Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PORTOFOLIO EMERGENCY

TETANUS GENERALISATA

Disusun Oleh:
dr. Asti Pramita Sari

Pendamping:
Dr. Hj. Umi Aliyah, MARS

RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN


2016
Nama peserta : dr. Asti Pramita Sari
Nama wahana: Rumah Sakit Muhammadyah Lamongan
Topik: Tetanus Generalisata
Tanggal (kasus): 15 Oktober 2016
Nama Pasien: Tn. K No. RM: 32.94.94
Tanggal presentasi: Nama pendamping: 1. dr. H.Umi Aliyah,MARS
2. dr. Suhariyanto, Sp.BS
Tempat presentasi: Rumah Sakit Muhammadyah Lamongan
Obyektif presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Tn. K. 66 tahun dengan Tetanus Generalisata
Tujuan: mengetahui terapi yang tepat
Bahan bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi Email Pos
dan diskusi
Data pasien: Nama: Tn. K Nomor RM: 32.94.94
Nama klinik: Rumah Sakit Telp: - Terdaftar sejak: 15 Oktober
Muhammadyah Lamongan 2016
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis / gambaran klinis:
Kaki kaku sejak 2 hari yang lalu, kaku dirasakan sampai ke pusar. Pasien sulit
membuka mulutnya dan leher terasa kaku, serta sulit untuk menelan.
2. Riwayat pengobatan: Pasien belum pernah berobat sebelumnya. Kurang lebih 1
minggu yang lalu, pasien melakukan operasi kecil menghilangkan mata ikan di klinik
dekat rumah.
3. Riwayat kesehatan / penyakit:
Pasien memiliki riwayat asam urat sejak 1 tahun yang lalu. Riwayat tertusuk
paku sebelumnya disangkal.
4. Riwayat keluarga:
HT dan DM disangkal, tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama
dengan pasien.
5. Riwayat Pernikahan :
Pasien baru menikah 1x selama 40 tahun, memiliki 2 anak laki-laki.
6. Riwayat Pekerjaan dan Sosial :
Pasien bekerja sehari-sehari sebagai petani di sawah miliknya sendiri. Rutin minum
kopi kurang lebih 10 gelas per hari.
7. Lain-lain:
Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum : pasien tampak sakit berat
TB : 175cm
BB : 55kg
Tanda Vital
Nadi : 107 kali/ menit
Tekanan darah : 126/68 mmHg
Suhu : 37,30 C
Nafas : 18 kali / menit
GCS 456
Kepala Leher : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, sianosis -/-, dispnea -/-,
pembesaran KGB , trismus +
Thoraks : pergerakan hemithoraks kanan dan kiri simetris, retraksi -/-, jejas -/-,
spider naevi -, ginekomasti
Paru : Bunyi nafas vesikuler/vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
Cor : Bunyi jantung S1, S2 normal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Defans muskular +, flat, meteorismus (-), bising usus (+) nomal, hepar
dan lien tidak teraba, nyeri tekan -
Ekstremitas : anemis -/-, ikterik -/-, edema -/-, akral hangat, kering

Status Neurologis
Rangsang Meningeal : kaku kuduk +, laseque sign+, kernig sign +
Refleks Fisiologis : refleks biceps, triceps dan patella +2
Refleks Patologis : babinski -, chaddock , Hoffman -, Tromner
Nervus Cranialis : dalam batas normal

Pemeriksaan Penunjang
RO Thorax
Hasil Pemeriksaan : Cor besar dan bentuk normal
Pulmo tak tampak fibrinoinfiltrat
Kesimpulan : Foto thorax tak tampak kelainan
RO Vertebrolumbal AP/Lat
Hasil Pemeriksaan : Alignment baik, curve normal, Trabekulasi tulang normal, Lipping
L1-5, pedicle and spatium intervertebralis tampak baik, Tak tampak erosi tulang, Tak
tampak destruksi tulang.
Kesimpulan : spondylosis lumbalis

Pemeriksaan Laboratorium Darah


Eritrosit 3,55x 106 / L (3,80-5,30)
Hemoglobin 10,5 mg / dL (14,0-18,0)
MCV 89,60 fl (87,00-100,00)
MCH 29,50 pg (28,00-36,00)
MCHC 33,10 % (31,00-37,00)
Hematokrit 31,8 % (40,0-54,0)
Leukosit 12,7 x 103 / L (4,0-11,0)
Hitung jenis : Basofil 1,6 % (0,0-1,0)
Eosinofil 4,8 % (1,0-2,0)
Neutrofil 85,4 % (49,0-67,0)
Limfosit 8,7 % (25,0-33,0)
Monosit 2,5 % (3,0-7,0)
Trombosit 5301 x 103 / L (150-450)
HbsAg negatif
SGOT 63 IU (0-37)
SGPT 25 IU (0-41)
Natrium 134 mEq / L (135-155)
Kalium 5,1 mEq / L (3,6-5,5)
Clorida 101 mEq / L (70-108)
Gula Darah Acak 90 mg /dL
Daftar pustaka:
1. Sumiardi Karakata, Bob Bachsinar; Bedah Minor, edisi 2,J akarta : Hipokrates,1995
2. Ismael Chairul ; Pencegahan dan Pengelolaan Tetanus dalam bidang bedah : UNPAD,
2000
3. Hendarwanto. llmu Penyakit Dalam, jilid 1, Balai Penerbit FK UI, Jakarta: 2001, 49-
51.
4. Mardjono, mahar. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat, Jakarta:2004. 322.
5. http://emedicine.medscape.com/article/786414-overview
6. BUKU Ajar Ilmu Bedah . De Jong dkk. Ed 2 , Jakarta, 2004
Hasil pembelajaran:
1. Subyektif : Tn. K 66th datang dengan keluhan utama kaki terasa kaku sejak 2 hari
yang lalu, kaku dirasakan sampai ke pusar. Pasien sulit membuka mulutnya dan leher
terasa kaku, serta sulit untuk menelan. Pasien belum pernah berobat sebelumnya.
Kurang lebih 1 minggu yang lalu, pasien melakukan operasi kecil menghilangkan mata
ikan di klinik dekat rumah. Riwayat tertusuk paku sebelumnya disangkal.
2. Obyektif: hasil pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung didirikannya diagnosa
Tetanus Generalisata
3. Assestment: berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang,
dapat ditegakkan diagnosis Tetanus Generalisata
4. Plan:
a. Rawat Inap
b. Obat-obatan yang diberikan
IGD IVFD Asering 1500cc/24 jam, Inj. Santagesic 3x1gr iv, Inj.
Metilcobalamin 1 amp iv, Inj. Acran 2x50mg iv.
Bangsal IVFD RL 1500cc/24 jam, inj PPC 2x1,5jt Unit i.m, Inj. Tetagam
1500 IU i.v, Inj. Diazepam 4 amp/24 cc/24 jam, Inj. Antrain 3x1gr iv, Drip NSB
1x1 amp.
c. Dan lain-lain : saat di bangsal pasien kejang terus-menerus pro ICU dengan
ventilator

Pembelajaran Portofolio
Penatalaksanaan tetanus
Terdiri atas :
1. Pemberian antitoksin tetanus
2. Penatalaksanaan luka
3. Pemberian antibiotika
4. Penanggulangan kejang
5. Perawatan penunjang
6. Pencegahan komplikasi
Pemberian antitoksin tetanus. Pemberian serum dalam dosis terapetik untuk ATS bagi orang
dewasa adalah sebesar 10.000 20.000 IU IM dan untuk anak anak sebesar 10.000 IU IM,
untuk hypertet bagi orang dewasa adalah sebesar 300 IU 6000 IU IM dan bagi anak anak
sebesar 3000 IU IM. Pemberian antitoksin dosis terapetik selama 2 5 hari berturut turut.
Penatalaksanaan luka. Eksisi dan debridemen luka yang dicurigai harus segera dikerjakan 1
jam setelah terapi sera (pemberian antitoksin tetanus). Jika memungkinkan dicuci dengan
perhydrol. Luka dibiarkan terbuka untuk mencegah keadaan anaerob. Bila perlu di sekitar luka
dapat disuntikan ATS.
Pemberian antibiotika. Obat pilihannya adalah Penisilin, dosis yang diberikan untuk orang
dewasa adalah sebesar 1,2 juta IU/8 jam IM, selama 5 hari, sedang untuk anak anak adalah
sebesar 50.000 IU/kg BB/hari, dilanjutkan hingga 3 hari bebas panas. Bila penderita alergi
terhadap penisilin, dapat diberikan tetrasiklin. Dosis pemberian tetrasiklin pada orang dewasa
adalah 4 x 500 mg/hari, dibagi dalam 4 dosis. Pengobatan dengan antibiotika ditujukan untuk
bentuk vegetatif clostridium tetani, jadi sebagai pengobatan radikal, yaitu untuk membunuh
kuman tetanus yang masih ada dalam tubuh, sehingga tidak ada lagi sumber eksotoksin. ATS
atau HTIG ditujukan untuk mencegah eksotoksin berikatan dengan susunan saraf pusat
(eksotoksin yang berikatan dengan susunan saraf pusat akan menyebabkan kejang, dan sekali
melekat maka ATS / HTIG tak dapat menetralkannya. Untuk mencegah terbentuknya eksotoksin
baru maka sumbernya yaitu kuman clostridium tetani harus dilumpuhkan, dengan antibiotik.
Penaggulangan Kejang. Dahulu dilakukan isolasi karena suara dan cahaya dapat menimbulkan
serangan kejang. Saat ini prinsip isolasi sudah ditinggalkan, karena dengan pemberian anti
kejang yang memadai maka kejang dapat dicegah.
Jenis Obat Dosis Anak anak Dosis Orang Dewasa
Fenobarbital Mula mula 60 100 mg IM, 3 x 100 mg IM
(Luminal) kemudian 6 x 30 mg per oral.
Maksimum 200 mg/hari
Klorpromazin 4 6 mg/kg BB/hari, mula mula 3 x 25 mg IM
(Largactil) IM, kemudian per oral
Diazepam Mula mula 0,5 1 mg/kg BB 3 x 10 mg IM
(Valium) IM, kemudian per oral 1,5 4
mg/kg BB/hari, dibagi dalam 6
dosis
Klorhidrat 3 x 500 100 mg per
rectal
Bila kejang belum juga teratasi, dapat digunakan pelemas otot (muscle relaxant) ditambah alat
bantu pernapasan (ventilator). Cara ini hanya dilakukan di ruang perawatan khusus (ICU
= Intesive Care Unit) dan di bawah pengawasan seorang ahli anestesi.
Perawatan penunjang. Yaitu dengan tirah baring, diet per sonde, dengan asupan sebesar 200
kalori / hari untuk orang dewasa, dan sebesar 100 kalori/kg BB/hari untuk anak anak,
bersihkan jalan nafas secara teratur, berikan cairan infus dan oksigen, awasi dengan seksama
tanda tanda vital (seperti kesadaran, keadaan umum, tekanan darah, denyut nadi, kecepatan
pernapasan), trisnus (diukur dengan cm setiap hari), asupan / keluaran (pemasukan dan
pengeluaran cairan), temperatur, elektrolit (bila fasilitas pemeriksaan memungkinkan),
konsultasikan ke bagian lain bila perlu.

Pendamping, Pendamping,

(dr. H.U mi Aliyah,MARS) (dr. Suhariyanto, Sp.BS)