Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Zirkon merupakan mineral ikutan pada batuan beku, terutama pada batuan
beku dalam (plutonik) yang kaya akan sodium seperti granit dan syenit. Sumber
daya pasir zirkon di Indonesia cukup besar, yaitu di Kalimantan Barat sebanyak
167.141.100 Ton, Kalimantan Tengah sekitar 2.615.509 Ton dan Bangka Belitung
sebesar 445.848 Ton. Pasir zirkon sebelumnya dianggap limbah pengolahan emas
dan bijih timah, namun seiring perkembangan teknologi, ternyata mineral tersebut
saat ini banyak digunakan oleh berbagai industri hilir, antara lain industri keramik,
frit, bata tahan api dan pengecoran logam. Komoditas ini menjadi begitu penting
dan menjadi perhatian para pelaku usaha dan pemerhati zirkon terutama sebagai
komoditas mineral bukan logam yang dilarang untuk diekspor dalam bentuk
bahan mentah. Saat ini tidak tersedia data mengenai proyeksi produksi, konsumsi,
ekspor, impor dan harga pada tahun 20142022. Selama delapan tahun kedepan
tersebut teknologi pengolahan zirkon di Indonesia diharapkan mengalami
perkembangan yang signifikan. Data yang digunakan untuk menghitung dan
menganalisis pemanfaatan zirkon Indonesia diperoleh dari berbagai sumber dan
hasil wawancara. Berdasarkan hasil analisis dari ke empat jenis industri pengguna
akhir pasir zirkon, ternyata kebutuhan zirkonium silikat dalam negeri akan
mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini terlihat dari kebutuhan
zirkonium silikat dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2022 yang jumlahnya
diperkirakan mencapai 1.235.171 Ton. Jumlah ini berdasarkan asumsi laju
pertumbuhan per tahun industri keramik 12,50%, industri frit 15,50%, pasir cetak
untuk pengecoran logam 8,57% dan bata tahan api 4,19%.
Keberadaan pasir zirkon (ZrSiO4) di Indonesia telah dikenal sejak lama
terutama di perairan Bangka-Belitung sebagai endapan alluvial bersama pasir
timah dan mineral ikutan lainnya. Pasir zirkon juga banyak dijumpai di Pulau
Kalimantan, terutama di sepanjang aliran sungai mengikuti penyebaran endapan
alluvial emas dan rawa-rawa. Endapan-endapan placer yang mengandung zirkon

1
di Pulau Kalimantan teridentifikasi berasal dari hasil pendulangan aluvium untuk
mendapatkan emas dan intan. Aktivitas pendulangan hingga saat ini masih
berlangsung di daerah-daerah tertentu dalam wilayah Kalimantan Barat dan
Kalimantan Tengah.
Sebelumnya pasir zirkon hanya diproduksi sebagai mineral ikutan sisa
pengolahan bijih timah dan emas yang tercampur dalam tailing dan dianggap
limbah karena saat itu belum banyak yang mengetahui manfaat dan nilai
ekonominya. Namun seiring perkembangan teknologi, ternyata mineral tersebut
saat ini banyak digunakan oleh berbagai industri hilir sehingga menjadi komoditas
tambang yang dicari karena memiliki nilai ekonomi. Komoditas ini menjadi
begitu penting dan menjadi perhatian para pelaku usaha dan pemerhati zirkon
terlebih setelah masuk kedalam Permen ESDM Nomor 1 Tahun 2014 menjadi
salah satu komoditas mineral bukan logam yang harus dilakukan proses
pengolahan dan atau pemurnian dalam rangka pengendalian produksi. Industri
yang banyak menggunakan komoditas ini antara lain industri keramik, pasir cetak
dalam pengecoran logam, bata tahan api, peralatan kimia dan lain-lain, namun
yang digunakan harus memiliki spesifikasi tertentu sesuai dengan kebutuhan
industri tersebut. Masuknya komoditas pasir zirkon kedalam peraturan ini
dikarenakan Indonesia merupakan salah satu eksportir bijih zirkon dan disisi lain
banyak industri didalam negeri yang memanfaatkan pasir zirkon sebagai bahan
baku atau sebagai input antara dalam proses produksi.
CV. Selama Indah adalah salah satu perusahaan yang berhasil
memanfaatkan momentum meningkatnya prospek usaha tambang di Kalimantan
Barat, khususnya di Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. Kegiatan
eksplorasi dilakukan oleh CV. Selama Indah dalam rangka mengetahui jumlah dan
kualitas endapan zirkon di wilayah IUP seluas 2.000 Ha. Dari hasil eksplorasi di
sebagian wilayah IUP nya sudah ditemukan sumber daya dan cadangan endapan
zirkon yang cukup untuk dikembangkan atau dieksploitasi (ditambang) yaitu
material pasir pembawa zirkon sebanyak 4.654.073 Ton dan Zirkon sebanyak
26.924,133 Ton dengan target produksi perusahaan 250 Ton/Bulan dan produksi
zirkon 65% atau 163 Ton/Bulan, dalam mengkaji kelayakan ini sekaligus dikaji

2
secara detail kemungkinan rencana penambangan, urutan dan tahapan
penambangan, kebutuhan peralatan sehingga terciptanya penambangan yang
nyaman bagi masyarakat disekitar lingkungan tambang, aman bagi pekerja, serta
menguntungkan. Mengingat akan hal tersebut diatas, maka CV. Selama Indah
berupaya untuk melakukan kegiatan penambangan mineral zirkon di daerah
Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat, dengan
luas Wilayah IUP 80 Ha dan areal prospek seluas 44 Ha. Adapun dasar perizinan
yaitu Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi Nomor 29 Tahun 2006 yang
dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat.

1.2 Identifikasi Masalah


1.2.1 Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana metode dan tahapan penambangan berdasarkan perhitungan target
produksi yang direncanakan pada CV. Selama Indah?
2. Bagaimana rencana pengolahan yang akan dilakukan CV. Selama Indah?

1.2.2 Batasan Masalah


Berdasarkan pada rumusan masalah yang ada, maka peneliti akan
membatasi masalah-masalah yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Hanya dibatasi pada rencana penambangan, menentukan produksi perbulan dan
pertahun serta menentukan luasan dan umur penambangan berdasarkan dari
perhitungan cadangan yang sudah diketahui.

2. Pengolahan dengan metode gravimetri atau pemisahan mineral berat dengan


menghitung jumlah dan persentase sesuai dengan bongkaran raw material
perhari sehingga menjadi konsentrat guna peningkatan kadar.

3
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan
Berdasarkan dari perumusan masalah yang ada maka tujuan dari penelitian
ini yaitu:
1. Mengetahui metode dan tahapan penambangan pada CV. Selama Indah untuk
endapan alluvial berdasarkan target produksi perusahaan.
2. Mengetahui tahapan pengolahan pasir zirkon menjadi konsentrat dengan tujuan
peningkatan kadar sebelum dilakukan proses pemurnian.

1.3.2 Manfaat
Adapun harapan dari kegiatan penelitian ini yaitu:
1. Bagi Penulis
Memahami teori yang didapatkan di kampus dan perusahaan dan
menerapkannya dalam dunia kerja nantinya.
Menambah wawasan dan pengalaman tentang dunia kerja yang akan di-
hadapi dimasa yang akan datang.
Sebagai persyaratan dalam mencapai gelar ahli madya sekaligus telah
menyelesaikan pendidikan di Politeknik Negeri Ketapang.
2. Bagi Pembaca
Tugas Akhir ini dapat menjadi acuan untuk kedepannya.

1.4 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian terdiri dari dua daerah, yang pertama yaitu di kota
Pontianak di kantor CV. Bhumigeostcorp dan yang kedua yaitu CV. Selama Indah
yang terletak di Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi Kalimantan Barat,
dimana kegiatan eksplorasi detail, pembuatan studi kelayakan (feasibility study),
laporan sarana dan sarana penunjang, sampai kegiatan reklamasi, CV. Selama
Indah memberikan kepercayaan kepada perusahaan konsultan untuk menangani
kegiatan tersebut, dalam hal ini CV. Bhumigeostcorp.

1.4.1 Wilayah Izin Usaha Pertambangan

4
Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Rencana Opersai Produksi
Mineral Zirkon CV. Selama Indah, secara administrasi berada dalam wilayah:
Kecamatan : Nanga Pinoh
Kabupaten : Melawi
Provinsi : Kalimantan Barat
Luas IUP : 80 Hektar
Adapun letak lokasi secara geografis terletak antara 111 40' 21,22"111
41' 2,36"BT dan -0 09' 26,17''-0 09' 57,6"LS sebagai batas poligon perizinan.
Berikut daftar tabel koordinat Wilayah IUP Rencana Operasi Produksi CV. Selama
Indah sebagai berikut:

Tabel 1.1
Daftar Koordinat WIUP Rencana Operasi Produksi CV. Selama Indah seluas
80 Ha
No Garis Bujur (Longitude) Garis Lintang (Latitude)
Titik BT LS
1 111 40 21.22 BT -0 9 26,17 LS
2 111 41 2,36 BT -0 9 26,17 LS
3 111 41 2,36 BT -0 9 57,6 LS
4 111 40 21,22 BT -0 9 57,6 LS
Sumber: CV. Selama Indah, 2016

5
Sumber: Data Pengolahan Pribadi, 2016

Gambar 1.1 Peta IUP CV. Selama Indah

6
1.4.2 Lokasi Daerah Penelitian dan Kesampaian Daerah
Daerah penelitian dapat ditempuh dengan jalur:
Jalur Alternative 1: Ketapang Siduk Balai Berkuak Teraju Meliau
Sanggau Sekadau Sintang Nanga Pinoh dapat ditempuh dengan jalur
darat menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat, dengan waktu
tempuh 13 jam 26 menit jarak 566 Km, selanjutnya menuju lokasi
penelitian disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Jalur Alternative 2: Ketapang Sungai Melayu Balai Berkuak Teraju
Meliau Sanggau Sekadau Sintang Nanga Pinoh dapat ditempuh
dengan jalur darat menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat,
dengan waktu tempuh 14 jam 54 menit jarak 612 Km, selanjutnya menuju
lokasi penelitian disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Jalur Alternative 3: Ketapang Pontianak dapat ditempuh dengan pesawat
terbang, dengan waktu tempuh 30 menit. Dari Pontianak menuju
Kecamatan Nanga Pinoh melewati Sosok dan Sekadau dapat ditempuh
dengan waktu 7 jam 54 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat,
selanjutnya menuju lokasi penelitian disesuaikan dengan kondisi lapangan.

7
Sumber: Google Maps dan Pengolahan Data, 2016

Gambar 1.2 Peta Lokasi Kesampaian

8
1.5 Metodologi Penelitian

Metodologi yang digunakan pada penelitian ini dilakukan dalam beberapa


tahap, yaitu:
1. Studi Literatur
Dalam metode ini penulis mengumpulkan data-data dengan mempelajari
beberapa literatur penyelidikan yang berkaitan dengan topik permasalahan yang
akan diteliti melalui buku atau literatur yang ada. Selain itu juga mempelajari
sumber dari laporan atau arsip perusahaan yang berkaitan dengan penelitian yang
pernah dilakukan sebelumnya.
2. Metode Pengumpulan Data
Dalam metode ini penulis mengumpulkan data-data dari observasi di
perusahaan, dari pembimbing dan melakukan tanya jawab dengan staf-staf
perusahaan serta pihak yang terkait dengan cara melakukan wawancara.
Data-data yang diperoleh berasal dari dua sumber, yaitu:
a. Data primer, adalah data yang langsung diperoleh pada objek penelitian yaitu
pada CV. Selama Indah, berupa data koordinat wilayah izin usaha
pertambangan, cadangan, target produksi dan data yang berhubungan dengan
penyusunan laporan ini.
b. Data sekunder, adalah data yang pengumpulan dan pengolahannya diperoleh
dari literatur referensi, data daerah penelitian meliputi iklim dan curah hujan,
data-data sekunder lainnya yang dianggap perlu, dan data yang didapat dari
perusahaan konsultan CV. Bhumigeostcorp yang terkait menangani kegiatan
eksplorasi yang dapat dipakai sebagai sumber data tambahan.
3. Analisa Data
Metode analisa data ini dilakukan perhitungan dengan cara menggunakan
rumus-rumus yang telah ada.
Setelah data-data yang dibutuhkan terkumpul, maka dilakukan pengolahan
data terlebih dahulu sebelum dianalisis. Data diklasifikasikan kembali berdasarkan
jenis alat pengolahan dan metode penambangan yang digunakan untuk dilakukan
perhitungan secara teoritis dengan menggunakan rumus yang diberikan
perusahaan untuk mengolah data-data yang terkumpul.

9
Setelah diperolehnya besaran produksi penambangan perbulan dan pertahun
serta luasan lahan yang ditambang kemudian dapatlah dibuat peta kemajuan
tambang maka dilakukan analisa hasil produksi tersebut terhadap target produksi
yang telah direncanakan perusahaan.
Berdasarkan metodologi di atas maka prosedur atau tahapan pada penelitian
ini, yaitu:
1. Memilih Masalah
2. Merumuskan Masalah
3. Menentukan Sumber Data
4. Mengumpulkan Data
5. Analisa Data
6. Menarik Kesimpulan
7. Menyusun Laporan

10