Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan
oleh bakteri dapat terlogalisir atau difus, telinga rasa sakit. Faktor ini penyebab
timbulnya otitis eksterna ini, kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma
local dan alergi. Faktor ini menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang
menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma
local yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan menimbulkan
eksudat. Bakteri patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %),
strepokokus (22%), stafilokokus aureus (15%) dan bakteroides (11%). Istilah otitis
eksterna akut meliputi adanya kondisi inflasi kulit dari liang telinga bagian luar.
Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang
dapat menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh
liang telinga terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap
pembentukan lokal otitis eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi
bakteri patogen yang paling umum disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus
dan proteus, atau jamur.
Penyakit ini sering diumpai pada daerah-daerah yang panas dan lembab
dan jarang pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis eksterna
sangat komplek dan sejak tahun 1844 banyak peneliti mengemukakan faktor
pencetus dari penyakit ini seperti Branca (1953) mengatakan bahwa berenang
merupakan penyebab dan menimbulkan kekambuhan. Senturia dkk (1984)
menganggap bahwa keadaan panas, lembab dan trauma terhadap epitel dari liang
telinga luar merupakan faktor penting untuk terjadinya otitis eksterna. Howke dkk
(1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat
menyebabkan terjadi otitis eksterna baik yang akut maupun kronik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1
2.1. Definisi
Otitis eksterna adalah radang merata kulit liang telinga yang disebabkan
oleh kuman maupun jamur (otomikosis) dengan tanda-tanda khas yaitu rasa tidak
enak di liang telinga, deskuamasi, sekret di liang telinga dan kecenderungan untuk
kambuhan. Pengobatan amat sederhana tetapi membutuhkan kepatuhan penderita
terutama dalam menjaga kebersihan liang telinga.

2.2. Epidemiologi
Dari hasil dikemukakan oleh Palandeng di Poliklinik THT BLU RSUP
Prof. Dr. R.D. Kandou Manado (2011) yang mendapatkan pasien perempuan lebih
banyak dibandingkan laki-laki, dengan hasil 255 perempuan (57,96%) dan 185
laki-laki (42,04%).
Selama periode penelitian November 2012 - Januari 2013 di Poliklinik
THT BLU Prof Dr. R. D. Kandou didapatkan 20 pasien otitis eksterna yang terdiri
dari kelompok usia 0-12 tahun enam orang (30%), 13-17 tahun dua orang (10%),
18- 59 tahun 10 orang (50%), 60 tahun dua orang (10%). Penelitian Kunarto di
Poliklinik THT BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado (2009) mendapatkan
hasil yang hampir sama yaitu 318 pasien otitis eksterna dengan kelompok usia 18-
59 tahun sebanyak 208 orang (65,41%), terutama kelompok usia 31-40 tahun (68
orang).

2.3. Etiologi
Swimmers ear (otitis eksterna) sering dijumpai, didapati 4 dari 1000
orang, kebanyakan pada usia remaja dan dewasa muda.Terdiri dari inflamasi,
iritasi atau infeksi pada telinga bagian luar. Dijumpai riwayat pemaparan terhadap
air, trauma mekanik dan goresan atau benda asing dalam liang telinga. Berenang
dalam air yang tercemar merupakan salah satu cara terjadinya otitis eksterna
(swimmers ear). Bentuk yang paling umum adalah bentuk boil (Furunkulosis)
salah satu dari satu kelenjar sebasea 1/3 liang telinga luar. Pada otitis eksterna
difusa disini proses patologis membatasi kulit sebagian kartilago dari otitis liang
telinga luar, konka daun telinga penyebabnya idiopatik, trauma, iritan, bakteri atau

2
fungal, alergi dan lingkungan. Kebanyakan disebabkan alergi pemakaian topikal
obat tetes telinga. Alergen yang paling sering adalah antibiotik, contohnya:
neomycin, framycetyn, gentamicin, polimixin, anti bakteri (clioquinol, Holmes
dkk, 1982) dan anti histamin. Sensitifitas poten lainnya adalah metal dan
khususnya nikel yang sering muncul pada kertas dan klip rambut yang mungkin
digunakan untuk mengorek telinga. Infeksi merupakan penyakit yang paling
umum dari liang telinga luar seperti otitis eksterna difusa akut pada lingkungan
yang lembab.

2.4. Faktor Resiko


Faktor Resiko penyakit otitis eksterna antara lain :
Suka membersihkan atau mengorek-ngorek telinga dengan cotton buds,
ujung jari atau alat lainnya
Kelembaban merupakan foktor yang penting untuk terjadinya otitis
eksterna.
Sering berenang, air kolam renang menyebabkan maserasi kulit dan
merupakan sumber kontaminasi yang sering dari bakteri
Penggunaan bahan kimia seperti hairsprays, shampoo dan pewarna
rambut yang bisa membuat iritasi, yang memungkinkan bakteri dan
jamur untuk masuk
Kanal telinga sempit
Infeksi telinga tengah
Diabetes.

2.5. Patofisiologi
Secara alami, sel-sel kulit yang mati, termasuk serumen, akan
dibersihkan dan dikeluarkan dari gendang telinga melalui liang telinga. Cotton
bud (pembersih kapas telinga) dapat mengganggu mekanisme pembersihan
tersebut sehingga sel-sel kulit mati dan serumen akan menumpuk di sekitar
gendang telinga. Masalah ini juga diperberat oleh adanya susunan anatomis
berupa lekukan pada liang telinga. Keadaan diatas dapat menimbulkan timbunan
air yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau berenang. Kulit yang

3
basah, lembab, hangat, dan gelap pada liang telinga merupakan tempat yang baik
bagi pertumbuhan bakteri dan jamur.1,7,8
Adanya faktor predisposisi otitis eksterna dapat menyebabkan
berkurangnya lapisan protektif yang menimbulkan edema epitel skuamosa.
Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang memudahkan bakteri masuk melalui
kulit, terjadi inflamasi dan cairan eksudat. Rasa gatal memicu terjadinya iritasi,
berikutnya infeksi lalu terjadi pembengkakan dan akhirnya menimbulkan rasa
nyeri. Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu lalu menimbulkan perubahan
rasa tidak nyaman dalam telinga. Selain itu, proses infeksi akan mengeluarkan
cairan/nanah yang bisa menumpuk dalam liang telinga (meatus akustikus
eksterna) sehingga hantaran suara akan terhalang dan terjadilah penurunan
pendengaran. Infeksi pada liang telinga luar dapat menyebar ke pinna,
periaurikuler dan tulang temporal.4
Otalgia pada otitis eksterna disebabkan oleh:
a. Kulit liang telinga luar beralaskan periostium & perikondrium bukan
bantalan jaringan lemak sehingga memudahkan cedera atau trauma. Selain
itu, edema dermis akan menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa
sakit yang hebat.
b. Kulit dan tulang rawan pada 1/3 luar liang telinga luar bersambung dengan
kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan sedikit saja pada daun
telinga akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan liang telinga luar
sehingga mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada penderita otitis
eksterna.1,7,8
Serumen bersifat asam (pH 4-5) mcegah ptumbuhan bakteri&jamur jg
mcegah kerusakan kulit
Biasanya trauma lokal mendahului
Terkena air yang berlebihan mengurangi jumlah serumen yg akan
membuat kanal kering dan pruritus.

4
Gambar : Patofisiologi Otitis Eksterna

2.6. Klasifikasi
Otitis eksterna diklasifikasikan atas :3
1. Otitis eksterna akut :
Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel / bisul)
Otitis eksterna difus
2. Otitis eksterna kronik

1. Otitis eksterna akut


Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel/ bisul)
Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi bermula dari folikel rambut di
liang telinga yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan
furunkel di liang telinga di 1/3 luar. Sering timbul pada seseorang yang menderita
diabetes.
Gejala klinis otitis eksterna sirkumskripta berupa rasa sakit (biasanya dari
ringan sampai berat, dapat sangat mengganggu, rasa nyeri makin hebat bila
mengunyah makanan). Keluhan kurang pendengaran, bila furunkel menutup liang
telinga. Rasa sakit bila daun telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat
atau abses pada 1/3 luar liang telinga.33

5
Otitis Eksterna Difus

Otitis eksterna difus adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga akibat
infeksi bakteri. Umumnya bakteri penyebab yaitu Pseudomonas. Bakteri
penyebab lainnya yaitu Staphylococcus albus, Escheria coli, dan sebagainya. Kulit
liang telinga terlihat hiperemis dan udem yang batasnya tidak jelas. Tidak terdapat
furunkel (bisul). Gejalanya sama dengan gejala otitis eksterna sirkumskripta
(furunkel = bisul). Kandang-kadang kita temukan sekret yang berbau namun tidak
bercampur lendir (musin). Lendir (musin) merupakan sekret yang berasal dari
kavum timpani dan kita temukan pada kasus otitis media. 33

Menurut Senturia HB (1980) otitis ekterna dibagi menjadi 3 stadium :

1. Preinflamasi

Tahap preinflammatory dimulai ketika stratum korneum menjadi


edematous karena hilangnya lapisan lipid pelindung canalis akustikus
eksternus, sehingga menyumbat unit apopilosebaceous. proses obstruksi
terus berlanjut, rasa penuh dan gatal telinga dimulai. Terganggunya lapisan
epitel memungkinkan invasi bakteri yang baik berada di CAE atau benda
asing dari luar masuk ke dalam saluran, seperti kapas atau kuku kotor.

6
2. Inflamasi akut (ringan/sedang/berat)

Tahap inflamasi akut disertai dengan rasa sakit dan nyeri dari daun telinga.
Tahap ringan , kulit saluran pendengaran eksternal menunjukkan eritema
ringan dan edema minimal. Tampak adanya sekret yang terlihat pada CAE.
Rasa sakit dan gatal meningkat.

tahap sedang, CAE menunjukkan lebih edema dan eksudat tebal lebih
banyak. Jika tidak diobati maka akan menjadi lebih berat, ditandai dengan
peningkatan rasa sakit dan kerusakan pada lumen CAE. Banyaknya
eksudat purulen dan edema pada kulit CAE memungkin mengaburkan
gambaran membran timpani. Pseudomonas aeruginosa atau lain basil
gram negatif hampir selalu dapat dikultur pada tahap ini .

tahap berat, terjadi perluasan infeksi di luar CAE dengan melibatkan


kelenjar getah bening didaerah leher.

3. Inflamasi kronik

Pada tahap peradangan kronis, nyeri berkurang tapi gatal lebih terasa.
Kulit CAE menebal, dan mengelupas. Auricula dan concha sering
menunjukkan perubahan sekunder, seperti eczematization, lichenification,
dan ulserasi dangkal.

7
Otomikosis
Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di
daerah tersebut. Yang tersering ialah jamur aspergilus. Kadang-kadang ditemukan
juga kandida albikans atau jamur lain.
Gejalanya biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi
sering pula tanpa keluhan.

Gambar 2. Otitis eksterna akut

2. Otitis eksterna kronik


Otitis eksterna kronik adalah otitis eksterna yang berlangsung lama dan
ditandai oleh terbentuknya jaringan parut (sikatriks). Adanya sikatriks
menyebabkan liang telinga menyempit.

Gambar 3. Otitis eksterna kronik

8
Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi : 4
1. Otitis Eksterna Ringan : kulit liang telinga hiperemis dan eksudat, liang telinga
menyempit.
2. Otitis Eksterna Sedang : liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan
eksudat positif
3. Otitis Eksterna Komplikas : Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak
4. Otitis Eksterna Kronik : kulit liang telinga/pina menebal, keriput, eritema
positif.

Klasifikasi Otitis Eksterna menurut G.G.Browning :


Klasifikasi Subklasifikasi
Lokal ( Furunkulosis)
Otitis Eksterna Difus Idhiopatik
Trauma
Iritan
Alergi
Bakteri, fungal
Iklim dan lingkungan
Keadaan Umum Kulit Dermatitis Seboroika
Dermatitis Alergi
Dermatitis Atopik
Psoriasis
Invasif
(granula/Nekrotizing Maligna)
lainnya (Keratosis Obturan)

2.7. Manifestasi Klinis


Gejala otitis eksterna umumnya adalah rasa gatal dan sakit (otalgia).
Gejala dan tanda pasien otitis eksterna selengkapnya :26,33
1. Otalgia.
2. Gatal-gatal (pruritus).
3. Rasa penuh (fullness) di liang telinga. Keluhan ini biasa terjadi pada tahap
awal otitis eksterna difus dan sering mendahului otalgia dan nyeri tekan

9
daun telinga.
4. Pendengaran berkurang atau hilang.
5. Deskuamasi.
6. Tinnitus.
7. Discharge dan otore. Cairan (discharge) yang mengalir dari liang telinga
(otore). Kadang-kadang pada otitis eksterna difus ditemukansekret / cairan
berwarna putih atau kuning, atau nanah. Cairan tersebutberbau yang tidak
menyenangkan. Tidak bercampur dengan lendir (musin).
8. Demam.
9. Nyeri tekan pada tragus17 dan nyeri saat membuka mulut.
10. Infiltrat dan abses (bisul). Keduanya tampak pada otitis eksterna
sirkumskripta. Bisul menyebabkan rasa sakit berat. Ketika pecah, darah
dan nanah dalam jumlah kecil bisa bocor dari telinga.

Rasa sakit di dalam telinga (otalgia) bisa bervariasi dari yang hanya
berupa rasa tidak enak sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti
terbakar hingga rasa sakit yang hebat serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering
merupakan gejala yang dominan, keluhan ini juga sering merupakan gejala
mengelirukan. Rasa sakit bisa tidak sebanding dengan derajat peradangan yang
ada. Ini diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar
langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema
dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Lagi
pula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan
tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga
akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan
mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.
Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap
awal dari otitis eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan
nyeri tekan daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan
pendahulu rasa sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan
penderita rasa gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda
permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta.
Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis
eksterna. Edema kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen, penebalan

10
kulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama sering menyumbat lumen
kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi,
rambut, serumen, debris, dan obat -obatan yang digunakan kedalam telinga bisa
menutup lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.

2.8. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis dari otitis eksterna dapat diperoleh dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meliputi:
1. ANAMNESIS
Pasien mungkin melaporkan gejala berikut:
Otalgia
Rasa penuh ditelinga
Gatal
Discharge (Awalnya, debit mungkin tidak jelas dan tidak berbau, tetapi
dengan cepat menjadi bernanah dan berbau busuk)
penurunan pendengaran
tinnitus
Demam (jarang)
Gejala bilateral (jarang)
2. PEMERIKSAAN FISIK
Temuan pemeriksaan fisik dapat mencakup sebagai berikut:
Nyeri tekan tragus
Eritematosa dan edema saluran auditori eksternal
Discharge purulen
Eczema dari daun telinga
Adenopati Periauricular dan servikal
Demam (jarang)
Pada kasus yang berat, infeksi dapat menyebar ke jaringan lunak
sekitarnya, termasuk kelenjar parotis. Ekstensi tulang juga dapat terjadi ke
dalam tulang mastoid, sendi temporomandibular, dan dasar tengkorak,
dalam hal saraf kranial VII (wajah), IX (glossopharingeus), X (vagus), XI
(aksesori), atau XII (hypoglossal) dapat terpengaruh.

11
3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Biakan dari sekret

2.9. Diagnosa Banding


Diagnosis banding dari keadaan yang serupa dengan otitis eksterna antara
lain meliputi :
- Otitis eksterna nekrotik
- Otitis eksterna bullosa
- Otitis eksterna granulosa
- Perikondritis yang berulang
- Kondritis
- Furunkulosis dan karbunkulosis
- dermatitis, seperti psoriasis dan dermatitis seboroika.
Karsinoma liang telinga luar yang mungkin tampak seperti infeksi
stadium dini diragukan dengan proses infeksi, sering diobati kurang sempurna.
Tumor ganas yang paling sering adalah squamous sel karsinoma, walaupun tumor
primer seperti seruminoma, kista adenoid, metastase karsinoma mamma,
karsinoma prostat, small (oat) cell dan karsinoma sel renal. Adanya rasa sakit
pada daerah mastoid terutama dari tumor ganas dan dapat disingkirkan dengan
melakukan pemeriksaan biopsi.2

2.10. Penatalaksanaan
Terapi utama dari otitis eksterna melibatkan manajemen rasa sakit,
pembuangan debris dari kanalis auditorius eksternal, penggunaan obat topikal
untuk mengontrol edema dan infeksi, dan menghindari faktor pencetus.26,33
Dengan lembut membersihkan debris dari kanalis auditorius eksternal
dengan irigasi atau dengan menggunakan kuret plastik lembut atau kapas
di bawah visualisasi langsung. Pembersihan kanal meningkatkan
efektivitas dari obat topikal.
Obat topikal aural biasanya termasuk asam ringan (untuk mengubah pH
dan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme), kortikosteroid

12
(untuk mengurangi peradangan), agen antibiotik, dan / atau agen
antijamur.
Infeksi ringan: otitis eksterna ringan biasanya merespon dengan
penggunaan agen acidifying dan kortikosteroid. Sebagai alternatif,
campuran perbandingan (2:1) antara alkohol isopropil 70% dan asam
asetat dapat digunakan.
Infeksi sedang: Pertimbangkan penambahan antibiotik dan antijamur
ke agen acidifying dan kortikosteroid.
Antibiotik oral digunakan pada pasien dengan demam, imunosupresi,
diabetes, adenopati, atau pada individu-individu dengan ekstensi
infeksi di luar saluran telinga.
Dalam beberapa kasus, kasa (dengan panjang 1/4 inci) dapat
dimasukkan ke dalam kanal, dan obat ototopic dapat diterapkan secara
langsung ke kasa (2-4 kali sehari tergantung pada frekuensi dosis yang
dianjurkan dokter). Setelah kasa digunakan, harus dicabut kembali 24-
72 jam setelah insersi.
Dalam kasus pasien dengan tympanostomy atau diketahui adanya
perforasi, persiapan non-ototoxic topical (misalnya, fluorokuinolon,
dengan atau tanpa steroid).

13
OTITIS EKSTERNA

Pertimbangkan Evaluasi secara


mengambil sampel rutin dalam 5-7
hari jika
imunocompromi
TERAPI zed atau
diabetes, gejala
Edukasi+ analgetika+
memburuk,
tetes telinga
gejala tidak
topical+/-
hilang dalam 1
menghilangkan debris

Rujuk ke THT jika:

Terapi gagal

Gejala dan tanda yang berat

Kemungkinan adanya otitis eksternal necrotizing


Gambar : Skema terapi otitis eksterna
2.11. Komplikasi
Perikondritis
Radang pada tulang rawan daun telinga yang terjadi apabila suatu trauma
atau radang menyebabkan efusi serum atau pus di antara lapisan perikondrium dan
kartilago telinga luar. Umumnya trauma berupa laserasi atau akibat kerusakan
yang tidak disengajakan pada pembedahan telinga. Adakalanya perikondritis
terjadi setelah suatu memar tanpa adanya hematoma. Dalam stage awal infeksi,
pinna dapat menjadi merah dan kenyal. Ini diikuti oleh pembengkakan yang
general dan membentuk abses subperikondrial dengan pus terkumpul di antara
perikondrium dan tulang rawan dibawahnya
Selulitis
Peradangan pada kulit dan jaringan subkutan yang dihasilkan dari infeksi
umum, biasanya dengan bakteri Staphylococcus atau Streptococcus. Hal ini dapat
terjadi sebagai akibat dari trauma kulit atau infeksi bakteri sekunder dari luka
terbuka, seperti luka tekanan, atau mungkin terkait dengan trauma kulit. Hal ini
paling sering terjadi pada ekstremitas, terutama kaki bagian bawah.

14
2.12.Prognosis
Umumnya otitis eksterna dapat sembuh jika segera diobati dan faktor
pencetusnya dapat dihindari. Akan tetapi otitis eksterna sering kambuh jika
kebersihan telinga tidak dijaga, adanya riwayat penyakit tertentu seperti diabetes
yang menyulitkan penyembuhan otitis sendiri, dan tidak menghindari faktor
pencetus dengan baik.

BAB III
LAPORAN KASUS
IDENTITAS
Nama : An. I
Umur : 13 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki

15
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Nan Balimo
Tujuan Poli : Poli Umum
Tanggal : 21 Februari 2017

JUDUL PENYAKIT :
Otitis Externa
No. ICD-10 : H60.9.Otitis externa, unspecified

Masalah Kesehatan :
Otitis eksterna adalah radang pada liang telinga luar. Penyakit ini banyak
ditemukan di layanan kesehatan tingkat pertama sehingga dokter di fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat pertama harus memiliki kemampuan
mendiagnosis dan menatalaksana secara komprehensif.

ANAMNESA
Keluhan Utama: Nyeri pada telinga kiri.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Nyeri pada telinga kiri sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dirasakan sepanjang
hari terutama saat telinga disentuh dan saat pasien mengunyah makanan.
Keluhan ini mulai dirasakan pasien setelah pasien mengorek-ngorek
telinganya dengan cutton bud 3 hari yang lalu
Telinga kiri terasa penuh sejak 2 hari yang lalu
Pendengaran pada telinga kiri terasa berkurang dibandingkan telinga
kanan.
Liang telinga kiri gatal, sehingga untuk mengurang rasa gatalnya pasien
suka mengorek-ngorek liang telinga dengan cutton bud
Demam sejak 1 hari yang lalu, demam dirasakan tidak tinggi, demam tidak
berkeringat dan tidak menggigil
Keluar cairan dari telinga kiri disangkal
Telinga berdenging disangkal
Keluhan pusing berputar disangkal
Batuk dan nyeri tenggorokan disangkal

16
Trauma pada telinga atau trauma kepala disangkal

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat keluhan yang sama seperti saat ini 5 tahun yang lalu
Riwayat asma sejak 4 tahun yang lalu, saat ini keluhan sesak nafas sudah
jarang d alami
Riwayat sakit kuning 3 tahun yang lalu
Riwayat sering bersin-bersin di pagi hari tidak ada
Riwayat sinusitis tidak ada
Riwayat Hipertensi tidak ada
Riwayat Diabetes mellitus tidak ada
Riwayat trauma pada telinga tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga:


- Tidak ada riwayat gejala penyakit telinga yang serupa pada anggota
keluarga pasien.
- Riwayat alegri pada keluarga tidak ada

Riwayat Alergi:
Alergi makanan tidak ada
Alergi obat-obatan tidak ada

Riwayat Pengobatan :
Pasien belum pernah mencoba mengobati keluhan yang dirasakannya saat ini.
Riwayat pekerjaan, sosial, dan kebiasaan
Pasien seorang pelajar SMP, tinggal dirumah bersama kedua orang tua dan
saudara kandung pasien. Pasien memiliki kebiasaan suka membersihkan telinga
dengan cutton bud. Pasien tidak terlalu suka berenang.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis

Tanda Vital:
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 84 x/menit
Suhu : Afebris
Frekuensi Nafas : 22 x/menit

Status Generalisata

17
Kepala : Normocephal, rambut hitam tidak mudah rontok
Mata : Konjungtiva anemis tidak ada, sklera ikterik tidak ada
Reflek cahaya +/+, pupil isokor, diameter 3mm/3mm
Telinga: Status lokalis
Hidung : Hidung luar tidak ada kelainan, konka kiri dan kanan
Tidak membesar dan tidak hiperemis, tampak sekret
Cair pada cavum nasi warna jernih.
Mulut : Mukosa bibir dan mulut basah
Tenggorokan : T1-T1, tonsil tidak hiperemis, detritus tidak ada, muara
Kripti tidak melebar, uvula di tengah, dinding faring tidak
hiperemis
Leher :
o Inspeksi : Tidak tampak pembesaran tiroid
o Palpasi : Tidak teraba pembesaran tiroid
KGB :
o Inspeksi : Tidak tampak pembesaran KGB
o Palpasi : Tidak teraba pembesaran KGB
Thorax :
o Paru
Inspeksi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : Fremitus taktil kiri dan kanan sama normal
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
o Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba pada LMCS RIC V
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : Irama reguler, bising (-),suara tambahan (-)
Abdomen
o Inspeksi : Distensi (-), Sikatrik (-)
o Palpasi : Nyeri tekan (-), Nyeri lepas (-)
Hepar dan lien tidak teraba
o Perkusi : Timpani
o Auskultasi : Bising usus (+) Normal
Ekstremitas
o Atas : Akral hangat, CRT < 2, Sianosis (-), Edema (-)
Kekuatan otot 555/555
o Bawah : Akral hangat, CRT < 2, Sianosis (-), Edema (-)
Kekuatan otot 555/555

Status Lokalis:
Telinga:
Bagian Telinga Telinga kanan Telinga kiri

18
Deformitas (-), hiperemis
Deformitas (-), hiperemis (-), edema (-), Nyeri tekan
Aurikula
(-), edema (-) tragus (+), nyeri tarik
aurikula (+)
Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
Daerah preaurikula fistula (-), abses (-), nyeri fistula (-), abses (-), nyeri
tekan tragus (-) tekan tragus (+)
Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
Daerah
fistula (-), abses (-), nyeri fistula (-), abses (-), nyeri
retroaurikula
tekan (-) tekan (-)
Serumen (-), edema (-), Serumen (-), edema (+),
Meatus akustikus hiperemis (-), furunkel (-), hiperemis (+), furunkel (+),
otorea (-) sekret (-)
Retraksi (-), bulging (-),
Membran timpani perforasi (-), cone of light Sulit dinilai
(+), posisi jam 5,

DIAGNOSA
Otitis Eksterna Sirkumskripta

DIAGNOSA BANDING
Otitis Eksterna difusa
Otomikosis

KOMPLIKASI
Abses
Infeksi kronik liang telinga
Jaringan parut
Stenosis liang telinga
Perikondritis
Selulitis

PENATALAKSANAAN
1. Non-medikamentosa:

19
- Membersihkan liang telinga secara hati-hati dengan pengisap atau
kapas yang dibasahi dengan H2O2 3%.

2. Medikamentosa:
- Polimixin-B salep 2 kali sehari pagi dan sore hari
- Paracetamol tablet 3 x 500 mg
- Dexametason tablet 3 x 0,5 mg

3. Konseling dan Edukasi


Pasien dan keluarga perlu diberi penjelasan, di antaranya:
1. Tidak mengorek telinga baik dengan cotton bud atau alat lainnya
karena dapat merusak kulit pada liang telinga dan memperparah
keluhan yang dirasakan saat ini.
2. Selama pengobatan pasien tidak boleh berenang.
3. Penyakit dapat berulang sehingga harus menjaga liang telinga
agar dalam kondisi kering dan tidak lembab.
4. Menjelaskan kepada pasien bahwa kotoran telinga dalam keadaan
normal dapat keluar dengan sendirinya secara alamiah sehingga
tidak perlu di bersihkan dengan cutton bud.
5. Menjelaskan kepada pasien jika terjadi abses pada bisul maka akan
dilakukan insisi atau drainase pada telinga pasien
6. Jika pasien telah sembuh dan ingin berenang, hendaknya
menggunakan penutup telinga pada saat berenang untuk mecegah
kerusakan kulit liang telinga akibat paparan air.
7. Gunakan obat secara teratur dan sesuai anjuran dari dokter.

4. Kritera Rujukan
- Otitis eksterna dengan komplikasi
- Otitis eksterna maligna

PROGNOSIS

Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Bonam

DAFTAR PUSTAKA

20
1. Oghalai, J.S. 2003. Otitis Eksterna. Available from : http://www.
bcm.tme.edu/oto/grand/101295.htm. Accessed : 2008, March 28.
2. Abdullah, F. 2003. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi Saring
dengan Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna Akut. Available
from : www.usudigitallibrary.com. Accessed : 2008, March 28.
3. Kotton, C. 2004. Otitis Eksterna. Available from : http:sav-ondrugs.
com/shop/templates/encyclopedia/ ENCY/ artcle/000622. asp. Accessed :
2008, March 28.
4. Carr, MM. 2000. Otitis Eksterna. Available from : http://www.
icarus.med.utoronto.ea/carr/manual/otitisexterna. htm. Accessed : 2008,
March 28.
5. Fatih, M. 2007. Otitis Eksterna. Available from :
http://hennykartika.wordpress.com/2007/12/29/otitis-eksterna/. Accessed :
2008, March 27.
6. Sosialisman & Helmi. 2001. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
7. Anonim. 2006. Otitis Eksterna. Available from : http://www.kalbe.co.id.
Accessed : 2008, March 27.
8. Suardana, W. dkk. 1992. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit
Telinga, Hidung dan Tenggorok RSUP Denpasar. Lab/UPF Telinga Hidung
dan Tenggorok FK Unud. Denpasar.

21