Anda di halaman 1dari 29

Referat

GAMBARAN RADIOLOGIS PADA INVAGINASI

Oleh :

Melly Angriani Lubis 1110311016


Dwi Novilolita 1110312130
Novia Puspita Yuza 1110313055

Preseptor :
dr. Sylvia Rachman, Sp.Rad(K)

BAGIAN RADIOLOGI
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan

karunia-Nya kami dapat menyelesaikan referat yang berjudul Gambaran Radiologis Pada

Invaginasi.

Terima kasih kami ucapkan kepada dr.Sylvia Rachman, Sp.Rad sebagai preseptor referat

ini serta kepada semua pihak yang telah mendukung dalam penulisan referat ini.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan referat ini masih terdapat kekurangan, oleh

sebab itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya referat ini.

Akhirnya kami berharap semoga referat ini dapat bermanfaat dalam memberikan

penambahan pengetahuan dan pengembangan wawasan kita semua.

Padang, Oktober 2015

Tim Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR

BAB 1. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan Penulisan 2
1.4 Metode Penulisan 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 3


2.1 Anatomi 3
2.2 Definisi 6
2.3 Epidemiologi 7
2.4 Klasifikasi 8
2.5 Etiologi 8
2.6 Patofisiologi 9
2.7 Gejala Klinis 11
2.8 Diagnosis 11
2.9 Pemeriksaan Radiologi 12
2.10 Diagnosis Banding 16
2.11 Tatalaksana 18
2.12 Prognosis 21

KESIMPULAN 23
DAFTAR PUSTAKA 25

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Anatomi Usus Halus 3


Gambar 2. Anatomi Usus Besar 4
Gambar 3. Perdarahan Usus 5
Gambar 4. Gambaran usus normal dan intususepsi (invaginasi) 6
Gambar 5. Patofisiologi Invaginasi 8
Gambar 6.Gambaran Foto Polos Abdomen 11
Gambar 7. Gambaran cupping dan coiled spring appearance 12
Gambar 8. Gambaran USG 13
Gambar 9. Gambaran CT Scan 14
Gambar 11. Terapi dengan reduksi manual 16
Gambar 12. Algoritma penanganan invaginasi 18

4
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Invaginasi merupakan suatu keadaan dimana masuknya segmen usus ke dalam segmen

usus lainnya. Bagian segmen usus yang masuk ke bagian distal disebut intususeptum

sedangkan sebagian usus yang membungkus intususeptum disebut intususepien. Invaginasi

merupakan suatu keadaan gawat darurat yang sering terjadi pada anak-anak.1
Angka kejadian invaginasi pada bayi dan anak adalah 1,9/1000 kelahiran hidup. Sekitar

60-65% kasus terjadi pada anak usia kurang dari 1 tahun dan 80% terjadi pada anak lebih

dari 2 tahun. Walaupun jarang namun 5-16% angka kejadian invaginasi terjadi pada dewasa.2
Karena termasuk dalam kegawatdaruratan medis, perlu didiagnosis secara dini sehingga dapat

ditatalaksana. Oleh karena itu perlu diketahui gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan hasil

pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologi untuk dapat mendiagnosis invaginasi dengan

cepat. Penatalaksaan invaginasi dimulai dengan perbaiki keadaan umum serta hidrasi pasien.

Penanganan selanjutnya yang dapat digunakan sekaligus untuk diagnostik invaginasi ini adalah

dengan melakukan pemeriksaan barium enema, dengan tujuan tekanan hidrostatik barium dapat

mendorong usus yang terjepit, sehingga dapat kembali seperti semula.1

1.2 Rumusan Masalah


Makalah ini membahas mengenai invaginasi meliputi anatomi usus, definisi,

epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, diagnosis, diagnosis banding, tatalaksana,

dan prognosis pada invaginasi.

1.3 Tujuan Penulisan

5
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memahami mengenai anatomi usus, definisi,

epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, diagnosis, diagnosis banding, tatalaksana, dan

prognosis pada invaginasi.

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini adalah dengan studi kepustakaan dengan merujuk pada

berbagai literatur.

6
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

2.1.1 Usus Halus

Usus halus dibagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejenum, dan ileum (Gambar 1).

Dengan panjang masing-masing sekitar 20 cm, 100-110 cm, dan 150-160 cm. Jejunoileum

memanjang dari ligamentum Treitz ke katup ileosekal. Jejenum lebih besar dan lebih tebal jika

dibandingkan dengan ileum, dan hanya memiliki satu atau dua arcade valvular dibandingkan

empat sampai lima pada ileum.

Gambar 1. Anatomi usus halus

Usus kecil digantung oleh mesenterium yang membawa pasokan vascular dan limfatik.

Pasokan darah ke jejunum dan ileum melalui arteri mesenterika superior, yang juga melanjutkan

pasokan sampai kolon transversal proksimal. Drainase vena sejajar dengan pasokan arteri,

membawa ke vena mesenterika superior, bergabung dengan vena splenika di belakang pancreas

untuk membentuk vena porta. Lipatan mukosa membentuk plica plika sirkularis transversal

sirkumferensial. Persarafannya adalah parasimpatis dan mempengaruhi sekresi serta motilitas .

7
Simpatik berasal dari nervus splanikus melalui pleksus seliaka, mempengaruhi sekresi dan

motalitas usus serta vascular dan membawa aferen rasa nyeri.

Ada dua area dalam tingkatan submukosa dan bagian spesifik usus halus :

1. Plaque peyer

Plaque peyer terutama berada di dalam ileum dan lebih banyak ke distal.

2. Glandula Brunner

Glandula Brunner ada hampir seluruhnya di dalam duodenum, tetapi di dalam jejunum

proximal juga terdapat di proximal dan menurun dengan penuaan.

2.1.2 Usus Besar

Usus besar terdiri dari sekum, kolon dan rectum, panjangnya sekitar 1,5 meter,

terbentang dari ileum terminalis sampai anus. Diameter terbesarnya pada saat kosong 6,5 cm

dalam sekum, dan berkurang menjadi 2,5 cm dalam sigmoid. Pada sekum terdapat katup

ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Katup ileosekal mengendalikan aliran

kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus

besar ke usus halus.

Gambar 2. Anatomi usus besar

8
Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden, tranversum, descenden dan sigmoid (Gambar

2). Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan disebut fleksura hepatica dan

kiri disebut fleksura lienalis.

Usus besar secara klinis dibagi berdasarkan suplai darah yang diterimanya menjadi

bagian kiri dan kanan. Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan kanan yaitu sekum,

kolon ascenden dan duapertiga proximal kolon transversum. Sedangkan arteri mesenterika

inferior memperdarahi sepertiga kolon transversum, kolon descenden, sigmoid dan bagian

proximal rectum.

Aliran balik vena dari kolon berjalan parallel dengan arterinya. V.mesenterika superior

untuk kolon ascenden dan transversum. Sedangkan v.mesenterika inferior untuk kolon

descenden, sigmoid dan rectum. Rektum disuplai oleh a. hemoroidalis superior (cabang dari

a.mesenterika inferior) dan a.hemoroidalis inferior (cabang dari a.pudenda interna). Sedang

aliran venanya yaitu v.hemoroidalis superior dan inferior.

Gambar 3. Perdarahan usus

9
Gambar 4. Radioanatomi abdomen

Hal-hal yang dapat dinilai dalam pemeriksaan foto polos abdomen:1

1. Pre peritoneal fat line


Pre peritoneal fat line menghilang pada keadaan peritonitis atau asites.
2. Distribusi udara di dalam usus
Menilai distribusi udara dalam usus mulai dari gaster sampai ke rektum. Jika distribusi

udara sampai ke rektum maka alirannya bagus. Gambar 4 menunjukkan distribusi normal

udara usus yaitu: 1. Kolon ascenden 2. Fleksura hepatica 3. Kolon tranversum 4.

Fleksura lienalis 5. Kolon descenden.


3. Apakah ada distensi usus
Haustra merupakan tanda adanya suatu distensi kolon.

2.2 Definisi

Invaginasi atau intususepsi merupakan suatu keadaan gawat darurat yang sering terjadi

pada anak-anak dimana masuknya segmen usus ke dalam segmen lainnya. Bagian segmen usus

yang masuk ke bagian distal disebut intususeptum, sedangkan bagian usus yang membungkus

intususeptum disebut intususipien (Gambar 4). Pemberian nama invaginasi bergantung hubungan

antara intussusceptum dan intussuscipiens, misalnya ileo-ileal menunjukkan invaginasi hanya

10
melibatkan ileum saja. Ileo-colica berarti ileum sebagai intussusceptum dan colon sebagai

intussuscipiens. Kombinasi lain dapat terjadi seperti ileo-ileo colica, colo-colica dan appendical-

colica.2,3

Gambar 4. Gambaran usus normal dan intususepsi (invaginasi)

2.3 Epidemiologi

Invaginasi merupakan salah satu penyebab obstruksi usus yang sering terjadi pada bayi

dan anak dengan angka kejadian 1,9/ 1000 kelahiran hidup. Perbandingan kejadian pada anak

laik-laki dengan perempuan yaitu 3:2, terbanyak terjadi pada bayi usia 4-10 bulan. Sekitar 60-

65% kasus terjadi pada anak usia kurang dari 1 tahun dan 80% terjadi pada anak kurang dari 2

tahun. Invaginasi juga dapat terjadi pada dewasa namun kejadiannya sedikit yaitu 5-16% dari

seluruh kejadiaan invaginasi. Sebanyak 95% penyebab invaginasi adalah idiopatik. Pada anak,

30% kejadian invaginasi didahului dengan infeksi virus gastrointestinal atau saluran pernafasan

akut. Ada 3 tipe intususepsi, yaitu ileo-ileal, ileokolika, dan kolo-kolika.3,4

2.4 Klasifikasi Invaginasi

Berdasarkan lokasinya, invaginasi dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian, yaitu:

1). Ileo-ileal

11
Invaginasi hanya terjadi di usus halus

2). Ileo-kolik

Prolapsnya bagian distal ileum yang masuk ke dalam colon ascenden. Penyebab

terjadinya invaginasi tipe ini pada dewasa umumnya disebabkan oleh

adenokarsinoma, limfoma, dan penyakit akibat metastasis. Metastasis melanoma

merupakan lesi metastasis yang umum terdapat pada usus halus. Pada lokasi ini

jarang terjadi sekitar 2-5% kasus.

3). Kolo-kolika

Invaginasi hanya melibatkan usus besar. Pada invaginasi tipe kolo-kolika

umumnya terjadi akibat penyakit:

a. Lipoma

Tumor jinak terbanyak yang menyebabkan invaginasi kolo-kolika dan merupakan

tumor jinak yang banyak terjadi di kolon. Pada 90% kasus terjadi di submukosal.

b. Adenokarsinoma

Tumor ganas tersering yang menyebabkan invaginasi kolo-kolika.

2.5 Etiologi

Etiologi invaginasi dibedakan menjadi 3, yaitu:5

1. Intraluminal
Massa intraluminal (misalnya tumor) tertarik oleh peristaltic dan menyebabkan

perlekatan dinding usus dengan tumor.


2. Intramural
Abnormalitas dinding usus (misalnya keganasan) menyebakan gangguan peristaltic dan

terjadi invaginasi.
3. Ekstraluminal

12
Faktor ekstraluminal (misalnya appendicitis) menyebakan gangguan peristaltik dan

terjadi invaginasi.

Pada 90% kasus invaginasi pada anak tidak diketahui penyebab yang spesifik (idiopatik)

dan 10% disebabkan karena divertikulum Meckel, polip maupun limfoma. Pada dewasa,

invaginasi pada usus besar dan usus halus sangat berbeda penyebabnya. 50-57% kasus invaginasi

pada usus halus disebabkan karena lesi patologi jinak yaitu adhesi dan divertikulum Meckel. Lesi

lainnya seperti hyperplasia limfoid, lipoma, leiomioma, hemangioma, dan penyebab idiopatik

lebih sering terjai di usus kecil daripada di usus besar. Keadaan lain yang juga mempengaruhi

invaginasi usus halus yaitu anoreksia nervosa dan malabsorpsi. 60-67% kasus invaginasi pada

usus besar disebabkan oleh keganasan. Penyebab keganasan yang paling umum adalah

adenokarsinoma primer dan penyebeb nonmalignant yang paling sering yaitu lipoma. 6,7

2.6 Patofisiologi

Ketidaksimbangan kekuatan otot longitudinal di sepanjang dinding usus diyakini menjadi

penyebab invaginasi. Keadaan ini dapat disebabkan oleh adanya massa atau mungkin akibat

kekacauan dari pola peristaltik sehingga pembelokan terjadi di bagian usus yang tidak normal,

yang membentuk titik tumpu penyebab terjadinya invaginasi ke dalam usus distal yang

berdekatan. Bagian usus yang berperan sebagai intususeptum masuk ke dalam bagian distal usus

(intususipien). Proses invaginasi yang masih berlanjut, menarik mesentrium bersamaan dengan

intususeptum sehingga berpindah semuanya ke rectum dan selagi intususeptum masih

berlangsung, aliran balik limfe terhambat dan terganggunya aliran vena akibat tekanan lumen

usus mengakibatkan kongesti dan udem pada intususeptum.

13
Terhambatnya suplai darah arteri ke segmen usus mengakibatkan membrane mukosa

yang sangat sensitif terhadap iskemik akan mengelupas. Pengelupasan ini akan menyebabkan

perdarahan sehingga akan memberikan gambaran red currant jelly pada tinja. Jika keadaan ini

tidak teratasi, lumen usus akan benar-benar tersumbat dan terjadi nekrosis pada intususeptum

yang akan menyebabkan penyerapan cairan, translokasi bakteri-bakteri usus ke rongga

peritoneum, dan perforasi yang berakhir peritonitis.9

Gambar 5. Patofisiologi invaginasi

14
2.7 Gejala Klinis

Secara klasik perjalanan suatu invaginasi memperlihatkan gambaran sebagai berikut :9

1. Anak menangis tiba-tiba dan intermitten setiap 10-30 menit. Hal ini dikarenakan adanya

nyeri kolik abdomen, ketika intususepsi bersama dengan mesentrium dan saraf tertarik ke

dalam intususipien.
2. Anak akan berhenti menangis dan beraktivitas secara normal diantara serangan hingga

serangan berikutnya muncul. Nyeri abdomen ini merupakan patognomonis terjadinya

intususepsi pada anak.


3. Selama serangan, anak akan menekuk kaki untuk mengurangi rasa sakit.
4. Muntah biasanya terjadi pada neonates. Muntah akibat dari obstruksi usus yang

merupakan gejala yang terlambat dan berhubungan dengan system bilier.


5. Feses mengandung mucus. Feses yang berdarah terjadai pada gejala awall hingga 6 jam

pertama namun bisa juga tidak ada hingga 1 hari setelahnya darah bercampur mucus

memberikan gambaran khas red currant jelly pada invaginasi.


6. Trias pada invaginasi yaitu nyeri perut, muntah, dan tinja berdarah terjadi sekitar 30%

pada bayi dengan invaginasi.

2.8 Diagnosis

Diagnosis invaginasi ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan penunjang. Anamnesis menunjukkan gejala khas berupa trias invaginasi yaitu, sakit

perut yang timbul mendadak sehingga anak tampak gelisah dan tidak dapat ditenangkan,

periodik, dan anak menekukkan kaki (drawing up the leg). Pada 60% kasus, didapatkan gejala

muntah dan feses bercampur darah (currant-jelly stool) dan pada inspeksi akan tampak perut

membuncit. Pada palpasi abdomen biasanya menunjukkan sedikit nyeri tekan dan ada massa

berbentuk sosis namun kadang sulit ditemukan. Kemudian akan terjadi peningkatan suara usus

pada pemeriksaan auskultasi. 9

2.9 Pemeriksaan Radiologi

15
Ada beberapa pemeriksaan radiologi yang dapat digunakan sebagai acuan diagnostic

invaginasi, antara lain:2,8,9,10

1. Foto Polos abdomen


Foto polos abdomen dapat digunakan untuk mendiagnosis invaginasi namun

pemeriksaan foto polos abdomen memiliki sensitifitas yang rendah sekitar 45%.

Pemeriksaan foto polos didapatkan distribusi udara yang tidak merata di dalam lumen

usus.
Selain itu terdapat temuan spesifik yaitu (1) target sign pada daerah ginjal kanan atas

yang terdiri dari massa jaringan lunak dengan gambaran lingkaran radiolusen yang

merupakan lemak mesentrium pada intususeptum. (2) Meniscus sign merupakan udara

berbentuk bulan sabit pada lumen kolon yang menggambarkan intususeptum.


Pada foto polos sering ditemukan adanya air fluid level multiple yang

menunjukkan adanya ostruksi pada usus namun, ini merupakan tanda pada gejala

invaginasi lanjut. Pemeriksaan foto polos terkadang tidak menunjukkan adanya gambaran

invaginasi. Jika terdapat udara atau feses di caecum dengan lokasi normal diagnosis

invaginasi dapat disingkirkan. Pemeriksaan ini dapat menyingkirkan pneumoperitonium

terutama pada anak-anak yang menunjukkan gejala invaginasi yang terlambat.

A B

16
C
Gambar 6. A) target sign. B) meniscus sign. C) tidak adanya udara di fosa iliaca dan
kuadran atas abdomen pada anak dengan intususepsi.

2. Pemeriksaan Kontras Enema


Kontras yang paling sering digunakan adalah larutan barium tetapi enema udara

juga dapat digunakan. Barium enema merupakan gold standard untuk mendiagnosis

invaginasi. Dengan pemeriksaan kontras barium enema akan terlihat gambaran berupa

coiled spring appearance dengan bentuk melingkar dapat ditemukan saat sejumlah kecil

bahan terkumpul di antara intususeptum dan intussuscipiens. Enema barium dapat

menunjukkan defek pengisian atau bentuk seperti mangkuk (cupping) di ujung barium,

karena alirannya tersumbat oleh intususepsi.


Tanda-tanda klinis dehidrasi atau syok hipovolemik, peritonitis dan perforasi

merupakan kontraindikasi mutlak untuk dilaksanakanya prosedur enema, baik diagnostik

dan terapeutik. Barium enema selain dapat berfungsi sebagai alat diagnostik juga dapat

berfungsi sebagai terapi. Akhir-akhir ini, pemakaian enema udara dalam diagnosis dan

pengobatan intususepsi lebih banyak dilakukan karena lebih aman dengan resiko

perforasi lebih sedikit, dan paling tidak akurasinya sama dengan enema barium, dan lebih

mengurangi radiasi terhadap penderita.

17
Gambar 7. Gambaran cupping dan coiled spring appearance

3. Ultrasonography (USG)
USG digunakan untuk mendiagnosa intususepsi dan juga dapat digunakan untuk

memantau reduksinya, dengan kelebihan utama yaitu tidak melibatkan radiasi pengion

Gambaran intususepsi dapat terlewatkan jika terbentuk obstruksi usus kecil dengan

ditandai distensi gas yang mengaburkan intususepsi.


Biasanya, intususepsi berupa massa yang cukup dangkal dengan ukuran 2,5 5

cm dan sebagian besar ditemukan di sisi kanan abdomen. Dapat terlihat gambaran seperti

cincin di usus transversum yang merupakan gambaran dari dinding usus dan lemak

mesentrium, yang disebut dengan the doughnut atau target sign. . Target sign ini banyak

terdapat di kanan memiliki tampilan yang khas di USG yang membuatnya mudah

dikenali dan pemeriksaan ini memiliki akurasi 97-100% pada anak-anak.

18

Gambar 8. A) gambaran doughnut sign atau target lesion pada intususepsi. B)


gambaran invaginasi
A pada USG: intutuseptum (putih) Bdan intususipien
4. CT Scan dan MRI
CT Scan dan MRI sangat jarang digunakan untuk mendiagnosis intususepsi. CT

Scan dan MRI digunakan ketika diagnosis invaginasi yang meragukan, gambaran

invaginasi yang tidak khas, atau ketika anak mengalami keluhan perut yang tidak

diketahui penyebabnya. Adanya gambaran usus didalam usus disertai lemak dan atau

vena mesentrium meruapakan patognomonis dari invaginasi pada MRI atau CT Scan. CT

Scan dan MRI juga digunakan untuk mengevaluasi pasien dengan gambaran USG yang

tidak khas namun, menunjukkan keadaan patologis seperti limfoma.

19
Gambar 9. A) gambaran CT Scan anak usia 9 tahun dengan limfoma yang menunjukkan
invaginasi colo-colic. Adanya massa di dalam usus yang dilapisi oleh jaringan lunak dan
lemak di sisi kanan abdomen. B) gambaran invaginasi pada potongan coronal.

2.10 Diagnosis Banding

Ada beberapa penyakit yang perlu dibedakan dengan invaginasi, antara lain:4
1. Gastroenteritis
Anak dengan gastroenteritis cenderung sulit dibedakan dengan invaginasi. Perlu

diperhatikan perubahan pola penyakit, karakter rasa sakit, karakteristik muntah, dan jenis

perdarahan untuk membedakannya


2. Enterocolitis
Pada enterocolitis terdapat feses yang bercampur darah disertai nyeri abdomen, namun

hal ini dapat dibedakan dari invaginasi karena rasa nyeri kurang hebat dan kurang teratur,

disertai diare, dan tetap adanya rasa sakit diantara nyeri.


3. Diverticulum Meckel
Perdarahan pada diverticulum Meckel biasanya tidak disertai nyeri.

Diagnosis banding invaginasi berdasarkan gambaran radiologi:12

1. Polip kolon

20
Polip kolon merupakan lesi massa terlokalisasi dari mukosa kolon, menonjol ke dalam

lumen. Polip dapat terjadi disepanjang kolon, dengan dasar yang luas (sessile) ataupun

bertangkai (pedunculated).
Gambaran radiologis : pemeriksaan dengan barium enema memperlihatkan polip sebagai

filling defect pada proyeksi daerah yang terisi oleh barium.

Gambar. Polip sessile dengan gambaran filling filling defect pada pemeriksaan
barium

2. Volvulus sigmoid
Volvulus sigmoid adalah kelainan berupa terputarnya kolon sigmoid 360 berlawanan arah

jarum jam, menyebabkan closed loop obstruksi dan jepitan vaskularisasi pada mesentrium.

Terjadi perforasi pada kolon sigmoid. Gejala yang menonjol adalah distensi abdomen dan

nyeri kolik. Juga dapat terjadi volvulus pada caecum dan kolon transversum.
Pemeriksaan foto polos abdomen menggambarkan dilatasi hebat membentuk huruf U yang

menyerupai coffe bean, multiple air fluid level. Pada pemeriksaan barium enema tampak

gambaran birds beak.

21
Gambar. Birds beak pada pemeriksaan barium enema

Gambar. Pemeriksaan foto polos abdomen pada volvulus sigmoid

2.11 Tatalaksana

Penatalaksaan invaginasi pada anak merupakan prosedur gawat darurat yang harus

dilakukan segera. Keterlambatan dalam penatalaksaan akan menyebabkan iskemia dan nekrosis

usus, peritonitis, syok, dan mungkin kematian.

Tatalaksana awal pasien invaginasi diberikan terapi cairan dan elektrolit untuk mengganti

cairan yang hilang serta diberikan tranfusi darah bila perlu. Dasar pengobatan pada invaginasi

22
ialah reposisi usus yang masuk ke lumen usus lainnya. Reposisi dapat dicapai dengan barium

enema, reposisi pneumostatik atau melalui pembedahan.

Reduksi Hidrostatik

Metode ini dilakukan dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan

kateter dengan tekanan tertentu yang dikerjakan sekaligus sewaktu rontgen. Tindakan ini

dilakukan pada anak dengan keadaan umum baik, tidak ada gejala dan tanda rangsangan

peritoneum, anak tidak toksik, dan tidak terdapat obstruksi tinggi.

Mula-mula tampak bayangan barium bergerak berbentuk cupping pada tempat ivaginasi,

dengan tekanan hidrostatik sebesar sampai 1 meter. Tekanan hidrostatik tidak boleh melewati

1 meter air dan tidak boleh dilakukan penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisi

hidrostatik. Pengelolaan dikatakan berhasil jika barium kelihatan masuk ileum.

Reduksi Manual dan Reseksi Usus

Jika reduksi hidrostatik tidak berhasil, akan dilakukan tindakan reposisi operatif. Indikasi

reduksi manual adalah pada pasien dengan keadaan tidak stabil, didapatkan peningkatan suhu

serta angka lekosit, mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan penyakit sudah lanjut

yang ditandai dengan distensi abdomen, feses berdarah, gangguan sistem usus yang berat sampai

timbul shock atau peritonitis.

Sewaktu operasi, dicoba dilakukan reposisi manual dengan mendorong invaginasi dari

ke analarah sudut ileosecal. Dorongan dilakukan dengan hati-hati tanpa tarikan dari bagian

proksimal.

23
Gambar 11. Terapi dengan reduksi manual

Reposisi dengan pembedahan dilakukan dengan tindakan laparatomi. Setelah dinding

perut dibuka, tindakan selanjutnya tergantung pada temuan yang ada. Reposisi dikerjakan secara

manual diperas seperti memeras susu sapi yang disebut milking, dikerjakan secara halus dan

perlahan dengan sabar, dan diselingi dengan istirahat beberapa waktu untuk memberi kesempatan

agar aliran darah balik yang mengurangi edema sehingga mempermudah usaha milking

selanjutnya.

Jika terjadi kebocoran usus sebelum atau sesudah milking maka dilanjutkan dengan

reseksi usus. Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm dari tepi - tepi segmen usus yang

terlibat, pendapat lainnya pada sisi proksimal minimum 30 cm dari lesi, kemudian dilakukan

anastosmose end to end atau side to side.

Invaginasi pada orang muda atau orang dewasa jarang bersifat idiopatik. Umumnya,

ujung invaginatum pada orang dewasa merupakan polip atau tumor lain di usus halus. Invaginasi

juga disebabkan oleh pencetus seperti diverticulum Meckel yang terbalik masuk ke lumen usus,

duplikasi usus, kelainan vaskuler atau limfoma. Terapi posisi hidrostatik umumnya tidak

24
mungkin dilakukan karena invaginasi pada golongan usia ini jarang merupakan invaginasi

ileosecal sehingga invaginatum tidak masuk ke dalam kolon.8,9,11

2.12 Prognosis

Prognosis invaginasi biasanya baik apabila di diagnosis dengan cepat, resusitasi

dilakukan secara menyeluruh, dan penalataksanaan dimulai secara dini terutama bila reduksi

nonoperatif berhasil dilakukan. Invaginasi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat

fatal, kemungkinan sembuh berkaitan langsung dengan lamanya intususepsi sebelum reduksi.

Kebanyakan bayi sembuh jika intususepsi direduksi dalam 24 jam pertama, tetapi angka

mortalitas meningkat dengan cepat setelah 24 jam, terutama setelah hari kedua.

Angka kekambuhan pasca reduksi intususepsi dengan barium enema adalah sekitar 10%

dengan reduksi bedah sekitar 2-5%, dan tidak pernah terjadi kekambuhan setelah dilakukan

reseksi bedah. Tidak mungkin intususepsi yang disebabkan oleh suatu lesi seperti limfosarkoma,

polip, atau devertikulum Meckel, akan berhasil direduksi dengan barium enema. Dengan terapi

bedah yang adekuat, reduksi dengan operasi sangat mengurangi angka mortalias pada kasus

dini.8,9

25
Gambar 12. Algoritma penanganan invaginasi

26
KESIMPULAN

Invaginasi merupakan suatu keadaan dimana masuknya segmen usus ke dalam segmen usus

lainnya. Invaginasi merupakan suatu keadaan gawat darurat yang sering terjadi pada anak-

anak.

Pada 90% kasus invaginasi tidak diketahui penyebab yang spesifik (idiopatik) namun, paling

banyak disebabkan oleh hipertrofi jaringan limfoid di Plak Peyer yang merangsang

perilstaltik usus untuk mengeluarkan massa tersebut sehingga terjadi invaginasi. Pada

sebagian besar kasus invaginasi ditemukan adanya riwayat infeksi virus di saluran pernafasan

atas atau saluran gastrointestinal.

Gejala klinis invaginasi berupa trias invaginasi yaitu, sakit perut yang timbul mendadak

sehingga anak tampak gelisah dan tidak dapat ditenangkan, periodik, dan anak menekukkan

kaki (drawing up the leg).

Pemeriksaan fisik invaginasi berupa inspeksi akan tampak perut membuncit. Pada palpasi

abdomen menunjukkan sedikit nyeri tekan dan ada massa berbentuk sosis. Kemudian akan

terjadi peningkatan suara usus pada pemeriksaan auskultasi.

Pemeriksaan foto polos abdomen memiliki sensitifitas yang rendah sekitar 45%. Didapatkan

distribusi udara yang tidak merata di dalam lumen usus. Terdapat temuan spesifik yaitu

target sign pada daerah ginjal kanan atas dan Meniscus sign yaitu udara berbentuk bulan

sabit pada lumen kolon. Namun pemeriksaan foto polos terkadang tidak menunjukkan

adanya gambaran invaginasi.

Gold standart diagnosis invaginasi adalah barium enema. Akan terlihat gambaran berupa

coiled spring appearance dan defek pengisian yang berbentuk seperti mangkuk (cupping) di

ujung barium. Barium enema selain dapat berfungsi sebagai alat diagnostik juga dapat

berfungsi sebagai terapi.

27

USG digunakan untuk mendiagnosa intususepsi dan juga dapat digunakan untuk memantau

reduksinya, dengan kelebihan utama yaitu tidak melibatkan radiasi pengion dengan akurasi

97-100%. Terlihat gambaran the doughnut atau target sign yang banyak terdapat di kanan.
CT Scan dan MRI sangat jarang digunakan untuk mendiagnosis intususepsi. Temuan berupa

gambaran usus didalam usus disertai lemak dan atau vena mesentrium.
Penatalaksaan invaginasi pada anak merupakan prosedur gawat darurat yang harus dilakukan

segera. Tatalaksana awal dengan terapi cairan dan elektrolit serta diberikan tranfusi darah bila

perlu. Dasar pengobatan ialah reposisi usus yang dapat dicapai dengan barium enema,

reposisi pneumostatik atau melalui pembedahan.


Keterlambatan dalam penatalaksaan akan menyebabkan iskemia dan nekrosis usus,

peritonitis, syok, dan mungkin kematian.


Prognosis invaginasi baik apabila di diagnosis cepat, resusitasi secara menyeluruh, dan
penalataksanaan dimulai secara dini terutama bila reduksi nonoperatif berhasil dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

1 McWilliams, S. Practical radiological anatomy: Gastrointestinal imaging 1.Chapter 4. RSM.


2011.
2 Williams, H. Imaging and Intussusception. ADC. 2008;93: 30-6.
3 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pedoman Pelayanan Medis. IDAI. 2011.

28
4 Balik AA, Ozturk G, Aydinli B, Alper F, GUmus H, Yildirgan MI, Basoglu M.
Intussusception in Adult. ACB.2006; 106: 409-12.
5 Herring, W. Learning Radiology. Third Edition. Elsevier. Philadelphia.
6 Marinis, A. Yiallourou, A. Samanides, L. Dafnios, N. Anastasopoulos, G. Vassiliou, I. 2009.
Intussusceptions of the bowel in adults: A Review. World Journal of Gastroenternal.
15(4):407-11.
7 Paskauskas, S. Pavalkis, D. Adult intussusceptions dalam Current Concepts In Colonic
Disorders. 2012. http://cdn.intechopen.com/pdfs-wm/25636.pdf
8 Behrman, Kliegman, Arvin. NELSON Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. EGC. Jakarta: 2000.
9 Hesse, Afua AJ, Francis A. Abantanga, and Kokila Lakhoo. Intunssusception. Dalam
Pediatric Surgery: A Comprehensive Text For Africa. 2011. Chapter 68;404-11.
10 Applegate, Kimberly E. Diagnostic Imaging and Treatment. Dalam Evidence Based Imaging
in Pediatrics. Ellibs. 2010. 26; 475-92.
11 R.Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. EGC. Jakarta:2007
12 Price, S.A. 2000. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa: Peter.
Jakarta: EGC.

29

Anda mungkin juga menyukai