Anda di halaman 1dari 17

56

IV . KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Soppeng

Letak geografis Kabupaten Soppeng berada pada titik koordinat 40 0600 -


403200LS dan 11904718- 12000613BT. Secara administasi wilayah Kabupaten
Soppeng berbatasan:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang
dan Kabupaten Wajo.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Kabupaten
Bone.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bone.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Barru.
Jarak Kabupaten Soppeng dari ibukota Propinsi Sulawesi Selatan yakni
172 km. Luas wilayah kabupaten ini adalah 1500 km2 dengan ibukota Kabupaten
adalah Watansoppeng, Wilayah Kabupaten Soppeng terbagi atas 8 (delapan)
kecamatan dengan pembagian luas dan prosentasinya disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Luas daerah menurut kecamatan di Kabupaten Soppeng

Kecamatan Luas (km2) Prosentase


Mario Riwawo 300 20
Lalabata 278 18.5
Liliriaja 96 6.4
Ganra 57 3.8
Citta 40 2.7
Lilirilau 187 12.5
Donri Donri 222 14.8
Marioriawa 320 21.3
Sumber : BPS Kab. Soppeng, 2009
Wilayah Kabupaten Soppeng terletak didepresiasi Sungai Walanae yang
terdiri dari daratan dan perbukitan. Daratan luasnya 700 Km2 berada pada
ketinggian rata-rata 60 meter di atas permukaan laut. Perbukitan yang luasnya
800 Km2 berada pada ketinggian rata-rata 200 meter di atas permukaan laut.
57

Sedang Ibukota Watansoppeng berada pada ketinggian 120 meter di atas


permukaan laut.
Temperatur udara di Kabupaten Soppeng antara 240C hingga 300C.
Keadaan angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. Curah hujan
Kabupaten Soppeng pada tahun 2008 berada pada intensitas 148 mm dan 14 hari
hujan/bulan. Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng tertinggi
terjadi pada bulan April yaitu 209 mm dan yang terendah yakni bulan September
yakni 63 mm.
Potensi sumber daya air disamping untuk kehidupan sehari-hari juga
berfungsi untuk menunjang berbagai aktivitas dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan manusia seperti pertanian, perikanan, perindustrian, pembangkit
tenaga listrik dan sebagainya. Sebagian besar wilayah Kabupaten Soppeng
merupakan daerah air tanah dangkal dan dalam, terutama di Kecamatan Lalabata.
Sumber air permukaan di Kabupaten Soppeng berasal dari lima sungai utama
yang karakteristiknya disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Nama sungai utama di Kabupaten Soppeng
Nama
Hulu Daerah Aliran Muara
Sungai
Langkemme G. Lapancu Dusun Umpungeng, Langkemme, S.Walanae
Cenranae, Soga, Lingkungan Sewo
Bila
Soppeng G.Matanre Lapajung, Ujung, Mallanroe, S.Walanae
Akkampeng, Belo, Lompulle
Lawo G. Lapancung Lingkungan Lawo, Ompo, D.Tempe
Cenrana, Paowe, Ganra
Paddangeng G.Walemping Dusun Tajuncu, Paddangeng, D. Tempe
Turung Lappae, Leworeng, Tokare
Lajaroko G.Addepungeng Dusun Lajaroko, Batu-batu, D. Tempe
Limpomajang, Toddang, Saloe
Sumber: BPS Kab. Soppeng, 2009

Kabupaten Soppeng yang luasnya 150 000 ha digunakan untuk lahan


persawahan seluas 25 275 ha atau sekitar 16.85%. Selebihnya digunakan untuk
lahan perkebunan, pekarangan, ladang, dan ada 2% yang merupakan danau
sebagai sumber penghasil ikan di Kabupaten Soppeng. Lebih dari separuh areal
persawahan di Kabupaten Soppeng sudah berpengairan teknis/setengah teknis
atau sekitar 58.93%. Dengan luasan persawahan tersebut, maka Kabupaten
58

Soppeng termasuk salah satu daerah penghasil beras yang utama di Propinsi
Sulawesi Selatan. Pada tahun 2008 jumlah produksi padi di Kabupaten Soppeng
sebanyak 257 450 ton dengan produktivitas 7 317 ton/ha. Hasil produksi padi di
Kabupaten Soppeng sejak tahun 2004 hingga tahun 2007 disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Produksi padi tahun 2004 2008 di Kabupaten Soppeng


Tahun Produksi Padi (ton) Perubahan (%)
2004 215 973
2005 182 513 -15.5
2006 213 703 17.1
2007 224 961 5.3
Sumber : BPS Kab. Soppeng, 2009

Tabel 11 menggambarkan bahwa pada tahun 2005 terjadi penurunan


produksi padi sebesar 15.5%. Pada tahun 2006 terjadi peningkatan produksi
sebesar 17.1% dan pada tahun 2007 meningkat sebesar 5.3%. Namun demikian di
beberapa wilayah, persawahan tersebut mengalami ancaman banjir dan
kekeringan sehingga terjadi gagal panen. Data pada tahun 2010 diperoleh
gambaran bahwa terdapat 1 106 ha sawah yang gagal panen dan keseluruhannya
terdapat di Kecamatan Ganra.
Hasil perkebunan di Kabupaten Soppeng merupakan produk yang ikut
menunjang tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Soppeng sesudah produk
tanaman pangan. Salah satu produk perkebunan yang berhasil dikembangkan di
Kabupaten Soppeng dan dapat meningkatkan taraf hidup petani adalah kakao.
Peningkatan produksi kakao di Kabupaten Soppeng dapat dilihat bahwa pada
tahun 2007 sebesar 6 877 ton dan pada tahun 2008 sebesar 8 136 ton.
Jumlah penduduk di Kabupaten Soppeng dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan. dengan jumlah yang kurang signifikan. Pada tahun 2006
pertumbuhan penduduk hanya sebesar 0.57%, sedang pada tahun 2007 jumlah
penduduk meningkat sebesar 0.40%. Peningkatan jumlah penduduk tersebut
disajikan pada Tabel 12
59

Tabel 12. Jumlah penduduk di Kabupaten Soppeng tahun 2005 - 2008


Tahun Jumlah Penduduk Pertumbuhan (%)
2005 225 984
2006 227 273 0.57
2007 228 181 0.40
2008 229 502 0.58
Sumber: BPS Kab. Soppeng, 2009

Tingkat kepadatan penduduk terbesar pada kecamatan Liliriaja yaitu


sebesar 281 jiwa/km2, sedang kecamatan Marioriawa memiliki kepadatan
penduduk terkecil yakni 89 jiwa/km2. Secara keseluruhan tingkat kepadatan
penduduk di Kabupaten Soppeng sebesar 153 jiwa/km2 pada tahun 2008. Jumlah
rumah tangga di Kabupaten Soppeng sebesar 55 348 rumah tangga dan sekitar
19% yang merupakan rumah tangga miskin. Hal ini pada umumnya disebabkan
oleh minimnya tingkat pendidikan masyarakat dan keterbatasan untuk
menciptakan lapangan kerja.
Tingkat pendidikan penduduk di Kabupaten Soppeng relatif rendah yaitu
pada umumnya tidak berpendidikan SD dan tamat SD. Gambaran tingkat
pendidikan penduduk dengan usia di atas 10 tahun disajikan pada Tabel 13
Tabel 13. Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas
menurut pendidikan yang ditamatkan
Pendidikan yang ditamatkan Prosentase
Tidak tamat SD 37.40
SD 31.43
SMP 15.59
SMA 11.34
Diploma I/II 0.52
Diploma III/Sarjana muda 0.66
S1-S2-S3 3.06
Sumber: BPS Kab. Soppeng, 2009

Dengan tingkat pendidikan yang diuraikan pada Tabel 13 menunjukkan


keterkaitan dengan pekerjaan yang digeluti oleh masyarakat secara umum.
Lapangan usaha yang digeluti oleh masyarakat sebagian besar adalah dibidang
pertanian yaitu sebesar 68.40% penduduk angkatan kerja, sedang lapangan usaha
60

industri merupakan bidang yang paling sedikit digeluti yakni hanya sebesar
2.83%.
Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Soppeng pada tahun 2007
mengalami pertumbuhan sebesar 5.37%, angka pertumbuhan tersebut berada
dibawah pertumbuhan tahun 2006 sebesar 6.63%. (BPS Kab. Soppeng tahun
2009). Salah satu indikator yang paling penting adalah produk domestik regional
bruto (PDRB), yaitu jumlah produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh
penduduk Kabupaten Soppeng dalam kurun waktu satu tahun. Kemajuan
perekonomian suatu daerah dapat ditentukan dengan produksi yang diukur
melalui PDRB. Besaran PDRB digunakan sebagai indikator utama untuk menilai
kinerja perekonomian suatu wilayah teutama terkait dengan kemampuan daerah
dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya. Produk Domestik Regional
Bruto dihitung menurut harga konstan, maka selama periode tahun 2006-2007
PDRB atas dasar harga konstan meningkat sebesar 5.37 persen dari Rp. 953.61
milyar menjadi Rp. 1 004.85 milyar.

Gambar 15.Sektor perekonomian Kabupaten Soppeng


(Sumber: BPS Kab. Soppeng, 2009)

Berdasarkan Gambar 15, sektor perekonomian Kabupaten Soppeng


didominasi oleh sektor pertanian (48.58%). Sedang sektor yang paling minim
kontribusinya pada perekonomian adalah sektor pertambangan (0.57%).
Tingginya kontribusi sektor pertanian pada perekonomian di wilayah ini terkait
61

dengan luas pemanfaatan lahan untuk sawah dan perkebunan yang masih tinggi
serta dukungan ketersediaan sumber daya air dan prasarana irigasi.
Kondisi lingkungan di Kabupaten Soppeng cukup memprihatinkan. Hal ini
disebabkan dengan adanya lahan kritis seluas 14 494.36 ha. (KLH Kab. Soppeng,
2010). Lahan kritis ini disebabkan oleh meningkatnya tingkat kerusakan hutan
yang ditandai dengan sistem hidrologi sungai yang fluktuatif, pada musim hujan
terjadi banjir dan pada musim kemarau terjadi kekeringan.
Kerusakan hutan di Kabupaten Soppeng pada umumnya disebabkan oleh
kegiatan ladang berpindah, yaitu membuka lahan untuk ditanami tanaman
ekonomi sehingga fungsi lahan berubah menjadi lahan perkebunan. Data pada
Status Lingkungan Hidup Kabupaten Soppeng 2010 menunjukkan bahwa 53%
dari total luas hutan yang ada di Kabupaten Soppeng rusak akibat kegiatan ladang
berpindah. Kerusakan hutan tersebut merupakan penyebab utama terjadinya banjir
yang sering terjadi di Kabupaten Soppeng.

4.2.Kondisi Fisik DAS Lawo


Letak Administratif
Secara administrasi DAS Lawo melintasi 2 kecamatan yaitu Kecamatan
Lalabata dan Kecamatan Ganra. Pada Kecamatan Lalabata terdapat pada dua
kelurahan yaitu Kelurahan Ompo dan Kelurahan Salokaraja. Sedang pada
Kecamatan Ganra terdapat pada Desa Ganra.
Kondisi Topografi
Tinggi rendahnya suatu lokasi akan menentukan kelembaban udara pada
daerah tersebut, karena ketinggian merupakan salah satu faktor fisik yang
berpengaruh terhadap suhu udara. Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo 1 000
meter dpl, bagian tengah DAS 180 - 500 meter dpl, dan bagian hilir DAS 32
meter dpl. Wilayah DAS Sungai Lawo mempunyai kemiringan berkisar dari
lereng 0% hingga lereng > 45%. Untuk kemudahannya lereng dikelompokkan
menjadi 5 kelas, yaitu: lereng 0% 7% berada pada daerah hilir, lereng 8% -
15% dan lereng 15% 25% berada pada bagian tengah, lereng 26% - 45% dan
lereng > 45% berada pada bagian hulu. Gambaran klasifikasi dan luas lereng di
wilayah DAS Lawo disajikan pada Tabel 14.
62

Tabel 14. Klasifikasi dan luas lereng pada DAS Lawo


No. Klasifikasi Lereng Luas (Ha) Prosentase (%)
1 0% 7% 11 860.92 69.3
2 8% 15% 486.34 2.8
3 16% 25% 2 502.46 14.6
4 25% 45% 1 391.19 8.1
5 >45% 863.54 5.0
Jumlah 17 104.45 100.0
Sumber : Bappeda Kab. Soppeng, 2007
Tabel 14 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah DAS Lawo memiliki
kemiringan lereng 0 7% atau relatif datar dan pada umumnya berada pada
daerah hilir. Sedang wilayah dengan kelerengan 8-15%, dan lereng 15 25%
berada pada daerah tengah. Pada daerah hulu, kemiringan lereng 25 45% serta
diatas 45%.
Geologi dan Jenis Tanah
Formasi geologi yang tersebar diseluruh Wilayah Kabupaten Soppeng
termasuk wilayah DAS Lawo, tersusun dari alluvium endapan danau, pantai dan
sedimen serta batu gamping, yang berasal dari terobosan beku formasi terumbu
berumur holosen, meosin dan pleosin. Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah
alluvial kelabu tua, gromosol, mediterian coklat, mediterian coklat regosol, dan
litosol yang tersebar dari hulu - hilir. Untuk lebih jelasnya klasifikasi jenis tanah
serta luasan dan prosentasenya disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Jenis tanah di wilayah DAS Lawo
Jenis Tanah Luas (Ha) Prosentase (%)
Alluvial 8 685.25 50.8
Gromosol 2 795.93 16.3
Mediterian 2 739.35 16.0
Mediterian Regosol 2 883.92 16.9
Jumlah 17 104.45 100.0
Sumber: Bappeda Kab. Soppeng, 2007

Hidrologi
Pengetahuan tentang kondisi hidrologi pada suatu daerah aliran sungai
sangat penting dalam upaya pengelolaan sungai. Kondisi hidrologi suatu wilayah
dipengaruhi oleh kondisi iklim serta topografi dan geologinya. Data iklim pada
Sungai Lawo disajikan berdasarkan hasil pengukuran dari tahun 1985 hingga
63

tahun 2008 di Stasiun Klimatologi Mallanroe yang terletak di sekitar Sungai


Lawo pada koordinat 4o2038 LS dan 119o5516 BT diuraikan pada Tabel 16.
Suhu rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Oktober sebesar 25.69oC sedang suhu
terendah pada bulan Februari sebesar 21.41oC. adapun suhu rata-rata pada wilayah
ini sebesar 23.49oC. Selanjutnya dengan melihat kondisi penyinaran matahari
maka didapatkan rata rata penyinaran matahari selama 6.81 jam/hari dengan
kelembaban realtif rata rata sebesar 85.90%.
Tabel 16. Kondisi klimatologi Daerah Aliran Sungai Lawo
Penyinaran Kecepatan
o Kelembaban
Bulan Suhu ( C) matahari angin
relatif (%)
(jam/hari) (m/detik)
Januari 21.65 6.84 85.34 0.28
Februari 21.41 6.23 86.93 0.41
Maret 21.92 7.20 85.78 0.31
April 23.66 7.28 86.11 0.28
Mei 23.66 7.02 87.90 0.50
Juni 24.10 4.15 85.67 0.50
Juli 22.69 5.30 85.94 0.43
Agustus 23.58 8.26 88.07 0.49
September 24.02 8.83 86.10 0.54
Oktober 25.69 7.78 81.29 0.56
November 25.13 7.15 85.05 0.31
Desember 24.20 6.67 86.93 0.43
Rata-rata 23.49 6.81 85.90 0.42
Sumber: Dinas PSDA Prov. Sul-Sel. 2009

Kondisi iklim juga ditandai dengan curah hujan pada suatu wilayah. Data
yang diperoleh dari Stasiun pengamat Lapajung yang terletak pada DAS Lawo
untuk tahun 1985 hingga tahun 2008 menunjukkan rata-rata curah hujan bulanan
sebesar 154 mm. Adapun rata-rata curah hujan bulanan dalam kurun waktu
tersebut disajikan pada Gambar 16.
64

300

245
250

205 209
200
Curah Hujan (mm)

176 172
167
157
142 144
150
125

100

59
47
50

0
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember

Gambar 16. Grafik fluktuasi rata-rata curah hujan bulanan Tahun 1985 - 2008

Berdasarkan data yang diuraikan tersebut maka wilayah penelitian


termasuk dalam iklim basah. Dimana terdapat dua bulan kering yaitu bulan
Agustus dan September dengan curah hujan bulanan kurang dari 60 mm. Sedang
jumlah bulan basah (curah hujan lebih besar dari 100 mm) sebanyak 10 bulan.
Dengan demikian diperoleh nisbah bulan kering:bulan basah sebesar 0.2.
Kondisi hidrologi DAS Lawo berdasarkan data dari Dinas PSDA bahwa
debit 4.725 m3/detik. Pada wilayah DAS Lawo terdapat beberapa wilayah yang
rawan banjir dengan pembagian karakteristik riwayat banjir disajikan pada Tabel
17.
Tabel 17. Luas genangan yang terjadi pada DAS Lawo
Jenis Genangan Luas (Ha) Prosentase (%)
Permanen 76.53 0.4
Periodik 845.46 5.0
Temporer 307.13 1.8
Non genangan 15 875.33 92.8
Jumlah 17 104.45 100.0
Sumber: Bappeda Kab. Soppeng. 2007

Pada Tabel 17 ditunjukkan bahwa terdapat sebanyak 7.186% luas wilayah


pada DAS Lawo yang mengalami ancaman banjir. Genangan permanen sebagian
besar terjadi pada daerah hilir yaitu di pinggiran Danau Tempe.
65

Struktur dan Tipologi


Karakteristik hulu DAS Lawo secara umum merupakan kawasan hutan
lindung yang memiliki kerapatan hutan baik. Penduduk yang bermukim di sekitar
hulu DAS memberikan perlindungan pada kondisi hutan tersebut. Namun di
beberapa bagian sungai terdapat kerusakan kondisi fisik sungai seperti perubahan
alur sungai.
Pada bagian tengah DAS yang merupakan daerah transisi antara bagian
hulu dan hilir DAS di beberapa tempat telah mengalami perubahan dalam bentuk
alur air dan bahkan terjadi pelebaran sungai sehingga nampak di beberapa bagian
tengah sungai tidak ada air yang mengalir. Tata guna lahan pada bagian tengah
DAS umumnya berbentuk sawah, kebun dan pemukiman. Kondisi ini
menyebabkan terjadinya sedimentasi yang berlebihan.
Pada bagian hilir DAS Lawo dari segi fisik sungai umumnya sudah
mengalami degradasi terutama dalm bentuk sedimentasi. Kondisi ini dibiarkan
berlanjut terus menerus maka akan berlanjut dengan proses pendangkalan di
bagian tengah sungai dan akan mengganggu keberlangsungan ekosistem di bagian
hilir DAS itu sendiri.
Pemukiman merupakan salah satu komponen utama DAS. Terjadinya
kerusakan terutama di wilayah bagian hulu DAS tidak terlepas dari berbagai
aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di daerah sekitar DAS.
Sebaran pemukiman tersebar diseluruh wilayah DAS Lawo mulai dari hulu
hingga hilir. Di bagian hulu DAS terdapat 4 (empat) kampung antara lain;
Kampung Teppoe, Ara, Galunglangie, dan Seppang yang masuk di wilayah
Kecamatan Lalabata dan Donri-Donri. Bagian tengah DAS terdapat 6 (enam)
kampung antara lain Kampung Lawo, Cenrana. Paowe (di wilayah kecamatan
Lalabata) dan Talumae (wilayah Kecamatan Ganra). Sedangkan dibagian hilir
DAS terdapat Kampung Bakke dan Desa Ganra di wilayah Kecamatan Ganra.

Vegetasi
Jenis vegetasi penutupan lahan dalam suatu wilayah DAS sangat
berpengaruh terhadap tingkat resiko lingkungan yang akan terjadi seperti erosi.
banjir dan sedimentasi. Vegetasi penutupan lahan merupakan salah satu
komponen pembentuk DAS yang berperan penting terhadap keberlangsungan
66

ekosistem DAS itu sendiri. Kaitannya dengan fungsi yang dijalankan maka
vegetasi mempunyai pengaruh yang sangat besar terutama dalam menahan
pukulan butir-butir air hujan dan menyimpan untuk sementara air yang
diterimanya yaitu pada lapisan serasah yang selanjutnya akan menyerap dan
memperlambat tingkat aliran permukaan.
Tipe vegetasi penutupan lahan di wilayah DAS Lawo antara lain
pemukiman, hutan, persawahan, kebun campuran, tegalan/ladang, belukar dan
sebagian adalah rawa. Kondisi hutan di wilayah hulu DAS Lawo masih dalam
status hutan lindung. sehingga kondisinya perlu dipertahankan fungsi lindungnya
agar tetap terjaga. Namun disisi lain kerapatan pohon sudah mulai berkurang.
disebabkan karena terjadinya penebangan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab dan belum sadar akan pentingnya pelestarian hutan.
Sedangkan jenis penutupan lahan lainnya tersebar diseluruh wilayah DAS lawo.
Pemukiman sebagian terdapat di bagian hulu DAS, dan secara umum
tersebar di bagian tengah dan hilir DAS. Kebun campuran dan tegalan/ladang
tersebar dari hulu-hilir umumnya terdapat di wilayah tengah DAS. Sedangkan
persawahan sebagian terdapat di bagian hulu dan tengah DAS dengan luasan
tertentu. Rawa hanya terdapat di bagian hilir DAS. Jenis penutupan lahan pada
DAS Lawo disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Jenis tutupan lahan pada DAS Lawo
Penutupan Lahan Luas (Ha) %
Permukiman 306.34 1.8
Hutan 4 584.56 26.8
Belukar 878.37 5.1
Kebun Campuran 1 405.21 8.2
Persawahan 5 775.97 33.8
Rawa 76.53 0.4
Ladang/tegalan 4 077.47 23.8
Jumlah 17 104.45 100.0
Sumber: Bappeda Kab. Soppeng. 2007

Tabel 18 menunjukkan bahwa jenis tutupan lahan yang mendominasi


kawasan DAS Lawo adalah persawahan sebesar 33.769%. Sedang prosentase
tutupan lahan yang berjenis hutan sebesar 26.803% menunjukkan kondisi
ekosistim ini masih relatif baik.
67

Erosi dan Sedimentasi


Aktivitas penduduk pada wilayah DAS secara tidak terkendali akan
memberikan dampak terhadap perubahan kondisi fisik sungai terutama dalam
bentuk erosi dan sedimentasi. Pada wilayah DAS Lawo. luas kawasan yang rawan
erosi seluas 2 283.14 Ha (13.35%). Selanjutnya di sepanjang sungai juga terjadi
erosi tebing sungai. Akibat dari erosi tersebit. maka di daerah hilir terjadi
sedimentasi yang berlebihan dimana terjadinya penyempitan sungai hingga
berukuran 6 meter. Akibatnya kapasitas tampung sungai semakin kecil dan sering
terjadi banjir utamanya pada wilayah Kecamatan Ganra. Kondisi ini lebih
diperparah oleh perilaku masyarakat yang kurang baik yaitu sering membuang
sampah ke sungai.

4.3. Sungai Lawo


Sungai Lawo merupakan salah satu sungai utama di Kabupaten Soppeng
dengan hulu pada Gunung Lapancu dan bermuara di Danau Tempe. Sungai ini
melintasi beberapa wilayah pemukiman yaitu Lingkungan Lawo. Ompo. Paowe.
dan Ganra. Pemanfaatan sumber daya air pada Sungai Lawo yaitu untuk
kebutuhan rumah tangga serta keperluan irigasi. Di wilayah kajian terdapat
sebanyak 9 bendung yang dibangun untuk mengairi sawah di wilayah DAS Lawo.
Bendung yang terbesar adalah bendung Tinco yang terletak di Kelurahan Ompo
Kecamatan Lalabata. Bendung ini direncanakan mengairi sawah seluas 3 215 ha
(Data Bappeda Kabupaten Soppeng. 2007). Pemanfaatan sumber daya alam yang
lain adalah penambangan material sungai yaitu kerikil. Salah satu areal tambang
pada Sungai Lawo terletak pada Desa Cenrana Kabupaten Soppeng.
Debit pada sungai ini fluktuatif dimana antara tahun 1975 1998 debit
ekstrim yang terjadi dengan muka air tertinggi adalah 3.00 meter dengan debit
sebesar 508 m3/s yang terjadi pada tanggal 1 Maret 1997. sedang aliran terkecil
setinggi 0.15 meter dengan debit sebesar 0.51 m3/s pada tanggal 16 Maret 2008.
Pembacaan data aliran ini adalah pada koordinat 4o2116LS dan 119o4939BT
yaitu pada Stasiun pembacaan di Kampung Talumpu Kecamatan Lalabata
Kabupaten Soppeng. Grafik aktual harian Sungai Lawo pada tahun 2001 disajikan
pada Gambar 17 dan pada tahun 2008 disajikan pada Gambar 18.
68

Gambar 17. Grafik debit aktual harian Sungai Lawo tahun 2001

Gambar 18. Grafik debit aktual harian Sungai Lawo tahun 2008
Gambar 17 dan Gambar 18 menunjukkan bahwa pada tahun 2001 debit
maksimum yang terjadi pada Sungai Lawo lebih kecil dari 40 m3/s. sedang pada
tahun 2008 debit maksimum yang terjadi sebesar 110 m3/s. Hal ini menunjukkan
bahwa terjadi perbedaan aliran yang sangat besar antara tahun 2001 dan 2008.
Adapun tingkat kekritisan DAS dapat dilihat berdasarkan rasio debit maksimum
dan minimum. Berdasarkan data curah hujan tahun 2008 diperoleh debit
minimum sebesar 1.404 m3/s sedang debit maksimum sebesar 110 m3/s. sehingga
diperoleh rasio sebesar 78.57 atau mengindikasikan bahwa DAS Lawo masih
69

dalam kondisi sedang. Hal ini sesuai dengan uraian Nugroho (2010) bahwa jika
Qmaks/Qmin antara 40-80, maka DAS tersebut dinilai dalam kondisi kualitas
sedang.
Wilayah kajian pada Sungai Lawo berawal pada daerah hulu sungai yaitu
tepatnya pada Kampung Seppang Kecamatan Lalabata dan berakhir pada Desa
Bakke Kecamatan Ganra. Panjang sungai yang menjadi wilayah penelitian adalah
16 400 m dengan luas daerah tangkapan adalah 76.54 km2.
Kondisi erosi tebing pada Sungai Lawo merupakan masalah dan
menyebabkan kerugian akibat kehilangan lahan. Terjadinya erosi tebing
dipengaruhi akibat kondisi tanah yang jenuh pada musim hujan dan menyebabkan
meningkatnya massa tanah. Akibatnya beban pada tanah meningkat dan akan
terjadi kelongsoran. Erosi tebing sungai juga dipengaruhi oleh kecepatan air.
vegetasi di sepanjang tebing sungai. kegiatan bercocok tanam di pinggir sungai.
kedalaman dan lebar sungai. bentuk alur sungai dan tekstur tanah (Asdak, 2007).
Kondisi tebing Sungai Lawo yang dideskripsikan dengan kejadian erosi
dan tidak erosi. Kejadian erosi tebing dapat diamati dua cara yaitu berdasarkan
adanya akar pohon yang nampak pada tebing sungai (Walker et al., 1992) serta
kondisi tidak adanya vegetasi pada tebing. Berdasarkan hasil pengamatan pada 83
titik pembacaan. diperoleh gambaran bahwa pada sisi kanan sungai erosi tebing
yang terjadi lebih kecil dibandingkan pada sisi kanan sungai. Secara detail
kejadian erosi tebing disepanjang sungai dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19. Kondisi tebing sungai pada Sungai Lawo


Kejadian erosi tebing yang diamati sebagian besar terjadi pada daerah
dengan tata guna lahan pada bantaran sungai adalah sawah dan kebun. Pada kedua
70

jenis tata guna lahan tidak dilakukan perlindungan tebing sungai secara struktural.
Secara parsial deskripsi kejadian erosi tebing sungai disajikan pada Gambar 20.

100.0
87.5
90.0 84.2 83.3
80.0
70.0
Erosi Tebing (%)

60.0 55.0
50.050.0
50.0 46.246.2
36.4 36.8
40.0
30.0
16.7
20.0 10.0
10.0 0.0 0.0
0.0
Seppang Lawo Cenrana Paowe Talumae Ganra Bakke
Kiri 46.2 55.0 87.5 36.4 50.0 84.2 16.7
Kanan 46.2 10.0 0.0 0.0 50.0 36.8 83.3

Gambar 20. Kondisi erosi tebing pada setiap lokasi di Sungai Lawo
Gambaran kejadian erosi tebing di Seppang, Talumae, Ganra, dan Bakke
terjadi di sisi kiri dan kanan sungai. Kondisi morfologi sungai pada wilayah ini
dengan banyak meander merupakan faktor utama penyebab erosi tebing. Kondisi
morfologi sungai yang memiliki meander mengakibatkan aliran air yang terjadi
mengarah ke daerah tertentu di sisi luar belokan. Pada kondisi ini, aliran air akan
berusaha bergerak keluar sehingga kecepatan air di sisi luar belokan akan lebih
besar dibanding di sisi dalam belokan. Akibatnya. pada sungai yang memiliki
tebing dengan kondisi tanah yang tidak stabil akan cenderung terjadi kelongsoran
pada tebing di bagian luar belokan sungai. Proses kelongsoran tebing ini terjadi
akibat adanya proses gerusan yang terus menerus di dasar tebing sebagai reaksi
perubahan dasar terhadap kondisi pola aliran di belokan (Sujatmoko, 2006)
Kondisi Dasar Sungai
Dasar sungai tersusun oleh material yang terangkut secara alamiah oleh
aliran air dan mengendap pada daerah tertentu. Forman dan Gordon (1983) dalam
Waryono (2008) menyebutkan bahwa dasar sungai sangat bervariasi, dan sering
mencerminkan batuan dasar yang keras. Jarang ditemukan bagian yang rata.
kadangkala bentuknya bergelombang, landai atau dari bentuk keduanya, sering
terendapkan material yang terbawa oleh aliran sungai (endapan lumpur). Tebal
tipisnya dasar sungai sangat dipengaruhi oleh batuan dasarnya.
71

Kondisi dasar sungai Lawo bervariasi dari hulu ke hilir. Pada wilayah
pengukuran sepanjang 16 400 meter terdapat 243% panjang sungai yang dasarnya
terbentuk oleh batuan dengan ukuran 5 mm20 mm. Hal ini sesuai dengan
Gambar 21.

Gambar 21. Distribusi sedimen dasar pada Sungai Lawo


Adapun perbedaan sedimen dasar dapat diuraikan bahwa semakin ke
hilir, maka sedimen sungai semakin halus. Dasar sungai pada Daerah Seppang
yang terletak di hulu sungai didominasi oleh batuan dengan diameter yang lebih
besar 20 mm. Dasar sungai pada daerah Cenrana didominasi dengan batuan
kerikil diameter 5 mm hingga 20 mm. Sedang daerah Talumae, dasar sungainya
sebagian besar terbentuk oleh pasir dan Daerah Bakke terbentuk oleh sedimen
lumpur. Hal ini tergambar pada Gambar 22.

Gambar 22. Variasi kondisi dasar sungai pada setiap wilayah


72

Sedimen dasar sungai merupakan sumber bahan galian tambang


utamanya pada daerah Lawo dan Cenrana. Kegiatan penambangan tersebut
memberikan dampak negatif pada tanggul sungai, sehingga mempermudah
terjadinya erosi tebing. Kegiatan lain yang mempertinggi sedimentasi pada daerah
hilir adalah adanya pembuangan limbah abu sekam padi di sungai.