Anda di halaman 1dari 3

Bauksit Indonesia

Posted on 17 Oktober 2009by Riki Gana


1. KONDISI SUMBER DAYA DAN CADANGAN
Bauksit merupakan bahan yang heterogen, yang mempunyai mineral dengan susunan
terutama dari oksida aluminium, yaitu berupa mineral buhmit (Al O H O) dan mineral gibsit
2 3 2

(Al O .3H O). Secara umum bauksit mengandung Al O sebanyak 45 65%, SiO 1 12%,
2 3 2 2 3 2

Fe O 2 25%, TiO >3%,dan H O 14 36%.


2 3 2 2

Bijih bauksit terjadi di daerah tropika dan subtropika dengan memungkinkan pelapukan
sangat kuat. Bauksit terbentuk dari batuan sedimen yang mempunyai kadar Al nisbi tinggi,
kadar Fe rendah dan kadar kuarsa (SiO ) bebasnya sedikit atau bahkan tidak mengandung
2

sama sekali. Batuan tersebut (misalnya sienit dan nefelin yang berasal dari batuan beku, batu
lempung, lempung dan serpih. Batuan-batuan tersebut akan mengalami proses
lateritisasi,yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi bauksit. Bauksit
dapat ditemukan dalam lapisan mendatar tetapi kedudukannya di kedalaman tertentu.
Di Indonesia bauksit diketemukan di Pulau Bintan dan sekitarnya, Pulau Bangka dan
Kalimantan Barat. Sampai saat ini penambangan bauksit di Pulau Bintan satu-satunya yang
terbesar di Indonesia. Beberapa tempat antara lain:

Sumatera utara : Kota Pinang (kandungan Al2O3 = 15,05 58,10%).


Riau : P.Bulan, P.Bintan (kandungan SiO2 = 4,9%, Fe2O3 = 10,2%, TiO2 = 0,8%,
Al2O3 = 54,4%), P.Lobang (kepulauan Riau), P.Kijang (kandungan SiO2 = 2,5%, Fe2O3
= 2,5%, TiO2 = 0,25%, Al2O3 = 61,5%, H2O = 33%),merupakan akhir pelapukan
lateritic setempat, selain ditempat tersebut terdapat juga diwilayah lain yaitu, Galang,
Wacokek, Tanah Merah,dan daerah searang.
Kalimantan Barat : Tayan Menukung, Sandai, Pantus, Balai Berkuah,
Kendawangan dan Munggu Besar.
Bangka Belitung : Sigembir.
Gambar bauksit serta Peta Potensi Bauksit di Indonesia ditunjukan Gambar 1 dan Gambar 2.

Gambar 1. bauksit (Al2O3.nH2O)


Gambar.2. Potensi Bauksit di Indonesia [Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Mineral dan Batubara, 2005].
2.TEKNOLOGI PENGOLAHAN

Penambangan bauksit dilakukan dengan penambangan terbuka diawali dengan land clearing.
Setelah pohon dan semak dipindahkan dengan bulldozer, dengan alat yang sama diadakan
pengupasan tanah penutup. Lapisan bijih bauksit kemudian digali dengan shovel loader yang
sekaligus memuat bijih bauksit tersebut kedalam dump truck untuk diangkut ke instalansi
pencucian.
Bijih bauksit dari tambang dilakukan pencucian dimaksudkan untuk meningkatkan
kualitasnya dengan cara mencuci dan memisahkan bijih bauksit tersebut dari unsur lain yang
tidak diinginkan, missal kuarsa, lempung dan pengotor lainnya. Partikel yang halus ini dapat
dibebaskan dari yang besar melalui pancaran air (water jet) yang kemudian dibebaskan
melalui penyaringan (screening). Disamping itu sekaligus melakukan proses pemecahan (size
reduction)dengan menggunakan jaw crusher.
Cara-cara Leaching:
a. Cara Asam (H SO )
2 4

Hanya dilakukan untuk pembuatan Al (SO ) untuk proses pengolahan air minum dan pabrik
2 4 3

kertas.
Reaksi dapat dipercepat dengan menaikkan temperatur sampai 180 C (Autoclaving)
KalsinasiCocok untuk lowgrade Al O tetapi high SiO yang tidak cocok dikerjakan
2 3 2

dengan cara basa.


Hasil Basic-Al-Sulfat dikalsinansi menjadi Al O , kelemahan cara ini adalah Fe O ikut
2 3 2 3

larut.
b. Cara Basa (NaOH), Proses Bayers (Th 1888)
Ada 2 macam produk alumina yang bisa dihasilkan yaitu Smelter Grade Alumina
(SGA) dan Chemical Grade Alumina (CGA). 90% pengolahan bijih bauksit di dunia ini
dilakukan untuk menghasilkan Smelter Grade Alumina yang bisa dilanjutkan untuk
menghasilkan Al murni. Berikut block diagram pengolahan bauksit melalui proses SGA:
Gambar 3. Block Diagram Pengolahan Bauksit
c. Cara Sintering dengan Na2CO3 (Deville-Pechiney)
Sintering dilakukan dalam Rotary Kiln 1000 C selama 2-4 jam, cocok untuk bijih dengan
high Fe O dan SiO .
2 3 2

Reaksi-reaksi:
Al O + Na CO = NaAlO + CO (g)
2 3 2 3 2 2

Fe O + Na CO = Na OFe O + CO (g)
2 3 2 3 2 2 3 2

TiO + Na CO = Na OTiO + CO (g)


2 2 3 2 2 2

SiO + Na CO = Na OSiO + CO (g)


2 2 3 2 2 2

d. Dengan proses elektolisa


Bahan utamanya adalah bauksit yang mengandung aluminium oksida. pada katoda terjadi
reaksi reduksi, ion aluminium (yang terikat dalam aluminium oksida) menerima electron
menjadi atom aluminium,

4 Al(3+) + 12 e(1-) > 4 Al

pada anoda terjadi reaksi oksidasi, dimana ion-ion oksida melepaskan elektron menghasilkan
gas oksigen.

6 O(2-) > 3 O2 + 12 e(1-)

logam aluminium terdeposit di keping katoda dan keluar melalui saluran yang telah
disediakan.