Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A; Latar Belakang
Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 yang diwujudkan dengan
upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Peningkatan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) di Rumah Sakit secara terus
menerus ditingkatkan sejlan dengankebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu
dan teknologi kedokteran. Pengembangan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit
juga diarahkan guna meningkatkan mutu dan keselamatan pasien serta efisiensi
biaya dan kemudahan akses segenap masyarakat untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan.
Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat
perlu untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi
pasien dengan penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada
pasien yang memerlukan observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak
dapat diberikan diruang perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan bagi
pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru mengurangi
kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit
kritis.
Pelayanan High Care Unit (HCU) di Rumah Sakit perlu ditingkatkan secara
berkesinambungan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan pengobatan,
perawatan dan pemantauan secara ketat yang semakin meningkat sebagai akibat
penyakit menular maupun tidak menular seperti : diare, demam berdarah, penyakit
jantung dll. HCU merupakan ruang perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien
yang tingi. Tindakkan keperawatan yang cepat tepat sangat dibutuhkan untuk
menyelamatkan pasien. Pengambilan keputusan yang cepat ditunjang data yang
merupakan hasil observasi dan monitoring yang kontinu oleh perawat.
Pelayanan HCU adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien dalam
kondisi kritis diruang perawatan intensif, dilaksanakan secara terintegrasi oleh tim
yang terlatih dan berpengalaman dibidang critical care dan ditunjang oleh peralatan
yang tidak ditemukan diruang rawat pada umummnya seperti bed side monitor,
ventilator, infus pump dll.
Pedoman pelayanan ini sebagai acuan bagi Rumah Sakit dalam rangka
penyelenggaraan pelayanan HCU yang berkualitas dan mengedepankan
keselamatan pasien di Rumah Sakit serta dalam penyusunan standar prosedur
operasional pelayanan HCU di Rumah Sakit

B; Tujuan Pedoman
Tujuan Umum
Standarisasi pelayanan HCU di RSKIA Wijayakusuma
Tujuan Khusus
Standarisasi ruang yang meliputi struktur, design, sarana dan prasarana
ruangan HCU
Standarisasi ketenagaan struktur, kebutuhan dan kualifikasi sumber daya
manusia yang meliputi perhitungan kebutuhan, kualifikasi, kompetensi dan
lain-lain
Standarisasi standar mutu pelayanan, pemantauan dan pelaporan
Standarisasi sistem meliputi kebijakkan / SOP dan lain-lain

C; Ruang Lingkup Pelayanan


Pelayanan HCU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis stabil yang
membutuhkan pelayanan, pengobatan dan pemantauan secara ketat tanpa
penggunaan alat bantu (misalnya ventilator) dan terapi titrasi.

D; Batasan Operasional
1; High Care Unit (HCU) adalah unit pelayanan di Rumah Sakit bagi pasien dengan
kondisi stabil dari fungsi respirasi, hemodinamik, dan kesadaran namun masih
memerlukan pengobatan, perawatan dan pemantauan secara ketat. Tujuannya
ialah agar bisa diketahui secara dini perubahan-perubahan yang
membahayakan, sehingga bias dengan segera dipindah ke ICU untuk dikelola
lebih baik lagi.
2; Pasien yang dimaksud pada point 1 tersebut adalah pasien yang memerlukan
tingkat pelayanan yang berada diantara ICU dan ruang rawat inap biasa (artinya
tidak perlu perawatan ICU namun belum dapat dirawat di ruang rawat inap biasa
karena masih memerlukan pemantauan yang ketat).
3; Waktu penyelenggaraan pelayanan HCU berlangsung selama 24 jam sehari 7
hari seminggu.
4; Ada 3 (tiga) tipe HCU, yaitu:
a; Separated/ conventional/ freestanding HCU adalah HCU yang berdiri sendiri
(independent), terpisah dari ICU.
b; Integrated HCU adalah HCU yang menjadi satu dengan ICU.
c; Paralel HCU adalah HCU yang terletak berdekatan (bersebelahan) dengan
ICU.
HCU Rumah Sakit Khusus Ibu Dan Anak Wijayakusuma termasuk yang
Integrated HCU.
E; Landasan Hukum
1; Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaga
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 nomor 116, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4431);
2; Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4437), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 12
Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
3; Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);
4; Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153 Tambahan Negara Republik
Indonesia Nomor 5072);
5; Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637);
6; Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Propinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);
7; Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ Menkes/ Per/ IV/ 2007 tentang Izin
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran.

BAB II

STANDAR KETENAGAAN
A; Kualifikasi Sumber Daya Manusia
Berikut ini adalah daftar kualifikasi SDM di unit kerja HCU, adapun daftar
kulifikasi ketenagaan dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :
B; Distribusi Ketenagaan
Pengaturan distribusi tenaga kerja di unit HCU Rumah Sakit Khusus Ibu dan
Anak Wiayakusuma berdasarkan shift. Tenaga kerja diunit HCU saat ini berjumlah 4
orang yang memegang tanggung jawab sebagai :
1; Dokter Ruangan : 1 orang
2; Kepala instalasi : 1 orang
3; Perawat Pelaksana : 3 orang
C; Pengaturan Jaga
Pengaturan tenaga kerja di RS. berdasarkan shift dan non shift dapat dibawah ini :
1; Karyawan shift
Senin- Minggu
Shift I : 07.00-14.00
Shift II : 14.00-20.00
Shift III : 20.00-07.00

2; Karyawan non shift


Senin- Sabtu: 07.00-15.30
3; Dokter spesialis Anestesiologi siap 24 jam menangani kasus kegawatan HCU
4; Dokter spesialis konsulen siap 24 jam menangani kasus kegawatan HCU
5; Tenaga perawat siap 24 melayani kasus kegawatan HCU (terlampir)
6; Adapun untuk tata tertib jam kerja adalah sebagai berikut :
a; Batas keterlambatan karyawan dalam satu bulan adalah 30 menit.
b; Apabila keterlambatan melebihi batas toleransi yang diberkan maka
karyawan tersebut akan mendapatkan evaluasi keisiplinan dari atasan
langsung.
c; Apabila terjadi keterlambatan selama 3 bulan dalam satu tahun
karyawan akan diberikan surat peringatan.
d; Izin meninggalkan dinas maksimal adalha 3 jam dalam satu hari kerja
dengan persyaratan mengisi fom izin meninggalkan dinas (IMD) yang
ditanda tangani oleh atasan langsung dan dapat dipertanggung
jawabkan urgencynya.

BAB III
STANDAR FASILITAS

A; Denah Ruang
1; Lokasi
HCU satu komplek dengan kamar bedah. Berdekatan dan atau
mempunyai akses yang mudah ke IGD, Laboratorium dan Radiologi
2; Desain
Desain HCU yaitu :
a; Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar
b; Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan dibatasi
kaca- kaca.
c; Bangunan:
Terisolasi dilengkapi dengan :
; Pasien monitor
; VentilatoR
; AC
; Exhouse fan untuk mengeluarkan udara,
Lantai mudah dibersihkan, keras dan rata,
Tempat cuci tangan yang dapat dibuka dengan siku & tangan
d; Area Pasien
Unit Terbuka : 12- 16 M 2.
Unit Tertutup : 16-20 M 2
Jarak antara tempat tidur : 2 meter
Outlet oksigen, : 1 untuk tiap tempat tidur
Stop Kontak : 2 / Tempat Tidur
e; Area Kerja
Suhu ruangan diusahakan 22-25 C, nyaman , energi tidak
banyak keluar.
R.Dokter & R. Perawat
R.Tempat buang kotoran
R. tempat penyimpanan barang & obat
R. tunggu keluarga pasien
Sumber air, Sumber listrik cadangan/ generator, emergency
lamp,
Suction mobile

3; Almari obat, troli dan alat kesehatan,


4; Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus
5; Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan segala posisi.
6; Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga mudah untuk
mengobservasi pasien
B; Standar Fasilitas

Ruang ICU di RSKIA Wijayakusuma Kebumen dengan kapasitas 3


tempat tidur
Fasilitas dan Alat yang ada di Ruang ICU
a; Fasilitas

No Fasiliatas Jumlah
1. Bed pasien 3
2. Lemari 2
3. AC 2
4. Tempat cuci tangan 1
5. Baju penunggu 2

Alat di ruang ICU

No Alat Jumlah
1. Ventilator 1
2. Infus pump 1
3. Syring pump 1
4. Blood warmer 1
5. Monitor 1
6. Standar infus 2
7. Suction mobile 1
8. Gas O2 2
9. Regulator 2
10. EKG 1

b; Pemeliharaan dan Kalibrasi Alat


Setiap peralatan yang ada baik medis maupun non medis harus
dilakukan pemeliharaan, pebaikan dan kalibrasi alat agar perlatan dapat tetap
terpelihara dan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya.
; Tujuan
a; Agar peralatan yang ada dapat digunakan sesuai dengan fungsi dan
tujuannya.
b; Agar nilai yang dikeluarkan dari alat medis sesuai dengan nilai yang
diinginkan
c; Agar pelalatan yang ada dapat tetap terpelihara dan siap digunakan.
d; Sebagai bahan informasi untuk perencanaan peremajaan peralatan
medis yang diperlukan.
; Prosedur
a; Untuk perbaikan peralatan yang rusak ruang HCU, kepala ruangan
harus membuat permintaan perbaikan di dalalam program RSKIA
Wijayakusuma sebanyak 2 rangkap, dan diantar ke bagian sarana dan
prasarana ( Sapra )
b; Pihak maintenance melihat alat yang rusak dan diperbaiki
c; Setelah alat selesai diperbaiki oleh teknisi, alat dikembalikan ke
Ruang HCU
d; Bila alat tidak dapat diperbaiki oleh maintenance internal, maka alat
diperbaiki oleh meinteneence luar ( melalui bagian Sapra ).
BAB IV
KEBIJAKAN PELAYANAN

A; Kebijakan
1; Pelayanan HCU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis
stabil yang membutuhkan pelayanan, pengobatan, dan
pemantauan secara ketat dalam penggunaan alat bantu
(misalnya ventilator) dan terapi titrasi
2; Ruang lingkup pemantauan yang harus dilakukan antara lain :
Tingkat kesadaran
Fungsi pernapasan dan sirkulasi dengan inteval waktu
minimal 4 (empat) jam atau disesuaikan dengan keadaan
pasien
Oksigenasi dengan menggunakan oksimeter secara terus
menerus
Keseimbangan cairan dengan interval waktu minimal 8
jam atau disesuaikan dengan keadaan pasien
3; Penentuan indikasi pasien yang masuk ke HCU dan pasien yang
tidak dianjurkan untuk dirawat di HCU kriteria sebagai berikut
a; Indikasi masuk
Pasien gagal organ yang berpotensi
mempunyai resiko tinggi untuk terjadi
komplikasi dan tidak memerlukan monitor dan
alat bantu invasif
Pasien yang memerlukan perawatan dan
pengawasan perioperatif
b; Indikasi keluar
Pasien yang tidak lagi membutuhkan
pemantauan yang ketat

Pasien yang cenderung, memburuk, dan atau
memerlukan pemantauan adan alat bantu
invasif sehingga perlu pindah ke ICU
c; Yang tidak perlu masuk HCU
Pasien dengan fase terminar sesuai penyakit
(kanker stadium akhir)
Pasien / keluarga menolak untuk dirawat di
HCU (atas dasar informed conset)
BAB V
TATA LAKSANA PELAYANAN

Tata laksana pelayanan HCU


1; Kriteria masuk HCU
a. Pasien yang memerlukan pelayanan HCU sesuai indikasi adalah :
Pasien dari IGD
Pasien dari Kamar Operasi atau kamar tindakan lain, seperti
kamar bersalin, ruang endoskopi.
Pasien dari bangsal ( Ruang Rawat Inap )
b. Indikasi Masuk
Pasien gagal yang berpotensi mempunyai resiko tinggi untuk
terjadi komplikasi dan tidak merlukan monitor dan alat bantu
invasif.
Pasien yang memerlukan perawatan dan pengawasan
perioperatif.
c. Prosedur Masuk HCU
Dokter penanggung jawab pasien (DPJP) menginformasikan
kepada penanggung jawab pasien terkait kondidi pasien untuk
masuk HCU
Dokter atau perawat mengonsulkan keadaan umum pasien ke
dokter penanggung jawab HCU (dr. anastesi )
Penangung jawab pasien di anjurkan untuk kebagian administrasi
Perawat ruang HCU diinformasikan oleh bagian admission terkait
dengan masuk pasien ke HCU
Memberikan pelayanan
2; Keluar HCU
a. Indikasi keluar
Pasien yang tidak lagi membutuhkan pemantauan yang ketat
Pasien yang cenderung memburuk dan/atau memerlukan
pemantauan dan alat bantu invasife sehingga perlu pindah ke ICU
b. Prosedur Keluar HCU
Dokter penanggung jawab pasien (DPJP) menginformasikan
kepada penanggung jawab pasien terkait kondisi pasien membaik
dan layak pindah ruangan.
Dokter atau perawat mengonsulkan keadaan umum pasien ke
dokter penanggung jawab HCU (dr. anastesi ) bahwa indikasi
pindah ruang
Penangung jawab pasien di anjurkan untuk kebagian administrasi
Perawat ruang HCU diinformasikan oleh bagian admission terkait
dengan pindah kamar di rawat inap
Memindahkan pasien dan Memberikan pelayanan di rawat inap.
3; Yang tidak perlu masuk HCU
Pasienn dengan fase terminal suatu penyakit ( seperti : kanker
stadium akhir )
Pasien atau keluarga yang menolak untuk di rawat di HCU (atas
dasar informed consent ).
BAB VI

LOGISTIK

A; Alat Tulis Kantor

No Nama Barang Jumlah Barang Harga Satuan Harga Total

1 Bolpoint merah 2 Rp. 1.700,00 Rp. 3.400,00

2 Bolpoint hitam 2 Rp. 1.700,00 Rp.3.400,00

3 Pensil 1 Rp. 2.000,00 Rp. 2.000,00

4 Penggaris 30 cm 1 Rp. 2.500,00 Rp. 2.500,00

5 Tipe-x 1 Rp. 5.000,00 Rp. 5.000,00

6 Map Plastik 1 Rp. 2500,00 Rp. 2.500,00

B; Alat Kesehatan

No Nama Barang Jumlah Barang Harga Satuan Harga Total

1 Ventilator 1 Rp. 450.000.000 Rp. 450.000.000

2 Infus pump 1 Rp. 20.000.000 Rp. 20.000.000


3 Syring pump 1 Rp. 17.500.000 Rp 17.500.000

4 Monitor 1 Rp. 18.000.000 Rp. 18.000.000

5 Standar infus 2 Rp 400.000 Rp. 800.000

6 Ambubag 1 Rp. 2.500.000 Rp. 2.500.000

7 Laringoscope 1 Rp. 900.000 Rp. 900.000

8 Suction mobile 1 Rp. 3.500.000 Rp. 3.500.000

C; Barang Inventaris

No Nama Barang Jumlah Barang Harga satuan Harga Total

1 Meja perawat 1 Rp 350.000 Rp 350.000

2 Kursi Perawat 1 Rp 200.000 Rp 200.000

3 Lemari Obat 1 Rp 1.500.000 Rp 1.500.000

4 Troli 1 Rp 700.000 Rp.700.000

5 Al-Quran 1 Rp 45.000 Rp. 45.000

6 Injil 1 Rp. 60.000 Rp. 60.000

7 Kursi penunggu 3 Rp. 150.000 Rp. 450.000

8 Bed Pasien 3 Rp. 13.750.000 Rp.41.250.000

9 Kotak Sirkuit 2 Rp. 35.000 Rp. 70.000


VEntilator

10 Tabung O2 4 Rp. 1.000.000 Rp. 4.000.000


BAB VII

KESELEMATAN PASIEN

A; Definisi
Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu system dimana
rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
B; Tujuan

Tujuan keselamtan pasien :

1; Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah


2; Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat.
3; Menurunnya kejadian tidak diharapakan (KTD) di rumah sakit
4; Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan
C; Standar Pasien Saftey
Standar keselamatan pasien (patient safety) untuk pelayanan IRI / ICU
adalah ketepatan :
1; Label identitas tidak tepat apabila : Tidak terpasang, salah pasang, salah
penulisan nama, salah penulisan gelar (Ny/An), salah jenis kelamin
2; Terpasang gelang identitas pasien rawat inap: Pasien yang masuk ke rawat
inap terpasang gelang identitas
3; Konsul ke dokter via telpon menggunakan metode SBAR
4; Medikasi ketepatan pemberian :
Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah obat, salah dosis, salah jenis, salah
rute pemberian, salah identitas pada etiket, salah pasien.
5; Ketepatan Transfusi :
Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah identitas pada permintaan, salah
tulis jenis produk darah, salah pasien
6; Pasien jatuh :
Tidak ada kejadian pasien jatuh diruang HCU.
BAB VIII

KESELAMATAN KERJA

1; Pengertian
Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat
kerja / aktifitas karyawan lebih aman. Sistem tersebut diharapkan dapat
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun
rumah sakit
2; Tujuan
Terciptanya budaya keselamatan kerja di RS
Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja
Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara
dan proses kerja
Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang
bahaya kecelakaanya menjadi bertambah
3; Tata laksana keselamatan Kerja
Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan
infeksi yaitu :
1; Menganggap bahwa pasien HCU dapat menularkan
2; Menggunakan alat pelindung diri (APD) terutama bila terutama bila
terdapat kontak dengan spesimen yaitu : urine, darah, muntah, sekret
3; Penggunaan APD saat tindakkan medis
4; Pelaksanaan hand hygien saat five moment

BAB IX

PENGENDALIAN MUTU

A; Standar Pelayanan Minimal


1; Pemberi Pelayanan Intensif

Judul Pemberian Pelayanan Intensif

Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas

Tujuan Kesiapan rumah sakit dalam menyediakan


pelayanan intensif

Definisi Operasional Pemberi pelayanan intensif adalah dokter spesialis,


dokter umum dan perawat yang mempunyai
kompetensi sesuai yang dipersyaratkan dalam
persyaratan kelas rumah sakit

Frekuensi Pengumpulan Data Tiga bulan sekali

Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator Jumlah tim yang tersedia

Denominator Tidak ada

Sumber data Unit pelayanan intensif

Standar Sesuai dengan ketentuan kelas rumah sakit

Penanggung Jawab pengumpulan data Kepala instalsi Intensif

2; Ketersediaan Fasilitas dan Peralatan Ruang

Judul Ketersediaan Fasilitas dan peralatan Ruang

Dimensi Mutu Keselamatan dan efektifitas

Tujuan Kesiapan fasilitas dan peralatan rumah sakit untuk


memberikan pelayanan intensif

Definisi Operasional Fasilitas dan peralatan pelayanan intensif adalah


ruang, mesin, dan peralatan yang harus tersedia
untuk pelayanan intensif baik sesuai dengan
persayaratan kelas rumah sakit

Frekuensi Pengumpulan Data Tiga bulan sekali

Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator Jenis dan jumlah fasilitas dan peralatan pelayanan


intensif

Denominator Tidak ada

Sumber Data Inventaris ruangan

standar Sesuai dengan kelas rumah sakit

Penanggung jawab pengumpulan data Kepala instalasi ruangan

3; Ketersediaan Tempat tidur dengan Monitoring dan Ventilator


Judul Ketersediaan tempat tidur dengan Monitoring
dan ventilator

Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas

Tujuan Kesiapan fasilitas dan peralatan rumah sakit untuk


memberikan pelayanan

Definisi Operasiinal Tempat tidur ruang intensif adalah tempat tidur yang
dapat diubah posisi yang dilengkapi monitoring dan
ventilator

Frekuensi Pengumpulan data Tiga bulan sekali

Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator jumlah tempat tidur yang dilengkapi dengan


peralatan monitoring dan ventilator

denominator Tidak ada

Sumber data Inventaris ruangan

Standar Sesuai dengan kelas rumah sakit

Penanggung jawab pengumpulan data Kepala instalasi ruangan

4; Kepatuhan terhadap Hand Hygien

Judul Kepatuhan terhadap hand hygien

Dimensi mutu Keselamatan

Tujuan Menjamin hygien dalam melayani pasien diruang


intensif

Definisi Operasional Hand hygien adalah prosedur cuci tangan sesuai


dengan ketentuan

Frekuensi Pengumpulan Data Tiga bulan sekali

Periode Analisa Tiga bulan sekali

Numerator Jumlah perawat yang diamati dan memenuhi


prosedur hand hygien
Denomiantor Jumlah seluruh perawat yang diamati

Sumber data 100%

Standar Sesuai dengan kelas rumah sakit

Penanggung jawab pengumpul data Kepala instalasi

BAB X

PENUTUP

Petunjuk teknis penggunaan High Care Unit ini disusun dalam rangka
memberikan acuan bagi Rumah Sakit Khusus Ibu Dan Anak Wijayakusuma dalam
menyelenggarakan pelayanan yang bermutu, aman, efektif dan efisien dengan
mengutamakan keselamatan pasien. Pedoman pelayanan ini mempunyai peranan
yang penting sebagai pedoman, sehingga mutu pelayanan yang di berikan kepada
pasien dapat terus meningkat.

Penyusunan Pedoman Pelayanan High Care Unit ini adalah suatu langkah
awal kesuatu proses yang panjang, sehingga memerlukan dukungan dan kerjasama
dari berbgai pihak dalam penerapannya untuk mencapai tujuan.