Anda di halaman 1dari 12

KEWIRAUSAHAAN

5 PROFIL ORAN SUKSES


DI INDONESIA

DEDE TRIANTO
F22114005

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
1. Chairul Tanjung

Chairul Tanjung (lahir di Jakarta, 16 Juni 1962; umur 50 tahun) adalah pengusaha asal
Indonesia. Namanya dikenal luas sebagai usahawan sukses bersama perusahaan yang
dipimpinnya, Para Group. Chairul telah memulai berbisnis ketika ia kuliah dari Jurusan
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun
bisnisnya. Perusahaan konglomerasi miliknya, Para Group menjadi sebuah perusahaan bisnis
membawahi beberapa perusahaan lain seperti Trans TV dan Bank Mega.

Karier dan kehidupan


Chairul dilahirkan di Jakarta dalam keluarga yang cukup berada. Ayahnya A.G. Tanjung
adalah wartawan zaman orde lama yang menerbitkan surat kabar beroplah kecil. Chairul berada
dalam keluarga bersama enam saudara lainya. Ketika Tiba di zaman Orde Baru, usaha ayahnya
dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu. Keadaan tersebut
memaksa orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal di kamar losmen yang sempit.
Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Boedi Oetomo pada 1981, Chairul masuk
Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (lulus 1987). Ketika kuliah inilah ia mulai masuk
dunia bisnis. Dan ketika kuliah juga, ia mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan
Tingkat Nasional 1984-1985.
Demi memenuhi kebutuhan kuliah, Ia mulai berbisnis dari awal yakni berjualan buku kuliah
stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Ia juga membuka usaha foto kopi di kampusnya.
Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan
Senen Raya, Jakarta Pusat, tetapi bangkrut.
Selepas kuliah, Chairul pernah mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya
pada 1987. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak
untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaan tersebut langsung mendapat
pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Akan tetapi, karena perbedaan visi tentang ekspansi
usaha, Chairul memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri. Kepiawaiannya membangun
jaringan dan sebagai pengusaha membuat bisnisnya semakin berkembang. Mengarahkan
usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti: keuangan, properti,
dan multimedia. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini bernama Bank
Mega. Ia menamakan perusahaan tersebut dengan Para Group. Perusahaan Konglomerasi ini
mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa
sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan
investasi) dan Para Inti Propertindo (properti).
Di bawah grup Para, Chairul Tanjung memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial
antara lain Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega
Tbk, Mega Capital Indonesia, Bank Mega Syariah dan Mega Finance. Sementara di bidang
properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para Bandung propertindo, Para Bali
Propertindo, Batam Indah Investindo, Mega Indah Propertindo. Dan di bidang penyiaran dan
multimedia, Para Group memiliki Trans TV, Trans7, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans
Lifestyle, dan Trans Studio.
Khusus di bisnis properti, Para Group memiliki Bandung Supermall. Mal seluas 3 hektar ini
menghabiskan dana 99 miliar rupiah. Para Group meluncurkan Bandung Supermall sebagai
Central Business District pada 1999. Sementara di bidang investasi, Pada awal 2010, Para Group
melalui anak perusahaannya, Trans Corp., membeli sebagian besar saham Carefour, yakni
sejumlah 40 persen. Mengenai proses pembelian Carrefour, MoU (memorandum of
understanding) pembelian saham Carrefour ditandatangani pada tanggal 12 Maret 2010 di
Perancis.
Majalah ternama Forbes merilis daftar orang terkaya dunia 2010. Sebagai sebuah
pencapaian, menurut majalah tersebut, Chairul Tanjung termasuk salah satu orang terkaya dunia
asal Indonesia. Forbes menyatakan bahwa Chairul Tanjung berada di urutan ke 937 dunia dengan
total kekayaan US$ 1 miliar. Tahun 2011, menurut Forbes Chairul Tanjung menduduki peringkat
11 orang terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan US$ 2,1 miliar.

2. Sukyatno (Hoo Tjioe)

Siapa yang tak kenal dengan produk es teller 77, ratusan gerainya sudah tersebar di seluruh
nusantara. Tidak puas dengan mempertahankan pasar dalam negeri, kini produk es teller 77
merupakan salah satu bisnis franchise makanan yang berhasil merambah pasar internasional.
Produknya sudah menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, serta
masih akan terus dikembangkan untuk membuka gerai berikutnya di India, Jeddah dan Arab
Saudi.
Terinspirasi dari sang mertua (Ibu Murniati Widjaja) yang menang lomba membuat es teler,
Sukyatno yang dulunya bernama Hoo Tjioe Kiat mencoba menjual es teler di emperan toko
dengan menggunakan tenda tenda. Usaha yang dimulainya pada tanggal 7 Juli 1982 ini,
ternyata bukan peluang bisnis yang pertama kali Ia coba. Berbagai peluang bisnis seperti
menjadi salesman, tengkulak jual beli tanah, makelar pengurusan SIM, menjadi pemborong
bangunan, sampai mencoba bisnis salon pernah Ia geluti dan semuanya gagal ditengah jalan.
Tak ingin mengulangi kegagalan bisnis seperti sebelumnya, Sukyatno mulai menekuni bisnis
es telernya yang diberi nama es teler 77. Angka 77 digunakan sebagai merek es telernya, karena
angka tersebut mudah diingat dan diharapkan menjadi angka hoki bagi pemilik bisnis ini.
Keyakinan Sukyatno pun tepat, merek es teler 77 mulai dikenal masyarakat dan menjadi salah
satu produk unggulan dari dulu sampai sekarang. Dari sebuah warung tenda yang dulunya berada
di emperan toko, Sukyatno berinisiatif untuk mengembangkannya menjadi bisnis waralaba.
Setelah 5 tahun mempertahankan bisnisnya, tepat pada tahun 1987 untuk pertama kalinya dibuka
gerai es teler 77 di Solo dengan sistem franchise. Semenjak itu perkembangan bisnisnya pun
sangat pesat, dengan keuletan dan kerja keras yang dimiliki Sukyatno kini es teller 77 telah
memiliki lebih dari 180 gerai yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan dan pertokoan yang
ada di Indonesia bahkan hingga mancanegara.
Kunci sukses es teller 77
Bersamaan dengan perkembangan bisnisnya, pada tahun 2007 Sukyatno kembali ke hadapan
Yang Maha Esa. Kesederhanaan dan kerjakerasnya dalam mengembangkan usaha, kini
dilanjutkan oleh salah satu anaknya yaitu Andrew Nugroho selaku direktur PT. Top Food
Indonesia. Berkat komitmen para pengelola bisnis ini, sekalipun menghadapi persaingan dagang
yang cukup ketat dengan bisnis franchise makanan asing maupun franchise lokal yang saat ini
banyak bermunculan. Es teller 77 terus berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi
para konsumennya. Ini dibuktikan dengan adanya inovasi baru dari es teler 77 yang mengenalkan
menu makanan terbarunya antara lain gado gado, rujak buah, mie kangkung, dan nasi goreng
buntut. Andrew sengaja mempertahankan menu tradisional yang tidak asing bagi lidah orang
Indonesia, agar masyarakat yang masuk pertokoan masih bisa menemukan menu tradisional yang
mereka gemari.
Disamping itu untuk meningkatkan loyalitas konsumen terhadap es teler 77, Andrew juga
memberikan fasilitas kartu member bagi para pelanggannya. Dengan kartu klub juara yang
diluncurkannya, pelanggan berhak memperoleh diskon makanan dan minuman yang ada di
seluruh gerai es teler 77.
Atas kerjakeras dan perjuangan keluarga Sukyatno dalam mengembangkan bisnisnya,
berbagai penghargaan pun pernah diterimanya. Kesuksesan es teller 77 dalam mengembangkan
bisnis franchisenya, menjadi motivasi besar bagi semua orang.
3. Elang Gumilang

Pribadi yang dikenal sebagai sosok mandiri dan tidak suka bermanja-manjaan. Ketertarikan
terhadap dunia usaha semakin terasah ketika Elang memasuki bangku SMA yaitu targetnya
memiliki uang sebesar 10 juta rupiah untuk biaya kuliah. Target ini semata-mata dilakukannya
untuk melatih kemandirian dan tanggung jawabnya sebagai seorang anak.
Berjualan kue donat adalah langkah awal yang dilakukan Elang untuk mencapai target
tersebut. Namun ketika kedua orangtuanya mengetahui bisnis ini, Elang diminta berhenti dan
berkonsentrasi menghadapi UN. Setelah berhenti berjualan donat dan memasuki bangku kuliah,
jiwa bisnis dan semangat Elang tidak pernah surut. Melalui berbagai perlombaan Elang
mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahnya di Institut Pertanian Bogor.
Elang kemudian menyalurkan kembali hobi bisnisnya dengan berjualan sepatu dengan
modal awal 1 juta rupiah. Berjalan tiga tahun bisnisnya mendapatkan kendala berupa kualitas
sepatu dari pemasok yang turun dengan alasan penghematan biaya. Kegagalan pada bisnis sepatu
tidak mematahkan semangat Elang, Ia kemudian menjajal beberapa usaha lain seperti bisnis
pengadaan lampu bersama sebuah perusahaan besar serta bisnis minyak goreng. Karena
menemukan beberapa kendala akhirnya Elang mengambil keputusan untuk menghentikan bisnis
tersebut. Setelah mengalami berbagai kegagalan, Elang terus mencari ide bisnis berpeluang
besar. Walaupun terbilang cukup mapan ketika berada dibangku kuliah, Elang tidak pernah
berhenti untuk terus berkarya. Menganalisis pasar property yang semakin tinggi maka Elang
memutuskan untuk memulai usaha bisnis property. Memiliki strategi pemasaran berupa
pengadaan objek-objek properti dengan harga terjangkau dan angsuran yang ringanm bisnis ini
dapat dengan mudah diterima masyarakat dari berbagai kalangan.
Bisnis property yang dijalankan pria kelahiran 6 April 1985 ini diawali dengan mendirikan
perumahan sederhana dengan harga yang relatif terjangkau untuk kalangan menengah dan
menengah kebawah. Melakukan promosi melalui surat kabar local adalah cara yang dipilih Elang
sekaligus untuk menghemat biaya promosi. Walaupun perumahan yang dibangunnya
mengarahkan target kepada kalangan menengah kebawah namun Elang tetap memberikan
fasilitas umum yang lengkap seperti kemudahan akses kendaraan umum, lapangan olahraga,
lokasi dekat sekolah dan klinik 24jam. Kelengkapan fasilitas tersebut membuat bisnis perumahan
Elang ludes terjual dengan cepat.
Melanjutkan bisnis perumahan dan property, Elang kini terus mengembangkan dibawah
naungan perusahaan Elang Group (www.elanggroup.co.id). Kerja keras terus diupayakan Elang
untuk membesarkan usahanya. Berbagai strategi dilakukan mulai dari pemilihan kawasan, target
pasar hinga penentuan harga. Saat ini Elang berupaya untuk mewujudkan cita-citanya membuka
lapangan pekerjaan untuk 100.000 orang yang diharapkan dapat mengurangi jumlah
pengangguran. Prestasi dari Elang adalah penghargaan berupa Wirausaha Muda Mandiri dan
Indonesia Top Young Entrepeneur (2007-2008).

4. Bob Sadino

Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang
pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari
jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat
menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino
lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.
Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta
kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.
Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam
perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia
bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di
Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed. Pada tahun 1967, Bob
dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-
an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara
yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob
memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara
mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil
Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia
mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang
untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya
Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang
dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob
memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang
untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa. Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari
menjual beberapa kilogram telur. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki
banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan
istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun
mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada
diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut
perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil
sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek. Bisnis pasar swalayan Bob
berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun
sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama
dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan.
Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya
uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap
peluang. Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu
baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia
lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia
tidak segera melangkah. Yang paling penting tindakan, kata Bob. Keberhasilan Bob tidak
terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun,
Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman,
mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih,
arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob selalu luwes
terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu
Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan
pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani
pelanggan sebaik-baiknya. Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua
anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya
fungsi dan kekuatan.
5. Puspo Wardoyo

Puspo Wardoyo, merintis waralaba Ayam Bakar Wong Solo hingga menjadi sebesar sekarang
ini dari titik paling bawah. Ia pernah menjajakan ayam bakar di kaki lima. Sejak kecil Puspo
sudah terbiasa berurusan dengan ayam. Orangtuanya penjaja ayam. Pagi hari, Puspo kecil
membantu menyembelih ayam untuk dijual di pasar. Siang sampai malam, ia membantu
orangtuanya menjajakan menu siap saji seperti ayam goreng, ayam bakar, dan menu ayam
lainnya di warung milik orangtuanya di dekat kampus UNS Solo.
Impian itu sendiri terinpirasi oleh cerita seorang pedagang bakso yang sukses mengarungi
hidup di Medan. Ketika pria kelahiran 30 November 1957 itu tengah merintis usaha warung
lesehan di Solo selepas mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, suatu saat pedagang bakso
asal Solo tersebut bertandang ke tempat Puspo.
Dia bercerita bahwa peluang usaha warung makan di Medan sangat bagus. Pedagang bakso
itu telah membuktikannya. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan bersih di akhir tahun 1990
itu sekitar Rp 300.000. Dari keuntungan berjualan bakso dengan gerobak sorong itulah teman
Puspo ini bisa pulang menengok kampung halamannya di Solo setiap bulan. "Dengan uang, jarak
antara Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang, " kata Puspoyo menirukan ucapan
temannya tadi. Wajar saja jika dengan pesawat terbang waktu tempuh antara Medan Solo
Berganti pesawat di Jakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sementara dengan naik bis
jarak antara Solo Semarang ditempuh sekitar empat jam.
Cerita sukses temannya itu begitu membekas di benak Puspo. "Saya bertekad bulat akan
merantau ke Medan, " pikirnya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, apa boleh buat, warung
makan yang termasuk perintis warung lesehan di kota pusat kebudayaan Jawa itu pun ia jual
kepada temannya. Uang hasil penjualan yang tak seberapa itu ia manfaatkan untuk membeli tiket
bus ke Jakarta. Mengapa Jakarta? "Karena dengan uang yang saya miliki, bekal saya belum
cukup untuk merantau ke Medan, " katanya.
Ketika tengah merantau di ibu kota itu, suatu hari Puspo membaca lowongan pekerjaan
sebagai guru di sebuah perguruan bernama DR Wahidin di Bagan Siapiapi, Sumatera Utara. Apa
boleh buat, demi mewujudkan citacitanya, ia berusaha mengumpulkan modal dengan kembali
menjadi guru. Bedanya, kali ini ia tidak lagi menjadi pegawai negeri seperti sebelumnya ketika
menjadi staf pengajar mata pelajaran Pendidikan Seni di SMA Negeri Muntilan, Kabupaten
Magelang. "Target saya cuma dua tahun menjadi guru lagi," katanya.
Di sinilah anak pasangan Sugiman Suki ini ketemu dengan isteri pertamanya Rini Purwanti
yang sama-sama menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut. Dua tahun menjadi guru ia berhasil
mengumpulkan tabungan senilai Rp 2.400. 000. Dengan uang inilah keinginannya menaklukkan
kota Medan tak terbendung lagi. Uang tabungan itu sebagian ia gunakan untuk menyewa rumah
dan membeli sebuah motor Vespa butut. Masih ada sisa Rp 700.000 yang kemudian ia
manfaatkan sebagai modal membangun warung kaki Lima di bilangan Polonia Medan.
Disini ia menyewa lahan 4x4 meter persegi seharga Rp 1.000 per hari. Suatu saat pegawainya
tertimpa masalah. Ia terlibat utang dengan rentenir. Puspo membantunya dengan cara
meminjamkan uang. Sebagai ucapan terimakasih, sang pegawai membawa wartawan sebuah
harian lokal Medan. Si wartawan yang merupakan sahabat suami pegawai yang ditolong Puspo
kemudian menuliskan profilnya. Judul artikel itu Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo. Artikel
itu membawa rezeki bagi Puspo. Esok hari setelah artikel dimuat, banyak orang berbondong-
bondong mendatangi warungnya. Siapa sangka jika dari sebuah warung kecil ini kemudian
melahirkan sebuah usaha jaringan rumah makan yang cukup kondang di seantero Medan. Impian
untuk menaklukkan "jarak" Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang pun menjadi
kenyataan. Bukan itu saja, penilaian atas prestasi bisnis yang dirintis Puspo lebih jauh melewati
impian yang ia tinggalkan sebelumnnya.
Dari ibu kota Sumatera Utara ini nanti Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo (Wong Solo)
melejit ke pentas bisnis nasional. Belakangan ini nama Wong Solo semakin berkibarkibar setelah
berhasil menaklukkan Jakarta setelah sebelumnva "mengapung" dari daerah pinggiran. Dalam
waktu relatif singkat kehadiran Wong Solo telah merengsek dan menanamkan tonggak-tonggak
bisnisnya di pusat kota metropolis ini. Ekspansinya pun semakin tak tertahankan dengan
memasuki berbagai kota besar di Indonesia.
Fenomena Wong Solo mengundang decak kekaguman berbagai kalangan dari pejabat
pemerintah, para pelaku bisnis hingga para pengamat. Hampir semua outletnya di Jakarta selalu
sesak pengunjung, terutama di akhir pekan dan hari libur. Bahkan ketika bulan Ramadhan
kemarin, semua outlet tersebut membatasi jumlah pengunjung saat berbuka puasa.
Skala usaha Wong Solo itu memang belum sekelas para konglomerat masa lalu yang dengan
enteng menyebut angka aset, omset atau keuntungan per tahun yang triliunan rupiah. "usaha saya
memang belum kelas triliunan seperti para konglomerat yang kaya utang itu," paparnya. Kendati
masih tergolong usaha menengah, namun kinerja wong Solo sangat solid dan tak punya beban
utang. Ia memiliki pondasi kuat untuk terus berkembang. Untuk mewujudkan mimpimimpinya,
ayah sembilan anak dari empat istri ini telah melewati rute perjalanan yang berlikaliku lengkap
dengan segala tantangannya.
Ada masa ketika di waktuwaktu awal merintis usaha di Medan ia nyaris patah semangat
garagara selama berhari-hari tak pernah meraih untung. Hanya berjualan dua atau tiga ekor ayam
bakar plus nasi, terkadang dalam satu hari tak seekor pun yang laku. Pernah pula seluruh
dagangannya yang telah dimasak di rumah tumpah di tengah jalan karena jalanan licin sehabis
hujan. "Apa boleh buat, saya terpaksa pulang dan memasak lagi". katanya. Istrinya yang tak
sabar melihat lambannya usaha Puspo bahkan sempat memberi tahu ayahnya agar memberitahu
ayahnya agar mempengaruhi Puspo supaya tak berjualan ayam bakar lagi. "Mertua saya bilang,
kapan kamu akan tobat," katanya menirukan ucapan sang mertua.
Pada awal perantauannya ke Medan, Puspo wardoyo, sama sekali tak menyangka jika usaha
warung ayam bakar Wong Solo akan berkembang seperi sekarang. Maklum, rumah makan
yang dibukanya hanyalah sebuah warung berukuran sekitar 3x4 meter di dekat bandara Polonia,
Medan. Setahun pertama dia hanya mampu menjual 3 ekor ayam per hari yang dibagibagi
menjadi beberapa potong. Harga jual per potongnya Rp 4.500 plus sepiring nasi.
Di tahun kedua, naik menjadi 10 ekor ayam per hari Namun sekarang, 13 tahun kemudian, di
memiliki lebih dari 16 cabang tersebar di medan, Banda Aceh, Padang, Solo, Denpasar,
Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Jakarta, Malang dan Yogyakarta meskipun masih
mengandalkan ayam bakar, namun menunya kini makin beragam hingga 100 jenis. Sudah
terbiasa bagi Wardoyo untuk menyisihkan 10 % dari keuntungannya untuk amal. Dia percaya,
Tuhan akan memperkaya orang yang banyak beramal. Maka jangan heran bila Anda kebetulan
mampir di salah satu rumah makannya menyaksikan karyawannya sedang berkerumun di saat
menjelang atau usai jam kerja. Mereka sedang melaksanakan ibadah kultum atau kuliah tujuh
menit.

Rangkuman
Dalam memulai wirausaha terkadang karena ada unsur keterpaksaan karena harus
membiayai sekolah, dan dalam memulai wirausaha harus dapat melihat peluang di sekitar kita.
Berwirausaha dapat dilakukan karena hobi, adanya peluang usaha, dan harus memperbanyak
jaringan. Kegagalan adalah sebuah keberhasilan yang tertunda, itulah mungkin yang sering di
alami oleh para wirausaha salah satunya adalah sukyatno, dia mencoba beberapa peluang bisnis
yang ia coba dan selalu gagal di tengah jalan. Berkat menekuni bisnis es telernya yang di beri
nama es teller 77 yang dulunya dari warung sebuah tenda yang berada di emperan toko dan
sekarang berkembang hingga lebih dari 180 gerai dan tersebar di berbagai pusat perbelanjaan
dan pertokoan yang berada di Indonesia bahkan hingga mancanegara.
Dalam berbisnis tidaklah harus di mulai dari hal besar atau yang membutuhkan modal besar,
kita bisa memulainya dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita untuk membuat usaha dan apabila
di tekuni dan di kerjakan dengan sungguh-sungguh maka akan berkembang. Kerja keras adalah
kunci dari membangun sebuah usaha, itulah yang dilakukan dari beberapa tokoh wirausaha
sukses yang berada d atas. Berani keluar dari zona nyaman atau keluar dari pekerjaan sebagai
pegawai demi bekerja secara mandiri. Setiap langkah sukses selalu di awali kegagalan demi
kegagalan itulah kata Bob Sadino atau yang lebih akrab di sapa Om Bob. Perjalanan wirausaha
tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor
satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Kelemahan
banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera
melangkah. Yang paling penting tindakan, kata Bob. Keberhasilan Bob tidak terlepas dari
ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil
dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya
dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional. Menurut Bob, banyak
orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa
memiliki ilmu yang melebihi orang lain.