Anda di halaman 1dari 14

1.

Anatomi Kelenjar Parotis


Secara umum, kelenjar liur dikategorikan ke dalam kelenjar liur mayor
dan minor. Kelenjar mayor dibagi menjadi tiga yaitu kelenjar parotis, kelenjar
submandibularis dan kelenjar sublingualis. Kelenjar parotis merupakan kelenjar
liur mayor yang tersusun dari sel asinus dan duktal. Sel asinus adalah struktur
yang berfungsi untuk sekresi liur yang bersifat serous sedangkan kelenjar
sublingual menghasilkan sekresi yang bersifat mucous serta kelenjar
submandibula menghasilkan sekresi yang bersifat campuran.8
Kelenjar parotis adalah kelenjar saliva yang terbesar. Kelenjar parotis
merupakan kelenjar saliva yang berpasangan, berjumlah dua buah. Masing-
masing beratnya rata-rata 25 gram dan berbentuk ireguler, berlobus, berwarna
antara hijau dan kuning (yellow wish), serta terletak dibawah meatus acustikus
externus didalam suatu lekukan di belakang ramus mandibulae dan di depan
musculus sternoicleidomastoideus.9
Kelenjar ini dibentuk pada minggu ke 6 sampai minggu ke 8 pertumbuhan
janin, berasal dari lapisan extoderm mulut dan berkembang di sekitar
mesenchym. Kelenjar parotis berkembang mulai dari posterior ke anterior
dengan membungkus nervus facialis ditengahnya.4

Produksi kelenjar saliva disalurkan melalui duktus Stensen yang keluar dari sebelah
anterior kelenjar parotis yaitu sekitar 1,5 cm dibawah zigoma. Duktus ini memiliki panjang
sekitar 4-6 cm lalu berjalan ke anterior menyilang musculus masseter, kemudian berputar ke
medial
dan

1
menembus musculus businator dan berakhir dalam rongga mulut di seberang molar kedua
atas. Duktus ini berjalan bersama dengan nervus facialis cabang bucal.
Batas superficial adalah nodus lymphoidei parotidei, fascia, N. auricularis
magnus serta kulit. Batas superior adalah meatus acusticus externus dan facies
posterior articulation temporomandibularis. Batas posteromedial adalah
processus mastoideus, M. sternocleidomastoideus, selubung carotis dengan A.
carotis interna, V. jugularis externa, N. vagus, N. glossopharyngeus, N.
acessorius dan N. facialis. Batas anteromedial adalah pinggir posterior ramus
mandibulae, articulation temporomandibularis, M. masseter dan M. pterygoideus
medialis.9
Perdarahan kelenjar parotis berasal dari A. carotis externa, dimana arteri
ini berjalan medial dari kelenjar parotis lalu kemudian mempercabangkan A.
maxilaris dan A. temporalis superior. A. temporalis superior mempercabangkan A.
transveralis yang berjalan diantara zigoma dan saluran parotis, kemudian
memperdarahi kelenjar parotis, saluran parotis dan otot masseter. V. maxilaris
dan V. temporalis superficialis bersatu membentuk V. Retromandibuler yang
berjalan disebelah dalam N. facialis lalu kemudian menyatu dengan V. jugularis
externa.8,9
Nodul kelenjar limfe ditemukan pada kulit yang berada diatas kelenjar parotis (kelenjar
preaurikuler) serta juga pada bagian dari kelenjar parotis itu sendiri. Kelenjar limfe yang berasal
dari kelenjar parotis mengalirkan isinya ke dalam nodi lymphoidei parotidei dan nodi lymphoidei
cervicales profundi.9

2
Persarafan kelenjar parotis oleh saraf preganglionik yang berjalan pada cabang
petrosus dari N glossopharyngeus dan bersinaps pada ganglion otikus. Serabut post ganglionic
mencapai kelenjar melalui N. auriculotemporal.2

2. Karsinoma Parotis
Karsinoma parotis adalah neoplasma maligna yang berasal dari sel
epithelial yang terjadi di kelenjar liur yang terbesar yang terletak di anteroinferior
dari telinga yang disebut parotis.1
Neoplasma kelenjar liur merupakan kasus yang jarang. Angka kejadian
berkisar antara 3-6% dari semua neoplasma kepala dan leher. Kelenjar parotis
yang paling sering terkena yaitu sekitar 80% lalu kelenjar submandibula yang
lebih kurang 10-15% serta kelenjar sublingual dan kelenjar liur minor lebih
kurang 5%.1,28 Angka kejadian neoplasma maligna kelenjar parotis lebih kurang
0,5% dari seluruh neoplasma.5
Neoplasma kelenjar liur biasa terjadi pada orang-orang yang berada di
dekade ke 6. Neoplasma benigna biasanya terjadi pada usia diatas 40 tahun dan
lebih sering terjadi pada wanita sedangkan neolpasma maligna diatas 60 tahun

3
dan tersebar merata pada wanita dan pria. 1,5,6 Neoplasma kelenjar liur lebih
sering terjadi pada orang dengan ras Kaukasia.7
Etiologi neoplasma pada kelenjar liur ini masih belum dapat dipastikan,
dicurigai adanya keterlibatan faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor-faktor
predisposisinya antara lain terapi radiasi, terhirup debu silica ataupun
nitrosamine.1,2,7
Karsinoma parotis dapat dikelompokkan menjadi low grade carcinoma
dan high grade carcinoma. Low grade carcinoma terdiri atas acinic cell ca,
adenoid cystic ca, low-grade mucoepidermoid ca sedangkan high grade
carcinoma terdiri dari adenocarcinoma, squamoous cell ca dan high-grade
mucoepidermoid ca.1
1. Karsinoma Mukoepidermoid
- Jenis terbanyak dari keganasan kelenjar liur (sekitar 30%).
- Insidens kejadian paling tinggi ditemukan pada usia 30-40 tahun.
- Insidens keganasan kelenjar liur yang paling sering ditemukan pada
anak-anak.
- Tumor ini berasal dari sel epithelial lobar intralobar duktus saliva.
Tumor ini tidak berkapsul serta metastase kelenjar limfe ditemukan
sebanyak 30-40%.
- Penentuan derajat keganasan berdasarkan patologi klinik terdiri dari
derajat rendah, menengah dan tinggi.
- Tumor derajat rendah menyerupai adenoma pleomorfik (berbentuk
oval, batas tegas serta adanya carian mukoid). Tumor derajat rendah
dan tinggi ditandai dengan adanya proses infiltratif. Pasien-pasien
usia muda biasanya ditemukan yang berderajat rendah.

2. Adenokarsinoma
- Keganasan parotis kedua yang paling sering ditemukan pada anak-
anak.
- Berasal dari tubulus terminal dan intercalated atau strained sel
duktus.
- Sebagian besar (80%) tanpa gejala, 40% ditemukan terfiksasi di
jaringan diatas atau dibawahnya, 30% metastasis ke nodus servical,
20% menderita paralisis nervus facialis dan 15% mengeluhkan sakit
pada wajahnya.

4
- Jenis-jenis yang lain adalah jenis keganasan yang tidak
berdiferensiasi secara keseluruhan dan mempunyai angka harapan
hidup yang buruk.

3. Karsinoma adenokistik
- Neoplasma kelenjar liur spesifik yang termasuk neoplasma dengan
potensial keganasan tinggi.
- Didapat pada 3% seluruh neoplasma parotis, 15% neoplasma
submandibular dan 30% neoplasma kelenjar liur minor.
- Sebagian pasien merasa asimptomatik, walaupun sebagian besar
terfiksasi pada struktur diatas atau dibawahnya.
- Ditandai dengan adanya penyebaran perineural awal. Asalnya
dipikirkan dari sel mioepitel.
- Mempunyai perjalanan penyakit yang panjang ditandai oleh
kekambuhan lokal yang sering dan dapat terjadi kekambuhan setelah
15 tahun.

4. Karsinoma sel asiner


- Terjadi pada sekitar 3% neoplasma parotis.
- Lebih sering terjadi pada wanita.
- Puncak insidens antara lain dekade ke 5 atau ke 6 kehidupan.
- Terdapat metastasis ke nodus servikal, kira-kira 15% kasus.
- Tanda patologik khas adalah amiloid.
- Asalnya diperkirakan dari komponen serosa asinar dan sel duktus
intercalated.
5. Karsinoma sel skuamosa
- Sering terjadi pada pria berusia tua dan ditandai dengan
pertumbuhannya yang cepat.
- Insidens metastase ke nodus limfatikus sebanyak 47%.
- Biasanya terdapat pada kelenjar parotis.
- Dipikirkan berasal dari sel duktus ekskretorius.

6. Karsinoma sel duktus


- Jarang, dan menyerupai karsinoma duktus mammae.

5
- Duktus stensen lebih sering terkena dibandingkan dengan duktus
Wharton.
- Memiliki kecendrungan untuk terjadi berulang pada tempat yang sama
(35%). Dapat bermetastasis jauh (62%) dan hanya 23% pasien yang
dapat bertahan hidup selama 3 tahun.1,3,6

Gejala pada neoplasma parotis yaitu biasanya terdapat pembengkakan di depan


telinga dan kesulitan untuk menggerakkan salah satu sisi wajah. Paralisis nervus facialis sering
didapatkan pada pasien dengan neoplasma parotis maligna. Adanya bengkak biasanya
mengurangi kepekaan wilayah tersebut terhadap rangsang (painless) dan menyebabkan
pasien kesulitan dalam menelan.1,2,3,5
Keluhan yang dirasakan pasien berupa benjolan yang soliter, tidak nyeri,
dipre/infra/retro aurikuler, jika terdapat rasa nyeri sedang sampai berat biasanya terdapat pada
keganasan. Terjadinya paralisis nervus facialis pada 2-3% kasus keganasan parotis.
Terdapatnya disfagia, sakit tenggorokan, serta gangguan pendengaran. Dan dapat pula terjadi
pembesaran kelenjar getah bening jika terjadi metastasis. Anamnesis yang lengkap harus
dibuat untuk menyingkirkan penyebab benjolan pada kelenjar parotis. Selain itu dalam
anamnesis juga perlu ditanyakan bagaimana progresivitas penyakitnya, adakah faktor-faktor
resiko yang dimiliki oleh pasien, dan bagaimana pengobatan yang telah diberikan selama ini.

Staging tumor Parotis

Union Internationale Contre le Cancer (UICC) tahun 1997 dan American

Joint Commitee (AJCC) tahun 2002, membagi stadium dari tumor ganas kelenjar

parotis berdasarkan ukuran tumor (T), pembesaran kelenjar getah bening

regional (N), dan ada atau tidaknya metastasis (M).

Klasifikasi TNM tumor ganas parotis.14

T
T0 Tidak ada tumor primer
T1 Ukuran tumor 2 cm, penyebaran
ekstra parenkim (-)
T2 Ukuran tumor 2-4 cm,
penyebaran ekstraparenkim (-)
T3 Ukuran tumor 4-6 cm, atau ada
penyebaran ekstraparenkim tanpa
adanya keterlibatan NVII
6
T4 Ukuran tumor 6 cm, atau ada
keterlibatan NVII, atau ada
infiltrasi intracranial
N
Nx Metastasis kgb belum dapat
ditentukan
N0 Metastasis kgb (-)
N1 Metastasis kgb <3 cm, ipsilateral,
soliter
N2 Metastasis kgb 3-6 cm,
soliter/multipel,
ipsilateral/kontralateral/bilateral
N2a Metastasis kgb 3-6 cm, soliter,
ipsilateral
N2b Metastasis kgb 3-6 cm, multipel,
ipsilateral
N2c Metastasis kgb 3-6 cm, multipel,
bilateral
N3 Metastasis kgb 6 cm
M
M0 Metastasis jauh (-)
M1 Metastasis jauh (+)

Stadium tumor ganas parotis.14


Stadium
I T1-2 N0 M0
II T3 N0 M0
III T1-2 N1 M0
IV T4 N0 M0
T3-4 N1 M0
Tany N2-3 M0
Tany Nany M1

Diagnosis
1) Anamnesa
Anamnesa dengan cara menanyakan kepada penderita atau keluarganya
tentang :
a.) Keluhan
Pada umumnya hanya berupa benjolan soliter, tidak nyeri, di
pre/infra/retro aurikula (tumor parotis), atau di submandibula (tumor
sumandibula), atau intraoral (tumor kelenjar liur minor)
Rasa nyeri sedang sampai hebat (pada keganasan parotis atau
submandibula)

7
Paralisis n. fasialis, 2-3% (pada keganasan parotis)
Disfagia, sakit tenggorok, gangguan pendengaran (lobus profundus
parotis terlibat)
Paralisis n.glosofaringeus, vagus, asesorius, hipoglosus, pleksus
simpatikus (pada karsinoma parotis lanjut)
Pembesaran kelenjar getah bening leher (metastase)
b.) Perjalanan penyakit ( progresivitas penyakit)
c.) Faktor etiologi dan resiko (radioterapi
kepala leher, ekspos radiasi)
d.) Pengobatan yang telah diberikan serta
bagaimana hasil pengobatannya
e.) Berapa lama kelambatan.7, 10

2) Pemeriksaan fisik
a.) Status general
Pemeriksaan umum dari kepala sampai kaki, tentukan :
Penampilan (Karnofski / WHO)
Keadaan umum
Adakah anemia, ikterus, periksa T,N,R,t, kepala, toraks, abdomen,
ekstremitas,vertebra, pelvis
Apakah ada tanda dan gejala ke arah metastase jauh (paru, tulang
tengkorak, dll)
b.) Satus lokal
Inspeksi (termasuk inraoral, adakah pedesakan tonsil/uvula)
Palpasi (termasuk palpasi bimanual, untuk menilai konsistensi,
permukaan, mobilitas terhadap jaringan sekitar)
Pemeriksaan fungsi n.VII,VIII,IX,X,XI,XII
c.) Status regional
Palpasi apakah ada pembesaran kelenjar getah bening leher ipsilateral
dan kontralaeral. Bila ada pembesaran tentukan lokasinya, jumlahnya,
ukuran terbesar, dan mobilitasnya
3.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Radiologis (Atas Indikasi)
a) Imaging
Foto Polos

8
Foto polos sekarang jarang digunakan untuk mengevaluasi glandula
salivatorius mayor. Foto polos paling baik untuk mendeteksi adanya
radioopaque ada sialolithiasis, kalsifikasi, dan penyakit gigi. Foto
madibula AP/Eisler, dikerjakan bila tumor melekat tulang. Sialografi,
dibuat bila ada diagnosa banding kista parotis / submandibula. Foto
toraks terkadang dilakukan untuk mencari metastase jauh. Meskipun foto
polos dapat diperoleh secara cepat dan relatif murah, namun memiliki
keterbatasan nilai klinis karena hanya dapat mengidentifikasi kalsifikasi
gigi. Sialolit atau kalsifkasi soft tissue lebih mudah diidentifikasi lebih
mudah diidentifikasi menggunakan USG dan CT Scan.8

USG
USG pada pemeriksaan penunjang berguna untuk evaluasi kelainan
vaskuler dan pembesaran jaringan lunak dari leher dan wajah, termasuk
kelenjar saliva dan kelenjar limfe. Cara ini ideal untuk membedakan
massa yang padat dan kistik. Kerugian USG pada daerah kepala dan
leher adalah penggunaannya terbatas hanya pada struktur superficial
karena tulang akan mengabsopsi gelombang suara.8

Gambar 2.10. Warthintumoroftherightparotidgland:Theabovesonographic


images of the right parotid gland show an obvious well defined, hypoechoic mass
within the middle third of the gland in this middle aged male. Measuring 2.7 x 1.8
cms.,themassshowsmildposterioracousticenhancement(afeatureofpleomorphic
adenoma).PowerDopplerimageshowsfewvesselswithinthemass.

9
CT Scan
Gambaran CT tumor parotis adalah suatu penampang yang tajam dan
pada dasarnya mengelilingi lesi homogen yang mempunyai suatu
kepadatan yang lebih tinggi dibanding glandular tisssue. Tumor
mempunyai intensitas yang lebih besar ke area terang (intermediate
brightness. Foci dengan intensitas signal rendah (area gelap/radiolusen)
biasanya menunjukkan area fibrosis atau kalsifikasi distropik. Kalsifikasi
ditunjukkan dengan tanda kosong (signal void) pada neoplasma parotid
sebagai tanda diagnosa.7
Pemeriksaan radiografi CT dan MRI berguna untuk membantu
menegakkan diagnosa pada penderita tumor parotid. Dengan CTI,
deteksi tumor 77% pada bidang aksial dan 90% pada bidang aksial
dengan CE CT.
Pemeriksaan Tumor parotis dengan CTI oleh radiolog untuk
mengetahui lokasi dan besar tumor, deteksi lesi, batas tumor, batas lesi,
aspek lesi, kontras antara lesi dengan jaringan sekitarnya, gambaran
intensitas dari lesi, keberhasilan pemakaian medium kontras, aspek lesi
setelah injeksi medium kontras, deteksi kapsul nya dan resorpsi tulang
yang terjadi di sekitar lesi tersebut.8
Deteksi lesi dapat diklasifikasikan menjadi positif atau negatif.
Pinggir lesi dapat diklasifikasikan menjadi kurang jelas atau semuanya
jelas. Batas lesi dapat diklasifikasikan menjadi halus atau berlobus. Aspek
lesi dapat diklasifikasikan menjadi homogen atau tidak homogen. Kontras
antara lesi dengan jaringan sekitarnya dapat diklasifikasikan menjadi
tinggi atau rendah. Gambaran intensitas dari lesi dengan otot disebelah
lesi diklasifikasikan kedalam empat kelompok: tinggi, intrermediet,
rendah, atau gabungan tinggi dengan rendah. Aspek lesi terhadap injeksi
medium kontras diklasifikasikan menjadi homogen, tidak homogen dan
perifer. Deteksi kapsulnya dan resorpsi tulang diklasifikasikan menjadi
positif atau negatif.8

MRI
Pemeriksaan MRI bisa membantu untuk membedakan massa parotis
yang bersifat benigna atau maligna. Pada massa parotis benigna, lesi

10
biasanya memiliki tepi yang halus dengan garis kapsul yang kaku. Namun
demikian, pada lesi malignansi dengan grade rendah terkadang
mempunyai pseudokapsul dan memiliki gambaran radiografi seperti lesi
benigna.Lesi malignansi dengan grade tinggi memiliki tepi dengan
gambaran infiltrasi.7

Gambar 2.11.Karsinoma ex pleomorphic


adenoma

PET (Positron Emission Tomography)


Alat ini menggunakan glukosa radioaktif yang dikenal sebagai fluorine18
atau Fluorodeoxyglucose (FGD) yang mampu mendiagnosa kanker
dengan cepat dan dalam stadium dini.Caranya, pasien disuntik dengan
glukosa radioaktif untuk mendiagnosis sel-sel kanker di dalam tubuh.
Cairan glukosa ii akan bermetabolisme di dalam tubuh dan memunculkan
respon terhadap sel-sel yang terkena kanker.

4. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin, seperti: darah, urine, SGOT/SGPT, alkali
fosfatase, BUN/kreatinin, globulin, albumin, serum elektrolit, faal
hemostasis, untuk menilai keadaan umum dan persiapan operasi.

5. Pemeriksaan Patologi
FNA
Belum merupakan pemeriksaan baku.Pemeriksaan ini harus
ditunjang oleh ahli sitopatologi handal yang khusus menekuni
pemeriksaan kelenjar liur.
Biopsi insisional

11
Dikerjakan pada tumor ganas yang inoperabel.
Biopsi eksisional
Pada tumor parotis yang operabel dilakukan parotidektomi
superfisial
Pada tumor submandibula yang operabel dilakukan eksisi
submandibula
Pada tumor sublingual dan kelenjar liur minor yang operabel
dilakukan eksisi luas ( minimal 1 cm dari batas tumor).
Pemeriksaan potong beku
Dikerjakan terhadap spesimen operasi pada biopsi eksisional.
Pemeriksaan spesimen operasi.

Pengobatan tumor parotis adalah multidisiplin ilmu termasuk bedah,


neurologis, radiologi diagnostik dan inventersional, onkologi dan patologi. Faktor tumor
dan pasien harus diperhitungkan termasuk keparahannnya, besarnya tumor, tingkat
morbiditas serta availibilitas tenaga ahli dalam bedah, radioterapi dan kemoterapi. 1,2,3,5
Terapi berupa parotidektomi total dilakukan pada tumor ganas parotis yang
belum ada ekstensi ekstraparenkim dan N. VII sedangkan parotidektomi yang
diperluas dilakukan untuk tumor ganas parotis yang sudah ada ekstensi
ekstraparenkim dan N. VII. 1,2,3,5
Terapi tambahan berupa radioterapi pasca bedah diberikan pada neoplasma
maligna parotis dengan kriteris high grade ca, masih ada residu makroskopis atau
mikroskopis, tumor menempel pada saraf, karsinoma residif dan karsinoma parotis
lobus profundus. 1,2,3,5
Prognosis karsinoma parotis bergantung pada staging system dari AJCC.
Dari sana didapatkan %-year survival rate untuk stage I sekitar 85%, stage II 66%,
stage III 53% serta stage IV 32%. Selain itu, prognosis juga tergantung dari diagnosa
histologi karsinoma. Pembagian kategori karsinoma parotis low grade hingga high
grade sangat berguna. Pada neoplasma low grade , 10 years survival rate ialah 80-
95% sedangkan pada neoplasma high grade ialah 25-50%.1,2,3,5

12
3.1 Kesimpulan
Karsinoma parotis adalah neoplasma maligna yang berasal dari sel
epithelial yang terjadi di parotis yang merupakan kelenjar liur yang terbesar yang
terletak di anteroinferior dari telinga yang disebut parotis. Etiologi neoplasma
pada kelenjar liur ini masih belum dapat dipastikan, dicurigai adanya keterlibatan
faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor-faktor predisposisinya antara lain
terapi radiasi, terhirup debu silica ataupun nitrosamine.
Manifestasi klinik karsinoma parotis adalah pembengkakan yang
terdapat di depan telinga dan kesulitan untuk menggerakkan salah satu
sisi wajah. Paralisis nervus facialis. Disfagia, sakit tenggorokan, serta
gangguan pendengaran. Dan dapat pula terjadi pembesaran kelenjar
getah bening jika terjadi metastasis.
Karsinoma parotis dapat dikelompokkan menjadi low grade carcinoma
dan high grade carcinoma.
Pengobatan tumor parotis adalah multidisiplin ilmu termasuk bedah,
neurologis, radiologi diagnostik dan inventersional, onkologi dan patologi. Faktor
tumor dan pasien harus diperhitungkan termasuk keparahannnya, besarnya
tumor, tingkat morbiditas serta availibilitas tenaga ahli dalam bedah, radioterapi
dan kemoterapi.

13
14

Anda mungkin juga menyukai