Anda di halaman 1dari 7

PENGELOLAAN LAHAN BASAH

PENGELOLAAN AIR PADA TANAH GAMBUT

Disusun oleh :

1. Marianus Ebu (17707)


2. Sendi Setiono (17708)
3. Adi Pujiono (17709)
4. Randani Sihaloho (17723)
5. Bima Tidar Haloho (17724)
6. Reksy Irawan (17725)
7. Rangga Putra Wicaksana (17737)
8. M. Hanif Gigih Tri U. (17738)
9. Fatoni (17739)

FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2017
DAFTAR ISI
Daftar isi..
Latar belakang..
Tinjauan pustaka..
Pembahasan..
Kesimpulan...
Daftar Pustaka..
Latar Belakang
Lahan gambut dalam keadaan alami selalu tergenang air sepanjang tahun sehingga
tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan budidaya, kecuali terlebih dahulu
diadakan reklamasi. Sifat dan keadaan tata air lahan gambut dipengaruhi oleh perilaku pasang
surut sungai atau laut, iklim, dan topografi. Dengan kondisi alami yang selalu basah, maka
proses perombakan atau kematangan tanah gambut menjadi terhambat. Oleh karena itu,
diperlukan perbaikan kondisi tata air. Perbaikan tata air terutama ditujukan untuk
memberikan suasana yang kondusif bagi proses perombakan atau kematangan gambut
dengan masuknya oksigen. Proses perombakan atau kematangan tanah penting untuk
meningkatkan kesuburan tanah. Perbaikan tata air secara tidak langsung juga menumbuhkan
beban berat bagi lahan sehingga tanah termampatkan ( Hardjoso dan Darmanto, 1996).
Jadi, pengembangan lahan gambut memerlukan langkah awal yaitu reklamasi.
Reklamasi berdasarkan penataan dan pengelolaan air pada tahap awal bertujuan untuk
menurunkan periode terjadinya kondisi tumpat air dan karenanya dapat memperbaiki daya
tumpu tanah. Penggunaan alat-alat berat yang umum dilahan gambut iklim sedang, mendapat
masalah dilahan gambut tropic karena rendahnya daya tumpuh tanah (Andriesse, 1988).
Reklamasi dan pengelolaan air juga dimaksudkan untuk membuang kelebihan air secara tepat
untuk mengendalikan muka air tanah agar tercapai kondisi yang optimum baik bagi gambut
sendiri maupun untuk pertumbuhan tanaman (Liem, 1992).
TINJAUAN PUSTAKA
Pengaturan tata air pada lahan gambut harus mempertimbangkan beberapa
karakteristik gambut yang sangat spesifik, diantaranya kemampuan gambut yang sangat
tinggi dalam menyerap air (bersifat hidrofilik) bisa berubah menjadi hidrofobik (menolak
air), jika gambut telah mengalami proses kering tak balik (irreversible drying). Kondisi ini
terjadi jika gambut mengalami kekeringan yang sangat ekstrim. Menurut Sabiham (2000)
menurunnya kemampuan gambut menyerap air berkaitan dengan menurunnya ketersediaan
senyawa yang bersifat hidrofilik dalam bahan gambut, yaitu karboksilat dan OH-fenolat.
Kedua komponen organik ini berada pada fase cair gambut, sehingga bila gambut dalam
keadaan kering (akibat proses drainase yang berlebih), sifat hidrofilik dari tanah gambut
menjadi tidak berfungsi. Dimensi saluran (primer, sekunder, dan tersier) juga harus
disesuaikan dengan luas kawasan dan komoditas yang dikembangkan (Subiksa et al., 2011).
Misalnya tanaman semusim (pangan dan sayuran) memerlukan drainase yang relatif dangkal,
yaitu berkisar antara 20-30 cm, sedangkan tanaman tahunan memerlukan kedalaman muka air
tanah yang lebih dalam, dan bervariasi antar tanaman tahunan. Kondisi muka air tanah yang
terlalu dangkal menyebabkan perakaran tidak bisa berkembang akibat kondisi aerasi yang
buruk. Jika kandungan asam organik dalam air gambut terlalu tinggi pertumbuhan tanaman
juga bisa terhambat bahkan tidak bisa tumbuh akibat mengalami keracunan asam organik.
Sebaliknya pada kondisi muka air tanah yang terlalu dalam, gambut menjadi kering, sehingga
pertumbuhan tanaman menjadi tertekan karena ketersediaan air menjadi terbatas. Prinsip
pengaturan tata air pada lahan gambut juga harus memperhitungkan dampaknya terhadap laju
dekomposisi gambut. Hooijeret al. (2006) menggambarkan hubungan linier antara tinggi
muka air di saluran drainase dengan laju emisi gambut sebagai dampak peningkatan laju
dekomposisi gambut, artinya semakin dalam tinggi muka air di saluran drainase maka laju
emisi dari lahan gambut semakin meningkat, namun hal ini berlaku sampai kedalam 120 cm.
Artinya hubungan antara emisi dan kedalaman drainase tidak selalu bersifat linier, pada
kedalaman tertentu laju emisi kembali mengalami penurunan, kemungkinan pada kondisi
gambut yang terlalu kering aktivitas mikroorganisme dekomposer kembali menurun. Namun
demikian peluang peningkatan emisi tetap tinggi akibat risiko terjadinya kebakaran gambut
menjadi lebih tinggi.
PEMBAHASAN
Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya
air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal, serta
sekaligus mempertahankan kelestarian sumber daya lahan. Pada tanah gambut, keberadaan
air bisa dikatakan berada pada seluruh permukaan tanah gambut itu sendiri, sehingga
mengakibatkan tergenangnya tanah gambut. Penurunan permukaan lahan gambut yang
senantiasa menyertai proses drainase salah satunya diakibatkan oleh proses pemadatan
(konsolodasi) tanah gambut. Meskipun memberikan beberapa manfaat, namun tindakan
drainase harus dilakukan secara hati-hati dan terkendali. Perubahan penggunaan lahan
khususnya dari hutan gambut menjadi lahan pertanian perlu disertai dengan tindakan
drainase, karena dalam kondisi alaminya gambut dalam keadaan tergenang, sementara
sebagian besar tanaman budidaya tidak tahan genangan.
Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif
dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. Lahan gambut dicirikan dengan
kandungan bahan organik yang tinggi, kemasaman tanah tinggi, namun mempunyai
ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. Selain itu pada musim penghujan akan
terjadi penggenangan air dan pada musim kemarau akan terjadi kekeringan, sehingga tata air
menjadi kebutuhan mutlak(Yardha, et a1, 1998; Yusuf, et a1, 1999).
Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat
parit/saluran, dengan tujuan mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai
dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan, mencuci asam-asam organik dan
anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan masukkan air
segar untuk memberikan oksigen, dan sebagai sarana transportasi hasil panen.
Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan gambut
antara lain sistem parit/handil di tepi sungai, sistem saluran model garpu di lahan pasang
surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada),sistem anjir/kanal, sistem sisir.
KESIMPULAN
1. Tanah gambut merupakan tanah organik yang selalu dalam keadaan tergenang.
2. Pengelolaan air mutlak diperlukan untuk dapat memanfaatkan tanah gambut sebagai
media budidaya pertanian
3. Pengelolaan air dapat dilakukan dengan drainase apabila muka air melebihi permukaan
tanah gambut.
4. Pengelolaan air dapat dilakukan dengan system irigasi dengan mengalirkan air sungai
kedalam lahan gambut
5. Air harus tetap dijaga agar lahan gambut tidak mengalami kekeringan dan dapat
mengakibatkan kebakaran.
DAFTAR PUSTAKA
Ai Dariah dan Siti Nurzakiah. 2015. Panduan Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut
Terdegradasi. Bogor : Jurnal Pengelolaan Tata Air Lahan Gambut.
Noor, Muhammad. 2000. Pertanian Lahan Gambut Potensi dan Kendala. Yogyakarta:
Kanisius.
Rahutomo, Suroso; Winarna, dkk. 2015. 8 Kunci Sukses Pengembangan Lahan Gambut
Untuk Tanaman Kelapa Sawit. Medan: PPKS.
Sondang M. Napitupulu1, Bagus Mudiantoro. 2015. Pengelolaan Sumber Daya Air Pada
Lahan Gambut yang Berkelanjutan. Pekanbaru: Journal Annual Civil Engineering.