Anda di halaman 1dari 9

1.

Skema PINA

PINA adalah pembiayaan investasi non anggaran pemerintah yang menggalang sumber
pembayaran alternatif agar dapat di gunakan untuk berkontribusi dalam pembiayaan
proyek-proyek infrastruktur strategis nasional yang memiliki nilai komersial dan
berdampak untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. Keberadaan skema penting
mengingat keterbatasan anggaran pemerintah. Dengan adanya skema ini pembiayaan
proyek infrastruktur dan non infrastruktur yang membawa manfaat bagi masyarakat
Indonesia dapat dilaksanakan tanpa menggunakan anggaran pemerintah.

Gambar 1.1 Skema Pembiayaan pada PINA

Berikut adalah urgensi keberadaan skema PINA pada pemerintahan


Optimilisasi peran BUMN dan Swasta dalam pembiayaan pembangunan
Swasta dan BUMN berperan dalam pemenuhan 58,7 % pembiayaan pembangunan
atau sebesar Rp 2.817 triliun pada RPJMN 2015 2019
Peningkatan kapasitas pembiayaan pembangunan
Mobilisasi potensi dana-dana jangka panjang.
Mendorong recycle invesatsi pada proyek-proyek kategori brownfield.
Leverage kapasitas pemodelan pembangunan dengan estafet instrumen keuangan
9estafet financing) disetiap fase pembangunan.
Percepatan pelaksanaan proyek kapasitas
Pembangunan infrastruktur melibatkan multi-stakeholder sehingga diperlukan
mekanisme khusus untuk mengordinasikan dan mendorong para pihak terkait, baik
untuk aspek pendanaan maupun non-pendanaan

Saat ini program PINA telah berhasil mendorong pembiayaan tahap awal 9 ruas jalan
Tol senilai 70 triliun rupiah, di mana 5 diantaranya adalah Tol Trans Jawa. Pada pilot
program PINA ini, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan PT Taspen (Persero)
memberikan pembiayaan ekuitas tahap awal kepada PT Waskita Toll Road sebesar 3,5
triliun sehingga total ekuitas menjadi 9,5 triliun dari kebutuhan 16 triliun. Program
PINA akan mendorong agar kekurangan ekuitas tersebut dapat dipenuhi di tahun ini
atau awal tahun depan dengan mangajak berbagai institusi pengelola dana yang ada.
Dengan demikian, target agar Tol Trans Jawa terhubung per akhir 2018 dapat
terwujud. Untuk mengakselerasi pembangunan nasional dan juga memberi daya
ungkit perekonomian.

Pilot project ini bukanlah satu-satunya yang kami fasilitasi melalui PINA. Setelah Tol
Trans Jawa, telah ada beberapa calon investee yang sedang dalam proses fasilitasi
oleh BAPPENAS.

Berikut adalah sumber-sumber pembiayaan yang menggunakan skema PINA


Penanaman Modal
Dana Kelolaan
Perbankan
Pasar Modal
Asuransi
Lembaga Pembiayaan
Lembaga Jasa Keuangan Lain
Pembiayaan lain yang sah

Kriteria yang di syaratkan pada proyek infrastruktur dengan pembiyaan melalui sekma
PINA adalah sebagai berikut.
Mendukung pencapaian target prioritas pembangunan
Memiliki manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat indonesia.
Memiliki kelayakan komersial
Memenuhi kriteria kesiapan.

Skema PINA melengkapi kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU) sebagai
alternatif pembiayaan infrastruktur. Dalam rangka mendorong percepatan
kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU), Kmemntrian PPN/BAPPENAS
meluncurkan Public Private Partnership(PPP) book 2017, yang memuat :
1 proyek baru KPBU dengan kategori siap ditawarkan dengan nilai investasi Rp
1,09 triliun.
21 proyek baru KPBU dengan kategori dalam proses penyiapan dengan investasi
Rp. 112,23 triliun.
Maka dari itu kementrian PPN/BAPPENAS bersama Kementrian Koordinator Bidang
Perkenomian, Kmemntrian Keuangan, BKPM, LKPP , dan PT enjamin Infrastruktur
Indonesia bekerja dalam satu wadah yang disebut kantor bersama KPBU Republik
Indonesai atau yang disebut PPP Office Government of Indonesia yang berfungsi
sebagai one-stop service pelaksanaan proyek KPBU dengan fungsi sebagai pusat
informasi, koordinasi dan capacity building terkait KPBU.
Melalui keterangannya menteri PPN/BAPPENAS mengatakan bahwa melalui
pembiayaan infrasturktur yaitu PINA dan KPBU, pemerintah akan terus berusaha
mendorong partisipasi swasta dan lembaga pengelola keuangan untuk terlibat dan
berkontribusi dalam upaya penyediaan infrastruktur.
Kesimpulan

Program PINA didesain untuk mengisi kekurangan pendanaan proyek-proyek


infrastruktur prioritas yang membutuhkan modal besar, namun tetap dinilai baik
secara komersial. Untuk dapat menjalankan proyek-proyek ini, BUMN dan swasta
pengembang infrastruktur harus memiliki kecukupan modal minimum. Selama ini
permodalan BUMN ditopang dan sangat tergantung kepada anggaran pemerintah
melalui Penanaman Modal Negara (PMN). Ruang fiskal APBN saat ini semakin
terbatas sehingga dibutuhkan sumber-sumber non-anggaran pemerintah dengan
memanfaatkan dana kelolaan jangka panjang yang setengah menganggur seperti pada
dana-dana pensiun dan asuransi baik dari dalam maupun luar negeri.

Skema PINA ini melengkapi skema KPBU sebagai alternatif pembiayaan


infrastruktur. Meskipun KPBU melibatkan swasta, tetapi tetap masih ada unsur
pemerintah karena pemerintah tetap berkomitmen untuk menyediakan layanan yang
pro-rakyat dengan memegang kendali atas tarif. Sejak adanya Peraturan Presiden
Nomor 38 Tahun 2015 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam
Penyediaan Infrastruktur yang merupakan pengganti Perpres 67 tahun 2005 dan
perubahannya, perkembangan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha atau
KPBU sangat pesat

PINA dan KPBU merupakan salah satu alternatif pembiayaan infrastruktur yang perlu
didorong dan didukung oleh semua pihak guna memacu percepatan penyediaan
infrastruktur.

2. PABS

Penganggaran merupakan rencana keuangan yang secara sistematis menunjukan


alokasi sumber daya manusia, material, dan sumber daya lainnya. Berbagai variasi dalam
sistem penganggaran pemerintah dikembangkan untuk melayani berbagai tujuan termasuk
pengendaalian keuangan, rencana manajemen, prioritas dar penggunaan dana dan
pertanggungjawaban kepada publik. Penganggaran berbasis kinerja diantaranya menjadi
jawaban untuk digunakan sebagai alat pengukuran dan pertanggungjawaban kinerja
pemerintah.

1. Pengertian Anggaran Berbasis Kinerja


Anggaran kinerja adalah perencanaan kinerja tahunan secara terintegrasi yang
menunjukan hubungan antara tingkat pendanaan program dan hasil yang diinginkan dari
program tersebut.
Anggaran dengan pendekatan kinerja merupakan suatu sistem anggaran yang
mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau
input yang ditetapkan. Anggaran kinerja yang efektif lebih dari sebuah objek anggaran
program atau organisasi dengan outcome yang telah diantisipasi. Hal ini akan menjelaskan
hubungan biaya dengan hasil (result). Ini merupakan kunci dalam penanganan program
secara efektif. Sebagai variasi antara perencanaan dan kejadian sebenarnya, manajer dapat
menentukan input-input resource dan bagaimana input-input tersebut berhubungan
dengan outcome untuk menentukan efektivitas dan efisiensi program.
Program pada anggaran berbasis kinerja didefinisikan sebagai instrumen kebijakan
yang berisi satu atau lebih kegiatan yang akan dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau
lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan
masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Aktivitas tersebut disusun sebagai
cara untuk mencapai kinerja tahunan. Dengan kata lain, integrasi dari rencana kerja tahunan
yang merupakan rencana operasional dari perencanaan strategik dan anggaran tahunan
merupakan komponen dalam penganggaran berbasisi kinerja.
Elemen-elemen yang penting untuk diperhatikan dalam penganggaran berbasis
kinerja adalah:
o Tujuan yang telah disepakati dan ukuran pencapaiannya.
o Pengumpulan informasi yang sistematis atas relisasi pencapaian kinerja dapat diandalkan
dan konsisten, sehingga dapat diperbandingkan antara biaya dengan pretasinya.
Penyediaan informasi secara terus-menerus sehingga dapat digunakan dalam manajemen
perencanaan, pemrograman, penganggaran dan evaluasi.
Kondisi yang harus dipersiapkan sebagai faktor pemicu keberhasilan implementasi
penggunaan anggaran berbasis kinerja:
o Kepemimpinan dan komitmen dari seluruh komponen organisasi
o Fokus penyempurnaan administrasi secara terus-menerus.
o Sumber daya yang cukup untuk usaha penyempurnaan tersebut (uang, waktu, dan
orang).
o Penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) yang jelas.
o Keinginan yang kuat untuk berhasil.

2. Ciri-ciri anggaran berbasis kinerja:


Anggaran berbasis kinerja memilikin ciri-ciri antara lain:
1. Secara umum sistem ini mengandung tiga unsur pokok yaitu:
a. Pengeluaran pemerintah diklasifikasikan menurut program dan kegiatan.
b. Pengukuran hasil kerja (Performance Measurement).
c. Pelaporan program (Program Reporting).
2. Titik perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kerja, bukan pada pengawasan.
3. Setiap kegiatan harus dilihat dari sisi efisiensi dan memaksimalkan output.
4. Bertujuan untuk menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan
untuk penyusunan target dan evaluasi pelaksanaan kerja.
5. Keterkaitan yang erat antara tujuan, sasaran dan proses penganggaran

3. Keunggulan dan kelemahan dari anggaran berbasis kinerja


v Kunggulan anggaran berbasis kinerja:
1. Memungkinkan pendelegasian wewenang dalam pengambilan keputusan.
2. Merangsang partisipasi dan memotivasi satuan kerja melalui proses pengusulan dan
penilaian anggaran yang bersifat faktual.
3. Membantu fungsi perencanaan dan mempertajam pembuatan keputusan pada semua
tingkat.
4. Memungkinkan alokasi dana secara optimal dengan didasarkan efisiensi satuan kerja.
5. Menghindari pemborosan.
6. Dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan setiap satuan,lebih efektif dalam
mencapai sasaran.
v Kelemahan anggaran berbasis kinerja:
1. Tidak semua kegiatan dapat distandarisasikan.
2. Tidak semua hasil kerja dapat diukur secara kuantitatif.
3. Tidak ada kejelasan mengenai siapa pengambil keputusan dan siapa yang
menanggung beban atas keputusan.

4. Karakteristik Anggaran berbasis kinerja


APBD dengan pendekatan kinerja harus memuat beberapa hal:
1. Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja.
2. Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan komponen kegiatan yang
bersangkutan.
3. Persentase dari jumlah pendapatan APBD yang mendanai pengeluaran administrasi
umum, operasi, dan pemeliharan serta belanja modal atau pembangunan.

5. Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja:


Dalam menyusun anggaran berbasis kinerja ada hal yang perlu diperhatikan yaitu
prinsip-prinsip penganggaran, aktivitas semua dalam penyusunan anggaran berbasis kinerja,
peranan legislatif, siklus perencanaan anggaran daerah, struktur APBD, dan penggunaan
anggaran berbasis kinerja.
v Prinsip-prinsip penganggaran
1. Transparansi dan akuntabilitas anggaran
APBD harus dapat menyajikan informasi yang jelas mengenai tujuan, sasaran, hasil, dan
manfaat yang diperoleh dari masyarakat dari suatu kegiatan atau proyek yang dianggarkan.
Anggota masyarakat memiliki hak dan akses yang sama untuk mengetahui proses anggaran
karena menyangkut aspirasi dan kepentingan masyarakat terutama pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan hidup masyarakat.
2. Disiplin Anggaran
Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan
dalam jumlah cukup dan tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan/proyek yang belum atau
tidak tersedia anggarannya dalam APBD atau perubahan APBD.
3. Keadilan anggaran
Pemerintah daerah wajib mengalokasikan penggunaan anggarannya secara adil agar dapat
dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi dalam pemberian pelayanan
karena pendapatan daerah pada hakekatnya diperoleh melalui peran serta masyarakat.
4. Efisiensi dan efektivitas anggaran
Penyusunan anggaran hendaknya dilakukan berlandaskan azas efisiensi, tepat guna, tepat
waktu pelaksanaan, dan penggunaannya dapat dipertanggung jawabkan. Dana yang tersedia
harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan peningkatan dan
kesejahteraan untuk kepentingan masyarakat.
5. Disusun dengan pendekatan kinerja
APBD disusun dengan pendekatan kinerja yaitu mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja
(output/outcome) dari perencanaan alokasi biaya atau input yang telah ditetapkan. Hasil
kerjanya harus sepadan atau lebih besar dari biaya atau input yang ditetapkan.
Selain prinsip-prinsip secara umum seperti apa yang telah diuraikan di atas, Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 mengamanatkan perubahan-perubahan kunci tentang
penganggaran sebagai berikut:
1. Penerapan pendekatan penganggaran dengan perspektif jangka menengah.
Pendekatan dengan perspektif jangka menengah memberikan kerangka yang menyeluruh,
meningkatkan keterkaitan antara proses perencanaan dan penganggaran, mengembangkan
disiplin fiskal, mengarahkan alokasi sumber daya agar lebih rasional dan strategis, dan
meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dengan pemberian pelayanan
yang optimal dan lebih efisien.
2. Penerapan anggaran secara terpadu
Dengan pendekatan ini, semua kegiatan instansi pemerintah disusun secara terpadu, termasuk
mengintegrasikan anggaran belanja rutin dan anggaran belanja pembangunan. Hal tersebut
merupakan tahapan yang diperlukan sebagai bagian upaya jangka panjang untuk membawa
penganggaran menjadi lebih transparan, dan memudahkan penyusunan dan pelaksanaan
anggaran yang berorientasi kinerja.
3. Penerapan penganggaran berdasarkan kinerja.
Pendekatan ini memperjelas tujuan dan indikator kinerja sebagai bagian dari pengembangan
sistem penganggaran berdasarkan kinerja. Hal ini akan mendukung perbaikan efisiensi dan
efektifitas dalam pemanfaatan sumber daya dan memperkuat proses pengambilan keputusan
tentang kebijakan dalam kerangka jangka menengah.
v Aktivitas Utama dalam Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja
Aktivitas Utama dalam Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja adalah mendapatkan data
kuantitatif dan membuat keputusan penganggarannya. Proses mendapatkan data kuantitatif
bertujuan untuk memperoleh informasi dan pengertian tentang berbagai program yang
menghasilkan output dan outcome yang diharapkan. Sedangkan proses pengambilan
keputusannya melibatkan setiap level dari manajemen pemerintahan. Pemilihan dan prioritas
program yang akan dianggarkan tersebut akan sangat tergantung pada data tentang target
kinerja yang diharapkan dapat dicapai.
v Peranan Legislatif dalam Penyusunan Anggaran
Alokasi anggaran setiap program di masing-masing unit kerja pada akhirnya sangat
dipengaruhi oleh kesepakatan antara legislatif dan eksekutif. Prioritas dan pilihan
pengalokasian anggaran pada tiap unit kerja dihasilkan setelah melalui koordinasi diantara
bagian dalam lembaga legislatif dan eksekutif. Dalam usaha mencapai kesepakatan,
seringkali keterkaitan antara kinerja dan alokasi anggaran menjadi fleksibel dan longgar
namun dengan adanya analisa standar belanja, alokasi anggaran menjadi lebih rasional.
Berdasarkan kesepakatan tersebut pada akhirnya akan ditetapkanlah Perda APBD.
v Siklus Perencanaan Anggaran Daerah
Perencanaan anggaran daerah secara keseluruhan yang mencakup penyusunan
kebijakan umum APBD sampai dengan disusunnya rancangan APBD terdiri dari beberapa
tahapan proses perencanaan anggaran daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2003 serta Undang-Undang Nomor 32 dan 33 Tahun 2004, tahapan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Pemerintahdaerah menyampaikan kebijakan umum APBD tahun anggaran berikutnya
sebagai landasan penyusunan rancangan APBD paling lambat pada pertengahan bulan Juni
tahun berjalan. Kebijakan umum APBD tersebut berpedoman pada RKPD. Proses
penyusunan RKPD tersebut dilakukan antara lain dengan melaksanakan musyawarah
perencanaan pembangunan yang selain diikuti oleh unsur-unsur pemerintahan juga
mengikutsertakan dan atau menyerap aspirasi masyarakat terkait antara lain asosiasi profesi,
perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, pemuka adat, pemuka agama, dan kalangan
dunia usaha.
2. DPRD kemudian membahas kebijakan umum APBD yang disampaikan oleh pemerintah
daerah dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahunan anggaran berikutnya.
3. Berdasarkan kebijakan umum APBD yang telah disepakati dengan DPRD pemerintah daerah
bersama DPRD membahas prioritas dan plafon anggaran sementara untuk dijadikan acuan
bagi setiap SKPD.
4. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun RKA-SKPD tahun berikutnya dengan
mengacu pada prioritas dan plafon anggaran sementara yang telah ditetapkan oleh pemerintah
daerah bersama DPRD.
5. RKA-SKPD tersebut kemudian disampaikan kepada DPRD untuk dibahas dalam pembicaraan
pendahuluan RAPBD.
6. Hasil pembahasan RKA-SKPD disampaikan kepada pejabat pengelola keuangan daerah
sebagai bahan penyusunan rancangan perda tentang APBD tahun berikutnya.
7. Pemerintah daearah meng ajukan rancangan perda tentang APBD disertai dengan penjelasan
dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD pada minggu pertama bulan Oktoberb
tahun sebelumnya.
8. Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai rancangan perda tentang APBD dilakukan
selambat-lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.
v Siklus APBD
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Standar Akuntansi
Pemerintahan, struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: Anggaran
pendapatan, Anggaran belanja, Transfer, dan Pembiayaan.

6. Penggunaan Analisis Standar Belanja dalam Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja.


Salah satu hal yang harus dipertimbangkan dalam penetapan belanja daerah
sebagimana disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 167 (3) adalah
Analisa Standar Belanja (ASB). Alokasi belanja ke dalam aktivitas untuk
menghasilakan output seringkali tanpa alasan dan justifikasi yang kuat. ASB mendorong
penetapan biaya dan pengalokasian anggaran kepada setiap aktivitas unit kerja menjadi lebih
logis dan mendorong dicapainya efisiensi secara terus-menerus karena adanya pembandingan
biaya per unit setiap output dan diperoleh praktik-parktik terbaik dalam desain aktivitas.
Dalam membuat ASB terdapat beberapa pertimbangan yang dapat dipergunakan yaitu:
Pemulihan biaya
Keputusan-keputusan pada tingkat penyediaan jasa
Keputusan-keputusan berdasarkan benefit atau cost.
Keputusan investasi

7. Metode penyusunan anggaran berbasis kinerja


Pengelolaan anggaran daerah telah menjadi perhatian utama bagi para pengambil
keputusan dipemerintahan, baik ditingkat pusat maupun daerah. Sejauh ini perundang-
undangan dan produk hukum telah dikeluarkan dan diberlakukan dalam upaya untuk
menciptakan sistem pengelolaan anggaran yang mampu memenuhi berbagai tuntutan dan
kebutuhan masyarakat, yaitu terbentuknya semangat desentralisasi, demokratisasi,
transparasi, akuntabilitas dalam proses penyelenggaraan pemerintahan pada umumnya dan
proses pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.
Untuk menghasilkan penyelenggaraan anggaran daerah yang efektif dan efisien, tahap
persiapan atau perencanaan anggaran merupakan salah satu faktor penting dan menentukan
dan keseluruhan siklus anggaran daerah. Namun demikian tahap persiapan atau perencanaan
anggaran harus diakui memang hanyalah salah satu tahap penting dalam keseluruhan siklus
atau proses anggaran daerah. Dengan kata lain, sebaik apa pun perencanaan yang telah
disusun oleh pemerintah daerah tidak akan memberikan ari apa-apa manakala dalam tahap
pelaksanaan dan tahap pengendaliannya tidak berjalan dengan secara tidak baik
Anggaran pendapatan dan belanja daerah merupakan amanat rakyat kepada
pemerintah daerah untuk mewujudkan aspirasi dan kebutuhan mereka. Anggaran merupakan
refleksi aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam satu tahun fiskal tertentu yang dinyatakan
dalam satuan mata uang. Di sisi pemerintah daerah, perwujudan amanat rakyat ini dinyatakan
dalam bentuk rencana kerja yang akan dilaksanakan pemerintah daerah dengan menggunakan
sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian, penyusunan anggran daerah harus
berorientasi pada kepentingan masyarakat atau publik.
Sejalan dengan hal itu, pengelolaan anggaran daerah (APBD) di era reformasi ini,
ditekankan perlunya perubahan paradigma yang mempertimbangkan hal berikut:
1. Adanya keterkaitan yang erat dan jelas antara proses pengambilan keputusan politis
DPRD, perencanaan operasional di eksekutif, dan penganggaran di masing-masing unit
organisasi atau satuan kerja teknis
2. APBD harus berorientasi pada kepentingan publik.
3. APBD disusun berdasarkan pendekatan kinerja.
4. Didukung oleh sistem dan prosedur akuntansi yang memadai.
8. Sistem Anggaran Berbasis Kinerja
Sistem anggaran kinerja pada dasarnya mencakup dua hal yaitu struktur (bentuk dan susunan)
anggaran, proses (mekanisme) penyusunan anggaran.
a. Struktur anggaran kinerja
Struktur anggaran kinerja terdiri atas elemen-elemen pendapatan, belanja, dan pendanaan
daerah yang memberikan gambaran antara lain mengenai:
Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja.
Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan komponen kegiatan yang
bersangkutan.
Bagian APBD yang mendanai belanja administrasi umum, belanja operasi dan
pemeliharaan dan belanja modal atau investasi untuk pelayanan publik dan aparatur.
b. Proses penyusunan anggaran kinerja
Proses penyusunan anggaran kinerja meliputi beberapa tahap yaitu:
Penyusunan arah dan kebijakan umum APBD berdasarkan hasil penjaringan aspirasi
masyarakat dan dokumen perencanaan daerah.
Berdasarkan arah dan kebijakan umum APBD dengan mempertimbangkan kondisi dan
kemampuan daerah disusun strategi dan prioritas APBD.
Strategi dan prioritas APBD selanjutnya menjadi dasar penyusunan program dan kegiatan.
Anggaran disusun berdasarkan program dan kegiatan yang telah direncanakan.

KESIMPULAN

Penganggaran berbasis kinerja merupakan metode penganggaran bagi manajemen


untuk mengaitkan setiap pendanaan yang dituangkan dalam kegiatan-kegiatan dengan
keluaran dan hasil yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dari keluaran
tersebut.
Dalam pencapaian akuntabilitas kinerja dan penilaian kinerja pemerintahan daerah
maka penyusunan anggaran kinerja sangat diperlukan dalam penyusunan APBD. Penyusunan
anggaran berbasis kinerja akan memberikan penetapan ukuran atau indikator keberhasilan
dalam pencapaian sasaran dan tujuan dari suatu organisasi pemerintahan daerah sesuai visi,
misi dan tujuannya yang telah ditetapkan. Mekanisme penganggaran yang baik melalui siklus
perencanaan anggaran dan penyesuaiannya terhadap struktur APBD merupakan proses yang
harus diperhatikan dalam penyusunan anggaran serta diperlukan kerjasama yang baik antara
para legislatif dan birokrasi.
Anggaran yang disusun dengan pendekatan kinerja mengutamakan pada pencapaian
hasil (outcome/output) dengan tidak menyampingkan prinsip-prinsip anggaran yakni
transparansi dan akuntabilitas anggaran, disiplin anggaran, keadilan anggaran, efisiensi dan
efektifitas anggaran. Penggunaan Analisa Standar Belanja (ASB) oleh pemerintah daerah
akan meminimalkan penyerapan APBD dan mendorong penetapan biaya dan pengalokasian
anggaran kepada setiap unit kerja menjadi lebih logis dan pencapaian efisiensi secara terus-
menerus karena adanya perbandingan biaya per unit output juga diperoleh praktik-praktik
terbaik dalam desain aktivitas. Untuk menghasilkan penyelenggaraan anggaran daerah yang
efektif dan efisien, tahap persiapan atau perencanaan anggaran merupakan salah satu faktor
penting dan menentukan dan keseluruhan siklus anggaran daerah.