Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Interaksi Obat

a. Interaksi Obat
Interaksi obat adalah pemberian dua atau lebih obat pada waktu bersamaan
atau hampir bersaman yang dapat saling mempengaruhi efek kerja obat tersebut
atau juga tidak akan saling mempengaruhi (Anonim, 2000b).
Interaksi obat-obat dapat didefinisikan sebagai respon farmakologis atau
klinis terhadap kombinasi obat berbeda ketika obat-obat tersebut diberikan
tunggal. Hasil klinis interaksi obat-obat dapat dikategorikan sebagai antagonisme
(yaitu, 1 + 1 < 2), sinergis (yaitu, 1 + 1 > 2) (Tatro, 2009).
Obat dapat berinteraksi dengan obat lain maupun dengan makanan atau
minuman yang dikonsumsi oleh pasien. Hal ini dapat terjadi karena dalam
kehidupan sehari-hari, tidak jarang seorang penderita mendapat obat lebih dari
satu macam obat, menggunakan obat ethical, obat bebas tertentu selain yang
diresepkan oleh dokter maupun mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu
seperti alkohol dan kafein. Perubahan efek obat akibat interaksi obat dapat bersifat
membahayakan dengan meningkatnya toksisitas obat atau berkurangnya khasiat
obat. Namun, interaksi dari beberapa obat juga dapat bersifat menguntungkan
seperti efek hipotensif diuretik bila dikombinasikan dengan beta-bloker dalam
pengobatan hipertensi (Fradgley, 2003).
Dengan meningkatnya kompleksitas obat-obat yang digunakan dalam
pengobatan pada saat ini, dan berkembangnya polifarmasi maka kemungkinan
terjadinya interaksi obat makin besar. Interaksi obat perlu diperhatikan karena
dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap pengobatan (Quinn dan Day, 1997).
Menurut Setiawati (2007), Interaksi obat dianggap berbahaya secara klinik
bila berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang
berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit
(indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan, dan obat-
obat sitostatik (Setiawan, 2011).
Faktor-faktor penderita yang berpengaruh terhadap Interaksi Obat:

1.Umur Penderita

a. Bayi dan balita

Proses metabolik belum sempurna, efek obat dapat lain.

b.Orang Lanjut usia

Orang lanjut usia relatif lebih sering berobat, lebih sering menderita
penyakit kronis seperti hipertensi, kardiovaskuler, diabetes, arthritis.
Orang lanjut usia sering kali fungsi ginjal menurun, sehingga ekskresi
obat terganggu kemungkinan fungsi hati juga terganggu, dan diet pada
lanjut usia sering tidak memadai.

2. Penyakit yang sedang diderita


Pemberian obat yang merupakan kontra-indikasi untuk penyakit tertentu.

3. Fungsi Hati Penderita


Fungsi hati yang terganggu akan menyebabkan metabolisme obat
terganggu karena biotransformasi obat sebagian besar terjadi di hati.

4. Fungsi ginjal penderita


Fungsi ginjal terganggu akan mengakibatkan ekskresi obat terganggu. Ini
akan mempengaruhi kadar obat dalam darah, juga dapat memperpanjang waktu
paruh biologik (t) obat. Dalam hal ini ada 3 hal yang dapat dilakukan, yaitu:
a. Dosis obat dikurangi

b. Interval waktu antara pemberian obat diperpanjang, atau

c. Kombinasi dari kedua hal diatas.

5.Kadar protein dalam darah/serum penderita


Bila kadar protein dalam darah penderita dibawah normal, maka akan berbahaya
terhadap pemberian obat yang ikatan proteinnya tinggi.

6. pH urin penderita
pH urin dapat mempengaruhi ekskresi obat di dalam tubuh.

7.Diet penderita
Diet dapat mempengaruhi absorpsi dan efek obat. (Joenoes, 2002).

2.2 Mekanisme interaksi obat

Mekanisme interaksi obat secara garis besar dapat dibedakan atas 3


mekanisme, yaitu: interaksi farmasetik, interaksi farmakokinetik dan interaksi
farmakodinamik (Anonim, 2000a).

1) Interaksi Farmasetik
Interaksi ini terjadi jika antara dua obat yang diberikan bersamaan tersebut
terjadi inkompabilitas atau terjadi reaksi langsung dan umumnya terjadi di luar
tubuh dan dapat berakibat berubahnya efek farmakologik obat yang diberikan.
Sebagai contoh, pencampuran penisilin dan aminoglikosida akan menyebabkan
hilangnya efek farmakologik yang diharapkan.

2) Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik dapat terjadi dalam proses absorbsi, distribusi
obat dalam tubuh, metabolisme atau dalam proses ekskresi di ginjal.

a) Interaksi Farmakokinetik pada Proses Absorbsi


Interaksi pada proses absorbsi terjadi akibat perpanjangan atau
pengurangan waktu huni dalam saluran cerna. Misal apabila pelewatan
melalui usus dipercepat dengan pemberian metoklopramida, maka khusus
senyawa-senyawa yang sukar diabsobrsi tidak lagi diabsorbsi dalam
jumlah yang normal lagi karena senyawa-senyawa ini tidak lagi cukup
lama dapat berkontak dengan permukaan absorbsi (Mutschler, 1986).
b) Interaksi Farmakokinetik pada Proses Distribusi
Interaksi terjadi pada proses distribusi jika obat-obat dengan ikatan
protein yang lebih kuat menggeser obat-obat lain dengan ikatan protein
yang lebih lemah ikatannya pada protein plasma. Akibatnya kadar obat
yang tergusur ini akan lebih tinggi pada darah dengan segala
konsekuensinya, terutama terjadinya peningkatan efek toksik (Anonim,
2000a).

c) Interaksi pada Proses Metabolisme


Dengan cara yang sama seperti albumin plasma mungkin terjadi
persaingan terhadap enzim yang berfungsi untuk biotransformasi obat
khususnya sitokrom P45 dan dengan demikian mungkin terjadi
metabolisme yang diperlambat. Biotransformasi suatu obat kedua
selanjutnya dapat diperlambat atau dipercepat berdasarkan penghambatan
enzim yang ditimbulkan oleh obat pertama (Mutschler, 1986).

d) Interaksi Farmakokinetik pada Proses Ekskresi


Interaksi dalam proses ekskresi terjadi kalau ekskresi suatu obat
(melalui ginjal) dipengaruhi oleh obat lain. Sebagai contoh ialah
penghambatan ekskresi penisilin oleh probenesid yang berakibat
meningkatnya kadar antibiotik dalam darah. Interaksi ini justru
dimanfaatkan untuk meningkatkan kadar penisilin dalam darah (Anonim,
2000a).

3) Interaksi Farmakodinamik

Interaksi farmakodinamik adalah interaksi obat yang terjadi ditingkat


reseptor dan mengakibatkan berubahnya salah satu efek obat, yang bersifat
sinergis apabila efeknya menguatkan atau antagonis bila efeknya saling
mengurangi. Sebagai contoh adalah meningkatnya efek toksik glikosida jantung
pada keadaan hipokalemia (Anonim, 2000a).
2.3 Biovailabilitas

Bioavailabilitas menunjukkan suatu pengukuran laju dan jumlah obat yang


aktif terapetik yang mencapai sirkulasi umum. Studi bioavailabilitas dilakukan
baik terhadap bahan obat aktif yang telah disetujui maupun terhadap obat dengan
efek terapetik yang belum disetujui FDA (Food Drug Administration) untuk
dipasarkan. Bioavalabilitas digunakan untuk menggambarkan fraksi dari dosis
obat yang mencapai sirkulasi sistemik yang merupakan salah satu bagian dari
aspek farmakokinetik obat.
Defenisi tersebut diartikan bahwa obat yang di berikan secara intravena
bioavalibilitasnya 100%. Namun, jika obat diberikan melalui rute pemberian lain
(seperti melalui oral) bioavalibilitasnya berkurang (karena absorpsi yang tidak
sempurna dan metabolisme lintas pertama) (Shargel dan Yu, 2005).
Bioavailabilitas relatif adalah ketersediaan dalam sistemik suatu produk
obat dibandingkan terhadap suatu standar yang diketahui. Availabilitas suatu
formulasi obat dibandingkan terhadap availabilitas formula standar, yang biasanya
berupa suatu larutan dari obat murni, dievaluasi dalam studi cross over.
Availabilitas relatif dari dua produk obat yang diberikan pada dosis dan rute
pemberian yang sama dapat diperoleh dengan persamaan berikut:

Availabilitas relatif =

Jika dosis yang diberikan berbeda, suatu koreksi untuk dosis yang dibuat,
seperti dalam persamaan berikut:

Availabilitas relatif=

2.3.1 Faktor faktor yang Mempengaruhi Bioavailabilitas Obat

Menurut Anonim (2006), Faktor-faktor yang mempengaruhi


bioavailabilitas obat antara lain:
1). Sifat Fisikokimia Obat
Ukuran partikel

Luas permukaan obat

Kelarutan obat

Bentuk kimia obat, yaitu garam, bentuk anhydrous atau hidrous

Lipofilisitas

Stabilitas obat

2). Faktor Formulasi


Untuk merancang suatu produk obat yang akan melepaskan obat aktif
dalam bentuk yang paling banyak berada dalam sistemik, farmasis harus
mempertimbangkan: (1) jenis produk obat; (2) sifat bahan tambahan dalam
produk obat; (3) sifat fisikokimia obat itu sendiri (Shargel dan Yu, 2005).
Untuk obat yang diberikan secara oral, bioavailabilitasnya mungkin kurang dari
100% karena :
Obat diabsorpsi tidak sempurna

Eliminasi lintas pertama (First-Pass Elimination), Obat diabsorpsi


menembus dinding usus, darah vena porta mengirimkan obat ke hati
sebelum masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Obat dapat dimetabolisme di
dalam dinding usus atau bahkan di dalam darah vena porta. Hati dapat
mengekskresikan obat ke dalam empedu.

Laju absorpsi

2.4 Penatalaksanaan Interaksi Obat


Langkah-langkah dalam penatalaksanaan interaksi obat, yaitu:
1) Menghindari kombinasi obat yang saling berinteraksi
Adanya pertimbangan obat pengganti jika terdapat risiko yang lebih
besar daripada manfaatnya.
2) Menyesuaikan dosis
Diperlukannya modifikasi dosis dari salah satu obat atau kedua obat
untuk mengimbangi kenaikan atau penurunan efek obat jika hasil
interaksi obat meningkatkan atau mengurangi efek obat.
3) Memantau pasien
Adanya pemantauan jika terdapat kombinasi obat yang saling
berinteraksi.
4) Melanjutkan pengobatan seperti sebelumnya
Adanya penerusan pengobatan sebelumnya jika tidak terjadi interaksi
obat atau kombinasi obat yang berinteraksi merupakan pengobatan yang
optimal (Fradgley, 2003).
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Interaksi Obat yang Menguntungkan


DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.ums.ac.id/16572/2/BAB_I.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/55764/4/Chapter
%20II.pdf
http://adln.lib.unair.ac.id/files/disk1/695/gdlhub-gdl-res-2014-
suharjono-34737-9.bab-ii-a.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33515/4/Chapter
%20II.pdf