Anda di halaman 1dari 30

PERAN STAKEHOLDER DALAM REKLAMASI DAN

PASCATAMBANG

TUGAS KELOMPOK

Disusun sebagai salah satu syarat lulus


Mata Kuliah TA4221- Kebijakan Pertambangan

Oleh:
Friska Martha 12111004
Ifikhor Fadhilah 12111046
Budi Seftafiandra 12112004
Siswo Afrianto 12112032
Arruya Ashadiqa 12112062
Hermas Puntodewo 12112083

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015
LEMBAR PENGESAHAN

PERAN STAKEHOLDER DALAM REKLAMASI DAN


PASCATAMBANG

TUGAS KELOMPOK

Bandung, April 2015


Disetujui untuk
Program Studi Teknik Pertambangan
FTTM ITB
Oleh:
Pembimbing

Dr-Ing. Ir. Aryo P. Wibowo, M Eng


NIP. 195905061986011001

1
ABSTRAK

Koordinasi antara sektor pertambangan dan perhutanan merupakan dua hubungan


yang selama ini kerap muncul sebagai dua sektor yang saling bermasalah satu sama
lain. Dengan potensi pertambangan mayoritas adadi kawasan hutan lindung.
Permasalahan yang tidak kalah penting adalah tumpang tindih antara lahan
pertambangan dan kehutanan yang disebabkan karena berlakunya UU No. 41 Tahun
1999, kegiatan pertambangan dilarang di kawasan hutan lindung dan hutan
konservasi. Perusahaan yang wilayah pertambangannya di kawasan hutan lindung,
maka alternatif penyelesaiannya perlu mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya:
pertimbangan ekonomis, sosial, kestrategisan, dan keberlangsungan lingkungan;
kemudian pertimbangan kegiatan pertambangan yang sedang dilakukan, apakah
sedang melakukan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
maupun operasi produksi (eksploitasi). Dengan demikian, terdapat pembedaan
perlakukan, antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, tergantung pada
pertimbangan-pertimbangan tersebut.

Dalam penyelesaian permasalahan, perlu diidentifikasi lebih teliti keberadaan lokasi


penambangan, apakah benar-benar di kawasan hutan lindung atau tidak. Sehingga
dilakukan kajian terhadap masalah-masalah tersebut dengan metode penulisan kajian
kebijakan tersebut dengan (1)kajian, (2)kebijakan, (3)tinjauan pustaka dan
(4)perumusan alternatif penyelesaian permasalahan. Ketepatan ini dapat didukung
dengan adanya teknologi inderaja. Secara umum, alternatif penyelesaian dapat berupa
langkah non teknis (pendekatan yuridis) dan langkah teknis

Kata kunci : Konservasi, Hutan lindung, Tambang, Kebijakan dan Undang-undang

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat dan rahmat-
Nya pengerjaan makalah Peran Stakeholder Dalam Reklamasi dan Pascatambang ini
dapat kami selesaikan. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata
kuliah Kebijakan Pertambangan.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu penulisan makalah ini, khususnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Made Astawa Rai dan Bapak Dr-Ing. Ir. Aryo P. Wibowo,
M Eng., selaku dosen pengajar mata kuliah Kebijakan Pertambangan.
2. Teman-teman Teknik Pertambangan ITB angkatan 2011 dan 2012, yang telah
memberikan semangat secara tidak langsung dalam pembuatan makalah ini.
Serta pihak-pihak lain yang membantu penyelesaian makalah ini, yang tidak
dapat kami sebutkan satu-persatu.

Kami menyadari, bahwa didalalam makalah Peran Stakeholder Dalam Reklamasi dan
Pascatambang ini, mungkin masih terdapat berbagai kesalahan. Maka dari itu, kami
sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun dari para
pembaca.

Akhir kata kami ucapkan selamat membaca bagi para pembaca, semoga makalah
Peran Stakeholder Dalam Reklamasi dan Pascatambang ini dapat bermanfaat dan
menambah pengetahuan bagi kita semua.

Bandung, April 2015

3
Penyusun

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................................

ABSTRAK....................................................................................................................

KATA PENGANTAR..................................................................................................

DAFTAR ISI................................................................................................................

DAFTAR GAMBAR...................................................................................................

DAFTAR TABEL.......................................................................................................

BAB I PENDAHULAN................................................................................................

1.1 Latar Belakang...............................................................................................

1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................

1.3 Tujuan Penulisan............................................................................................

1.4 Ruang Lingkup...............................................................................................

1.5 Metode Penulisan...........................................................................................

1.6 Sistematika Laporan.......................................................................................

BAB II TEORI DASAR...............................................................................................

2.1 Pemanfaatan Hutan di Wilayah NKRI Secara Umum...................................

2.1.1 Hutan sebagai Sumberdaya Alam............................................................

2.1.2 Fungsi Hutan dalam Pembangungan.......................................................

2.2 Permasalahan Pengelolaan Hutan Indonesia..................................................

2.3 Wilayah Pertambangan.................................................................................

4
2.4 Peraturan yang mengatur Kawasan Hutan sebagai Wilayah
Pertambangan..........................................................................................................

BAB III PEMBAHASAN...........................................................................................

3.1 Peruntukan Lahan untuk Kegiatan Pertambangan.......................................

3.2.1 Dampak terhadap Kegiatan Kehutanan......................................................

3.2.2 Dampak terhadap kegiatan Pertambangan.................................................

3.3 Alternatif Penyelesaian Permasalahan.........................................................

BAB IV PENUTUP....................................................................................................

4.1 Kesimpulan...................................................................................................

4.2 Saran.............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Mekanisme Penentuan WP.........................................................................


Gambar 2 Mekanisme Pengajuan Perubahan Peruntukan Lahan................................

6
DAFTAR TABEL

Table 1 Peluang Ruang Gerak Sektorn Pertambangan di Dalam


Kawasan Hutan............................................................................................................

7
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, kegiatan pertambangan seringkali ditentang dan disalahkan oleh


masyarakat. Seringkali tuntutan melayang pada perusahaan tambang untuk
menghentikan kegiatannya. Pendapat dari beberapa masyarakat adalah masyarakat
tidak perlu kegiatan penambangan dan pertambangan akan merusak wilayah. Pada
dasarnya, kegiatan pertambangan akan mengubah bentang alam, tapi tidak serta merta
akan merusak wilayah tersebut. Dari sisi yang lain, pemanfaatan barang-barang
tambang sangat banyak dan sangat luas. Sehari-hari kita pasti menggunakan alat yang
merupakan produk turunan dari bahan tambang. Oleh karena itu, sesungguhnya
pertambangan adalah ujung tombak dari pembangunan.

Pertama-tama, mari kita ketahui apa itu pertambangan. Secara singkat, pertambangan
adalah kegiatan pengambilan dan pemanfaatan kekayaan alam. Sesuai dengan
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 bahwa bumi, air, dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, kegiatan pertambangan seharusnya
menjadi sebuah kegiatan yang pemanfaatannya untuk kepentingan masyarakat. Lalu,
mengapa perusahaan tambang banyak dituntut?

Tuntutan masyarakat terhadap perusahaan tambang seringkali bersangkut paut dengan


faktor lingkungan. Dan karena kegiatan pertambangan akan mengubah bentang alam,
maka masalah yang seringkali menjadi pusat perhatian adalah kegiatan reklamasi dan
pascatambang.

1
Dalam keberjalanannya, reklamasi dan pascatambang melibatkan banyak stakeholder
seperti pemerintah, perusahaan, LSM, perguruan tinggi dan tentunya masyarakat.
Masing-masing stakeholder memiliki perannya masing-masing. Di makalah ini, kami
akan membahas peran masing-masing stakeholder tersebut beserta contoh kasus yang
ada di Indonesia. Sehingga dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa persepsi publik
bahwa tambang itu hanya merusak dapat terbantahkan.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang telah dijabarkan, maka dapat dirumuskan masalah
yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu mengenai: Peran masing-masing
stakeholder dalam pelaksanaan reklamasi dan pascatambang sehingga dapat
memberikan hasil yang maksimal.

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan makalah bertujuan untuk;


1. Mengetahui tata laksana reklamasi dan pascatambang sesuai dengan PP No.78
Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang serta Permen ESDM No.07
Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan
Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara
2. Mengidentifikasi peran masing-masing stakeholder dalam pelaksanaan
reklamasi dan pascatambang agar memberikan hasil yang maksimal.

1.4 Ruang Lingkup

Adapun batasan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut;
1. Tata laksana reklamasi dan pascatambang sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku

2
2. Peran stakeholder dalam pelaksanaan reklamasi dan pascatambang

1.5 Metode Penulisan

Guna mencapai tujuan dan sasaran kajian yang telah dirumuskan, maka metodologi
pengerjaan kajian ini dapat dibagi atas empat tahap, yaitu:

1. Kajian kebijakan, untuk menginventarisasi kebijakan-kebijakan yang terkait


dengan pelaksanaan reklamasi dan pascatambang.

2. Tinjauan literatur, untuk mengiventarisasi referensi ilmiah dan artikel/tulisan


surat kabar terkait dengan pembahasan masalah reklamasi dan pascatambang.

1.6 Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan yang kami ambil adalah:


Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumasan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Ruang Lingkup

1.5 Metode Penulisan


1.6 Sistematika Penulisan

3
Bab 2 Tinjauan Pustaka
2.1 Pengertian Reklamasi dan Pascatambang
2.2 Peraturan Perundangan Yang Mengatur Reklamasi dan
Pascatambang

2.3 Tata Laksana Reklamasi dan Pascatambang

2.4 Pengertian Stakeholders dan Jenis-Jenisnya

2.5 Peran Masing-Masing Stakeholders dalam Reklamasi dan


Pascatambang

Bab 3 Studi Kasus


2.1 Arahan Strategi Kebijakan Reklamasi dan Pascatambang PT. Aneka
Tambang Tbk Unit Bisnis Pertambangan Nikel di Maluku Utara
2.2 Metode Pendekatan Yang Digunakan
2.3 Langkah Konkrit yang Dilaksanakan

Bab 4 Penutup
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

4
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Reklamasi dan Pascatambang

Kegiatan reklamasi dan pascatambang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 78


Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang. Menurut peraturan tersebut,
pemegang IUP & IUPK Eksplorasi wajib melaksanakan reklamasi. Sedangkan
pemegang IUP & IUPK Operasi Produksi wajib melakukan reklamasi dan
pascatambang. Pelaksanaan reklamasi dan pascatambang wajib memenuhi
prinsip :

a) Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan


Perlindungan yang dimaksud adalah perlindungan terhadap kualitas dan
kuantitas air permukaan, air tanah, tanah, udara, keanekaragaman hayati,
stabilitas tanah dan lereng, dan lain-lain. Pengelolaan lingkungan hidup yang
dimaksud adalah pemanfaatan lahan bekas tambang.

b) Keselamatan dan kesehatan kerja


Meliputi keselamatan pekerja dan perlindungan setiap pekerja dari penyakit
akibat kerja.

c) Konservasi mineral dan batubara


Konservasi yang dimaksud meliputi penambangan yang optimum, penggunaan
metode yang efektif dan efisien, serta pemanfaatan cadangan mineral kadar
rendah dan mineral ikutan serta batubara kualitas rendah.

Dengan ketentuan pemegang IUP & IUPK Ekplorasi hanya wajib memenuhi
prinsip nomer 1 & 2 diatas.

6
2.1.1 Pengertian Reklamasi

Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha


pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas
lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai
peruntukannya.

2.1.2 Pengertian Pascatambang

Kegiatan pascatambang adalah kegiatan terencana, sistematis, dan


berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha
pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi
sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah pertambangan.

2.2 Peraturan Perundangan Yang Mengatur Reklamasi dan Pascatambang

Dasar hukum yang mengatur tata laksana reklamasi dan pascatambang di


Indonesia yaitu :

a) Undang-Undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan


Batubara

b) Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup

c) Peraturan Pemerintah No.78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan


Pascatambang

7
d) Peraturan Menteri ESDM No.07 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan
Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral
dan Batubara

2.3 Tata Laksana Reklamasi dan Pascatambang

2.3.1 Tata Laksana Reklamasi

Apabila pemegang IUP dan IUPK Eksplorasi telah menyelesaikan


kegiatan studi kelayakan, maka mereka harus membuat rencana
reklamasi dengan ketentuan :
1. Rencana reklamasi disusun berdasarkan dokumen lingkungan hidup
dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan mengenai
lingkungan hidup.
2. Rencana reklamasi dimuat dalam rencana kerja dan anggaran biaya
eksplorasi.
3. Permohonan persetujuan rencana reklamasi diajukan kepada Mentri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
4. Rencana reklamasi disusun untuk jangka waktu 5 tahun, dengan
rincian rencana setiap tahunnya
5. Rencana reklamasi paling sedikit memuat :
a. Tata guna lahan sebelum dan sesudah ditambang
b. Rencana pembukaan lahan
c. Program reklamasi terhadap lahan terganggu yaitu lahan bekas
tambang dan lahan diluar bekas tambang yang meliputi pabrik,
bangunan, jalan, kantor, pelabuhan, dll.
d. Kriteria keberhasilan meliputi standar keberhasilan penataan
lahan, revegetasi, dll.
e. Rencana biaya reklamasi yang terdiri dari biaya langsung dan tak
langsung

8
6. Reklamasi yang berada pada kawasan hutan, pesisir, dan pulau kecil
harus menaati peraturan perundang-undangan terkait.
7. Rencana reklamasi wajib melakukan perubahan rencana reklamasi
apabila terdapat perubahan dalam metode penambangan, kapasitas
produksi, umur tambang, dan tata guna lahan.
8. Laporan pelaksanaan reklamasi harus disampaikan pada Mentri,
gubernur, atau bupati/walikota setiap satu tahun.
9. Dalam hal reklamasi, perusahaan harus menyediakan jaminan yang
dapat berupa :
a. Rekening bersama
b. Deposito berjanka
c. Bank garansi
d. Cadangan akuntansi.
10. Untuk pertambangan rakyat, rencana reklamasi dibuat oleh
pemegang IPR (izin pertambangan rakyat) bersama dengan
bupati/walikota tersebut. Rencana reklamasi tersebut harus dibuat
sebelum diterbitkannya IPR.
11. Lahan reklamasi harus diserahkan kepada pihak yang berhak melalui
Mentri, gubernur, atau bupati/walikota.
12. Sanksi akan diberikan apabila pemegang IUP, IUPK, dan IPR
melanggar peraturan pada PP No. 78 tahun 2010. Sanksi tersebut
dapat berupa :
a. Peringatan tertulis
b. Penghentian sementara kegiatan
c. Pencabutan izin
13. Pemegang kontrak karya, PKP2B, dan IUP sebelum PP No. 78
Tahun 2010 ini berlaku wajib menaati PP ini maksimal 3 bulan
setelah PP ini berlaku.

2.3.2 Tata Laksana Pascatambang

Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi yang telah


menyelesaikan kegiatan studi kelayakan harus mengajukan
permohonan persetujuan rencana reklamasi dan rencana pascatambang
kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dengan ketentuan :

9
1. Diajukan bersamaan dengan pengajuan permohonan IUP Operasi
Produksi dan IUPK Operasi Produksi
2. Rencana pascatambang memuat :
a. Profil wilayah, meliputi lokasi dan aksesibilitas wilayah,
kepemilikan dan peruntukan lahan, rona lingkungan awal, dan
kegiatan usaha lain di sekitar tambang
b. Deskripsi kegiatan pertarnbangan, meliputi keadaan cadangan
awal, sistem dan metode penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta fasilitas penunjang
c. Rona lingkungan akhir lahan pascatambang, meliputi keadaan
cadangan tersisa, peruntukan lahan, morfologi, air permukaan
dan air tanah, serta biologi akuatik dan teresterial
d. Reklamasi pada lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas
tambang
e. Pemeliharaan hasil reklamasi
f. Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
g. Pemantauan
h. Organisasi termasuk jadwal pelaksanaan pascatambang
i. Kriteria keberhasilan pascatambang
j. Rencana biaya pascatambang meliputi biaya langsung dan
biaya tidak langsung.
3. Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi dalam menyusun
rencana pascatambang harus berkonsultasi dengan instansi
Pemerintah, instansi pemerintah provinsi dan/atau instansi
pemerintah kabupaten/kota yang membidangi pertambangan
mineral dan batubara, instansi terkait lainnya, dan masyarakat
4. Rencana pascatambang yang belum memenuhi ketentuan akan
dikembalikan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya kepada pemegang IUP Operasi Produksi
atau IUPK Operasi Produksi.
5. Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
wajib melakukan perubahan rencana pascatambang apabila terjadi
perubahan rencana reklamasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14.

10
6. Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
wajib melaksanakan pascatambang setelah sebagian atau seluruh
kegiatan usaha pertambangan berakhir.
7. Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pascatambang setiap 3
(tiga) bulan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
8. Jaminan pascatambang wajib ditempatkan setiap tahun dalam
bentuk deposito berjangka pada bank pemerintah.
9. Apabila berdasarkan hasil penilaian terhadap pelaksanaan
pascatambang menunjukkan pascatambang tidak memenuhi
kriteria keberhasilan, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya dapat menetapkan pihak ketiga
untuk melaksanakan kegiatan pascatambang sebagian atau
seluruhnya dengan menggunakan jaminan pascatambang.
10. Untuk pertambangan rakyat, rencana pascatambang dibuat oleh
pemegang IPR (izin pertambangan rakyat) bersama dengan
bupati/walikota tersebut. Rencana pascatambang tersebut harus
dibuat sebelum diterbitkannya IPR.
11. Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
yang telah selesai melaksanakan pascatambang wajib
menyerahkan lahan pascatambang kepada pihak yang berhak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan melalui Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
12. Sanksi akan diberikan apabila pemegang IUP, IUPK, dan IPR
melanggar peraturan pada PP no. 78 tahun 2010. Sanksi tersebut
dapat berupa :
a. Peringatan tertulis
b. Penghentian sementara kegiatan
c. Pencabutan izin
13. Pemegang IUP, IUPK, atau IPR yang dikenai sanksi administratif
berupa pencabutan IUP, IUPK, atau IPR sebagaimana dimaksud

11
pada ayat (2) huruf c, tidak menghilangkan kewajibannya untuk
melakukan kegiatan pascatambang.
14. Pemegang kontrak karya, PKP2B, dan IUP sebelum PP No. 78
Tahun 2010 ini berlaku wajib menaati PP ini maksimal 3 bulan
setelah PP ini berlaku.

2.4 Pengertian Stakeholder dan Jenis-Jenisnya

2.4.1 Pengertian Stakeholder

Stakeholders menurut Freeman (1984) merupakan individu atau


kelompok yang bisa mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh
organisasi sebagai dampak dari aktivitas-aktivitasnya. Sedangkan
Chariri dan Ghazali (2007, h.32) mengatakan bahwa perusahaan
bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri
namun harus memberikan manfaat bagi stakeholders-nya (shareholders,
kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak
lain). Sedangkan Rudito (2004) mengemukakan bahwa perusahaan
dianggap sebagai stakeholders, jika mempunyai tiga atribut, yaitu:
kekuasaan, legitimasi dan kepentingan.

Kasali dalam Wibisono (2007, hal. 90) membagi stakeholders menjadi


sebagai berikut:

a. Stakeholders Internal dan stakeholders eksternal

Stakeholders internal adalah stakeholders yang berada di dalam


lingkungan organisasi. Misalnya karyawan, manajer dan pemegang
saham (shareholder). Sedangkan stakeholders eksternal adalah
stakeholders yang berada di luar lingkungan organisasi, seperti penyalur

12
atau pemasok, konsumen atau pelanggan, masyarakat, pemerintah, pers,
kelompok social responsible investor, licensing partner dan lain-lain.

b. Stakeholders primer, sekunder dan marjinal

Tidak semua elemen dalam stakeholders perlu diperhatikan. Perusahaan


perlu menyusun skala prioritas. Stakeholders yang paling penting
disebut stakeholders primer, stakeholders yang kurang penting disebut
stakeholders sekunder dan yang biasa diabaikan disebut stakeholders
marjinal. Urutan prioritas ini berbeda bagi setiap perusahaan meskipun
produk atau jasanya sama. Urutan ini juga bisa berubah dari waktu ke
waktu.

c. Stakeholders tradisional dan stakeholders masa depan

Karyawan dan konsumen dapat disebut sebagai stakeholders tradisional,


karena saat ini sudah berhubungan dengan organisasi. Sedangkan
stakeholders masa depan adalah stakeholders pada masa yang akan
datang diperkirakan akan memberikan pengaruhnya pada organisasi
seperti mahasiswa, peneliti dan konsumen potensial.

d. Proponents, opponents, dan uncommitted

Di antara stakeholders ada kelompok yang memihak organisasi


(proponents), menentang organisasi (opponents) dan ada yang tidak
peduli atau abai (uncommitted). Organisasi perlu mengenal stakeholders
yang berbeda-beda ini agar dapat melihat permasalahan, menyusun
rencana dan strategi untuk melakukan tindakan yang proposional.

13
e. Silent majority dan vokal minority

Dilihat dari aktivitas stakeholders dalam melakukan komplain atau


mendukung perusahaan, tentu ada yang menyatakan pertentangan atau
dukungannya secara vokal (aktif) namun ada pula yang menyatakan
secara silent (pasif).

2.4.2 Jenis-Jenis Stakeholder

Berdasarkan pengertian menurut beberapa ahli di atas, stakeholder yang


berkaitan dengan sektor pertambangan terdiri dari :

a. Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah


b. Perusahaan, baik perusahaan negara (BUMN) atau perusahaan swasta
c. Perguruan Tinggi/Lembaga Penilitian
d. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
e. Masyarakat

2.5 Peran Masing-Masing Stakeholder Dalam Reklamasi dan Pascatambang

2.5.1 Peran Pemerintah

Pengelolaan reklamasi lahan pasca penambangan menjadi prioritas


pemerintah daerah tetapi perusahaan juga diharapkan bersama-sama
dengan pemerintah daerah untuk melakukan hal tersebut, disebabkan
pada kenyataan di lapang (de facto) maupun secara de jure (dilandasi
dengan hukum), pengaruh dan peran dari pemerintah daerah dan pihak
perusahaan ini mengacu pada UU No. 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup maupun peraturan tentang reklamasi
lahan pasca penambangan : Keputusan Menteri Pertambangan dan
Energi No. 1211. K/008/M.PE/1995 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan

14
Usaha Pertambangan Umum, KEPDIRJEN Pertambangan Umum No.
336. K/271/DDJP/1996 tentang jaminan reklamasi dan saat ini telah di
perkuat dengan diberlakukannya UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah, pasal 22 menyatakan dalam menyelenggarakan
otonomi, daerah mempunyai kewajiban : butir (b) meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat dan butir (k) melestarikan lingkungan
hidup. Oleh sebab itu maka pemerintah daerah memiliki kekuasaan
penuh untuk melakukan pengelolaan lahan pasca penambangan. Namun
dari pemantauan di lapangan, ada beberapa kewajiban pemerintah
daerah sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dalam
pengelolaan sumberdaya alam yang belum terpenuhi, seperti tidak
melakukan tindakan atas pelanggaran yang dilakukan oleh pihak
perusahaan. Kekurangan pemerintah daerah ini yang secara tidak
langsung berperan dalam penurunan kualitas pengelolaan reklamasi
lahan pasca penambangan

Peran pemerintah daerah dalam merumuskan dan menetapkan PERDA


tentang pengelolan lahan pasca penambangan sangat penting agar
pengelolaan lahan pasca penambangan sesuai dengan kebijakan yang
telah ada. Di samping itu tujuan dan sasaran PERDA tersebut diarahkan
untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lahan pasca penambangan dan
mendorong kemitraan dalam hal pengelolaan lahan pasca penambangan.

Dari ketiga peran pemerintah daerah tersebut, efektivitas terendah


adalah peran dalam mendorong kemitraan. Hal ini disebabkan oleh
kurangnya koordinasi antar stakeholders yang ada. PERDA telah
mampu disusun oleh pemerintah daerah terkait dengan pengelolaan
lingkungan (AMDAL) namun pada pelaksanaannya PEMDA masih
kurang tegas melaksanakan dan menjalankan kebijakan tersebut terbukti
dengan masih ditemukan pelanggaran yang dilakukan oleh pihak

15
perusahaan penambangan dan BAPEDALDA sebagai instansi yang
berwenang tidak menindakknjuti hal tersebut. Untuk meningkatkan
peran dari PEMDA setempat maka diperlukan perbaikan kualitas SDM
yang masih terbatas dan komitmen kepedulian terhadap lingkungan
yang kuat sehingga kinerja yang diharapkan dapat optimal.

2.5.2 Peran Perusahaan

Sebagai aktor yang mendapatkan izin penambangan (KK/IUP/IUPK)


dari pemerintah untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap
sumberdaya alam, maka perusahaan wajib memenuhi dan melaksanakan
semua peraturan yang terkait dengan kegiatan penambangan dan
pengelolaan lingkungan, salah satunya adalah dengan mereklamasi
lahan pasca penambangan. Sebelum melakukan kegiatan reklamasi,
perusahaan perlu perencanaan yang baik. Hasil pemantauan terhadap
kualitas biofisik menjadi dasar dalam perencanaan tersebut dan dari
hasil pemantauan di lapangan, pelaksanaan reklamasi lahan pasca
penambangan oleh perusahaan perlu dilakukan analisis sifat fisik, kimia
dan biologi tanah sebelum melakukan kegiatan reklamasi.

Tiga peran perusahaan yaitu sebagai penyedia modal dan teknologi pada
lahan yang telah di reklamasi agar lahan pasca penambangan tersebut
ramah lingkungan dan baik untuk dikembangkan sebagai media tubuh
tanam, penciptaan lapangan kerja baru terutama kepada masyarakat
lokal, serta memberikan pemasukan dan berpartisipasi dalam
mengembangkan fasilitas di sekitar lahan pasca penambangan.

Perusahaan telah menyediakan sejumlah modal/biaya untuk


mereklamasi lahan pasca penambangan, kegiatan tersebut
memperkerjakan masyarakat lokal sebagai operator dan mekanis alat.
Baik perusahaan maupun pekerja telah memberikan pemasukan bagi

16
pemerintah daerah melalui pajak penghasilan. Peran perusahaan dalam
menyediakan modal dan teknologi di antaranya dalam bentuk bantuan
dana untuk pengembangan di sektor pertanian, bantuan teknologi alat
tangkap untuk sektor perikanan dan kelautan.

2.5.3 Peran Lembaga Swadaya Masyarakat

Stakeholders ini mempunyai peran untuk melakukan pemantauan dan


pengawasan di lapangan, baik terhadap kualitas lingkungan, pengelolaan
lingkungan pasca penambangan maupun terhadap usaha-usaha
penegakan hukum lingkungan. Pemantauan ditujukan untuk memantau
aktivitas-aktivitas di sekitar kawasan penambangan, sehingga akan
didapatkan informasi-informasi yang jelas tentang penyebab terjadinya
degradasi kualitas lingkungan di kawasan penambangan.

LSM sangat berperan untuk mendorong keterbukaan pemerintah dalam


pengambilan kebijakkan pengelolaan lahan pasca penambangan,
memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan serta program
pemerintah daerah dan perusahaan. Selain itu LSM berperan melakukan
advokasi dan memberikan bantuan perlindungan hukum bagi
masyarakat, tetapi sejauh pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa
peran-peran tersebut belum terlaksana secara maksimal karena jumlah
LSM yang konsen terhadap bidang pertambangan dan lingkungan masih
kurang.

LSM sebagai lembaga independen aktif mendorong keterbukaan


pemerintah daerah dalam pengambilan kebijakan contohnya saat
penyampaian AMDAL oleh perusahaan maupun seminar tentang
pertambangan dan lingkungan, LSM ikut terlibat.
2.5.4 Peran Perguruan Tinggi/Lembaga Penilitian

17
Peran stakeholders ini adalah penyedia informasi pengetahuan dan
teknologi (IPTEKS) dalam bidang pertambangan khususnya mengenai
reklamasi lahan pasca penambangan. Hasil-hasil penelitian yang
dilakukan oleh Perguruan Tinggi/Lembaga Penelitian dapat menjadi
masukan dalam perencanaan maupun pemantauan pengelolaan
reklamasi lahan pasca penambangan, baik bagi pemerintah daerah,
perusahaan, LSM maupun masyarakat akan tetapi hal tersebut masih
kurang ditemukan di lapangan.

2.5.5 Peran Masyarakat

Masyarakat merupakan komponen yang terkena dampak akibat adanya


kegiatan penambangan baik dampak positif maupun dampak negatif,
sehingga masyarakat mempunyai hak untuk dilibatkan dalam kegiatan-
kegiatan yang akan dilakukan. Masyarakat berada pada posisi kelima
dalam struktural stakeholders dalam pengelolaan reklamasi lahan pasca
penambangan. Masyarakat sekitar penambangan perlu dilibatkan mulai
dari tahap perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai monitoring dan
evaluasi serta pemanfaatan hasil-hasil kegiatan secara berkelanjutan

Menurut Siahaan (2004), masyarakat merupakan sumberdaya yang


penting bagi tujuan pengelolaan lingkungan. Bukan saja diharapkan
sebagai sumberdaya yang bisa didayagunakan untuk pembinaan
lingkungan, tetapi lebih dari pada itu komponen masyarakat juga bisa
memberikan alternatif penting bagi lingkungan hidup seutuhnya. Dalam
Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH), dinyatakan
bahwa partisipasi masyarakat mendapat tempat pengaturan yang cukup
layak dalam proporsi pengelolaan lingkungan. Masyarakat mempunyai
hak dan kewajiban yang berkenaan dengan peran serta masyarakat
tersebut, seperti yang terdapat pada pasal 5 hingga pasal 7 UUPLH.

18
BAB III
STUDI KASUS

19
2.1 Peruntukan Lahan untuk Kegiatan Pertambangan

3.2 Dampak Tumpang Tindih Lahan

3.2.1 Dampak terhadap Kegiatan Kehutanan

3.2.2 Dampak terhadap kegiatan Pertambangan

1.3 Alternatif Penyelesaian Permasalahan

20
BAB IV
PENUTUP

1.1 Kesimpulan

1.2 Saran

21
DAFTAR PUSTAKA

22