pohon
itu menjulur ke luar sampai hampir mencapai tanah dan penuh dengan buah apel
yang ranum.)
Jenna : Asyik! Makan siang! Aku harus segera memetiknya. Kasian Rafi
dan Salima, pasti mereka sudah kelaparan. (sambil berlari
menuju dahan apel)
(Jenna memanjat dahan yang terjulur rendah itu. Dengan segera mmetik
apel dan melemparkannya pelan-pelan ke tanah. Ia terus memanjat, hingga
akhirnya ia tiba di puncak tembok dan mampu melihat taman istana.)
Jenna : Astaga! Ini surga! (terkejut) Indah sekali, ada bunga-bunga
indah berwarna-warni, patung-patung yang gagah berdiri, dan
burung-burung yang berkicau dan bersiul sambil beterbangan.
(terkagum)
(Seekor burung nuri kecil hinggap di dekat Jenna)
Jenna : Hai burung nuri kecil. Kemarilah. Aku tak akan menyakitimu.
(sambil menjulurkan badannya ke arah burung nuri)
Adegan 3
(Namun, tiba-tiba Jenna kelhilangan keseimbangan dan terjatuh dari
tembok. Ia mendarat di atas tubuh harimau besar.)
Jenna : Terima kasih harimau besar, kau tidak menangkapku dengan
mulutmu. Gigimu besar-besar sekali ya! (sambil melihat
harimau dan tersenyum senang)
Putri Yasmin : Kau baik-baik saja? (lirih)
Jenna : (mendongak ke atas ke arah suara)
Putri Yasmin : Halo, aku Putri Yasmin. Kulihat kau sudah berkenalan dengan
Rajah. (lembut)
Jenna : (terpana dengan Putri Yasmin) Aku Jenna (sambil merosot
turun dari punggung Rajah)
(Jenna berusaha berdiri, tetapi kakinya terasa sakit.)
Jenna : Aduh. (jatuh tersungkur dan mengernyit)
Putri Yasmin : Kau terluka! Ayo masuk ke dalam. (sambil mengulurkan
tangan)
Jenna : Tidak usah, terima kasih. Aku sudah biasa mengurus diriku
sendiri. Aku tak apa-apa, tolong tunjukan saja jalan keluar.
(dengan sopan tapi tegas)
Putri Yasmin : Kau tak bisa ke mana-mana dalam keadaan seperti ini, Jenna.
Kau harus ikut aku ke dalam. Jangan membantah lagi! (dengan
tegas dan membantu Jenna masuk ke dalam istana)
(Putri Yasmin membaawa Jenna ke kamar yang nyaman dan
mendudukannya di tempat tidur yang dipenuhi bantal-bantal empuk. Setelah itu,
Putri Yasmin pergi memanggil dokter kerajaan. Sedangkan Jenna membaringkan
dirinya dan menatap kanopi tempat tidur di atasnya, kemudian berkhayal.)
Jenna : Putri Jenna! Kedengarannya bagus! (tertawa riang)
(Tiba-tiba seekor monyet kecil melomppat ke atas tempat tidur. Namanya
Abu, sahabat Aladin. Abu membungkuk kepada Jenna seakan-akan ia benar-
benar seorang putri.)
Jenna : Senang bertemu denganmu, kawulaku yang setia. (tertawa
riang)
Adegan 4
(Dokter kerajaan pun tiba dan memeriksa Jenna.)
Dokter : Dia tak boleh ke mana-mana selama beberapa hari.
Putri Yasmin : Baik, Dok. Terima kasih.
Dokter : Permisi, Putri Yasmin. (keluar kamar)
Jenna : Tapi aku harus pulang. Kedua adikku menungguku! (sedih)
Putri Yasmin : Mereka bisa dibawa kemari. Di sini ada banyak kamar kosong.
(meyakinkan Jenna)
Jenna : Adik-adikku adalah tanggung jawabku sendiri. Kami tak perlu
dikasihani. (penuh harga diri)
Putri Yasmin : Siapa yang mengasihani kalian? Ada banyak pekerjaan di istana
dan aku butuh bantuan kalian. (dengan lembut)
Adegan 5
(Sore harinya, Jenna menatap ke luar jendela dan melihat sesuatu yang
berwarna-warni terbang mendekati kamarnya.)
Jenna : Apa itu? Karpet terbang! (kaget)
Rafi : Wow..wow..wow! Asyik sekali naik karpet terbang. (teriak
sambil melompat turun dari karpet)
Salima : Dan jauh lebih cepat daripada naik unta! (tertawa gembira)
Putri Yasmin : Ayo, anak-anak mandi dan ganti pakaian dulu. Lalu kita makan.
Salima : Asyik!
Adegan 6
(Rafi dan Salima makan dengan lahap, tetapi Jenna hanya makan sedikit.)
Jenna : Putri Yasmin sangat baik. Tapi kalau kakiku sudah sembuh, kami
harus pergi. Kami tidak boleh membiasakan diri untuk makan
enak dan memakai pakaian bagus. (bergumam)
Aladin : Kau tinggal di gang belakang pasar, Rafi? Dulu aku dan Abu
tinggal di sana juga, di atap rumah orang. Pernah dapat masalah
dengan Pak Kabali? Dia galak sekali ya, melihat apel-apelnya pun
kita tak boleh kalau tak punya uang! (bersemangat)
Rafi : (tertawa terbahak-bahak)
Sang Sultan : Sudah. Ayo-ayo kita lanjutkan makan.
Jenna : Putri Yasmin menikah dengan pemuda jalanan? Tidak dapat
dipercaya. (bergumam dan terperangah)
Adegan 7
(Keesokan harinya, Putri Yasmin mengajak Jenna, Rafi, dan Salima ke
kebun binatang istana.)
Putri Yasmin : Aku perlu bantuanmu, Jenna. (sambil berjalan)
Jenna : Apa yang bisa aku bantu, Putri Yasmin? (bersemangat)
(Begitu mereka tiba, binatang-binatang mulai mengerumuni Jenna.)
Putri Yasmin : Wah, kelihatannya kau punya bakat untuk menangani binatang
ya? (sambil tersenyum)
Salima : Benar. Ayah dan Ibu kami dulu suka mengatakan kalau Kak
Jenna bisa bergaul akrab dengan binatang liar karena dia sama
galaknya dengan mereka. (sambil tertawa terbahak-bahak)
Putri Yasmin : Lihat itu Jenna. Bayi gajah itu belum lama dibawa ke sini. Dia
ditemukan terlantar sendirian di hutan. Kami sudah berusaha
keras untuk membuatnya betah di sini, tetapi tampaknya dia
begitu sedih. Aku tak tahu harus melakukan apa lagi. (bingung)
(Jenna mendekati si gajah, tetapi gajah itu langsung berbalik dan
melarikan diri. Jenna duduk di tanah dan menunggu dan terus menunggu. Sampai
senja pun tiba, si gajah masih meringkuk di sudut taman dengan tubuh
gemetaran.)
Jenna : Bagaimana ya caranya agar si gajah bisa berteman denganku?
(berpikir)
Adegan 8
(Selama dua hari, Jenna terus berada di dekat si gajah dari pagi sampai
malam. Kadang-kadang ia duduk diam saja, kadang ia membelai-belai si gajah,
kadang-kadang ia mengajaknya bicara dengan suara yang lembut. Akhirnya,
pada hari ketiga, sesuatu yang menggembirakan terjadi. Si gajah berbalik, dan
mengarahkan belalainya ke arah Jenna dan menyemprotnya.)
Jenna : Wah, kau mau mengucapkan halo ya? (tertawa) Halo juga!
Adegan 9
(Setelah beberapa hari dirawat Jenna, bayi gajah itu sudah tidak ketakutan
lagi. Ia mau bergabung dengan binatang-binatang lain, bahkan mengizinkan
Jenna naik ke punggungnya.)
Putri Yasmin : Bagaimana kau bisa melakukannya, Jenna? (kagum)
Jenna : Gajah kecil ini biasa hidup sendiri. Sulit baginya untuk
memercayai siapa pun pada awalnya.
Putri Yasmin : Kurasa si gajah akhirnya sadar bahwa setiap orang
membutuhkan teman yang dapat dipercaya. (tersenyum bahagia)
Adegan 10
(Beberapa hari kemudian, kaki Jenna benar-benar sudah sembuh.)
Jenna : Putri sangat baik. Tapi sudah waktunya kami kembali ke rumah.
Putri Yasmin : Istana ini bisa menjadi rumahmu, Jenna. Kami perlu orang untuk
merawat binatang-binatang piaraan istana dan kau memiliki
keterampilan untuk itu. Maukah kau tetap tinggal? (merayu)
(Sebelum Jenna sempat menjawab, si bayi gajah menggunakan belalainya
untuk mendorong Jenna ke pelukan Putri Yasmin. Jenna memutuskan ia harus
belajar percaya pada orang lain, seperti si bayi gajah.)
Jenna : Terima kasih, Putri Yasmin. Itu suatu kehormatan bagi kami.
(memeluk Putri Yasmin)
(Jenna benar-benar berteman dengan Putri Yasmin! Dan dari anak gajah,
Jenna belajar bahwa setiap orang membutuhkan teman yang dapat dipercaya.)

--- S E L E S A I ---