Anda di halaman 1dari 21

DEFISIENSI MINERAL MAKRO PADA TERNAK UNGGAS DAN

UPAYA PENANGANANNYA

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu


Kesehatan Ternak

Disusun oleh :

Nama : FITRI WULANDARI

NIM : 1407105040

Kelas :A

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah Ilmu
Kesehatan Ternak ini tanpa suatu halangan apapun. Tugas makalah ini berjudul
Defisiensi Mineral pada Ternak Unggas dan Upaya Penanganannya.

Ucapan terima kasih tidak lupa kami sampaikan kepada dosen


pembimbing mata kuliah Ilmu Kesehatan Ternak yang telah memberikan
kesempatan dalam pembuatan makalah ini sebagai bahan pembelajaran untuk
bekal pengetahuan.

Akhir kata tak ada gading yang tak retak begitu pula dengan makalah ini
kami sadar masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi
kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.

Jimbaran, 10 Maret 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

Judul................................................................................................
............. i

Kata
Pengantar........................................................................................
..... ii

Daftar
Isi....................................................................................................
.. iii

BAB 1 :
PENDAHULUAN........................................................................... 1

1.1 Latar
belakang................................................................................
.. 1
1.2 Rumusan
masalah.............................................................................1
1.3 Tujuan....................................................................................
.......... 2
1.4 Manfaat.................................................................................
.......... 2

BAB II :
PEMBAHASAN...........................................................................
3

2.1 Pengertian
Mineral...........................................................................
3
2.2 Pencernaan dan penyerapan
mineral ................................................ 4
2.3 Penggolongan mineral dan
perinciannya........................................... 4
2.3.1 Mineral
Makro.........................................................................5
2.3.1.1
Kalsium.................................................................
...... 5
2.3.1.2
Fosfor....................................................................
...... 7
2.3.1.3

Natrium.................................................................
...... 9
2.3.1.4
Kalium...................................................................
..... 10
2.3.1.5

Magnesium...........................................................
....... 11

BAB III :
PENUTUP......................................................................................
13
3.1

Simpulan...............................................................................
............... 13
3.2

Saran.....................................................................................
................ 13

DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................
14

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Ada beberapa nutrisi yang diperlukan oleh tubuh
ternak, salah satunya adalah mineral. Seperti unsur
makanan yang lain, mineral diperlukan untuk kelancaran
aktivitas tubuh. Kekurangan unsur mineral dapat
menyebabkan gangguan pada proses fisiologis yang terjadi
di dalam tubuh.
Keseimbangan ion-ion mineral di dalam cairan tubuh
mempunyai peranan penting dalam pemeliharaan fungsi
tubuh, diantaranya untuk pengaturan kerja enzim,
pemeliharaan keseimbangan asam-basa, membantu
pembentukan ikatan (contoh: ikatan hemoglobin),
membantu transfer ikatan-ikatan penting melalui membran
sel, dan pemeliharaan kepekaan otot dan saraf terhadap
rangsangan.
Mineral digolongkan atas mineral makro dan mineral
mikro. Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh
dalam jumlah relatif besar, sedangkan mineral mikro
dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif kecil. Mineral mikro
jika termakan dalam jumlah besar justru dapat bersifat
toksik. Selain kedua jenis penggolongan mineral tersebut
terdapat pula istilah mineral trace.
Bahan pakan ternak mengandung berbagai mineral
untuk keperluan tubuh, tetapi tidak semuanya tersedia
dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan juga tidak
semua mineral dapat dimanfaatkan dengan baik oleh
ternak. Hal ini tergantung pada ketersediaan biologiknya
(ketersediaan biologik adalah tingkatan zat gizi yang
dimakan yang dapat diabsorbsi oleh tubuh). Sebagian
mineral mungkin tidak mudah dilepaskan saat makanan
dicerna atau tidak diabsorbsi dengan baik. Hal tersebut
dapat menyebabkan defisiensi mineral, yaitu suatu keadaan
yang diakibatkan oleh kurangnya asupan mineral dari bahan
pakan sehingga berdampak pada timbulnya masalah
kesehatan. Antara defisiensi mineral yang satu dengan
defisiensi mineral yang lain menimbulkan dampak yang
berbeda-beda pada tubuh ternak. Oleh karena itu diperlukan
upaya penanganan yang berbeda pula.

1.2 Rumusan masalah


Rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1.2.1 Apa pengertian mineral?
1.2.2 Bagaimana pencernaan dan penyerapan mineral?
1.2.3 Apa saja jenis-jenis penggolongan mineral dan
perinciannya?
1.2.4 Apa efek dari defisiensi mineral pada ternak unggas?
1.2.5 Bagaimana upaya penanganan defisiensi mineral pada
ternak unggas?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini berdasarkan rumusan
masalah di atas adalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian mineral
1.3.2 Untuk mengetahui pencernaan dan penyerapan mineral
1.3.3 Untuk mengetahui jenis-jenis penggolongan mineral dan
perinciannya
1.3.4 Untuk mengetahui efek dari defisiensi mineral pada
ternak unggas
1.3.5 Untuk mengetahui upaya penanganan defisiensi mineral
pada ternak unggas

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini adalah untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan
Ternak. Disamping itu makalah ini diharapakan dapat menjadi
arsip yang bermanfaat sebagai bahan referensi belajar bagi
mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian mineral


Pengertian mineral dalam bidang farmasi berbeda dengan
pengertian mineral dalam bidang geologi. Dalam bidang
farmasi yaitu zat gizi yang diperlukan manusia dalam
mendukung proses tumbuh dan berkembang dalam jumlah
yang kecil atau sedikit. Mineral memiliki komposisi unsur murni
dan garam sederhana yang begitu kompleks dengan berbagai
macam bentuk yang terkadang sampai ribuan bentuk.
Sedangkan dalam bidang geologi adalah zat atau benda yang
terbentuk oleh proses alam, biasanya bersifat padat serta
tersusun dari komposisi kimia tertentu dan mempunyai sifat-
sifat fisik yang tertentu pula. Mineral terbentuk dari atom-atom
serta molekul-molekul dari berbagai unsur kimia, dimana
atom-atom tersebut tersusun dalam suatu pola yang teratur.
Keteraturan dari rangkaian atom ini akan menjadikan mineral
mempunyai sifat dalam yang teratur. Mineral pada umumnya
merupakan zat anorganik.
Sedangkan para ahli mengemukakan beberapa
pengertian mengenai mineral, yakni:
a. I.G. Berry dan B.Mason, 1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang
terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai
komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan
mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.
b. D.G.A Whitten dan J.R.V Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural
homogen mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk
oleh proses alam yang anorganik.
c. A.W.R Potter dan H. Robinson, 1977
Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen
mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas-
batas dan mempunyai sifat-sifat tetap, dibentuk di alam
dan bukan hasil suatu kehidupan.

Sebagian besar mineral terdapat dalam keadaan padat,


akan tetapi dapat juga berada dalam keadaan setengah padat,
gas, ataupun cair. Mineral padat biasanya terdapat dalam
bentuk kristal dan pada sisinya dibatasi oleh bidang-bidang
datar. Bidang geometrik ini memberi bangunan yang tersendiri
sifatnya pada mineral yang bersangkutan. Sebagian mineral
dapat juga dilihat dalam bentuk amorf, artinya tidak
mempunyai susunan dan bangunan kristal sendiri. Pengenalan
mineral dapat didasarkan atas berbagai sifat dari mineral
tersebut.

2.2 Pencernaan dan penyerapan mineral

Absorbsi mineral dalam usus biasanya tidak efisien.


Kebanyakan mineral (kecuali kalium dan natrium) membentuk
garam-garam dan senyawa-senyawa lain yang relatif sukar
larut sehingga sukar diabsorbsi. Sebagian besar mineral yang
dimakan diekskresikan dalam feses. Absorbsi mineral sering
memerlukan protein carrier spesifik. Sintesis protein ini
berperan sebagai mekanisme penting untuk mengatur kadar
mineral dalam tubuh. Transport dan penyimpanannya juga
memerlukan pengikatan spesifik pada protein carrier itu.
Ekskresi sebagian besar mineral dilakukan oleh ginjal, tetapi
banyak mineral juga diekskresikan ke dalam getah pencernaan
& empedu dan hilang dalam feses. Konsentrasi mineral tubuh
diatur pada tingkat absorbsi atau ekskresi,oleh sebab itu kadar
yang bersirkulasi tidak menggambarkan intake. Sebaliknya,
mineral menunjukkan keseimbangan antara jumlah yang
diabsorbsi, digunakan, disimpan, dan diekskresi.

Absorbsi mineral dapat dipengaruhi oleh zat chelating


(fitat dan oksalat), protein, lemak, mineral lain, dan serat
dalam makanan. Sebagai contoh, besi lebih mudah diserap
dari daging daripada dari sayuran. Vitamin C menambah
absorbsi besi tetapi mengurangi absorbsi tembaga. Setelah
diabsorbsi, mineral ditransport dalam darah oleh albumin atau
protein carrier spesifik. Mineral kemudian disimpan dalam hati
dan jaringan lain berikatan dengan protein khusus. Hampir
semua mineral esensial dapat tertimbun sampai kadar toksik.
Metabolisme kebanyakan mineral belum dimengerti secara
sempurna.

2.3 Jenis-jenis penggolongan mineral dan perinciannya

Berdasarkan jumlah kebutuhan dalam tubuh, mineral


dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Mineral Makro: adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam


jumlah relatif besar. Contoh: Kalsium (Ca), Fosfor (P), Kalium
(K), Natrium (Na), Klorida (Cl), Magnesium (Mg), Sulfur (S).
b. Mineral Mikro: adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam
jumlah relatif kecil. Contoh: Seng (Zn), Kobalt (Co), Tembaga
(Cu), Yodium (I), Besi (Fe), Mangan (Mn), Molibdenum (Mo),
Selenium (Se), Kadmium (Cd), Strontium (Sr), Fluorin (F),
Nikel (Ni), Kromium (Cr).
c. Mineral Trace: Silikon (Si), Vanadium (V), Alumunium (Al),
Perak (Ag), Lithium (Li), Barium (Ba).

2.3.1 Mineral Makro


a. Kalsium
Kalsium erat sekali hubungannya dengan pembentukan
tulang. Kalsium juga sangat penting dalam pengaturan
sejumlah besar aktivitas sel yang vital, fungsi syaraf dan
otot, kerja hormon, pembekuan darah, mortilitas seluler dan
khusus pada ayam petelur berguna untuk pembentukan
kerabang telur.

Tabel 1. Sumber kalsium

No Sumber Kadar (%)


1 Tepung tulang 26
2 Tepung tulang dikukus 29
3 Bone char 27
4 Trikalsium fosfat 13
5 Dikalsium 24
6 Monokalsium 16
7 Ground limestone 26-36
8 Kalsium karbonat 40

Kerja kalsium tampaknya melalui reseptor protein


intrasel (kalmodulin) yang mengikat ion-ion kalsium bila
konsentrasinya meningkat sebagai respon terhadap
stimulus. Bila kalsium terikat pada kalmodulin maka dapat
mengatur aktivitas sejumlah besar enzim, termasuk
berperan dalam metabolisme siklik nukleotid, metabolisme
glikogen, dan pengaliran kalsium. Kebutuhan kalsium
bervariasi bergantung pada jenis unggas.

Tabel 2. Kebutuhan kalsium pada unggas

No Unggas Kebutuhan (%)


1. Ayam Broiler
Starter 1,00
Finisher 0,90
2. Ayam Petelur
Starter 0,80
Grower 0,60
Layer 3,40
3. Itik
Starter 0,65
Grower 0,60
Breeder 2,75
4. Puyuh
Grower 0,80
Breeder 2,50

Kebutuhan kalsium pada ayam yang sedang bertumbuh


untuk pertumbuhan badan optimal dan klasifikasi tulang
terjadi dengan level 0,6 1,2 %. Level kalsium 1%
direkomendasikan oleh NRC sebagai target yang terbaik.
Pada ayam petelur, kalsium dibutuhkan untuk pembentukan
telur. Pada fase pertama (sampai umur 40 minggu)
kandungan kalsium pada telur sebesar 1,5 gram dengan
berat telur 45 gram. Setelah berat telur meningkat 56 gram
maka kandungan kalsium telur sebesar 2 gram. Oleh sebab
itu kebutuhan kalsium per hari pada fase pertama
direkomendasikan sebesar 3,3 % apabila menghendaki
produksi telur 100%. Setelah memasuki fase ke dua dengan
umur diatas 40 minggu, ukuran telur akan meningkat dan
kandungan kalsium per hari direkomendasikan sebesar 3,7%
untuk produksi telur 100%. Pada ayam broiler imbangan
kalsium dan fosfor sebesar 2 : 1 merupakan imbangan yang
sangat optimal untuk kelangsungan hidup pokok dan
produksi.

Defisiensi :
Gejala defisiensi kalsium adalah tetani, gangguan otot
dan syaraf. Gejala-gejala ini terjadi paling sering akibat
defisiensi vitamin D, hipoparatiroidisme, atau insufisiensi
ginjal, tetapi kekurangan kalsium juga sebagai salah satu
penyebabnya. Gejala yang lain adalah osteoporosis dan
riketsia. Pada ayam petelur gejala yang nampak adalah kulit
telur tipis dan mudah pecah.
Gejala defisiensi akan terlihat setelah berlangsung 4
minggu. Apabila defisiensi tidak segera diperbaiki, sebagian
besar anak ayam akan mati setelah umur 8 minggu. Gejala
khas dari defisiensi kalsium adalah rachitis dan
osteomalasia. Rachitis terjadi karena kegagalan tulang untuk
tumbuh dalam bentuk normal pada hewan muda.
Sedangkan osteomalasia terjadi akibat reabsorbsi dari
tulang yang telah terbentuk pada hewan tua.
Penyakit rachitis memperlihatkan gejala tulang-tulang
yang salah bentuknya, paruh yang menjadi lunak,
kelemahan kaki, kaki bengkok, tulang dada bengkok, gaya
jalan kaku, cara menjaga keseimbangan badan kurang
sempurna, bulu kurang hidup dan angka kematian tinggi.
Gejala lain yang terlihat pada anak ayam adalah
pertumbuhan terhambat dan adanya ricketsia (rapuh/patah).
Ricketsia ditandai dengan kelemahan yang hebat pada kaki
anak ayam sehingga susah berjalan.
Ricketsia umumnya terjadi pada umur 2-3 minggu. Pada
bangsa-bangsa ayam yang berwarna akan terjadi
pewarnaan bulu yang abnormal bila terjadi defisiensi
mineral ini. Pada ayam dewasa gejala pertama yang tampak
adalah menipisnya kulit telur, kemudian produksinya
menurun, telurnya mengecil, dan daya tetasnya kurang.
Embrionya akan mati pada hari ke-18 dan memperlihatkan
pertumbuhan rahang bawah yan tidak sempurna. Ayam
dewasa dapat bertahan meski kekurangan mineral ini pada
batas-batas tertentu.
Upaya penanganan :
Upaya penanganan yang terpenting adalah tindakan
pencegahan agar unggas khususnya ayam cukup mendapat
asupan mineral kalsium. Hal ini dapat dilakukan dengan
jalan mengusahakan supaya keadaan kandang cukup
mendapat sinar matahari. Bila unggas (ayam) dipelihara
dalam kandang yang tidak dimasuki sinar matahari (clouse
house), maka ransumnya harus ditambahkan mineral
kalsium dalam jumlah yang cukup.

b.Fosfor
Fosfor berfungsi sebagai pembentuk tulang,
persenyawaan organik, metabolisme energi, karbohidrat,
asam amino dan lemak, transportasi asam lemak dan
bagian koenzim. Fosfor sebagai fosfat memainkan peranan
penting dalam struktur dan fungsi semua sel hidup. Fosfat
terdapat dalam sel-sel sebagai ion bebas pada konsentrasi
beberapa miliekuivalen per liter dan juga merupakan bagian
penting asam-asam nukleat, nukleotida, dan beberapa
protein. Semua sel mempunyai enzim-enzim yang dapat
mengikat fosfat dalam ikatan ester/anhidrida asam ke
molekul-molekul lain. Enzim-enzim juga terdapat di dalam
dan di luar sel untuk melepaskan fosfat dari molekul-molekul
yang mengandung fosfat. Yang termasuk kelompok terakhir
enzim-enzim ini adalah beberapa fosfatase yang mempunyai
peranan penting dalam pencernaan bahan-bahan makanan
dalam usus. Sumber fosfor terutama berasal dari hewan dan
sumber sintetis.

Tabel 3. Sumber fosfor

N Sumber Kadar (%)


o.
1. Tepung tulang 14
2. Fosfat batu 14
3. Fosfat batu 18

Fosfat bebas diabsorbsi dalam jejunum bagian tengah


dan masuk ke dalam aliran darah melalui sirkulasi portal dan
transport ini terjadi secara aktif yang membutuhkan natrium
maupun secara difusi. Pengaturan absorbsi fosfat diatur oleh
1,25-dehidroksikalsiferol. Fosfat ikut serta dalam siklus
pengaturan derivat aktif vitamin D3. Bila kadar fosfat serum
rendah, pembentukan 1,25- dehidroksikalsiferol dalam
tubulus renalis dirangsang yang menyebabkan absorbsi
fosfat dari usus.

Tabel 4. Kebutuhan fosfor pada unggas

No Unggas Kebutuhan (%)


1. Ayam Broiler
Starter 0,45
Finisher 0,40
2. Ayam Petelur
Starter 0,40
Grower 0,30
Layer 0,32
3. Itik
Starter 0,40
Grower 0,35
Breeder 0,35
4. Puyuh
Grower 0,45
Breeder 0,55

Kebutuhan fosfor yang optimal pada ayam petelur


adalah 0,30% dan berkeseimbangan dengan kebutuhan
kalsium sebesar 3,50%. Tetapi kebutuhan fosfor ini
umumnya terkurangi karena adanya fosfor yang tingkat
ketersediaannya rendah terutama yang berasal dari
tumbuhan. Umumnya fosfor ini terikat dalam bentuk fosfor
fitat.

Defisiensi:
Defisiensi fosfat terjadi akibat penurunan absorbsi dari
usus dan pembuangan berlebihan dari ginjal. Penyebab
utama hipofosfatemia adalah ketidaknormalan fungsi tubuh
ginjal yang mengakibatkan penurunan reabsorbsi fosfat.
Defisiensi fosfat berakibat riketsia, dan pertumbuhan
terhambat, selain itu juga terdapat kelainan pada eritrosit,
leukosit dan trombosit pada hati. Keracunan fosfat jarang
sekali terjadi kecuali bila kegagalan ginjal akut atau kronis
menghambat ekskresi fosfat.
Selain itu kekurangan fosfor pada unggas dapat
menyebabkan pertumbuhan menurun, konversi pakan
rendah, kandungan fosfor dalam tulang belakang rendah.
Pada unggas-unggas tertentu kekurangan fosfor dapat
menyebabkan terjadinya ketidaknormalan jaringan skeletal
dan mineralisasi tulang rendah.
Gejala yang terjadi bila unggas (ayam petelur)
kekurangan asupan fosfor adalah mematuk cangkang
telurnya sendiri.

Upaya penanganan:
Secara umum upaya penanganan ternak unggas yang
mengalami defisiensi fosfor adalah dengan memastikan
bahwa dalam formulasi ransum yang dibuat, kandungan
fosfornya sudah memenuhi nilai standar kebutuhan ternak
unggas, dan rasio perbandingan antara fosfor dan mineral
lainnya juga telah sesuai. Untuk mengetahui kadarnya,
peternak bisa melakukan uji laboratorium kualitas ransum di
lembaga terkait. Bahan baku ransum yang bisa digunakan
sebagai sumber fosfor dalam formulasi ransum diantaranya
MCP (monocalcium phospate) dan DCP (dicalcium phospate)
atau tepung batu. Selain itu yang perlu diperhatikan dalam
menangani defisiensi fosfor adalah bahwa peternak perlu
melakukan suplementasi vitamin D3 dan C yang sangat
berpengaruh terhadap daya serap fosfor di dalam tubuh
ayam.

c.Natrium

Natrium adalah kation Na utama cairan ekstrasel dan


sebagian besar berhubungan dengan klorida dan bikarbonat
dalam pengaturan keseimbangan asam basa. Ion natrium
juga penting dalam mempertahankan tekanan osmotik
cairan tubuh dan dengan demikian melindungi tubuh
terhadap kehilangan cairan yang berlebihan. Pada bagian
empedu, ion natrium berfungsi untuk mengemulsi lemak.
Walaupun ion natrium banyak ditemukan dalam bahan
makanan, sumber utama dalam makanan adalah garam
dapur (NaCl).

Pengaturan konsentrasi natrium dan atau kadar natrium


dalam tubuh melibatkan dua proses utama, yaitu kontrol
terhadap pengeluaran natrium oleh tubuh dan kontrol
terhadap masukan natrium. Pengangkutan natrium melalui
dinding epitel usus nampaknya bergantung pada suatu
sistem pompa dan rembesan pasif yang terdapat pada
membran pembatas dari sel-sel tersebut. Pada duodenum
dan jejunum, NaCl berpindah dari darah ke usus bila cairan
hipotonik memasuki darah. Pada ileum, absorbsi NaCl terjadi
dari larutan hipotonik. Glukosa di dalam cairan luminal
meningkatkan absorbsi natrium di dalam jejunum.

Tabel 5. Kebutuhan natrium pada unggas

No Unggas Kebutuhan (%)


1. Ayam Broiler
Starter 0,15
Finisher 0,15
2. Ayam Petelur
Starter 0,15
Grower 0,15
Layer 0,15
3. Itik
Starter 0,15
Grower 0,15
Breeder 0,15
4. Puyuh
Grower 0,15
Breeder 0,15

Kebutuhan natrium harus selalu mengikuti


keseimbangan dengan klorida. Keseimbangan yang
dianjurkan adalah 1 : 1. Kebutuhan minimum natrium untuk
menghasilkan pertambahan bobot badan dan efisiensi
penggunaan pakan adalah 0,13% selama masa starter dan
0,07% setelah berumur 6 minggu. Pada ayam petelur
standar minimum dianjurkan kebutuhan natrium sebesar
0,15% untuk starter dan 0,1% untuk layer.

Defisiensi:
Defisiensi natrium menyebabkan tulang lunak,
hipertropi adrenal, dan mengurangi penggunaan protein dan
energi.

Upaya penanganan:
Penanganan defisiensi natrium yaitu dengan menjaga
kualitas ransum agar nutrisinya sesuai dengan yang
dibutuhkan ternak. Selain itu dapat pula ditambahkan garam
(NaCl) pada air minum ternak.

d. Kalium
Kalium adalah unsur teringan yang mengandung isotop
radioaktif alami. Secara umum fungsi kalium adalah
metabolisme normal, memelihara volume cairan tubuh,
konsentrasi pH, hubungan tekanan osmotik, mengaktifkan
enzim intraseluler dan pada empedu, bekerja sama dengan
natrium berfungsi untuk mengemulsikan lemak. Kalium
adalah kation (K) utama cairan intrasel. Dengan demikian,
sumber utama kalium adalah materi seluler dari bahan
pakan. Kalium mudah terserap di usus halus, sebanding
dengan jumlah yang dimakan dan beredar dalam plasma.
Kalium dalam cairan ekstrasel memasuki semua jaringan
dalam tubuh dan dapat mempunyai efek yang sangat besar
pada fungsi organ, terutama depolarisasi dan kontraksi
jantung.
Beberapa penelitian pada ayam menunjukkan bahwa
kalium akan lebih optimal keberadaannya apabila
berkesinambungan dengan fosfor. Keseimbangan kalium
dengan fosfor tersebut bergerak dari 0,2 : 0,6%, 0,24 :
0,35% dan 0,23 : 0,40%. Kebutuhan kalium bervariasi
bergantung pada jenis unggasnya.

Tabel 6. Kebutuhan kalium pada unggas

No Unggas Kebutuhan (%)


1. Ayam Broiler
Starter 0,40
Finisher 0,35
2. Ayam Petelur
Starter 0,40
Grower 0,25
Layer 0,15
3. Puyuh
Grower 0,40
Breeder 0,40

Defisiensi:
Defisiensi kalium secara umum menyebabkan
kelemahan seluruh otot, jantung lemah, dan pelemahan otot
pernafasan. Pada kegagalan ginjal, kehilangan K obligatorik
mungkin lebih jauh dari normal. Keracunan K
(hiperkalemia) sering terjadi pada payah ginjal karena ginjal
tidak mampu membuang kelebihan K.

Upaya penanganan:
Efek listrik hiperkalemia dapat dilawan oleh
peningkatan konsentrasi kalium serum. Pompa kalium dalam
membran sensitif terhadap penghambatan oleh preparat
digitalis yaitu ouabain. Pada hipokalemia, jantung menjadi
sensitif terhadap ouabain dan dapat terjadi keracunan
ouabain. Toksisitas ouabain dapat dinetralisasikan oleh
penambahan konsentrasi kalium serum.

e. Magnesium
Ion magnesium terdapat pada semua sel. Magnesium
berperan penting sebagai ion esensial di dalam berbagai
reaksi enzimatis dasar pada metabolisme senyawa antara
semua reaksi dimana ATP merupakan substrat, substrat
sebenarnya adalah Mg - ATP. Hal yang sama, Mg
dikhelasi diantara fosfat beta dan gama yang mengurangi
sifat kepadatan anionik ATP, sehingga Mg dapat mencapai
dan mengikat secara reversibel tempat protein spesifik.
Sehingga semua sintesis protein, asam nukleat, nukleotida,
lipid dan karbohidrat dan pengaktifan kontraksi otot
memerlukan magnesium.
Absorbsi Mg terjadi di seluruh usus halus dan jelas
kelihatan lebih bergantung pada banyaknya yang tersedia
daripada faktor lain, misalnya vitamin D. Absorbsi Mg
bukan proses aktif, dan tidak ada mekanisme bersama
untuk transport kalsium dan magnesium melalui dinding
usus. Dalam plasma, sebagian besar Mg terdapat dalam
bentuk yang dapat difiltrasi oleh glomerulus ginjal. Akan
tetapi ginjal mempunyai kemampuan luar biasa untuk
mempertahankan Mg.
Secara umum kebutuhan magnesium pada unggas
sekitar 500 mg untuk pertumbuhan optimal, produksi, dan
reproduksi.

Tabel 7. Kebutuhan magnesium pada unggas


No Unggas Kebutuhan (mg/ekor/hari)
1. Ayam Broiler
Starter 600
Finisher 600
2. Ayam Petelur
Starter 600
Grower 400
Layer 500
3. Itik
Starter 500
Grower 500
Breeder 500
4. Puyuh
Grower 300
Breeder 500

Defisiensi:
Defisiensi magnesium sering terjadi. Defisiensi
magnesium pada unggas menyebabkan pertumbuhan
lambat, mortalitas meningkat, penurunan produksi telur dan
ukuran telur mengecil. Kadar kalsium, protein, dan fosfat
yang tinggi dalam makanan akan mengurangi absorbsi Mg
dari usus. Malabsorbsi pada diare kronis, malnutrisi pada
protein kalori dan kelaparan dapat menyebabkan defisiensi
magnesium. Keracunan magnesium jarang terjadi pada
fungsi ginjal normal. Efek depresan magnesium pada sistem
syaraf biasanya mendominasi gejala toksisitas
hipermagnesemia. Hipermagnesemia pada unggas
menyebabkan tebal kerabang telur berkurang dan kotoran
menjadi basah.

Upaya penanganan:
Bahan pakan ternak adalah sumber magnesium utama
bagi ternak unggas. Oleh karena itu untuk mencegah
terjadinya defisiensi magnesium perlu dilakukan
pengawasan terhadap ransum yang diberikan agar kadar
mineral, salah satunya yaitu magnesium agar tetap tersedia
dalam jumlah yang cukup.
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Pengertian mineral ada dua, dalam bidang farmasi dan


bidang geologi. Dalam bidang farmasi yaitu zat gizi yang
diperlukan manusia dalam mendukung proses tumbuh dan
berkembang dalam jumlah yang kecil atau sedikit. Sedangkan
dalam bidang geologi yaitu benda atau zat yang dibentuk
melalui proses dari alam yang umumnya bersifat padat dan
tersusun dari kandungan-kandungan kimia dan sifat-sifat
tertentu juga. Mineral digolongkan menjadi dua jenis, yaitu
mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro adalah
mineral yang dibutuhkan dalam jumlah relatif besar,
contohnya Ca, P, K, Na, Cl, Mg, dan S. Mineral mikro adalah
mineral yang dibutuhkan dalam jumlah relatif kecil, contohnya
Zn, Co, Cu, I, Fe, Mn, Mo, Se, Cd, Sr, F, Ni, dan Cr. Selain kedua
golongan itu ada juga istilah mineral trace, contohnya Si, V, Al,
Ag, Li, dan Ba. Jika mineral tidak tercukupi sesuai dengan
kebutuhan maka akan menyebabkan defisiensi mineral, yaitu
suatu keadaan yang diakibatkan oleh kurangnya asupan
mineral dari bahan pakan sehingga berdampak pada
timbulnya masalah kesehatan. Oleh karena itu diperlukan
upaya-upaya untuk menangani hal tersebut.

3.2 Saran

Makalah ini masih perlu perbaikan untuk


menyempurnakannya, oleh karena itu hendaknya mahasiswa
tidak menjadikannya sebagai satu-satunya acuan referensi.
DAFTAR PUSTAKA

Suwandi. 2004. Gejala Umum akibat Kekurangan Mineral pada


Ternak Unggas yang Menyebabkan Kematian. Prosiding Temu
Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian Tahun 2004.

Hidayat, Adi. 1999. Fosfor (P) Esensial bagi Kesehatan Ternak.


Jurnal Kedokteran Hewan Trisakti. Vol 18 No. 1 April 1999.

Widodo, Wahyu. 2002. Nutrisi dan Pakan Unggas Kontekstual.


Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Universitas
Muhammadiyah Malang. Malang.

Subekti, Endah. 2009. Bahan Pakan Ternak di Indonesia.


Universitas Wahid Hasyim Semarang. Vol. 5, No. 2, 2009:
Hal. 63-71.

Abun. 2008. Nutrisi Mineral pada Unggas. Jatinangor: Universitas


Padjajaran Press.

www.artikelsiana.com/2014/12/pengertian-mineral-fungsi-
mineral-umum.html?m=1 (diakses pada 9 Maret 2016)

harumishma.blogspot.co.id/2014/06/defisiensi-mineral-pada-
ternak-unggas-dan-penanganannya.html?m=1 (diakses
pada 9 Maret 2016)

www.poultryindonesia.com/news/tips-dan-trik/node123/ (diakses
pada 9 Maret 2016)

http://info.medion.co.id/index.php/artikel/broiler/penyakit/mineral
-dan-manfaatnya (diakses pada 9 Maret 2016)