Anda di halaman 1dari 12

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan tipe penelitian penjelasan (explanatory

research), yaitu penelitian yang bertujuan menjelaskan hubungan atau pengaruh

antara satu variabel dengan variabel yang lain melalui pengujian hipotesis

(Sekaran, 2006). Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kelemahan

sistem pengendalian intern, temuan ketidakpatuhan atas ketentuan perundang-

undangan dan kerugian negara terhadap pemberian opini audit laporan keuangan

pemerintah daerah. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model

regresi logistik ordinal dari alat pengolahan data statistik berbantuan komputer

yaitu SPSS versi 22.0.

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi (population) merupakan keseluruhan kelompok orang, kejadian,

atau hal minat yang ingin peneliti investigasi (Sekaran, 2006). Populasi penelitain

ini yaitu seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia, yaitu Kabupaten/Kota

seluruh Indonesia yang memperoleh opini audit dari BPK yang tepat waktu baik

pada semester 1 maupun semester 2 dengan jumlah total 1559 sampel. Penelitian

ini tidak bermaksud untuk mengeneralisasi suatu permasalahan tetapi untuk

menguji pengaruh antar variabel sehingga seluruh Kabupaten/Kota dijadikan

sampel dalam penelitian ini.

38
39

3.3 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder adalah data

yang diterbitkan atau digunakan oleh pihak lain yang bukan pengolahnya (Siregar,

2010: 128). Metode pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan

metode dokumentasi dan studi pustaka yaitu dengan mengumpulkan lalu

mempelajari data yang diambil dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik

Indonesia (BPK RI), kemudian menelaah kembali data teoritis serta informasi dari

penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Data yang digunakan

dalam penelitian ini menggunakan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI

atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun pemeriksaan 2011

hingga 2013 dan Iktisar Hasil Pemeriksaan Semester 1 dan 2 BPK RI tahun 2011

hingga 2013.

3.4 Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Pengukuran Variabel

3.4.1 Variabel Dependen

Variabel Terikat (Dependent Variabel) merupakan variabel yang

dipengaruhi variabel lain baik secara positif maupun secara negatif (Sekaran:

2006). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah opini BPK atas laporan

keuangan pemerintah daerah. Opini BPK merupakan pernyataan profesional

pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang tersaji dalam laporan

keuangan. Opini BPK secara berurutan terdiri dari opini Wajar Tanpa

Pengecualian (WTP), Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelas (WTP-

DPP), Wajar Dengan Pengecualian (WDP), Tidak Wajar (TW), Tidak Memberi
40

Pendapat (TMP) sehingga pemberian scoring tingkat opini tertinggi mendapat

point 5 yaitu WTP dan tingkat terendah TMP mendapat point 1.

3.4.2 Variabel Independen

Variabel Bebas (Independent Variabel) merupakan variabel yang

mempengaruhi variabel lain baik secara positif maupun secara negatif (Sekaran:

2006). Temuan audit merupakan yang diukur dengan indikaror jumlah kasus dan

nilai temuan. Indikator jumlah kasus dan nilai temuan dijadikan sebagai alat

analisis temuan audit dimasa lalu yang hasil dari analisis tersebut dapat

menggambarkan jumlah kasus dan nilai temuan yang muncul ditiap entitas.

Variabel bebas dari penelitian ini adalah kelemahan sistem pengendalian intern,

ketidakpatuhan atas ketentuan peraturan perundang-undangan laporan keuangan

pemerintah daerah dan kerugian negara.

3.4.2.1 Kelemahan Sistem Pengendalian Intern

Hasil evaluasi Sistem Pengendalian Intern (SPI) oleh BPK menunjukkan

kasus-kasus kelemahan sistem pengendalian intern yang dapat dikelompokkan

sebagai kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan, kelemahan

sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja, serta

kelemahan struktur pengendalian intern. Variabel kelemahan sistem pengendalian

intern LKPD diukur dengan menghitung jumlah kasus kelemahan sistem

pengendalian intern atas LKPD yang dilaporkan BPK. Selanjutnya variabel

Kelemahan Sistem Pengendalian Intern diproksikan menjadi Kelemahan Sistem

Pengendalian Akuntasi dan Pelaporan (KSPAP), Kelemahan Sistem Pengendalian


41

Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja (KSPPAPB), Kelemahan Struktur

Pengendalian Intern (KStPI) ini akan disimbolkan dalam persamaan.

3.4.2.2 Temuan Ketidakpatuhan atas Peraturan Perundang-undangan

Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah daerah mengenai

kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan mengungkapkan

ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang

mengakibatkan kerugian daerah, potensi kerugian daerah, kekurangan

penerimaan, administrasi, ketidakekonomisan, ketidakefisienan, dan

ketidakefektifan. Variabel ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan

perundang-undangan LKPD diukur dengan menghitung jumlah kasus

ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan atas LKPD

yang dilaporkan BPK. Selanjutnya variabel Temuan Ketidakpatuhan terhadap

Ketentuan Perundang-undangan diproksikan dengan jumlah kasus dan nilai

ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan yang terdiri dari temuan

kerugian daerah (KKP & NKD), potensi kerugian daerah (KPKD & NPKD),

kekurangan penerimaan (KKP & NKP), penyimpangan administrasi (KAdm),

ketidakhematan (KKth & NKth), ketidakefisienan (KKefi & NKefi), dan

ketidakefektifan (KKefe & NKefe) ini akan disimbolkan dalam persamaan.

3.4.2.3 Temuan Kerugian Negara

Lemahnya pengendalian internal sehingga mengakibatkan sebuh tindak

ketidakpatuhan terhadap ketentuan perundangan undangan juga merupakan salah

satu bentuk kecurangan yang dapat diklasifikasikan sebagai penyalahgunaan


42

kewenangan dalam perencanaan serta pengendalian dalam pelaporan. Kerugian

negara/daerah atau kerugian yang terjadi pada perusahaan milik negara/daerah

adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa/daerah uang, surat berharga, dan

barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum

baik sengaja maupun kelalaian. Variabel kecenderngan kecurangan diukur dengan

menghitung jumlah hasil temuan yang mengakibatkan kerugian atau potensi

kerugian negara/daerah, tidak mengurangi hak negara/daerah (kekurangan

penerimaan) yang terdiri dari kasus dan nilai kerugian negara (TKN & NKN) ini

akan disimbolkan dalam persamaan.

3.5 Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan pengujian statistik deskriptif dan pengujian

regresi logistik ordinal untuk menganalisis data. Alat bantu dalam penelitian ini

menggunakan piranti lunak/software SPSS 22.0. SPSS 22.0 merupakan piranti

lunak yang digunakan untuk menganalisa data stastistik sehingga data dapat

diolah, ditampilkan, dan dimanipulasi sehingga dapat menghasilkan output berupa

tampilan yang menggambarkan informasi atas data yang diolah. Untuk mencari

hubungan dan pengaruh antara variabel-variabel dalam penelitian ini, peneliti

mengunakan uji analisis korelasi pearson dan analisis regresi logistik ordinal

(Ordinal Logistic Regression). Korelasi pearson digunakan untuk mengukur

kekuatan asosiasi (hubungan) linier antara dua variabel. Korelasi tidak

menunjukkan atau membedakan antara variabel dependen dan variabel

independen, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh antar variabel

secara langsung. Regresi logistik ordinal digunakan karena variabel dependen


43

dalam penelitian ini berbentuk data nominal yang lebih dari 2 (dua) dengan

peringakt nilai. Analisis regresi logistik tidak memerlukan asumsi normalitas data

dan tidak perlu membuktikan asumsi kalsik seperti multikolonieritas, autokorelasi,

dan heterokedastisitas (Ghozali, 2013).

3.5.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai

distribusi dan perilaku data yang menjadi sampel penelitian (Ghozali, 2013).

Pengujian statistik deskriptif pada penelitian ini meliputi mean, standar deviasi,

nilai maksimum, dan minimum. Mean yaitu nilai rata-rata hitung. Standar deviasi

memperlihatkan penyebaran atau keberagaman data. Nilai maksimum

menunjukkan nilai data terbesar dan nilai minimum menunjukkan nilai data

terkecil.

3.5.2 Uji Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian diuji dengan menggunakan uji analisis

korelasi pearson dan analisis regresi logistik ordinal.

3.5.2.1 Uji Korelasi Pearson

Korelasi Pearson merupakan salah satu ukuran korelasi yang digunakan

untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan linier dari dua veriabel. Dua

variabel dikatakan berkorelasi apabila perubahan salah satu variabel disertai

dengan perubahan variabel lainnya, baik dalam arah yang sama ataupun arah yang

sebaliknya.
44

Nilai koefisien korelasi yang kecil (tidak signifikan) bukan berarti kedua

variabel tersebut tidak saling berhubungan. Mungkin saja dua variabel

mempunyai keeratan hubungan yang kuat namun nilai koefisien korelasinya

mendekati nol, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, koefisien korelasi

digunakan hanya untuk mengukur kekuatan hubungan linier dan tidak pada

hubungan non linier. Adapun karakteristik korelasi pearson yaitu:

- Nilai korelasi selalu terletak antara -1 dan +1

- Nilai korelasi tidak berubah apabila seluruh data baik pada variabel x,

variabel y, atau keduanya dikalikan dengan suatu nilai konstanta (c) tertetu

(asalkan c 0).

- Nilai korelasi tidak berubah apabila seluruh data baik pada variabel x,

variabel y, atau keduanya ditambahkan dengan suatu nilai konstanta (c)

tertentu.

- Nilai korelasi tidak akan dipengaruhi oleh penentuan mana variabel x dan

mana variabel y. Kedua variabel bisa saling dipertukarkan.

- Nilai korelasi hanya untuk mengukur kekuatan hubungan linier, dan tidak

dirancang untuk mengukur hubungan non linier. Sejumlah penulis statistik

membuat kategori interval kekuatan korelasi seperti D.A. de Vaus (2005)

dalam Basri (2011) sebagai berikut.

0,00 : Tidak ada korelasi

0,00 0,09 : Korelasi kurang berati

0,10 0,29 : Korelasi lemah


45

0,30 0,49 : Korelasi moderat

0,50 0,69 : Korelasi kuat

0,70 0,89 : Korelasi sangat kuat

>0,90 : Korelasi mendekati sempurna

3.5.2.2 Analisis Regresi Logistik Ordinal

Analisis regresi logistik ordinal digunakan untuk mengetahui hubungan

satu variabel dependen berbentuk data ordinal lebih dari 2 (dua) dan menunjukkan

peringkat dari yang baik menuju yang kurang baik, dalam penelitian ini

mengunakan opini BPK yaitu WTP = 5, WTP-DPP = 4, WDP = 3, TW = 2,

TMP = 1. Berikut adalah model matematik regresi logistik yang digunakan dalam

pengujian penelitian ini:

= + 1 + 2 + 3+ 4 + 5

+ 6 + 7 + 8 + 9+ 10

+ 11 + 12 + 13 + 14 + 15

+ 16+ 17 + 18 +

Keterangan:

OPINI : Opini Audit BPK RI

1, 2, . . . 16 : Koefisienregresi

: Errors

KSPAP : Kelemahan Sistem Pengendalian Akuntansi dan Pelaporan

KSPPAPB : Kelemahan Sistem Pengendalian Pelaksanaan Anggaran


46

Pendapatan Belanja

KStPI : Kelemahan Struktur Pengendalian Intern

KKD : Kasus Kerugian Daerah

KPKD : Kasus Potensi Kerugian Daerah

KKP : Kasus Kekurangan Penerimaan

KAdm : Kasus Administrasi

KKth : Kasus Ketidakhematan

KKefi : Kasus Ketidakefisienan

KKefe : Kasus Ketidakefektifan

NKD : Nilai Kerugian Daerah

NPKD : Nilai Potensi Kerugian Daerah

NKP : Nilai Kekurangan Penerimaan

NKth : Nilai Ketidakhematan

NKefi : Nilai Ketidakefisienan

NKefe : Nilai Ketidakefektifan

KKD : Temuan Kerugian Negara

NKD : Nilai Kerugian Negara

Atas estimasi parameter dari model tersebut, dilakukan pengujian

hipotesis dengan cara membandingkan antara tingkat signifikansi (sig) dengan

tingkat kesalahan (a) = 5% yang terdapat pada rincian dari variabel independen.

Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu telah dilakukan uji regresi logistik

ordinal yang meliputi uji Likehood L (Model Fitting Information), Goodness of

Fit, Negelkerke R-Square dan Test of Parallel Lines dengan menggunakan fungsi
47

Link Function Cauhit. Sedangkan Link Function Cauhit digunakan pada distribusi

data yang memiliki kecenderungan variabel latent bernilai ekstrem.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam analisis uji regresi logistik

ordinal adalah sebagai berikut :

1) Uji Likelihood L

Uji Likelihood L digunakan untuk menilai keseluruhan model (overall

model fit) apakah fit terhadap data dan layak digunakan untuk analisis selanjutnya.

Likelihood L dari model adalah probabilitas bahwa model yang dihipotesiskan

menggambarkan data input dan menunjukkan apakah dengan adanya penambahan

variabel ke dalam model akan memperbaiki model fit dalam memprediksi variabel

dependen. Untuk menguji hipotesis nol dan alternatif, Likelihood L diubah

menjadi -2LogL atau disebut dengan Likelihood rasio statistik (Ghozali, 2013).

Hipotesis untuk menilai keseluruhan model :

H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data

H1 : Model yang dihipotesisikan tidak fit dengan data

Keseluruhan model fit ditunjukkan oleh Log Likelihood Value (-2LogL)

yaitu dengan membandingkan antara -2LogL pada awal dimana model hanya

memasukkan konstanta (block 0) dengan -2LogL dimana model memasukkan

konstanta dan variabel independen (block 1). Apabila nilai -2LogL pada block 0 >

-2LogL pada block 1 maka model dikatakan semakin baik. Jika terdapat

pengurangan nilai antara -2LogL awal dengan nilai -2LogL pada langkah

berikutnya menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan fit dengan data

(Ghozali, 2013).
48

2) Uji Goodness-of-Fit

Uji Goodness of Fit dilakukan untuk menilai kelayakan model regresi

(goodness of fit test), apakah tidak ada perbedaan antara model dengan data

observasi.

a) Jika probabilitas (sig.) pada Pearson Deviance > 0.1 atau nilai chi-square

statistik < chi-square tabel maka H0 diterima atau tidak ada perbedaan antara

model dengan data observasi, sehingga model dikatakan baik karena dapat

memprediksi nilai observasinya.

b) Jika probabilitas (sig.) pada Pearson Deviance < 0.1 atau nilai chi-square

statistik > chi-square tabel maka H0 ditolak yang berarti bahwa terdapat

perbedaan antara model dengan data observasinya sehingga model dikatakan

tidak baik karena tidak mampu memprediksi nilai observasinya.

3) Uji Nagelkerke R2

Nilai Nagelkerke R2 sama dengan nilai R2 pada regresi linear berganda.

Uji Nagelkerke R2 digunakan untuk mengetahui presentase sumbangan pengaruh

variabel independen secara serentak terhadap variabel dependen. Nilai Nagelkerke

R2 bernilai anatara 0 sampai dengan 1. Jika nilai Nagelkerke R2 kecil, maka

sumbangsih yang diberikan oleh variabel-variabel independen juga sedikit. Jika

Nagelkerke R2 mendekati satu, maka variabel-variabel independen hampir

memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk menjelaskan variabel

dependen.
49

4) Uji Parallel Lines

Uji Test of Parallel Lines digunakan untuk menguji asumsi bahwa setiap

kategori memiliki parameter yang sama atau tidak dalam hubungan antara

variabel independen. Nilai yang diinginkan adalah tidak signifikan yaitu p.value >

0,05. Jika hasil parallel line menunnjukkan nilai p<0,000, maka hal tersebut

berarti model tidak cocok. Ketidak cocokan model ini dapat disebabkan karena

salah dalam memilih link function atau kesalahan dalam membuat peringkat

kategori.