Anda di halaman 1dari 11

BAB II

GEOLOGI REGIONAL

2.1 Litologi

Litologi yang menyusun wilayah IUP rencana operasi produksi CV. Selama
Indah merupakan satuan batuan Aluvium (Qa) yang terdiri dari pasir, kerikil,
kerakal, lumpur dan lempung. Pasir pada umumnya berupa pasir kuarsa berbutir
halus sampai kasar, berwarna putih sampai kelabu. Kerikil dan kerakal juga
didominasi oleh fragmen kuarsa, granit dan fragmen batuan malihan. Lempung
umumnya terdiri dari lempung kaolnit, berwarna putih, kelabu sampai kuning.
Sebaran batuan ini menempati wilayah pedataran yang luas di wilayah IUP
rencana produksi dan sekitarnya. Hubungan antara pasir, kerikil dan lempung
setempat menjemari membentuk lensa-lensa, pada umumnya bercampur dengan
batas kontak yang sulit diamati.
Mineral zirkon dijumpai bersama-sama dengan mineral emas dan ilmenit
sebagai mineral utama dan magnesit, monasit, xenotim, pyrit dan mineral sulfida
lainnya dan kuarsa sebagai mineral pengikutnya. Cebakan keseluruhan mineral ini
pada umumnya berasal dari batuan granit yang telah mengalami pelapukan dan
transportasi.
Unsur yang dikandung dalam mineral zirkon seperti unsur besi, kalsium,
sodium, mangan akan memberikan variasi warna yang bermacam-macam,
sementara warna zirkon murni adalah putih bening.

11
Sumber: Data Pengolahan Pribadi, 2016

Gambar 2.1 Peta Geologi Regional Lokasi IUP CV. Selama Indah dengan Luas 80 Hektar

12
2.2 Stratigrafi Regional

Berdasarkan pengamatan atau telaah pada Peta Geologi Regional yang


digunakan sebagai acuan adalah dari Aminuddin (GRDC) dan D.S. Trail (AGSO)
1993 merupakan tim yang melakukan pemetaan geologi untuk Lembar Nanga
Pinoh dengan skala 1:250.000. Dapat diketahui secara regional wilayah rencana
eksploitasi CV. Selama Indah ini secara umum tersusun oleh batuan-batuan
endapan berumur kuarter.
Stratigrafi daerah IUP Rencana Operasi Produksi CV. Selama Indah
merupakan bagian dari Cekungan Melawi. Batuan penyusunnya tersusun dari
yang muda hingga yang paling tua yang terdiri dari runtunan batuan sedimen
Tersier yaitu Formasi Ingar, Formasi Payak, Formasi Tebidah dan Batuan
Terobosan Sintang yang berumur Eosen hingga Miosen serta batuan-batuan
endapan yang berumur Kuarter.
1. Endapan Aluvial (Qa)
Endapan ini berumur kuarter menutup tak selaras seluruh batuan di-
bawahnya, terdiri dari material rombakan kerikil, pasir, lempung, bahan
tetumbuhan dan emas.
2. Formasi Payak (Teop)
Terdiri dari batupasir bersisipan batulumpur dan batulanau, konglomerat alas
dan lapisan tipis batubara.
3. Formasi Tebidah (Tot)
Terdiri dari perselingan antara batupasir dan batulanau pasiran, dan
batulumpur bersisipan batubara.
4. Formasi Ingar (Tei)
Batulumpur gampingan kelabu dengan perselingan batupasir tipis.
5. Batupasir Dangkan (Ted)
Batupasir kuarsa-litos berfeldspar.
6. Endapan Alluvial Terbiku (Qat)
Endapan ini terdiri atas kerikil, pasir dan lumpur. Endapan ini merupakan
penutup kuarter.
7. Rombakan Lereng (Qs)
Bahan-bahan rombakan pada dasar lereng terjal berupa batupasir dan
konglomerat.
8. Batuan Terobosan Sintang (Toms)

13
Satuan batuan ini berumur Oligosen Bawah sampai Atas, terdiri dari diorit,
granodiorit, diorit kuarsa, gabro kuarsa dan tonalit.
9. Batuan Gunungapi Menunuk (Klm)
Tufa, batulanau, batulumpur, berlapis tipis, kelabu tua sampai coklat.

2.3 Struktur

Struktur pada daerah penelitian didominasi oleh sesar dan kelurusan dalam
batuan gunung api dan plutonik terutama berarah utarabarat daya. Terdapat juga
sekumpulan retakan yang mungkin berhubungan dan berarah utaratimur laut.
Wilayah penelitian berada di Batuan Gunungapi Raya Kapur Bawah yang
cenderung sebagian besar hanya berupa sisa dari bagian gunungapi yang terkikis
luas, sebagai penutup Batolit Schawaner dan Melawi. Batolit ini diduga terjadi
diatas lajur penunjaman yang miring ke selatan pada waktu Kapur Bawah.
Granodiorit Mensibau mempunyai sentuhan terobosan terutama dengan batuan
samping yang berumur Trias Akhir sampai Jura Awal, yang membentuk bagian
dari kawasan kalimantan baratdaya.

2.4 Bentuk dan Penyebaran Endapan

Endapan zirkon dijumpai dalam bentuk butiran (ukuran pasir),


terkonsentrasi bersama-sama mineral titanium (rutil dan ilmenit), monazit dan
mineral berat lainnya.
Endapan pasir zirkon di Daerah Nanga Pinoh dijumpai sebagai hasil
rombakan dari batuan asal pembawanya, seperti granit, diendapkan dalam
endapan alluvial maupun sedimenter. Pada endapan alluvial pasir zirkon
terendapkan bersama-sama pasir kuarsa, hematit, ilmenit, rutil dan magnetit.
Konsentrasi zirkon dalam batuan endapan alluvial sangat bervariasi, sulit
menentukan pengontrolnya, berat jenis zirkon hampir dua kali lipat berat jenis
kuarsa sehingga dalam pengendapannya akan terbentuk bersama pasir kuarsa.
Berbeda dengan mineral berat lainnya yang berat jenisnya dengan kuarsa agak
jauh berbeda, seperti emas, magnetit, ilmenit, sehingga dalam lapisan
pengendapannya mineral-mineral tersebut membentuk lapisan tersendiri. Zirkon

14
dalam alluvial mengendap bersama kuarsa karena perbedaan beratnya tidak begitu
menonjol, hal tersebut juga agak menyulitkan dalam proses pemisahan dari
mineral pengotornya.
Zirkon dalam bentuk sedimenter umumnya mengendap mengikuti lapisan
mineral berat yang berbutir halus, membentuk lapisan tipis yang berwarna
kehitaman pada lapisan satuan batuan sedimen, walaupun tidak selalu begitu.
Zirkon dalam satuan batuan sedimen di Daerah Nanga Kayan terdapat pada satuan
alluvium (Qa), yang dimana satuan aluvium ini merupakan hasil dari pelapukan
batuan pembawa zirkon seperti batuan beku asam dan batuan metamorf yang telah
ada di Daerah Nanga Pinoh dan sekitarnya sebelumnya seperti Batuan Terobosan
Sintang (Toms) yang terdiri atas andesit, granodiorit, dasit, granit, riolit, dan diorit
kuarsa. Batuan ini menerobos hampir semua batuan yang lebih tua, umurnya
diperkirakan OligosenMiosen. Batuan-batuan pembawa zirkon ini mengalami
proses pelapukan dan tertransportasi dan diendapkan pada cekungan berupa
material lepas dengan ukuran fragmen yang bervariasi (lempungkerakal).
Pasir zirkon pada wilayah IUP Rencana Operasi Produksi umumnya
berwarna kemerahan, sebagian kecil putih, abu-abu, kuning dan transparan,
berbutir halus, tersebar dalam satuan batuan alluvial dan sedimen.
Lokasi WIUP merupakan lokasi bekas PETI (Pertambangan Emas Tanpa
Izin) emas alluvial. Para penambang PETI ini hanya menambang endapan alluvial
tua yang diyakini berpotensi mengandung emas, dilihat dari pola penyebaran
alluvial tua, daerah ini sangat berpotensi untuk dilakukannya penyelidikan lebih
lanjut guna memastikan luasan daerah yang berpotensi yang merupakan daerah
pengendapan alluvial purba serta untuk mengetahui ketebalan dari endapan itu
sendiri.
Keadaan endapan pada lokasi bekas PETI telah tersebar merata dengan
keadaan endapan berkisar antara 28 meter kedalaman dengan luas sekitar 3.000
Ha, sementara pada endapan alluvial tua yang belum tersentuh oleh PETI
penyebarannya masih luas diperkirakan lebih dari 10.000 Ha.

15
Sumber: Data Eksplorasi CV. Selama Indah, 2016

Gambar 2.2
Kenampakan areal bekas PETI dilokasi IUP rencana operasi produksi

Umumnya mineral zirkon bersama-sama dengan mineral berat lainnya yang


penyebarannya rata-rata homogen merata menutup pada dataran rendah atau
bantaran sungai sebagaimana yang terdapat pada wilayah izin eksploitasi CV.
Selama Indah.

2.5 Sifat dan Kualitas Endapan

Mineral zirkon pada daerah penyelidikan mempunyai sifat dan kualitas


antara lain:
Merupakan Mineral Sedimen yang berasal dari dataran banjir.
Gravel bars mengandung gravel dengan pemilahan sedang, pasiran dan
lepas.
Lapisan tipis kaya zirkon (paystreak) sering tidak berlanjut dan terbatas
berupa akumulasi dekat permukaan bidang erosi.
Perlapisan gravel mengandung matriks lempung dan lanau sampai pada
batuan dasar.
Tidak bereaksi dengan Asam dan Basa.
Tidak mudah teroksidasi.
Tidak magnetik dan non konduktor.

16
Endapan pembawa zirkon tersusun atas fragmen dan matriks bersifat
lepas dan terpilah buruk sampai baik. Fragmen berukuran kerikil sampai
kerakal, kadang disertai berangkal sampai bongkah, umumnya berbentuk
membulat. Matriks berukuran pasir, terdiri dari mineral berat dan mineral
ringan. Jenis mineral berat tergantung pada jenis batuan induk serta tipe
mineralisasi dari endapan zirkon, umumnya berupa magnetit dan ilmenit, dan
dapat disertai monasit, pirit, arsenopirit, kasiterit, wolframit, shilit, sinabar,
bismuth, galena, platinoid, turmalin, garnet, kromit, rutil, barit, korundum,
emas dan limonit. Jenis mineral ringan umumnya feldspar dan kuarsa.

2.6 Keadaan Umum Daerah Penelitian

Keadaan umum daerah penelitian didapat berdasarkan data dari Badan Pusat
Statistik Kabupaten Melawi, Kecamatan Nanga Pinoh Dalam Angka 2015.
2.6.1 Keadaan Lingkungan Daerah Kecamatan Nanga Pinoh
Secara administrasi pemerintahan wilayah rencana eksploitasi CV. Selama
Indah terletak di Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten
Melawi. Dimana batas-batas Desa Nanga Kayan tersebut adalah sebagai berikut:
Utara : Desa Sungai Mali Kecamatan Nanga Dedai
Kabupaten Sintang
Timur : Desa Natai Tebedak Kecamatan Kayan Hilir
Kabupaten Sintang
Selatan : Desa Tengkajau Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten
Melawi
Barat : Desa Batu Buil Kecamatan Belimbing Kabupaten
Melawi
Kecamatan Nanga Pinoh memiliki wilayah administrasi seluas 408,80 km2
yang sebagian besar didominasi oleh perbukitan dengan luas 275,2 km2 dan
wilayah daratan seluas 133,6 km2.
Kecamatan Nanga Pinoh terbagi menjadi 17 desa yang terdiri dari 66 dusun.
Desa terluas adalah Desa Poring yang mencakup 17,7% dari luas Kecamatan
Nanga Pinoh. Desa dengan luas terkecil adalah desa Tanjung Niaga yang luasnya
hanya mencapai 0,2% dari luas Kecamatan Nanga Pinoh.

17
Tabel 2.1 Luas Wilayah Kecamatan Nanga Pinoh
Persentase
Luas
No Desa Kelurahan Ibukota terhadap luas
(Km)
Kecamatan (%)
1 Nanga Kebebu Nanga Kebebu 45,46 11,1
2 Poring Poring 72,51 17,7
3 Tanjung Sari Tanjung Sari 16,80 4,1
Tembawang
4 Tembawang Panjang 14,59 3,6
Panjang
5 Paal Paal 7,42 1,8
6 Tanjung Niaga Tanjung Niaga 0,86 0,2
7 Sido Mulyo Sido Mulyo 7,00 1,7
8 Baru Baru 17,09 4,2
9 Nanga Kayan Nanga Kayan 71,39 17,5
10 Nusa Pandau Nusa Pandau 31,69 7,8
11 Tebing Karangan Tebing Karangan 25,25 6,2
12 Kelakik Kelakik 12,60 3,1
13 Semadin Lengkong Semadin Lengkong 38,44 9,4
14 Tanjung Lay Tanjung Lay 14,35 3,5
15 Labai Mandiri Labai Mandiri 19,67 4,8
16 Kenual Kenual 3,56 0,9
17 Tanjung Tengang Tanjung Tengan 10,12 2,5
Kecamatan Nanga Pinoh 408,80 100,0
Sumber: Kecamatan Nanga Pinoh Dalam Angka, 2015

Kecamatan Nanga Pinoh dilalui oleh tiga sungai yaitu Sungai Melawi,
Sungai Kayan, dan Sungai Pinoh, dimana ketiganya biasa digunakan masyarakat
setempat sebagai sarana transportasi antar desa dan juga digunakan untuk menuju
Ibukota Kecamatan selain menggunakan jalan darat.
Dilihat dari tekstur tanahnya, sebagian besar daerah Kecamatan Nanga
Pinoh terdiri dari tanah latosol yang luasnya sekitar 408,80 km2 yang terhampar
hampir di seluruh desa.

Tabel 2.2
Luas Wilayah Kecamatan Nanga Pinoh Menurut Jenis Tanah

18
Luas Jenis Tanah
No Desa Kelurahan
(Km) Organosol Alluvial Podlosit Latosol

1 Nanga Kebebu 45,46 - - - 45,46


2 Poring 72,51 - - - 72,51
3 Tanjung Sari 16,80 - - - 16,80
4 Tembawang Panjang 14,59 - - - 14,59
5 Paal 7,42 - - - 7,42
6 Tanjung Niaga 0,86 - - - 0,86
7 Sido Mulyo 7,00 - - - 7,00
8 Baru 17,09 - - - 17,09
9 Nanga Kayan 71,39 - - - 71,39
10 Nusa Pandau 31,69 - - - 31,69
11 Tebing Karangan 25,25 - - - 25,25
12 Kelakik 12,60 - - - 12,60
13 Semadin Lengkong 38,44 - - - 38,44
14 Tanjung Lay 14,35 - - - 14,35
15 Labai Mandiri 19,67 - - - 19,67
16 Kenual 3,56 - - - 3,56
17 Tanjung Tengang 10,12 - - - 10,12
Kecamatan Nanga Pinoh 408,80 - - - 408,80
Sumber: Kecamatan Nanga Pinoh Dalam Angka, 2015
2.6.2 Iklim
Curah hujan tertinggi di Kecamatan Nanga Pinoh tahun 2014 terjadi pada
bulan November sebanyak 468,7 mm dengan 24 hari hujan. Curah hujan rata-rata
tahun 2014 sebanyak 262 mm dengan 18 hari hujan. Temperatur udara rata-rata
pertahun 2014 maksimum 33,5 C dan minimum 22,9 C. Tekanan udara tertinggi
terjadi pada bulan Januari yaitu sekitar 1.012,2 Milibar dan tekanan udara
terendah terjadi pada bulan Mei dan Juli sekitar 1.011,0 Milibar. Sementara untuk
lembab nisbi tertinggi terjadi pada bulan Mei dengan rata-rata 86 persen dan
terendah pada bulan Juli dengan rata-rata 78%. Untuk tahun 2014 rata-rata
kecepatan angin sebesar 1,33 Knot dan rata-rata kecepatan angin maksimum 13
Knot, dimana kondisi tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu sekitar 13 Knot. Rata-
rata penyinaran matahari pertahun selama tahun 2014 sebanyak 58% dengan
penyinaran matahari terbanyak pada bulan Juli yaitu 85%.

19
Tabel 2.3
Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Bulanan
Di Kecamatan Nanga Pinoh 2014

Curah Hujan Hari Hujan


No Bulan
(mm) (HH)

1 Januari 175,2 16
2 Februari 102,8 7
3 Maret 289,4 23
4 April 428,4 20
5 Mei 374,5 27
6 Juni 346,3 23
7 Juli 71,0 7
8 Agustus 112,1 18
9 September 205,9 9
10 Oktober 216,7 19
11 November 468,7 24
12 Desember 359,0 24
Rata-rata 262 18
Sumber: Kecamatan Nanga Pinoh Dalam Angka, 2015
2.6.3 Penduduk
Perkembangan penduduk yang cukup pesat merupakan satu fenomena yang
menjadi perhatian serius oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,
permasalahan yang paling esensial adalah yang berkaitan dengan penyebaran
penduduk yang tidak merata, kualitas penduduk yang masih rendah, penyediaan
lapangan kerja/usaha serta penyediaan bahan pangan.
Untuk menghitung jumlah penduduk, BPS melakukan sensus penduduk
setiap 10 tahun sekali dan survei penduduk antar sensus. Dari kegiatan tersebut
disusun proyeksi penduduk untuk mengetahui keadaan jumlah penduduk diluar
tahun sensus. Berdasarkan angka proyeksi tahun 2014, penduduk Kecamatan
Nanga Pinoh berjumlah 46.881 jiwa dengan sex ratio sebesar 105, yang artinya
jika ada 105 penduduk laki-laki maka terdapat juga 100 penduduk perempuan.
Desa Paal adalah desa dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 10.624 jiwa.

Tabel 2.4 Penduduk Kecamatan Nanga Pinoh menurut jenis kelamin 2014

20
No Desa/Kelurahan Laki - laki Perempuan Jumlah

1 Nanga Kebebu 533 526 1.059


2 Poring 495 452 947
3 Tanjung Sari 1.283 1.213 2.496
4 Tembawang Panjang 690 657 1.347
5 Paal 5.439 5.185 10.624
6 Tanjung Niaga 3.875 3.870 7.745
7 Sido Mulyo 2.151 2.111 4.262
8 Baru 1.370 1.384 2.754
9 Nanga Kayan 1.460 1.411 2.871
10 Nusa Pandau 384 380 764
11 Tebing Karangan 475 435 910
12 Kelakik 813 797 1.610
13 Semadin Lengkong 785 747 1.532
14 Tanjung Lay 850 789 1.639
15 Labai Mandiri 439 411 850
16 Kenual 1.977 1.937 3.914
17 Tanjung Tengangang 794 763 1.557
Jumlah 28.813 23.068 46.881
Sumber: Kecamatan Nanga Pinoh Dalam Angka, 2015

21