Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di negara yang maju dan berkembang banyak penduduk yang memiliki
pola hidup dan gaya hidup yang kurang baik. Semakin meningkatnya daya
konsumsi masyarakat, semakin banyak dari mereka yang memakan makanan yang
kurang bergizi, jarang bergerak (olahraga), dan mengkonsumsi fastfood. Salah
satu penyakit yang berhubungan dengan akibat pola hidup dan gaya hidup yang
tidak sehat adalah hipertensi. Hingga saat ini hipertensi masih tetap menjadi
permasalahn selain diabetes dan penyakit jantung karena beberapa hal, antara lain
terjadi peningkatnya prevalensi hipertensi, dan masih banyaknya pasien yang
mengidap hipertensi yang belum mendapat pengobatan maupun yang sudah
diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target,bahkan ada penderita yang
tidak tahu jika memiliki tekanan darah yang tinggi. Hal ini dapat dapat membuat
bersamaan dengan penyakit penyerta dan komplikasi yang lebih lanjut dapat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas.Jenis hipertensi paling banyak adalah
hipertensi primer sebesar 90% dari semua angka kejadian hipertensi. Sedangkan
hipertensi yang lain adalah hipertensi sekunder yang disertai adanya penyakit
sistemik. Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya
populasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar
juga bertambah, dimana baik hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi
sistolik dan diastolik sering timbul pada lebih dari separuh orang yang berusia >
65 tahun. Selain itu laju pengendalian tekanan darah yang dahulu terus meningkat,
dalam dekade terakhir tidak menunjukkan kemajuan lagi dan pengendalian
tekanan darah ini hanya mencapai 34 % dari seluruh pasien hipertensi.
Oleh karena itu perlunya pendekatan dokter keluarga untuk memastikan,
mendiagnosis dini, mengawasi para pasien dan keluarganya untuk tercapainya
tujuan kesehatan. Prinsip pokok dari dokter keluarga adalah untuk dapat
menyelenggarakan pelayanan kedokteran menyeluruh. Maka dari itu perlu
diketahui berbagai latar belakang pasien yang menjadi tanggungannya. Untuk
dapat mewujudkan pelayanan kesehatan seperti itu diperlukan adanya kunjungan

1
rumah (home visit) serta melakukan pelayanan kesehatan standar. Untuk dapat
memajukan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada masyarakat, perlu
adanya kerjasama antara petugas kesehatan dan pasien. Pemantauan terhadap
penyakit pasien tidak hanya sekadar mendapatkan pengobatan di puskesmas,
namun lingkungan pasien turut diikutsertakan dalam usaha meningkatkan
kesehatan pasien. Home visit atau kunjungan dilakukan dengan tujuan untuk
melihat lingkungan rumah pasien dan sekaligus mengedukasi dan memberi
penyuluhan yang terkait dengan penyakit pasien.

1.2. Tujuan
Tujuan umumnya adalah untuk meningkatkan taraf mutu pelayanan
kesehatan masyarakat sedangkan tujuan khusus ialah mengetahui dan memahami
secara mendalam penyakit hipertensi dan penyebabnya serta dapat menerapkan
prinsip-prinsip pelayanan kedokteran secara komprehensif dan menyeluruh serta
adanya peran aktif dari pasien dan keluarga.

1.3. Manfaat
Menghasilkan informasi atau pengetahuan mengenai pelayanan kesehatan
kedokteran dengan pendekatan keluarga pada pasien hipertensi. Bagi mahasiswa
ialah lebih memahami secara dalam mengenai penyakit hipertensi bukan saja dari
penyebabnya tetapi dapat dari faktor-faktor resiko serta menerapkan prinsip
pelayanan kedokteran keluarga secara holistik saat melakukan observasi dan
wawancara pada pasien.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Hampir semua consensus/ pedoman utama baik dari dalam walaupun luar
negeri, menyatakan bahwa seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki
tekanan darah sistolik 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik 90
mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. Tekanan darah sistolik merupakan
pengukuran utama yang menjadi dasar penentuan diagnosis hipertensi. Adapun
pembagian derajat keparahan hipertensi pada seseorang merupakan salah satu
dasar penentuan tatalaksana hipertensi (disadur dari A Statement by the American
Society of Hypertension and the International Society of Hypertension 2013)

Tabel : Klasifikasi Tekanan Darah Menurut A Statement by the American


Society of Hypertension and the International Society of Hypertension 2013
Klasifikasi Sistolik Diastolic
Optimal <120 dan <80
Normal 120-129 dan/atau 80-84
Normal tinggi 130-139 dan/atau 85-89
Hipertensi derajat 1 140-159 dan/atau 90-99
Hipertensi derajat 2 160-179 dan/atau 100-109
Hipertensi derajat 3 180 dan/atau 110
Hipertensi sistolik 140 dan/atau <90
terisolasi

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh


tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan akan timbulnya atau telah
terjadi kelainan organ target. Pada umumnya krisis hipertensi terjadi pada pasien
hipertensi yang tidak atau lalai memakan obat antihipertensi.

Krisis hipertensi meliputi dua kelompok yaitu :


Hipertensi darurat (emergency hypertension) dimana selain tekanan
darah yang sangat tinggi terdapat kelainan/kerusakan target organ yang

3
bersifat progresif sehigga tekanan darah harus diturunkan dengan segera
(dalam menit sampai jam) agar dapat mencegah/membatasi kerusakan
target organ yang terjadi.
Hipertensi mendesak (Urgency hypertension) dimana terdapat tekanan
darah yang sangat tinggi tetapi tidak disertai kelainan/kerusakan organ
target yang progresif, sehingga penurunan tekanan darah dapat
dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam sampai hari)

2.2. Faktor Penyebab


Sembilan puluh persen sampai 95% hipertensi bersifat idiopatik (hipertensi
esensial), yang memungkinkan umur panjang, kecuali apabila infark miokardium,
kecelakaan serebrovaskular, atau penyulit lainnya. Selain itu terdapat pula jenis
hipertensi lainnya yang disebut dengan hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang
disebabkan oleh gangguan organ lainya. Gangguan ginjal yang dapat
menimbulkan hipertensi yaitu, glomerulonefritis akut, penyakit ginjal kronis,
penyakit polikistik, stenosis arteria renalis, vaskulitis ginjal, dan tumor penghasil
renin. Gangguan pada sistem endokrin juga dapat menyebabkan hipertensi,
dintaranya seperti hiperfungsi adrenokorteks (sindrom Cushing, aldosteronisme
primer, hiperplasia adrenal kongenital, ingesti licorice), hormon eksogen
(glukokortikoid, estrogen, makanan yang mengandung tiramin dan
simpatomimetik, inhibitor monoamin oksidase), feokromositoma, akromegali,
hipotiroidisme, dan akibat kehamilan. Gangguan pada sistem kardiovaskular
seperti koarktasio aorta, poliarteritis nodosa, peningkatan volume intravaskular,
peningkatan curah jantung, dan rigiditas aorta juga dapat menyebabkan hipertensi,
begitu pula dengan gangguan neurologik seperti psikogenik, peningkatan
intrakranium, apnea tidur, dan stres akut.

2.3. Faktor Risiko


Hipertensi esensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama
karena interaksi faktor-faktor risiko tertentu. Faktor-faktor risiko yang mendorong
timbulnya kenaikan tekanan darah tersebut adalah faktor risiko seperti diet dan

4
asupan garam, stres, ras, obesitas, merokok, genetis, sistem saraf simpatis (tonus
simpatis dan variasi diurnal), keseimbangan modulator vasodilatasi dan
vasokontriksi, serta pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem
renin, angiotensin dan aldosteron. Pasien prehipertensi beresiko mengalami
peningkatan tekanan darah menjadi hipertensi; mereka yang tekanan darahnya
berkisar antara 130-139/80-89 mmHg dalam sepanjang hidupnya akan memiliki
dua kali risiko menjadi hipertensi dan mengalami penyakit kardiovaskular
daripada yang tekanan darahnya lebih rendah. Pada orang yang berumur lebih dari
50 tahun, tekanan darah sistolik >140 mmHg yang merupakan faktor risiko yang
lebih penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskular dari pada tekanan darah
diastolik. Risiko penyakit kardiovaskular dimulai pada tekanan darah 115/75
mmHg, meningkat dua kali dengan tiap kenaikan 20/10 mmHg. Risiko penyakit
kardiovaskular ini bersifat kontinyu, konsisten, dan independen dari faktor risiko
lainnya, serta individu berumur 55 tahun memiliki 90% risiko untuk mengalami
hipertensi.
Faktor risiko pada penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi adalah :
Merokok
Obesitas
Kurangnya aktivitas fisik
Dislipidemia
Diabetes mellitus
Mikroalbuminuria atau perhitungan LFG <60 ml/menit
Umur (laku-laki >55 tahun, wanita >65 tahun)
Riwayat keluarga dengan penyakit jantung kardiovaskular premature
(laki-laki <55thun, wanita <65 tahun)

2.4. Patogenesa
Tingkat tekanan darah merupakan suatu sifat kompleks yang ditentukan
oleh interaksi berbagai faktor genetik, lingkungan dan demografik yang

5
mempengaruhi dua variabel hemodinamik: curah jantung dan resistansi perifer.
Total curah jantung dipengaruhi oleh volume darah, sementara volume darah
sangat bergantung pada homeostasis natrium. Resistansi perifer total terutama
ditentukan di tingkat arteriol dan bergantung pada efek pengaruh saraf dan
hormon. Tonus vaskular normal mencerminkan keseimbangan antara pengaruh
vasokontriksi humoral (termasuk angiotensin II dan katekolamin) dan vasodilator
(termasuk kinin, prostaglandin, dan oksida nitrat). Resistensi pembuluh juga
memperlihatkan autoregulasi; peningkatan aliran darah memicu vasokonstriksi
agar tidak terjadi hiperperfusi jaringan. Faktor lokal lain seperti pH dan hipoksia,
serta interaksi saraf (sistem adrenergik - dan -), mungkin penting. Ginjal
berperan penting dalam pengendalian tekanan darah, melalui sistem renin-
angiotensin, ginjal mempengaruhi resistensi perifer dan homeostasis natrium.
Angiontensin II meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan resitensi
perifer (efek langsung pada sel otot polos vaskular) dan volume darah (stimulasi
sekresi aldosteron, peningkatan reabsorbsi natrium dalam tubulus distal). Ginjal
juga mengasilkan berbagai zat vasodepresor atau antihipertensi yang mungkin
melawan efek vasopresor angiotensin. Bila volime darah berkurang, laju filtrasi
glomerulus (glomerular filtration rate) turun sehingga terjadi peningkatan
reabsorbsi natrium oleh tubulus proksimal sehingga natrium ditahan dan volume
darah meningkat.
Sembilan puluh persen sampai 95% hipertensi bersifat idiopatik (hipertensi
esensial). Beberapa faktor diduga berperan dalam defek primer pada hipertensi
esensial, dan mencakup, baik pengaruh genetik maupun lingkungan. Penurunan
ekskresi natrium pada tekanan arteri normal mungkin merupakan peristiwa awal
dalam hipertensi esensial. Penurunan ekskresi natrium kemudian dapat
menyebabkan meningkatnya volume cairan, curah jantung, dan vasokonstriksi
perifer sehingga tekanan darah meningkat. Pada keadaan tekanan darah yang lebih
banyak natrium untuk mengimbangi asupan dan mencegah retensi cairan. Oleh
karena itu, ekskresi natrium akan berubah, tetapi tetap steady state (penyetelan
ulang natriuresis tekanan). Namun, hal ini menyebabkan peningkatan stabil
tekanan darah. Hipotesis alternatif menyarankan bahwa pengaruh vasokonstriktif
(faktor yang memicu perubahan struktural langsung di dinding pembuluh

6
sehingga resistensi perifer meningkat) merupakan penyebab primer hipertensi.
Selain itu, pengaruh vasikonstriktif yang kronis atau berulang dapat menyebabkan
penebalan struktural pembuluh resistensi. Faktor lingkungan mungkin
memodifikasi ekspresi gen pada peningkatan tekanan. Stres, kegemukan,
merokok, aktifitas fisik berkurang, dan konsumsi garam dalam jumlah besar
dianggap sebagai faktor eksogen dalam hipertensi.

2.5. Gejala klinik


Hipertensi krisis uumumnya adalah gejala organ target yang terganggu di
antaranya adalah nyeri dda dan sesak nafas pada gangguan jantung dan diseksi
aorta; mata kabur pada edema papilla mata; sakit kepala hebat, ganguan kesadaran
dan lateralisasi pada gangguan otak; gagal ginjal akut pada gangguan ginjal;
disamping sakit kepala dan nyeri tengkuk pada kenaikan tekanan dara pada
umumnya. Diagnosis ditegakkan berdasarkan tinggunya tekanan darah, gejala dan
tanda keterlibatan organ target.
Selaian pemeriksaan fisik, data laboratorium ikut membantu diagnosis dan
perencanaan. Urin dapat menunjukkan proteinuria, hematuria dan silinder. Hal ini
terjadi karena tingginya tekanan darah juga menandakan keterlibatan ginjal
apalagi bila ureum dan kreatinin meningkat. Gangguan elektrolit bisa terjadi pada
hipertensi sekunder dan berpotensi menimbulkan aritmia.
Pemeriksaan penunjang seperti EKG untuk melihat adanya hipertrofi
ventrikel kiri ataupun gangguan koroner serta USG untuk melihat struktur ginjal
dilaksanakan sesuai kondisi klinis pasien.

Tabel: Gambaran klinik hypertensi emergency


Tekanan funduskop Status Jantung Ginjal Gastrointestina
darah i neurologi l
>220/14 Perdarahan Sakit Denyut jelas, Uremia, Mual, muntah
0 mmHg Eksudat, kepala, membesar, proteinuri
edema kacau, dekompensasi a
papil gangguan , oligoria
kesadaran

7
, kejang,
lateralisas
i

2.6. Diagnosis
Pemeriksaan pasien hipertensi memiliki tujuan, yaitu untuk menilai gaya
hidup dan faktor risiko kardiovaskular lainnya atau bersamaan gangguan yang
mungkin mempengaruhi prognosis dan pedoman pengobatan, untuk mengetahui
penyebab tekanan darah tinggi, untuk menilai ada atau tidaknya kerusakan target
organ dan penyakit kardiovaskular (National Institutes of Health, 2003).
Pemeriksaan pada hipertensi menurut PERKI (Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia) (2003), terdiri atas:
1. Riwayat penyakit
a. Lama dan klasifikasi hipertensi
b. Pola hidup
c. Faktor-faktor risiko kelainan kardiovaskular
d. Riwayat penyakit kardiovaskular
e. Gejala-gejala yang menyertai hipertensi
f. Target organ yang rusak
g. Obat-obatan yang sedang atau pernah digunakan

2. Pemeriksaan fisik
a. Tekanan darah minimal 2 kali selang dua menit
b. Periksa tekanan darah lengan kontra lateral
c. Tinggi badan dan berat badan
d. Pemeriksaan funduskopi
e. Pemeriksaan leher, jantung, abdomen dan ekstemitas
f. Refleks saraf

3. Pemeriksaan laboratorium
a. Urinalisa
b. Darah : platelet, fibrinogen

8
c. Biokimia : potassium, sodium, creatinin, GDS, lipid profil, asam urat
4. Pemeriksaan tambahan
a. Foto rontgen dada
b. EKG 12 lead
c. Mikroalbuminuria
d. Ekokardiografi
Tekanan darah setiap orang sangat bervariasi. Pengukuran tunggal yang
akurat adalah awal yang baik tetapi tidak cukup: ukur tekanan darah dua kali dan
ambil rata-ratanya. Hipertensi didiagnosis jika rata-rata sekurang-kurangnya 2
pembacaan per kunjungan diperoleh dari masing-masing 3 kali pertemuan selama
2 sampai 4 minggu diperoleh tekanan darah sistolik 140 mmHg atau 90 mmHg
untuk diastolik. Menurut JNC 7, tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg atau
kurang. Prehipertensi bila tekanan darah 120/80 samapi 139/89 mmHg. Hipertensi
stadium 1 bila tekanan darah sistolik 140 sampai 159 mmHg atau tekanan darah
diastolik 90 sampai 99 mmHg. Serta hipertensi stadium 2 bila tekanan darah
sistolik 160 mmHg atau tekanan darah diastolik 100 mmHg.
Dalam menegakan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan
pemeriksaan yang harus dijalani sebelum menentukan terapi atau tatalaksana yang
akan diambil.

9
HBPM : Home Blood Pressure Monitoring
ABPM : Ambulatory Blood Pressure Monitoring
Gambar : Algoritme diagnosis ini diadaptasi dari Canadian Hypertension
Education Program. The Canadian Recommendation for The Management of
Hypertension 2014

2.7. Komplikasi
Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung yang bisa mengenai jantung, otak, ginjal, arteri
perifer, dan mata. Beberapa penelitian mengatakan bahwa penyebab kerusakan
organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah
pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi
terhadap reseptor AT1 angiotensin II, stres oksidatif, down regulation dari ekspresi
nitric oxide synthase, dan lain-lain. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet
tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya
kerusakan organ target, misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya
ekspresi transforming growth factor- (TGF-).

10
Tabel : Faktor resiko kardiovaskulkar
Dapat Dimodifikasi Tidak dapat Dimodifikasi
Hipertensi Umur (pria > 55 tahun, wanita > 65
Merokok tahun)
Obesitas (BMI 30) Riwayat keluarga dengan penyakit
Physical Inactivity kardiovaskular prematur (pria < 55 tahun,
Dislipidemia wanita < 65 tahun)
Diabetes mellitus
Mikroalbuminemia atau GFR < 60 ml/min

2.8. Penatalaksanaan
a. Target penurunan tekanan darah
Menurut Joint National Commission (JNC) 7, rekomendasi target tekanan
darah yang harus dicapai adalah < 140/90 mmHg dan target tekanan darah untuk
pasien penyakit ginjal kronik dan diabetes adalah 130/80 mmHg. American
Heart Association (AHA) merekomendasikan target tekanan darah yang harus
dicapai, yaitu 140/90 mmHg, 130/80 mmHg untuk pasien dengan penyakit ginjal
kronik, penyakit arteri kronik atau ekuivalen penyakit arteri kronik, dan 120/80
mmHg untuk pasien dengan gagal jantung. Sedangkan menurut National Kidney
Foundation (NKF), target tekanan darah yang harus dicapai adalah 130/80 mmHg
untuk pasien dengan penyakit ginjal kronik dan diabetes, dan < 125/75 mmHg
untuk pasien dengan > 1 g proteinuria.

b. Non farmakologis
Pelaksanaan gaya hidup yang positif mempengaruhi tekanan darah memiliki
implikasi baik untuk pencegahan dan pengobatan hipertensi. Promosi kesehatan
modifikasi gaya hidup direkomendasikan untuk individu dengan pra-hipertensi
dan sebagai tambahan terhadap terapi obat pada individu hipertensi. Intervensi ini
untuk risiko penyakit jantung secara keseluruhan. Meskipun dampak intervensi
gaya hidup pada tekanan darah akan lebih terlihat pada orang dengan hipertensi,
dalam percobaan jangka pendek, penurunan berat badan dan pengurangan NaCl
diet juga telah ditunjukkan untuk mencegah perkembangan hipertensi. Pada

11
penderita hipertensi, bahkan jika intervensi tersebut tidak menghasilkan
penurunan tekanan darah yang cukup untuk menghindari terapi obat, jumlah obat
atau dosis yang dibutuhkan untuk mengontrol tekanan darah dapat dikurangi.
Modifikasi diet yang efektif menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat
badan, mengurangi asupan NaCl, meningkatkan asupan kalium, mengurangi
konsumsi alkohol, dan pola diet yang sehat secara keseluruhan (Kotchen, 2008).
Mencegah dan mengatasi obesitas sangat penting untuk menurunkan
tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular. Rata-rata penurunan tekanan
darah 6,3/3,1 mmHg diobseravsi setelah penurunan berat badan sebanyak 9,2 kg.
Berolah raga teratur selama 30 menit seperti berjalan, 6-7 perhari dalam
seminggu, dapat menurunkan tekanan darah. Ada variabilitas individu dalam hal
sensitivitas tekanan darah terhadap NaCl, dan variabilitas ini mungkin memiliki
dasar genetik. Berdasarkan hasil meta-analisis, menurunkan tekanan darah dengan
membatasi asupan setiap hari untuk 4,4-7,4 g NaCl (75-125 meq) menyebabkan
penurunan tekanan darah 3.7-4.9/0.9-2.9 mmHg pada hipertensi dan penurunan
lebih rendah pada orang darah normal. Konsumsi alkohol pada orang yang
mengkonsumsi tiga atau lebih minuman per hari (minuman standar berisi ~ 14 g
etanol) berhubungan dengan tekanan darah tinggi, dan penurunan konsumsi
alkohol dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Begitu pula dengan DASH
(Dietary Approaches to Stop Hypertension) meliputi diet kaya akan buah-buahan,
sayuran, dan makanan rendah lemak efektif dalam menurunkan tekanan darah
(Kotchen, 2008).
Tabel : Modifikasi gaya hidup untuk mencegah dan mengatasi hipertensi
Modifikasi Rekomendasi Penurunan potensial
TD sistolik
Diet natrium Membatasi diet natrium 2-8 mmHg
tidak lebih dari 2400
mg/hari atau 100
meq/hari
Penurunan Berat Badan Menjaga berat badan 5-20 mmHg per 10 kg
normal; BMI = 18,5- penururnan berat badan
24,9 kg/

12
Olahraga aerobik Olahraga aerobik secara 4-9 mmHg
teratur, bertujuan untuk
melakukan aerobik 30
menit
Latihan sehari-hari
dalam seminggu.
Disarankan pasien
berjalan-jalan 1 mil per
hari di atas tingkat
aktivitas saat ini
Diet DASH Diet yang kaya akan 4-14 mmHg
buah-buahan, sayuran,
dan mengurangi jumlah
lemak jenuh dan total
Membatasi konsumsi Pria 2 minum per hari, 2-4 mmHg
alkohol wanita 1 minum per
hari

c. Farmakologi
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang
dianjurkan oleh JNC 7 adalah:
a. Diuretika, terutama jenis Thiazide (Thiaz) atau Aldosteron Antagonist
b. Beta Blocker (BB)
c. Calcium Chanel Blocker atau Calcium antagonist (CCB)
d. Angiotensin Converting Enzym Inhibitor (ACEI)
e. Angiotensin II Receptor Blocker atau Areceptor antagonist/blocker

Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap, dan
target tekanan darah tercapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan
untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja panjang atau yang
memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali sehari. Pilihan apakah
memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau dengan kombinasi
tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidaknya komplikasi. Jika terapi

13
dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah, dan kemudian tekanan
darah belum mencapai target, maka langkah selanjutnya adalah meningkatkan
dosis obat tersebut, atau berpindah ke antihipertensif lain dengan dosis rendah.
Efek samping umumnya bisa dihindari dengan menggunakan dosis rendah, baik
tunggal maupun kombinasi. Sebagian besar pasien memerlukan kombinasi obat
antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah, tetapi terapi kombinasi dapat
meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah
obat yang harus diminum bertambah
Kombinasi obat yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien
adalah:
a. CCB dan BB
b. CCB dan ACEI atau ARB
c. CCB dan diuretika
d. AB dan BB
e. Kadang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat

Tabel : Indikasi dan kontraindikasi obat antihipertensi

14
Gambar: Terapi Kombinasi Obat

Pengobatan hypertensi urgency cukup dengan obat oral yang bekerja cepat
sehingga menurunkan tekanan darah dalam beberapa jam.

15
Pengobatan hypertensi emergency memerlukan obat yang segera
menurunkan tekanan darah dalam menit-jam sehingga umumnya bersifat
parenteral.

Tabel : Obat hipertensi oral yang dipakai di Indonesia


Obat Dosis Efek Lama Kerja Perhatian
Khusus
Nifedipin Diulang 15 5-15 menit 4-6 jam Gangguan
5-10 mg menit koroner
Captopril Diulang per 15-30 menit 6-8 jam Stenosis a. renalis
12,5-25mg jam
Klonidin Diulang per 30-60 menit 8-16 jam Mulut kering dan
75-150 ug jam ngantuk
Propanolol Diulang per 15 3-6 jam Bronkokonstriksi,
10-40 mg jam blok jantung

Tabel : Obat hipertensi parenteral yang dipakai di Indonesia


Obat Dosis Efek Lama kerja Perhatian
Khusus
Klonidin IV 6 amp per 250 30-60 menit 24 jam Ensefalopaty
150 ug cc Glukosa dengan
5% mikrodrip gangguan
koroner
Nitrogliserin 10-50 ug 2-5 menit 5-10 menit
IV 100 ug/ cc per
500 cc
Nikardipin 0,5-6 1-5 menit 15-30 menit
ug/kg/menit
Diltiazem 5-15 Sama
ug/kg/menit
lalu sama 1-5
ug/kg/menit
Nitroprusid 0,25 langsung 2-3 mrnit Selang infuse
ug/kg/menit lapis perak

16
Tabel : Untuk memudahkan penilaian dan tindakan dibuat bagan seperti
yang tercantum pada tabel :
Kelompok Biasa Urgency Emergency
Tekanan darah >180/110 >180/110 >220/140
Gejala Tidak ada, Sakit kepala hebat, Sesak nafas, nyeri
kadang-kadang sesak nafas dada, kacu,
sakit kepala, gangguan
gelisah kesadaran
Pem. Fisik Organ target taa Gangguan organ Ensefalopaty,
target edema paru,
gangguan fungsi
ginjal, CVA,
iskemia jantung
Pengobatan Awasi 1-3 jam Awasi 3-6 jam, Pasang jalur IV,
mulai/teruskan obat oral periksa
obat oral, naikkan berjangka kerja laboratorium
dosis pendek standar, terapi obat
IV
Rencana Periksa ulang Periksa ulang Rawat ruangan /
dalam 3 hari dalam 24 jam ICU

d. Upaya peningkatan kontrol hipertensi


Model perilaku menyarankan bahwa terapi yang diterapikan oleh dokter
dapat mengontrol tekanan darah pasien hanya bila pasien tersebut memiliki
motivasi untuk menjalani pengobatan dan menjalankan modifikasi gaya hidup
yang baik. Motivasi timbul ketika pasien mendapatkan pengalaman yang positif,
percaya kepada dokternya. Komunikasi yang baik akan meningkatkan hasil
pengobatan; empati dapat membangun kepercayaan dan merupakan motivator
yang potensial.
Hubungan dokter-pasien adalah berdasarkan kepercayaan, menghormati,
dan pengetahuan holistik pasien berkorelasi dengan hasil positif dari perawatan,
seperti kepatuhan, kepuasan, dan status kesehatan. Pasien sering mengevaluasi
kompetensi dokter berdasarkan keterampilan layanan pasien mereka, bukan
keterampilan klinis mereka. Layanan pasien adalah termasuk kemudahan akses,

17
waktu tunggu yang minimal, dan tanggapan yang positif dari staf pekerja, semua
mempengaruhi kepuasan penyedia dan kepatuhan pasien. Dokter adalah model
peran dan harus melatih staf dengan meningkatkan positif interaktif, dan
lingkungan empati. Hal Ini akan meningkatkan kenyamanan pasien dan kesediaan
untuk berpartisipasi dalam perawatan mereka sendiri (National Institutes of
Health, 2003).
Menurut Boulware (2001), Intervensi perilaku pada pasien, seperti
konseling, terbukti efektif meningkatkan kontrol tekanan darah. Edukasi pasien
terhadap hipertensi, diantaranya adalah:
a. Menilai pemahaman pasien dan penerimaan atas diagnosa hipertensi
b. Diskusikan keluhan pasien dan mengklarifikasi ketidakpahaman pasien
c. Beritahu pasien tentang pembacaan tekanan darah dan memberikan
salinan tertulis
d. Dokter dan pasien sepakat mengenai target tekanan darah yang akan
dicapai
e. Menginformasikan pasien tentang pengobatan yang direkomendasikan,
dan memberikan informasi tertulis yang spesifik tentang peran gaya hidup
termasuk diet, aktivitas fisik, suplemen makanan, dan konsumsi alkohol,
penggunaan brosur standar bila tersedia
f. Menunjukkan keprihatinan dan memberikan kesempatan bagi pasien
kesempatan perilaku tertentu untuk melaksanakan rekomendasi perawatan
g. Menekankan:
1. Perlunya melanjutkan pengobatan
2. Kontrol tidak berarti menyembuhkan
3. Tekanan darah yang meninggi tidak dapat dikatakan melalui
perasaan atau gejala; tekanan darah harus diukur

Menurut Yogiantoro (2003), strategi untuk meningkatkan kepatuhan


kepada pengobatan adalah:
a. Empati dokter akan meningkatkan kepercayaan, motivasi dan kepatuhan
pasien

18
b. Dokter harus mempertimbangkan latar belakang budaya kepercayaan
pasien serta sikap pasien terhadap pengobatan
c. Pasien diberi tahu hasil pengukuran tekanan darah, target yang masih
harus dicapai, rencana pengobatan selanjutnya serta pentingnya mengikuti
rencana tersebut

BAB III
LAPORAN KASUS
IDENTITAS
Nama : Ny. S

19
Umur : 64 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : Tidak sekolah
Alamat : Nan Balimo
Tujuan Poli : Poli Lansia
Tanggal : 22 Februari 2017

JUDUL PENYAKIT :
Hipertensi esensial
No ICPC-2 : K86 Hypertension uncomplicated
No ICD-10 : I10 Essential (primary) hypertension

Masalah Kesehatan :
Hipertensi esensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui
penyababnya. Hipertensi menjadi masalah karena meningkatnya prevalensi, masih
banyak pasien yang belum mendapat pengobatan, maupun yang telah mendapat
terapi tetapi target tekanan darah belum tercapai serta adanya penyakit penyerta
dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

ANAMNESA
Keluhan utama :
Nyeri kepala sejak 2 hari yang lalu
Riwayat Penyakit sekarang :
- Nyeri kepala sejak 2 hari yang lalu, nyeri dirasakan terus menerus dan
memberat jika pasien dalam keadaan stres, sakit kepala tidak berputar,
tidak berdenyut, nyeri dirasakan tidak hebat.
- Nyeri dan terasa berat pada bagian tengkuk dirasakan sejak 2 hari yang
lalu.
- Mual dan muntah tidak ada.
- Mata kabur tidak ada.
- Nyeri dada tidak ada
- Dada terasa berdebar-debar tidak ada
- Sesak nafas saat beraktivitas tidak ada.
- Kelemahan pada anggota gerak tidak ada

20
- Sering merasa haus disangkal
- Sering merasa lapar disangkal. Nafsu makan sama seperti biasa.
- Kesemutan pada ujung kaki dan tangan disangkal
- BAK warna kuning jernih, frequensi 3 kali sehari, jumlah masih dalam
batas normal. BAK sering pada malam hari disangkal
- BAB warna kuning, konsistensi padat, frequensi 1 kali sehari.
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat Hipertensi sejak 11 tahun yang lalu. Pasien sudah sering dirawat
di rumah sakit karena tekanan darah tinggi. Tekanan darah paling tinggi
240/100 mmHg. Pasien tidak kontrol teratur, hanya minum obat jika sudah
ada keluhan saja. Pasien biasa mengkonsumsi captopril 2 kali sehari sejak
11 tahun yang lalu jika ada keluhan, sejak satu tahun ini obat pasien
diganti dokter dengan amlodipin 2 kali sehari karena pasien mengeluhkan
batuk-batuk. Keluhan nyeri dada, sesak nafas, mata kabur, sakit kepala
hebat tidak pernah dialami pasien
- Riwayat Diabetes melitus sejak 4 tahun yang lalu. Pasien tidak ada
keluhan sering buang air kecil, sering merasa haus ataupu lapar. Pasien
dikenal DM saat pemeriksaan darah, didapatkan gula darah puasa pasien
291 mg/dl. Pasien diberi obat metformin sampai bulan april 2016 setelah
itu pasien menghentikan sendiri pengobatannya sampai saat ini.
- Riwayat stroke 10 tahun yang lalu. Dirawat d RSUD Solok dengan
kelemahan anggota gerak atas sebelah kiri. Pasien dianjurkan untuk
fisioterapi dan saat ini anggota gerak pasien sudah dapat bekerja seperti
semula.

Riwayat Penyakit Keluarga:


- Riwayat Hipertensi disangkal
- Riwayat Diabetes melitus disangkal
- Riwayat alergi disangkal

Riwayat Alergi :
- Alergi makanan tidak ada
- Alergi obat-obatan tidak ada

21
Riwayat Pekerjaan, Ekonomi, Sosial, dan Kebiasaan:
- Pekerjaan
Pasien seorang ibu rumah tangga, pekerjaan sampingan membuat kue
untuk dijual
- Tempat Tinggal
Pasien tinggal di rumah permanen miliknya bersama suami, anak,
menantu, dan cucu pasien.
- Ekonomi
Rendah, karena penghasilan tidak tetap dari berjualan dan pemberian dari
anak-anak pasien
- Jaminan kesehatan
Pasien berobat pribadi (umum) karena kartu jaminan kesehatan yang
dibagikan pemerintah sudah tidak berlaku
- Merokok
Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok
- Minum yang mengandung alcohol
Tidak pernah
- Pola jajan ( yang mempengaruhi penyakit dalam keluarga)
Jarang jajan
- Pola makan (yang mempengaruhi penyakit dalam keluarga)
Pasien tidak pernah mengatur pola makannya, meskipun telah sering di
nasehati dokter untuk mengurangi makanan bergaram. Pasien suka
makanan yang asin-asin, karena menurut pasien makanannya tidak enak
jika tidak asin. Pasien tidak terlalu suka makanan berlemak.
- Pola penyimpanan atau memasak makanan
Pola penyimpanan di wadah dengan tutup
- Pola minuman sehari hari
Minum air dari dispenser dengan air isi ulang seharga Rp. 5000, sehari
minum sekitar 6-7 gelas.
- Olahraga (yang mempengaruhi penyakit dalam keluarga)
Tidak pernah, hanya berjalan kaki jika ingin berpergian dan tidak terlalu
jauh, pasien lebih sering naik kendaraan
- Kebersihan hygiene
Pasien mandi 2x sehari sama dengan keluarganya, kuku terlihat cukup
bersih, pasien memakai sandal jika diluar rumah, keramas 2 hari sekali
dengan menggunakan shampoo sachet, sikat gigi setiap hari, pasien dapat
memakai baju yang sama hingga 2 hari. Pasien menggunakan pakaian
yang longgar dan menyerap keringat
- Rekreasi
Pasien jarang pergi rekreasi.
- Ibadah

22
Sholat 5 waktu di rumah (seorang muslimah)
- Pola membersihkan rumah/ lingkungan
Disapu setiap hari, debu dibersihkan seminggu sekali, bak mandi dikuras
setiap hari, sampah dibuang setiap hari.
- Pola pengobatan (tradisional, puskesmas dll)
Pasien tidak rutin ke puskesmas untuk mengontrol tekanan darah. Hanya
jika ada keluhan saja.
- Pola hubungan sosial
Jarang berkumpul dengan tetangga karena pasien takut membicarakan
orang lain takutnya jadi masalah.
- Pola aktifitas kemasyarakatan: tidak ada
- Pola kunjungan ke posyandu lansia dan posbindu : tidak pernah

Genogram

3
1 2 4

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

16 17 18 19 20 21 22

= Perempuan

= laki-laki

Keterangan:
No Nama Umur Hubungan Status Tinggal Penyakit
dengan perkawina yang
pasien n pernah
atau

23
sedang
diderita
1 - Ayah Menikah - Meninggal
(penyakit
tidak
diketahui)
2 - Ibu Menikah - Meninggal
(penyakit
tidak
diketahui)
3 - Mertua Menikah - Meninggal
laki-laki (penyakit
tidak
diketahui)
4 - Mertua Menikah - Meninggal
perempuan (penyakit
tidak
diketahui)
5 - Saudara Menikah - Meninggal
kandung (penyakit
tidak
diketahui)
6 78 tahun Saudara Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
diderita
7 74 tahun Saudara Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
diderita
8 70 tahun Saudara Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
diderita
9 67 tahun Saudara Menikah Tidak Tidak ada

24
kandung serumah penyakit
yang
diderita
10 Sutipah 64 tahun Pasien Menikah Hipertensi
DM
11 60 tahun Saudara Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
diderita
12 58 tahun Saudara Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
diderita
13 - Saudara Menikah Tidak Meninggal
kandung serumah (penyakit
suami tidak
pasien diketahui)
14 Abu bakar 84 tahun Suami Menikah Serumah OA
pasien
15 76 tahun Saudar Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
suami yang
pasien diderita
16 Yuni Asmar - Anak - - Meninggal
kandung saat usai 2
bulan
17 Evendi 47 tahun Anak Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
didertia
18 Yunaldi 45 tahun Anak Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
didertia
19 Jon 42 tahun Anak Menikah Tidak Tidak ada

25
kandung serumah penyakit
yang
didertia
20 Ita 41 tahun Anak Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
didertia
21 Edi 37 tahun Anak Menikah Tidak Tidak ada
kandung serumah penyakit
yang
didertia
22 Ayu 27 tahun Anak Menikah Serumah Tidak ada
kandung penyakit
yang
didertia

Riwayat perumahan, sanitasi dan lingkungan


- Jenis bangunan :
Permanen
- Lantai rumah :
Keramik dan semen.
- Luas rumah :
12 x 6m2
- Pencahayaan :
Cukup, cahaya matahari yang masuk cukup
- Kebersihan :
Cukup
- Ventilasi :
Cukup, terdapat 8 ventilasi udara diruang tamu pasien, setiap kamar
memiliki ventilasi udara. Ventilasi tidak tertutup, ukuran kurang lebih
80x50 cm
- Jendela :
Cukup, terdapat 8 jendela di ruang tamu pasien, dan 2 jendela di setiap
kamar. Jendela menghadap lansung ke pekanrangan rumah pasien, cahaya

26
matahari bisa masuk dengan baik melalui jendela, jendela tidak ditutupi
oleh tirai, dibersihkan setiap satu minggu sekali, dan sebagian dibuka
setiap pagi agar udara masuk kedalam rumah.
- Dapur :
Ada, cukup bersih
- Jamban keluarga :
Ada, tipe kakus jongkok dibersihkan setiap hari
- Sumber air minum :
PDAM dan galon kemasan.
- Sumber pencemaran air:
Tidak ada . Pembuangan jamban jauh dari sumber air yang digunakan
sehari-hari.
- Pemanfaatan pekarangan :
Tidak ada
- Tempat pembuangan sampah :
Dibuang setiap pagi di tempat pembuangan umum
- Sanitasi lingkungan :
Baik. Sumber air PDAM
- Sumber air mandi :
Air PDAM, di tampung dalam bak tidak tertutup. Bak penampung
dibersihkan setiap hari

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Sakit Sedang
Kesadaran : CMC
Tekanan Darah : 170/90 mmHg
Nadi : 90 x/menit
Nafas : 20 x/menit
Suhu : afebris
BB : 60 Kg
TB : 155 cm

27
IMT : 25,0 Normoweight

a. Status Generalisata
Kulit :
o Warna sawo matang, turgor baik, tidak ada sianosis dan tidak ada
ikterik
Kepala :
o Normocephal, rambut berwarna hitam dan tidak mudah dirontok
Mata :
o Pupil isokor, refleks pupil (+/+), palpebra edema (-/-),konjungtiva
anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga :
o Normotia, nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tarik (-/-), nyeri ketok
proc.mastoideus (-/-)
Hidung :
o Normonasi, deviasi septum (-), sekret (-)
Mulut :
o Bentuk normal, mukosa bibir basah dan merah, gusi tidak
berdarah, tidak sianosis. Tidak terdapat deviasi pada lidah
Leher :
o JVP 5-2 cmH2O, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, deviasi
trakea (-), tidak ada pembesaran KGB
Thorak
o Paru :
Inspeksi : Bentuk dada normal simetris kiri dan kanan
saat statis dan dinamis
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, fremitus taktil
normal kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, rhonki (-/-),
wheeezing (-/-)
o Jantung :
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di linea midclavicula
sinistra RIC V
Perkusi :
Batas kanan : linea sternalis dekstra RIC IV
Batas kiri : Linea midclavicularis sinistra RIC
V

28
Batas atas : Linea sternalis sinistra RIC II
Batas pinggang : Linea parasternalis sinistra RIC III
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni reguler, bising
(-), suara tambahan (-)
Abdomen :
o Inspeksi : bentuk datar, sikatrik (-), distensi (-)
o Palpasi : Nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), pembesaran hepar
dan lien (-), bimanual (-/-), ballotement (-/-), nyeri ketok CVA (-/-)
o Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen
o Auskultasi : Bunyi usus (+)
Anggota gerak :
o Ekstremitas Atas : Akral hangat, sianosis (-/-), Edema (-/-),
kekuatan otot 555/555, tes sensitivitas halus baik
o Ekstremitas bawah : Akral hangat, sianosis (-/-), Edema (-/-),
kekuatan otot 555/555, tes sensitivitas halus baik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gula darah sewaktu : 143 mg/dl

DIAGNOSA KERJA
Hipertensi derajat II

PENATALAKSANAAN
1. Promotif
- Memberikan penyuluhan kepada pasien mengenai :
a. Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya tidak dapat
disembuhkan, akan tetapi dapat dikontrol dengan membiasakan pola
hidup sehat dan mengkonsumsi obat antihipertensi secara teratur sesuai
dengan anjuran dokter.
b. Menjelaskan kepada pasien bahwa pengobatan antihipertensi pada
umumnya untuk seumur hidup. Penghentian pengobatan secara cepat
atau lambat dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah. Dijelaskan

29
kepada pasien masih ada kemungkinan untuk menurunkan dosis obat
antihipertensi atau jumlah obatnya bila patuh terhadap terapi
nonfarmakologis akan tetapi tekanan darah pasien harus dikontrol ketat.
c. Menjelaskan kepada pasien tekanan darah yang harus dicapai adalah
<140/90 mmHg dengan pemberian obat antihipertensi dan modifikasi
gaya hidup mencakup penurunan berat badan, peningkatan konsumsi
sayur dan buah mengurangi konsumsi daram dan olahraga teratur.
d. Menjelaskan kepada pasien bahwa obat anti hipertensi yang
dikonsumsinya merupakan dosis yang aman sehingga tidak perlu takut
bila memakan obat setiap hari.
e. Menjelaskan kepada pasien bahwa hipertensi yang dideritanya
menimbulan gejala sakit kepala, sulit tidur, hingga rasa berat di
tengkuk. Dengan mengkonsumsi obat antihipertensi dan kontrol
tekanan darah teratur, gejala ini dapat hilang dengan sendirinya.
Ditekankan pada pasien bahwa hipertensi adalah penyakit yang
memerlukan kepatuhan dalam berobat dan kontrol teratur karena tidak
dapat disemuhjan dan dpat menimbulkan berbagai macam komplikasi.
f. Menjelaskan kepada pasien bahwa hipertensi yang dideritanya dapat
menyebabkan komplikasi pada bagian tubuhlainnya yakni jantung,
otak, ginjal, pembuluh darah dan mata. Hipertensi dapat menyebabkan
terjadinya pembesaran ruang jantung, nyeri dada hingga gagal jantung.
Pada otak dapat menyebabkan stroke dan di ginjal dapat menyebabkan
kegagalan fungsi ginjal.
g. Menyarankan pasien untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia dan
posbindu agar pasien mendapat informasi lebih banyak dari tenaga
kesehatan dan pemeriksaan berkala terhadap penyakitnya.
h. Menyarankan pasien untuk mengaplikasikan perilaku CERDIK dalam
kehidupan sehari-harinya.

- Memberikan penyuluhan kepada anggota keluarga pasien mengenai:


a. Penyakit hipertensi ini merupakan penyakit yang dapat diturunkan,
sehingga sebaiknya anak-anak pasien waspada terhadap penyakit ini

30
dengan cara menjaga pola hidup sehat dan rutin memeriksakan diri ke
pusat kesehatan untuk mengetahui tekanan darahnya.
b. Memberikan motivasi dan semangat kepad apasien agar tetap menjaga
pola hidup sehat dan ruti berobat dan memeriksakan tekanan darahnya
di puskesmas ataupun pada kegiatan posyandu lansia.
c. Menyarankan agar anak-anak pasien mengikuti kegiatan atau program
puskesmas seperti posbindu agar mendapat penjelasan lebih banyak
serta pemeriksaan berkala terhadap kesehatannya.

2. Preventif
a. Menganjurkan pasien untuk mengkonsumsi buah dan sayur setiap
harinya serta mengurangi konsumsi makanan dengan kandungan lemak
tinggi. Selain itu dianjurkan untuk mengurangi penggunaan garam pada
makanan yang dikonsumsi setiap harinya. Serta mengurangi makanan
yang mengandung banyak gula karena pasien sudah ada riwayat
diabetes melitus sebelumnya
b. Menganjurkan pasien untuk berolahraga selam 30 menit, teratur dan
sangat baik jika dilakukan setiap hari bila sulit membiasakan diri dapat
dimulai minimal 3 kali dalam seminggu.
c. Menganjurkan pasien untuk ikut senam pagi satu kali seminggu yang
diadakan oleh puskesmas
d. Menjelaskan semua anjuran yang diterima pasien kepada anggota
keluarga pasien sehingga dapat membantu mengontrol penyakit pasien.

3. Kuratif
o Amplodipin 2 x 5 mg tablet (p.o)
o Vitamin B complex 3x1 tablet (p.o)

4. Rehabilitatif
Kontrol teratur ke puskesmas untuk cek tekanan darah, cek gula darah dan
penyesuaian dosis dan penambahan obat antihipertensi.

PROGNOSIS

Ad vitam : Bonam

31
Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Bonam

BAB IV
LAMPIRAN

Ruang tamu dan ruang keluarga

32
Kamar tidur pasien

Dapur

33
Kamar Mandi

Kakus dan bak penampung air

34
Kunjungan ke rumah pasien

35
DAFTAR PUSTAKA

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S (Ed). Buku Ajar


Ilmu Penyakit Dalam. Ed. 5, Jakarta : InternaPublishing, 2010.
Weber MA, Schiffrin EL, White WB, Mann S, Lindholm LH, Kenerson JG, et
al. Clinical Practice Guidelines for the Maganement of Hypertension in the
Community. A Statement by the American Society of Hypertension and the
International Society of Hypertension. ASH paper. The Journal of Clinical
Hypertension, 2013.
Canadian Hypertension Education Program. The Canadian Recommendation
for The Management of Hypertension 2014
JNC 8, 2013. The Eight Joint National Committee on Prevention Detection
Evaluation ND Treatment of High Blood Pressure diunduh tanggal 15 Agustus
2016.
Kemenkes RI, 2013, Panduan Praktik Klinis Bagi Dokterdi Fasilitas
Pelaayanan Kesehatan Primer ed 11. Jakarta: Kemenkes RI 236-243.

36