Anda di halaman 1dari 7

ALBENDAZOLE

Bentuk Sediaan: Suspensi

Jumlah sediaan yang akan dibuat: 10 botol @ 10ml

Dosis: 400mg/10ml

1. PREFORMULASI
1.1 Nama Zat Aktif : Albendazole

Struktur :
Pemerian : Serbuk putih atau agak kekuningan
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, Praktis
tidak larut dalam etanol, sukar larut
dalam metil klorida, mudah larut
dalam asam format anhidrat.
Titik leleh :
pH : 4,5-5,5
Stabilitas : Simpan dalam wadah tertutup,
hindari kontak langsung dengan
cahaya
Sediaan di pasaran : Albenza, Andazol, Eskazole
Dosis : 400 mg
Penggunaan terapi : Antelmhintik
Alasan Bentuk sediaan : Pemilihan bentuk sediaan larutan
adalah dikarenakan banyak pasien
kesulitan untuk menelan sediaan
dalam bentuk oral lain seperti tablet.
Dan pemilihan bentuk suspensi ini
dikarenakan zat aktif yang digunakan
tidak larut dalam air ( tidak dapat
dibuat sediaan sirup

1.2 Informasi Aspek Farmakologi


Berdasarkan uji praklinis dan klinis menunjukkan bahwa
albendazole mempunyai khasiat membunuh cacing, menghancurkan
telur dan larva cacing. Efek anthelmentik albendazole dengan jalan
menghambat pengambilan glukosa oleh cacing sehingga produksi ATP
sebagai sumber energi untuk mempertahankan hidup cacing
berkurang. Waktu paruh albendazole bervariasi (4-15 jam).
1.3 Zat Tambahan
1.3.1 Nama zat : Natrium karboksimetil
selulosa

Rumus kimia :
Pemerian : serbuk putih atau putih
kuning gading
Kegunaan dalam formula :
pH : 6,5-8,5
Stabilitas :
Kelarutan : Larut dalam air, tidak larut
dalam etanol, eter, dan
organik lainnya

1.3.2 Nama zat : Sorbitan Monolaurat


Rumus kimia : C18H34O6
Pemerian : Cairan/krim berwarna atau
padatan dengan bau dan rasa
khas
Kegunaan dalam formula : Wetting (0,1-3%)
pH :-
Stabilitas : Penyabunan dengan asam
1.3.3 Nama zat : Potassium sorbate
Rumus kimia :
Pemerian : Kristal putih, berbau khas
Kegunaan dalam formula : Pengawet (0,1-0,2%)
pH :6
Stabilitas : Aktivitas antimikroba
berkurang bila ada surfaktan
nonionic

2. Formulasi
2.1 Formula
R/ Albendazol 400mg/10ml
Sirup Simplex 25%
Na-CMC 1%
aquadest q.s
2.2 Alasan Pemilihan Zat Tambahan
Penggunaan Sirup simplex dalam formula adalah sebagai
pemanis dalam sediaan suspensi. Alasan pemilihan Na-CMC dalam
formula ini adalah karena Na-CMC digunakan sebagai suspending
agent.
3. Perhitungan
4. Prosedur
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, lalu
ditimbang satu persatu bahan dan dilakukan kalibrasi botol
60 ml sebanyak 5 botol. Disiapkan air dalam beaker glass
kemudian dipanaskan dalam penangas air untuk melarutkan
Na-CMC. Dimasukkan Na-CMC ke dalam air panas tersebut,
diaduk dalam keadaan panas sampai tercampur semua dan
mengembang. Kemudian dimasukkan ibuprofen dan
amoxicillin ke dalam Na-CMC yang sudah mengembang,
diaduk dengan menggunakan magnetic stirer sampai
tercampur. Setelah itu ditambah sirup simplex dan aquadest
di ad sampai 60 ml kemudian diaduk lagi dengan magnetic
stirer. Setelah homogen, sediaan dimasukkan kedalam botol sampai tanda
batas 60 ml dan dilakukan evaluasi suspensi.

5. Evaluasi
5.1 Uji Organoleptis
Dilihat bentuk, warna, kejernihan, dan bau pada sediaan yang
telah dibuat lalu dicatat dalam lembar data pengamatan

5.2 Uji Viskositas


Viskositas diuji dengan menggunakan alat viskometer
brookfield. Viskometer harus dalam keadaan seimbang atau
berada pada permukaan yang rata. Dilakukan sebelumnya
penentuan spindle yang akan digunakan, dengan cara
menggunakan spindle terkecil untuk sediaan encer kemudian
dipilih spindle mana yang akan digunakan. Spindle dipasang
pada alat viskometer brookfield, lalu direndam spindle pada
sampel sampai batas. Alat viskometer dijalankan dari rpm 1,5, 3,
dan 6. Setiap rpm, angka yang dicatat merupakan angka yang
konstan. Setelah diperoleh, hasil pembacaan dikalikan dengan
faktor pengkali dan didapat viskositas dalam centi poise (cp).
Dicatat pada lembar data penamatan.

5.3 Volume Sedimentasi


Diamtati dan dicatat volume yang terjadi dalam interval waktu
hari ke1, hari ke 2, hari ke 3, dan hari ke 4.

5.4 Bj
Ditimbang piknometer kosong lalu diisi dengan 10ml larutan
sampel lalu dihitung BJ larutan tersebut.

6. Daftar Pustaka
British Pharmacopeia. 2009. British Pharmacopeia Volume I and II.
London : Medicines and Healthcare Product Regulatory Agency
(MHRA)
Goodman, A. dan Gilman. 2007. Dasar Farmakologi Terapi. Jakarta:
EGC.
Rowe, R. C., Shaske P. J. dan Weller P. J. 2009. Handbook of
Pharmaceutical Excipient. Edisi V. London: Publisher Gaeres

LAMPIRAN

Kemasan

Etiket
Brosur