Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PEMIKIRAN TEORI EKONOMI KLASIK

Oleh :
RAHMADANI HARAHAP
NPM. 16050037

Mata Kuliah : Sejarah Pemikiran Ekonomi


Semester : II-A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) TAPANULI SELATAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat
dan tuntunan-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini. Terima kasih
juga kepada dosen mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi yang telah
memberikan banyak masukan serta kritik dan saran yang membangun. Serta
terima kasih pula kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
penyusunan makalah ini.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah
Pemikiran Ekonomi. Judul makalah yang ditugaskan kepada kami untuk dibahas
adalah Teori Ekonomi Klasik. Pemikiran-pemikiran tentang ekonomi sudah
sangat berkembang pada abad ke-XV, saat terjadi revolusi pertanian di Eropa.
Akan tetapi, pengakuan terhadap ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu tersendiri
baru diberikan pada abd ke-XVIII, setelah tokoh Adam Smith muncul dalam
percaturan ekonomi. Adam Smith (1729-1790), tidak disangsikan lagi, merupakan
tokoh utama dari aliran ekonomi yang kemudian dikenal sebagai aliran klasik.
Dalam menghadapi persoalan ekonomi yang terus berkembang dengan adanya
perkembangan zaman, teori-teori ekonomi yang dikembangkan oleh pakar-pakar
klasik seperti lumpuh tak berdaya. Teori klasik dan neo-klasik tidak mampu
menjelaskan fenomena dan peristiwa yang sesungguhnya telah terjadi. Apalagi
emeberikan jalan keluar terhadap kemelut yang dihadapi. Hal ini sebetulnya tidak
dapat disesalkan, sebab yang terjadi pada tahun 30-an tersebut memang sangat
berbeda dengan persoalan-persoalan yang selama ini dihadapi.

~i~
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1Latar Belakang....................................................................................... 2
1.2Rumusan Masalah.................................................................................. 2
1.3Tujuan dan Manfaat............................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pemikiran Tokoh Adam Smith (1729 - 1790)..................................... 3
2.2Pemikiran Tokoh Thomas Robert Malthus (1766-1834)........................ 5
2.3Pemikiran Tokoh David Ricardo (1772-1823)....................................... 6
2.4Pemikiran Tokoh Jean Baptiste Say (1767-1823)................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................... 9
3.2 Saran..................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA

~ ii ~
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pemikiran kaum klasik telah membawa perubahan besar dalam bidang ekonomi.
Salah satu hasil pemikiran kaum klasik telah mempelopori pemikiran sistem
perekonomian liberal. Dalam pemikiran kaum klasik bahwa perekonomian secara
makro akan tumbuh dan berkembang apabila perekonomian diserahkan kepada pasar.
Peran pemerintah terbatas kepada masalah penegakan hukum, menjaga keamanan dan
pembangunan infrastruktur.
Peran pemerintah dalam pembangunan harus dibatasi dan berorientasi kepada
pembangunan infrastruktur, kesehatan dan pendidikan. Campur tangan pemerintah yang
berkelebihan dalam perencanaan pembangunan dikhawatirkan menimbulkan
Government Failure, seperti birokrasi yang berkelebihan, KKN, dan lain sebagainya.
Membatasi APBN dapat mengurangi defisit, karena akan menimbulkan ketidakstabilan
di dalam ekonomi. Pemanfaatan kekuatan pasar yaitu mengembangkan pasar yang
efisien, bebas dari monopoli, oligopoli, dan eksternal disekonomis. Oleh karena itu
kebijakan pemerintah harus bersifat Market Friendly.
Beberapa tokoh ekonomi klasik seperti Adam Smith (1723-1790), Thomas Robert
Malthus (1766-1834), Jean Baptiste Say (1767-1832), David Ricardo (1772-1823),
Johan Heinrich von Thunen (1780-1850), Nassau William Senior (1790-1864),
Friedrich von Herman, John Stuart Mill (1806-1873) dan John Elliot Cairnes (1824-
1875) memperoleh kehormatan dari Karl Marx (1818-1883) atas keklasikan dalam
mengetengahkan persoalan ekonomi yang dinilai tidak kunjung lapuk. Berbeda dengan
kaum Merkantilis dan Physiokrat, kaum klasik memusatkan analisis ekonominya pada
teori harga. Kaum klasik mencoba menyelesaikan persoalan ekonomi dengan jalan
penelitian faktor permintaan dan penawaran yang menentukan harga.
Sebelum tahun 1930-an, aliran pemikiran liberal dari ekonom klasik
mendominasi perekonomian global. Dalam aliran klasik mereka meyakini bahwa
mekanisme laissez faire (bebas berusaha) dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat
secara otomatis dengan tercapainya tingkat kegiatan ekonomi nasional yang optimal
(full employment ). Pada suatu saat tertentu GDP mungkin berada di bawah atau di atas
tingkat full employment, tetapi kemudian akan segera kembali ke tingkat full
employment secara otomatis. Sehingga intervensi pemerintah untuk mempengaruhi
kegiatan ekonomi jangka pendek tidak diperlukan. Menurut mereka peran Pemerintah

~ 1 ~
harus dibatasi seminimal mungkin, karena kinerja pihak swasta lebih efisien dari pada
pemerintah.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1. Siapa tokoh-tokoh pemikir klasik lainnya?
2. Bagaimana perkembangan pemikiran dari Thomas Malthus, David Ricardo, Jean
Baptiste Say?
1.3. Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah dapat diketahui tujuan dan manfaat sebagai
berikut:
1. Mengetahui tokoh-tokoh pemikir klasik lainnya.
2. Mengetahui perkembangan pemikiran dari Thomas Malthus, David Ricardo, Jean
Baptiste Say

~ 2 ~
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. ADAM SMITH (1729 - 1790)


Adam Smith merupakan Father Modern of Economics atau Bapak Ekonomi
Modern sebab bukunya merupakan buku pertama yang membahas permasalahan
ekonomi dengan lengkap dan sistematik.Aliran atau paham yang diciptakan oleh Adam
Smith disebut sebagai aliran atau mazab klasik atau mazhab liberal. Sekalipun Adam
Smith digelari sebagai Father of Modern Economics, tetapi istilah itu sendiri sebenarnya
belum dikenal pada zaman Smith. Istilah itu muncul pada abad XX baru- baru ini saja.
Sebelumnya istilah yang dipakai untuk ilmu ini adalah Political economy, yang
menyatakan bahwa ekonomi merupakan bagian dari politik ekonomi yang khusus
berhubungan dengan hal- hal seperti pajak, utang negara, perdagangan luar negeri dan
masih banyak lagi yang diulas dalam buku tersebut.
A. Hakikat Manusia Serakah
Seorang pemikir pemikir masa Yunani kuno bernama Plato mengatakan bahwa
pada hakekatnya manusia memilki sifat serakah. Pemikiran yang sama dilontarkan oleh
Bernard de Mandeville ( 1670 1733) dalam bukunya The Fable of the Boistis tahun
1714 mengatakan bahwa hakikat manusia rakus , egoistis, selalu mementingkan diri
sendiri. Menurut Mandeville sifat manusia yang rakus dan selalu mementingkan diri
sendiri akan memberi dampak social ekonomi negative bagi masyarakat. Untuk
menghindari dampak negative tersebut Mendeville menganjukan adanya campur
tangan pemerintah dalam perekonomian .
Menurut padangan Smith berbeda dengan Mandeville , sifat serakah dan egoisme
manusia, malahan menganggap sifat ini akan memicu pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan secara keseluruhan. Smith berpendapat bahwa sikap egoisme manusia ini
tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat sepanjang ada persaingan
bebas. Tiap orang menginginkan laba dalam jangka panjang , tidak akan pernah
menaikkan harga di atas tingkat harga pasar.
B. Mekanisme Pasar Bebas
Adam Smith mendukung motto yaitu laissez faire lasses passer,
yaitu menghendaki campur tangan pemerintah dalam bidang ekonomi minimum saja.
Faham ini , sebagaimana sudah dijelaskan terlebih dahulu oleh Francis Quesney.
Menurut Smith agar pemerintah sedapat mungkin tidak terlalu jauh campur tangan
mengatur perekonomian. Biar saja perekonomian berjalan dengan wajar tanpa campur

~ 3 ~
tangan pemerintah, nanti akan ada suatu tangan tak kentara ( invisible hand) yang akan
membawa perekonomian kea rah keseimbangan. Jika banyak campur tangan
pemerintah menurut Smith , justru pasar akan mengalami distorsi, yang akan membawa
perekonomian pada ketidakefisienan ( inefficiency) dan ketidakseimbangan.
C. Teori Nilai
Menurut Adam Smith , barang mempunyai dua nilai yaitu nilai guna barang
( value in use) dan nilai tukar ( value of exchange) . Nilai tukar atau harga dari suatu
barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja ( labour) yang diperlukan dalam
menghasilkan barang.Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam menghasilkan suatu
barang diukur berdasarkan pada tenaga kerja yang dicurahkan dalam menghasilkan
barang tersebut, tidak hanya diukur berdasarkan pada hari dan jam kerja tetapi juga
ketrampilan yang dimiliki karena setiap orang mempunyai ketrampilan yang berbeda.
Untuk itu ia menggunakan harga tenaga kerja sebagai alat ukur, yaitu upah yang
diterima dalam menghasilkan barang tersebut. Tingkat upah sekaligus menentukan
perbedaan ketrampilan tenaga, kerja.kalau A menerima upah Rp. 10.000,00 dan B
menerima upah Rp. 5000,00 per hari, ini mencerminkan bahwa ketrampilan atau skill si
A dua kali lebih tinggi dari ketrampilan si B
Perbedaan dalam tenaga kerja yang dicurahkan dalam menghasilkan barang
digunakan oleh Smith untuk mematok harga.Misalnya , dalam waktu dua jam
seseorang rata-rata bisa menangkap seekor berang berang , dan dalam waktu yang
sama bisa digunakan untuk menangkap dua rusa, maka harga berang- berang harus dua
kali lipat harga rusa. Harga seperti ini yang disebut Smith sebagai harga alami ( natural
price), yang dalam zaman modern sekarang ini disebut sebagai harga keseimbangan
jangka panjang.
D. Pembagian Kerja
Produktifitas tenaga kerja dapat ditingkatkan melalui pembagian kerja
atau division of labour.Pembagian kerja akan mendorong spesialisasi, di mana orang
akan memilih mengerjakan yang terbaik sesuai dengan bakat dan kemampuannya
masing-masing .
Adanya spesialisasi berarti setiap orang tidak perlu menghasilkan tiap barang
yang dibutuhkan secara sendiri-sendiri , tetapi menghasilkan satu jenis barang
saja.Kelebihan barang akan dipertukarkan dengan barang yang lainnya.
E. Teori Akumulasi Kapital
Menurut Adam Smith untuk meningkatkan kesejahteraan bisa dilakukan dengan
cara meningkatkan laba untuk mendapatkan laba yang banyak dengan cara

~ 4 ~
melaksanakan kegiatan investasi. Investasi diartikan sebagai pembelian barang-barang
atau mesin-mesin untuk memperlancar proses produksi sehingga produktifitas tenaga
kerja mengalami peningkatan .Peningkatan produktifitas akan meningkatkan produksi
perusahaan. Apabila perusahaan melaksanakan hal yang sama maka output mengalami
peningkatan dan kesejahteraan akan naik pula. Adam Smith menganggap akumulasi
capital bagi pembangunan ekonomi , maka sistem ekonomi yang dianut sesuai dengan
pemikiran adam smith sering disebut system liberalisme atau kapitalisme atau Market
Economie System.

2.2. Pemikiran Tokoh Thomas Robert Malthus (1766-1834)


Thomas Malthus dianggap sebagai tokoh klasik setelah Adam Smith yang banyak
berjasa dalam pemikiran ekonomi. Malthus menimba ilmu di St.Johns College,
Cambridge, Inggris, dan kemudian melanjutkan ke East India College. Untuk pertama
kalinya ekonomi politik disiplin ilmu tersendiri. Buku yang ditulisnya : Principles of
political economy (1820), definition of political economy (1827), Essay on the principle
of population as it affect the future improvement of society (1798), An inquiry into the
nature and progress of rent (1815).
Disalah satu bukunya terdapat pikiran yang tidak sejalan antara malthus dengan
smith. Dimana smith optimis akan kehidupan manusia namun malthus pesimis dengan
hal itu. Penyebab pesimisme Malthus ialah dari faktor tanah. Karena tanah merupakan
salah satu faktor produksi yang tetap jumlahnya. Malthus mengamati manusia
berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil-hasil pertanian untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur
sedangkan pertumbuhan produksi makanan hanya meningkat sesuai dengan deret
hitung. Karena perbedaan tersebut, maka malthus meramalkan akan terjadi bencana
yang menimpa manusia.
Berbagai masalah timbul karena adanya tekanan penduduk tersebut, yang pada
akhirnya akan berkelanjutan terhadap standar hidup manusia. Baik dalam arti ruang
maupun output. Anehnya dalam menghadapi masalah orang selalu menyalahkan
keadaan dan lingkungan, akan tetapi tidak pernah menyalahkan diriya sendiri. Dalam
bukunya essays on the principles of population malthus menguraikan bahwa satu-
satunya cara untuk menghindar dari bencana ialah melakukan kontrol atau pengawasan
atas pertumbuhan penduduk atau dengan program keluarga berencana. Pandangan diatas
dipandang pesimis. Dalam kenyataannya produktivitas tenaga kerja selalu meningkat
tiap tahun yang dimulai dari revolusi industri yang kemudian dilanjut dengan revolusi

~ 5 ~
hijau serta revolusi biru. Kenyataan tersebut menunjukan bahwa kemakmuran
masyarakat meningkat dari tahun ke tahun. Walau ramalan malthus dinilai berlebihaan,
tetapi perlu diwaspadai sebab di beberapa negara di afrika, saat ini sering dilanda
kelaparan. Sebagai catatan, perlu dikemukakan, jika seseorang berbicara tentang
malthus maka ingatan orang akan lari pada teori populasi yang telah dijelaskan diatas.
Sebetulnya selain tentang penduduk, karyanya dibidang lain juga ada.

2.3. Pemikiran Tokoh David Ricardo (1772-1823)


David Ricardo tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi yang cukup,
namun ia telah menggeluti dunia pasar modal sejak usia 8 tahun sehingga ia paham
akan dunia ekonomi. Ia memulai karirnya sebagai ekonom pada usia 42 tahun. Buku-
buku pertamanya banyak membahas tentang keuangan dan perbankan.
David Ricardo sependapat dengan Smith bahwa labor memengang peran penting
dalam perekonomian yang kemudian dikembangkan menjadi teori harga relatif
berdasarkan biaya produksi yaitu biaya labor memegang peran penting dalam
perekonomian-perekonomian yang kemudian dikembangkan menjadi teori harga relatif
berdasarkan biaya produksi yaitu biaya kapital.
Perbedaan David Ricardo dengan Smith terletak pada penekanan, Smith
menekankan pada masalah kemakmuran bangsa dan pertumbuhan, sedangkan David
Ricardo lebih menekankan pada masalah pemerataan pendapatan diantara berbagai
golongan dalam masyarakat.
Ricardo mengemukakan beberapa teori (the principles of political economy and
taxation) yaitu :
1. Teori nilai kerja
2. Teori sewa tanah
3. Teori upah alami
4. Teori uang
5. Teori keuntungan komparatif
Teori tanah dijelaskannya bahwa jenis tanah berbeda-beda, ada yang subur,
kurang subur, dan tidak subur. Makin rendah tingkat kesuburan tanah, makin tinggi
biaya rata-rata dan biaya marjinal untuk mengolah tanah tersebut. Makin tinggi biaya,
maka keuntungan per hektar tanah menjadi semakin kecil, untuk itu sewa tanah yang
lebih subur lebih tinggi dibandingkan dengan sewa tanah yang kurang subur bahkan
tidak subur sama sekali. Bagi Ricardo yng menentuka tingginya tingkat sewa tanah

~ 6 ~
adalah tanah marjinal, yaitu tanah yang paling tidak subur yang terakhir sekali masuk
pasar.
Teori nilai kerja dan upah alami dijelaskan bahwa nilai tukar suatu barang
ditentukan oleh ongkos yang perlu dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut.
Ongkos tersebut terdiri dari biaya bahan mentah dan upah buruh. Upah buruh ini
besarnya hanya cukup untuk sekedar dapat bertahan hidup dan disebut dengan upah
alami. Ricardo menyimpulkan bahwa yang paling menentukan tingkat harga suatu
barang adalah tingkat upah alami atau upah besi menurut kaum sosialis.
Teori Ricardo lainnya ialah teori keuntungan komparatif atau teori keuntungna
berbanding, menurutnya setiap kelompok masyarakat atau negara sebaiknya
menkhususkan diri menghasilkan produk-produk yang dihasilkan lebih efisien. Dengan
teori keuntungan berbanding tersebut, tidak diragukan lagi kalau ia dianggap sebagai
arsitek utama perdagangan bebas. Pakar ekonomi klasik menyatakan bahwa pengaturan
tata niaga ini akan lebih banyak mendatangkan kemelaratan dari pada keuntungan.

2.3 Pemikiran Tokoh Jean Baptiste Say (1767-1823)


J.B. Say berasal dari Prancis. Lahir pada tanggal 5 Januari 1767. Seperti halnya
Ricardo, J.B. Say juga berasal dari kalangan pengusaha, bukan dari kalangan akademis.
Keterkaitannya dengan pengembangan teori-teori juga berlangsung pada waktu ia sudah
memasuki usia senja, mendekati usia 50 tahun. Ia sangat memuja pemikiran-pemikiran
Smith. Sebagai pendukung yang loyal, ia sangat berjasa dalam menyusun dan
melakukan kodifikasi terhadap pemikiran-pemikiran Smith secara sistematis. Hasil
kerjanya dirangkum dalam bukunya Traite dEconomie Politique (1903). Apa yang
dilakukan oleh Baptiste Say ini sangat membantu dalam memahami pemikiran-
pemikiran Smith dalam buku The Wealth of Nations, yang bahasanya relatif sulit
dicerna oleh orang awam.
Kontribusi Say yang paling besar terhadap aliran klasik ialah pandangannya yang
mengatakan bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri (supply
creates its owm demand). Pendapat Say di atas disebut Hukum Say (Says Law). Hukum
Say didasarkan pada asumsi bahwa nilai produksi selalu sama dengan pendapatan.
Setiap ada produksi, akan ada pendapatan yang besarnya persis sama dengan nilai
produksi tadi. Dengan demikian, dalam keadaan seimbang, produksi cenderung
menciptakan permintaanya sendiri akan produksi barang yang bersangkutan.
Dengan dasar asumsi seperti ini ia menganggap bahwa peningkatan pendapatan,
yang akhirnya akan selalu diiringi oleh peningkatan permintaan. Jadi, dalam
perekonomian yang menganut pasar persaingan sempurna tidak akan pernah terjadi

~ 7 ~
kelebihan penawaran (excess supply). Kalaupun terjadi, sifatnya hanya sementara. Pasar
lewat tangan tak kentara akan mengatur dirinya kembali kearah keseimbangan.
Misalnya, kalau penawaran terlalu besar dibanding permintaan, stok barang naik, dan
harga-harga di pasar akan turun. Turunnya harga ini menyebabkan produksen enggan
berproduksi, sehingga jumlah barang yang ditawarkan kembali sama dengan jumlah
barang yang diminta.
Pendapat Say bahwa produksi akan selalu menciptakan permintaan sendiri
menjadi pedoman dasar dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan itu kemudian dikritik
sangat keras sebagai pangkal tolak terjadinya depresi besar-besaran tahun 1930.
Selain terkenal dengan Hukun supply creates its own demand Say dapat
dikatakan sebagai orang pertama yang berbicara tentang enterpreneur. Begitu juga ia
adalah orang pertama yang berjasa mengklasifikasikan faktor-faktor produksi atas tiga
bagian, yaitu tanah, labor dan kapital (land, labor and capital). Namun, teori-teorinya
tersebut kalah tenar dibandingkan hukum say. Teori ini paling sering dikritik oleh
Keynes sebagai pangkal sebab terjadinya depresi besar-besaran tahun 1930-an
kemudian.

~ 8 ~
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Selain Adam Smith, masih ada tokoh-tokoh pemikir klasik lainnya, diantaranya
Thomas Malthus, David Ricardo, Jean Baptiste Say, dan John Stuart Mill. Thomas
Malthus dianggap sebagai tokoh klasik setelah Adam Smith yang banyak berjasa dalam
pemikiran ekonomi. Pemikiran yang tidak sejalan antara Malthus dengan Smith. Dimana
smith optimis akan kehidupan manusia namun Malthus pesimis dengan hal itu. Penyebab
pesimisme Malthus ialah dari faktor tanah. Karena tanah merupakan salah satu faktor
produksi yang tetap jumlahnya.
David Ricardo sependapat dengan Smith bahwa labor memengang peran penting
dalam perekonomian yang kemudian dikembangkan menjadi teori harga relatif
berdasarkan biaya produksi yaitu biaya labor memegang peran penting dalam
perekonomian-perekonomian yang kemudian dikembangkan menjadi teori harga relatif
berdasarkan biaya produksi yaitu biaya kapital.
Kontribusi J.B. Say yang paling besar terhadap aliran klasik ialah pandangannya
yang mengatakan bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri
(supply creates its owm demand). Pendapat J.B. Say di atas disebut Hukum Say (Says
Law). Hukum Say didasarkan pada asumsi bahwa nilai produksi selalu sama dengan
pendapatan.

3.2 Saran
Dengan adanya tokoh-tokoh klasik lainnya diharapkan pemikiran-pemikiran
mengenai teori ekonomi dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan ekonomi.

~ 9 ~
DAFTAR PUSTAKA

Deliarnov. Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta : Rajawali Pers, 2010


Boediono, Ekonomi Makro, Yogyakarta: BPFE, 1982, hal. 18.
Ibid, hal. 60.

~ 10 ~