Anda di halaman 1dari 12

MENGAPA AUDIT FORENSIK PERLU DIPERKENALKAN

KEPADA MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI SETARA


STRATA SATU DI INDONESIA ?

DISUSUN OLEH :

Tamara Meilinda Gunawan

01031281419095

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
MENGAPA AUDIT FORENSIK PERLU DIPERKENALKAN KEPADA
MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI SETARA STRATA
SATU DI INDONESIA?

A. LATAR BELAKANG

Kasus-kasus kecurangan yang terjadi di bidang akuntansi keuangan yang


ada di dunia sangatlah banyak. Dimulai dari kasus yang tidak asing lagi seperti
kasus Enron pada tahun 2001 yang mengikutsertakan salah satu Kantor Akuntan
Publik terbesar dan ternama di dunia yaitu Arthur Andersen. Selain itu, kasus
Worldcom, Qwest, dan Adhelpia Communication juga menjadi sederetan kasus
yang sangat menggemparkan dunia dalam bidang akuntansi pada era tahun 2000-
an.

Selain kasus-kasus internasional, Indonesia pun turut menyumbangkan


sederetan kasus-kasus kecurangan dimulai dari kasus kecil hingga kasus besar.
Astuti (2013) menyatakan bahwa terjadi kasus korupsi kecil di tahun 2013 yang
melibatkan mantan rektor UNSYIAH menjadi tersangka kasus korupsi dana
umum beasiswa Universitas Syiah Kuala yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan Belanja Aceh (APBA) tahun 2009-2010 senilai Rp 3,6 miliar.
Sementara itu, salah satu kasus yang besar terjadi pada tahun 1997 yang
melibatkan presiden kedua Indonesia, Bapak Soeharto. Dalam kasus ini, Bapak
Soeharto diduga menggelapkan dana dari tujuh yayasan yang dipimpinya. Pada
masa pemerintahannya, setiap perusahaan diwajibkan untuk menyetor keuntungan
perusahaan sebesar 2% untuk yayasan tersebut. Tetapi, diduga dana ini tidak
semuanya didistribusikan dengan baik sesuai tujuan dari yayasan, melainkan ada
yang digunakan untuk kepentingan pribadi keluarga Bapak Soeharto.

Banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia membuat kredibilitas


dari Akuntan semakin menurun. Lembaga-lembaga yang berwenang untuk
menindaklanjuti kasus-kasus kecurangan ini, seperti Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK), Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), ataupun Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK), semakin membutuhkan lebih banyak investigator untuk
melacak ataupun mencari bukti-bukti terkait kecurangan-kecurangan tersebut.
Dalam hal inilah auditor forensik menjalankan tugasnya.

Auditor forensik berbeda dari auditor konvensional. Auditor konvensional


merupakan auditor yang memberikan opini mengenai kewajaran suatu laporan
keuangan perusahaan dan akan dipertanggungjawabkan kepada publik atas
opininya ini, sedangkan auditor forensik bertugas untuk menyelidiki lebih lanjut
tentang suatu kasus kecurangan (fraud), baik berupa penyalahgunaan aset,
penipuan laporan keuangan, korupsi, ataupun kasus keuangan lainnya yang terkait
hukum. Auditor forensik akan mencari bukti-bukti yang terkait dengan
kecurangan tersebut. Bukti-bukti yang dikumpulkan dapat berupa bukti yang
mendukung dugaan sementara maupun yang tidak mendukung. Misalnya suatu
perusahaan diduga melakukan penipuan laporan keuangan, maka bukti yang
dikumpulkan auditor forensik dapat memiliki dua kemungkinan, yaitu
kemungkinan mendukung dugaan penipuan laporan keuangan tersebut atau tidak
mendukung dugaan tersebut (bertolak belakang dengan dugaan).

Sehubungan dengan keahlian ini, seseorang yang ingin menjadi auditor


forensik harus memiliki sertifikat Certified Fraud Examiners (CFE). Sertifikat ini
akan menunjukkan bahwa auditor tersebut sudah memiliki kemampuan dan
pengalaman dalam audit forensik. Untuk mendapatkan CFE, calon auditor harus
memenuhi persyaratan profesional, karakter dan akademis yang telah ditentukan
dalam standar-standar yang dibuat oleh Association of Certified Fraud Examiners
(ACFE). Persyaratan profesional lebih merujuk pada pengalaman calon auditor
forensik sekurang-kurangnya 3 tahun dalam salah satu atau lebih bidang seperti
audit, pencegahan atau pendeteksian fraud, atau penyelidikan dan penyidikan
tindak korupsi. Syarat karakter dapat dilihat dari kepribadian calon auditor
tersebut, seperti kegigihan, positive thinking, rasa ingin tau yang tinggi, teliti,
percaya diri, dan lain-lain. Sementara itu, syarat akademis lebih merujuk pada
pemahaman dan pengetahuan, pendidikan terakhir dan pelatihan-pelatihan yang
telah diikuti oleh calon auditor forensik.

Dari ketiga persyaratan di atas, persyaratan akademis dan karakter sangat


penting bagi calon auditor forensik untuk dirintis sejak di bangku perkuliahan
setara strata satu. Auditor forensik harus memahami secara baik konsep akuntansi
dan audit (terutama audit forensik) agar tidak salah dalam mengaudit. Pemahaman
ini harus mulai diasah sejak calon auditor forensik masih menjadi mahasiswa
setara strata satu karena dengan memulainya lebih awal, proses pembentukan
seorang auditor forensik bisa lebih cepat.

Namun, permasalahannya adalah belum banyak universitas di Indonesia


yang memasukkan bidang audit forensik dalam kurikulum perkuliahan setara
strata satu. Akibatnya, banyak mahasiswa yang belum mengetahui tentang adanya
spesialisasi bidang akuntansi seperti audit forensik ini. Kebanyakan mahasiswa
hanya mengetahui tentang spesialisasi bidang akuntansi keuangan, akuntansi
pemeriksaan (audit), akuntansi manajemen, akuntansi perpajakan, dan lain-lain.
Hal ini sebenarnya juga didorong dengan kurangnya penerapan audit forensik di
Indonesia untuk mengungkap kasus-kasus kecurangan. Imagama (2014)
menyatakan bahwa

Dari segi peminat, menurut Ketua Umum Ikatan Akuntan Indonesia


(IAI) Ahmadi (dalam wawancara 5 maret 2013 untuk
hukumonline.com), masih jarang akuntan Indonesia yang mendalami
bidang yang satu ini. Tak semua kantor akuntan publik membidangi
forensik. Yang perlu disayangkan, asosiasi profesi akuntan ini belum
melirik forensik sebagai bagian penting dari akuntansi. Dia belum
melihat ini sebagai isu yang mendesak untuk diberi perhatian khusus.

Karena kurangnya perhatian pada bidang audit forensik dalam pendidikan


mahasiswa setara strata satu, dalam makalah ini penulis berkeinginan untuk
memberikan informasi mengenai Mengapa audit forensik perlu diperkenalkan
pada mahasiswa akuntansi setara strata satu di indonesia?
B. PEMBAHASAN
Mahasiswa merupakan generasi muda yang akan meneruskan kehidupan
Bangsa Indonesia. Mahasiswa sangat berperan penting dalam pengelolaan,
pembangunan, dan perubahan menuju negara yang lebih baik. Salah satu fungsi
dari mahasiswa adalah agent of change, yang berarti agen dari perubahan.
Mahasiswa dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik dengan menerapkan
ilmu, keahlian, dan karakter yang dimilikinya.
Banyaknya kasus-kasus kecurangan, terutama kasus korupsi di Indonesia,
mendesak mahasiswa sebagai generasi penerus untuk mampu memberantas kasus-
kasus ini di masa mendatang. Karena itu, lembaga pendidikan harus mampu
membekali ilmu-ilmu, softskills, dan pembentukan karakter kepada mahasiswa
sedini mungkin. Salah satunya adalah dengan memperkenalkan dan memberikan
pemahaman mengenai audit forensik.
Menurut Wiratmaja dalam Astuti (2013), audit forensik merupakan suatu
pengujian mengenai bukti atas suatu pernyataan atau pengungkapan informasi
keuangan untuk menentukan keterkaitannya dengan ukuran-ukuran standar yang
memadai untuk kebutuhan pembuktian di pengadilan. Dari pengertian ini sudah
jelas bahwa tugas utama dari seorang auditor forensik adalah mencari bukti-bukti
terkait kasus kecurangan yang perlu ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.
Namun, bukti-bukti ini hanyalah hal yang mendukung proses hukum di
pengadilan, sedangkan yang menentukan apakah terdakwa terbukti bersalah atau
tidak, tetap menjadi hak dari aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum juga
dapat menentukan apakah akan menggunakan bukti-bukti tersebut atau tidak.

Untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik, seorang auditor forensik


harus memiliki kecakapan yang memadai. Kecakapan ini akan terbentuk lebih
baik dan lebih cepat jika auditor forensik tersebut mempelajari ataupun sekedar
mengenali bidang audit forensik sejak di bangku perkuliahan setara strata satu.
Namun sayangnya, jumlah universitas yang telah memasukkan mata kuliah audit
forensik dalam akuntansi belum terlalu banyak. Contohnya adalah Universitas
Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Islam
Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri Jakarta, Universitas Trisakti Jakarta,
Universitas Negeri Semarang, Universitas Padjajaran (UNPAD), dan IAIN
Sumatera Utara. UGM dan UNDIP memasukkan audit forensik pada tingkat strata
dua, sedangkan universitas lainnya telah memasukkan audit forensik pada tingkat
strata satu dan khusus IAIN Sumatera Utara telah menjadikan audit forensik
sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswa strata satu. Universitas Islam Indonesia
juga telah memberikan fokus yang cukup besar pada audit forensik. Hal ini
terlihat dari seringnya UII mengadakan seminar terkait audit forensik untuk
memunculkan pemikiran-pemikiran kritis terkait dengan pengembangan ilmu
audit forensik di Indonesia dan juga menjadi bagian dari upaya untuk
mewujudkan Indonesia bebas dari tindak kecurangan. Pada kompetisi akuntansi
tingkat mahasiswa yang diadakan oleh UII tahun 2016 lalu, yaitu Battle and Lead
in Accounting Competition, UII juga memasukkan materi audit forensik pada saat
seminar nasionalnya.

Jika dilihat dari porsinya, jumlah universitas yang memberikan perhatian


pada audit forensik masih terbilang sangat sedikit jika dibandingkan universitas di
luar negeri, terutama Amerika Serikat. Mulyanti (2012) menyatakan bahwa dalam
penelitian yang dilakukan oleh Buckoff dan Schrader, perguruan tinggi yang ada
di Amerika Serikat rata-rata telah menyepakati dan memberikan perhatian pada
audit forensik dengan menyelenggarakan mata kuliah audit forensik. Selain itu,
dalam jurnal yang ditulis oleh Seda dan Kramer (2008) menunjukkan bahwa rata-
rata universitas di Amerika memberikan pelajaran audit forensik melalui program
studi S1, master degree, ataupun melalui kursus yang bersertifikat. Ditambah lagi
dengan adanya program pendukung dari ACFE (Associtation of Certified Fraud
Examiners) yang memfasilitasi dosen dengan materi yang bisa membantu
pengembangan program audit forensik. Sekarang, sudah lebih dari 400 universitas
terdaftar di ACFE yang akan mengikuti program antifraud education
partnership.
Melihat pentingnya program audit forensik ini, universitas di Indonesia
sebaiknya segera memberikan fokus pada audit forensik. Untuk mendukung
pernyataan ini, berikut akan dijelaskan beberapa poin tentang alasan penting
mengapa audit forensik perlu diperkenalkan kepada mahasiswa Jurusan Akuntansi
setara strata satu di Indonesia.
1. Memunculkan minat mahasiswa pada audit forensik sejak dini
Mulyanti (2012) menyatakan bahwa ada sebuah pengamatan
sampel dari Rezaee yang terdiri dari mahasiswa jurusan Akuntansi. Hasil
yang diperoleh menunjukkan para mahasiswa percaya bahwa audit
forensik merupakan sebuah pilihan karir yang layak bagi mereka, namun
masalahnya ialah bahwa bidang ini belum mendapatkan perhatian yang
serius dari pihak perguruan tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya sosialisasi audit forensik
dari perguruan tinggi menyebabkan mahasiswa menjadi ragu dan kurang
tertarik pada audit forensik. Ditambah lagi dengan ketidaktahuan dan
kekurangan informasi (lack of information) mengenai audit forensik juga
menyebabkan jumlah peminat dari salah satu bidang akuntansi ini (audit
forensik) menjadi tidak sesuai jika dibandingkan dengan banyaknya kasus
yang terjadi di Indonesia.
Jika perguruan tinggi dapat memperkenalkan dan memberikan
pemahaman kepada mahasiswa mengenai bidang audit forensik, maka
kemungkinan peminat dari bidang ini dapat lebih meningkat karena paling
tidak mahasiswa yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan mahasiswa
itu dapat dengan sendirinya menilai apakah ia tertarik dengan bidang
tersebut atau tidak. Namun, jika perguruan tinggi tidak memperkenalkan
tentang audit forensik, maka mahasiswa yang tidak gemar membaca,
mencari tahu, dan searching mengenai hal-hal baru tidak akan mengetahui
tentang adanya bidang audit forensik, kecuali jika ada ketidaksengajaan
informasi. Hal inilah yang dapat mengurangi peminat dari audit forensik.
Padahal kurangnya peminat ini bukan semuanya karena mahasiswa tidak
tertarik, tetapi karena ada mahasiswa yang tidak mengetahui tentang
keberadaan spesialisasi bidang audit forensik.
Penulis juga sempat mengadakan tanya jawab singkat dengan
beberapa mahasiswa semester enam Jurusan Akuntansi yang ada di
Universitas Sriwijaya, Palembang. Hasilnya menunjukkan, dari 35 orang
mahasiswa semester enam, 57,1 % mahasiswa tidak mengetahui tentang
bidang audit forensik, 22,86% mahasiswa mengetahui tentang adanya
bidang audit forensik dari mata kuliah Seminar Akuntansi, dan sisanya
20,04% mahasiswa tahu mengenai bidang audit forensik dari luar
akademik (seperti informasi dari televisi, saudara, ataupun karena sempat
terbaca mengenai bidang tersebut).
Dari hasil di atas, dapat dilihat bahwa lebih dari 50% responden
tidak mengetahui tentang adanya bidang audit forensik. Ketidaktahuan
inilah yang cenderung membuat peminat audit forensik tidak terlalu
banyak. Jika terus menerus dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan
peningkatan minat terhadap audit forensik menjadi lebih sulit.

2. Membantu mengembangkan pertumbuhan generasi auditor forensik


Salah satu badan yang bergerak di bidang anti-fraud adalah BPK
(Badan Pemeriksa Keuangan) yang resmi dibentuk pemerintah untuk
mendorong terwujudnya Good Governance yang akuntabel dan transparan.
BPK diberi kewenangan untuk memeriksa keuangan negara sewaktu-
waktu. Apabila hasil audit mengindikasikan adanya fraud, maka BPK akan
melanjutkan audit tersebut dengan audit forensik. BPK memiliki auditor
handal untuk menangani kasus fraud, namun jumlahnya masih belum
sesuai dengan jumlah kasus yang ditangani BPK (Tias, tt.).
Dari pernyataan di atas, terlihat bahwa Indonesia sedang
membutuhkan lebih banyak auditor forensik. Salah satu cara agar generasi
auditor forensik dapat terus tumbuh adalah dengan memperkenalkan
bidang audit forensik pada mahasiswa setara strata satu. Dengan
memperkenalkan bidang ini sejak di bangku perkuliahan setara strata satu,
maka minat mahasiswa dapat lebih meningkat. Akibatnya, kemungkinan
munculnya auditor forensik baru akan semakin meningkat juga. Selain itu,
mahasiswa yang memiliki peran sebagai iron stock, yaitu untuk meregerasi
pemimpin negara, juga harus terus diberikan pemahaman mengenai audit
forensik karena jika tidak, regenerasi auditor forensik dapat menurun.

3. Membantu mengurangi jumlah kasus kecurangan


Sebelumnya telah dijelaskan, jika minat mahasiswa meningkat,
hal tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan auditor forensik juga.
Dengan kata lain, auditor forensik yang baru akan menjadi lebih banyak.
Hal ini akan membantu lembaga yang bergerak di bidang anti-fraud untuk
memperkuat strukturalnya. Tias ( Tt ) mengutip pendapat Shleifer and
Vishny yang mengatakan bahwa some types of corruption are products of
organizational structures and they are more difficult for eradication.
Dengan adanya struktur organisasi atau lembaga yang kuat, tindak
kecurangan dapat diminimalisir. Struktur yang kuat dan diperbaiki dapat
mempersulit masyarakat dan oknum lainnya untuk melakukan korupsi
ataupun melakukan tindakan illegal lainnya. Pendidikan yang baik pada
mahasiswa juga akan menjadikan proses pencegahan dan penegakan
hukum lebih mudah dilakukan karena sumber daya manusia yang tersedia
sudah dibekali karakter dan pengetahuan yang kuat.
Dalam hal ini mahasiswa berperan sebagai problem solver di
masyarakat. Dengan memperkenalkan audit forensik lebih awal pada
perkuliahan S1, maka kualitas auditor forensik yang dihasilkan akan lebih
reliable dibandingkan jika mahasiswa tersebut baru mengenal audit
forensik pada tingkat lebih tinggi seperti strata dua. Bidang audit forensik
ini dapat menyediakan wadah bagi mahasiswa Jurusan Akuntansi untuk
lebih mendalami dan mengkritisi sebuah permasalahan, serta
menyelesaikannya berdasarkan pemikiran mereka sendiri. Dengan
demikian, kemampuan pemecahan masalah atau kasus dari auditor
forensik akan lebih meningkat, sehingga kasus-kasus kecurangan dapat
lebih cepat diselesaikan.

4. Audit forensik merupakan bidang akuntansi yang memberikan prospek


pekerjaan yang sangat baik.
Imagama (2014) menyatakan bahwa menurut The U.S. News and
World Report, audit forensik berada di urutan teratas daftar karir dengan
masa depan paling cerah. US News and World Report mengidentifikasi
audit forensik sebagai salah satu dari 20 trek hot occupation di masa
depan.
Audit forensik adalah bidang baru yang menawarkan kesempatan
karir yang baik di Indonesia, sehingga mahasiswa harus cerdas dalam
menggunakan kesempatan ini. Terdapat permintaan yang besar terhadap
auditor forensik di berbagai sektor, baik di sektor swasta maupun
pemerintahan. Kasus-kasus kecurangan yang terus meningkat, telah
memberikan prospek yang tinggi pada bidang audit forensik. Untuk dapat
mengungkap pelaku (wrongdoers), motif dan cara pelaku fraud dalam
melakukan aksinya diperlukan seseorang yang profesional. Orang yang
profesional dalam hal ini adalah orang yang ahli di bidang audit forensik.
Namun tidak semua perguruan tinggi di Indonesia memasukan audit
forensik dalam kurikulum akuntansi. Hal ini menjadi salah satu penyebab
kurang diminatinya akuntan forensik. Padahal audit forensik memiliki
prospek masa depan yang sangat baik.
Dilansir dari majalah Tempo online ( Tempo.co ) tahun 2013 lalu,
Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengatakan
bahwa hingga tahun 2013 lalu telah ada 130 auditor yang bersertifikat
CFE (Certified Fraud Examination) dan BPKP menargetkan untuk
menambah jumlah ini menjadi 180 orang. Sementara itu, kasus
kecurangan yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kasus korupsi.
Liputan6.com menyatakan bahwa Kasus korupsi yang telah diputus oleh
Mahkamah Agung (MA) dari 2014-2015 sebanyak 803 kasus. Jumlah ini
meningkat jauh dibanding tahun sebelumnya.
Dari berita di atas, dapat kita lihat bahwa jumlah auditor forensik
di Indonesia masih terbilang sedikit dibandingkan dengan kasus yang
bermunculan setiap tahunnya. Jumlah kasus tersebut hanya dilihat dari
kasus korupsi saja, tidak termasuk kasus-kasus kecurangan lainnya.
Sementara itu, dalam menangani suatu kasus, lembaga-lembaga anti-fraud
seperti BPK, KPK, BPKP, dan lain-lain tidak hanya membutuhkan satu
orang auditor forensik, bisa saja dua orang atau lebih yang dibutuhkan
dalam memecahkan suatu kasus. Oleh karena itu, audit forensik dapat
memberikan prospek pekerjaan yang sangat tinggi bagi mahasiswa.

C. KESIMPULAN
Audit forensik perlu diperkenalkan kepada mahasiswa Jurusan Akuntansi
setara strata satu di Indonesia karena beberapa hal berikut.
1. Memunculkan minat mahasiswa pada audit forensik sejak dini. Dengan
memperkenalkan audit forensik pada mahasiswa Jurusan Akuntansi setara
strata satu, menyebabkan mahasiswa mengetahui lebih cepat tentang
keberadaan bidang audit forensik, sehingga dapat memunculkan minat
mahasiswa terhadap audit forensik lebih awal.
2. Membantu mengembangkan pertumbuhan generasi auditor forensik.
Dengan meningkatnya minat mahasiswa pada bidang audit forensik, akan
semakin banyak mahasiswa yang mendalami bidang audit forensik ini,
sehingga dapat membantu meningkatkan pertumbuhan generasi auditor
forensik.
3. Membantu mengurangi jumlah kasus kecurangan. Jika jumlah auditor
forensik meningkat, maka kasus-kasus kecurangan dapat cepat terselesaikan
dan tidak menutup kemungkinan dapat memberikan efek jera pada oknum-
oknum yang terlibat, sehingga kasus kecurangan dapat berkurang.
4. Audit forensik merupakan bidang akuntansi yang memberikan prospek
pekerjaan yang sangat baik. Melihat banyaknya kasus-kasus kecurangan
yang ada di Indonesia dan terus menerus meningkat setiap tahun, maka
audit forensik dapat menjadi salah satu karir yang menjanjikan di masa
depan bagi mahasiswa.
REFERENSI

Ardianingsih, Arum. ( 2013 ). Investigasi Fraud Corporate Dengan Teknik Audit.


Prosiding Seminar Nasional Audit Forensik, http://digilib.unikal.ac.id/repository/
Arum_SEMNASAUDITFORENSIK13.pdf, diakses pada 29 Januari 2017.

Astuti, Ni Putu Sri. ( 2013 ). Peran Audit Forensik dalam Upaya Pemberantasan Korupsi di
Indonesia. E-Journal UNESA, ejournal.unesa.ac.id/article/9125/57/article.pdf, diakses
pada 29 Januari 2017.

Ayuningtyas, Rita. ( 2016 ). Kasus Korupsi di Indonesia Menggila. http://news.liputan6.


com/ read/2477341/kasus-korupsi-di-indonesia-menggila, diakses pada 31 Januari
2017.

Decker, Fred. ( Tt. ). What is a Forensic Auditor ?. http://work.chron.com/forensic-auditor-


4301.html, diakses pada 29 Januari 2017.

Fenaro. ( 2013 ). Audit Forensik Membedah Fraud Dan Litigasi. http://akuntansi.fenaro.


narotama.ac.id/2013/04/audit-forensik-membedah-fraud-dan-litigasi/, diakses pada 31
Januari 2017.

Imagama. ( 2014 ). Akuntansi Forensik. http://imagama.feb.ugm.ac.id/akuntansi-forensik/,


diakses pada 29 Januari 2017.
Indriyani, Poppy. ( Tt. ). Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Penerapan Mata Kuliah
Audit Forensik di Dalam Kurikulum Perguruan Tinggi di Kota Palembang. Jurnal,
digilib.binadarma.ac.id/download.php?id=1270, diakses pada 30 Januari 2017.
Lashkari, Hardik. ( 2015 ). Aspects of Forensic Audit. https://www.linkedin.com/pulse/
aspects-forensic-audit-hardik-lashkari, diakses pada 31 Januari 2017
Mulyanti, Evi. ( 2012 ). Persepsi Akademisi Usu Terhadap Adanya Akuntansi Forensik.
Skripsi. http://text-id.123dok.com/document/oz1k38y9-persepsi-akademisi-usu-
terhadap-adanya-akuntansi-forensik.html, diakses pada tanggal 29 Januari 2017.
Seda, Mike dan Bonita K. Peterson Kramer. ( 2008 ). The Emergence of Forensic
Accounting Programs in Higher Education. Management Accounting Quarterly, Vol. 9
No. 3, https://www.imanet.org/-/media/405e76362e6947c7a656d855a83d6fe1.ashx,
diakses tanggal 31 Januari 2017.

Tempo.co. ( 2013 ). BPKP Targetkan 50 Auditor Forensik Baru. https://m.tempo.co/read/


news/2013/04/11/087472658/bpkp-targetkan-50-auditor-forensik-baru, diakses pada
tanggal 31 Januari 2017.

Tias, Fauziah Wahyuning. ( Tt ). Perlukah Mahasiswa Strata Satu Akuntansi Di Indonesia


Memiliki Persepsi Audit Forensik?. E-Journal UNESA, ejournal.unesa.ac.id/article /
549/57/ article.pdf, diakses pada 29 Januari 2017.