Anda di halaman 1dari 65

KONSTRUKSI

SALURAN TRANSMISI

LT 2D
2016
AFIF ANUGRAH A BAYU BASKORO HELMI SUKMA A SURYA HANDIKA
04 07 09 20
Faktor Yang Perlu Diperhatiakan

Pemilihan jenis konstruksi harus ekonomis


dengan memperhatikan faktor-faktor :
Pentingnya saluran
Lintasan penyaluran
Pengangkutan serta keadaan cuaca
(terutama bila cuaca buruk sering terjadi)
Jenis Konstruksi
Menara
Baja
Kelebihan:
Biasanya digunakan pada saluran-saluran terpenting di atas 66
kV.
Baik sekali terutama karena dapat diandalkan pada beban-
beban yang gawat (penampang kawat besar, tarikan besar,
angin kencang, gawang lebar).
Memungkinkan penggunaan menara-menara yang lebih tinggi
daripada normal untuk keperluan-keperluan tertentu.
Daya tahannya biasanya 45 tahun.
Kekurangan:
Biaya relatif mahal
Butuh area yang luas
Jenis Konstruksi
Tiang Baja

Kelebihan:
Di Jepang tiang baja digunakan untuk saluran transmisi sampai
77 kV dengan gawang kurang dari 150 m
Dipakai bila diinginkan masa-tahan yang lebih lama atau bila
situasi pengangkutan sulit.
Di Eropa dan Amerika Serikat tiang baja bertali (guyed) kadang-
kadang dipakai pada saluran tegangan tinggi bila tekanan
angin tidak kencang, jalan (route) saluran mudah dan lurus
Perawatannya mudah.
Kekurangan:
Tiang baja lebih rendah kekuatannya dibandingkan dengan
menara baja, sehingga digunakan bila beban mekanis tidak
besar.
Jenis Konstruksi
Tiang Beton
Bertulang

Kelebihan:
Daya tahannya yang boleh dikatakan permanen.
Kelemahan:
Karena luar biasa beratnya, ia hanya dapat dipakai
pada saluran-saluran yang mudah dicapai dengan
kendaraan.
Jenis Konstruksi
Tiang Kayu

Kelebihan:
Mudah untuk dibuat
Murah
Kelemahan:
Tidak sekokoh konstruksi baja dan beton
Daya tahan singkat
Macam Beban Konstruksi
Perencanaan konstruksi didasarkan atas beban tertentu. Di Jepang ketentuan
tentang hal ini diatur dalam standar-standar. Untuk menara baja dikenal klasifikasi
berikut :
Menara singgung (Jenis A)
Dipasang menurut garis lurus, dengan bagian yang bersudut mendatar kecil
(biasanya 3 untuk gawang standar).
Menara sudut (Jenis B dan C)
Dipasang dengan sudut mendatar tertentu; Jenis B sudutnya 200 dan jenis C
sudutnya 30o.
Menara ujung (Jenis D)
Dipasang pada ujung (dead end) semua kawat penghantar dan kawat
tanah, sehingga perlu memiliki ketahanan yang besar.
Menara penegang (tension towers)
Digunakan sebagai penguat (reinforcement) di beberapa tempat pada
saluran, yaitu bila pada menara singgung terjadi tarikan yang tidak seimbang
karena perbedaan lebar gawang yang bersampingan.
Menara khusus
Digunakan pada penyeberangan sungai atau lembah atau bila dipandang
perlu.
Bagian Bagian Saluran
Transmisi
1. Tiang Transmisi dan Menara

Suatu menara dan tower listrik harus kuat terhadap beban


yang bekerja padanya, antara lain yaitu :

Gaya berat tower dan kawat penghantar (gaya tekan).


Gaya tarik akibat rentangan kawat.
Gaya angin akibat terpaan angin pada kawat maupun
badan tower.
A = travers kawat tanah
B, C, D = travers kawat phasa
E = rangka tiang
F, G, H = penguat rangka tiang
I = pondasi
Bagian Bagian Saluran
Transmisi
2. Isolator
Bagian utama dari suatu isolator terdiri dari bahan
dielektrik, jepitan logam dan tonggak logam.dilihat
dari konstruksinya isolator terdiri dari isolator
pendukung dan isolator gantung. Isolator
pendukung terdiri dari 3 jenis yaitu isolator pin,
isolator post, dan isolator pin-post.
Parameter Isolator
Isolator itu sendiri memiliki parameter tersendiri yang digunakan untuk
mengkategorikan isolator, yaitu :

Jarak minimum antara sirip (ds)


Perbandingan antara jarak spasi sirip (ss) dengan rentangan sirip (rs)
Perbandingan antara jarak rambat dengan jarak bebas
Perbedaan antara dua jarak rentangan sirip berurutan
Kemiringan sirip
Bagian Bagian Saluran
Transmisi
3. Kawat Penghantar Untuk Saluran Transmisi Udara
Kawat penghantar berfungsi untuk mengalirkan arus
listrik dari suatu tempat ke tempat yang lain. Jenis
kawat penghantar yang biasa digunakan pada
saluran transmisi adalah tembaga dengan
konduktivitas 100 % (CU 100 %), atau aluminium
dengan konduktivitas 61 % (AL 61 %).
Klasifikasi Kawat Menurut Konstruksinya

1. Kawat padat (solid wire) adalah kawat tunggal


yang padat (tidak berongga) dan
berpenampang buat ; jenis ini hanya dipakai
untuk penampang-penampang yang kecil,
karena penghantar-penghantar yang
berpenampang besar sukar ditangani serta
kurang flexible.
Apabila diperlukan penampang yang besar,
maka dipergunakan 7 sampai 61 kawat padat
yang dililit menjadi satu, biasanya secara berlapis
dan konsentris. Tiap-tiap kawat padat merupakan
kawat komponen dari kawat berlilit tadi.
2. Kawat rongga (hollow Conductor) adalah kawat berongga
yang dibuat untuk mendapatkan garis tengah luar yang besar.
Ada dua jenis kawat rongga :
(a) yang rongganya dibuat oleh kawat lilit yang ditunjang oleh
sebuah batang, dan
(b) yang rongganya dibuat oleh kawat-kawat komponen yang
membentuk segmen-segmen sebuah silinder.

3. Kawat berkas terdiri dari dua kawat atau lebih pada satu
fasa, yang masing-masing terpisah dengan jarak tertentu. Kawat
berkas mempunyai kelebihan disbandingkan dengan kawat
padat karena mengurangi gejala korona, mempunyai kapasitas
yang lebih besar dan reaktansi yang lebih kecil.
Klasifikasi Kawat Menurut
Bahannya
1. Kawat logam campuran (alloy) adalah
penghantar dari tembaga atau aluminium yang
diberi campuran dalam jumlah tertentu dari logam
jenis ain guna menaikkan kekutan mekanisnya. Yang
sering digunakan adalah copper alloy, tetapi
aluminium alloy juga lazim dipakai
Apabila kawat-kawat komponen itu sama garis tengahnya
maka persamaan-persamaan berikut berlaku :

N = Jumlah kawat komponen


n = Jumlah lapisan kawat komponen
N = 3n ( 1 + n ) + 1
D = Garis tengah luar dari kawat berlilit
D = d ( 1 + 2n ) d = Garis tengah kawat komponen
A = an A = luas penampang kawat berlilit
W = wN ( 1 + k1 ) W = berat kawat berlilit
R = ( 1 + k2 ) r/N w = Berat kawat komponen per satuan panjang
k1 = perbandingan berat terhadap lapisan
R = Tahanan kawat berlilit
r = tahanan kawat komponen per satuan panjang
k2 = Perbandingan tahanan terhadap lapisan
2. Kawat logam campuran (alloy) adalah penghantar dari
tembaga atau aluminium yang diberi campuran dalam jumlah
tertentu dari logam jenis lain guna menaikkan kekuatan
mekanisnya. Yang sering digunakan adalah copper alloy,
aluminium alloy juga sering dipakai.

3. Kawat logam paduan (composite) adalah penghantar yang


terbuat dari dua jenis logam atau lebih yang dipadukan dengan
cara kompressi, peleburan atau pengelasan. Dengan cara
demikian maka dikenal kawat baja berlapis tembaga atau
aluminium.
Daftar kawat yang
dipergunakan untuk saluran
transmisi
Kawat Tanah

Kawat Tanah (Earth wire/ ground wire/ kawat


petir ) adalah suatu pengaman dari sistem
tenaga listrik khususnya pada sistem transmisi
yaitu dengan melindungi kawat penghantar atau
kawat fasa terhadap sambaran petir.
Pemasangan kawat tanah pada saluran transmisi
ditujukan untuk melindungi kawat penghantar
dari tegangan lebih luar (External over voltage),
kawat tanah tersebut menangkap kilat dan
menghantarkan arus kilat melalui kaki-kaki tower
langsung ke tanah.
Jumlah dan posisi Kawat
Tanah
Jumlah Kawat Tanah setidaknya ada satu buah diatas
kawat fasa, namun umumnya di setiap tower dipasang dua
buah. Pemasangan yang hanya satu buah untuk dua
penghantar akan membuat sudut perlindungan menjadi
besar sehingga kawat fasa mudah tersambar petir. Jarak
antara ground wire dengan kawat fasa di tower
adalahsebesar jarak antar kawat fasa, namun pada
daerah tengah gawangan dapat mencapai 120% dari
jarak tersebut.
Overhead grounding wire

Salah satu cara yang paling mudah untuk melindungi saluran tenaga
listrik adalah dengan menggunakan kawat tanah (overhead
groundwire) pada saluran. Prinsip dari pemakaian kawat tanah ini
adalah bahwa kawat tanah akan menjadi sasaran sambaran petir
sehingga melindungi kawat phasa dengan daerah/zona tertentu.

Overhead groundwire yang digunakan untuk melindungi saluran


tenaga listrik, diletakkan pada ujung teratas saluran dan terbentang
sejajar dengan kawat phasa. Groundwire ini dapat ditanahkan secara
langsung atau secara tidak langsung dengan menggunakan sela
yang pendek.
Daerah Proteksi
Satu Groundwire
Misalkan groundwire diletakkan setinggi h meter dari tanah.

Titik b ditentukan sebesar 2/3 h.

Zona proteksi groundwire terletak di dalam daerah yang diarsir. Di


dalam zona tersebut, diharapkan tidak terjadi sambaran petir langsung
sehingga di daerah tersebut pula kawat phasa dibentangkan.

Apabila hx merupakan tinggi kawat phasa yang harus dilindungi, maka


lebar bx dapat ditentukan dalam 2 kondisi, yaitu :

Untuk hx > 2/3 h , bx = 0,6 h (1 hx/h)

Untuk hx < 2/3 h , bx = 1,2 h (1 hx/0,8h)

Jika sebuah groundwire dirasa belum cukup untuk memproteksi kawat


phasa sepenuhnya. Untuk meningkatkan performa dalam perlindungan
terhadap sambaran petir langsung, dapat digunakan lebih dari
satu groundwire.
Proteksi Dua Groundwire
Bila digunakan 2 buah groundwire dengan tinggi h dari tanah dan
terpisah sejauh s, perhitungan untuk menetapkan zona proteksi petir
dilakukan seperti halnya menggunakan 1 buah groundwire

Apabila ho menyatakan tinggi titik dari


tanah di tengah-tengah
2 groundwire yang terlindungi dari
sambaran petir, maka ho dapat
ditentukan : ho = h - s/4
Sedangkan daerah antara
2 groundwire dibatasi oleh busur lingkaran
dengan jari-jari 5/4 s dengan titik pusat
terletak pada sumbu di tengah-tengah
2 groundwire.
Zona perlindungan groundwire dapat dinyatakan dengan
parameter sudut perlindungan, yaitu sudut antara garis
vertikal groundwire dengan garis hubung
antara groundwire dan kawat phasa. Jika sudut perlindungan
tersebut dinyatakan dalam a dan tinggi groundwire adalah h,
maka probabilitas sambaran petir pada groundwire (p) dapat
ditentukan sebagai berikut :

log p =
-4
Dari persamaan tersebut, terlihat bahwa makin
tinggi groundwire dan sudut perlindungan yang besar,
akan mengakibatkan probabilitas tersebut meningkat.
Untuk itu diperlukan pemilihan tinggi groundwire dan
sudut perlindungan yang tepat untuk mendapatkan
performa perlindungan yang baik dari sambaran petir.
?

Untuk daerah yang tingginya lebih dari 200m dari


permukaan laut, dianjurkan untuk menambah h diatas
dengan 10 %.
JUMPER KAWAT TANAH

Ujung bagian atas kawat ini dihubungkan langsung dengan kawat


tanah menggunakan klem jembatan atau dihubungkan dengan
batang penangkap petir yang dipasang di atas tiang. Sedangkan
ujung bagian bawahnya dihubungkan dengan pentanahan tiang.
Dengan pemasangan kawat penghubung diharapkan tidak terjadi
arus balik yang nilainya lebih besar daripada arus sambaran petir yang
sesungguhnya, sehingga gangguan pada transmisi dapat berkurang.
Pentanahan Transmisi

Yang dimaksud pentanahan menara transmisi ialah


penambahan suatu alat pentanah / elektroda
pentanah, untuk menurunkan tahanan kaki menara.

Pentanahan menara transmisi ini dilakukan apabila


tahanan kaki menara masih dianggap terlalu tinggi,
atau melebihi batas yang diperbolehkan.

Pada saluran transmisi di Indonesia tahanan kaki


menara yang diperbolehkan maksimum adalah 10
ohm.
Untuk menentukan berapakah batas maksimum tahanan
kaki menara yang diperbolehkan agar tidak terjadi
flashover, LV Dewley memberikan suatu hubungan sbb :

V
Rf = ohm
I s 1 k

Rf tahanan kaki menara


V batas tegangan flashover dari gandengan isolator yang
digunakan (impulee flashover level)
I - arus kilat maksimum pada menara
k faktor kopling antara kawat tanah dan kawat fasa
(konduktor)
Is berkisar antara 160 220 KA, tetapi dalam
perencanaannya biasanya digunakan besaran antara 60 -
100 KA.
ANDONGAN
ANDONGAN (SAG) MERUPAKAN JARAK LENTURAN DARI SUATU BENTANGAN
KAWAT PENGHANTAR ANTARA DUA TIANG PENYANGGA JARINGAN ATAU
LEBIH, YANG DIPERHITUNGKAN BERDASARKAN GARIS LURUS (HORIZONTAL)
KEDUA TIANG TERSEBUT. BESARNYA LENTURAN KAWAT PENGHANTAR
TERSEBUT TERGANTUNG PADA BERAT DAN PANJANG KAWAT PENGHANTAR
ATAU PANJANG GAWANG (SPAN). BERAT KAWAT AKAN MENIMBULKAN
TEGANGAN TERIK PADA KAWAT PENGHANTAR, YANG AKAN
MEMPENGARUHI BESARNYA ANDONGAN TERSEBUT.
Penghantar Ditunjang
oleh Tiang yang sama
Tingginya

T = tegangan menndatar dari penghantar (kg)


W = berat penghantar per satuan panjang (kg/m)
l = Panjang penghantar sebenarnya dari titik
terendah sampai titik dengan koordinat (x,y)
(m)
d = andongan (sag) pada titik (x,y) (m)
Jarak vertikal antara kawat tanah dan
kawat fasa diperoleh dengan
memisahkan lengkung kawat itu
memenuhi persamaan berikut :
Keterangan
y = tinggi kawat tanah diatas tanah, (m)
y = tinggi kawat fasa diatas tanah, (m)
do = andongan maksimum kawat tanah,(m)
do= andongan maksimum kawat fasa, (m)
b = jarak vertikal antara kawat fasa dan kawat
tanah, (m)
bm = jarak vertikal antara kawat tanag dan kawat
fasa ditengah-tengah gawang, (m)
bq = jarak vertikal antara kawat tanah dan kawat
fasa diseperempat gawang, (m)
Pada umumnya bentuk lengkungan penghantar dianggap
parabolis, sehingga bila gawang adalah S (m), maka
andongan (sag) D dan panjang penghantar sebenarnya L0
dinyatakan oleh
Penghantar Ditunjang oleh
Tiang yang Tidak Sama
Tingginya
Apabila tiang-tiang penunjang tidak sama
tingginya maka yang dihitung adalah
andongan yang miring (obliger) yang
dinyatakan oleh rumus

Yakni jarak D antara garis AB (periksa


Gbr.7(b)) dan garis singgung pada
lengkungan kawat yang sejajar dengan
garis AB tersebut.
Hubungan antara andongan miring dan
andongan pada titik-titik penunjuang
dinyatakan oleh

Tegangan tarik pada titik-titik


penunjang A dan B dinyatakan
oleh
RUANG-RUANG YANG HARUS
DIPERHATIKAN DI SEKITAR
SALURAN TRANSMISI

UNTUK MENGANTISIPASI BAHAYA LISTRIK PADA SUTT/SUTET MAKA


DITETAPKAN JARAK AMAN YANG DIMAKSUD DENGAN :
RUANG BEBAS DAN RUANG AMAN DISEKITAR SUTET /SUTT
RUANG BEBAS SUTT/SUTET
Ruang bebas adalah ruang di sekeliling penghantar yang dibentuk oleh jarak bebas minimum
sepanjang jalur SUTT/SUTET. Jalur itu harus dibebaskan dari benda-benda dan kegiatan lainnya.
Artinya, dalam ruang bebas tidak boleh ada satupun benda-benda seperti bangunan atau pohon
lain di dalam ruang tersebut.
GAMBAR ILUSTRASI RUANG DI
SEKITAR SALURAN TRANSMISI
RUANG AMAN

Ruang aman adalah ruang yang berada di luar ruang


bebas yang tanahnya masih bisa dimanfaatkan
RUANG BEBAS YANG DIMAKSUD ADALAH AREA DENGAN JARAK ATAU
RADIUS TERTENTU YANG DIUKUR DARI TAPAK TIANG SUTET YANG HARUS
TERBEBAS DARI BANGUNAN APAPUN.

SUTT 55 KV JENIS TIANG BAJA MEMILIKI RUANG BEBAS 4 METER


SUTT 66 KV JENIS TIANG BETON MEMILIKI RUANG BEBAS 4 METER
SUTT 66 KV JENIS MENARA MEMILIKI RUANG BEBAS 7 METER
SUTT 150 KV JENIS TIANG BAJA MEMILIKI RUANG BEBAS 7 METER
SUTT 150 KV JENIS TIANG BAJA MEMILIKI RUANG BEBAS 6 METER
SUTT 150 KV JENIS TIANG BETON MEMILIKI RUANG BEBAS 5 METER
SUTT 150 KV JENIS MENARA MEMILIKI RUANG BEBAS 10 METER
SUTET 500 KV JENIS SIRKIT TUNGGAL MEMILIKI RUANG BEBAS 22 METER
SUTET 500 KV JENIS SIRKIT GANDA MEMILIKI RUANG BEBAS 17 METER
JARAK MINIMUM KONDUKTOR
DARI PERMUKAAN TANAH
SELAIN MENGATUR JARAK AMAN DARI TIANG ATAU MENARA SUTET, ATURAN INI
JUGA MENGATUR TINGGI BANGUNAN YANG MASIH DIANGGAP AMAN DARI
KONDUKTOR ATAU KABEL TRANSMISI LISTRIK BERTEGANGAN TINGGI.
SUTT 66 KV MEMILIKI JARAK BEBAS 12,5 METER DARI PERMUKAAN TANAH
DENGAN TINGGI MAKSIMAL BANGUNAN 8 METER
SUTT 150 KV MEMILIKI JARAK BEBAS 13,5 METER DARI PERMUKAAN TANAH
DENGAN TINGGI MAKSIMAL BANGUNAN 8 METER
SUTET 500 KV MEMILIKI JARAK BEBAS 13 METER DARI PERMUKAAN TANAH
DENGAN TINGGI MAKSIMAL BANGUNAN 9 METER
"JADI HARUS ADA RUANG BEBAS DARI AYUNAN KABEL ITU KETIKA TERTIUP ANGIN
DAN JARAK AMAN DARI RISIKO KABEL PUTUS ATAU SEBAGAINYA.
Pembangunan
Saluran Udara
PEMBANGUNAN
SALURAN UDARA

SURVEY

PONDASI MENARA DAN TIANG BAJA

PENDIRIAN TIANG KAYU DAN TIANG


BETON

PEMASANGAN KAWAT
Survey
Faktor-faktor yang terpenting adalah:
Keadaan cuaca (angin, hujan, salju, petir, dsb.)
Keadaan tanah (kemungkinan longsoran, banjir,
rawa, dsb.)
Kondisi pengangkutan (pengangkutan barang
dan bahan bagi pembangunan dan
pcrawatan).
Letak terhadap bangunan-bangunan lain
(saluran telekomunikasi, simpangan jalan raya,
jalan kereta api, dsb.)
Bangunan perumahan (dijauhkan dari
perumahan manusia).
Kegiatan Survey
Survey garis pusat
Di sini garis pusat (centerline) saluran ditetapkan; demikian pula
kcdudukan konstruksi penopangnya terhadap garis pusat tersebut.
Survey profil
Di sini perbedaan tinggi permukaan tanah dan lebar gawang
penampang tegak) ditetapkan sepanjang garis pusat tadi.
Survey tampak atas (plan survey)
Keadaan 50-l00 m di kirikanan garis pusat diperiksa.
Survey lokasi menara (tower site study)
Di sini jumlah tanah galian, cara pembuatan pondasi, dsb.
diselesaikan.
Survey khusus
Yang dilakukan adalah penyelidikan khusus dalam penyeberangan
sungai, pertemuan dengan saluran lain, perhitungan induksi
elektromagnetik terhadap saluran komunikasi, dsb.
Pondasi Menara dan Tiang Beja

Pekerjaan-pekerjaan pondasi yang terpenting meliputi pemberian tanda-


tanda, penggalian, pemasangan tonggok (stub setting), pengecoran
beton, pengurukan, dsb.
Penggaliannya dilakukan dengan berbagai cara tergantung dari kondisi
tanahnya. Ada lima cara penggalian:
Cara Penggalian

1. Penggalian biasa (plain excavation), yaitu


penggalian biasa, tanpa persyaratan tertentu;
kemiringan tebingnya tertentu, periksa Gbr. 67.
Cara Penggalian

2. Penggalian dengan penguatan kayu (timbering


excavation), yaitu dengan menanamkan balok-
balok kayu ke dalam tanah agar tidak terjadi
kelongsoran waktu penggalian; diterapkan bila
tanahnya mudah longsor dan mengeluarkan air.
Cara Penggalian

3.Penggalian dengan tong kayu (pail excavation),


dilakukan bila tanahnya mudah longsor dan banyak
sekali mengeluarkan air. Sebuah tong kayu tanpa
dasar dipasang dan penggeliannya dilakukan di
dalam air, Akhirnya dicor beton pada dasar tong ini
untuk menghentikan aliran air tersebut.
Cara Penggalian

4. Penggalian dengan tabung silinder


(case excavation), dilakukan untuk
penggalian di sungai, bila cara
dengan ember tidak mungkin. Di sini
sebuah tabung silinder tanpa dasar
yang dibuat dari beton bertulang
ditempatkan dan penggaliannya
dilakukan di dalam tabung itu.
Tabung itu sendiri dibenamkan ke
dalam sungai dengan beban
mekanis, Periksa Gbr. 68
Cara Penggalian

5. Penggalian sumber (well point excavation),


dilakukan pada tanah pasir yang berair. Sejumlah
pipa ditanam di dalam tanah di sekitar tempat yang
akan digali. Kemudian air yang dikandung di dalam
tanah disedot dari pipa-pipa tadi oleh sebuah
pompa. Bila tanahnya sudah kering maka
penggaliannya dapat dilakukan dengan cara (1).
Tahap berikutnya adalah pemasangan
tonggok (stub). Tonggok ini dipasang
pada balok beton yang ditempatkan
pada dasar pondasi (periksa Gbr. 67). Bila
tanahnya tidak kokoh atau bila
pondasinya berkisi (grillage), maka
ditambahkan pecahan batu sebagai
penguat. Bila kondisi tanah buruk, maka
dipasang pancang-pancang (piles)
untuk menguatkan pondasinya.
Pekerjaan beton terdiri dari pengecoran
campuran semen, pasir, kerikil (atau
pecahan batu) dan air dalam
perbandingan tertentu dalam cetakan
plat baja atau kayu.
Pengurukan kembali penting artinya bagi
kekuatan pondasi. Karena itu dalam
pengurukan kembali tanahnya harus
dientakkan (rammed) sebaik-baiknya
dengan
tanah aslinya.
Pendirian Tiang dan Menara Baja

Bila pondasinya selesai, bagian atas konstruksi


didirikan. Ada dua cara pendirian'
nya:
(a)Cara menyusun ke atas (assemble).
(b)Cara menarik ke atas (pulling up).
Dalam cara pertama menara disusun ke atas bagian demi bagian.
Setiap bagian digantung dengan pengangkat (lifting rod) untuk
kemudian disekerup, bagian yang satu diatas yang lain.

Cara lain adalah dengan lebih dahulu menyekerup bagian'bagiannya


satu sama lain di tanah, untuk kemudian seluruh menaranya didirikan
dengan keran atau mesin pengangkat lain (winch). Cara ini tepat guna
pemakaian dimana alat-alat pengangkat berat semacam itu mudah
diadakan serta mudah dibawa ke tempat-tempat pendirian menara. Di
daerah pegunungan yang sukar dicapai bagian-bagian menara
diangkut dengan helikopter lalu disusun di tem,pat dimana menara akan
didirikan.
Pendirian Tiang Kayu dan Tiang Beton

Uatuk mendirikan tiang kayu atau tiang


beton penggaliannya dapat dilakukan
dengan cara-cara biasa. Bila kondisi
tanah cukup baik dan daerahnya dapat
dicapai dengan kendaraan, penggalian
dapat dilakukan dengan mesin bor
(auger machine). Tiang-tiang didirikan
dengan menegakkannya (building-up;
periksa Gbr. 69) atau dengan cara
menggantungkannya (hanging-in; periksa
Gbr. 70). Bila kendaraan dapat masuk
mobil katrol dapat dipakai. Palang-
palang (cross-arm, travers) dan
pasangan (fittings) dapat dipasang
sebelum tiang didirikan, terutana bila
tidak terlalu ruwet. Namun, biasanya
karena berbagai kesulitan, pasangan-
pasangannya dipasang sesudah tiang
didirikan.
Pemasangan Kawat
Kawat mula-mula dipasang pada tiang kemudian ditarik sampai suatu ketegangan
tertentu, Pemasangannya biasanya dilakukan untuk bagian saluran yang panjangnya k.1.
3 km.

Salah satu cara dalam penarikan kawat adalah menariknya dengan mesin melalui
penjepit kawat (snatch block) yang terpasang pada setiap lengan menara; periksa Gbr.
71. Kawat-kawat itu ditarik oleh mesin dengan bantuan kawat penolong (messenger
wire).
Cara lain adalah dengan mereatangkan kawat di tanah, lalu
mengangkatnya ke atas tiang. Cara kedua ini dapat merusak kawat
ACSR, dan karenanya jarang dipakai.
Agar supaya tidak terjadi kerusakan kawat karena menggores tanah
digunakan penegang kawat (tensioner); periksa Gbr.72.
Bila kawat menyeberangi saluran-saluran lain (transmisi, telpon) atau jalan (raya,
kereta api) perlu diadakan pengamanan seperlunya agar kawat penghantar
maupun kawat penolong tidak mengenai saluran-saluran tadi.

Pekerjaan penegangan dilakukan pada setiap bagian saluran dimana


gandengan isolator penegang terpasang pada menara-menara sudut maupun
menara-menara gang (tension isulator string), sedang ujung lainnya ditarik oleh
sebuah mesin penarik (winch) sampai suatu andongan tertentu. Ujung ini
kemudian dihubungkan dengan gandengan isolator penegang yang lain.
Sesudah kawatnya cukup tegang, ia dipindahkan pada gandengan isolator
gantung dari penjepit kawat pada menara gantung. Sesudah itu peredam dan
batang perisai dipasang.
TERIMA KASIH