Anda di halaman 1dari 41

1.

TAHAP-TAHAP PENELITIAN SEJARAH


Langkah-Langkah dalam Penelitian sejarah
a. Heuristik
Heuristik adalah tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topic
atau judul penelitian. Sumber-sumber menurut sifat nya terbagi menjadi dua, yakni sumper primer
yakni sumber yang berasal dari pelaku atau saksi mata peristiwa sejarah, sedangkan yang kedua
adalah sumber sekunder yakni sumber yang berada di luar sumber sejarah.
b. Verifikasi
Verifukasi adalah penilaian terhadap sumber sejarah. Verifikasi dalam sejarah memilki
pengertian pemeriksaan kebenaran terhadap laporan tentang suatu peristiwa sejarah. Verifikasi atau
kritikan merupakan penilaian terhadap sumber-sumber sejarah yang menyangkut aspek ekstern dan
intern.
Aspek ekstern mempersoalkan apakah sumber tersebut asli atau palsu. Karena dalam kritik
ekstern menyangkut keaslian atau keautentikan bahan yang dipergunakan dalam pembuatan sumber
sejarah, maka sejarawan harus mampu menguji keakuratan dokumen sejarah tersebut. Misalnya
waktu pembuatan document, bahan atau materi document, dan sebagainya. Adapun aspek intern
adalah menyangkut isi sumber, apakah sumber dapat meberikan informasi yang dibutuhkan, dalam
hal ini proses analisis terhadap suatu document.
Aspek intern harus dapat menjawab menjawab pertanyaan berikut.
Apakah sumbertersebut adalah sumber yang dikehendaki (autentisitas)?
Apakah sumber tersebut asli atau turunan (originalitas)?
Apakah sumbertersebut masih utuh atau sudah diubah (integritas)?
Jika sumber tersebut telah memenuhi aspek ekstern maka dilakukan lah kritik intern. Tujuan nya
adalah untuk mebuktikan bahwa informasi yang terkandung dlam sumber tersebut dapat dipercaya.
Maka dilakukan penelitian intrinsic dengan membandingkan isi sumber dengan kesaksian-kesaksian
berbagai sumber lain.
c. Interprestasi
Interprestasi adalah penafsiran fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut menjadi kesatuan yang
harmonis dan masuk akal atau memberikan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa.
Penafsiran fakta harus secara logis kedalam keseluruhan konteksperistiwa. Sehingga fakta yang
lepas satusama lainnya disusun dan di hubungkan menjadi satu kesatuan yang masuk akal. Serta
dalam proses interprestasi haruslah bersifat selektif karena tidak mungkin semua fakta dimasukan
kedalam cerita sejarah. Maka yang dipilih harus relevan dengan topic yang ada dan mendukung
kebenaran sejarah.
d. Historiografi
Hitoriografi adalah penulisan sejarah. Historiografi meripakan penyusunan dan perangkaian
fakta-fakta hasil penelitian serta penyampaian pendirian dan pikiran.
Ada tiga bentuk penulisan sejarah berdasarkan ruang dan waktu. Pertama, sejarah tradisional
yang cirinya adalah lebih kuat dalam hal genealogi tetapi tidak kuat dalam hal kronologi dan detail
biografis, tekanannya penggunaan sejarah sebagai bahan pengajaran agama, adanya khingship
(konsep mengenai raja-raja), pertimbangan kosmologis, dan antropologis. Sejarah colonial cirinya
adalah nederlandosentris (eropasentris) tekanannya pada aspek politik, ekonomi, institusional.
Sedangkan sejarah nasional cirinya adalah penggunaan metode ilmiah secara terampil dan penulisan
sejarah untuk kepentingan nasionalisme.

2. PENGERTIAN SEJARAH
Sejarah akan senantiasa membahas masyarakat dari segi waktu. Karena itu sejarah dapat
dikatakan sebagai ilmu tentang waktu. Sebagai ilmu tentang masa lampau (sesuatu yang sudah terjadi),
berarti sejarah itu ilmu empiris.
Dalam memahami sejarah sebagai ilmu, untuk memudahkan memberikan pemahaman, maka ada
tiga pengertian tentang sejarah itu sendiri.
a. Sejarah sebagai peristiwa
berarti suatu kejadian di masa lampau, atau sesuatu yang sudah terjadi, dan hanya sekali terjadi
(einmalig), tidak bisa diulang. Peristiwa yang bersifat absolute dan objektif.
b. Sejarah sebagai Kisah
Sejarah sebagai hasil rekontruksi dari suatu peristiwa oleh para sejarawan. untuk mewujudkan
sejarah sebagai kisah maka disusunlah fakta-fakta yang diperoleh atau dirumuskan dari sumber
sejarah untuk dilakukan proses rekontruksi dengan metode dan metodologi sejarah.
c. Sejarah sebagai ilmu.
Sejarah sebagai ilmu sudah bersifat empiris, memiliki objek, tujuan dan memiliki metode. Dengan
penjelasan sebagai berikut.
empiris, ilmu sejarah melakukan kajian atau peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi pada
masa lampau.
objek, objek dari penulisan sejarah adalah perubahan atau perkembangan aktivitas manusia.
Karena objeknya terkait manusia, maka ilmu sejarah dimasukkan dalam ranah ilmu-ilmu
humaniora.
teori, sejarah memiliki teori atau yang disebut sebagai filsafat sejarah kritis.
generalisasi, dalam setiap stusi dari suatu ilmu kemudian ditarik suatu kesimpulan.
Kesimpulan tersebut biasanya kesimpulan umum atau general.
Kesimpulan dari ilmu sejarah adalah kesimpulan yang lebih mendekati pola-pola atau
kecenderungan dari suatu peritiwa. Kesimpulan sejarah tidak bisa diakui sebagai kebenaran
dimana-mana. Tetapi kesimpulan sejarah sebagai koreksi atas kesimpulan ilmu lainnya haruslah
dimiliki untuk berlaku hati-hati adalam penelitian dan menarik suatu kesimpulan
d. Sejarah sebagai seni
Sejarawan tidak bisa sembarangan menghadirkan peristiwa sejarah sebagai kisah sejarah. Kisah
sejarawan akan memiliki daya tarik tersendiri apabila sejarawan memiliki intuisi, imajinatif, emosi
dan gaya bahasa yang baik. Intuisi diperlukan oleh sejarawan saat memilih topik hingga merangkai
seluruh fakta menjadi sebuah kisah. Imajinatif sejarawan digunakan untuk menyususun fakta-fakta
sejarah yang berhasil ditemukan agar menjadi utuh dan bulat sehingga mudah dipahami.
Kontruksi atau gambaran sejarawan tentang sebuah peristiwa jelas tidak bisa sama persis dengan
peristiwa yang sebenarnya sehingga sejarawan membutuhkan imajinatif untuk merangkai fakata-
fakta sejarah yang sudah tersedia. Oleh Karena itu, sejarawan memiliki emosi untuk menyatukan
perasaan dengan objeknya agar para pembaca seolah-olah terlibat langsung dengan suatu peristiwa
sejarah. Akhirnya, seluruh pengisahan sejarah harus didukung dengan penggunaan gaya bahasa
yang lugas dan hidup.

3. JENIS MANUSIA PURBA


Fosil-fosil manusia purba banyak ditemukan di Indonesia maupun di luar Indonesia. Di
Indonesia sendiri terdapat beberapa situs tempat dimana fosil manusia purba banyak ditemukan, seperti
di Mojokerto, Solo, Ngandong, Pacitan, atau yang paling terkenal yaitu Sangiran. Berikut adalah
beberapa jenis manusia purba yang fosilnya pernah ditemukan di Indonesia.
a. Meganthropus paleojavanicus
Meganthropus paleojavanicus berasal dari kata-kata; Megan= besar, Anthropus=
manusia, Paleo= tua, Javanicus= dari Jawa. Jadi bisa disimpulkan bahwa Meganthropus
paleojavanicus adalah manusia purba bertubuh besar tertua di Jawa. Fosil manusia purba ini
ditemukan di daerah Sangiran, Jawa tengah antara tahun 1936-1941 oleh seorang peneliti
Belanda bernama Von Koeningswald. Fosil tersebut tidak ditemukan dalam keadaan lengkap,
melainkan hanya berupa beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta gigi-gigi yang telah
lepas. Fosil yang ditemukan di Sangiran ini diperkirakan telah berumur 1-2 Juta tahun.
Ciri-Ciri Meganthropus paleojavanicus
Mempunyai tonjolan tajam di belakang kepala.
Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.
Tidak mempunyai dagu, sehingga lebih menyerupai kera.
Mempunyai otot kunyah, gigi, dan rahang yang besar dan kuat.
Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan.
Pithecanthropus
b. Pithecanthrophus
Fosil manusia purba jenis Pithecanthrophus adalah jenis fosil manusia purba yang paling
banyak ditemukan di Indonesia. Pithecanthropus sendiri berarti manusia kera yang berjalan
tegak. Paling tidak terdapat tiga jenis manusia Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia,
yaituPithecanthrophus erectus, Pithecanthropus mojokertensis, dan Pithecanthropus soloensis.
Berdasarkan pengukuran umur lapisan tanah, fosil Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia
mempunyai umur yang bervariasi, yaitu antara 30.000 sampai 1 juta tahun yang lalu.
Pithecanthropus erectus, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di sekitar
lembah sungai Bengawan Solo, Trinil, Jawa Tengah. Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang
atas, tengkorak, dan tulang kaki.
Pithecanthropus mojokertensis, disebut juga dengan Pithecanthropus robustus. Fosil
manusia purba ini ditemukan oleh Von Koeningswald pada tahun 1936 di Mojokerto,
Jawa Timur. Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak anak-anak.
Pithecanthropus soloensis, ditemukan di dua tempat terpisah oleh Von Koeningswald
dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran antara tahun 1931-1933. Fosil yang
ditemukan berupa tengkorak dan juga tulang kering.
Ciri-ciri Pithecanthropus
Memiliki tinggi tubuh antara 165-180 cm.
Badan tegap, namun tidak setegap Meganthrophus.
Volume otak berkisar antara 750 1350 cc.
Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
Hidung lebar dan tidak berdagu.
Mempunyai rahang yang kuat dan geraham yang besar.
Makanan berupa tumbuhan dan daging hewan buruan.
c. Homo
Manusia purba dari genus Homo adalah jenis manusia purba yang berumur paling muda,
fosil manusia purba jenis ini diperkirakan berasal dari 15.000-40.000 tahun SM. Dari volume
otaknya yang sudah menyerupai manusia modern, dapat diketahui bahwa manusia purba ini
sudah merupakan manusia (Homo) dan bukan lagi manusia kera (Pithecanthrupus). Di Indonesia
sendiri ditemukan tiga jenis manusia purba dari genus Homo, antara lain Homo soloensis, Homo
wajakensis, dan Homo floresiensis.
Homo soloensis, ditemukan oleh Von Koeningswald dan Weidenrich antara tahun
1931-1934 disekitar sungai bengawan solo. Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang
tengkorak. Ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh manusia purba jenis ini antara lain, volume
otak antara 1000 1300 cc; tinggi badan antara 130 210 cm; muka tidak menonjol ke
depan; serta berjalan tegap secara bipedal (dua kaki). Homo soloensis diperkirakan
pernah hidup antara 900.000 sampai 300.000 tahun yang lalu.
Homo wajakensis, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di Wajak, Jawa
Timur. Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah, tulang tengkorak, dan beberapa ruas
tulang leher. Ciri-ciri Homo wajakensis antara lain, memiliki muka lebar dan datar;
hidungnya lebar dan bagian mulutnya menonjol; tulang tengkorak sudah membulat; serta
memiliki tonjolan yang agak mencolok di dahi. Homo wajakensis diperkirakan hidup
antara 40.000 sampai 25.000 tahun yang lalu.
Homo floresiensis, ditemukan saat penggalian di Liang Bua, Flores oleh tim arkeologi
gabungan dari Puslitbang Arkeologi Nasional, Indonesia dan University of New England,
Australia pada tahun 2003. Saat dilakukan penggalian pada kedalaman lima meter,
ditemukan kerangka mirip manusia yang belum membatu (belum menjadi fosil) dengan
ukurannya yang sangat kerdil. Manusia kerdil dari Flores ini diperkirakan hidup antara
94.000 dan 13.000 tahun SM. Ciri-ciriHomo floresiensis antara lain, tinggi badan kurang
dari 1 meter; berbadan tegap; berjalan secara bipedal; volume otak sekitar 417cc; serta
tidak memiliki dagu.

4. TRADISI PEWARISAN MASYARAKAT PRA SEJARAH & SEJARAH MENGENAL TULISAN


Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Pra-Aksara
a. Cara Masyarakat Mewariskan Masa Lalunya
Dua cara untuk mewariskan masa lalu pada masyarakat yang belum mengenal tulisan ( Pra
aksara ) yaitu :
Melalui keluarga
Keluarga memiliki peranan yang penting dalam proses pewarisan budaya masa lalu karena
kesempatan berinteraksi dalam keluarga lebih besar sehingga memudahkan orang tua
menanamkan ide-ide dan menyampaikan informasi mengenai tatacara berprilaku dan adat
istiadat serta kebiasaan keluarga yang benar pada anak.
Melalui Masyarakat
Masyarakat secara langsung atau tidak langsung memiliki cara tersendiri dalam mewariskan
masa lalunya yaitu, yaitu melalui adat istiadat, pertunjukan hiburan dan kepercayaan
masyarakat.
b. Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Sebelum Mengenal Tulisan
Sistem kepercayaan
Sistem kemasyarakatan dan organisasi social
Sistem mata pencaharian
Sistem peralatan dan perlengkapan hidup ( teknologi )
Sistem Bahasa
Sistem kesenian
Ilmu Pengetahuan
c. Jejak Sejarah Indonesia
Folklore
Folklore merupakan adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara
turun temurun dan tidak dibukukan.
Folklore Lisan : bahasa rakyat, teka-teki, puisi, cerita rakyat, Nyanyian rakyat.
Folklore bukan lisan : Arsitektur rakyat, kerajinan tangan, pakaian, obat-obatan
tradisional, perhiasan dsb.
Mitologi
Ilmu Kesusasteraan tentang dongeng kehidupan para dewa dan mahluk halus dalam suatu
kebudayaan juga menceritakan tentang asal usul alam semesta, manusia dan bangsa yang
diungkap secara ghaib.
Legenda
Merupakan cerita rakyat pada masa lampau yang masih memiliki hubungan dengan
peristiwa sejarah.
Upacara
Merupakan rangkaian kegiatan yang terikat oleh aturan tertentu berdasarkan adat istiadat
dan agama ( kepercayaan ).
Lagu daerah
Merupakan lagu yang menggunakan bahasa daerah.
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Aksara
a. Perkembangan Sejarah Indonesia Setelah Mengenal Tulisan
Bidang politik ( Pemerintahan )
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha sistem pemerintahan di Indonesia di pegang
oleh kepala suku yang memerintah kelompok sukunya. Setelah masuknya pengaruh
Hindu-Budha maka pemerintahan kepala suku diubah menjadi pemerintahan yang
berbentuk kerajaan yang dipegang oleh raja secara turun temurun.
Bidang social
Sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Budha masyarakat Indonesia telah hidup teratur
yang ditandai dengan kehidupan gotong royong.
Bidang Budaya
Sebelum orang-orang India datang ke Indonesia, masyarakat kita telah memiliki dasar
kehidupan sendiri yang cukup tinggi (kebudayaan asli) dan terus berkembang secara terus
menerus. Setelah masuknya kebudayaan Hindu-Budha maka terjadilah perkembangan
kebudayaan Indonesia seperti :
1. Tulisan Pallawa dan bahasa Sanskerta
2. Seni bangunan
3. Seni Rupa/lukis
4. Seni sastra
5. Kalender
Bidang Keagamaan
Kepercayaan asli bangsa kita yaitu pemujaan terhadap Roh-roh leluhur/nenek moyang
( Animisme ) dan benda-benda ( Dinamisme ). Setelah masuknya orang-orang India yang
membawa kebudayaan Hindu dan Budha maka masyarakat kitapun mengenal agama
tersebut tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya.
b. Rekaman Tertulis dalam Tradisi Sejarah
Prasasti
Merupakan rekaman tertulis yang menceritakan masa lampau yang pembuatannya
berdasarkan perintah raja.
Kitab
Merupakan karya sastra para pujangga yang dijadikan petunjuk untuk menyingkap
sebuah peristiwa sejarah yang muncul pada jaman Hindu Budha maupun Islam.
Dokumen
Merupakan surat berharga yang ditulis atau dicetak sehingga dapat dipakai untuk sebuah
bukti atau keterangan.
c. Perkembangan Penulisan Sejarah di Indonesia
Masa Hindu Budha dan islam
Penulisan sejarah pada masa ini bersifat istana sentris yaitu berpusat pada keinginan dan
kepentingan raja. Tujuannya agar generasi penerus mengetahui bahwa ada suatu peristiwa
penting pada masa itu.
Masa Kolonial
Penulisan sejarah pada masa ini bertujuan untuk memperkokoh kekuasaan mereka di
Indonesia dengan menyatakan bahwa status sosial mereka lebih tinggi dan setiap
perlawanan rakyat Indonesia terhadap mereka dianggap sebagai pemberontak.
Masa pergerakan Nasional
Penulisan sejarah Pada masa ini bertujuan untuk membangkitkan semangat perjuangan
bangsa Indonesia melawan penjajah
Masa Kemerdekaan
Penulisan pada masa ini berorientasi pada masa depan bangsa dan Negara Indonesia yang
telah berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945

5. HASIL BUDAYA MASYARAKAT PRA-SEJARAH


a. ZAMAN BATU
Zaman Batu Tua (Paleolithikum)
Kapak Genggam : berfungsi untuk menggali umbi, memotong dan menguliti binatang.
Kapak Perimbas : berfungsi untuk merimbas kayu, memecahkan tulang, dan sebagai senjata
yang banyak ditemukan di Pacitan.
Maka Ralph Von Koeningswald menyebutkan kebudayaan Pacitan. Dan pendukung
kebudayaan Pacitan adalah jenis Phitecantropus.
Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang : berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek dan
tombak. Banyak ditemukan di ngandong. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo
Wajakensis, dan Homo Soloensis.
Alat Serpih (flakes) terbuat dari batu bentuknya kecil, ada juga yang terbuat dari batu induk
(kalsedon) : berfungsi untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan.
Pendukung kebudayaan ini adalah Homo soloensis dan Homo wajakensis.
Zaman Batu Madya (Mesolithikum)
Pada zaman ini alat-alat dari batu sudah mulai digosok, tetapi masih belum halus. Manusia
pendukung ini adalah homo sapiens, khususnya Papua Melanesoide. Hasil budaya Mesolithikum
antara lain :
Kapak Sumatra (Pebble) : Sejenis kapak genggam yang sudah digosok, tetapi belum sampai
halus. Terbuat dari batu kali yang dipecah atau dibelah.
Kjokenmoddinger : Dari bahasa denmark yang artinya sampah dapur.
Abris Sous Roche : Adalah tempat tinggal yang berwujud goa-goa dan ceruk-ceruk di dalam
batu karang untuk berlindung.
Batu Pipisan : Terdiri dari batu penggiling dan landasannya. Berfungsi untuk menggiling
makanan, menghaluskan bahan makanan.
Zaman Batu Baru (Neolithikum)
Peralatan batu pada zaman ini sudah halus karena manusia pendukung sudah mengenal
teknik mengasah dan mengupam. Peralatannya antara lain :
Kapak Persegi adalah kapak yang penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau
trapesium. Ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan
Kalimantan. Sebutan kapak persegi diberikan oleh Von Heine Geldern.
Kapak Lonjong adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong memanjang. Ditemukan
di Irian, seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa, dan Serawak.
Kapak Bahu adalah kapak persegi namun pada tangkai diberi leher sehingga menyerupai botol
persegi. Kapak bahu hanya ditemukan di Minahasa, Sulawesi Utara.
Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa
Tembikar (Periuk belanga) ditemukan didaerah Sumatera, Jawa, Meldo (Sumba)
Pakaian (dari kulit kayu)
Zaman Batu Besar (Megalithikum)
Menhir : tugu batu yang didirikan sebagai pemujaan roh nenek moyang memperingati arwah
nenek moyang.
Dolmen : meja batu, merupakan tempat sesaji dan pemujaan kepada roh nenek moyang. Ada
pula yang digunakan untuk kuburan.
Sarchopagus atau keranda : bentuknya seperti lesung yang mempunyai tutup atau ada juga
seperti telur dibelah dua.
Kubur Batu : peti mati yang terbuat dari batu besar yang masing-masing papan batunya lepas
satu sama lain.
Punden Berundak : bangunan tempat pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat seperti
tangga.
Waruga : peti kubur peninggalan budaya Minahasa pada zaman megalitikum. Didalam peti
pubur batu ini akan ditemukan berbagai macam jenis benda antara lain berupa tulang- tulang
manusia, gigi manuisa, periuk tanah liat, benda- benda logam, pedang, tombak, manik- manik,
gelang perunggu, piring dan lain- lain. Dari jumlah gigi yang pernah ditemukan didalam
waruga, diduga peti kubur ini adalah merupakan wadah kubur untuk beberapa individu juga
atau waruga bisa juga dijadikan kubur keluarga (common tombs) atau kubur komunal. Benda-
benda periuk, perunggu, piring, manik- manik serta benda lain sengaja disertakan sebagai
bekal kubur bagi orang yang akan meninggal.
Arca : patung batu yang menggambarkan tokoh yang berpengaruh pada kehidupan sosial atau
bermasyarakat di masa itu.
b. ZAMAN LOGAM
Zaman Tembaga
Dari penelusuran para ahli, diketahui bahwa alat-alat dari tembaga ini tidak ditemukan di
wilyah asia tenggara, tetapi di wilayah-wilayah benua lain.
Zaman Perunggu
Candrasa adalah kapak corong yang satu sisinya memanjang. Candrasa ini biasanya
digunakan sebagai tanda kebesaran dan alat upacara saja. Banyak ditemukan di Yogyakarta
dan Roti.
Bejana Perunggu : bentuknya seperti periuk tapi langsung dan gepeng. Ditemukan di tepi
danau Kerinci dan juga di Madura.
Nekara :genderang dari perunggu yang berfungsi sebagai alat upacara, yaitu ditabuh untuk
memanggil arwah/roh nenek moyang. Ditemukan di Jawa, Bali, Roti, Selayar, dan Kei.
Nekara terbesar tan ditemukan dibali yang dikenal dengan Nekara Bulan Pejeng. Ada juga
nekara berukuran kecil yang disebut dengan Moko dietmukan di daerah Alor. Moko dapat
difungsikan sebagai pustaka atau mas kawin.
Perhiasan Perunggu
Arca Perunggu
c. ZAMAN BESI
Pada masa ini manusia telah dapat melebur besi untuk dituang menjadi alat-alat yang
dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak banyak ditemukan alat-alat yang terbuat dari besi.
Alat-alat yang ditemukan adalah :
Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu.
Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan
Mata pisau, Mata pedang, Cangkul, dll

6. CIRI BIVALVE DAN PERDUE


Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang
Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hanya satu kali pakai (tidak bisa diulang)

7. HASIL BUDAYA ZAMAN MEGALITIKUM


Ada di nomor 5

8. TEORI MASUKNYA HINDU-BUDHA KE INDONESIA


a. Teori Brahmana
Dengan melihat unsur-unsur budaya India yang berpengaruh ke Indonesia, J.C. van
Leur mengutarakan bahwa kaum brahmana sangat berperan dalam penyebaran agama dan
kebudayaan Hindu ke Indonesia. Mereka datang atas undangan para penguasa Indonesia. Kaum
brahmana diundang ke Indonesia untuk melakukan upacara khusus menjadikan seseorang
menjadi pemeluk Hindu yang disebut vratyasoma.
b. Teori Ksatria
Teori ini dikemukakan oleh F.D.K. Bosch. Ia menyatakan bahwa adanya raja-raja dari
India yang datang menaklukan daerah-daerah tertentu di Indonesia telah mengakibatkan
penghinduan penduduk setempat. Terhadap teori ksatria, van Leur mengajukan keberatan.
Menurutnya, jika memang raja-raja India pernah menaklukan daerah di Indonesia, maka hal itu
akan dicatat dalam sumber-sumber sejarah baik di India maupun di Indonesia. Raja-raja India
biasanya membangun sebuah tugu kemenangan yang disebut jayastamba.
c. Teori Waisya
Menurut N.J. Krom, golongan pedagang dari kasta waisya merupakan golongan terbesar
yang dtang ke Indonesia. Mereka menetap di Indonesia dan kemudian memegang peran penting
dalam proses penyebaran kebudayaan India.
d. Teori Sudra
Teori ini menyatakan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kasta sudra.
Mereka datang ke Indonesia dengan tujuan mengubah kehidupan karena di India mereka hanya
hidup sebagai pekerja kasar dan budak.
e. Teori campuran
Teori ini beranggapan bahwa baik kaum brahmana, ksatria, para pedagang, maupun
golongan sudra bersama-sama menyebarkan agama Hindu ke Indonesia sesuai dengan peran
masing-masing.

9. PRASASTI KERAJAAN TARUMANEGARA


Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, dekat muara
sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta yang
terdiri dari 4 baris disusun ke dalam bentuk Sloka dengan metrum Anustubh. Di samping itu
terdapat lukisan semacam laba-laba serta sepasang telapak kaki Raja Purnawarman.
Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:
a. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya
prasasti tersebut).
b. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya penguasa)
sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan
Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus
pelindung rakyat
Prasasti Jambu
Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di
perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahasa
Sanskerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji
pemerintahan raja Mulawarman.
Prasasti Kebonkopi
Prasasti Kebonkopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang Bogor .
Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah, yang disamakan dengan
tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa Wisnu.
Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat
dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
Prasasti Pasir awi
Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwiliang, juga tertulis dalam aksara ikal yang
belum dapat dibaca.
Prasasti Cidanghiyang
Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai
Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini baru ditemukan
tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa
Sanskerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.
Prasasti Tugu
Prasasti Tugu ditemukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini
dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar dan isinya paling panjang dibanding
dengan prasasti Tarumanegara yang lain, sehingga ada beberapa hal yang dapat diketahui dari
prasasti tersebut. Hal-hal yang dapat diketahui dari prasasti Tugu adalah:
a. Prasasti Tugu menyebutkan nama dua buah sungai yang terkenal di Punjab yaitu sungai
Chandrabaga dan Gomati. Dengan adanya keterangan dua buah sungai tersebut
menimbulkan tafsiran dari para sarjana salah satunya menurut Poerbatjaraka. Sehingga
secara Etimologi (ilmu yang mempelajari tentang istilah) sungai Chandrabaga diartikan
sebagai kali Bekasi.
b. Prasasti Tugu juga menyebutkan anasir penanggalan walaupun tidak lengkap dengan
angka tahunnya yang disebutkan adalah bulan phalguna dan caitra yang diduga sama
dengan bulan Februari dan April.
c. Prasasti Tugu yang menyebutkan dilaksanakannya upacara selamatan oleh Brahmana
disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan raja.

10. EKSPEDISI PAMALAYU OLEH KERTANEGARA


Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikanPulau Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam
menghadapi ekspansi bangsa Mongol. Saat itu penguasa Pulau Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya
(kelanjutan dari Kerajaan Malayu). Kerajaan ini akhirnya tunduk dengan ditemukannya bukti arca
Amoghapasa yang dikirim Kertanagara sebagai tanda persahabatan kedua negara.
Kertanegara terus memperluas pengaruh dan kekuasaan Kerajaan Singasari. Pada 1275 ia
mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya sekaligus menjalin persekutuan dengan
Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu dikenal dengan nama Pamalayu.
Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan
adik perempuannya. Kerajaan Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat),
Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku).

11. MAJAPAHIT ZAMAN HAYAM WURUK


Hayam Wuruk adalah raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1351-1389,
bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai zaman
kejayaannya.
Nama Hayam Wuruk artinya "ayam yang terpelajar". Ia adalah putra pasangan Tribhuwana
Tunggadewi dan Sri Kertawardhana alias Cakradhara. Ibunya adalah putri Raden
Wijaya pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah raja bawahan di Singhasari bergelar Bhre
Tumapel.
Hayam Wuruk dilahirkan tahun 1334. Peristiwa kelahirannya diawali dengan gempa bumi di
Pabanyu Pindah dan meletusnya Gunung Kelud. Pada tahun itu pula Gajah Mada mengucapkan Sumpah
Palapa.
Hayam Wuruk memiliki adik perempuan bernama Dyah Nertaja alias Bhree Pajang, dan adik
angkat bernama Indudewi alias Bhree Lasem, yaitu putri Rajadewi, adik ibunya.
Permaisuri Hayam Wuruk bernama Sri Sudewi bergelar Padukasori putri Wijayarajasa Bhre
Wengker. Dari perkawinan itu lahir Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana putra
Bhre Pajang. Hayam Wuruk juga memiliki putra dari selir yang menjabat sebagai Bhre Wirabhumi, yang
menikah dengan Nagarawardhani putri Bhre Lasem.
Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru (kemudian
bernama Deli, dekat Medan sekarang). Majapahit juga menghancurkan Palembang, sisa-sisa
pertahanan Kerajaan Sriwijaya (1377).
Peristiwa Bubat) Tahun 1351, Hayam Wuruk hendak menikahi puteri Raja Galuh (di Jawa
Barat), Dyah Pitaloka Citraresmi. Pajajaran setuju asal bukan maksud Majapahit untuk mencaplok
kerajaan Galuh. Ketika dalam perjalanan menuju upacara pernikahan, Gajah Mada mendesak kerajaan
Galuh untuk menyerahkan puteri sebagai upeti dan tunduk kepada Majapahit. Kerajaan Galuh menolak,
akhirnya pecah pertempuran, Perang Bubat. Dalam peristiwa menyedihkan ini seluruh rombongan
kerajaan Galuh tewas, dan dalam beberapa tahun Galuh menjadi wilayah Majapahit.
"Kecelakaan sejarah" ini hingga sekarang masih dikenang terus oleh masyarakat Jawa
Barat dalam bentuk penolakan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada bagi pemberian nama jalan di
wilayah ini.
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, kitab Kakawin Sutasoma (yang memuat
semboyan Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa) digubah oleh Mpu Tantular, dan
kitabNagarakretagama digubah oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.
Tahun 1389, Hayam Wuruk meninggal dengan dua anak: Kusumawardhani (yang
bersuami Wikramawardhana), serta Wirabhumi yang merupakan anak dari selirnya. Namun yang
menjadi pengganti Hayam Wuruk adalah menantunya, Wikramawardhana.

12. KERAJAAN KUTAI


Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan
muncul pada abad 5 M atau 400 M. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat
kota Tenggarong), tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diambil dari nama tempat
ditemukannya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para ahli
karena tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Karena memang sangat
sedikit informasi yang dapat diperoleh akibat kurangnya sumber sejarah.
Keberadaan kerajaan tersebut diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan yaitu berupa
prasasti yang berbentuk yupa / tiang batu berjumlah 7 buah. Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan
bahasa sansekerta tersebut, dapat disimpulkan tentang keberadaan Kerajaan Kutai dalam berbagai aspek
kebudayaan, antara lain politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Adapun isi prasati tersebut menyatakan
bahwa raja pertama Kerajaan Kutai bernama Kudungga. Ia mempunyai seorang putra bernama
Asawarman yang disebut sebagai wamsakerta (pembentuk keluarga). Setelah meninggal, Asawarman
digantikan oleh Mulawarman. Penggunaan nama Asawarman dan nama-nama raja pada generasi
berikutnya menunjukkan telah masuknya pengaruh ajaran Hindu dalam Kerajaan Kutai dan hal tersebut
membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang telah memeluk agama Hindu.
Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah
Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam yupa juga
dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan dipandang sebagai
Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan
dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam agama Hindu. Untuk itu para ahli berpendapat
Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, yang menurunkan raja-raja Kutai.
Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum
Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor
sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Istilah Waprakeswara
tempat suci untuk memuja Dewa Siwa di pulau Jawa disebut Baprakewara.
Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan
Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya.
Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga
sendiri diduga belum menganut agama Budha.
Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga
diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya
pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan
Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir
seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur. Kerajaan Kutai seakan-
akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat
sedikit yang mendengar namanya.
Kehidupan sosial di Kerajaan Kutai merupakan terjemahan dari prasasti-prasasti yang ditemukan
oleh para ahli. Diantara terjemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat di Kerajaan Kutai tertata, tertib dan teratur.
2. Masyarakat di Kerajaan Kutai memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya luar (India),
mengikuti pola perubahan zaman dengan tetap memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.
Kehidupan ekonomi di Kutai, tidak diketahui secara pasti, kecuali disebutkan dalam salah satu
prasasti bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan
sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana. Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi
tersebut diperoleh. Apabila emas dan sapi tersebut didatangkan dari tempat lain, bisa disimpulkan bahwa
kerajaan Kutai telah melakukan kegiatan dagang. Jika dilihat dari letak geografis, Kerajaan Kutai berada
pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang menarik untuk
disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi
bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian.
Sementara itu dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini
dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) yang disebut
Vratyastoma. Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena Kudungga masih
mempertahankan ciri-ciri keIndonesiaannya, sedangkan yang memimpin upacara tersebut, menurut para
ahli, dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada masa Mulawarman
kemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh kaum Brahmana dari orang Indonesia
asli. Adanya kaum Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwa kemampuan intelektualnya
tinggi, terutama penguasaan terhadap bahasa Sansekerta yang pada dasarnya bukanlah bahasa rakyat
India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa resmi kaum Brahmana untuk masalah keagamaan.
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam
peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat
bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya
pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang
disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam
yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

13. PERAN PATI UNUS PADA KERAJAAN DEMAK


Pada tahun 1513 armada demak menyerang malaka di bawah pimpinan putera Raden patah yaitu
pati unus, tetapi serangan itu gagal, karena portugis meminta bantuan kepada india, meskipun serangan
itersebut gagal pati unus medapat julukan pangeran seberang lor kaarena dalam menerang malaka ia
menyebrang ke Utara atau Lor ( bahasa JAwa).
Penyerangan tersebut dilatarbelakangin oleh malaka jatuh ketangan portugis 1511 M, secara
otomatis perdagangan demak terputus dan merugikan demak karena ekspor dan mengimpor barang
terhambat
Tahun 1518 Raden patah wafat dmakamkan di dekat masjid demak dan di gntikan oleh pati unus,
pati unus tidak lama memerintah demak , tahuj 1521 M pati unus meningal dan di gantikan oleh adiknya
yaitu sultan trenggana dan pada masa pemerintahany demak memperluas ssampai ke jawa barat pada
masa pemerintahny datanglah fatahilah , fatahilah diterima degan baik dan dijadikan panglima armada
demak.
1522 portugis mendapat izin dari kerajaan padjdjaran unutk membukan kantor dagangny di
pelebuhan sunda kelapa,portugis menjadi ancaman bagi demak dan pengeran trenggan memerintahkn
fatahilah untuk mengusir portugis dri sunda kelapa . pd tgl 22 juni 1527 sunda kelapa berhasil di kuasai
dan orang-orang portugis terusir dari pelabuhan tersebut. Dan nama sunda kelapa di gantikn oleh
fatahilah degan nama jayakarta yang artinya kemenangan sempurna.setelah itu fatahilah menguasai
daerah-daerah sekitarnya banten dan cirebon, fatahilah menetap disana
Setelah menguasai sunda kelapa dan jawa barat , demak terus memperluas wilayahny sampai
jawa barat , sultan trengana ingin memperluas sampai ke jawa timur namun dalam melakukan usahany
dia gugur ketika dalam menakhlukan pasuruan 1546.
Setelah sultan trenggana wafat terjadilah perebutan kekuasaan sampai akhirny di pegang oleh
hadiwijaya ia adalah menantu sultan trenggana dan mempindahkan kesultanan ke panjang dengan
demikian berkahirlah kesultanan demak. peninggalan kesultanan demak saat ini adalah masjid demak
dan masjid kudus.

14. SULTAN AGUNG PADA KERAJAAN MATARAM ISLAM


Masa pemerintahan Sultan Agung yang selama 32 tahun dibedakan atas dua periode, yaitu masa
Penyatuan Kerajaan dan masa Pembangunan.
Setelah Mangkubumi bergabung dengan Mas Said, terjadilah persekutuan antara Mangkubumi
dan Mas Said melawan Paku Buwono II dan III. Pada waktu Paku Buwono II sakit keras, utusan VOC
dari Batavia datang ke Surakarta. Dalam keadaan lemah dan tidak sadar, Paku Buwono II menyerahkan
Mataram kepada VOC. Hasl yang demikian mungkin saja terjadi. Menurut tradisi Timur orang yang
akan meninggal biasanya menyerahkan keluarganya kepada orang yang menjadi kepercayaannya. Hal
ini diartikan oleh Belanda bahwa sejak itu VOC berkuasa penuh atas Mataram.
Pada tahun 1749 Paku Buwono II wafat dan digantikan oleh putranya yang bergelar Paku
Buwono III. Awalnya, Belanda mengakuinya sebagai Sultan Mataram yang baru, tetapi setelah itu VOC
berusaha untuk memecah belah Mataram sehingga dapat dikuasainya.
Perlawanan Mangkubumi dan Mas Said cukup tangguh. Raden Mas Said mendapat
julukan Pangeran Samber Nyowo (pangeran perenggut jiwa). Namun, karena di antara keduanya kterjadi
perselisihan sehingga dimanfaatkan oleh Belanda untuk memecah belah Mataram. Perseteruan antara
Paku Buwono II yang dibantu Kompeni dan Pangeran Mangkubumi dapat diakhiri dengan Perjanjian
Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 Isi Perjanjian Giyanti pada intinya Mataram dipecah menjadi
dua.
a. Mataram baratn yakni Kasultanan Yogakarta diberikan kepada Mangkubumi dengan gelar Sultan
Hamengku Buwono I.
b. Mataram timur ,yakni Kasunanan Surakarta diberikan kepada Paku Buwono III.
Selanjutnya ,untuk memadamkan perlawanan Raden Mas Said diadakan Perjanjian Salatiga pada
tanggal 17 Maret 175. Isi Perjanjian Salatiga pada intinya Surakarta dibagi menjadi dua.
a. Surakarta utara diberikan kepada Mas Said dengan gelar Mangkunegoro I, kerajaannya
dinamakan Mangkunegaran.
b. Surakarta selatan diberikan kepada Paku Buwono III kerajaannya dinamakan Kasunanan
Surakarta.
Pada tahun 1813 sebagian daerah Kasultanan Yogyakarta diberikan kepada Paku Alam selaku
bupati. Dengan demikian, Kerajaan Mataram yang dahulinya satu, kuat, dan kokoh pada masa
pemerintahan Sultan Agung akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajan kecil berikut ini:
1) Kerajaan Yogyakarta;
2) Kasunanan Surakarta;
3) Pakualaman;
4) Mangkunegaran.

15. HASANUDIN PADA KERAJAAN GOWA MAKASSAR


Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 meninggal
di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) adalah Raja Gowa ke-16 dan
pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng
Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan
gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan
Hasanuddin saja. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang
artinya Ayam Jantan/Jago dar Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa.
Sultan Hasanuddin lahir di Makasar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid,
Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang
diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan
besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.
Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha
menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah
Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di
Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.
Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada
akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia
mengadakan Perdamaian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin
mengadakan perlawanan lagi.
Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke.Batavia. Pertempuran kembali pecah di
berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar
menambah kekuatan pasukan Kompeni, hingga akhirnya Kompeni berhasil
menerobos benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan
Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
Lalu meninggal kembali

16. LATAR BELAKANG KEDATANGAN BANGSA EROPA KE INDONESIA


Hindia Timur atau Indonesia telah lama dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti
vanili, lada, dan cengkeh. Rempah-rempah ini digunakan untuk mengawet makanan, bumbu masakan,
bahkan obat. Karena kegunaannya, rempah-rempah ini sangat laku di pasaran dan harganya pun mahal.
Hal ini mendorong para pedagang Asia Barat datang dan memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Mereka membeli bahan-bahan ini dari para petani di Indonesia dan menjualnya kepada para pedagang
Eropa.
Namun, jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke Turki Utsmani mengakibatkan pasokan
rempah-rempah ke wilayah Eropa terputus. Hal ini dikarenakan boikot yang dilakukan oleh Turki
Utsmani. Situasi ini mendorong orang-orang Eropa menjelajahi jalur pelayaran ke wilayah yang banyak
memiliki bahan rempah-rempah, termasuk kepulauan Nusantara (Indonesia). Dalam perkembangannya,
mereka tidak saja berdagang, tetapi juga menguasai sumber rempah-rempah di negara penghasil.
Dimulailah era kolonialisasi Barat di Asia . pada bab ini akan diuraikan tentang kedatangan bangsa
Eropa hingga terbentuknya kekuasaan kolonial Barat di Indonesia.
Secara umum, kedatangan bangsa Eropa ke Asia termasuk ke Indonesia dilandasi keinginan
mereka untuk berdagang, menyalurkan jiwa penjelajah, dan menyebarkan agama. Adapun sebab dan
tujuan bangsa Eropa ke dunia Timur adalah sebagai berikut :
Mencari kekayaan termasuk berdagang
Menyalurkan jiwa penjelajah
Meyakini Keberadaan Prester John
Menyebarkan agama
Mencari kemuliaan bangsa

17. ZAMAN VOC


Penjajah Belanda, Cornelis de Houtman, mendarat kali pertama di Indonesia pada tahun 1596.
Rombongan mendarat di Banten dengan alasan untuk berdagang, akan tetapi dalam perkembangan
berikutnya bangsa Belanda bersikap kurang bersahabat sehingga mereka diusir dari kerajaan Banten.
Cornelis de Houtman beserta rombongan kemudian melanjutkan pelayarannya ke arah timur
menelusuri pantai utara Pulau Jawa hingga tiba di Pulau Bali. Setelah mempelajari jalur pelayaran laut
dan membeli rempah-rempah, mereka kembali ke negara asalnya. Pada tahun 1598, bangsa Belanda
mendarat di Banten untuk kali kedua dan dipimpin oleh Jacob Van Neck. Rombongan yang datang kali
kedua ini, jumlahnya lebih banyak dan masing-masing kelompok membentuk kongsi dagang sehingga
menimbulkan persaingan di antara mereka sendiri. Upaya Inggris untuk mengatasi persaingan dagang
yang semakin kuat di antara sesama pendatang dari Belanda adalah dengan mendirikan dan menyaingi
persekutuan dagang Inggris di India dengan nama East India Company (EIC).
Adapun tujuan dari pembentukan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) adalah sebagai
berikut:
a. Menguasai pelabuhan penting.
b. Menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
c. Melaksanakan monopoli perdagangan di Indonesia.
d. Mengatasi persaingan antara Belanda dengan pedagang Eropa lainnya.
Pada tahun 1619, kedudukan VOC dipindahkan ke Batavia (sekarang Jakarta) dan diperintah
oleh Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen. Perpindahan kedudukan VOC dari Ambon ke Batavia
ditujukan untuk merebut daerah dan memperkuat diri dalam persaingan dengan persekutuan dagang
milik Inggris (EIC) yang sedang konflik dengan Wijayakrama (penguasa Jayakarta).
Masa VOC berkuasa di Indonesia disebut sebagai "zaman kompeni". Dalam upaya
mengembangkan usahanya, VOC memperoleh piagam (charter) yang diterima dari pemerintah Kerajaan
Belanda. Piagam (charter), secara umum menyatakan bahwa VOC diberikan hak monopoli dagang di
wilayah sebelah timur Tanjung Harapan serta beberapa kekuasaan seperti mencetak uang, memiliki
tentara, mengangkat pegawai, menduduki daerah asing, membentuk pengadilan, bertindak atas nama
Belanda (Oktroi), dan mengadakan perjanjian dengan raja-raja setempat.
Dalam perkembangan berikutnya, kompeni berubah menjadi kekuatan yang tidak sebatas
berdagang, tetapi ikut campur, yakni dengan mengendalikan pemerintahan kerajaan-kerajaan di
Indonesia. Penindasan kompeni yang kejam sangat menyengsarakan rakyat Indonesia hingga
menimbulkan perlawanan di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa perlawanan rakyat yang bersifat
kedaerahan tersebut antara lain adalah perlawanan rakyat Banten, Mataram, Makasar, Bali, dan Maluku.
Pada abad ke-18, VOC mengalami kemunduran dan tidak dapat melaksanakan tugas dari
pemerintah Belanda. Kemunduran VOC semakin parah, yaitu ditandai dengan kondisi keuangan yang
kian merosot hingga mengalami kebangkrutan. Beberapa faktor penyebab kemunduran VOC adalah
sebagai berikut:
a. Banyaknya jumlah pegawai VOC yang korupsi.
b. Rendahnya kemampuan VOC dalam memantau monopoli perdagangan.
c. Berlangsungnya perlawanan rakyat secara terus-menerus dari berbagai daerah di Indonesia.
Masalah yang dihadapi VOC semakin besar dan rumit hingga diketahui oleh pemerintah Belanda
bahwa VOC tidak mampu melaksanakan tugasnya dan tidak mampu menangkal setiap agresi dari pihak
asing. Pada saat itu, di negeri Belanda sedang terjadi konflik politik. Kekuasaan Raja Willem sebagai
penguasa kerajaan Belanda digantikan oleh Republik Bataaf di bawah kendali Perancis.
Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC resmi dibubarkan dan pemerintah Belanda (saat itu
Republik Bataaf) mencabut hak-hak VOC. Semua kekayaan dan utang VOC diambil alih oleh negara
dan mulai saat itu pula, segala bentuk kekuasaan atas Indonesia berada langsung di bawah pemerintahan
Belanda. Kekuasaan Republik Bataaf di Belanda ternyata tidak berlangsung lama dan belum sempat
berkuasa di Indonesia. Pada tahun 1806, terjadi perubahan politik di Eropa hingga Republik Bataaf
dibubarkan dan berdirilah Kerajaan Belanda yang diperintah oleh Raja Louis Napoleon.
18. PERATURAN TANAM PAKSA (Cultuur stelsel)
Berikut adalah isi dari aturan tanam paksa
Tuntutan kepada setiap rakyat Indonesia agar menyediakan tanah pertanian untuk cultuurstelsel
tidak melebihi 20% atau seperlima bagian dari tanahnya untuk ditanami jenis tanaman
perdagangan.
Pembebasan tanah yang disediakan untuk cultuurstelsel dari pajak, karena hasil tanamannya
dianggap sebagai pembayaran pajak.
Rakyat yang tidak memiliki tanah pertanian dapat menggantinya dengan bekerja di perkebunan
milik pemerintah Belanda atau di pabrik milik pemerintah Belanda selama 66 hari atau seperlima
tahun.
Waktu untuk mengerjakan tanaman pada tanah pertanian untuk Culturstelsel tidak boleh melebihi
waktu tanam padi atau kurang lebih 3 (tiga) bulan
Kelebihan hasil produksi pertanian dari ketentuan akan dikembalikan kepada rakyat
Kerusakan atau kerugian sebagai akibat gagal panen yang bukan karena kesalahan petani seperti
bencana alam dan terserang hama, akan di tanggung pemerintah Belanda
Penyerahan teknik pelaksanaan aturan tanam paksa kepada kepala desa

19. MASA RAFFLES


Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa pada tahun 1811, ketika Kerajaan
Inggris mengambil alih jajahan-jajahan Kerajaan Belanda dan ia tidak lama kemudian dipromosikan
sebagai Gubernur Sumatera, ketika Kerajaan Belanda diduduki oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis.
Sewaktu Raffles menjabat sebagai penguasa Hindia-Belanda, ia telah mengusahakan banyak hal,
yang mana antara lain adalah sebagai berikut: beliau mengintroduksi otonomi terbatas, menghentikan
perdagangan budak, mereformasi sistem pertanahan pemerintah kolonial Belanda, menyelidiki flora dan
fauna Indonesia, meneliti peninggalan-peninggalan kuno seperti Candi Borobudur dan Candi
Prambanan, Sastra Jawa serta banyak hal lainnya. Tidak hanya itu, demi meneliti dokumen-dokumen
sejarah Melayu yang mengilhami pencarian Raffles akan Candi Borobudur, ia pun kemudian belajar
sendiri Bahasa Melayu. Hasil penelitiannya di pulau Jawa dituliskannya pada sebuah buku
berjudul: History of Java, yang menceritakan mengenai sejarah pulau Jawa. Dalam melakukan
penelitiannya, Raffles dibantu oleh dua orang asistennya yaitu: James Crawfurd dan Kolonel Colin
Mackenzie.
Istri Raffles, Olivia Marianne, wafat pada tanggal 26 November 1814 di Buitenzorg dan
dimakamkan di Batavia, tepatnya di tempat yang sekarang menjadi Museum Prasasti. Di Kebun Raya
Bogor dibangun monumen peringatan untuk mengenang kematian sang istri.
Langkah-langkah Raffles pada bidang pemerintahan adalah:
Membagi Pulau Jawa menjadi 16 keresidenan (sistem keresidenan ini berlangsung sampai
tahun 1964)
Mengubah sistem pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa pribumi menjadi sistem
pemerintahan kolonial yang bercorak Barat
Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya yang mereka peroleh
secara turun-temurun
Sistem juri ditetapkan dalam pengadilan
Bidang Ekonomi dan Keuangan, petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman ekspor,
sedang pemerintah hanya berkewajiban membuat pasar untuk merangsang petani menanam tanaman
ekspor yang paling menguntungkan. Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem
penyerahan wajib (verplichte leverantie) yang sudah diterapkan sejak zaman VOC. Menetapkan sistem
sewa tanah (landrent) yang berdasarkan anggapan pemerintah kolonial. Pemungutan pajak secara
perorangan.
Bidang Hukum sistem peradilan yang diterapkan Raffles lebih baik daripada yang dilaksanakan
oleh Daendels. Karena Daendels berorientasi pada warna kulit (ras), Raffles lebih berorientasi pada
besar kecilnya kesalahan. Badan-badan penegak hukum pada masa Raffles sebagai berikut:
Court of Justice, terdapat pada setiap residen
Court of Request, terdapat pada setiap divisi
Police of Magistrate
Bidang Sosial penghapusan kerja rodi (kerja paksa) dan penghapusan perbudakan, tetapi dalam
praktiknya ia melanggar undang-undangnya sendiri dengan melakukan kegiatan sejenis perbudakan.
Peniadaanpynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan melawan harimau.
Bidang Ilmu Pengetahuan
Ditulisnya buku berjudul History of Java di London pada tahun 1817 dan dibagi dua jilid
Ditulisnya buku berjudul History of the East Indian Archipelago di Eidenburg pada
tahun 1820 dan dibagi tiga jilid
Raffles juga aktif mendukung Bataviaach Genootschap, sebuah perkumpulan kebudayaan dan
ilmu pengetahuan
Ditemukannya bunga Rafflesia Arnoldi
Dirintisnya Kebun Raya Bogor
Memindahkan Prasasti Airlangga ke Calcutta, India sehingga diberi nama Prasasti Calcutta
Dari kebijakan ini, salah satu pembaruan kecil yang diperkenalkannya di wilayah kolonial
Belanda adalah mengubah sistem mengemudi dari sebelah kanan ke sebelah kiri, yang berlaku hingga
saat ini.
Pada tahun 1815 Raffles kembali ke Inggris setelah Jawa dikembalikan ke Belanda setelah
Perang Napoleon selesai. Pada 1817 ia menulis dan menerbitkan buku History of Java, yang melukiskan
sejarah pulau itu sejak zaman kuno.
Tetapi pada tahun 1818 ia kembali ke Sumatera dan pada tanggal 29 Januari 1819 ia mendirikan
sebuah pos perdagangan bebas di ujung selatanSemenanjung Malaka, yang di kemudian hari menjadi
negara kota Singapura. Ini merupakan langkah yang berani, berlawanan dengan kebijakan Britania untuk
tidak menyinggung Belanda di wilayah yang diakui berada di bawah pengaruh Belanda. Dalam enam
minggu, beberapa ratus pedagang bermunculan untuk mengambil keuntungan dari kebijakan bebas
pajak, dan Raffles kemudian mendapatkan persetujuan dari London.
Raffles menetapkan tanggal 6 Februari tahun 1819 sebagai hari jadi Singapura modern.
Kekuasaan atas pulau itu pun kemudian dialihkan kepadaPerusahaan Hindia Timur Britania. Akhirnya
pada tahun 1823, Raffles selamanya kembali ke Inggris dan kota Singapura telah siap untuk berkembang
menjadi pelabuhan terbesar di dunia. Kota ini terus berkembang sebagai pusat perdagangan dengan
pajak rendah.

20. POLITIK ETIS (TRILOGI VAN DE VENTER)


Politik Etis atau Politik Balas Budi
Tulisan van Deventer itulah yang kemudian membuka mata pemerintah Belanda untuk
mengubah sistem Tanam Paksa dan sistem Liberal dengan kebijakan baru yang kemudian dikenal
sebagai Politik Etis atau Politik Balas Budi. Politik Etis ini kemudian dikenal sebagai Trilogi van
Deventer, yakni meliputi tiga kebijakan.
Pertama, migrasi. Yang dimaksud migrasi adalah proses pemindahan penduduk dari Jawa ke
luar Jawa, untuk dijadikan buruh yang akan dipekerjakan di daerah perkebunan atau daerah
pertambangan milik Belanda. Kuli kontrak dari Pulau Jawa dipindahkan ke perkebunan karet di
Pematang Siantar, Sumatera Utara, di daerah pertambangan batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat,
dan bahkan juga di negeri jajahan Belanda di luar negeri. Maksud awal kebijakan ini memang
dipandang sebagai kebijakan yang bersifat simbiose mutualistis, karena dapat menguntungkan pihak
Belanda di satu sisi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di sisi lainnya. Namun,
kenyataanya tidak demikian. Jauh panggang dari api. Kebijakan itu semata-mata juga menguntungkan
Belanda. Makin banyak hasil bumi dan hasil tambang yang dikeruk oleh Belanda dari bumi pertiwi
Indonesia. Sementara rakyat tetap dalam keadaan miskin dan tertindas.
Kedua, irigasi. Negara Belanda dikenal mempunyai keahlian dalam bidang teknologi perairan.
Laut di Belanda dapat dibendung dan dijadikan daerah perkotaan. Oleh karena itu, dalam hal teknologi
pengairan, Belanda memang jagonya. Melalui kebijakan irigasi, Belanda membangun jaringan irigasi
yang diperlukan untuk pengairan teknis sawah dan perkebunan yang dicetak Belanda. Lagi-lagi
kebijakan ini sesungguhnya bukanlah sebagai politik balas budi Belanda, melainkan semata-mata untuk
mengeruk lebih banyak lagi kekayaan dari tanah jajahan.
Ketiga, edukasi. Kebijakan edukasi adalah pemberian kesempatan untuk bersekolah bagi rakyat
jajahan. Untuk itu, maka perluasan besar-besaran jumlah sekolah dilakukan oleh Belanda. Pembukaan
sekolah itu kemudian juga membuka peluang untuk mendirikan sekolah-sekolah guru untuk penyediaan
gurunya. Diperoleh catatan dari Kementerian Jajahan pada tanggal 16 Desember 1901 bahwa jumlah
siswa sekolah guru di Bandung ditambah dari 50 menjadi 100 orang, di Yogyakarta dari 75 menjadi 100
orang, di Probolinggo dari 75 menjadi 100 orang, di Semarang dibuka sekolah guru baru dengan siswa
sebanyak 100 orang (Dedi Supriadi, 2003: 11). Namun, apa dengan demikian rakyat jajahan dapat
memperoleh pendidikan secara merata? Tidak! Karena yang memperoleh kesempatan untuk
memperoleh pendidikan tersebut kebanyakan adalah golongan priyayi, dengan maksud untuk diangkat
menjadi pegawai Belanda.
Walhasil, politik balas budi sebagaimana dirancang oleh van Deventer kenyataanya hanya untuk
kepentingan Belanda semata-mata. Setidaknya itulah pandangan dari rakyat jajahan. Trilogi van
Deventer yang telah menjadi catatan dalam sejarah pendidikan Indonesia.

21. FAKTOR-FAKTOR LAHIRNYA PERGERAKAN NASIONAL


Faktor Ekstern
a. Kemenangan Jepang atas Rusia
b. Partai Kongres India
c. Filipina di bawah Jose Rizal
d. Gerakan Nasionalisme Cina
e. Gerakan Turki Muda
Faktor Intern
a. Sejarah Masa Lampau yang Gemilang
b. Penderitaan Rakyat Akibat Penjajahan
c. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia
d. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
e. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia

22. KONGRES PEMUDA


Kongres Pemuda diadakan 2 kali. Kongres Pemuda I diadakan tahun 1926 dan menghasilkan
kesepakatan bersama mengenai kegiatan pemuda pada segi sosial, ekonomi, dan budaya. Kongres ini
diikuti oleh seluruh organisasi pemuda saat itu seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Betawi, dlsb.
Selanjutnya juga disepakati untuk mengadakan kongres yang kedua.
Kongres Pemuda II, atau dikenal sebagai Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, dan terkenal
dengan sebutan Sumpah Pemuda dipimpin oleh pemuda Soegondo dari PPI (Persatuan Pemuda
Indonesia), menghasilkan Trilogi Pemuda: Satu NUSA, Satu BANGSA, Satu BAHASA: INDONESIA.
Selain itu juga ditetapkan Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman sebagai lagu kebangsaan.
Kongres Pemuda I (30 April - 2 Mei 1926)
Kongres Pemuda yang pertama ini dilaksanakan di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda I
dilaksanakan dari tanggal 30 April - 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Muhammad Tabrani.
Kongres Pemuda II (1928)
Diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Ketua Kongres Pemuda II dipimpin oleh
Sugondo Joyopuspito (PPPI) dan wakilnya Joko Marsaid (Jong Java). Dan, penyelenggaraan kongres
pemuda hari pertama di gedung Katholikee jongelingen Bond (Gedung Pemuda Katolik). Hari kedua di
gedung Oost Java (sekarang di Medan Merdeka Utara Nomor 14). Rapat ketiga di gedung Susunan
Panitia Kongres Pemuda II adalah:
Ketua: Sugondo Joyopuspito
Wakil ketua: Joko Marsaid (alias Tirtodiningrat)
Sekretaris: Muhammad Yamin
Bendahara: Amir syarifuddin

23. INDISCHE PARTIJ


Indische Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda, berdiri tanggal 25
Desember 1912. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto
Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Maksudnya adalah untuk mengganti Indische Bond yang
merupakan organisasi orang- orang Indonesia dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya
keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda totok dengan
orang Belanda campuran (Indonesia). IP sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama
orang Indo dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka
diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.
Indische Partij, yang berdasarkan golongan indo yang makmur, merupakan partai pertama yang
menuntut kemerdekaan Indonesia. Partai ini berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada
pemerintah kolonial Hindia Belanda tetapi ditolak pada tanggal 11 Maret 1913, penolakan dikeluarkan
oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil pemerintah Belanda di negara jajahan. Alasan
penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh pemerintah kolonial saat itu dapat
membangkitkan rasa nasionalismerakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang
pemerintah kolonial Belanda.
Selain itu juga disadari betapa pun baiknya usaha yang dibangun oleh orang Indonesia, tidak
akan mendapat tanggapan rakyat tanpa adanya bantuan orang-orang bumiputera. Perlu diketahui bahwa
E.F.E Douwes Dekker dilahirkan dari keturunan campuran, ayah Belanda, ibu seorang Indonesia.
Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan yang secara terang-terangan bergerak di
bidang politik dan ingin mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij adalah untuk
membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP menggunakan media majalah Het
Tijdschrifc dan surat kabar De Expres pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai sarana untuk
membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial
yang dilakukan pemerintah kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah
Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon
Bonaparte (Perancis). Perayaan ini direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda.
Adalah suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan upacara peringatan
pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai penjajahnya.
Hal yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij. R.M.
Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul Als ik een Nederlander
was (Andaikan aku seorang Belanda). Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap.
Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Expres tanggal 26
Juli 1913 yang diberi judul Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan.
Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam Tiga Serangkai, Douwes Dekker
mengkritik dalam tulisan di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto
Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi
Soerjaningrat).
Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda menyebabkan ketiga tokoh dari
Indische Partij ditangkap. Pada tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Douwes Dekker dibuang
ke Kupang,NTT sedangkan Dr. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Namun pada
tahun 1914 Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena sakit. Sedangkan Suwardi
Suryaningrat dan E.F.E.
Douwes Dekker baru kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun dalam
dunia pendidikan, dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E
Douwes Dekker juga mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan pendidikan
Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker
ditangkap lagi dan dibuang ke Suriname, Amerika Selatan.
Pada tahun 1913 partai ini dilarang karena tuntutan kemerdekaan itu, dan sebagian besar
anggotanya berkumpul lagi dalam Serikat Insulinde dan Comite Boemi Poetera.

24. GAPI (GABUNGAN POLITIK INDONESIA)


Gabungan Politik Indonesia (GAPI) adalah suatu organisasi payung dari partai-partai dan
organisasi-organisasi politik. GAPI berdiri pada tanggal 21 Mei 1939 di dalam rapat pendirian organisasi
nasional di Jakarta.
Walaupun tergabung dalam GAPI, masing-masing partai tetap mempunyai kemerdekaan penuh
terhadap program kerjanya masing-masing dan bila timbul perselisihan antara partai-partai, GAPI
bertindak sebagai penengah.
Untuk pertama sekali pimpinan dipegang oleh Muhammad Husni Thamrin, Mr. Amir
Syarifuddin, Abikusno Tjokrosujono. Di dalam anggaran dasar di terangkan bahwa GAPI berdasar
kepada:
a. Hak untuk menentukan diri sendiri
b. Persatuan nasional dari seluruh, bangsa Indonesia dengan berdasarkan kerakyatan dalam paham
politik, ekonomi dan sosial.
c. Persatuan aksi seluruh pergerakan Indonesia
Di dalam konfrensi pertama GAPI tanggal 4 Juli 1939 telah dibicarakan aksi GAPI dengan
semboyan "Indonesia berparlemen". September 1939 GAPI mengeluarkan suatu pernyataan yang
kemudian dikenal dengan nama Manifest GAPI. Isinya mengajak rakyat Indonesia dan rakyat negeri
Belanda untuk bekerjasama menghadapi bahaya fasisme dimana kerjasama akan lebih berhasil apabila
rakyat Indonesia diberikan hak-hak baru dalam urusan pemerintahan. Yaitu suatu pemerintahan dengan
parlemen yang dipilih dari dan oleh rakyat, dimana pemerintahan tersebut bertanggungjawab kepada
parlemen tersebut.
Untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, GAPI menyerukan agar perjuangan GAPI disokong
oleh semua lapisan rakyat Indonesia.
Seruan itu disambut hangat oleh pers Indonesia dengan memberitakan secara panjang lebar mengenai
GAPI bahkan sikap beberapa negara di Asia dalam menghadapi bahaya fasisme juga diuraikan secara
khusus.
GAPI sendiri juga mengadakan rapat-rapat umum yang mencapai puncaknya pada tanggal 12
Desember 1939 dimana tidak kurang dari 100 tempat di Indonesia mengadakan rapat memprogandakan
tujuan GAPI.
Selanjutnya GAPI membentuk Kongres Rakyat Indonesia (KRI). Kongres Rakyat Indonesia
diresmikan sewaktu diadakannya pada tanggal 25 Desember 1939 di Jakarta. Tujuannya adalah
"Indonesia Raya" bertujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan kesempatan cita-citanya.
Dalam kongres ini berdengunglah suara dan tututan "Indonesia berparlemen". Keputusan yang
lain yang penting diantaranya, penerapan Bendera Merah Putih dan Lagu Indonesia Raya sebagai
bendera dan lagu persatuan Indonesia dan peningkatan pemakaian bahasa Indonesia bagi rakyat
Indonesia.
Walaupun berbagai upaya telah diadakan oleh GAPI namun tidak membawa hasil yang banyak.
Karena situasi politik makin gawat akibat Perang Dunia II, pemerintah kolonial Hindia
Belandamengeluarkan peraturan inheemse militie dan memperketat izin mengadakan rapat.
25. ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA (SEMBOYAN JEPANG)
Semboyan 3A (Jepang pemimpin, Jepang cahaya dan Jepang pelindung Asia).
26. ORGANISASI MILITER BENTUKAN JEPANG
Organisasi semi militer bentukan Jepang
a. Seinendan, dibentuk pada tanggal 9 Maret 1943 dan bertujuan mendidik dan melatih para
pemudauntuk dapat mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri.
b. Keibodan (organisasi barisan bantu polisi), dibentuk pada tanggal 29 April 1943 dan bertujuan
mengisi jiwa pemuda dengan semangat nasionalisme.
c. Fujinkai (himpunan wanita bentukan Jepang yang diberi latihan latihan militer), dibentuk pada
bulan Agustus 1943.
d. Gakutotai (organisasi barisan pelajar), beranggotakan pelajar sekolah lanjutan.
e. Jawa Hokokai(organisasi kebaktian rakyat Jawa), dibentuk pada tanggal 1 Maret 1944 dan
bertujuan mengumpulkan pajak dan hasil bumi dan menyerahakannya ke Jepang.
f. Sushintai (organisasi barisan pelopor), dibentuk pada tanggal 25 September 1944 dan bertujuan
meningkatkan kesigapan rakyat.
Organisasi militer bentukan Jepang
a. Heiho (organisasi pembantu prajurit Jepang), dibentuk pada bulan April 1943 dan bertujuan
membantu prajurit Jepang. Para anggota Heiho langsung ditempatkan di dalam organisasi militer
Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut, yang turut bertempur ke luar negri seperti di
Kepulauan Solomon dan Negara Mynmar (Birma).
b. Pembela Tanah Air/PETA (organisasi militer atau tentara sukarela), dibentuk pada tanggal 3
Oktober 1943 dan bertujuan mempertahankan bangsa Indonesia dari ancaman bangsa Barat.
Anggota PETA yang berprestasi dapat diangkat menjadi daidanco(komando
batalyon), cudanco (komando kompi), shodanco (komando peleton), dan budanco (komandan
regu).

27. BPUPKI
Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (atau dalam bahasa
Jepang: Dokuritsu Junbi Cosakai dilafalkan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Dokuritsu Junbi
Chsakai ( ?)) adalah sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan
balatentara Jepang pada tanggal 29 April 1945 bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito.
Badan ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia dengan menjanjikan
bahwa Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 67 orang yang
diketuai oleh Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil
ketua Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso.
Di luar anggota BPUPKI, dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang
beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh Raden Pandji Soeroso dengan wakil Mr.
Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda Toyohiko (orang Jepang). Tugas dari BPUPKI sendiri adalah
mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek poplitik, ekonomi, tata
pemerintahan, dan hal-hal yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka.
Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang membubarkan BPUPKI dan kemudian membentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau dalam bahasa Jepang: Dokuritsu Junbi Inkai, dengan
anggota berjumlah 21 orang, sebagai upaya untuk mencerminkan perwakilan dari berbagai etnis di
wilayah Hindia-Belanda

28. PROKLAMASI KEMERDEKAAN


Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana --yang konon kabarnya
terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi denganIbrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang
tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16
Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka
membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke
Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir.
Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan
Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun
risikonya.
Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan
perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di
Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo keRengasdengklok. Mereka
menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil
meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan.
Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des
Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul
10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung
museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto,
Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang
(Gunseikan) di Hindia Belanda tidak mau menerima Sukarno-Hatta yang diantar oleh Tadashi
Maeda dan memerintahkan agar Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum
pemerintahan militer Jepang, untuk menerima kedatangan rombongan tersebut.
Nishimura mengemukakan bahwa sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945telah diterima
perintah dari Tokyo bahwa Jepang harus menjaga status quo, tidak dapat memberi izin untuk
mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal
Terauchi di Dalat, Vietnam. Soekarno dan Hatta menyesali keputusan itu dan menyindir Nishimura
apakah itu sikap seorang perwira yang bersemangat Bushido, ingkar janji agar dikasihani oleh Sekutu.
Akhirnya Sukarno-Hatta meminta agar Nishimura jangan menghalangi kerja PPKI, mungkin dengan
cara pura-pura tidak tau. Melihat perdebatan yang panas itu Maeda dengan diam-diam meninggalkan
ruangan karena diperingatkan oleh Nishimura agar Maeda mematuhi perintah Tokio dan dia mengetahui
sebagai perwira penghubung Angkatan Laut (Kaigun) di daerah Angkatan Darat (Rikugun) dia tidak
punya wewenang memutuskan.
Setelah dari rumah Nishimura, Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan
Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi.
Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan
diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad
Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Myoshi yang
setengah mabuk duduk di kursi belakang mendengarkan penyusunan teks tersebut tetapi kemudian ada
kalimat dari Shigetada Nishijima seolah-olah dia ikut mencampuri penyusunan teks proklamasi dan
menyarankan agar pemindahan kekuasaan itu hanya berarti kekuasaan administratif. Tentang hal ini
Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta,
Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima
tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan.
Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan
mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.
Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan
keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi no.
1)

29. PPKI
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI adalah panitia yang bertugas untuk
mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, sebelum panitia ini terbentuk, sebelumnya telah
berdiriBPUPKI namun karena dianggap terlalu cepat ingin melaksanakan proklamasi kemerdekaan,
maka Jepang membubarkannya dan membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI-
Dokuritsu Junbi Inkai) pada tanggal 7 Agustus 1945 yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Badan ini
merupakan badan yang dibentuk sebelum MPR dibentuk.
Tanggal 9 Agustus 1945, sebagai pimpinan PPKI yang baru, Soekarno, Hatta dan Radjiman
Wedyodiningrat diundang ke Dalat untuk bertemu Marsekal Terauchi. Setelah pertemuan tersebut, PPKI
tidak dapat bertugas karena para pemuda mendesak agar proklamasi kemerdekaan tidak dilakukan atas
nama PPKI, yang dianggap merupakan alat buatan Jepang. Bahkan rencana rapat16 Agustus 1945 tidak
dapat terlaksana karena terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Setelah proklamasi, pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidang di bekas Gedung
Road van Indie di Jalan Pejambon Jakarta.
Mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945
Sebelum disahkan, terdapat perubahan dalam UUD 1945, yaitu:
a. Kata Muqaddimah diganti dengan kata Pembukaan.
b. Pada pembukaan alenia keempat anak kalimat Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya diganti dengan Ketuhanan yang Maha Esa.
c. Pada pembukaan alenia keempat anak kalimat Menurut kemanusiaan yang adil dan
beradab diganti menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab.
d. Pada Pasal 6 Ayat (1) yang semula berbunyi Presiden ialah orang Indonesia Asli dan
beragama Islam diganti menjadi Presiden adalah orang Indonesia Asli.
Memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden
Pemilihan Presiden dan Wakil Presidan dilakukan dengan aklamasi atas usul dari Otto
Iskandardinata dan mengusulkan agar Ir. Soekarno menjadi presiden dan Moh. Hatta sebagai wakil
presiden. Usul ini diterima oleh seluruh anggota PPKI.
Tugas Presiden sementara dibantu oleh Komite Nasional sebelum dibentuknya MPR dan DPR
Sidang 19 Agustus 1945
Membentuk 12 Kementerian dan 4 Menteri Negara
Membentuk Pemerintahan Daerah - Indonesia dibagi menjadi 8 provinsi yang dipimpin oleh seorang
gubernur.
Sidang 22 Agustus 1945
Membentuk Komite Nasional Indonesia
Membentuk Partai Nasional Indonesia
Membentuk Badan Keamanan Rakyat - Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) bertujuan agar
tidak memancing permusuhan dengan tentara asing di Indonesia. Anggota BKR adalah himpunan bekas
anggota PETA, Heiho, Seinendan, Keibodan, dan semacamnya.

30. KONDISI EKONOMI AWAL KEMERDEKAAN


Pada akhir pendudukan Jepang dan pada awal berdirinya Republik Indonesia keadaan ekonomi
Indonesia sangat kacau. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
a. Inflasi yang sangat tinggi (Hiper-Inflasi).
b. Adanya blokade ekonomi, oleh Belanda (NICA).
c. Kas negara kosong, pajak dan bea masuk sangat berkurang, sehingga pendapatan pemeritah
semakin tidak sebanding dengan pengeluarannya. Penghasilan pemerintah hanya bergantung
kepada produksi pertanian. Karena dukungan petani inilah pemerintah RI masih bertahan, sekali
pun keadaan ekonomi sangat buruk.

31. UPAYA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN


a. Perjuangan Fisik (pertempuran di berbagai daerah)
Pertempuran surabaya
Pada tanggal 25 Oktober 1945, Brigade 49 yang dipimpinan Brigjen A.W.S. Mallaby
mendarat di Surabaya. Mereka bertugas untuk melucuti serdadu Jepang dan membebaskan para
interniran. Kedatangan Mallaby disambut oleh R.M.T.A. Suryo (Gubernur Jawa Timur). Dalam
pertemuan itu dihasilkan beberapa kesepakatan sebagai berikut.
Inggris berjanji bahwa di antara tentara Inggris tidak terdapat angkatan perang Belanda.
Disetujui kerja sama antara kedua belah pihak untuk menjamin keamanan dan
ketenteraman.
Akan segera dibentuk Contact Bureau (Biro Kontak) agar kerja sama dapat terlaksana
sebaikbaiknya.
Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang.
Salah satu tokoh dan pemimpin perjuangan rakyat Surabaya adalah Bung Tomo. Dalam
pertempuran yang tidak seimbang, Bung Tomo terus mengobarkan semangat rakyat supaya
terus maju, pantang mundur. Sekarang peristiwa 10 November diabadikan sebagai Hari
Pahlawan dan Tugu Pahlawan di tengah Kota Surabaya melambangkan keberanian dan
semangat juang bangsa Indonesia.
Pertempuran di Ambarawa
Pertempuran di Ambarawa diawali kedatangan tentara Sekutu di Semarang pada tanggal
20 Oktober 1945. Mereka datang untuk mengurus tawanan perang. Pihak Sekutu berjanji tidak
akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia. Ternyata Sekutu diboncengi oleh NICA.
Insiden bersenjata mulai timbul di Magelang. Kejadian itu meluas menjadi pertempuran setelah
pasukan Sekutu membebaskan para interniran Belanda di Magelang dan Ambarawa.
Pertempuran Medan Area
Tanggal 13 Oktober 1945 terjadi pertempuran pertama antara para pemuda dan pasukan
Sekutu. Ini merupakan awal perjuangan bersenjata yang dikenal sebagai pertempuran Medan
Area. Pada tanggal 10 Desember 1945 tentara Sekutu melancarkan serangan militer besar-
besaran, yang dilengkapi dengan pesawat tempur canggih. Seluruh daerah Medan dijadikan
sasaran serangan. Peristiwa penting, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam usaha
mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Bandung Lautan Api
Istilah Bandung Lautan Api menunjukkan terbakarnya kota Bandung sebelah selatan
akibat politik bumi hangus yang diterapkan TKR. Peristiwa itu terjadi tanggal 23 Maret 1946
setelah ada ultimatum perintah pengosongan Bandung oleh Sekutu. Seperti di kota-kota
lainnya, di Bandung juga terjadi pelucutan senjataterhadap Jepang. Di pihak lain, tentara
Serikat menghendaki agar persenjataan yang telah dikuasai rakyat Indonesia diserahkan kepada
mereka. Para pejuang akhirnya meninggalkan Bandung, tetapi terlebih dahulu
membumihanguskan kota Bandung. Peristiwa tragis ini kemudian dikenal sebagai peristiwa
Bandung Lautan Api.
Puputan margarana
Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946, Belanda mendaratkan kira-kira 2000 tentara di Bali.
Pada waktu itu, Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai sedang berada di Yogyakarta untuk
berkonsultasi dengan markas tertinggi TRI mengenai pembinaan Resimen Sunda Kecil dan
cara-cara menghadapi Belanda.
Pada tanggal 18 November 1946, I Gusti Ngurah Rai menyerang Belanda. Pasukan
Ngurah Rai berhasil mengusai Tabanan. Namun, karena kekuatan pasukan yang tidak seimbang
akhirnya pasukan Ngurah Rai dapat dikalahkan dalam pertempuran puputan (habis-habisan) di
Margarana, sebelah utara Tabanan. I Gusti Ngurah Rai gugur bersama anak buahnya. Gugurnya
I Gusti Ngurah Rai melicinkan jalan bagi usaha Belanda untuk membentuk Negara Indonesia
Timur.
Peristiwa westerling di makasar
Sulawesi Selatan bergolak, di mana-mana selalu terjadi pertempuran, Enrekang,
Polongbangkeng, Pare-pare, Luwu menjalar ke Kendari, kalaka dengan senjata yang mereka
miliki berusaha semaksimal mungkin menangkis serangan Belanda yang bersenjatakan
mukhtakhir, dengan keberanian dan tekat yang bersemboyankan Merdeka atau Mati.
Serangan umum 1 maret 1949
Serangan Umum 1 Maret dilancarkan oleh pasukan RI untuk merebut kembali
Yogyakarta (Ibu kota Republik Indonesia) yang dikuasai oleh Belanda sejak agresi militer
kedua. Serangan umum 1 Maret mempunyai arti penting, baik di dalam negeri maupun di luar
negeri. Serangan umum 1 Maret mencapai tujuannya, yaitu sebagai berikut.
Ke dalam:
mendukung perjuangan diplomasi;
meninggikan semangat rakyat dan TNI yang sedang bergerilya; dan
secara tidak langsung telah mempengaruhi sikap para pemimpin negara federal
bentukan Belanda (seperti negara Pasundan, negara Sumatra Timur dan negara
Indonesia Timur) yang tergabung dalam Bijeenkomst Federal Voor Overleg (BFO).
Ke luar:
menunjukkan kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada dan mampu
mengadakan serangan; dan
mematahkan moral pasukan Belanda.
perjuangan mempertahankan kemerdekaan
b. Diplomatik (Linggarjati KMB)
Perundingan Linggajati
Sebab dinamakan demikian karena perundingan antara Indonesia dan Belanda ini
dilaksanakan di Linggarjati Kuningan Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai
status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka
Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947.
Butir-butir kesepakatan perundingan antara lain:
Belanda mengakui secara de-facto wilayah RI yaitu Jawa, Sumatera dan Madura
Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara RIS.
Dalam bentuk RIS, Indonesia harus tergabung dalam Persemakmuran Indonesia-
Belanda dengan mahkota negeri Belanda sebagai kepala uni.
Pelaksanaan hasil perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947,
Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi
dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I.
Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda.
Perjanjian Renville
Suatu perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17
Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral - USS
Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Perundingan dimulai pada
tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of
Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia.
Kesepakatan yang diambil dari Perjanjian Renville:
Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai bagian
wilayah RI
Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan
daerah pendudukan Belanda
TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan
di Jawa Barat dan Jawa Timur ke daerah Indonesia di Yogyakarta
Perjanjian Roem-Roijen
Disebut juga Perjanjian Roem-Van Roijen, yaitu suatu perjanjian antara Indonesia dengan
Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal
7 Mei 1949 di Hotel Des Indes Jakarta. Nama perjanjian diambil dari kedua pemimpin
delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Maksud pertemuan ini adalah untuk
menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi
Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama. Hasil pertemuan ini adalah
Angkatan bersenjata RI akan menghentikan semua aktivitas gerilya
Pemerintah RI akan menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB)
Pemerintah RI dikembalikan ke Yogyakarta
Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan
membebaskan semua tawanan perang
Pada tanggal 22 Juni, sebuah pertemuan lain diadakan dan menghasilkan keputusan:
Kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai
perjanjian Renville pada 1948
Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar
sukarela dan persamaan hak
Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada
Indonesia
Konferensi Meja Bundar (KMB)
Dilaksanakan di Den Haag Belanda pada tanggal 23 Agustus sampai 02 Nopember
1949, yang menghasilkan kesepakatan:
Serah terima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik
Indonesia Serikat (RIS), kecuali wilayah Papua bagian barat (note: Papua bagian
barat bukan bagian dari serah terima, dan permasalahan ini akan diselesaikan
dalam waktu satu tahun)
Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan Monarki Belanda
sebagai kepala negara
Pengambilalihan hutang Hindia Belanda oleh RIS

32. MUNCULNYA PARTAI-PARTAI POLITIK


Masa penjajahan Belanda
Masa ini disebut sebagai periode pertama lahirnya partai politik di Indoneisa (waktu itu Hindia
Belanda). Lahirnya partai menandai adanya kesadaran nasional. Pada masa itu semua organisasi baik
yang bertujuan sosial seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah, ataupun yang berazaskan politik agama
dan sekuler seperti Serikat Islam, PNI dan Partai Katolik, ikut memainkan peranan dalam pergerakan
nasional untuk Indonesia merdeka.
Kehadiran partai politik pada masa permulaan merupakan menifestasi kesadaran nasional untuk
mencapai kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Setelah didirikan Dewan Rakyat , gerakan ini oleh
beberapa partai diteruskan di dalam badan ini. Pada tahun 1939 terdapat beberapa fraksi di dalam
Dewan Rakat, yaitu Fraksi Nasional di bawah pimpinan M. Husni Thamin, PPBB (Perhimpunan
Pegawai Bestuur Bumi Putera) di bawah pimpinan Prawoto dan Indonesische Nationale Groep di bawah
pimpinan Muhammad Yamin.
Di luar dewan rakyat ada usaha untuk mengadakan gabungan partai politik dan menjadikannya
semacam dewan perwakilan rakyat. Pada tahun 1939 dibentuk KRI (Komite Rakyat Indoneisa) yang
terdiri dari GAPI (Gabungan Politik Indonesia) yang merupakan gabungan dari partai-partai yang
beraliran nasional, MIAI (Majelis Islamil Alaa Indonesia) yang merupakan gabungan partai-partai
yang beraliran Islam yang terbentuk tahun 1937, dan MRI (Majelis Rakyat Indonesia) yang merupakan
gabungan organisasi buruh.
Pada tahun 1939 di Hindia Belanda telah terdapat beberapa fraksi dalam volksraad yaitu Fraksi
Nasional, Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumi-Putera, dan Indonesische Nationale Groep. Sedangkan
di luar volksraad ada usaha untuk mengadakan gabungan dari Partai-Partai Politik dan menjadikannya
semacam dewan perwakilan nasional yang disebut Komite Rakyat Indonesia (K.R.I). Di dalam K.R.I
terdapat Gabungan Politik Indonesia (GAPI), Majelisul Islami A'laa Indonesia (MIAI) dan Majelis
Rakyat Indonesia (MRI). Fraksi-fraksi tersebut di atas adalah merupakan partai politik - partai politik
yang pertama kali terbentuk di Indonesia.
Masa pendudukan Jepang
Pada masa ini, semua kegiatan partai politik dilarang, hanya golongan Islam diberi kebebasan
untuk membentuk partai Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Partai Masyumi), yang lebih banyak
bergerak di bidang sosial.
Masa pasca proklamasi kemerdekaan
Beberapa bulan setelah proklamsi kemerdekaan, terbuka kesempatan yang besar untuk
mendirikan partai politik, sehingga bermunculanlah parti-partai politik Indonesia. Dengan demikian kita
kembali kepada pola sistem banyak partai.

33. PEMILU 1955


Pemilu 1955 memunculkan 4 partai politik besar, yaitu : Masyumi, PNI, NU dan PKI. Masa
tahun 1950 sampai 1959 ini sering disebut sebagai masa kejayaan partai politik, karena partai politik
memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara melalui sistem parlementer. Sistem
banyak partai ternyata tidak dapat berjalan baik. Partai politik tidak dapat melaksanakan fungsinya
dengan baik, sehingga kabinet jatuh bangun dan tidak dapat melaksanakan program kerjanya. Sebagai
akibatnya pembangunan tidak dapat berjaan dengan baik pula. Masa demokrasi parlementer diakhiri
dengan Dekrit 5 Juli 1959, yang mewakili masa masa demokrasi terpimpin.

34. DEKRIT PRESIDEN 1959


Dekret Presiden 5 Juli 1959 adalah dekret yang dikeluarkan oleh Presiden Indonesia yang
pertama, Soekarno pada 5 Juli 1959. Isi dari Dekret tersebut antara lain:
a. Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya
b. Pemberlakuan kembali UUD '45 dan tidak berlakunya UUDS 1950
c. Pembubaran Konstituante

35. TRITURA
Tri Tuntutan Rakyat (atau biasa disingkat Tritura) adalah 3 tuntutan kepada pemerintah yang
diserukan para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Selanjutnya diikuti oleh kesatuan-kesatuan aksi yang lainnya seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia
(KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI),
Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi
Guru Indonesia (KAGI), serta didukung penuh oleh Angkatan Bersenjata.
Ketika gelombang demonstrasi menuntut pembubaran PKI semakin keras, pemerintah tidak
segera mengambil tindakan. Keadaan negara Indonesia sudah sangat parah, baik dari
segi ekonomimaupun politik. Harga barang naik sangat tinggi terutama BBM. Oleh karenanya, pada
tanggal 12 Januari 1966, KAMI dan KAPPI memelopori kesatuan aksi yang tergabung dalam Front
Pancasila mendatangi DPR-GR menuntut Tritura. Isi Tritura adalah:
a. Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya
b. Perombakan kabinet DWIKORA
c. Turunkan harga dan perbaiki sandang-pangan

36. AWAL ORDE BARU SUPERSEMAR


Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi
Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada
tanggal 11 Maret 1966.
Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi
Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu
untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

37. PERJUANGAN MEREBUT IRIAN BARAT


Perjuangan diplomasi;pendekatan diplomasi
a. Perundingan Bilateral Indonesia Belanda
Pada tanggal 24 Maret 1950 diselenggarakan Konferensi Tingkat Menteri Uni Belanda -
Indonesia. Konferensi memutuskan untuk membentuk suatu komisi yang anggotanya wakil-wakil
Indonesia dan Belanda untuk menyelidiki masalah Irian Barat. Hasil kerja Komisi ini harus
dilaporkan dalam Konferensi Tingkat Menteri II di Den Haag pada bulan Desember 1950. Ternyata
pembicaraan dalam tingkat ini tidak menghasilkan penyelesaian masalah Irian Barat.
Pertemuan Bilateral Indonesia Belanda berturut-turut diadakan pada tahun 1952 dan 1954, namun
hasilnya tetap sama, yaitu Belanda enggan mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia sesuai hasil
KMB.
b. Melalui Forum PBB
Setelah perundingan bilateral yang dilaksanakan pada tahun 1950, 1952 dan 1954 mengalami
kegagalan, Indonesia berupaya mengajukan masalah Irian Barat dalam forum PBB. Sidang Umum
PBB yang pertama kali membahas masalah Irian Barat dilaksanakan tanggal 10 Desember 1954.
Sidang ini gagal untuk mendapatkan 2/3 suara dukungan yang diperlukan untuk mendesak Belanda.
Indonesia secara bertrurut turut mengajukan lagi sengketa Irian Barat dalam Majelis Umum X tahun
1955, Majelis Umum XI tahun 1956, dan Majelis Umum XII tahun 1957. Tetapi hasil pemungutan
suara yang diperoleh tidak dapat memperoleh 2/3 suara yang diperlukan.
c. Dukungan Negara Negara Asia Afrika (KAA)
Gagal melalui cara bilateral, Indonesia juga menempuh jalur diplomasi secara regional dengan
mencari dukungan dari negara-negara Asia Afrika. Konferensi Asia Afrika yang diadakan di
Indonesia tahun 1955 dan dihadiri oleh 29 negara-negara di kawasan Asia Afrika, secara bulat
mendukung upaya bangsa Indonesia untuk memperoleh kembali Irian sebagai wilayah yang sah dari
RI.
Namun suara bangsa-bangsa Asia Afrika di dalam forum PBB tetap tidak dapat menarik
dukungan internasional dalam sidang Majelis Umum PBB.
Perjuangan dengan konfrontasi politik dan ekonomi
Kegagalan pemerintah Indonesia untuk mengembalikan Irian Barat baik secara bilateral, Forum PBB
dan dukungan Asia Afrika, membuat pemerintah RI menempuh jalan lain pengembalian Irian Barat,
yaitu jalur konfrontasi. Berikut ini adalah upaya Indonesia mengembalikan Irian melalui jalur
konfrontasi, yang dilakukan secara bertahap.
a. Pembatalan Uni Indonesia Belanda
Setelah menempuh jalur diplomasi sejak tahun 1950, 1952 dan 1954, serta melalui forum PBB
tahun 1954 gagal untuk mengembalikan Irian Barat kedalam pangkuan RI, pemerintah RI mulai
bertindak tegas dengan tidak lagi mengakui Uni Belanda Indonesia yang dibentuk berdasarkan
KMB. Ini berarti bahwa pembatalan Uni Belanda Indonesia secara sepihak oleh pemerintah RI
berarti juga merupakan bentuk pembatalan terhadap isi KMB. Tindakan pemerintah RI ini juga
didukung oleh kalangan masyarakat luas, partai-partai dan berbagai organisasi politik, yang
menganggap bahwa kemerdekaan RI belum lengkap / sempurna selama Indonesia masih menjadi
anggota UNI yang dikepalai oleh Ratu Belanda.
Pada tanggal 3 Mei 1956 Indonesia membatalkan hubungan Indonesia Belanda, berdasarkan
perjanjian KMB. Pembatalan ini dilakukan dengan Undang Undang No. 13 tahun 1956 yang
menyatakan, bahwa untuk selanjutnya hubungan Indonesia Belanda adalah hubungan yang lazim
antara negara yang berdaulat penuh, berdasarkan hukum internasional. Sementara itu hubungan
antara kedua negara semakin memburuk, karena :
1. terlibatnya orang-orang Belanda dalam berbagai pergolakan di Indonesia (APRA, Andi Azis,
RMS)
2. Belanda tetap tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia.
b. Pembentukan Pemerintahan Sementara Propinsi Irian Barat di Soasiu (Maluku Utara)
Sesuai dengan Program Kerja Kabinet, Ali Sastroamidjojo membentuk Propinsi Irian Barat
dengan ibu kota Soasiu (Tidore). Pembentukan propinsi itu diresmikan tanggal 17 Agustus 1956.
Propinsi ini meliputi wilayah Irian Barat yang masih diduduki Belanda dan daerah Tidore, Oba,
Weda, Patrani, serta Wasile di Maluku Utara.
c. Pemogokan Total Buruh Indonesia
Sepuluh tahun menempuh jalan damai, tidak menghasilkan apapun. Karena itu, pada tanggal 18
Nopember 1957 dilancarkan aksi-aksi pembebasan Irian Barat di seluruh tanah air. Dalam rapat
umum yang diadakan hari itu, segera diikuti pemogokan total oleh buruh-buruh yang bekerja pada
perusahaan-perusahaan milik Belanda pada tanggal 2 Desember 1957. Pada hari itu juga pemerintah
RI mengeluarkan larangan bagi beredarnya semua terbitan dan film yang menggunakan bahasa
Belanda. Kemudian KLM dilarang mendarat dan terbang di seluruh wilayah Indonesia.
d. Nasionalisasi Perusahaan Milik Belanda
Pada tanggal 3 Desember 1957 semua kegiatan perwakilan konsuler Belanda di Indonesia
diminta untuk dihentikan. Kemudian terjadi serentetan aksi pengambil alihan modal perusahaan-
perusahaan milik Belanda di Indonesia, yang semula dilakukan secara spontan oleh rakyat dan buruh
yang bekerja pada perusahaan-perusahaan Belanda ini. Namun kemudian ditampung dan dilakukan
secara teratur oleh pemerintah. Pengambilalihan modal perusahaan perusahaan milik Belanda
tersebut oleh pemerintah kemudian diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958.
e. Pemutusan Hubungan Diplomatik
Hubungan diplomatik Indonesia Belanda bertambah tegang dan mencapai puncaknya ketika
pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Dalam pidato Presiden
yang berjudul Jalan Revolusi Kita Bagaikan Malaikat Turun Dari Langit (Jarek) pada
peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 15, tanggal 17 Agustus 1960, presiden
memaklumkanpemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda.
Tindakan ini merupakan reaksi atas sikap Belanda yang dianggap tidak menghendaki penyelesaian
secara damai pengembalian Irian Barat kepada Indonesia. Bahkan, menjelang bulan Agustus 1960,
Belanda mengirimkan kapal induk Karel Doorman ke Irian melalui Jepang. Disamping
meningkatkan armada lautnya, Belanda juga memperkuat armada udaranya dan angkutan darat nya
di Irian Barat.
Karena itulah pemerintah RI mulai menyusun kekuatan bersenjatanya untuk mempersiapkan segala
sesuatu kemungkinan. Konfrontasi militer pun dimulai.
Tri Komando Rakyat
a. Tri Komando Rakyat
Dalam pidatonya Membangun Dunia Kembali di forum PBB tanggal 30 September 1960,
Presiden Soekarno berujar, ......Kami telah mengadakan perundingan-perundingan
bilateral......harapan lenyap, kesadaran hilang, bahkan toleransi pu n mencapai batasnya.
Semuanya itu telah habis dan Belanda tidak memberikan alternatif lainnya, kecuali
memperkeras sikap kami.
Tindakan konfrontasi politik dan ekonomi yang dilancarkan Indonesia ternyata belum mampu
memaksa Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Pada bulan April 1961 Belanda membentuk
Dewan Papua, bahkan dalam Sidang umum PBB September 1961, Belanda mengumumkan
berdirinya Negara Papua. Untuk mempertegas keberadaan Negara Papua, Belanda mendatangkan
kapal induk Karel Doorman ke Irian Barat.
Terdesak oleh persiapan perang Indonesia itu, Belanda dalam sidang Majelis Umum PBB XVI
tahun 1961 mengajukan usulan dekolonisasi di Irian Barat, yang dikenal dengan Rencana Luns.
Menanggapi rencana licik Belanda tersebut, pada tanggal 19 Desember 1961 bertempat di
Yogyakarta, Presiden Soekarno mengumumkan TRIKORA dalam rapat raksasa di alun alun utara
Yogyakarta, yang isinya :
1. Gagalkan berdirinya negara Boneka Papua bentukan Belanda
2. Kibarkan sang Merah Putih di irtian Jaya tanah air Indonesia
3. Bersiap melaksanakan mobilisasi umum
b. Pembentukan Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
Sebagai langkah pertama pelaksanaan Trikora adalah pembentukan suatu komando operasi, yang
diberi nama Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Sebagai panglima komando adalah
Brigjend. Soeharto yang kermudian pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal.
Panglima Komando : Mayjend. Soeharto
Wakil Panglima I : Kolonel Laut Subono
Wakil Panglima II : Kolonel Udara Leo Wattimena
Kepala Staf Gabungan : Kolonel Ahmad Tahir
Komando Mandala yang bermarkas di Makasar ini mempunyai dua tujuan :
1. merencanakan, menyiapkan dan melaksanakan operasi militer untuk mengembalikan Irian barat
ke dalam kekuasaan Republik Indonesia
2. mengembangkan situasi militer di wilayah Irian barat sesuai dengan perkembangan perjuangan di
bidang diplomasi supaya dalam waktu singkat diciptakan daerah daerah bebas de facto atau
unsur pemerintah RI di wilayah Irian Barat
Dalam upaya melaksanakan tujuan tersebut, Komando Mandala membuat strategi dengan
membagi operasi pembebasan Irian Barat menjadi tiga fase, yaitu :
1. Fase infiltrasi
Dimulai pada awal Januari tahun 1962 sampai dengan akhir tahun 1962, dengan memasukkan 10
kompi ke sekitar sasaaran tertentu untuk menciptakan daerah bebas de facto.
2. Fase Eksploitasi
Dimulai pada awal Januari 1964 sampai dengan akhir tahun 1963, dengan mengadakan serangan
terbuka terhadap induk militer lawan, menduduki semua pos pertahanan musuh yang penting.
3. Fase Konsolidasi
Dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 1964, dengan menegakkan kekuasaan RI secara mutlak di
seluruh Irian Barat.

Sebelum Komando mandala bekerja aktif, unsur militer yang tergabung dalam Motor Boat
Torpedo (MTB) telah melakukan penyusupan ke Irian Barat. Namun kedatangan pasukan ini
diketahui oleh Belanda, sehingga pecah pertempuran di Laut Arafura. Dalam pertempuran yang
sangat dahsyat ini, MTB Macan Tutul berhasil ditenggelamkan oleh Belanda dan mengakibatkan
gugurnya komandan MTB Macan Tutul Yoshafat Sudarso (Pahlawan Trikora)
Sementara itu Presiden Amerika Serikat yang baru saja terpilih John Fitzgerald Kennedy merasa
risau dengan perkembangan yang terjadi di Irian Barat. Dukungan Uni Soviet (PM. Nikita Kruschev)
kepada perjuangan RI untuk mengembalikan Irian Barat dari tangan Belanda, menimbulkan
terjadinya ketegangan politik dunia, terutama pada pihak Sekutu (NATO) pimpinan Amerika Serikat
yang semula sangat mendukung Belanda sebagai anggota sekutunya. Apabila Uni Soviet telah
terlibat dan Indonesia terpengaruh kelompok ini, maka akan sangat membahayakan posisi Amerika
Serikat di Asia dan dikhawatirkan akan menimbulkan masalah Pasifik Barat Daya. Apabila pecah
perang Indonesia dengan Belanda maka Amerika akan berada dalam posisi yang sulit. Amerika
Serikat sebagai sekutu Belanda akan di cap sebagai negara pendukung penjajah dan Indonesia akan
jatuh dalam pengaruh Uni Soviet.
Untuk itu, dengan meminjam tangan Sekjend PBB U Than, Kennedy mengirimkan diplomatnya
yang bernama Elsworth Bunker untuk mengadakan pendekatan kepada Indonesia Belanda.
Sesuai dengan tugas dari Sekjend PBB ( U Than ), Elsworth Bunker pun mengadakan penelitian
masalah ini, dan mengajukan usulan yang dikenal dengan Proposal Bunker. Adapun isi Proposal
Bunker tersebut adalah sebagai berikut :
Belanda harus menyerahkan kedaulatan atas Irian barat kepada Indonesia melalui PBB
dalam jangka waktu paling lambat dua tahun
Usulan ini menimbulkan reaksi :
1. Dari Indonesia : meminta supaya waktu penyerahan diperpendek
2. Dari Belanda : setuju melalui PBB, tetapi tetap diserahkan kepada Negara Papua Merdeka
c. Operasi Jaya Wijaya
Pelaksanaan Operasi
1. Maret - Agustus 1962 dilancarkan operasi pendaratan melalui laut dan udara
2. Rencana serangan terbuka untuk merebut Irian Barat sebagai suatu operasi penentuan, yang diberi
nama Operasi Jaya wijaya. Pelaksanaan operasi adalah sebagai berikut :
a. Angkatan Laut Mandala dipimpin oleh Kolonel Soedomo membentuk tugas amphibi 17,
terdiri dari 7 gugus tugas
b. Angkatan Udara Mandala membentuk enam kesatuan tempur baru.
Sementara itu sebelum operasi Jayawijaya dilaksanakan, diadakan perundingan di Markas Besar
PBB pada tanggal 15 Agustus 1962, yang menghasilkan suatu resolusi penghentian tembak
menembak pada tanggal 18 Agustus 1962.
Persetujuan New York [ New York Agreement ]
Setelah operasi-operasi infiltrasi mulai mengepung beberapa kota penting di Irian Barat, sadarlah
Belanda dan sekutu-sekutunya, bahwa Indonesia tidak main-main untuk merebut kembali Irian Barat.
Atas desakan Amerika Serikat, Belanda bersedia menyerahkan irian Barat kepada Indonesia melalui
Persetujuan New York / New York Agreement.
Isi Pokok persetujuan :
1. Paling lambat 1 Oktober 1962 pemerintahan sementara PBB (UNTEA) akan menerima serah terima
pemerintahan dari tangan Belanda dan sejak saat itu bendera merah putih diperbolehkan berkibar di
Irian Barat..
2. Pada tanggal 31 Desember 11962 bendera merah putih berkibar disamping bendera PBB.
3. Pemulangan anggota anggota sipil dan militer Belanda sudah harus selesai tanggal 1 Mei 1963
4. Selambat lambatnya tanggal 1 Mei 1963 pemerintah RI secara resmi menerima penyerahan
pemerintahan Irian Barat dari tangan PBB
5. Indonesia harus menerima kewajiban untuk mengadakan Penentuan Pendapat rakyat di Irian Barat,
paling lambat sebelum akhir tahun 1969.
Sesuai dengan perjanjian New York, pada tanggal 1 Mei 1963 berlangsung upacara serah terima Irian
Barat dari UNTEA kepada pemerintah RI. Upacara berlangsung di Hollandia (Jayapura). Dalam
peristiwa itu bendera PBB diturunkan dan berkibarlah merah putih yang menandai resminya Irian Barat
menjadi propinsi ke 26. Nama Irian Barat diubah menjadi Irian Jaya ( sekarang Papua )

38. MASA ORDE BARU


Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru
menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan
semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama.
Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi
Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela
di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.
Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden,
dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993,
dan 1998.
Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis
mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa
jabatannya.
Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi
anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966mengumumkan bahwa Indonesia
"bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-
kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun
setelah Indonesia diterima pertama kalinya.
Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru.
Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait
dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer
Luar Biasauntuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan
digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.
Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan
administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam
gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol).
Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan
menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer. DPR dan MPR tidak
berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka
yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat.
Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor
kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.
Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan
konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo.[rujukan?] Soeharto merestrukturisasi
politik dan ekonomi dengan dwi tujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan
pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta
dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan
politik yang tinggi.
Eksploitasi sumber daya Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan
pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang
besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparan dikurangi dengan
besar pada tahun 1970-an dan 1980-an
39. REVOLUSI HIJAU
Pengertian revolusi hijau adalah sebagai pengembangan teknologi untuk meningkatkan
produksi pangan, terutama jenis makanan pokok, seperti beras, jagung dan gandum.
Munculnya revolusi hijau
Didasari oleh berbagai masalah yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat,yaitunmasalah
pertambahan penduduk lebih cepat dari pada pertambahanhasilproduksi pangan dunia. Pendapat
seorang ahli ekonomi Robert Malthus: pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukut pertumbuhan
pangan mengikuti deret hitung
Tahap-tahap Perkembangan Revolusi Hijau Secara Umum
Tahap 1
tejadi pada tahun 1500 1940 ketika terjadi penyebaran bibittanaman pangan, seperti
gandum,padi, jagung dan kentang keseluruh dunia
Tahap II
terjadi antara tahun 1800 1940 saat Eropa dan Amerikamemainkan peran penting.Pada tahap
ini produksi hasil pertanian khususnya pangan dikembangkan dengan tekhnik ilmiah mealui
pengunaan pupuk,irigasi,serta pemberantasan hama dan penyakit tanaman
Tahap III
terjadi sejak Perang Dunia II yaitu sejak tahun 1939 sampai lebihkurang tahun 1979 yang
ditandai dengan dilakukakannya seleksi bibit dan persilangan genika atas varietas tanaman yang lebih
tahan terhadaphama,seperti serangga dan penyakit .
Tahap IV
berlangsung pada zaman mutakhir dan merupakan kombinasi daritahap II dan Tahap III serta
ditujuan terutama untuk Negara Negara berkembang.
Penelitian yang dilakukan untuk Revolusi Hijau
Pelaksanaan penelitian ilmiah disponsori Ford and Rockefeller Foundation di dua pusat
penelitian dunia yaitu International Maize and Wheat Improvement Centre di Mexico penelitian
inidilakukan oleh Norman E. Baurlang International Rice Reasearch Institut yang berpusat di Los Banos
Filipina
Contoh keberhasilannya IRRI berhasil mengembangkan bibit unggul padi baruyang produktif, yang di
kenal dengan IR 8.Keunggulan usia tanaman pendek sehingga dalam jangka waktu 1 tahun dapatdipanen
sampai 3 kali
Tujuan kedua pusat penelitian
untuk mencari dan mengembangkan berbagaivarietastanaman penghasil biji-bijian yang
berproduksi tinggi yang berskala tinggi
Bukti Keberhasilan dalam Revolusi Hijau
Pada tahun 1965 India sudah memproduksi 12 juta ton gandum , pada tahun1980 telah
meningkat menjadi 20 juta ton. Pada tahun 1960-1970 hasil gandum meningkat sampai kira-kira 132%
Dimulainya Revolusi Hijau di Indonesia
Tanam paksa keaneka ragaman tanaman yang dikembangkan adalah nila, kopi, teh, tembakau ,
kayu manis, kapas, lada dan nopal. Di keluarkannya Undang-Undang Agraria para pengusaha swasta
Belanda boleh membuka usaha perkebunan di Indonesia dengan menyewa tanah para petani Indonesia.
Pada zaman Jepang Revolusi hijau di Indonesia mengalami gangguan karena pemerintah pendudukan
Jepang selalu sibuk berperang melawan sekutu
Sesudah zaman kemerdekaan revolusi Hijau di kembangkan lagi yaitu pertanian dan perkebunan
pemerintah ditata kembali , khususnya tanaman padi yang mendapatkan perhatian khusus dengan
mengusakan bibit unggulguna meningkatkan produksi pangan
Pada zaman Orde Baru Revolusi semakin digalakan lagi, dan dimasukan kedalam Program
Pembangunan Lima Tahun, terutama untuk lebihmeningkatkan produksi hasil pertanian pangan
dan perkebunan.
Kebijakan pembangunan bidang pertanian yang tertuang dalam GBHN tahun 1998 adalah
sebagai berikut : Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan,
daya beli, taraf hidup, kapasitas dan kemandirianserta akses masyarakat pertanian
Tujuan tersebut dapat diraih melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produksi dan distribusi
serta penganekaragaman jenis tanaman
Usaha yang dilakukan Pemerintah dalam Melaksanakan Revolusi Hijau
Intensifikasi pertanian
Kegiatan pengembangan produksi hasil pertanian yaitu dengan menerapkan teknologi tepat guna ( panca
usaha Tani ) untuk tiap luas tanah pertanian yangmeliputi penggunaan bibit unggul, pengelolaan tanah
yang baik, irigasi yangteratur,penggunaan pupuk dan pemberantasan hama
Ekstensisfikasi pertanian
Peningkatan produksi dengan perluasan daerah usaha melalui penggunaan daerah pasang surut di
Sumatera dan Kalimantan untuk persawahan, perluasan jaringan,irigasi dan pembukaan lahan cadangan
di luar Jawa
Diversifikasi
Usaha penganekaragaman jenis tanaman pada suatu lahan pertanian melalui sistimtumpang sari.ini dapat
lebih menguntungkan karena dapat mencegah kegagalan panen pokok, menambah devisa, dan mencegah
penurunan hasil panen
Rehabilitas pertanian
Usaha pemulihan dilakukan dengan cara produktivitas sumber daya pertanian yangkritis,
membahayakan kondisi lingkungan serta daerah rawan, hal tersebutdilakukan untuk meningkatkan taraf
hidup masyarakat

40. LAHIRNYA REFORMASI


Reformasi merupakan suatu perubahan tatanan perikehidupan lama dengan tatanan
perikehidupan yang baru dan secara hukum menuju ke arah perbaikan. Reformasi tahun 1998 menuntut
adanya pembaharuan dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan hukum.
Masalah yang mendesak adalah upaya mengatasi kesulitan masyarakat banyak tentang masalah
kebutuhan pokok (sembako) dengan harga yang terjangkau rakyat. Sedangkan agenda reformasi yang
disuarakan oleh Mahasiswa antara lain :
- Adili Soeharto dan kroni-kroninya
- Amandemen UUD 1945
- Penghapusan Dwi Fungsi ABRI
- Otonomi daerah yang seluas-luasnya
- Supremasi hokum
- Pemerintahan yang bersih dari KKN

41. KRISIS MULTI DIMENSI


Krisis multi dimensi adalah suatu keadaan di mana bangsa dan negara dilanda oleh beraneka
ragam pertentangan besar maupun kecil. Ditambah lagi dengan berbagai keruwetan di bidang politik,
ekonomi, sosial, dan juga kebobrokan moral. Krisis tersebut sedang berusaha memorakporandakan dan
menghancurkan berbagai sendi penting kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu hebatnya krisis
tersebut sehingga banyak orang yang khawatir akan terjadinya disintegrasi bangsa dan negara, atau takut
membayangkan apa yang akan terjadi kelak di kemudian hari.

42. AKHIR PEMERINTAHAN ORDE BARU


Keberhasilan Pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan pembangunan ekonomi, harus
diakui sebagai suatu prestasi besar bagi bangsa Indonesia. Di tambah dengan meningkatnya sarana dan
prasarana fisik infrastruktur yang dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Namun, keberhasilan ekonomi maupun infrastruktur Orde Baru kurang diimbangi dengan
pembangunan mental ( character building ) para pelaksana pemerintahan (birokrat), aparat keamanan
maupun pelaku ekonomi (pengusaha / konglomerat). Kalimaksnya, pada pertengahan tahun 1997,
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi budaya (bagi penguasa, aparat dan penguasa)

43. MASA PEMERINTAHAN HABIBIE


Usai Presiden Soeharto mengucapkan pidatonya Wakil Presiden B.J. Habibie langsung diangkat
sumpahnya menjadi Presiden RI ketiga dihadapan pimpinan Mahkamah Agung, peristiwa bersejarah ini
disambut dengan haru biru oleh masyarakat terutama para mahasiswa yang berada di Gedung
DPR/MPR, akhirnya Rezim Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto berakhir dan Era Reformasi
dimulai di bawah pemerintahan B.J. Habibie
Habibie yang manjabat sebagai presiden menghadapi keberadaan Indonesia yang serba parah,
baik dari segi ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Habibie
adalah berusaha untuk dapat mengatasi krisis ekonomi dan politik. Untuk menjalankan pemerintahan,
Presiden Habibie tidak mungkin dapat melaksanakannya sendiri tanpa dibantu oleh menteri-menteri dari
kabinetnya.
Kelebihan
Berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar masih berkisar antara Rp 10.000 Rp
15.000.
Memulai menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi
perekonomian dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN dan unit
Pengelola Aset Negara
Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah
Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp. 10.000,00
Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri
Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF
Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan
yang Tidak Sehat
Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Kelemahan
diakhir kepemimpinannya nilai tukar rupiah kembali meroket
tidak dapat meyakinkan investor untuk tetap berinvestasi di indonesia.
Kebijakan yang di lakukan tidak dapat memulihkan perekonomian indonesia dari krisis

44. PERANG DINGIN


Perang dingin merupakan perang yang terjadi tanpa adanya bentrokan fisik, maksudnya pihak
yang berperang saling menggertak satu sama lain dengan memperlihatkan kebolehannya dan
kelebihannya tanpa menyerang satu sama lain.
Setelah perang dunia ke-2 berakhir, Amerika Serikat dan Unisoviet muncul sebagai negara
adikuasa. Amerika serikat muncul dengan ideologi demokratis kapitalis, dan Unisoviet muncul dengan
ideologi komunis. Kedua negara tersebut berusaha mencari pengaruh dan dukungan dari negara-negara
yang baru memerdekakan diri. Mereka bersaing dalam melakukan ekspansi ideologi. Hal ini memicu
terjadinya perang dingin dan berpengaruh kepada negara-negara di luar Eropa.

45. PERKEMBANGAN IPTEK