Anda di halaman 1dari 14

APLIKASI ASAM STEARAT DALAM PEMBUATAN SABUN

DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN


PORTOFOLIO PADA MATERI ASAM BASA
STEARIC ACID APPLICATIONS IN THE MAKING SOAP MODEL
LEARNING USING PORTFOLIO ON ACID BASE MATERIALS

Nur Fitriani Sutarto


Jurusan Kimia, Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Negeri Semarang
Jalan Taman Siswa, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229, Telp
(024)86458337, Fax (024)8508001. http://www.unnes.ac.id
anianoy3@gmail.com, 085876546325

ABSTRAK
Model pembelajaran portofolio merupakan kumpulan pekerjaan peserta didik dengan
maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang
ditentukan. Model pembelajaran portofolio sendiri memiliki tujuan agar
peserta didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang di kembangkan
melalui pembelajaran dan pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan
berkesinambungan. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu peserta didik diharapkan
dapat membuat sabun lunak sendiri dengan menggunakan model pembelajaran
portofolio dan untuk mengetahui pengaruh asam stearat dari sabun yang dihasilkan.
Berdasarkan referensi yang telah melakukan penelitian pembuatan sabun, formula asam
stearat yang digunakan yaitu sebesar 15%. Setelah pembuatan sabun secara langsung
ini yang dilakukan oleh siswa, siswa diharuskan membuat laporan kelompok tentang
pembuatan sabun. Dengan pembuatan sabun lunak yang menggunakan model
pembelajaran portofolio diharapkan siswa lebih mudah memahami aplikasinya secara
langsung. Dengan begitu siswa dapat menerapkan ilmu kimia yang diperoleh dalam
kehidupan sehari-hari.
Kata kunci:asam stearat, pembelajaran portofolio, sabun

ABSTRACT
Learning portfolio is a collection of work students with specific purposes and integrated
selected according to the guidelines specified. Individual learning model portofolio has
the goal of keeping learners have the resilience, self-reliance, and self identity is
developed through the learning and training what do operates gradual and continuous.
Purpose of writing articles singer that learners can be expected made with using soap
software individual learning model to review the portfolio and determine the effect of
stearic acid from the resulting soap. based reference what has doing research making
soap, milk formula ie stearic acid which was used by 15%. Making soap taxable income
direct operating singer performed by students, students are required making of making
soap group report. Article search google software the model making soap using the
learning portfolio is expected to students more easy to operate direct understand
application. With so students can apply the science of chemistry gained in everyday life.
Keywords: stearic acid, learning portfolio, soap

1
PENDAHULUAN

Pada hakekatnya pendidikan adalah suatu usaha penyiapan subjek didik untuk

menghadapi lingkungan hidup yang selalu mengalami perubahan yang semakin pesat.

Terkait dengan hal tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip penyelenggaraan

pendidikan untuk dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan. Salah

satu prinsip tersebut adalah pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan

dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses

tersebut diperlukan guru yang memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan

mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Menurut Lickona, suatu bangsa

akan bisa mencapai taraf kemajuan dan tetap eksis dalam persaingan global apabila

rakyatnya berkualitas. Dengan kalimat lain, hal yang paling menentukan kemajuan bagi

suatu bangsa adalah kualitas pendidikan (Taufik, 2014).

Pendidikan dikatakan bermutu apabila proses pembelajaran berlangsung secara

efektif, peserta didik (siswa) memperoleh pengalaman yang bermakna bagi dirinya dan

produk pendidikan merupakan individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan

pembangunan bangsa. Untuk mewujudkan proses dan produk tersebut, kemampuan

mendayagunakan metode atau cara mengajar sangat diperlukan untuk lebih menjamin

swadaya dan swakarsa siswa yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan

(sains) dan kemajuan teknologi (Fajar, 2004 dalam Prabarini, 2015).

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi,

paradigma pembelajaran dipersekolahan banyak mengalami perubahan terutama dalam

pelaksanaan proses pembelajaran dari yang bersifat behavioristik menjadi kontruktisme,

dari yang teacher centered menjadi student centered. Konsekuensinya siswa dalam

proses pembelajaran bersungguh-sungguh memandang pembelajaran bermakna dan

2
bukan sekedar hafalan atau tiruan. Hal ini akan membuat anak menguasai materi yang

dipelajarinya. (Prabarini, dkk, 2015)

Pembelajaran menurut Hamalik, 2001 (dalam Indyah, 2011) merupakan suatu

kombinasi yang tersusun meliputi unsur unsur manusiawi, material, fasilitas,

perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

Jadi dalam proses pembelajaran siswa bukan saja aktif belajar di sekolah, mencari

pengalaman kerja dalam berbagai lapangan kehidupan, tetapi juga aktif bekerja di

lingkungan masyarakat.

Model pembelajaran menurut Aunurahman, 2009 (dalam Indyah, 2011)

dikembangkan untuk menyesuaikan karakteristik mata pelajaran atau meteri mata

pelajaran tertentu yang tidak memungkinkan guru terpaku pada model pembelajaran

tertentu Jadi model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang mampu

menjadi pedoman dalam pelaksanaan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan

karakteristik mata pelajaran tertentu sehingga mencapai hasil sesuai dengan tujuan

pembelajaran.

Menurut Budimansyah, 2002 (dalam Sumarna dkk, 2014) portofolio merupakan

kumpulan pekerjaan peserta didik dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi

menurut panduan-panduan yang ditentukan. Portofolio biasanya merupakan karya

terpilih dari seseorang siswa.

Kimia merupakan pelajaran yang banyak memiliki konsep yang bersifat abstrak.

Konsep tertentu tidak bisa dijelaskan tanpa menggunakan analogi atau model sehingga

dibutuhkan daya nalar yang tinggi dalam mempelajari ilmu kimia. Selain itu, ilmu kimia

bersifat kontinyu yaitu saling berhubungan antara konsep satu dengan yang lainnya.

Oleh karenanya, ilmu kimia harus dipelajari secara runtut dan berkesinambungan

3
sehingga konsep yang diterima siswa dapat terasimilasi dan terakomodasi dengan benar

(Yunitasari, Wahyu, 2013). Agar siswa lebih mudah dalam memahami ilmu kimia, maka

akan diterapkan secara langsung ilmu kimia yang didapat, salah satunya yaitu proses

pembuatan sabun.

Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan alkali

membebaskan gliserol. Lemak minyak yang digunakan dapat berupa lemak hewani,

minyak nabati, lilin, ataupun minyak ikan laut. Pada saat ini teknologi sabun telah

berkembang pesat. Sabun dengan jenis dan bentuk yang bervariasi dapat diperoleh

dengan mudah dipasaran seperti sabun mandi, sabun cuci baik untuk pakaian maupun

untuk perkakas rumah tangga, hingga sabun yang digunakan dalam industri. Kandungan

zat-zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun.

Larutan alkali yang digunakan dalam pembuatan abun bergantung pada jenis sabun

tersebut. Larutan alkali yang biasa yang digunakan pada sabun keras adalah Natrium

Hidroksida (NaOH) dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium

Hidroksida (KOH) (Naomi dkk, 2013).

Dalam hal ini, model pembelajaran yang akan digunakan adalah model

pembelajaran portofolio. Model pembelajaran portofolio sendiri memiliki

tujuan agar peserta didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang di

kembangkan melalui pembelajaran dan pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan

berkesinambungan. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu peserta didik diharapkan

dapat membuat sabun lunak sendiri dengan menggunakan model pembelajaran

portofolio. Dan juga untuk mengetahui pengaruh asam stearat dari sabun yang

dihasilkan.

4
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembelajaran di Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan.Tantangan yang

pertama datang dari adanya perubahan persepsi tentang belajar dan tantangan kedua

datangnya dari adanya teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) yang

memperlihatkan perkembangan yang luar biasa. Sementara itu, kemajuan TIK yang

begitu pesat yang menawarkan berbagai kemudahan dalam pembelajaran memungkin-

kan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi selfguided dan

dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction (Nugroho, 2010 dalam

Taufiq, 2014).

Asam berkaitan dengan salah satu tanggapan indera pengecap kita terhadap

suatu rasa masam. Kata asam berasal dari bahasa latin, yaitu acidus yang berarti masam.

Secara kimia, asam didefinisikan sebagai senyawa yang menghasilkan ion hidrogen

ketika larut dalam pelarut (biasanya air). Senyawa asam banyak ditemukan dalam

kehidupan sehari-hari, seperti pada makanan dan minuman.

Sifat asam antara lain : rasanya masam, dapat mengubah warna indikator (kertas

lakmus biru menjadi merah, sedang kertas lakmus merah tetap merah), menghantarkan

arus listrik, dan bereaksi dengan logam menghasilkan gas hydrogen.

Asam merupakan salah satu senyawa yang mempunyai peranan penting dalam

kehidupan. Dalam bidang industri asam banyak digunakan antara lain dalam proses

pembuatan pupuk, obat-obatan, bahan peledak, plastik, dan pembersihan permukaan

logam-logam tertentu. Selain itu terdapat beberapa asam organik yang digunakan

sebagai pengawet makanan, seperti asam asetat, asam askorbat, asam propanoat, dan

asam benzoat. Kebanyakan asam organik merupakan asam lemah.

5
Sedangkan basa, secara kimia dapat diidentifikasi sebagai senyawa yang

menghasilkan ion hidroksida (OH) ketika larut dalam pelarut air. Beberapa sifat basa

yang dapat digunakan untuk pengidentifikasian antara lain : rasanya pahit, terasa licin di

kulit, mengubah warna indikator (mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru,

sedangkan lakmus biru tetap berwarna biru), menghantarkan arus listrik, dan

menetralkan sifat asam dan memiliki kemampuan untuk melarutkan minyak dan debu

sehingga basa digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pembersih alat dapur, dan

pembersih lantai.

Dalam kehidupan sehari-hari, basa dapat kita temukan dalam semen dari basa

kalsium hidroksida, pada aneka bahan pembersih, dan pada baking soda ketika

membuat kue. Apabila kita memiliki beberapa zat dan kita tidak mengetahui zat tersebut

termasuk asam atau basa, maka bagaimanakah cara kita mengetahui keasaman atau

kebasaan zat tersebut? Kita tidak selalu dapat menggunakan indra kita untuk

memastikan dengan aman suatu zat tersebut termasuk asam atau basa, karena beberapa

asam dan basa sangat berbahaya.Skala pH (power of hydrogen) berkisar dari 1 sampai

14. Nilai 7 menunjukkan suatu zat bersifat netral. Suatu asam memiliki nilai pH yang

lebih kecil dari 7. Semakin nilai pH mendekati angka nol, maka tingkat keasamannya

semakin kuat, sedang jika nilai pH suatu zat mendekati 7, maka tingkat keasamannya

semakin lemah (berkurang). Senyawa basa memiliki nilai pH yang lebih besar dari 7.

Semakin nilai pH mendekati nilai 14, tingkat kebasaannya semakin kuat (Lestari, Puji,

2016).

Jenis-jenis asam dan basa sangat banyak. Dalam penulisan artikel ini diambil

salah satu contoh asam yang dapat digunakan dan diaplikasikan dalam kehidupan

sehari-hari. Salah satu contohnya yaitu pembuatan sabun. Dalam pembuatan sabun,

6
terdapat salah satu jenis asam yang dijadikan sebagai salah satu bahan pembuatan

sabun. Asam yang digunakan dalam pembuatan sabun yaitu asam stearat.

Sabun merupakan satu macam surfaktan (bahan surface active), senyawa yang

menurunkan tegangan permukaan air. Sifat ini menyebabkan larutan sabun dapat

memasuki serat, menghilangkan dan mengusir kotoran dan minyak. Sabun merupakan

hasil hidrolisa asam lemak dan basa. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa safonifikasi.

Safonifikasi adalah proses penyabunan yang mereaksikan suatu lemak atau gliserida

dengan basa.

Surfaktan (surface active agent) atau bahan aktif permukaan merupakan suatu

zat yang ditambahkan pada cairan untuk meningkatkan sifat penyebaran atau

pembasahan dengan menurunkan tegangan permukaan cairan khususnya air. Surfaktan

banyak digunakan dalam industri antara lain sebagai corrosion inhibitor, detergent,

emulgator, dan hair conditioner. Surfaktan mempunyai struktur molekul yang terdiri

dari gugus lyophobic dan lyophilic. Gugus lyophobic sedikit tertarik pada pelarut

sedangkan gugus lyophilic tertarik kuat pada pelarut. Struktur molekul ini biasanya

disebut dengan amphiphatic (Othmer, 1981 dalam Furi dan Pamilia).

Mekanisme terbentuknya surfaktan diawali dengan mekanisme terbentuknya

lignosulfonate yang terjadi melalui dua reaksi, yaitu hidrolisis dan sulfonasi. Hidrolisis

merupakan reaksi pemecahan molekul lignin/lignosulfonat menjadi molekul yang lebih

kecil. Sulfonasi merupakan reaksi antara ion bisulfite dengan molekul lignin. Reaksi

yang terjadi pada proses sulfonasi lignin ini termasuk reaksi ireversibel dan bersifat

endotermis. Suhu dan pH merupakan faktor yang paling berpengaruh pada reaksi

pembentukan lignosulfonate ini. Semakin tinggi tingkat keasamannya maka laju

7
hidrolisis akan semakin meningkat dan semakin tinggi temperatur laju reaksi akan

semakin besar (Ari, 2008 dalam Furi dan Pamilia).

Lemak dan sabun dari asam lemak jenuh dan rantai jenuh panjang (C 16-C18)

menghasilkan sabun keras dan minyak dari asam lemak tak jenuh dengan rantai pendek

(C12-C14) menghasilkan sabun yang lebih lunak dan lebih mudah larut (Fessenden,

1997). Sabun yang dibuat dari natrium hidroksida lebih sukar larut dibandingkan

dengan sabun yang dibuat dari kalium hidroksida. Menurut Ali, et al (1980), sabun

sekarang dicampur untuk mendapatkan sifat-sifat yang diinginkan. Sabun mandi

megandung minyak wangi, zat warna, dan bahan obat (Sari, Tuti Indah dkk, 2010).

Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak

dan minyak yang sebagian besar terdiri atas asam oktadekonat dan asam heksadekonat,

berupa zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur putih atau kuning

pucat,mirip lemak lilin. Praktis tidak larut dalam air, larut dalam bagian. Konsentrasi

asam stearat yang digunakan untuk pembuatan sabun lunak sangat berpngaruh. Jadi

konsentrasi asam stearat harus diperhatikan dalam pembuatan sabun lunak.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh seorang ahli, pengaruh

konsentrasi asam stearat sebagai basis terhadap sifat fisik sabun lunak ini bertujuan

untuk mengetahui bagaimana asam stearat dapat mempengaruhi karakteristik sifat fisik

sediaan sabun. Dengan demikian dapat diketahui konsentrasi asam stearat berapakah

yang paling baik sebagai basis dalam sediaan sabun. Dalam pembuatan sabun itu

terdapat formula yang dipakai. Antara formula yang satu dengan yang lain itu berbeda-

beda. Dari referensi yang telah melakukan penelitian pembuatan sabun, formula asam

stearat yang digunakan yaitu sebesar 15%.

8
Asam stearat merupakan salah satu campuran yang digunakan untuk pembuatan

sabun. Selain asam stearat ada beberapa komponen yang diperlukan untuk membuat

sabun. Sabun adalah senyawa garam alkali dengan asam lemak tinggi (Rantai C

banyak). Pembuatan dilakukan dengan menyabunkan lemak padat atau minyak lemak

dengan alkali Sabun berfungsi untuk memindahkan kotoran dari permukaan seperti

kulit, lantai, atau kain. Kotoran biasanya merupakan campuran dari bahan berlemak dan

partikel padat. Lemak dapat berupa sebum yang dihasilkan oleh kulit, dan bertindak

sebagai pengikat kotoran yang baik, misalnya terhadap debu. Untuk membersihkan

kotoran yang berupa minyak, pembilasan dengan air saja tidak cukup. Dibutuhkan zat

lain untuk menurunkan tegangan antar muka antara minyak dengan air.

Selain asam stearat, campuran bahan lain juga harus diperhatikan dalam

pembuatan sabun. Apabila jumlah alkali yang ditambahkan melebihi standard dapat

menyebabkan iritasi pada kulit, seperti kulit luka dan mengelupas (Erik, 2007). Menurut

SNI (1994), kadar alkali bebas pada sabun maksimum sebesar 0,1%. Sedangkan

menurut Respective ISI Specification, kadar alkali bebas sabun sekitar 0,05% - 0,3%.

Berdasarkan referensi dari jurnal yang telah dibaca, hasil analisa kadar alkali bebas pada

sabun padat sekitar 0,03% - 0,047% dan hasil analisa kadar alkali bebas pada sabun cair

sekitar 0,086% - 0,095%. Hasil ini masih dalam keadaan yang aman terhadap kulit.

Derajat keasaman (pH) juga dapat memengaruhi kulit yang menggunakan sabun.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, pH sabun yang dibuat sekitar 8,49-8,9.

Hasil ini menunjukkan bahwa nilai pH sabun masih cukup baik. Sabun yang baik

memiliki pH netral (7). Menurut Wasitaatmaja (1997), pH yang sangat tinggi atau

rendah dapat meningkatkan daya absorbsi kulit sehingga kulit menjadi iritasi.

9
Dengan penerapan pembuatan sabun, siswa dapat menerapkan dan membuat

sabun lunak sendiri. Sehingga siswa tahu bahwa bahan atau zat kimia itu tidak selalu

berbahaya dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, bahan atau zat kimia jika

digunakan dengan baik dan benar maka bermanfaat bagi manusia dan kehidupan sehari-

hari.

Pembuatan sabun lunak yang dilakukan oleh siswa tersebut dapat dipraktikkan

oleh siswa secara langsung. Pembuatan sabun ini masih dalam materi kimia dalam

pokok bahasan asam basa. Hal ini dikarenakan contoh asam sangat banyak jenisnya.

Salah satunya yaitu asam stearat yang biasanya digunakan untuk pembuatan sabun.

Setelah pembuatan sabun secara langsung ini yang dilakukan oleh siswa, siswa

diharuskan membuat laporan kelompok tentang pembuatan sabun. Dari laporan tersebut

maka akan diperoleh hasil belajar siswa.

Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi dalam proses pembelajaran.

Hasil belajar dapat dilihat dari adanya perubahan tingkah laku dalam diri manusia

sebagai hasil pengalaman yang bersifat tahan lama dan bukan hasil dari suatu proses

pertumbuhan. Pada umumnya dapat menimbulkan rasa puas bagi siswa selama

mengikuti proses pembelajaran (Prabarini dkk, 2015).

Dengan menerapkan asesmen portofolio dalam proses pembelajaran, akan dapat

memberikan tekanan pada aktivitas siswa dan memberikan ruang yang luas bagi setiap

individu untuk memberikan respon terhadap suatu tugas dengan caranya sendiri dalam

tempo (pace) masing-masing. Disamping itu asesmen portofolio mampu menghargai

siswa sebagai individu yang dinamis, aktif mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan

pengalamannya yang spesifik. Disamping itu, asesmen portofolio memandang bahwa

penilaian merupakan bagian utuh dari belajar, sehingga pembelajaran dilaksanakan

10
dengan cara memberikan tugastugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna

serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Dengan demikian asesmen

portofolio dapat menilai belajar siswa secara menyeluruh baik aspek kognitif, afektif

dan psikomotorik (Santyasa, 2004).

Penilaian portofolio pada hasil belajar siswa memiliki kesempatan yang lebih

banyak untuk menilai diri sendiri dari waktu kewaktu. Hal yang paling penting dalam

penilaiaan portofolio untuk menilai tugas adalah: Pengumpulan (storing), pemilihan

(sorting), dan penetapan (dating).


Penilaian portofolio menurut Sumarna, 2004 (dalam Indyah, 2011) menerapkan

prinsip proses dan hasil, yaitu proses belajar yang dinilai diperoleh dari catatan perilaku

harian peserta didik (anecdot) mengenai sikapnya dalam belajar antusias tidaknya dalam

mengikuti pelajaran dan sebagainya dan juga penilaian hasil, meliputi penilaian hasil

akhir suatu tugas yang diberikan oleh guru.


Dengan pembuatan sabun lunak yang menggunakan model pembelajaran

portofolio diharapkan siswa lebih mudah memahami aplikasinya secara langsung.

Selain menggunakan model pembelajaran portofolio, dalam penulisan artikel ini juga

dikembangkan penilaian yang berbeda. Pada umumnya sebagian guru terbiasa menilai

kompetensi siswa dengan menggunakan tes tulis. Padahal sebaik apa pun tes tulis, tes

tidak akan pernah mampu menilai seluruh kompetensi siswa pada suatu mata pelajaran.

Oleh sebab itu, penggunaan teknik penilaian selain tes tulis perlu dikuasai oleh guru.

Guru sebagai pendidik memiliki tanggung jawab baik bagi dirinya, siswanya,

sekolah dan masyarakat. Salah satu bentuk pertanggungjawaban itu adalah bahwa guru

membutuhkan penilaian yang praktis yang dapat memberikan informasi kepada semua

pihak. Guru memiliki kewenangan langsung untuk memilih dan menerapkan penilaian

yang praktis yang memberikan informasi tentang pengajarannya, menyajikan informasi

11
tentang kemampuan individu siswanya, serta dapat dikomunikasikan kepada berbagai

pihak (Sukma 2004 dalam Widyaningsih, 2013).

Dengan menggunakan rubric penilaian, maka guru dapat dengan mudah menilai

hasil kerja siswa. Hal ini dikarenakan setiap butir menilai satu atau beberapa

kemampuan khusus yang dimiliki oleh siswa pada saat mengerjakan proses pembuatan

sabun. Asesmen portofolio merupakan suatu penilaian yang dapat mengukur tingkat

kemampuan siswa secara menyeluruh, bahkan dalam karakteristiknya, asesmen

portofolio merupakan asesmen yang menuntut ditunjukkannya hasil kerjasama antara

guru dan siswa. Asesmen portofolio tidak hanya sekedar kumpulan hasil karya siswa,

tetapi yang terpenting adalah adanya proses seleksi yang didasarkan kriteria serta

pengumpulan hasil karya siswa dari waktu ke waktu (Anshori 2008 dalam

Widyaningsih, 2013).

KESIMPULAN
Model pembelajaran portofolio merupakan kumpulan pekerjaan peserta didik

dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang

ditentukan. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta

didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang di kembangkan melalui

pembelajaran dan pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.

Pembuatan sabun secara langsung merupakan salah satu aplikasi yang diterapkan agar

peserta didik lebih mudah mengaplikasikan ilmu kimia yang didapat agar bermanfaat

dalam kehidupan sehari-hari.

SARAN
Untuk penulisan selanjutnya diharapkan ada penelitian lebih lanjut mengenai hal

ini. Dan juga bisa lebih mengembangkan penilaian portofolio. Dalam penulisan artikel

12
ini, penilaian yang digunakan menggunakan rubric penilaian portofolio sehingga

memudahkan guru dalam menilai tugas yang diberikan kepada siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arita, Susila dkk. 2009. Pemanfaatan Gliserin Sebagai Produk Samping dari Biodiesel

menjadi Sabun Transparan. Jurnal Teknik Kimia. 16 (4): 52-53.

Fessenden, R. J dan Fessenden, J. 1997. Kimia Organik . Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit

Erlangga.

Furi dan Pamalia. 2013. Pengaruh Perbedaan Ukuran Partikel Dari Ampas Tebu Dan

Konsentrasi Natrium Bisulfit (NaHSO3) Pada Proses Pembuatan Surfaktan.

Jurnal Teknik Kimia. 18 (4):50-51

Indyah, L, S. 2011. Penerapan Pembelajaran Berbasis Portofolio untuk Meningkatkan

Hasil Belajar dalam Menggambar Gerak Animasi 2 Dimensi pada Siswa

Kelas X SMKN 9 Surakarta. Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Lestari, Puji. 2016. Kertas Indikator Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi L)

untuk Uji Larutan Asam-Basa. Jurnal Pendidikan Madrasah. 1 (1):71-72

Melalo, Erni, 2011. Studi Perbandingan Implementasi Hasil Belajar Siswa Pada Mata

Pelajaran Fisika Dengan Menggunakan Model Cooperative Learning Type

Jigsaw Dan Type STAD Di SMP Negeri 6 Gorontalo.

Naomi, Phatalina dkk. 2013. Pembuatan Sabun Lunak dari Minyak Goreng Bekas

Ditinjau dari Kinetika Reaksi Kimia. Jurnal Teknik Kimia. 19 (2): 43-47.

Santyasa. 2004. Pengantar Asesmen dan Portofolio. Singaraja: Fakultas Pendidikan

MIPA IKIP Singaraja.

Sari, Anita. 2005. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio. Skripsi. Semarang:

Universitas Negeri Semarang.

13
Sari, Tuti Indah dkk. 2010. Pembuatan Sabun Padat dan Sabun Cair dari Minyak Jarak.

Jurnal Teknik Kimia. 17 (1): 29-33

Sumarna, dkk. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Portofolio terhadap Hasil

Belajar PKN Siswa Kelas V SD Gugus 4 Mengwi Bandung. Jurnal Mimbar

PGSD. 2 (1).
Taufik. 2014. Pendidikan Karakter di Sekolah:Pemahaman, Metode Penerapan, dan

Peranan Tiga Elemen. Jurnal Ilmu Pendidikan. 20 (1): 59-60

Taufiq, M., N. R. Dewi, &A. Widiyatmoko. 2014. Pengembangan Media

Pembelajaran Ipa Terpadu Berkaraktpeduli Lingkungan Tema Konservasi

Berpendekatan Science-Edutainment. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. 3 (2):140

Widyaningsih, V., Sri Mulyani E S., & Ely Rudyatmi. 2013. Pengembangan Rubrik

Penilaian Portofolio Proses Sains Siswa pada Materi Ekosistem. Unnes Journal

of Biology Education. 2 (3): 296

Yunitasari, Wahyu dkk. 2013. Pembelajaran Direct Instruction Disertai Hierarki Konsep

Untuk Mereduksi Miskonsepsi Siswa Pada Materi Larutan Penyangga Kelas Xi

Ipa Semester Genap Sma Negeri 2 Sragen Tahun Ajaran 2012/2013. Jurnal

Pendidikan Kimia. 2 (3): 182

14