Anda di halaman 1dari 242

TIM PENYUSUN BUKU PENGUKURAN PRODUKTIVITAS NASIONAL, REGIONAL DAN SEKTORAL

Pengarah : 1. Ir. Khairul Anwar, MM


2. Dr. Suhariyanto

Penanggung Jawab : 1. Estiarty Haryani, S.Pt, MT


2. Sentot Bangun Widoyono, M.A

Editor : 1. Ir. Sanggam Purba, MM


2. Isnarti Hasan, SE, M.Si
3. Harmawanti Marhaeni, M.Sc
4. Rustam, SE. M.S.E

Penulis : 1. Drs. SP. Balmer Nababan, MM


2. Ema Tusianti, M.Sc
3. Yelfesy, ST, MM
4. Yoyo Karyono, S.ST
5. Rizqi Akdes Prihatin, SE, MSi
6. I Gusti Ngurah Agung Rama Gunawan, S.ST, MT
7. Fahrizal, SE
8. Dyah Retno Prihatiningsih, B.St
9. Maryatun, SE
10. Fera Kurniawati, S.ST
11. Ir. Indah Sri Rejeki
12. Dina Nur Rahmawati, S.ST

Pengolah Data : 1. Yoyo Karyono, S.ST


2.
3. Adi Nugroho, S.ST
4. Nurul Huda Astuti, SE
5. Fera Kurniawati, S.ST

Tata Letak : 1. Adi Nugroho, S.ST


2.
3. Nurul Huda Astuti, SE
4. Nur Putri Cahyo Utami, S.ST
5. Kartiana Siregar, S.Si

ISBN : 978-602-60611-0-2
Sampul Bagian Belakang, Pojok Kiri Bawah

Penerbit :
Direktorat Bina Produktivitas, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kemnaker
Jl. Jend Gatot Subroto Kav 51, Jakarta Selatan
Telp (021) 52963356. Faks (021) 52963356

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang


Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
Atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

Dicetak oleh : CV. Tri Buana Dirgantara


Sambutan
Direktur Jenderal
Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas

Assalamu`alaikum Wr. Wb.,

Salam sejahtera untuk kita semua,

P uji syukur yang tak terhingga kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatNya
sehingga Buku Hasil Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional dan Sektoral ini dapat
diselesaikan dengan baik.

Produktivitas merupakan kata kunci keberhasilan ataupun kemajuan suatu negara,


karena peranannya yang paling besar dalam menghasilkan output yang berkualitas,
dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja dan pertumbuhan modal. Proses untuk
menghasilkan output baik dalam bentuk barang ataupun jasa, yang dilakukan dengan
produktif yaitu mengutamakan efisiensi, efektivitas, kualitas dan ramah lingkungan, akan
meningkatkan keuntungan perusahaan/organisasi yang pada akhirnya akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Buku ini menjelaskan dengan detail tingkat produktivitas yang dicapai Indonesia saat
ini, bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara lain, bagaimana kesiapan
Indonesia menghadapi persaingan global dan hal-hal yang perlu ditindaklanjuti segera bila
Indonesia ingin menjadi negara produktif dan berdaya saing, terutama ditinjau dari segi
ketenagakerjaan.

Berbicara mengenai produktivitas di dunia ketenagakerjaan, berarti melibatkan semua


unsur, baik pemerintah, dunia usaha, dunia pendidikan dan masyarakat. Oleh karenanya,
saya menyambut gembira atas terbitnya buku ini, karena buku ini adalah sumber data dan
informasi satu-satunya di Indonesia yang dapat memberikan gambaran kepada kita semua
akan kondisi produktivitas Indonesia saat ini, baik nasional, regional maupun sektoral.
Kekuatan dan kelemahan masing-masing sektor dan daerah tergambarkan dengan jelas,
sehingga data dan informasi produktivitas yang disajikan dalam buku ini seyogyanya
menjadi dasar pijak dalam penyusunan kebijakan. Rencana strategis pembangunan nasional
di berbagai bidang baik secara makro maupun mikro termasuk pada level nasional dan
level daerah, yang dirumuskan berdasarkan produktivitas, dilaksanakan dengan produktif

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral i


Tahun 2016
Sambutan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas

dan ditujukan untuk peningkatan produktivitas yang lebih tinggi dari sebelumnya,
akan membawa semua unsur mampu bergerak produktif merealisasikan citacita
pembangunan nasional yaitu kemakmuran dan kesejahteraan.

Semoga ketersediaan data dan informasi produktivitas bangsa dalam Buku Hasil
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional dan Sektoral yang diterbitkan setiap
tahun ini dapat menjadi acuan utama semua unsur agar tercipta suatu gerakan nasional
peningkatan produktivitas yang mengacu pada 4 (empat) strategi dasar yaitu pemasifan
upaya peningkatan kompetensi SDM, penataan manajemen dan sistem birokrasi
secara menyeluruh, pengembangan teknologi dan inovasi secara terus menerus, dan
pembudayaan sikap produktif dan etos kerja. Semoga semangat membangun bangsa
melalui peningkatan produktivitas dapat kita lakukan dengan komitmen tinggi dan terus
menerus, bersinergi semua unsur dengan semangat kebangsaan.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada semua pihak, terutama kepada Badan Pusat Statistik atas
dukungan dan kerjasama tanpa letih sampai terbitnya buku ini. Semoga upaya yang telah
kita bangun bersama membawa berkah manfaat untuk menjadikan bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang produktif, berdaya saing, sejahtera dan bermartabat.

Wassalamu`alaikum Wr. Wb.,

Jakarta, November 2016


Direktorat Jenderal
Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas

Ir. Khairul Anwar, MM

ii Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Kata Pengantar

S ebagai wujud dari fungsi pembinaan dan fasilitasi terhadap kegiatan instansi pemerintah
di bidang statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) telah bekerjasama dengan Kementerian
Ketenagakerjaan untuk menyusun buku Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional,
dan Sektoral Tahun 2016. Buku ini berisi indikator statistik dan ulasan tentang gambaran
produktivitas tenaga kerja nasional, regional, dan sektoral.

Buku ini diharapkan dapat membantu pemerintah, pengusaha dan masyarakat


dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi nasional, regional, dan sektoral dengan
menyajikan berbagai informasi mengenai situasi ekonomi dan ketenagakerjaan. Informasi
yang disajikan diantaranya mencakup produktivitas tenaga kerja, produktivitas per jam
kerja, dan Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh (ETK).

Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Ketenagakerjaan atas


kepercayaannya kepada BPS untuk mengembangkan data produktivitas tenaga kerja.
Terima kasih juga disampaikan untuk semua pihak yang membantu tersusunnya buku ini.
Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Jakarta, November 2016


Kepala Badan Pusat Statistik,

Dr. Suhariyanto

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral iii


Tahun 2016
Daftar Isi
SAMBUTAN i
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv

BAB 1. PENTINGNYA MENGUKUR PRODUKTIVITAS 1


Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan 1
Pentingnya Mengukur Produktivitas Kegiatan Ekonomi 2

BAB 2. PRODUKTIVITAS INDONESIA DALAM TATARAN GLOBAL 5


Daya Saing Indonesia di Mata Dunia 5
Bagaimana Produktivitas
Produktivitas Jam Kerja
Tenaga Tenaga
Indonesia
Kerja KerjadiIndonesia
di Tingkat
Indonesia TarafASEANdi Taraf
MasihInternasional?Daya
Internasional?Rendah 7
TawarTawar
Daya Tenaga
TenagaKerja Indonesia dalam
Kerja Indonesia dalam Menghadapi
Menghadapi Masyarakat
Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) 9

BAB 3. GAMBARAN PRODUKTIVITAS


BAB PRODUKTIVITASNASIONAL
NASIONAL 11
Kondisi UmumEkonomi
Pertumbuhan Perekonomian Ketenagakerjaan Indonesia
danMelambat
Indonesia 11
Tenaga Kerja Indonesia Secara Kuantitas dan Kualitas
Terus Meningkat 13
Produktivitas Tenaga
Tenaga Kerja
Kerja Nasional
Nasional Meningkat
Meningkat 17
ProduktivitasTenaga
Peningkatan Produktivitas TenagaKerja
KerjaSearah
Searah dengan
dengan Peningkatan
Peningkatan
Upah 18
TenagaKerja
Produktivitas Tenaga Kerja
TahunPenuh
Penuh LebihLebih
LebihPenuh
2015 Rendah Tinggi Dibandingkan
Dibandingkan
Rendah Dibandingkan
Produktivitas Tenaga Kerja pada Tahun 2015 19
Produktivitas Jam Kerja Meningkat 21
Peluang dan Tantangan
Tantangan dalam
dalam Meningkatkan
Meningkatkan Produktivitas 23

BAB 4.
4.GAMBARAN
GAMBARANPRODUKTIVITAS
PRODUKTIVITASREGIONAL
REGIONALDI DIINDONESIA
INDONESIA 28
Produktivitas Tenaga
Tenaga Kerja
Sebagian
Kerja Bebarapa
Besar Provinsi
Provinsi Provinsi
Berada
Masih Masih
di
Perlu BawahPerlu Ditingkatkan
Level
Ditingkatkan Nasional 28
33
Banyak Tenaga
Masih Banyak TenagaKerja
KerjadidiProvinsi
Provinsi yang
yang Bekerja
Bekerja Diatas
Diatas JamJam
KerjaKerja
Normal 35
Gambaran Produktivitas Kabupaten/Kota 36

BAB 5. GAMBARAN PRODUKTIVITAS SEKTORAL DI INDONESIA 41


Tinggi
Tertinggi
Sektor Real Estat Memiliki Produktivitas yang Tinggi 42
46
Jam Kerja di Beberapa Sektor di Atas Jam Kerja Normal 48

iv Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral


Tahun 2016
BAB 6. KESIMPULAN 52

DAFTAR PUSTAKA 54
LAMPIRAN 57
CATATAN TEKNIS 213

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral v


Tahun 2016
BAB
BAB 11

Pentingnya
Pentingnya
Mengukur
MengukurProduktivitas
Produktivitas
BAB 1
BAB
BAB1 1
BAB 1

PENTINGNYA
PENTINGNYA
PENTINGNYA
PENTINGNYA
MENGUKURPRODUKTIVITAS
MENGUKUR
MENGUKUR PRODUKTIVITAS
PRODUKTIVITAS

MENGUKUR PRODUKTIVITAS
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
Peningkatan
PeningkatanProduktivitas
ProduktivitasSebagai
SebagaiTujuan
TujuanPembangunan
Pembangunan

PPP
erkembangan teori ekonomi telah membawa berbagai perubahan terkait dengan
erkembangan
erkembangan
bagaimanateori teoriekonomi
mengukur ekonomi telah
performatelah membawa
suatu membawa
negara.berbagai
berbagai
Salah satuperubahan
perubahan
kriteria yangterkait
terkait
seringdengan
dengan
digunakan
bagaimana
bagaimana mengukur
mengukur performa
performa suatu
suatu negara.
negara. Salah
Salahsatu
untuk mengetahui kinerja suatu negara atau daerah adalah pertumbuhan ekonomi satukriteria
kriteria
yang
yang sering
seringdigunakan
digunakan
untuk
untuk mengetahui
mengetahui
(Krisnamurthi, kinerja
1995 kinerja
dan suatu
suatunegara
Sukirno, negara
1996). atau ataudaerah
Dalam daerahadalah
menciptakan adalah pertumbuhan
pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi
ekonomi
ekonomi yang
(Krisnamurthi,
(Krisnamurthi,
besar, diperlukan pertumbuhan output (Adam Smith dalam Arsyad, 1999) yang yang
1995
1995 dandanSukirno,
Sukirno,1996).
1996). Dalam
Dalam menciptakan
menciptakan pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi
ekonomi yang
biasanya
besar,
besar,diperlukan
diukurdiperlukan
denganpertumbuhan
pertumbuhan
Produk output
Domestik output
Bruto (Adam
(Adam
(PDB)SmithSmith
atau dalam
dalamDomestik
Produk Arsyad,
Arsyad,1999)
1999) yang
Regional yang biasanya
Brutobiasanya
(PDRB).
diukur
diukur dengan
dengan Produk
Produk Domestik
Domestik Bruto
Bruto (PDB)
(PDB) atau
atauProduk
Produk Domestik
Domestik Regional
Regional Bruto
Bruto(PDRB).
(PDRB).
Berbicara tentang output, maka tidak terlepas dari sistem produksi di suatu negara yang
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
Berbicara
terdiri
Berbicara
terdiri
terdiri
daritentang
3tentang output,
komponen, output,maka
maka
yaitu tidak
tidak
sumber terlepas
terlepas dari
daya alam, dari
sistem
sistem
sumber produksi
selanjutnya disebut sebagai faktor produksi. Pertumbuhan kualitas maupun kuantitasyang
dari
dari
3 3
komponen,
komponen, yaitu
yaitusumber
sumber dayadaya alam,
alam, sumber
sumber daya
produksi didi
suatu
daya manusia,
daya manusia,
manusia,
suatu
dan
dan
negara
negara
dan
modal
yang
modal
modal
yang
yang
yang
faktor-
selanjutnya
selanjutnya disebut
disebut
faktor produksi sebagai
sebagai
tersebut faktor
faktorproduksi.
adalah produksi.
booster Pertumbuhan
Pertumbuhan
pertumbuhan kualitas
kualitasmaupun
ekonomi maupun kuantitas
kuantitas
bersama-sama faktor-
faktor-
dengan

P
faktor
faktorproduksi
produksi tersebut
tersebut adalah
adalah booster
booster pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi
ekonomi
pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999). Akumulasi bersama-sama
bersama-sama dengan
dengan
erkembangan
pemanfaatan
pemanfaatan
dari berbagai teknologi
teknologi
faktor (Robert
teori
(Robert
tersebut Solow
akan
ekonomi
Solow dan danTrevor
Trevor
menghasilkan
telah
Swan
Swan membawa
dalam
dalamArsyad,
pertumbuhan Arsyad, berbagai
1999).
ekonomi 1999).Akumulasi
yangAkumulasi perubahan terkait
tinggi jika
dari
dari bagaimana
berbagai
berbagai
didukung faktor
dengan mengukur
faktortersebut
tersebut akan
produktivitas performa
akanmenghasilkan
menghasilkan
yang tinggi pula. suatu
Dengannegara.
pertumbuhan
pertumbuhan ekonomiSalah
ekonomi
demikian, yang satu
yang
pertumbuhan tinggi kriteria
tinggi jika yang sering di
jika
ekonomi
didukung
didukung dengan
dengan produktivitas
produktivitas yang
yang tinggi
tinggi pula.
pula.
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi. Dengan
Dengan demikian,
demikian, pertumbuhan
pertumbuhan ekonomi
ekonomi
tidakuntuk
tidakdapat
dapat mengetahui
terlepas
terlepas dari
dari kinerja
produktivitas
produktivitas suatu produksi.
faktor-faktor
faktor-faktor negara
produksi. atau daerah adalah pertumbuhan e
Dengan demikian, produktivitas merupakan salah satu indikator penting dalam aktivitas
(Krisnamurthi,
Dengan
Dengan demikian,
demikian, 1995 danmerupakan
produktivitas
produktivitas Sukirno,
merupakan 1996).
salah
salah satu
satu Dalam
indikator
indikator menciptakan
penting
penting dalam
dalam pertumbuhan ekono
aktivitas
aktivitas
ekonomi. Produktivitas merupakan daya ungkit (leverage) bagi pertumbuhan ekonomi
besar,
ekonomi.
ekonomi.
nasional diperlukan
Produktivitas
Produktivitas
dalam jangka pertumbuhan
merupakan
merupakan
panjang. daya
Hal daya ungkit
ini yang output
ungkit (leverage) (Adam
(leverage)
menjadi salah bagi Smith
bagipertumbuhan
satu pertumbuhan
alasan dalam
mengapa ekonomiArsyad,
ekonomi
dewasa ini 1999) yang
nasional
nasional dalam
dalam jangka
jangka panjang.
panjang. Hal
Haliniini
yangyang menjadi
banyak negara yang berlomba dalam meningkatkan produktivitas.menjadi salah
salah satu
satualasan
alasanmengapa
mengapa dewasa
dewasa iniini
diukur
banyak
banyak negara dengan
negara yangyang Produk
berlomba
berlomba dalamDomestik
dalam meningkatkan
meningkatkan Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto
produktivitas.
produktivitas.
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
DiDitataran
tataran nasional,
nasional, produktivitas
produktivitas merupakan
merupakan salah
salah satu
satuisuisupembangunan
pembangunan yang
yang
menjadi
menjadi
menjadi
Berbicara
bagian
bagian
bagian agenda
agenda
tentang
agenda
prioritas
prioritas
output,
prioritas pemerintah
pemerintah
pemerintah
maka
saat
saat
tidak
saat
ini.
ini.
terlepas
ini. Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
dari sistem
produktivitas
produktivitas
produktivitas
produksi
menjadi
menjadi
menjadi
di suatu neg
salah satu program pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
salahterdiri
salah satu
Nasional dari
satuprogram
program
(RPJMN) 3 komponen,
pembangunan
pembangunan
2015-2019. Sasaranyaitu
dalam
dalam sumber
Rencana daya
RencanaPembangunan
pembangunan jugaalam,
Pembangunan
ini merupakan sumber
Jangka
Jangka dayadalam
Menengah
Menengah
terjemahan manusia, dan mo
Nasional
Nasional (RPJMN)
(RPJMN) 2015-2019.
2015-2019. Sasaran
Sasaran pembangunan
pembangunan iniini
jugajuga merupakan
merupakan terjemahan
terjemahan dalam
dalam
selanjutnya
Nawacita
Nawacita
Nawacita
Presiden
Presiden
Presiden
disebut
Joko
Joko Widodo
Widodo
sebagai
Joko Widodo
pada
pada
pada butir
faktor
butir keenam.
keenam.
produksi.
butir keenam. Pertumbuhan kualitas maupun kuantita
faktor produksi tersebut adalah booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama
pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999). Ak
1 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
11 dari berbagai
Pengukuran
Pengukuran
Produktivitas
Pengukuran
Tahun Produktivitas
Produktivitas
2016 faktor
Nasional,
Nasional, tersebut
Regional,
Nasional, Regional,
dandan
Regional, dan Sektoral akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang ti
Sektoral
Sektoral
Tahun
Tahun
Tahun2016
2016
2016
didukung dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan demikian, pertumbuhan e
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi.
Pentingnya Mengukur Produktivitas BAB 1

Nawa Cita: Joko Widodo-Jusuf Kalla 2014-2019

1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa
aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional
yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi
kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang
bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya
memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan
konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.

AS
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam
kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang
bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan
pelatihan dengan program Indonesia Pintar; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat
dengan program Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera dengan mendorong land reform
dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah Kampung Deret atau rumah
susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa
Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi
domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan
nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan
gunan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa,
nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam
kurikulum pendidikan Indonesia.

terkait dengan 9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan
memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.
ering digunakan
buhan ekonomi
Pentingnya Mengukur Produktivitas Kegiatan Ekonomi
n ekonomi yang
9) yang biasanya Secara teori, teori, produktivitas
produktivitas diartikan sebagaioutput
diartikansebagai outputproduk
produkatau jasa untuk
berupa barangsetiap
atau
inputuntuk
jasa atau faktor
setiap produksi yang
input atau digunakan
faktor produksidalam suatu proses
yang digunakan produksi
dalam suatu(Syverson, 2011).
proses produksi
nal Bruto (PDRB). (Syverson,
Produktivitas2011).
ditujukan untuk melihat
Produktivitas efisiensi
ditujukan produksi
untuk dengan
melihat membandingkan
efisiensi input
produksi dengan
yang digunakan untuk
membandingkan input yang digunakanoutput.
memproduksi Faktor inputoutput.
untuk memproduksi merupakan ukuran
Faktor input unit-unit
merupakan
uatu negara yangukuran
sumberunit-unit
daya, yang dapatdaya,
sumber berupa
yangsumber material
dapat berupa atau bahan
sumber material baku,
atautenaga
bahan kerja, mesin-
baku, tenaga
mesin,mesin-mesin,
serta sumberserta
daya sumber
pikiran otak
daya manusia. Sedangkan
manusia.pengukuran
Sedangkan produktivitas
dan modal yangkerja,
adalah penilain
produktivitas kuantitatif
adalah ataskuantitatif
penilain perubahan
pikiran otak
produktivitas.
atas perubahan produktivitas.
pengukuran

kuantitas faktor-
ma-sama dengan
1999). Akumulasi
yang tinggi jika Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 2
3
2
Tahun 2016
mbuhan ekonomi
BAB 1 Pentingnya Mengukur Produktivitas

Dengan demikian,
demikian, pengukuran
pengukuran produktivitas
produktivitasdapat
dapatdikembangkan
dikembangkanuntuk berdasarkan
masing-
masing-masing komponen
masing input secara input secara
terpisah terpisah atau
atau seluruh inputmenurut
secara seluruh input secara
bersama-sama. bersama-
Pengukuran
sama. Pengukuran
produktivitas produktivitas
masing-masing masing-masing
input sering disebut denganinput
komponen sering disebut
produktivitas dengan
parsial yang
produktivitas
biasanya diukurparsial
denganyang biasanya diukur
menghitung dengan
rasio output menghitung
terhadap rasio output
input secara terhadap
langsung. salah
Sedangkan
satu input secara
produktivitas langsung.
total, mengukurSedangkan produktivitas
seluruh input total, mengukur
secara simultan. seluruh input
Karena keterbatasan datasecara
yang
simultan. Karenabuku
tersedia, maka keterbatasan dataproduktivitas
pengukuran yang tersedia,ini
maka buku
hanya Pengukuran
mengukur Produktivitas
produktivitas ini
tenaga
hanya mengukur produktivitas tenaga kerja saja.
kerja saja.

Dengan mengetahui tingkat produktivitas tenaga kerja, maka kondisi dan kemampuan
negara dalam
dalammerealisasikan
merealisasikancita-cita
cita-cita pembangunan
pembangunan bangsa
bangsa ditinjau
ditinjau dari kemampuan
dari kemampuan SDM
SDM juga diketahui
juga dapat dapat diketahui
dan diukur, dansehingga
diukur. perumusan
Dengan demikian,
kebijakanperumusan
dan perencanaankebijakan dan
program-
perencanaan
program pembangunanprogram-program
terutama di pembangunan, terutama akan
bidang ketenagakerjaan di bidang ketenagakerjaan,
lebih terarah dan terukur.
akan lebihtenaga
Jika faktor terarah danternyata
kerja terukur.mempunyai
Jika faktor kontribusi
tenaga kerjayangternyata mempunyai
rendah terhadap kontribusi
pertumbuhan
yang rendah
ekonomi, terhadap
yang pertumbuhan
ditunjukkan ekonomi, yang ditunjukkan
dengan produktivitasnya yang rendah dengan produktivitasnya
dibandingkan dengan
negararendah
yang lain atau dibandingkan
dibandingkan dengandengan
negaratahun-tahun sebelumnya, ini
lain atau dibandingkan berarti
dengan perlu ada
tahun-tahun
pembenahanini
sebelumnya, atau inovasi
berarti secara
perlu ada menyeluruh
pembenahan dibidang pengembangan
atau inovasi SDM. Kompetensi
secara menyeluruh di bidang
SDM dan etos kerja
pengembangan SDM. perlu ditingkatkan,
Kompetensi misalnya
SDM dan melalui
etos kerja perludunia pendidikan
ditingkatkan, atau pelatihan
misalnya melalui
kerja ataupun
dunia pendidikan pemagangan,
atau pelatihan tatakerja
caraataupun
bekerjapemagangan.
juga perlu diperbaiki, misalnya
Tata cara bekerja jugamelalui
perlu
pemasifan penerapan
diperbaiki, alat, teknik
misalnya melalui dan metodologi
pemasifan penerapanpeningkatan
alat, teknik danproduktivitas
metodologi di peningkatan
tempat kerja
agar pekerja bekerja
produktivitas di tempatdengan
kerja efisien, efektif,bekerja
agar pekerja berkualitas
dengandan efisien,
ramah lingkungan. Kebijakan-
efektif, berkualitas dan
kebijakan
ramah (social engineering)
lingkungan. yang mendukung
Kebijakan-kebijakan peningkatan
(social engineering) yangproduktivitas
mendukung tenaga kerja
peningkatan
lainnya sepertitenaga
produktivitas kesehatan
kerjadan keselamatan
lainnya kerja, hubungan
seperti kesehatan industrial, pengupahan
dan keselamatan kerja, hubungan dan
lain-lain juga
industrial, perlu dibenahi
pengupahan kearah yang
dan lain-lain lebihdibenahi
juga perlu mengutamakan peningkatan
ke arah yang produktivitas
lebih mengutamakan
tenaga kerja. Sedangkan
peningkatan produktivitasjika produktivitas
tenaga kerja.tenaga kerja tinggi,
Sedangkan maka perlu dilakukan
jika produktivitas tenaga upaya
kerja
pemeliharaan
tinggi, agar tingkat
maka perlu dilakukan produktivitas yang telah agar
upaya pemeliharaan dicapai tetapproduktivitas
tingkat dan tidak turun yangbahkan
telah
lebih meningkat
dicapai tetap dan di tahun-tahun
tidak turun bahkan yang akan
lebih datang. di
meningkat Kebijakan-kebijakan
tahun-tahun yang akan penyesuaian
datang.
ataupun inovasi tetap
Kebijakan-kebijakan diperlukan ataupun
penyesuaian untuk mendukung
inovasi tetap keberlangsungan
diperlukan untuk pembangunan,
mendukung
misalnya ekspansi usaha,
keberlangsungan kesehatanmisalnya
pembangunan, dan keselamatan
ekspansi kerja
usaha, dengan penciptaan
kesehatan lingkungan
dan keselamatan
yang tetap
kerja dengan harmonis,
penciptaan bertanggung
lingkungan kerja jawab, ramah
yang tetap lingkungan
harmonis, dan bermartabat,
bertanggung dan
jawab, ramah
pemberian reward.
lingkungan dan bermartabat, dan pemberian reward.

Ditataran
Di tataran lokal,
lokal, mengukur
mengukur produktivitas
produktivitas regional
regional baik
baik provinsi maupun kabupaten/
kota diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan masing-masing provinsi
dan kabupaten/kota dalam melaksanakan program-program pembangunan. Kebijakan
dan perencanaan program nasional maupun regional menjadi lebih fokus karena sesuai
dengan kebutuhan provinsi dan kabupaten/kota. Kebijakan penentuan upah berdasarkan
produktivitas di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota akan lebih sesuai dengan
kondisi daerah masing-masing.

Selain itu, dengan mengetahui tingkat produktivitas sektoral, pemfokusan kebijakan


dan program-program pembangunan akan lebih sesuai. Tingkat disparitas sektor akan
mudah dideteksi sehingga alokasi anggaran pembangunan akan terbagi adil dan

3
3
4 Pengukuran
Pengukuran Produktivitas
Produktivitas Nasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun 2016
2016
Pentingnya Mengukur Produktivitas BAB 1

proporsional sesuai dengan prioritas sektor yang akan dikembangkan. Sektor-sektor yang
potensial berkembang namun memiliki produktivitas yang rendah dapat menjadi sektor
prioritas untuk dibenahi.

Buku ini diharapkan dapat membantu pemerintah, pengusaha dan masyarakat dalam
menyusun strategis pembangunan ekonomi nasional, regional dan sektoral dengan
menyajikan berbagai informasi mengenai situasi ekonomi dan ketenagakerjaan. Informasi
yang disajikan diantaranya produktivitas tenaga kerja, produktivitas per jam kerja, dan
ekuivalen tenaga kerja penuh (ETK).

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 4
Tahun
Tahun2016
2016
BAB
BAB 2
2

Produktivitas
Produktivitas
Indonesia
Indonesia
dalam
dalamTataran
TataranGlobal
Global
BAB 1
BAB
BAB1 2
BAB 1

PENTINGNYA
PENTINGNYA
PRODUKTIVITAS INDONESIA
PENTINGNYA
MENGUKUR
DALAM TATARAN
MENGUKUR PRODUKTIVITAS
GLOBAL
PRODUKTIVITAS

MENGUKUR PRODUKTIVITAS
Daya Saing Indonesia di Mata Dunia
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
Peningkatan Produktivitas
Iklim usaha yang Sebagai
kondusif diperlukan Tujuan Pembangunan
agar pertumbuhan ekonomi dapat terus meningkat

PP
dan berkelanjutan.
erkembanganKondisifitas
berkelanjutan. Kondisi ini ini
teori ekonomi perlu
perlu telahdidukung
didukung
membawa oleh
oleh berbagaifaktor,
berbagai
berbagai faktor,
perubahantidaksekedar
tidak sekedar
terkait aspek
dengan
erkembangan
ekonomibagaimana mengukur performa suatu negara. Salah satu kriteria yang seringdengan
semata, teori
tetapiekonomi
lebih luastelah
lagi membawa
seperti unsur berbagai
birokrasi perubahan
dan institusi, terkait
pelayanan dasar
digunakan
bagaimana
dan kecanggihan
untuk mengukur
mengetahui performa
teknologi. suatu
Faktor-faktor
kinerja suatu negara negara. Salah
tersebut satu
ataudigunakan kriteria
daerah adalah yang sering
untuk mengukur
pertumbuhan digunakan
posisiekonomi
tawar
untuk
suatu mengetahui
negara. Ukurankinerja
daya suatu
saing negara
bangsa atau
yang daerah
digunakan adalah
dalam pertumbuhan
melihat
(Krisnamurthi, 1995 dan Sukirno, 1996). Dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang posisi ekonomi
suatu negara
(Krisnamurthi,
terhadap 1995lainnya
negara
besar, diperlukan dan Sukirno,
adalah1996).
pertumbuhan Indeks Dalam
output Daya menciptakan
Saing
(Adam yangdalam
Smith pertumbuhan
dikeluarkan
Arsyad, oleh ekonomi
World
1999) yang yang
Economic
biasanya
besar,
Forum diperlukan
diukur(WEF). pertumbuhan output (Adam Smith dalam Arsyad, 1999)
dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). yang biasanya
diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
GambarBerbicara
2.1 Indeks tentang
Daya Saing Global Beberapa
output, maka tidak Negara, 2016-2017
terlepas dari sistem produksi di suatu negara yang
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
Berbicara
terdiri dari 3
tentang
komponen,
output,
yaitu
maka
sumber
tidak
terdiri dari 3 komponen, yaitu sumber daya alam,terlepas
daya alam,
dari sistem
sumber
sumber produksi
daya manusia,
selanjutnya disebut sebagai faktor produksi. Pertumbuhan kualitas maupun kuantitas
di suatu dan
daya manusia,
dan
negara
modal
yangyang
modal
yangfaktor-
selanjutnya disebut sebagai faktor produksi. Pertumbuhan kualitas
faktor produksi tersebut adalah booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama dengan maupun kuantitas faktor-

P
faktor produksi tersebut
pemanfaatan teknologiadalah
(Robertbooster
Solowpertumbuhan
dan Trevor Swan ekonomi
dalambersama-sama
Arsyad, 1999).dengan
Akumulasi
erkembangan
pemanfaatan teknologi teori
(Robert Solowekonomi
dan Trevor telah
Swan
dari berbagai faktor tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi
membawa
dalam Arsyad, berbagai
1999). Akumulasi
yang
perubahan terkait
tinggi jika
bagaimana
dari didukung
berbagai mengukur
faktor tersebut
dengan performa
akan menghasilkan
produktivitas yang suatu
Dengannegara.
pertumbuhan
tinggi pula. ekonomi
demikian, Salahyangsatu
pertumbuhan tinggikriteria
jika
ekonomi yang sering di
didukung dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi. demikian, pertumbuhan ekonomi
tidakuntuk mengetahui
dapat terlepas kinerja
dari produktivitas suatu produksi.
faktor-faktor negara atau daerah adalah pertumbuhan e
Dengan demikian, produktivitas merupakan salah satu indikator penting dalam aktivitas
(Krisnamurthi,
Dengan demikian, 1995 danmerupakan
produktivitas Sukirno,salah 1996).satu Dalam penting
indikator menciptakan pertumbuhan ekono
dalam aktivitas
ekonomi. Produktivitas merupakan daya ungkit (leverage) bagi pertumbuhan ekonomi
besar,
ekonomi.
nasional diperlukan
Produktivitas
dalam jangka pertumbuhan
merupakan
panjang. daya
Hal output
ungkitmenjadi
ini yang (leverage) (Adam
salah bagi Smith
satupertumbuhan
alasan dalam
mengapa Arsyad,
ekonomi
dewasa ini 1999) yang
nasional dalam jangka panjang. Hal ini yang menjadi
banyak negara yang berlomba dalam meningkatkan produktivitas. salah satu alasan mengapa dewasa ini
diukur
banyak negara dengan Produk
yang berlomba dalam Domestik
meningkatkan Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto
produktivitas.
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
menjadi
menjadi
Berbicara
bagian
bagian
agenda
tentang
agenda
prioritas
output,
prioritas maka
pemerintah
pemerintah saat
tidak
saat
ini.
terlepas
ini. Peningkatan
Peningkatan
dari sistem
produktivitas
produktivitas
produksi
menjadi
menjadi
di suatu neg
salah satu program pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
salahterdiri
Nasional dari
satu program
(RPJMN)3 komponen,
pembangunan
2015-2019. yaitu
dalam
Sasaran sumberPembangunan
Rencana
pembangunan daya
ini jugaalam,
merupakan sumber
Jangka dayadalam
Menengah
terjemahan manusia, dan mo
Nasional (RPJMN) 2015-2019. Sasaranpadapembangunan ini juga merupakan terjemahan dalam
selanjutnya
Nawacita disebut
Presiden sebagai
Joko Widodo
Nawacita Presiden Joko Widodo pada butir keenam.
faktor produksi.
butir keenam. Pertumbuhan kualitas maupun kuantita
faktor produksi tersebut adalah booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama
Sumber: Publikasi The Global Competitiveness Report 20162017 (World Economic Forum, 2016)

pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999). Ak
1 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
15 dari berbagai
Pengukuran
Pengukuran
Produktivitas
Pengukuran
Tahun Produktivitas
Produktivitas
2016 faktor
Nasional,
Nasional, tersebut
Regional,
Nasional, Regional,
dandan
Regional, dan Sektoral akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang ti
Sektoral
Sektoral
Tahun
Tahun
Tahun2016
2016
2016
didukung dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan demikian, pertumbuhan e
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi.
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global BAB 2

Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) 2016, posisi daya saing Indonesia
masih lebih rendah dari negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, dan
Singapura. Dengan skor 4,52, Indonesia berada pada posisi nomor 41 diantara 138 negara.
Dengan posisi tersebut, Indonesia masih unggul dibandingkan dengan Filipina, Vietnam,
Kamboja dan Laos.

Penilaian
Gambar 2.2 SkorWEF terkait
12 Pilar dayaGlobal
Daya Saing saingIndonesia,
didasarkan kepada
12 pilar, yakni kualitas institusi,
2016-2017
infrastruktur, kondisi makroekonomi, pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar, pelatihan
dan pendidikan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar
keuangan, penerapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi.

AS Gambar 2.2 Skor 12 Aspek Daya Saing Global Indonesia, 2016-2017

Sumber: Publikasi The Global Competitiveness Report 20162017 (World Economic Forum, 2016)

gunan Penilaian WEF terkait daya saing didasarkan pada 12 pilar, yakni kualitas institusi,
infrastruktur, kondisi makroekonomi, pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar, pelatihan

terkait denganSumber: Publikasi The Global Competitiveness Report 20162017 (World Economic Forum, 2016)
keuangan, penerapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi.
ering digunakan Berdasarkan laporan WEF tahun 2016, Indonesia berada di peringkat ke 10 sebagai
buhan ekonominegara dengan ukuran pasar terbesar di dunia. Selain itu, dalam pilar lingkungan ekonomi
makro, Indonesia bertengger di posisi ke-30. Sedangkan untuk kategori inovasi, Indonesia
n ekonomi yangmasih berada di posisi ke-31 dari 138 negara yang disurvei. Sayangnya, pada pilar lain seperti
9) yang biasanyakualitas pelayanan
pelayanan kesehatan
kesehatan dan danpendidikan
pendidikandasar, dasar,posisi
posisidi Indonesia
Indonesia masih
masih tergolong
rendah, yakni di posisi ke-100. Bahkan untuk efisiensi pasar tenaga kerja, Indonesia berada
nal Bruto (PDRB). di peringkat ke-108.
Efisiensi pasar tenaga kerja di antaranya diukur dari berbagai indikator seperti fleksibilitas
uatu negara yangpenetapan upah, praktik perekrutan tenaga kerja, partisipasi perempuan dalam pasar tenaga
dan modal yangkerja, kesesuaian antara upah dan produktivitas, kapasitas dalam penggunaan skill tenaga
kerja, hubungan
hubungan antara
antara buruh
buruh dan
dan pengusaha,
pengusaha, dll.
dll. B ila d itelusuri llebih
ebih d alam, rrendahnya
endahnya
kuantitas faktor-kerja, Bila ditelusuri dalam,
efisiensi tenaga kerja di Indonesia terutama disebabkan karena rendahnya fleksibilitas
ma-sama dengandalam penentuan upah dan partisipasi perempuan dalam ketenagakerjaan. Sedangkan
1999). Akumulasi
yang tinggi jika Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 6
9
Tahun 2016
mbuhan ekonomi
BAB 2 Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.

Sesungguhnya Indonesia memiliki pasar yang cukup baik untuk berinvestasi dan
memiliki peluang dalam meningkatkan daya saing. Didukung oleh sumberdaya alam yang
cukup besar dan potensi penduduk yang besar, bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti
Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin dalam perekonomian ASIA seperti halnya
prediksi Departemen Pertanian Amerika Serikat (Koran Sindo, 22 April 2015). Menurut riset
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya pada 2030 Indonesia akan masuk dalam
jajaran 20 besar negara-negara dengan perekonomian terbaik di dunia. Tentunya, untuk
mewujudkan cita-cita tersebut, diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni, yang
dapat bersaing di era globalisasi.

Produktivitas Jam Kerja Indonesia di Tingkat ASEAN Masih


Rendah

Dalam menghadapi persaingan global, maka peningkatan kualitas tenaga kerja adalah
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN yang
mencapai 20,6 ribu USD pada tahun 2014, ternyata produktivitas tenaga kerja Indonesia
masih berada di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar, Laos, Vietnam dan Filipina, level
produktivitas tenaga kerja Indonesia mencapai 23 juta USD. Namun, Singapura, Malaysia
dan Thailand selalu mengalahkan Indonesia dalam pencapaian produktivitas tenaga kerja.
Ketiga negara tersebut memang memiliki daya saing yang lebih baik dari Indonesia.

Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan Tiongkok.
Tiongkok memiliki produktivitas tenaga kerja yang lebih rendah dari Indonesia, namun
iklim usahanya ternyata cukup kondusif, sehingga memperoleh indeks daya saing jauh lebih
tinggi dari Indonesia. Dari 12 pilar, hanya kondisi pasar keuangan saja yang mengindikasikan
lebih baiknya kondisi Indonesia dibandingkan Tiongkok. Sedangkan efisiensi pasar kerja,
pelayanan dasar dalam pendidikan dan kesehatan, serta kondisi ekonomi makro merupakan
faktor utama mengapa daya saing Indonesia masih tertinggal dari Tiongkok.

10
7 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014

Tiongkok
Tiongkok
Tiongkok

Sumber: APO Productivity Data Book 2016

Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
54 juta USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga belum mampu mengimbangi produktivitas pekerja
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar.

Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013

Tiongkok

Sumber: APO Productivity Data Book 2015

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 11
8
Tahun
Tahun2016
2016
BAB 2 Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global

Sementara itu, dibandingkan dengan Tiongkok dan India, Indonesia masih unggul.
Dalam satu jam, tenaga kerja Indonesia mampu menciptakan output senilai 11,5 USD,
atau sekitar 2 USD lebih tinggi dibandingkan output yang diciptakan oleh tenaga kerja di
Tiongkok. Dibandingkan dengan Thailand, meskipun secara total produktivitas tenaga kerja
Indonesia lebih rendah, produktivitas per jamnya justru menunjukkan kondisi sebaliknya.
Hal ini bisa menggambarkan lebih efektifnya jam kerja tenaga kerja Indonesia.

Daya Tawar Tenaga Kerja Indonesia dalam Menghadapi


Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Peningkatan kemampuan dan pengetahuan tenaga kerja merupakan hal yang harus
dilakukan untuk menghadapi persaingan pasar dalam tingkat global seperti Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA). MEA merupakan pasar tunggal antar negara ASEAN, yaitu pasar
bebas yang meliputi arus barang, jasa, modal, dan investasi. Bentuk dari pasar bebas
tersebut adalah penghapusan bea masuk barang dan jasa. Dampak dari MEA adalah
arus barang maupun jasa antar negara ASEAN akan lebih mudah, termasuk didalamnya
adalah arus tenaga kerja. Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 40 persen dari total
penduduk ASEAN akan menjadi pasar utama arus barang, jasa maupun investasi. Dengan
diberlakukannya MEA, tenaga kerja Indonesia harus berkompetisi untuk memperebutkan
lapangan kerja yang tersedia. Negara dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi
akan mendapat keuntungan ekonomi dan demikian pula sebaliknya.

Terkait dengan prospek tenaga kerja dalam era MEA, Indonesia harus siap untuk
menghadapi tenaga terampil dari negara-negara ASEAN yang memasuki pasar tenaga kerja
dalam negeri. Hal ini akan menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi pemerintah maupun
rakyat Indonesia untuk bisa bersaing di tingkat global.

Upaya tenaga kerja Indonesia untuk berkompetisi di pasar kerja harus lebih keras.
Peningkatan skill (kemampuan) baik melalui pelatihan maupun pendidikan merupakan
salah satu cara untuk berkompetisi. Data pendidikan angkatan kerja yang dikeluarkan oleh
World Bank menunjukkan persentase penduduk Indonesia yang berpendidikan perguruan
tinggi keatas hanya kurang dari 10 persen (Gambar 2.5). Angka tersebut menempatkan
Indonesia pada posisi terakhir diantara 5 negara ASEAN. Thailand berada di atas Indonesia
dengan angka 12,8 persen, dan Singapura menduduki posisi tertinggi dengan angka 50
persen.

Gambar 2.5. menunjukkan secara nyata bahwa daya saing tenaga kerja Indonesia
dari sisi pendidikan tinggi masih terendah di antara lima negara besar di ASEAN. Potensi
angkatan kerja Indonesia masih kalah dibandingkan negara-negara ASEAN. Sebagaimana
yang ditetapkan dalam Mutual Recognition Arrangement (MRA), terdapat penentuan standar
dan persyaratan-persyaratan yang diterapkan baik di negara penerima maupun di negara
asal dalam pertukaran tenaga ahli secara bebas. Dengan diberlakukannya MEA, segala
keterbatasan yang dimiliki tenaga kerja Indonesia menjadi suatu tantangan tersendiri jika
tidak memenuhi MRA tersebut. Selain pendidikan yang rendah, keterbatasan tenaga kerja

12
9 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global BAB 2

Indonesia antara lain adalah produktivitas yang rendah, kemampuan berbahasa asing yang
rendah, keterampilan dan keahlian yang masih belum memadai (Pramudyo, 2014).

Gambar 2.5 Persentase Penduduk yang Bekerja dengan Pendidikan Perguruan Tinggi/Universitas di
Beberapa Negara (Persen), 2013

Sumber: World Bank Database, 2013

Catatan: *) Data Philipina tahun 2012

Tenaga kerja yang berkualitas, berkompeten dan trampil sangat diperlukan untuk
berkompetisi di era MEA. Dalam mewujudkan mimpi tersebut tentunya membutuhkan
kolaborasi berbagai pihak, dimulai dengan mempersiapkan kecerdasan sikap bergaul
dalam multikultur (Cultural Inteligence), kemampuan berbahasa Inggris hingga hal-hal yang
berkaitan dengan melek informasi dan teknologi.

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 13
10
Tahun
Tahun2016
2016
BAB
BAB 33

Gambaran
Gambaran
Produktivitas
ProduktivitasNasional
Nasional
BAB 1
BAB1 3
BAB
BAB 1

PENTINGNYA
GAMBARAN
PENTINGNYA
PENTINGNYA
MENGUKURPRODUKTIVITAS
MENGUKUR PRODUKTIVITAS
PRODUKTIVITAS NASIONAL

MENGUKUR PRODUKTIVITAS
Pertumbuhan
PeningkatanEkonomi Indonesia
Produktivitas Melambat
Sebagai Tujuan Pembangunan
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan

PSP
alah satu indikator
erkembangan teoriuntuk
ekonomimengukur kinerja perekonomian
telah membawa suatu negara
berbagai perubahan terkaitadalah
dengan
erkembangan
pertumbuhan teori
bagaimana mengukur ekonomi
ekonomi performa telah
yang dihitungmembawa berbagai
dengan
suatu negara. SalahProduk perubahan
Domestik
satu kriteria terkait
Bruto
yang sering dengan
(PDB).
digunakan
bagaimana
Pertumbuhan mengukur
untuk mengetahui performa
ekonomikinerja
yang tinggisuatu
suatu negara.atau
Salahdaerah
mengindikasikan
negara satu kriteria
adanya yang sering digunakan
penambahan
adalah pertumbuhan outputekonomi
yaitu
untuk
berupa mengetahui
barang dan kinerja
jasa yangsuatu
tingginegara
pula. atau
Bagi daerah
negara-negara adalah pertumbuhan
berkembang
(Krisnamurthi, 1995 dan Sukirno, 1996). Dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang seperti ekonomi
Indonesia,
(Krisnamurthi,
pertumbuhan 1995
besar, diperlukan dan
ekonomi Sukirno,
pertumbuhan 1996).
yang tinggi danDalam
output menciptakan
berkelanjutan
(Adam Smith pertumbuhan
mempunyai
dalam arti yang
Arsyad, ekonomi
1999) yang yang
penting karena
biasanya
besar, diperlukan
merupakan
diukur dengan pertumbuhan
salah Produk
satu syarat output (Adam
yang diperlukan
Domestik Smith
Bruto (PDB)dalam dalam Arsyad,
proses Domestik
atau Produk 1999)
pembangunan yang
Regional biasanya
di suatu
Brutonegara
(PDRB).
diukur
(Meier,dengan
1995).Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Berbicara tentang output, maka tidak terlepas dari sistem produksi di suatu negara yang
Berbicara
terdiri
terdiri dari
daritentang
3 komponen,
output,yaitu
3 komponen,
yaitu
makasumber
sumber Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
tidak terlepas
daya alam,
dari sistem
daya alam,
sumber
sumber produksi
daya
di suatu dan
daya manusia,
manusia,
selanjutnya disebut sebagai faktor produksi. Pertumbuhan kualitas maupun kuantitas faktor- dan
negara
modal
yangyang
modal
yang
selanjutnya disebut sebagai
faktor produksi tersebut faktor produksi.
adalah booster Pertumbuhan
pertumbuhan kualitas maupun
ekonomi kuantitas faktor-
bersama-sama dengan

P
faktor
pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999).dengan
produksi tersebut adalah booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama Akumulasi
pemanfaatanerkembangan
dari berbagaiteknologi teoriakan
faktor (Robert
tersebutSolow
ekonomi
dan Trevortelah
menghasilkan Swan membawa
dalam
pertumbuhan Arsyad, berbagai
1999).
ekonomi Akumulasi
yang
perubahan terkait
tinggi jika
bagaimana
dari didukung
berbagai mengukur
faktor tersebut
dengan performa
akan menghasilkan
produktivitas yang suatu
Dengannegara.
pertumbuhan
tinggi pula. ekonomi
demikian, Salahyangsatu
pertumbuhan tinggikriteria
jika
ekonomi yang sering di
didukung dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi. demikian, pertumbuhan ekonomi
tidakuntuk mengetahui
dapat terlepas kinerja
dari produktivitas suatu produksi.
faktor-faktor negara atau daerah adalah pertumbuhan e
Dengan demikian, produktivitas merupakan salah satu indikator penting dalam aktivitas
(Krisnamurthi, 1995 danmerupakan Sukirno,salah 1996). Dalam penting
menciptakan pertumbuhan ekono
Foto: dok Dir. Produktivitas dan Kewirausahaan

Dengan demikian,
ekonomi. produktivitas
Produktivitas merupakan daya ungkit satu indikator
(leverage) dalam aktivitas
bagi pertumbuhan ekonomi
besar,
ekonomi.
nasional diperlukan
Produktivitas
dalam jangka pertumbuhan
merupakan
panjang. daya
Hal output
ungkitmenjadi
ini yang (leverage) (Adam
salah bagi Smith
satupertumbuhan
alasan dalam
mengapa ekonomiArsyad,
dewasa ini 1999) yang
nasional dalam jangka panjang. Hal ini yang menjadi
banyak negara yang berlomba dalam meningkatkan produktivitas. salah satu alasan mengapa dewasa ini
diukur
banyak negara dengan Produk
yang berlomba dalamDomestik
meningkatkan Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto
produktivitas.
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
menjadi
menjadi
Berbicara
bagian
bagian
agenda
tentang
agenda
prioritas
output,
prioritas maka
pemerintah
pemerintah saat
tidak
saat
ini.
terlepas
ini. Peningkatan
Peningkatan
dari sistem
produktivitas
produktivitas
produksi
menjadi
menjadi
di suatu neg
salah satu program pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
salahterdiri
Nasional dari
satu program
(RPJMN) 3 komponen,
pembangunan
2015-2019. Sasaranyaitu
dalam sumberPembangunan
Rencana
pembangunan daya
ini jugaalam,
merupakan sumber
Jangka dayadalam
Menengah
terjemahan manusia, dan mo
Nasional (RPJMN) 2015-2019. Sasaranpadapembangunan ini juga merupakan terjemahan dalam
selanjutnya
Nawacita Presidendisebut sebagai
Joko Widodo
Nawacita Presiden Joko Widodo pada butir keenam.
faktor produksi.
butir keenam. Pertumbuhan kualitas maupun kuantita
faktor produksi tersebut adalah booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama
pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999). Ak
1 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
111 dari berbagai
Pengukuran
Pengukuran
Produktivitas
Pengukuran
Tahun Produktivitas
Produktivitas
2016 faktor
Nasional,
Nasional, tersebut
Regional,
Nasional, Regional,
dandan
Regional, dan Sektoral akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang ti
Sektoral
Sektoral
Tahun
Tahun
Tahun2016
2016
2016
didukung dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan demikian, pertumbuhan
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi.
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,79 persen, terendah
selama lima tahun terakhir. Hal ini diakibatkan oleh berbagai faktor terutama perekonomian
global yang belum menunjukkan sinyal positif. Belum pulihnya kondisi ekonomi negara-
negara besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat merupakan faktor utama yang
menghambat pertumbuhan ekspor Indonesia, khususnya produk manufaktur. Hal ini
karena kedua negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia. Di samping
itu, menurunnya harga komoditas dunia ikut mendorong pelemahan tersebut. Meskipun
demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dinilai lebih bagus dibandingkan
kondisi Rusia dan Brazil yang mengalami penurunan PDB dalam periode waktu yang sama.
Pertumbuhan ekonomi Rusia dan Brazil masing-masing sebesar -3,7 persen dan -3,8 persen

AS (World Bank, 2016).

Gambar 3.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Persen), 2011-2015

gunan

terkait dengan
ering digunakanSumber: BPS, PDB Indonesia, 2011-2015
buhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari pengaruh pertumbuhan penduduk maupun
n ekonomi yangpertumbuhan angkatan kerja. Hal ini dikarenakan tenaga kerja merupakan salah satu faktor
9) yang biasanyaproduksi dari aktivitas ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Sementara
penduduk merupakan pasar bagi output yang dihasilkan oleh aktivitas ekonomi tersebut.
nal Bruto (PDRB). Menurut Todaro (2000) pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja secara
tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang dapat memacu pertumbuhan
uatu negara yangekonomi. Pertumbuhan jumlah tenaga kerja akan menambah tingkat produksi, sementara
dan modal yangjumlah penduduk yang besar menunjukkan ukuran pasar domestik yang potensial. Namun
demikian hal tersebut tidak otomatis terjadi, karena sangat tergantung dari kualitas tenaga
kuantitas faktor-kerja dan pengelolaan suatu negara.
ma-sama dengan
1999). Akumulasi
yang tinggi jika Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 17
12
Tahun 2016
mbuhan ekonomi
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

Pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi, pada gilirannya akan
menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor-faktor produksi yang digunakan. Salah
satunya adalah penyerapan tenaga kerja. Perlambatan ekonomi Indonesia pada tahun
2015 berdampak pada penyerapan tenaga kerja yang juga cenderung melambat. Pada
tahun 2015 terdapat sekitar 114 juta tenaga kerja yang berkontribusi dalam perekonomian
Indonesia. Jumlah tenaga kerja tersebut, hanya meningkat sebesar 0,17 persen dari tahun
sebelumnya. Kondisi ini hampir serupa dengan pertumbuhan di tahun 2012 ke 2013 yang
hanya meningkat sebesar 0,23 persen. Rendahnya penambahan netto tenaga kerja pada
tahun 2015 tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Perekonomian
meningkat sekitar 5 persen tetapi penambahan netto tenaga kerja hanya naik di bawah 1
persen. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas tenaga kerja
yang signifikan.

Tenaga Kerja Indonesia Terus Meningkat

Indonesia mempunyai potensi tenaga kerja yang cukup besar dari sisi kuantitas. Hal
ini sejalan dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta
pada tahun 2015. Jumlah penduduk Indonesia yang besar ditambah dengan adanya bonus
demografi menjadi kunci sukses bagi peningkatan daya saing Indonesia. Dengan dukungan
peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, akan berdampak pada peningkatan
produktivitas tenaga kerja dan peningkatan daya saing nasional.

Gambar 3.2 Jumlah Angkatan Kerja dan Tenaga Kerja di Indonesia (Juta Orang), 2011-2015

Sumber: BPS, Sakernas Agustus 2011-2015

18
13 PengukuranProduktivitas
Pengukuran ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun2016
Tahun 2016
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Jumlah angkatan kerja yang menggambarkan penawaran tenaga kerja selama lima
tahun terakhir cenderung meningkat. Data tahun 2015 menunjukkan bahwa ada sekitar
122 juta orang angkatan kerja di Indonesia, sebanyak 115 juta orang diantaranya tercatat
sebagai penduduk yang bekerja. Dengan kata lain, tingkat kesempatan kerja pada tahun
2015 tercatat sebesar 93,82 persen. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan kondisi
tahun sebelumnya seperti terlihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) di Indonesia (Persen), 2011-2015

Sumber: BPS, Sakernas Agustus 2011-2015

Dengan jumlah tenaga kerja yang besar, seharusnya mampu mendongkrak


perekonomian nasional, sekaligus menciptakan lapangan kerja. Seperti yang dikemukakan
oleh Smith (2003) bahwa pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja saling
berkaitan dan menguatkan. Namun, untuk menciptakan ekonomi yang kuat, tenaga
kerja yang berkualitas merupakan sebuah prasyarat yang utama. Hasil Sakernas 2015
menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tenaga kerja Indonesia masih rendah karena
sebagian besar berpendidikan SLTP ke bawah. Tenaga kerja yang berpendidikan SD sekitar
27 persen, bahkan masih terdapat 4 persen yang tidak pernah sekolah, dan 13 persen yang
tidak tamat SD (Gambar 3.4).

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 19


14
Tahun 2016
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

Gambar 3.4 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Pendidikan yang
Ditamatkan, 2015

Sumber: Sakernas Agustus 2015

Rendahnya kualitas tenaga kerja Indonesia tidak hanya karena rendahnya pendidikan
tenaga kerja. Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Tenaga Kerja Benny Soetrisno, hal
ini terutama disebabkan oleh sistem pendidikan dan pelatihan yang lebih berorientasi pada
supply driven. Akibatnya terjadi kesenjangan dan ketidakcocokan antara penawaran dengan
permintaan (www.kadin-databisnis.com). Dengan kata lain kualifikasi sumber daya manusia
belum sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh dunia usaha. Hal ini berdampak pada
rendahnya produktivitas dan meningkatnya pengangguran.

Tenaga kerja dengan kualitas pendidikan yang rendah, akan berdampak pada rendahnya
daya tawar tenaga kerja Indonesia. Hal tersebut akan menyebabkan tidak tertampungnya
mereka pada lapangan pekerjaan yang lebih professional yang mensyaratkan keahlian dan
kualifikasi tinggi. Tenaga kerja Indonesia yang tidak terkategori sebagai tenaga profesional
tersebut lebih berkecimpung di kegiatan dan lapangan usaha yang sifatnya informal.

Berdasarkan data Sakernas, di tahun


Sakernas 2015, 201560
hampir hampir
persen60tenaga
persenkerja
tenaga kerja di Indonesia
di Indonesia bekerja
bekerja
di di kegiatan
kegiatan informal informal
(Gambar(Gambar 3.5). Meskipun
3.5). Meskipun persentasenya
persentasenya menurunmenurun selama
selama periode
periode 2010-2015,
2010-2015, angka iniangka
masihinicukup
masihtinggi.
cukupOleh
tinggi. Olehitu,
sebab sebab itu, kegiatan
kegiatan informalinformal
menjadimenjadi
sangat
sangat penting
penting bagi perekonomian
bagi perekonomian Indonesia,
Indonesia, karena kemampuannya
karena kemampuannya dalam menyerap
dalam menyerap tenaga
tenaga
kerja kerja
dan dan
tidak tidak menuntut
menuntut tingkat tingkat
keahliankeahlian dan keterampilan
dan keterampilan yang(Bappenas,
yang tinggi tinggi (Bappenas,
2009).
2009).

15
20 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Gambar 3.5 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja pada Kegiatan Informal, 2010-2015

Sumber: BPS, Sakernas Agustus 2015

Catatan: Kategori Informal dilihat dari status pekerjaan, diantaranya bagi penduduk yang bekerja dengan status berusaha sendiri, berusaha

dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar, pekerja bebas di pertanian, pekerja bebas di non pertanian, dan pekerja keluarga/tak dibayar

Kegiatan informal mempunyai karakteristik antara lain: berskala kecil, dimiliki oleh
individu atau keluarga, menggunakan teknologi yang sederhana, bersifat padat tenaga kerja,
pendidikan dan keahlian tenaga kerja rendah, dan tingkat upah yang relatif rendah pula
(Bappenas, 2009). Keberadaan dan kelangsungan kegiatan informal di dalam perekonomian
Indonesia merupakan realitas yang juga berperan dalam menyediakan peluang kerja bagi
angkatan kerja. Kegiatan informal mampu menampung tenaga kerja dengan keahlian yang
kurang. Sebagai dampak positif kegiatan informal adalah berkurangnya pengangguran.

Sektor informal muncul karena ketiadaan lapangan kerja formal yang cukup, khususnya
di perkotaan. Namun, sektor informal merupakan wujud dari benih-benih kewirausahaan
dan merupakan bentuk dari diversifikasi usaha. Tidak sedikit kegiatan informal yang
mampu menghasilkan pendapatan yang cukup tinggi, bahkan merupakan langkah awal
bagi timbulnya skala usaha yang lebih besar. Oleh sebab itu, sektor informal perlu untuk
ditingkatkan kinerjanya dengan peningkatan kualitas tenaga kerja. Perluasan investasi di
bidang pendidikan dan pelatihan keterampilan, penguatan fungsi Balai Latihan Kerja (BLK),
dan penerapan sistem magang adalah beberapa upaya lain yang dapat dilakukan.

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 21
16
Tahun
Tahun2016
2016
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

Produktivitas Tenaga Kerja Nasional Meningkat

Secara teori, produktivitas adalah efisiensi dalam proses produksi. Produktivitas


menggambarkan seberapa banyak output yang dihasilkan dari input yang tersedia.
Produktivitas juga dapat diartikan sebagai sebuah rasio ouput dan input (Syverson, 2011).
Menurut International Labor Organization (ILO), produktivitas merupakan indikator penting
untuk mengukur performa ekonomi. Selain itu, pengukuran produktivitas tenaga kerja dapat
digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan ketenagakerjaan dan evaluasi terhadap
hasil dari kebijakan tersebut.

Salah satu jenis produktivitas adalah produktivitas tenaga kerja. Angka ini
menggambarkan ouput yang dihasilkan oleh setiap tenaga kerja pada tahun tertentu.
Semakin tinggi angka yang dihasilkan, menandakan bahwa tenaga kerja semakin produktif.
Selama periode 2011-2015, produktivitas tenaga kerja di Indonesia terus mengalami
peningkatan (Gambar 3.6). Hal ini mengindikasikan kualitas tenaga kerja di Indonesia
semakin baik. Pada tahun 2015, produktivitas tenaga kerja di Indonesia mencapai 78,18 juta
Rupiah per tenaga kerja. Dilihat dari pertumbuhannya, capaian tersebut meningkat sebesar
4,62 pesen dari tahun sebelumnya.

Gambar 3.6 Produktivitas Tenaga Kerja di Indonesia (Juta Rupiah), 2011-2015

Sumber: BPS (data diolah)

Salah satu komponen yang mempengaruhi produktivitas antara lain pendidikan tenaga
kerja. Pendidikan dan latihan dipandang sebagai suatu investasi di bidang sumber daya
manusia yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja (Todaro, 2014).
Meskipun tenaga kerja di Indonesia masih didominasi oleh tenaga kerja berpendidikan SMP
ke bawah, namun berdasarkan data Sakernas 2011-2015, tenaga kerja berpendidikan SMA
ke atas meningkat selama rentang tahun tersebut.

22
17 Pengukuran
Pengukuran Produktivitas
Produktivitas Nasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun 2016
2016
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Gambar 3.7 Persentase Tenaga Kerja dengan Pendidikan SMA ke Atas, 2011-2015

Sumber: BPS, Sakernas Agustus 2011-2015

Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh tenaga kerja, maka semakin tinggi pula
produktivitas yang bisa dicapainya. Komposisi tenaga kerja yang memiliki pendidikan SMA
ke atas meningkat dari 31,53 persen pada tahun 2011 menjadi 37,71 persen pada tahun
2015. Hal tersebut searah dengan tren produktivitas tenaga kerja periode 2011-2015.

Sesungguhnya, pendidikan meningkatkan produktivitas secara tidak langsung. SDM


yang berpendidikan menggunakan sumberdaya lain lebih efisien sehingga menjadi lebih
produktif. Dengan pendidikan pula proses produksi menjadi lebih baik. Kesimpulannya,
peningkatan pendidikan akan meningkatkan efisiensi seluruh faktor produksi. Hal inilah
yang membedakan antara negara kaya dan negara miskin. Negara miskin tidak mampu
meningkatkan produktivitas karena investasi SDM yang rendah dan tidak mampu
mengadopsi teknologi yang baru. Disamping itu, hal ini terjadi karena tabungan domestik
dan sumber daya keuangan eksternal yang minim (UNDP, 1996).

Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Searah dengan


Peningkatan Upah

Hal lain yang dapat mendorong produktivitas tenaga kerja adalah upah. Menurut
Owens dan Kagel (2010), terdapat hubungan positif antara upah minimum dengan kinerja
dari pekerja. Gambar 3.8 menunjukkan hubungan upah dengan produktivitas tenaga kerja.
Produktvitas tenaga kerja mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya rata-rata
UMP pada periode tahun 2011-2015.

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 23
18
Tahun
Tahun2016
2016
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

Gambar 3.8 Rata-rata UMR, Upah dan Produktivitas per Tahun Tenaga Kerja (Juta Rupiah), 2011-2015

UMR

Sumber: BPS (data diolah)

Hubungan yang sama juga terjadi pada upah yang diterima pekerja dengan produktivitas
tenaga kerja. Produktivitas tenaga kerja meningkat seiring dengan peningkatan upah yang
diterima pekerja pada periode tahun 2011-2015. Hal ini sejalan dengan pendapat Ehrenberg
dan Smith (2009) yang menyatakan bahwa gaji yang lebih tinggi dapat menimbulkan
komitmen kerja yang lebih besar yang berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga
kerja.

Produktivitas Tenaga Kerja Penuh Tahun 2015 Lebih Rendah


Dibandingkan Produktivitas Tenaga Kerja

Selain produktivitas tenaga kerja seperti yang telah dipaparkan sebelumnya,


pengukuran produktivitas ekuivalen tenaga kerja penuh (ETK) juga sangat penting untuk
dilakukan. Produktivitas ETK digunakan sebagai pembanding penghitungan produktivitas
tenaga kerja konvensional. Penghitungan tersebut juga dilakukan untuk melihat efisiensi
tenaga kerja di Indonesia. Jika nilai produktivitas ETK lebih tinggi dibandingkan produktivitas
tenaga kerja, maka terjadi efisiensi tenaga kerja karena dapat menghasilkan output yang
sama dengan jam kerja yang lebih sedikit.

Berdasarkan Gambar 3.9 dapat dilihat bahwa produktivitas tenaga kerja dan
produktivitas ETK memiliki nilai yang hampir sama bahkan hampir berhimpit, kecuali di tahun
2013. Hal ini berarti tenaga kerja di Indonesia bekerja sekitar 40 jam per minggu. Namun,
pada kenyataannya masih banyak orang yang bekerja di bawah jam kerja normal, ataupun
bekerja lembur. Secara rata-rata, pada tahun 2015 jam kerja berkisar 41 jam seminggu, yang
artinya terdapat kelebihan jam kerja sebanyak 1 jam.

24
19 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Gambar 3.9 Produktivitas Tenaga Kerja dan ETK di Indonesia (Juta Rupiah), 2011-2015

Sumber: BPS (data diolah)

Pada tahun 2011 dan 2015 produktivitas tenaga kerja lebih tinggi dibandingkan
produktivitas ETK. Hal ini disebabkan oleh jumlah ETK dibandingkan dengan tenaga kerja
keseluruhan jumlahnya lebih besar. Artinya ada banyak tenaga kerja yang bekerja melebihi
jam kerja normal. Hal ini menunjukkan in-efisiensi waktu yang dipakai tenaga kerja. Analisis
ini akan lebih menarik jika melihat perubahan struktur ekonomi berdasarkan komposisi
lapangan usaha. Biasanya, lapangan usaha padat modal memiliki ETK yang lebih banyak.

Gambar 3.10 Jumlah Tenaga Kerja dan ETK di Indonesia (Juta Orang), 2011-2015

Sumber: BPS (data diolah)

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 25


20
Tahun 2016
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

Pada tahun 2013, produktivitas ETK mencapai 79,09 juta rupiah per tenaga kerja
per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas tenaga kerja. Hal ini
menunjukkan efisiensi tenaga kerja karena jumlah jam kerja yang digunakan lebih sedikit.

Produktivitas Jam Kerja Meningkat

Selain produktivitas tenaga kerja, buku ini juga mengulas tentang produktivitas jam
kerja. Hubungan antara jam kerja dengan output yang dihasilkan bersifat nonlinier. Pada
saat jam kerja berada di bawah batas normal, penambahan ouput akan proporsional dengan
penambahan jam kerja. Namun saat jam kerja berada di atas batas normal, ouput akan
menurun seiring bertambahnya jam kerja. Bahkan jam kerja yang melebihi batas normal
dapat berakibat pada kesalahan dan kecelakaan kerja (Pencavel, 2014).

Produktivitas jam kerja selama periode tahun 2011-2015 dapat dilihat pada Gambar
3.11. Sama seperti dua ukuran produktivitas sebelumnya, produktivitas jam kerja secara
umum juga mengalami peningkatan. Produktivitas jam kerja meningkat dari Rp. 32.876 per
jam di tahun 2011 menjadi Rp. 37.438 di tahun 2015. Hal ini juga mengindikasikan efisiensi
penggunaan jam kerja.

Gambar 3.11 Produktivitas Jam Kerja di Indonesia, 2011-2015

Sumber: BPS (data diolah)

Jika dilihat dari pertumbuhannya, pada tahun 2015 terjadi peningkatan produktivitas
jam kerja sebesar 2,84 persen dari tahun 2014. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan
output yang cukup tinggi. Dengan durasi jam kerja yang tak jauh berbeda, tenaga kerja
masih mampu menghasilkan output yang lebih tinggi.

26
21 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Sementara itu, produktivitas jam kerja tertinggi terjadi di tahun 2013 yang mencapai
Rp. 38.446 per jam. Hal ini terjadi karena rata-rata jam kerja yang turun dari 40 jam seminggu
pada tahun 2012 menjadi 37 jam seminggu pada tahun 2013.

Gambar 3.12 Rata-rata Jam Kerja Tenaga Kerja Selama Seminggu, 2011-2015

Sumber: BPS, Sakernas Agustus 2011-2015

Jam kerja menjadi salah satu faktor penentu dalam penilaian efisiensi pekerjaan dan
produktivitas tenaga kerja. ILO (International Labour Organization), telah menetapkan batas
jam kerja bagi pegawai dan karyawan kantor sebesar 8 jam sehari. Di Indonesia, rata-rata
jam kerja bervariasi bergantung pada sektor usaha dan status pekerja. Berdasarkan data
Sakernas, tenaga kerja yang berstatus buruh/karyawan cenderung memiliki jam kerja yang
lebih tinggi dari mereka yang berusaha/pengusaha. Pada tahun 2015, rata-rata jam kerja
buruh/karyawan/pegawai, pekerja bebas di pertanian dan pekerja bebas di non pertanian
tercatat sebesar 43 jam per minggu. Sedangkan rata-rata jam kerja tenaga kerja keseluruhan
hanya 41 jam per minggu (Gambar 3.12).

Persentase tenaga kerja yang bekerja melampaui batas acuan 40 jam perminggu
bervariasi antartahun. Pada tahun 2015, sebanyak 55,47 persen tenaga kerja bekerja melebihi
40 jam seminggu. Bahkan, sebanyak 21 persen bekerja lebih dari 50 jam. Sementara itu,
hanya 4 persen saja yang bekerja kurang dari 10 jam seminggu.

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 27
22
Tahun
Tahun2016
2016
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

Gambar 3.13 Persentase Tenaga Kerja menurut Kategori Jam Kerja, 2011-2015

Sumber: BPS (data diolah)

Peluang dan Tantangan Dalam Meningkatkan Produktivitas

Peningkatan produktivitas tenaga kerja dapat dilakukan dengan beberapa cara,


diantaranya meningkatkan output dengan jumlah modal manusia yang sama. Cara lain
adalah meningkatkan kualitas modal manusia dengan penggunaan teknologi yang
sama agar tercipta barang dan jasa yang lebih berkualitas atau bernilai ekonomi tinggi.
Peningkatan output dapat dilakukan dengan melakukan efisiensi waktu dan biaya atau
penambahan investasi.

Indonesia diberkahi demografi yang mendukung dan pasar domestik yang besar.
Menurut World Economic Forum (WEF), Indonesia berada di peringkat ke 10 sebagai negara
dengan ukuran pasar terbesar di dunia. Tentunya hal tersebut menjadi peluang investasi
bagi Indonesia untuk terus meningkatkan output barang dan jasa. Berdasarkan data dari
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi penanaman modal asing di Indonesa
cenderung mengalami peningkatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir (Gambar
3.14). Hal tersebut menyiratkan optimisme tersendiri bagi Indonesia untuk menciptakan
pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

28
23 Pengukuran
Pengukuran Produktivitas
Produktivitas Nasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun 2016
2016
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Gambar 3.14 Realisasi Penanaman Modal Asing (Juta US$), 2011-2015

Sumber: Publikasi Indikator Ekonomi Bulanan, 2011-2016

Selain investasi, ketersediaan infrastruktur seperti sarana transportasi, teknologi


informasi dan komunikasi mendukung peningkatan produktivitas dari dua sisi, baik
dari input maupun output. Dari sisi output, infrastruktur merupakan hal penting dalam
menunjang proses produksi dan distribusi yang nantinya akan berdampak pada peningkatan
output. Dari sisi input tenaga kerja, infrastruktur transportasi dan teknologi indormasi dan
komunikasi juga merupakan sarana untuk meningkatkan mobilitas dan konektivitas tenaga
kerja. Sayangnya, keberadaan infrastruktur tersebut di Indonesia cukup bervariasi antar
wilayah. Di wilayah timur, keberadaannya belum merata di seluruh wilayah. Sebagai contoh,
berdasarkan publikasi Statistik Indonesia 2016, panjang jalan di Papua Barat, Maluku dan
Maluku Utara belum mencapai 10 ribu kilometer. Kondisi tersebut masih sangat jauh
tertinggal dari provinsi-provinsi yang berada di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki
luas wilayah yang lebih kecil. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk meningkatkan
produktivitas dari sisi produksi.
Dari sisi input, jelas bahwa modal manusia adalah faktor yang penting dalam
produktivitas tenaga kerja. Modal manusia yang dimaksud adalah pengetahuan dan
keahlian yang diperoleh para pekerja melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman
(Mankiw, 2011). Sesuai dengan pendapat tersebut, tenaga kerja yang memiliki kualitas
tinggi berperan penting dalam proses produksi untuk meningkatkan produktivitas tenaga
kerja. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, jumlah tenaga kerja yang berpendidikan di
Indonesia mengalami peningkatan terus-menerus. Dengan demikian, prospek peningkatan
produktivitas tenaga kerja sesungguhnya cukup terbuka.
Peluang lain adalah bonus demografi sebagai akibat penambahan jumlah penduduk
usia produktif. Sebuah negara dikatakan mengalami bonus demografi jika dua orang
penduduk usia produktif (15-64) menanggung satu orang tidak produktif (kurang dari 15

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 29
24
Tahun
Tahun2016
2016
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

tahun dan 65 tahun atau lebih). Berdasarkan data Sensus Penduduk 2010, Indonesia sudah
mengalami bonus demografi sejak tahun 2012, dan puncaknya akan terjadi di tahun 2028-
2030 (Ritonga, 2014). Namun, sebetulnya bonus demografi antarwilayah berbeda-beda. DKI
Jakarta misalnya, sudah menikmati bonus demografi sejak tahun 1980an. Faktornya karena
migrasi, usia produktif dari luar masuk ke Jakarta. Dampaknya, daerah pengirim migran akan
kehilangan usia produktif, seperti Nusa Tenggara Timur. Dampak bonus demografi akan
menjadi peluang jika pasar tenaga kerja dapat dikelola dengan baik, karena pertumbuhan
ekonomi ditopang oleh peningkatan jumlah penduduk yang produktif.

Di sisi lain, kebijakan dalam meningkatkan produktivitas terhambat oleh adanya


beberapa tantangan. Dalam aspek spasial, peningkatan produktivitas terganjal oleh
berbagai faktor yang cukup krusial. Disparitas antarwilayah yang masih cukup lebar sulit
untuk mewujudkan produktivitas yang konvergen antarwilayah. Setiap wilayah memiliki
sektor unggulan masing-masing dengan karakteristik yang berbeda-beda. Bagi wilayah
yang menjadi sentra mineral seperti minyak dan gas bumi, produktivitasnya akan sangat
tinggi dibandingkan wilayah yang menjadi sentra pertanian. Selain itu, setiap wilayah juga
memiliki kualitas manusia dan sumber daya fisik yang berbeda pula.

Kualitas SDM dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diukur
berdasarkan capaian pendidikan, kesehatan dan standar hidup layak. Status pembangunan
manusia Indonesia secara nasional pada tahun 2015 masih pada taraf sedang. Namun, jika
dilihat menurut provinsi, masih ditemukan daerah dengan status pembangunan manusia
bertaraf rendah (IPM kurang dari 60). Bahkan, jika dilihat lebih dalam ke level administrasi
lebih rendah, terlihat disparitas yang sangat mencolok. Kualitas manusia dalam satu provinsi
bervariasi antarkabupaten/kota. Disparitas pembangunan manusia yang paling mencolok
terjadi di Papua, sementara terendah terjadi di Sulawesi Barat (BPS, 2016). Dengan perbedaan
kualitas manusia tersebut, maka jelaslah bahwa pengukuran produktivitas antarwilayah
akan bervariasi dan menjadi subjek yang menarik untuk dibahas.

Gambar 3.15 Disparitas IPM menurut Provinsi, 2015


Gorontalo
Babel

Kalteng

Papua
Bengkulu

Sumsel

Jateng
Kepri
Jambi

DIY

Jatim
Sulbar

Sulut

Lampung

Malut

Aceh
Kaltara

Kalsel

Jabar
Banten
Kalbar
Bali

Sulsel

NTT
Kaltim

NTB

Riau

Sulteng

Sultra
Jakarta

Sumut
Maluku

Sumbar

Papbar

Max Min Median

Sumber: Publikasi Indeks Pembangunan Manusia 2015, BPS (2016)

30
25 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Gambaran Produktivitas Nasional BAB 3

Produktivitas secara spasial merupakan pokok bahasan pada bab selanjutnya, sehingga
akan tergambarkan perbedaan output setiap tenaga kerja di masing-masing wilayah.
Perbedaan produktivitas antarwilayah juga menggambarkan bagaimana ketersediaan
unsur penunjang yang telah dibangun, seperti infrastruktur untuk mobilitas pekerja
dan untuk menjamin kualitas pekerja. Produktivitas juga dipengaruhi oleh sarana dan
prasarana pendidikan, pelatihan dan kesehatan. Sarana-sarana ini dapat membantu dalam
meningkatkan skill atau kapabilitas pekerja.

Indikator yang dapat dijadikan acuan untuk menggambarkan keberadaan sarana


pendidikan dan pelatihan adalah jumlah Balai Latihan Kerja (BLK). Saat ini, jumlahya 298
yang tersebar di 34 provinsi. Semua provinsi telah memiliki BLK namun jumlahnya bervariasi.
Idealnya, BLK tersedia sampai level kabupaten/kota, namun sampai saat ini beberapa
provinsi ada yang hanya memiliki 1 BLK. Keberadaan BLK yang belum merata ini menjadi
tantangan tersendiri dalam meningkatkan produktivitas.

Gambar 3.16 Jumlah BLK menurut Provinsi, 2016

Sulsel
Jabar
Kep. Babel

Kalsel

Sumbar

Sumut
Sulbar

Kaltara
Kep. Riau
Pabar

Riau

Gorontalo

Jakarta
Malut

Banten
Sulut

Yogyakarta

Bengkulu
Kaltim

Jambi

Kalbar
Maluku

Lampung
NTT

Bali
NTB
Sultra

Sulteng

Papua

Sumsel

Jatim
Kalteng

Aceh

Jateng

Sumber: www.binalattas.info, Direktorat Bina Lemsatker (2016)

Di sisi lain, sarana kesehatan juga menunjang kesehatan jasmani tenaga kerja dalam
menciptakan barang dan jasa. Menurut UNDP (1996), produktivitas tenaga kerja di negara
berkembang dipengaruhi oleh tingkat kesehatan dan nutrisi (UNDP, 1996). Dengan
demikian, keberadaan sarana dan prasarana kesehatan di level regional juga mendukung
produktivitas tenaga kerja secara tidak langsung.

Hal berikutnya adalah adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dapat
menjadi ancaman sekaligus peluang. Dari sisi ketenagakerjaan, implementasi MEA dapat
menguntungkan bagi Indonesia. Indonesia dapat memperoleh tenaga kerja dengan
kualitas yang lebih baik serta akses bagi tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di negara lain

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 31
26
Tahun
Tahun2016
2016
BAB 3 Gambaran Produktivitas Nasional

menjadi lebih mudah. Namun, berlakunya MEA yang bertepatan dengan bonus demografi
Indonesia pada
padaperiode
periodetahun 2015-2020,
tahun akanakan
2015-2020, menimbulkan
menimbulkanpersaingan pada pasar
persaingan padatenaga
pasar
kerja
tenagaantara
kerja tenaga kerja Indonesia
antara tenaga dengan
kerja domestik tenagatenaga
dengan kerja asing. Ketersediaan
kerja asing. tenaga
Ketersediaan kerja
tenaga
kompeten dan produktif
kerja kompeten sangatsangat
dan produktif di perlukan. Dunia pendidikan
diperlukan. dan pelatihan
Dunia pendidikan kerja sebagai
dan pelatihan kerja
mesin
sebagaipencetak tenaga kerja
mesin pencetak masa
tenaga kerjadepan
masa perlu
depandiperlu
benahi agar calon
dibenahi tenagatenaga
agar calon kerja yang
kerja
dihasilkan dapat dapat
yang dihasilkan memasuki dan bersaing
memasuki di pasardikerja
dan bersaing pasardomestik dan Internasional.
kerja domestik Dari sisi
dan Internasional.
supplay, peta perkembangan
Dari sisi supply, industriindustri
peta perkembangan dan kebutuhan kebutuhan
dan kebutuhan kompetensi
kebutuhan pada setiap
kompetensi pada
jabatan dan level
setiap jabatan dankompetensi yang updated
level kompetensi sangatsangat
yang updated di perlukan, agar penyiapan
diperlukan, SDM yang
agar penyiapan SDM
dilakukan provider
yang dilakukan sesuaisesuai
provider dengan kebutuhan
dengan duniadunia
kebutuhan kerja. kerja.

Selain kualitas SDM, peluang peningkatan produktivitas yang termasuk dalam input
kualitatif (intangible Input). Intangible
Input) seperti Input mencakup
perbaikan antarastruktur
dan penataan lain: perbaikan dan penataan
modal melalui paket
struktur
paket modal melalui
kebijakan ekonomi paket
yangdipaket
buatkebijakan ekonomi
oleh Pemerintah keyang di buat modal
arah belanja oleh Pemerintah ke
yang bersifat
arah belanja
produktif modal
serta yang bersifat
perbaikan produktif infrastruktur
sarana prasarana serta perbaikan
yang sarana prasarana
dibangun secarainfrastruktur
cepat oleh
yang dibangun
pemerintah secara
sampai cepatterpencil,
ke daerah oleh pemerintah
juga akan sampai ke daerah
mempercepat terpencil,
peningkatan juga akan
produktivitas
mempercepat
di Indonesia. peningkatan produktivitas di Indonesia.

Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya perbaikan kualitas sumber daya manusia di
Indonesia. Salah satunya adalah upaya peningkatan pendidikan, keahlian, dan keterampilan
yang mampu menjawab tantangan dunia kerja saat ini. Disamping itu, pemetaan permintaan
dan penawaran tenaga kerja juga sangat diperlukan, agar angkatan kerja Indonesia dapat
tertampung dan bersaing pada pekerjaan yang tepat.

27
32 Pengukuran
Pengukuran
Pengukuran Produktivitas
Produktivitas
Produktivitas Nasional,
Nasional,
Nasional, Regional,
Regional,
Regional, dan
dandan
Sektoral
Sektoral
Sektoral
Tahun
Tahun
Tahun 2016
2016
2016
BAB
BAB 4
55

Gambaran
Gambaran
Gambaran
Produktivitas
Produktivitas
Produktivitas Regional
Regional
didiIndonesia
Indonesia
Sektoral di Indonesia
BAB 1
BAB1 4
BAB 5
BAB 1

GAMBARAN
GAMBARAN
PENTINGNYA
PENTINGNYA
PRODUKTIVITAS
PRODUKTIVITAS REGIONAL
PENTINGNYA
MENGUKUR
MENGUKUR PRODUKTIVITAS
DI INDONESIA PRODUKTIVITAS
SEKTORAL DI INDONESIA

MENGUKUR PRODUKTIVITAS
PPeningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
roduktivitas tenaga kerja menggambarkan kinerja dari tenaga kerja, yang dapat diukur
dari output yang dihasilkan oleh tenaga kerja. Semakin besar output yang dihasilkan
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
berarti semakin produktif, atau semakin sedikit tenaga kerja yang digunakan maka semakin
PP roduktivitas tenaga kerja merupakan faktor penting dalam pembangunan suatu
produktif. Produktivitas
erkembangan teorijuga ekonomimerupakantelahtenaga salah satu berbagai
membawa indikator perubahan
penting dalam terkaitaktivitas
dengan

P
negara.
erkembangan Meningkatnya
teori ekonomiproduktivitas
telah membawa kerja akan mendorong
berbagai perubahan peningkatan
terkait dengan daya
ekonomi, yang
bagaimana dapat
mengukur menjadi
performa pendorong
suatu atau
atau
negara. daya
daya
Salah ungkit
ungkit
satu (leverage)
(leverage)
kriteria yang pertumbuhan
sering digunakan
saing dan
bagaimana pertumbuhan
mengukur ekonomi
performa melalui
suatu negara.peningkatan
Salahdaerah efektivitas
satu juga
kriteria dan
yang efisiensi
sering produksi.
ekonomi nasional
untuk mengetahui dalam jangka
kinerja suatu panjang.
negara Produktivitas
atau berguna
adalah untukdigunakan
pertumbuhan menyusun
ekonomi
Produktivitas
untuk mengetahui tenaga kerja
kinerja di masing-masing
suatu negara kategori
atau daerah lapangan
adalah usaha ekonomi
pertumbuhan merupakan
ekonomi
rencana strategis
(Krisnamurthi, organisasi
1995 dandalam baik
Sukirno, pada tingkat
1996). Dalam makro maupun
menciptakan mikro.
pertumbuhan ekonomi yang
salah satu indikator
(Krisnamurthi, 1995 dan kunci
Sukirno, 1996). menentukan Dalam kesiapan
menciptakan Indonesia dalam kancah
pertumbuhan persaingan
ekonomi yang
besar, diperlukan
pasardiperlukan
global. Oleh pertumbuhan
karena itu, penentuan output (Adam
skalaSmith Smith
prioritas dalam
dalam Arsyad,
hal pembangunan1999) yang biasanya
ekonomi
besar,
diukur dengan pertumbuhan
Produk Domestik output Bruto (Adam(PDB) atau dalam
Produk Arsyad,
Domestik 1999)
RegionalyangBruto
biasanya(PDRB).
Indonesia
diukur dengan sangatlah
Produk Domestikpenting. Skala Bruto prioritas
(PDB) atau tersebut
Produk mampuDomestikmendukung
Regional Bruto produktivitas
(PDRB).
tenagaBerbicara
kerja di setiap
Produktivitas kategori
Tenaga
Sebagian
tentang output, lapangan
Kerja Besar
maka tidakusaha.
Beberapa
Provinsi
terlepas dari Provinsi
Berada Masih
di Bawah
sistem produksi di Perlu
suatuLevel
negara yang
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
Berbicara
terdiri
Ditingkatkan
Nasional
terdiri dari
dari
Kategori
3
tentang
3 komponen,
komponen,
selanjutnya disebut
output,
lapanganyaitu
maka
yaitu
usaha
sebagai
tidak
sumber
ekonomi
sumber
faktor daya
terlepas
produksi.
daya
yang
alam,
dari sistem
alam, sumber
memberikan
sumber
Pertumbuhan
produksi
daya
daya di suatu dan
manusia,
kontribusidan
manusia,
kualitasdan maupun
negara
besar
modal
modalyangyang
terhadap
kuantitas yangfaktor-
pertumbuhan
selanjutnya disebutekonomi,
sebagai saat ini
faktor belum
produksi. semua memiliki
Pertumbuhan produktivitas
kualitas maupun penyerapan
kuantitas tenaga
faktor-
faktor
kerja yang produksi
tinggi. tersebut
Kategori adalah
lapangan booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama dengan
Produktivitas tenaga kerja sudah usaha menjadi Industri
salah Pengolahan
satu merupakan
fokus bersama-sama
utama kontributor
pemerintah yang

P
faktor produksi
pemanfaatan tersebut
teknologi adalah
(Robert booster
Solow pertumbuhan
dan Trevor ekonomi
Swan dalam Arsyad, 1999). dengan
Akumulasi
terbesar
tercantum
pemanfaatan erkembangan
dalam
daripenyerapan
dalam
berbagai
PDB
teknologi salah
faktor
Indonesia.
satu
(Robert teori
tersebut
agenda
Solow
akan
ekonomi
Sayangnya,dan Trevortelah
prioritas
menghasilkan
hal ini
program tidak
Swan membawa
diimbangi
Nawacita.
dalam
pertumbuhan Arsyad, dengan
Agenda
ekonomi
berbagai
1999). produktivitas
tersebut
Akumulasi
yang
perubahan terkait
adalah
tinggi jika
dan
meningkatkan tenaga
produktivitas kerja yang
rakyat dan tinggi.
daya Meskipun
saing di pasarindustri pengolahan
Internasional sehinggamerupakan
bangsa
bagaimana
dari didukung
berbagai
kontributor
Indonesia
faktor tersebut
dengan
terbesar
bisa maju
mengukur
dalam
dan PDB,
bangkit tapi
bersama
performa
akan menghasilkan
produktivitas yang tinggi pula.
produktivitas
suatu
pertumbuhan
bangsa-bangsa
Dengan
tenaga
negara.
kerja
Asia
ekonomi
demikian, Salah
kategori
lainnya
yangsatu
pertumbuhan tinggikriteria
lapangan
(program
jika
ekonomi
ke 6).usaha
Pada
yang sering di
didukung
tidak dengan
dapat produktivitas
terlepas dari yang
produktivitastinggi pula. Dengan
faktor-faktor demikian,
produksi. pertumbuhan ekonomi
iniuntuk
lebih
subbab
tidak dapat ini, mengetahui
rendah
akan
terlepas dibandingkan
diberikan kinerja
kategori
gambaran
dari produktivitas suatu produksi.
lapangan
produktivitas
faktor-faktor negara
usaha
tenaga Real
kerjaatau
Estate daerah
dan
regional kategori adalah
lapangan pertumbuhan e
di Indonesia.
usaha Informasi
Dengan demikian, dan Komunikasi.produktivitas Penyerapan
merupakan tenagasalah kerja
satudi kategoripenting
indikator lapangan dalamusaha ini
aktivitas
(Krisnamurthi,
juga
Perekonomian
Dengan
lebih demikian,
rendah
1995
Indonesia
produktivitas
dibandingkan
dan Sukirno,
mengalami
merupakan
dengan
1996).
peningkatan
salah
kategori satu
lapangan
Dalam
dari waktu
indikatorusaha
menciptakan
penting kedalam
Pertanian,
waktu, pertumbuhan ekono
namun
aktivitas
Kehutanan,
ekonomi. Produktivitas merupakan daya ungkit (leverage) bagi pertumbuhan ekonomi
pertumbuhannya selama kurun waktu 2011-2015 terus melambat dari 6,17 persen pada
danbesar,
ekonomi.Perikanan
nasional diperlukan
Produktivitas
dalam danjangka pertumbuhan
merupakan
kategori lapangan
panjang. daya
Hal usaha ungkit
ini yang output
(leverage)
Perdagangan
menjadi
Ini
(Adam
salah bagi
Besar
merupakan
satudan Smith
pertumbuhan
Eceran;
alasan
yang
dalamekonomi
Reparasi
mengapa
terendah
Arsyad,
Mobil
dewasa
selama
ini 1999) yang
tahun
nasional
dan
2011
dalam
Motor.
banyak
menjadi
jangka
Dengan
negara yang
4,79
panjang.
melihat
persen
berlomba
pada
Haldalam
kontribusiini yangtahun
PDB
2015.
menjadi
dan tingkat
meningkatkan salah satu alasan mengapa
produktivitas
produktivitas. tenaga kerja dewasa ini 5
di setiap
diukur
tahun
banyak
kategori negara dengan
terakhir. yang
lapangan
Kondisi Produk
ini adalah
berlomba
usaha, diharapkandalam Domestik
pertama
meningkatkankali Bruto
pembangunan
pertumbuhan (PDB)ekonomi
produktivitas. atau Produk IndonesiaDomestik
ekonomi Indonesia akan dapat lebih
berada di Regional Bruto
bawahDi 5 persen
tataran sejak terjadi krisis
nasional, keuanganmerupakan
produktivitas global tahunsalah 2009.satuWalaupunisu pertumbuhannya
pembangunan yang
terarah dan fokus.
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
melambat,
menjadi
menjadi
Berbicara
tetapi jumlah
bagian agenda tentangtenaga output,
kerja
prioritas terus
pemerintah maka
bertambah.tidak
saat Padaterlepas
tahun
ini. Peningkatan dari
2011 sistem
tenaga
produktivitaskerja produksi
yang
menjadi di suatu neg
salahbagian
terserap sebanyak
satu agenda
program 107,4prioritas
juta orang
pembangunan pemerintah
dan meningkat
dalam saatRencana
ini. Peningkatan
pada tahun 2015
Pembangunan produktivitas
menjadi 114,8
Jangka menjadi
juta.
Menengah
salahterdiri
Nasional dari
satu program
(RPJMN) 3 komponen,
pembangunan
2015-2019. Sasaran yaitu
dalam sumberPembangunan
Rencana
pembangunan daya
ini jugaalam,
merupakan sumber
Jangka dayadalam
Menengah
terjemahan manusia, dan mo
Nasional Produktivitas
(RPJMN) tenaga
2015-2019. kerja selama
Sasaranpada kurun
pembangunan waktu yang sama, juga
ini juga merupakan terjemahan dalam terus mengalami
selanjutnya
Nawacita
peningkatan
Nawacita
Presiden
PresidendariJoko disebut
67,84
Joko Widodo
juta per
Widodo
sebagai
tenaga
pada butir
faktor
kerja perproduksi.
butir keenam.
keenam. tahun pada tahun Pertumbuhan
2011 menjadikualitas 78,18 juta maupun kuantita
perfaktor
tenaga produksi
kerja per tahun tersebut
di tahunadalah 2015, yang booster
mengindikasikanpertumbuhan bahwa kualitas ekonomitenaga bersama-sama
kerja di Indonesia juga terus meningkat.
pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999). Ak
1 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
139
28
46
dari berbagai
Pengukuran Produktivitas
Pengukuran
Tahun Produktivitas
2016 faktor
Nasional,
Nasional, tersebut
Regional, dandan
Regional, Sektoral akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang ti
Sektoral
Tahun 2016
Tahun 2016
didukung dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan demikian, pertumbuhan e
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi.
Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia BAB 45

Bila melihat produktivitas tenaga kerja secara regional, pada tahun 2015 terdapat 8
provinsi yang produktivitas tenaga kerjanya di atas angka nasional yaitu provinsi Kalimantan
Timur (308,80 juta), DKI Jakarta (307,81 juta), Kepulauan Riau (185,45 juta), Kalimantan
Utara (184,21 juta), Riau (175,76 juta), Papua Barat (137,67 juta), Papua (81,16 juta), dan
Jambi (80,65 juta). Sedangkan produktivitas tenaga kerja terendah terjadi di provinsi Nusa
Tenggara Timur yang hanya sebesar 25,60 juta per tenaga kerja per tahun. (Gambar 4.1)

Gambar 4.1 Produktivitas Tenaga Kerja menurut Provinsi, 2014-2015 (Juta/Tenaga Kerja/Tahun)

Jateng

NTB
Maluku
Papua Barat

Banten

Sultra

Sulteng

Aceh

NTT
Kalbar
Sumut

Sulut
Jatim

Kalteng
Sumbar
Jabar

Lampung
Kalsel

DIY
Sulbar
Gorontalo

Malut
Kep. Riau
Kaltara

Papua

Kep. Babel
Jambi

Sulsel

Sumsel
Kaltim
DKI Jakarta

Bali

Bengkulu
Riau

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Produktivitas tenaga kerja tertinggi pada tahun 2015 ditempati oleh Provinsi
Kalimantan Timur. Hal ini didukung oleh PDRB yang cukup tinggi yaitu 439,72 triliun dan
menempati urutan ke-7. Selain itu, jumlah tenaga kerja di Provinsi Kalimantan Timur cukup
sedikit yaitu 1,42 juta orang. Selain itu, lebih dari 50 persen tenaga kerja sudah menamatkan
pendidikannya hingga jenjang SMA ke atas.

Produktivitas tenaga kerja tertinggi kedua yaitu DKI Jakarta, didukung oleh PDRB
terbesar di Indonesia mencapai 1.454,10 trilliun dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 4,72
juta orang. Pendidikan yang ditamatkan tenaga kerja di Provinsi DKI Jakarta sekitar 67,12
persen adalah SMA ke atas. Lebih dari seperempat tenaga kerja di DKI Jakarta (1,28 juta
orang) bekerja di sektor perdagangan besar dan eceran atau kategori G.

Sebaliknya produktivitas terendah pada tahun 2015 ditempati oleh provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT). Hal ini dikarenakan PDRB Provinsi NTT yang kecil yaitu hanya sebesar
56,82 trilliun dengan jumlah tenaga kerjanya sebanyak 2,22 juta orang. Sayangnya jumlah
tenaga kerja yang banyak tersebut tidak diimbangi dengan tingkat pendidikan yang baik.
Sebagian besar pendidikan yang ditamatkan tenaga kerja adalah SMP kebawah (73,17
persen). Selain itu, enam puluh persen tenaga kerja di NTT (1,37 juta orang) bekerja di sektor
pertanian, kehutanan, dan perikanan atau kategori A yang nilai tambahnya masih kecil.

Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral 29
40
Tahun
Tahun2016
2016
BAB 54 Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia

Gambar 4.2
5.2 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Provinsi, 2015 (Trilliun Rupiah)

SULAWESI TENGAH
JAWA TENGAH
RIAU

JAMBI

KALIMANTAN BARAT

GORONTALO
BANTEN

PAPUA
BALI

ACEH

KALIMANTAN SELATAN

D I YOGYAKARTA
JAWA TIMUR

KALIMANTAN TIMUR

LAMPUNG

KALIMANTAN TENGAH

KALIMANTAN UTARA
KEP. BANGKA BELITUNG
SUMATERA SELATAN

SUMATERA BARAT

NUSA TENGGARA TIMUR

MALUKU UTARA
SUMATERA UTARA

KEPULAUAN RIAU

PAPUA BARAT
DKI JAKARTA

BENGKULU

MALUKU
SULAWESI BARAT
SULAWESI SELATAN

SULAWESI TENGGARA
JAWA BARAT

NUSA TENGGARA BARAT

SULAWESI UTARA
Sumber : BPS, PDRB 2015 (www.bps.go.id)

Pada tahun 2015, tiga provinsi dengan jumlah tenaga kerja terbanyak yaitu provinsi Jawa
Timur (19,37 juta orang), Jawa Barat (18,79 juta orang), dan Jawa Tengah (16,44 juta orang).
Sayangnya, pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh tenaga kerja di provinsi-provinsi
tersebut sebagian besar (lebih dari 61 persen) adalah SMP kebawah. Pendidikan tertinggi
yang ditamatkan tenaga kerja di provinsi Jawa Timur 67,63 persennya berpendidikan SMP
ke bawah, sedangkan provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing sebesar 61,72
persen dan 71,59 persen.

Selain memiliki jumlah tenaga kerja terbanyak di Indonesia, Jawa Timur juga
memiliki PDRB yang tinggi, bahkan menempati urutan kedua (1331,42 trilliun). Akibatnya
produktivitas tenaga kerja di Provinsi Jawa Timur masih di bawah angka nasional (68,74
juta). Hampir 37 persennya (7,08 juta orang) tenaga kerja di Jawa Timur bekerja di sektor
pertanian, kehutanan, dan perikanan atau kategori A.

Hal yang sama terjadi juga di provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah yang memiliki PDRB
tinggi dan tenaga kerja yang banyak, sehingga produktivitas tenaga kerjanya di bawah
nasional. Sebagian tenaga kerja di kedua provinsi tersebut bekerja di sektor perdagangan
besar dan eceran (kategori G), industri pengolahan (kategori C), dan pertanian, kehutanan,
serta perikanan (kategori A). Persentase tenaga kerja yang bekerja di ketiga sektor tersebut
masing-masing sebesar 59,44 persen di Jawa Barat dan 67,95 persen di Jawa Tengah.

30
41 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
DKI JAKARTA JAWA TIMUR
KEPULAUAN RIAU JAWA BARAT
KALIMANTAN TIMUR JAWA TENGAH
D I YOGYAKARTA SUMATERA UTARA

Gambar 4.4
BANTEN BANTEN
SUMATERA UTARA DKI JAKARTA
KALIMANTAN UTARA SUMATERA SELATAN
ACEH LAMPUNG
BALI SULAWESI SELATAN
MALUKU RIAU

provinsi di setiap kuadran.


SULAWESI UTARA BALI
PAPUA BARAT KALIMANTAN BARAT
RIAU NUSA TENGGARA TIMUR

Menurut Provinsi, 2015


SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT
MALUKU UTARA NUSA TENGGARA BARAT
SULAWESI TENGGARA ACEH
SULAWESI SELATAN D I YOGYAKARTA
BENGKULU KALIMANTAN SELATAN
JAWA BARAT PAPUA

Sumber : BPS, Publikasi Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2015


KEP. BANGKA BELITUNG Sumber : BPS, Publikasi Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2015 JAMBI
Gambar 4.3 Tenaga Kerja Menurut Provinsi, 2015 (Juta Orang)

JAMBI KALIMANTAN TIMUR


SULAWESI TENGAH SULAWESI TENGAH
KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TENGAH
NUSA TENGGARA BARAT SULAWESI TENGGARA
KALIMANTAN TENGAH SULAWESI UTARA
SUMATERA SELATAN BENGKULU
JAWA TIMUR KEPULAUAN RIAU
GORONTALO MALUKU
LAMPUNG KEP. BANGKA BELITUNG
SULAWESI BARAT SULAWESI BARAT
KALIMANTAN BARAT GORONTALO
JAWA TENGAH MALUKU UTARA
NUSA TENGGARA TIMUR PAPUA BARAT
Persentase Tenaga Kerja yang Berpendidikan Tertinggi yang Ditamatkan SMA ke Atas

Tahun 2016
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
PAPUA KALIMANTAN UTARA
Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia

pekerja, begitu juga sebaliknya. Gambar 4.5 menyajikan hubungan produktivitas tenaga
Produktivitas tenaga kerja seharusnya berkaitan atau sejalan dengan upah pekerja.

kerja dengan upah tenaga kerja pada tahun 2011 dan 2015. Dari gambar tersebut terlihat
Semakin tinggi produktivitas tenaga kerja, seharusnya mencerminkan tingginya upah
BAB 54

31
42
BAB 54 Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia

Kuadran I berisikan provinsi-provinsi yang produktivitas tenaga kerjanya berada di atas


angka nasional dan rata-rata upah tenaga kerja setahunnya di atas rata-rata upah nasional.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa hubungan antara produktivitas tenaga kerja dan rata-
rata upah tenaga kerja di kuadran ini sudah sejalan. Ada 8 provinsi pada kuadran I di tahun
2011 yaitu Riau, Jambi, Kep. Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Kalimantan Timur,
Papua Barat, Papua. Tetapi pada tahun 2015 hanya tinggal 7 provinsi, dengan berpindahnya
Jambi ke kuadran II dan Kep. Bangka Belitung yang pindah ke kuadran IV, serta masuknya
kalimantan Utara ke kuadran ini.

Kuadran II berisikan provinsi yang produktivitasnya di atas angka nasional tetapi rata-
rata upah tenaga kerja setahunnya di bawah rata-rata upah nasional. Pada tahun 2011 tidak
ada provinsi yang masuk dalam kuadran ini, sedangkan pada tahun 2015 masuk provinsi
Jambi di kuadran ini.

Gambar 4.5 Hubungan Produktivitas Tenaga Kerja dengan Upah Tenaga Kerja, 2011 dan 2015

Kuadran II Kuadran I
2011 2015 2011 2015
Produktivitas Nasional

Jambi Riau, Jambi, Kep. Riau, Kepulauan


Babel,Kepulauan Riau, DKI Jakarta,
Riau, DKI Jakarta, Kalimantan Timur,
Kalimantan Timur, Kalimantan Utara,
Papua Barat, Papua Papua Barat, Papua

Upah Nasional Upah Nasional

Kuadran III Kuadran IV


Produktivitas Nasional

2011 2015 2011 2015


Lampung, Jawa Aceh, Sumut, Aceh, Sumut, Kep. Babel,
Barat, Jawa Tengah, Sumbar, Sumsel, Sumbar, Sumsel, Banten,
DI Yogyakarta, Jawa Bengkulu, Lampung, Bengkulu, Banten, Bali,
Timur, Nusa Tenggara Jabar, Jateng, Bali, Kalbar, Kalbar, Kalteng,
Barat, Nusa Tenggara Yogyakarta, Jatim, Kalteng, Kalsel, Kalsel, Sulut, Sulsel,
Timur, Sulawesi NTB, NTT, Sulawesi Sulut, Sulsel, Sultra, Sultra, Maluku,
Tengah, Gorontalo, Tengah, Maluku, Malut Malut
Sulawesi Barat Gorontalo, Sulawesi
Barat

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2011 dan 2015 (Diolah)

43
32 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia BAB 54

Kuadran III berisikan provinsi-provinsi yang produktivitas tenaga kerjanya berada


dibawah angka nasional dan rata-rata upah tenaga kerja setahunnya juga dibawah rata-
rata upah nasional. Hal tersebut mengindikasikan bahwa provinsi-provinsi yang masuk
di kuadran ini memiliki hubungan antara produktivitas tenaga kerja dan rata upah tenga
kerjanya yang sudah sejalan, tetapi perlu peningkatan produktivitas tenaga kerja dan rata-
rata upah tenaga kerja pada provinsi-provinsi dalam kuadran ini. Pada tahun 2011, ada 10
provinsi pada kuadran III yaitu Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur,
NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Sedangkan pada tahun 2015,
bertambah menjadi 15 provinsi di kuadran ini, dengan masuknya provinsi Aceh, Sumatera
Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu yang pada tahun 2011 berada di
kuadran IV.

Kuadran IV berisikan provinsi-provinsi yang produktivitasnya dibawah Nasional tetapi


rata-rata upah tenaga kerja setahunnya di atas rata-rata Nasional. Pada tahun 2011, ada 15
provinsi yang masuk dalam kuadran ini yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera
Selatan, Bengkulu, Banten, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan selatan,
Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Maluku Utara. Sedangkan
pada tahun 2015 menjadi 12 provinsi, dengan keluarnya provinsi Aceh, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu ke kuadran III, serta masuknya Kep. Bangka
Belitung dan Jawa Barat. Perlu peningkatan efisiensi agar produktivitas di daerah tersebut
meningkat.

Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Provinsi Belum Efisien

Berbeda dengan produktivitas tenaga kerja konvensional, produktivitas ekuivalen tenaga


kerja (pekerja penuh) menggunakan input tenaga kerja yang sudah mempertimbangkan
jam kerja. Setiap orang yang bekerja selama 40 jam seminggu dianggap 1 orang, sedangkan
yang lebih dari 40 jam seminggu misalnya 50 jam seminggu dianggap 50/40 atau 1,25
orang. Begitu pula sebaliknya, jika bekerja dibawah 40 jam seminggu, sebagai contoh 30
jam seminggu, maka dianggap 30/40 atau 0,75 orang. Jadi tenaga kerja ekuivalen pekerja
penuh (ETK) adalah banyaknya atau jumlah tenaga kerja yang sudah mempertimbangkan
jam kerjanya. Semakin banyak jumlah tenaga kerja ETK artinya semakin banyak tenaga
kerja yang bekerja dengan jam kerja di atas 40 jam. Hal ini mengindikasikan semakin tidak
produktif dikarenakan output yang dihasilkan sama tetapi jam kerjanya lebih banyak. Oleh
karena itu, pengukuran produktivitas ekuivalen tenaga kerja bisa menjelaskan produktivitas
yang lebih baik.

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 44


33
Tahun 2016
BAB 54 Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia

Bila melihat produktivitas ekuivalen tenaga kerja regional, pada tahun 2015 terdapat 9
provinsi yang produktivitas ekuivalen tenaga kerjanya di atas angka nasional yaitu provinsi
Kalimantan Timur (273,47 juta), DKI Jakarta (257,24 juta), Riau (177,86 juta), Kalimantan Utara
(166,37 juta), Kepulauan Riau (163,25 juta), Papua Barat (139,06 juta), Papua (88,78 juta),
Jambi (88,77 juta), dan Sulawesi Selatan (77,27 juta). Sedangkan produktivitas ekuivalen
tenaga kerja terendah terdapat di provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu hanya sebesar 31,30
juta per pekerja per tahun. (Gambar 4.6)

Gambar 4.6 Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh menurut Provinsi, 2014-2015
(Juta/Tenaga Kerja/Tahun)

Jatim
Sulteng

Kalbar
Papua Barat

Sultra

Banten

NTB

Maluku
NTT
Kep. Riau

Sulut

Jateng
Sumut

Kep. Babel
Papua

Sumbar
Aceh

Sulbar

DIY
Kalteng

Kalsel
Jabar
Lampung

Malut

Gorontalo
DKI Jakarta

Kaltara

Sulsel

Sumsel
Kaltim

Jambi

Bengkulu
Riau

Bali

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Secara nasional, produktivitas ekuivalen tenaga kerja tahun 2015 lebih kecil Jika
dibandingkan dengan produktivitas tenaga kerja. Pada tahun 2015, produktivitas ekuivalen
tenaga kerja sebesar 77,01 juta per tenaga kerja per tahun, sedangkan produktivitas tenaga
kerja konvensional sebesar 78,18 juta per tenaga kerja per tahun. Atau dengan kata lain,
tenaga kerja di Indonesia masih kurang produktif karena masih banyak tenaga kerja yang
bekerja 40 jam ke atas untuk menghasilkan output yang sama.

Akan tetapi walaupun secara nasional kurang produktif, bila dilihat secara regional, ada
20 provinsi yang produktivitas ETK nya lebih tinggi dibandingkan produktivitas tenaga kerja
konvensional. (Tabel 4.1)

45
34 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia BAB 54

Tabel 4.1 Provinsi yang Produktivitas ETK-nya Lebih Tinggi dari Produktivitas Tenaga Kerja , 2015
(Juta/Tenaga Kerja/ Tahun)

Produktivitas Produktivitas
Provinsi Provinsi
ETK TK ETK Konvensional
Riau 177,86 175,76 Sulawesi Tengah 66,42 62,40
Papua Barat 139,06 137,67 Kalimantan Selatan 61,85 58,69
Papua 88,78 81,16 Aceh 62,58 57,31
Jambi 88,77 80,65 Lampung 58,82 54,89
Sumatera Utara 74,20 73,96 Kalimantan Barat 52,34 50,21
Sulawesi Selatan 77,27 71,94 Sulawesi Barat 55,94 43,60
Sumatera Selatan 73,31 68,73 Maluku Utara 46,35 42,23
Sulawesi Tenggara 72,09 67,90 Bengkulu 45,75 42,10
Kalimantan Tengah 65,68 64,95 Nusa Tenggara Barat 45,16 41,77
Sumatera Barat 65,39 64,33 Nusa Tenggara Timur 31,30 25,60

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Bila melihat perbandingan tahun 2014 dengan 2015 terdapat 20 provinsi yang
produktivitas ETK 2015 lebih tinggi dibandingkan tahun 2014, sedangkan sisanya 14 provinsi
lebih rendah.

Masih Banyak Tenaga Kerja di Provinsi yang Bekerja Diatas Jam


Kerja Normal

Selain mengukur produktivitas tenaga kerja maupun ekuivalen tenaga kerja (ETK),
buku pengukuran produktivitas ini juga menyajikan pengukuran produktivitas menurut
jam kerja. Sama halnya dengan produktivitas tenaga kerja dan ETK, produktivitas per jam
kerja juga mengalami tren yang meningkat dari Rp 32.876 per jam di tahun 2011 menjadi
Rp 37.438 per jam pada tahun 2015. Bahkan di tahun 2013 sempat mencapai Rp 38.446 per
jam. Hal ini terjadi karena jam kerjanya pada tahun 2013 turun, bahkan dibawah tahun 2011,
walau jumlah tenaga kerja meningkat.

Pada tahun 2015 terdapat 9 provinsi yang produktivitas jam kerjanya di atas angka
nasional yaitu provinsi Kalimantan Timur (Rp 132.935 per jam), DKI Jakarta (Rp 125.045
per jam), Riau (Rp 86.459 per jam), Kalimantan Utara (Rp 80.873 per jam), Kepulauan Riau
(Rp 79.357 per jam), Papua Barat (Rp 67.597 per jam), Papua (Rp 43.159 per jam), Jambi (Rp
43.154 per jam), dan Sulawesi Selatan (Rp 37.560 per jam). Sedangkan produktivitas jam
kerja terendah terdapat di provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu hanya sebesar Rp 15.214 per
jam (Gambar 4.7).

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 46


35
Tahun 2016
BAB 54 Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia

Gambar 4.7 Produktivitas Jam Kerja menurut Provinsi, 2015 (Rupiah/Jam)

Sulteng

Lampung
Sultra

Banten

Jateng

NTB

Maluku
NTT
Papua Barat

Sumut

Jatim
Kep. Riau

Kep. Babel

Sulut

DIY
Sumbar

Kalbar
Kaltara

Aceh

Jabar
Papua

Sulsel

Sumsel

Kalteng

Kalsel

Sulbar

Malut
Bengkulu

Gorontalo
Kaltim
DKI Jakarta
Riau

Jambi

Bali
Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Bila melihat perbandingan antara tahun 2014 dengan 2015 terdapat 24 provinsi yang
produktivitas jam kerja 2015 lebih tinggi dibandingkan tahun 2014, sedangkan sisanya 10
provinsi mengalami penurunan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tenaga kerja di 10

Gambaran Produktivitas Kabupaten/Kota

Sementara itu, produktivitas di tingkat kabupaten/kota, baik produktivitas tenaga kerja,


produktivitas ETK, maupun produktivitas jam kerja, cukup bervariasi dan jaraknya cukup
lebar.

Produktivitas tenaga kerja tertinggi tahun 2015 sebesar 830,40 juta terjadi di kota
Jakarta Pusat provinsi DKI Jakarta, sedangkan yang terendah sebesar 4,98 juta terjadi di
kabupaten Sumba Tengah provinsi Nusa Tenggara Timur.

Desil teratas (20 persen teratas atau di atas 91,91 juta) produktivitas tenaga kerja
kabupaten/kota terbanyak di pulau Sumatera yaitu sebanyak 32 kabupaten/kota, diikuti
pulau Jawa sebanyak 25 kabupaten/kota, Kalimantan sebanyak 20 kabupaten/kota, pulau
Papua sebanyak 12 kabupaten/kota, pulau Sulawesi sebanyak 11 kabupaten/kota, dan
pulau Bali Nusa Tenggara sebanyak 2 kabupaten/kota.

Sebaliknya desil terbawah (20 persen terbawah atau 31,80 juta ke bawah) produktivitas
tenaga kerja kabupaten/kota terbanyak di pulau Jawa yaitu sebanyak 28 kabupaten/kota,
diikuti pulau Bali Nusa Tenggara sebanyak 25 kabupaten/kota, pulau Papua sebanyak 18
kabupaten/kota, pulau Sumatera sebanyak 15 kabupaten/kota, pulau Maluku sebanyak 9
kabupaten/kota, pulau Kalimantan dan Sulawesi masing-masing sebanyak 4 kabupaten/
kota.

47
36 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia BAB 54

Gambar 4.8 Peta Produktivitas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota, 2015

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Bila melihat produktivitas ETK 2015, maka kabupaten Teluk Bintuni provinsi Papua Barat
memiliki produktivitas ETK tertinggi mencapai 843,42 juta, sedangkan yang terendah di
kabupaten Pegunungan Arfak juga di provinsi Papua Barat yang hanya sebesar 7,89 juta.

Gambar 4.9 Peta Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Kabupaten/Kota, 2015

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 48


37
Tahun 2016
BAB 54 Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia

Tabel 4.2 Perbandingan Jumlah dan Persentase Produktivitas Tenaga Kerja dan Produktivitas ETK Kabupaten/
Kota Menurut Provinsi, 2015

Produktivitas
Pulau TK>ETK TK<ETK
Jumlah Persen Jumlah Persen
Aceh 5 21,74 18 78,26
Sumatera Utara 12 36,36 21 63,64
Sumatera Barat 7 36,84 12 63,16
Riau 3 25,00 9 75,00
Jambi 1 9,09 10 90,91
Sumatera Selatan 4 23,53 13 76,47
Bengkulu 1 10,00 9 90,00
Lampung 3 20,00 12 80,00
Kep. Bangka Belitung 4 57,14 3 42,86
Kepulauan Riau 4 57,14 3 42,86
DKI Jakarta 5 83,33 1 16,67
Jawa Barat 21 77,78 6 22,22
Jawa Tengah 24 68,57 11 31,43
D I Yogyakarta 4 80,00 1 20,00
Jawa Timur 21 55,26 17 44,74
Banten 6 75,00 2 25,00
Bali 9 100,00 0 0,00
Nusa Tenggara Barat 2 20,00 8 80,00
Nusa Tenggara Timur 1 4,55 21 95,45
Kalimantan Barat 3 21,43 11 78,57
Kalimantan Tengah 7 50,00 7 50,00
Kalimantan Selatan 4 30,77 9 69,23
Kalimantan Timur 7 70,00 3 30,00
Kalimantan Utara 2 40,00 3 60,00
Sulawesi Utara 8 53,33 7 46,67
Sulawesi Tengah 3 23,08 10 76,92
Sulawesi Selatan 6 25,00 18 75,00
Sulawesi Tenggara 3 17,65 14 82,35
Gorontalo 4 66,67 2 33,33
Sulawesi Barat 0 0,00 6 100,00
Maluku 3 27,27 8 72,73
Maluku Utara 2 20,00 8 80,00
Papua Barat 4 30,77 9 69,23
Papua 4 13,79 25 86,21
Indonesia 197 38,33 317 61,67

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

49
38 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia BAB 54

Hal tersebut ditunjukkan dengan sebagian besar kabupaten/kota, produktivitas ETKnya


lebih besar dibandingkan produktivitas tenaga kerjanya. Ada sebanyak 317 (61,67 persen)
kabupeten/kota yang produktivitas ETKnya lebih kecil dibandingkan produktivitas tenaga
kerjanya. Bila melihat perbandingan antar provinsi, maka ada 12 provinsi yang sebagian besar
produktivitas ETK kabupaten/kotanya lebih kecil dari produktivitas tenaga kerja kabupaten/
kota yaitu provinsi Kep. Bangka Belitung (57,14 persen), Kep. Riau (57,14 persen), DKI Jakarta
(83,33 persen), Jawa Barat (77,78 persen), Jawa Tengah (68,57 persen), Yogyakarta (80,00
persen), Jawa Timur (55,26 persen), Banten (75,00 persen), Bali (100,00 persen), Kalimantan
Timur (70,00 persen), Sulawesi Utara (53,33 persen), dan Gorontalo (66,67 persen) (Tabel
4.2).

Bila melihat produktivitas jam kerja 2015, maka kabupaten Teluk Bintuni provinsi Papua
Barat memiliki produktivitas jam kerja tertinggi mencapai Rp 409.994/jam, sedangkan
yang terendah di kabupaten Pegunungan Arfak juga di provinsi Papua Barat yang hanya
sebesar Rp 3.837/jam.

Gambar 4.10 Peta Produktivitas Jam Kerja Kabupaten/Kota, 2015

Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Dari 10 kabupaten/kota yang memiliki produktivitas tertinggi tahun 2015, baik


produktivitas tenaga kerja, ETK, maupun jam kerja, 9 diantaranya adalah kabupaten kota
yang sama yaitu Teluk Bintuni (Papua Barat), Kepulauan Anambas (Kep. Riau), Kota Jakarta
Pusat (DKI), Kutai Timur (Kalimantan Timur), Kota Bontang (Kalimantan Timur), Mimika
(Papua), Natuna (Kep. Riau), Kota Kediri (Jawa Timur), dan Kep. Seribu (DKI).

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 39


50
Tahun 2016
BAB 54 Gambaran Produktivitas Regional di Indonesia

Sedangkan dari 10 kabupaten/kota yang memiliki produktivitas terendah tahun 2015,


baik produktivitas tenaga kerja, ETK, maupun jam kerja, 8 diantaranya adalah kabupaten
kota yang sama yaitu Pegunungan Arfak (Papua Barat), Sumba Tengah (NTT), Lanny Jaya
(Papua), Nduga (Papua), Tolikara, (Papua), Yahukimo (Papua), Manggarai Timur (NTT), dan
Puncak Jaya (Papua).

Tabel 4.3 Sepuluh Kabupaten/Kota yang Produktivitasnya Tertinggi dan Terendah, 2015
Produktivitas Tertinggi 2015
TK ETK Jam Kerja
Kota Jakarta Pusat Teluk Bintuni Teluk Bintuni
(DKI Jakarta) 830,42 (Papua Barat) 843,42 (Papua Barat) 409.994

Teluk Bintuni Kepulauan Anambas Kepulauan Anambas


(Papua Barat) 783,58 (Kep. Riau) 798,99 (Kep. Riau) 388.399

Kepulauan Anambas Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Pusat


(Kep. Riau) 734,74 (DKI Jakarta) 714,22 (DKI Jakarta) 347.191

Mimika Kutai Timur Kutai Timur


714,51 555,47 270.018
(Papua) (Kalimantan Timur) (Kalimantan Timur)
Kutai Timur Kota Bontang Kota Bontang
656,35 542,19 263.565
(Kalimantan Timur) (Kalimantan Timur) (Kalimantan Timur)
Kota Bontang Mimika Mimika
620,60 538,40 261.722
(Kalimantan Timur) (Papua) (Papua)
Kota Kediri Natuna Natuna
558,70 524,49 254.959
(Jawa Timur) (Kep. Riau) (Kep. Riau)
Natuna Kota Kediri Kota Kediri
482,81 459,70 223.466
(Kep. Riau) (Jawa Timur) (Jawa Timur)
Kutai Kep. Seribu Kep. Seribu
428,80 412,74 200.638
(Kalimantan Timur) (DKI Jakarta) (DKI Jakarta)
Kep. Seribu Bengkalis Bengkalis
403,94 397,12 193.046
(DKI Jakarta) (Riau) (Riau)
Produktivitas Terendah 2015
TK ETK Jam Kerja
Sumba Tengah Pegunungan Arfak Pegunungan Arfak
4,98 7,89 3.837
(NTT) (Papua Barat) (Papua Barat)
Pegunungan Arfak Sumba Tengah Sumba Tengah
6,38 8,68 4.220
(Papua Barat) (NTT) (NTT)
Lanny Jaya Lanny Jaya Lanny Jaya
8,55 9,89 4.809
(Papua) (Papua) (Papua)
Tolikara Nduga Nduga
10,36 12,45 6.054
(Papua) (Papua) (Papua)
Puncak Jaya Tolikara Tolikara
10,48 12,77 6.205
(Papua) (Papua) (Papua)
Puncak Yahukimo Yahukimo
10,55 14,31 6.957
(Papua) (Papua) (Papua)
Nduga Manggarai Timur Manggarai Timur
10,76 15,25 7.415
(Papua) (NTT) (NTT)
Yahukimo Puncak Jaya Puncak Jaya
11,23 15,40 7.486
(Papua) (Papua) (Papua)
Dogiyai Tambrauw Tambrauw
12,75 16,13 7.842
(Papua) (Papua Barat) (Papua Barat)
Manggarai Timur Yalimo Yalimo
13,88 16,25 7.898
(NTT) (Papua) (Papua)
Sumber : BPS, PDRB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

40
51 Pengukuran
Pengukuran
Pengukuran Produktivitas
Produktivitas
Produktivitas Nasional,
Nasional,
Nasional, Regional,
Regional,
Regional, dan
dandan
Sektoral
Sektoral
Sektoral
Tahun
Tahun
Tahun 2016
2016
2016
BAB
BAB 5
4
4

Gambaran
Gambaran
Gambaran
Produktivitas
Produktivitas
Produktivitas Regional
di Indonesia
Sektoral
SektoraldidiIndonesia
Indonesia
BAB 1
BAB 5
BAB1 4
BAB 1

GAMBARAN
GAMBARAN
PENTINGNYA
PENTINGNYA
PRODUKTIVITAS
PRODUKTIVITAS REGIONAL
PENTINGNYA
MENGUKUR
MENGUKUR PRODUKTIVITAS
DI INDONESIA PRODUKTIVITAS
SEKTORAL DI INDONESIA

MENGUKUR PRODUKTIVITAS
PPeningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
roduktivitas tenaga kerja menggambarkan kinerja dari tenaga kerja, yang dapat diukur
dari output yang dihasilkan oleh tenaga kerja. Semakin besar output yang dihasilkan
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
berarti semakin produktif, atau semakin sedikit tenaga kerja yang digunakan maka semakin
PP roduktivitas tenaga kerja merupakan faktor penting dalam pembangunan suatu
produktif. Produktivitas
erkembangan teorijuga ekonomimerupakantelahtenaga salah satu berbagai
membawa indikator perubahan
penting dalam terkaitaktivitas
dengan

P
negara.
erkembangan Meningkatnya
teori ekonomiproduktivitas
telah membawa kerja akan mendorong
berbagai perubahan peningkatan
terkait dengan daya
ekonomi, yang
bagaimana dapat
mengukur menjadi
performa pendorong
suatu atau
negara. daya
Salah ungkit
satu (leverage)
kriteria yang pertumbuhan
sering digunakan
saing dan
bagaimana pertumbuhan
mengukur ekonomi
performa melalui
suatu negara.peningkatan
Salahdaerah efektivitas
satu juga
kriteria dan
yang efisiensi
sering produksi.
ekonomi nasional
untuk mengetahui dalam jangka
kinerja suatu panjang.
negara Produktivitas
atau berguna
adalah untukdigunakan
pertumbuhan menyusun
ekonomi
Produktivitas
untuk mengetahui tenaga kerja
kinerja di masing-masing
suatu negara kategori
atau daerah lapangan
adalah usaha ekonomi
pertumbuhan merupakan
ekonomi
rencana strategis
(Krisnamurthi, organisasi
1995 dandalam baik
Sukirno, pada tingkat
1996). Dalam makro maupun
menciptakan mikro.
pertumbuhan ekonomi yang
salah satu indikator
(Krisnamurthi, 1995 dan kunci
Sukirno, 1996). menentukan Dalam kesiapan
menciptakan Indonesia dalam kancah
pertumbuhan persaingan
ekonomi yang
besar, diperlukan
pasardiperlukan
global. Oleh pertumbuhan
karena itu, penentuan output (Adam
skalaSmith Smith
prioritas dalam
dalam Arsyad, 1999)
hal pembangunan yang biasanya
ekonomi
besar,
diukur dengan pertumbuhan
Produk Domestik output Bruto (Adam(PDB) atau dalam
Produk Arsyad,
Domestik 1999)
RegionalyangBruto
biasanya(PDRB).
Indonesia
diukur dengan sangatlah
Produk Domestikpenting. Skala Bruto prioritas
(PDB) atau tersebut
Produk mampuDomestikmendukung
Regional Bruto produktivitas
(PDRB).
tenaga kerja di setiap
Produktivitas
Berbicara tentang kategori
Tenaga output, lapangan
Kerja
maka tidak usaha.
Beberapaterlepas dari Provinsi Masihdi Perlu
sistem produksi suatu negara yang
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
Berbicara
terdiri
Ditingkatkan
terdiri dari
dari
Kategori
3
tentang
3 komponen,
komponen,
selanjutnya disebut
output,
lapanganyaitu
maka
yaitu
usaha
sebagai
tidak
sumber
ekonomi
sumber
faktor
terlepas
daya
produksi.
daya
yang
alam,
dari sistem
alam, sumber
memberikan
sumber
Pertumbuhan
produksi
daya
daya di suatu dan
manusia,
kontribusidan
manusia,
kualitasdanmaupun
negara
besar
modal
modalyangyang
terhadap
kuantitas yangfaktor-
pertumbuhan
selanjutnya disebutekonomi,
sebagai saat ini
faktor belum
produksi. semua memiliki
Pertumbuhan produktivitas
kualitas maupun penyerapan
kuantitas tenaga
faktor-
faktor
kerja yang produksi
tinggi. tersebut
Kategori adalah
lapangan booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama dengan
Produktivitas tenaga kerja sudah usaha menjadi Industri
salah Pengolahan
satu merupakan
fokus bersama-sama
utama kontributor
pemerintah yang

P
faktor produksi
pemanfaatan tersebut
teknologi adalah
(Robert booster
Solow pertumbuhan
dan Trevor ekonomi
Swan dalam Arsyad, 1999). dengan
Akumulasi
terbesar
tercantum
pemanfaatan erkembangan
dalam
daripenyerapan
dalam
berbagai
PDB
teknologi salah
faktor
Indonesia.
satu
(Robert teori
tersebut
agenda
Solow
akan
ekonomi
Sayangnya,dan Trevortelah
prioritas
menghasilkan
hal ini
program tidak
Swan membawa
diimbangi
Nawacita.
dalam
pertumbuhan
dengan
Agenda
Arsyad, berbagai
produktivitas
tersebut
1999).
ekonomi
perubahan terkait
adalah
Akumulasi
yang tinggi jika
dan
meningkatkan tenaga
produktivitas kerja yang
rakyat dan tinggi.
daya Meskipun
saing di pasarindustri pengolahan
Internasional sehinggamerupakan
bangsa
bagaimana
dari didukung
berbagai
kontributor
Indonesia
faktor tersebut
dengan
terbesar
bisa maju
mengukur
dalam
dan PDB,
bangkit tapi
bersama
performa
akan menghasilkan
produktivitas yang tinggi pula.
produktivitas
suatu
pertumbuhan
bangsa-bangsa
Dengan
tenaga
negara.
kerja
Asia
ekonomi
demikian, Salah
kategori
lainnya
yangsatu
pertumbuhan tinggikriteria
lapangan
(program
jika
ekonomi
ke 6).usaha
Pada
yang sering di
didukung
tidak dengan
dapat produktivitas
terlepas dari yang
produktivitastinggi pula. Dengan
faktor-faktor demikian,
produksi. pertumbuhan ekonomi
iniuntuk
lebih
subbab
tidak dapat ini, mengetahui
rendah
akan
terlepas dibandingkan
diberikan kinerja
kategori
gambaran
dari produktivitas suatu produksi.
lapangan
produktivitas
faktor-faktor negara
usaha
tenaga Real
kerjaatau
Estate daerah
dan
regional kategori adalah
lapangan pertumbuhan e
di Indonesia.
usaha Informasi
Dengan demikian, dan Komunikasi.produktivitas Penyerapan
merupakan tenagasalah kerja
satudi kategoripenting
indikator lapangan dalamusaha ini
aktivitas
(Krisnamurthi,
juga
Perekonomian
Dengan
lebih demikian,
rendah
1995
Indonesia
produktivitas
dibandingkan
dan Sukirno,
mengalami
merupakan
dengan
1996).
peningkatan
salah
kategori satu
lapangan
Dalam
dari waktu
indikatorusaha
menciptakan
penting kedalam
Pertanian,
waktu, pertumbuhan ekono
namun
aktivitas
Kehutanan,
ekonomi. Produktivitas merupakan daya ungkit (leverage) bagi pertumbuhan ekonomi
pertumbuhannya selama kurun waktu 2011-2015 terus melambat dari 6,17 persen pada
danbesar,
ekonomi.Perikanan
nasional
tahun 2011
diperlukan
Produktivitas
dalam danjangka
menjadi
kategori
4,79
pertumbuhan
merupakanlapangan
panjang.
persen
daya
Hal
pada
usaha ungkit
ini yang
tahun
output
(leverage)
Perdagangan
menjadi
2015. Ini
(Adam
salah bagi
Besar
merupakan
satudan Smith
pertumbuhan
Eceran;
alasan
yang
dalamekonomi
Reparasi
mengapa
terendah
Arsyad,
Mobil
dewasa
selama
ini 1999) yang
nasional
danbanyak dalam
Motor. jangka
Dengan
negara yang panjang.
melihat
berlomba Haldalam
kontribusiini yangPDB menjadi
dan tingkat
meningkatkan salah satu alasan mengapa
produktivitas
produktivitas. tenaga kerja dewasa ini 5
di setiap
diukur
tahun
banyak
kategori negara dengan
terakhir. yang
lapangan
Kondisi Produk
ini adalah
berlomba
usaha, diharapkandalam Domestik
pertama
meningkatkankali Bruto
pembangunan
pertumbuhan (PDB)ekonomi
produktivitas. atau Produk IndonesiaDomestik
ekonomi Indonesia akan dapat lebih
berada di Regional Bruto
bawahDi 5 persen
tataran sejak terjadi krisis
nasional, keuanganmerupakan
produktivitas global tahunsalah 2009.satuWalaupun
isu pertumbuhannya
pembangunan yang
terarah dan fokus.
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
melambat,
menjadi
menjadi
Berbicara
tetapi jumlah
bagian agenda tentangtenaga output,
kerja
prioritas terus
pemerintah maka
bertambah.tidak
saat Padaterlepas
tahun
ini. Peningkatan dari
2011 sistem
tenaga
produktivitaskerja produksi
yang
menjadi di suatu neg
salahbagian
terserap sebanyak
satu agenda
program 107,4prioritas
juta orang
pembangunan pemerintah
dan meningkat
dalam saatRencana
ini. Peningkatan
pada tahun 2015
Pembangunan produktivitas
menjadi 114,8
Jangka menjadi
juta.
Menengah
salahterdiri
Nasional dari
satu program
(RPJMN) 3 komponen,
pembangunan
2015-2019. Sasaran yaitu
dalam sumberPembangunan
Rencana
pembangunan daya
ini jugaalam,
merupakan sumber
Jangka dayadalam
Menengah
terjemahan manusia, dan mo
Nasional Produktivitas
(RPJMN) tenaga
2015-2019. kerja selama
Sasaranpada kurun
pembangunan waktu yang sama, juga
ini juga merupakan terjemahan dalamterus mengalami
selanjutnya
Nawacita
peningkatan
Nawacita
Presiden
PresidendariJoko disebut
67,84
Joko Widodo
juta per
Widodo
sebagai
tenaga
pada butir
faktor
kerja perproduksi.
butir keenam.
keenam. tahun pada tahun Pertumbuhan
2011 menjadikualitas78,18 juta maupun kuantita
perfaktor
tenaga produksi
kerja per tahun tersebut
di tahunadalah 2015, yang booster
mengindikasikanpertumbuhan bahwa kualitas ekonomitenaga bersama-sama
kerja di Indonesia juga terus meningkat.
pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999). Ak
1 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
139
28
41 dari berbagai
Pengukuran
Pengukuran
TahunProduktivitas
Produktivitas
2016 faktor
Nasional,
Nasional, tersebut
Regional,
Regional,
dandan Sektoral akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang ti
Sektoral
Tahun
Tahun
2016
2016
didukung dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan demikian, pertumbuhan e
tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi.
Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia BAB 45

Sektor Real Estat Memiliki Produktivitas Tertinggi

Belum selarasnya struktur ekonomi indonesia dengan produktivitas tenaga kerja di


setiap kategori lapangan usaha menyebabkan melambatnya pertumbuhan produktivitas
nasional. Kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap kesiapan Indonesia dalam
menghadapi persaingan ekonomi global, khususnya dalam menghadapi era Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA). Apabila masyarakat Indonesia tidak siap untuk bersaing, maka
Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara lain. Hal ini menyebabkan Indonesia tidak
bisa mensejajarkan dirinya dengan negara-negara lain di Asia.

AS Kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi persaingan global, diantaranya


diketahui melalui produktivitas tenaga kerja pada setiap kategori lapangan usaha ekonomi.
Gambar 4.1 menunjukkan produktivitas tenaga kerja kategori lapangan usaha di Indonesia
pada tahun 2014 dan 2015. Produktivitas tenaga kerja tertinggi pada 2015 terjadi di kategori
lapangan usaha Real Estate (kategori L), sebesar 927,17 juta rupiah per tenaga kerja per
tahun. Sedangkan kontribusi PDB dari kategori lapangan usaha ini hanyalah 268,81 triliun
rupiah (Gambar 5.2). Produktivitas tenaga kerja terendah pada 2015 terjadi di kategori
lapangan usaha Jasa Lainnya (kategori R,S,T,U) , yakni sekitar 27 juta rupiah per tenaga kerja
per tahun.

Gambar 5.1 Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia Menurut Kategori Lapangan Usaha Tahun 2015 (Juta/
Tenaga Kerja/Tahun)

gunan
961,34
927,17

781,48
674,20

terkait dengan
574,07
555,21

471,54
459,14

ering digunakan
buhan ekonomi
211,45
207,83

n ekonomi yang
124,37
118,67

113,54
108,66
108,36

107,40

80,88
77,02

75,47
70,92

68,71
67,03

56,50
56,22

53,52
51,36

50,58
48,62

31,11

31,00
28,97

27,74

26,99

9) yang biasanya
20,67

nal Bruto (PDRB).

uatu negara yangSumber : BPS, PDB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)
dan modal yang
kuantitas faktor-
ma-sama dengan
1999). Akumulasi
yang tinggi jika Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 29
42
Tahun 2016
mbuhan ekonomi
BAB 45 Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia

Kontributor terbesar PDB Indonesia tahun 2015 adalah kategori lapangan usaha
Industri Pengolahan (kategori C), diikuti oleh kategori lapangan usaha Pertanian, Kehutanan,
dan Perikanan (kategori A); dan kategori lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Motor (kategori G). Sekitar 20 persen PDB Indonesia dihasilkan dari
kategori lapangan usaha Industri Pengolahan. Besarnya kontribusi kategori lapangan usaha
ini terhadap PDB Indonesia belum diimbangi dengan peningkatan produktivitas tenaga
kerja. Gambar 5.1 menunjukan bahwa produktivitas tenaga kerja kategori lapangan usaha
ini di Indonesia tahun 2015 masih rendah, yaitu sebesar 124,37 juta rupiah per tahun.

Gambar 5.2 Kontribusi PDB dan Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Kategori,
2015 (Persen)

Sumber: BPS, PDB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Keterangan Kategori:
A. Pertanian, Kehutanan, & Perikanan. J. Informasi dan Komunikasi
B. Pertambangan dan Penggalian K. Jasa Keuangan dan Asuransi
C. Industri Pengolahan L. Real Estate
D. Pengadaan Listrik dan Gas M,N. Jasa Perusahaan
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan

Sosial Wajib
F. Konstruksi P. Jasa Pendidikan
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

Motor
H. Transportasi dan Pergudangan R,S,T,U. Jasa lainnya
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

43
30 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia BAB 45

Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya produktivitas kategori lapangan


usaha Industri Pengolahan (kategori C) adalah masih rendahnya kualitas sumber daya
manusia (SDM). Karena, 56,28% pekerjanya hanya mengenyam pendidikan SMP ke bawah.
Faktor lainnya adalah adanya ketimpangan infrastruktur antar wilayah di Indonesia. Hal
ini dapat dilihat dari ketimpangan jumlah industri besar sedang antar wilayah. Data BPS
menunjukkan bahwa jumlah industri besar dan sedang tahun 2013 masih terpusat di
pulau Jawa, yakni sebanyak 19.733 perusahaan, sedangkan di luar pulau Jawa hanya 4.168
perusahaan. Peningkatan produktivitas tenaga kerja pada kategori lapangan usaha ini
melalui peningkatan kualitas SDM, serta dengan pemerataan pembangunan infrastruktur
akan dapat mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sektor-sektor padat modal cenderung mempunyai produktivitas yang tinggi.
Kategori lapangan usaha Real Esate (kategori L) adalah kategori lapangan usaha dengan
produktivitas tertinggi tahun 2015, diikuti oleh kategori lapangan usaha Informasi dan
Komunikasi (kategori J); serta kategori lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian
(kategori B). Ketiga kategori lapangan usaha ini merupakan kategori lapangan usaha padat
modal (capital intensive). Elastisitas kapital pada setiap kategori lapangan usaha tersebut
lebih besar dari elastisitas tenaga kerja.
Kategori lapangan usaha Real Estate (kategori L) memiliki prospek yang menjanjikan
di Indonesia. Bisnis di kategori lapangan usaha ini menjadi primadona karena memiliki
prospek jangka panjang. Kecenderungan meningkatnya harga tanah dan bangunan serta
permintaan yang terus meningkat pada kategori lapangan usaha ini menarik minat para
investor. Hal yang menarik adalah, terjadinya penurunan produktivitas yang cukup tinggi
pada kategori lapangan usaha ini dari tahun 2014 hingga 2015. Pada saat yang sama terjadi
perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai dampak dari lesunya perekonomian
global.

Gambar 5.3 Tenaga kerja menurut kategori lapangan usaha (Juta Orang), 2014-2015
38,97
37,75

21,35
20,94
15,62
15,54

8,21
7,28

6,48
5,61
5,43

5,37
5,24
4,82
4,62
4,61

4,03
3,66
1,67
1,51

1,46
1,43

1,37

1,33
1,32

1,27
0,57
0,54

0,29
0,27

0,27
0,22
0,20
0,20

Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2015

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 44


31
Tahun 2016
BAB 54 Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia

Kategori lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (kategori J) merupakan kategori


lapangan usaha dengan peningkatan produktivitas kedua terbesar pada tahun 2014 2015.
Pada tahun 2014 produktivitas kategori lapangan usaha ini sebesar 674,20 juta rupiah per
tahun. Sedangkan pada tahun 2015 sebesar 781,48 juta rupiah per tahun. Peningkatan
produktivitas sektor ini terjadi seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, saat
ini sarana komunikasi dan teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Hal ini terindikasi dari peningkatan pengguna internet masyarakat dari tahun ke tahun. Di
sisi lain, terjadi penurunan jumlah tenaga kerja pada kategori lapangan usaha tersebut,
seperti ditunjukan pada Gambar 5.3. Kedua hal tersebut merupakan penyebab peningkatan
produktivitas yang cukup tinggi di kategori lapangan usaha ini.

Kategori lapangan usaha ekonomi padat karya (labor intensive) secara umum memiliki
produktivitas yang rendah. Kategori lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
(kategori A) merupakan kategori lapangan usaha dengan produktivitas ketiga terendah.
Padahal kategori lapangan usaha ini menyumbang sekitar 13 persen PDB Indonesia tahun
2015. Kategori lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
(kategori E) menempati posisi kedua produktivitas terendah dan kategori lapangan usaha
Jasa Lainnya (kategori R,S,T,U) merupakan kategori lapangan usaha dengan produktivitas
paling rendah.

Gambar 5.4 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan yang
Ditamatkan dan Kategori Lapangan Usaha Ekonomi, 2015
8,06
11,66

16,36

28,13

28,67
21,76

27,79
16,66

28,66

44,47
33,33

44,90
34,01
29,92

37,99

37,58

53,07

66,90
73,35
25,21
15,74

23,19
16,55

61,55

21,14

45,15

44,46
23,73
22,56

20,52
70,67

44,96

47,78
41,21
48,62
48,53
45,47

44,47
22,36
8,32

13,12
39,82
36,28
34,65
33,72

10,44 11,64

21,62
18,39

13,75

Sumber: BPS, Publikasi Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2015

Sebagai kontributor PDB terbesar kedua, kategori lapangan usaha Pertanian, Kehutanan,
dan Perikanan (kategori A) merupakan kategori lapangan usaha dengan penyerapan tenaga
kerja tertinggi. Lebih dari 30 persen tenaga kerja terserap dalam kategori lapangan usaha
ini. Sementara itu, produktivitas kategori lapangan usaha ini hanya 31,11 juta rupiah per

45
32 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
BAB 45 Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia

lapangan usaha Real Estate menunjukkan bahwa dengan memperhatikan jam kerja
normal, produktivitasnya tetap lebih tinggi dari kategori lapangan usaha lain. Tingginya
produktivitas ETK pada kategori lapangan usaha real estate diikuti oleh kategori lapangan
usaha Informasi dan Komunikasi (kategori J), yaitu sebesar 664,59 juta per tenaga kerja per
tahun, dan kategori lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian (kategori B) sebesar
515,62 juta per tenaga kerja per tahun.

Kategori lapangan usaha Jasa Lainnya memiliki produktivitas ETK terendah tahun
2015, yakni 24,64 juta rupiah per tenaga kerja per tahun. Rendahnya produktivitas ETK
di kategori lapangan usaha ini diikuti oleh dua kategori lapangan usaha lainnya, yaitu
kategori lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
(kategori E) dan kategori lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (kategori A).
Produktivitas ETK di kategori lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah
dan Daur Ulang adalah sebesar 25,86 juta rupiah per tenaga kerja per tahun. Sedangkan,
produktivitas ETK di kategori lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan adalah
sebesar 39,24 juta rupiah per tenaga kerja per tahun.

Gambar 5.6 Rata-rata Jam Kerja Tenaga Kerja Menurut Kategori Lapangan Usaha di Indonesia, 2015

Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Pada tahun 2015, hampir seluruh kategori lapangan usaha memiliki produktivitas ETK
yang lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas tenaga kerja. Dengan kata lain,

dan produktivitas tenaga kerja kategori lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (kategori
J) sebesar 116,89 juta per tenaga kerja per tahun. Hal yang serupa juga ditunjukkan oleh
kategori lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian (kategori B). Fenomena ini
mengindikasikan bahwa jam kerja per minggu pada kategori lapangan usaha tersebut
adalah di atas jam kerja normal (40 jam).

34
47 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia BAB 45

Hal yang menarik terjadi pada produktivitas ETK di kategori lapangan usaha Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan (kategori A); dan kategori lapangan usaha jasa Pendidikan
(kategori P). Produktivitas ETK pada kedua kategori lapangan usaha tersebut lebih tinggi
dibandingkan produktivitas tenaga kerjanya. Hal ini mengindikasikan bahwa, secara rata
rata tenaga kerja di kategori lapangan usaha ini bekerja kurang dari 40 jam per minggu,
seperti terlihat pada Gambar 5.6 di atas.

Produktivitas ETK lebih tinggi dibandingkan produktivitas tenaga kerja pada kategori
lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (kategori A), tidak menunjukan bahwa

rendahnya jam kerja di kategori lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.
Tenaga kerja pada kategori lapangan usaha ini umumnya bekerja pada masa tanam atau
panen saja. Ketika masa tanam atau panen tersebut telah usai, mereka cenderung untuk
bekerja di kategori lapangan usaha lain atau bahkan menunggu hingga masa tanam dan
masa panen berikutnya datang. Fenomena el nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang
terjadi pada Agustus 2015 menjadi faktor penyebab mundurnya masa tanam atau masa
panen.

Jam Kerja di Beberapa Sektor di Atas Jam Kerja Normal

Penambahan durasi jam kerja dari tenaga kerja, belum tentu akan menambah tingkat
produksi tenaga kerja tersebut. Shepard dan Clifton (2000) yang dikutip oleh Golden (2011)
memandang bahwa produktivitas produksi tidak selalu meningkat ketika jumlah jam kerja
diperpanjang . Di Indonesia, rata rata lama jam kerja tahun 2015 adalah 40,61 jam per
minggu. Menurut Undang Undang (UU) Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, jam kerja
lebih dari 40 jam per minggu dianggap sebagai jam kerja yang lama. Penerapan jam kerja
berlebihan dapat menyebabkan terjadinya kelelahan kerja dan meningkatnya absensi
pekerja. Oleh karena itu, penerapan jam kerja yang berlebihan akan mempengaruhi
produktivitas tenaga kerja.

Peningkatan produktivitas adalah unsur penting dalam kemajuan perekonomian


Indonesia. Produktivitas jam kerja Indonesia selama 2014 - 2015 mengalami peningkatan
dengan rata-rata peningkatan sebesar 2,84 persen. Sama halnya dengan produktivitas
tenaga kerja, penyumbang produktivitas jam kerja terbesar pada tahun 2015 adalah kategori
lapangan usaha Real Estate (kategori L), yakni sebesar 450.230 juta rupiah per jam kerja per
tahun (Gambar 5.7). Hal ini berarti bahwa tenaga kerja pada kategori lapangan usaha ini
mampu memproduksi output sebesar Rp 450.230,- per jam dalam setahun. Sementara itu,
kategori usaha Jasa Lainnya (kode R,S,T,U) memiliki produktivitas jam kerja paling rendah,
yakni sebesar Rp 11.976,- per jam dalam setahun.

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 35


48
Tahun 2016
BAB 45 Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia

Gambar 5.7 Produktivitas Jam Kerja Menurut Kategori Lapangan Usaha Ekonomi, 2014-2015 (Rupiah/Jam)
472.367
450.230

323.065
278.465

250.651
237.864

212.154
204.701

92.265
91.770

55.848
53.851

48.750
47.845
46.824

45.355

37.787
35.824

31.673
30.828

30.714
29.050

27.852
26.991

22.856
22.815

21.743
20.614

19.075
18.030

14.298
12.570

11.976
9.905
Sumber : BPS, PDB dan Sakernas Agustus 2015

Gambar 5.7 menunjukkan bahwa terdapat 8 kategori lapangan usaha yang memiliki
produktivitas jam kerja di atas produktivitas jam kerja nasional pada tahun 2015, yaitu kategori
lapangan usaha Real Estate (L); Informasi dan Komunikasi (J); Pertambangan dan Penggalian
(B); Pengadaan Listrik dan Gas (D); Jasa Keuangan dan Asuransi (K); Industri Pengolahan (C);
Jasa Perusahaan (M,N); dan Konstruksi (F). Sedangkan jika dilihat pertumbuhannya selama
2014 2015, terdapat 9 kategori lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan produktivitas
jam kerja yang positif (Tabel
(Tabel5.1)
1). Tiga diantaranya adalah kategori lapangan usaha Jasa
Lainnya (20,91 persen); kategori lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (16,02 persen);
kategori lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan (6,12 persen). Pertumbuhan
produktivitas jam kerja positif pada beberapa kategori lapangan menunjukan terjadinya
output per jam dalam setahun,
kecuali untuk kategori lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan (kategori A).
Produktivitas tenaga kerja pada kategori lapangan usaha ini masih sangat tergantung pada
faktor musiman.

36
49 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia BAB 54

Tabel 5.1. Pertumbuhan Produktivitas Jam Kerja per Sektor, 2015


Produktivitas Jam Kerja Pertumbuhan
Kategori Lapangan Usaha
2014 2015 2015 (%)
A. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 18.030 19.075 5,80
B. Pertambangan dan Penggalian 237.864 250.651 5,38
C. Industri Pengolahan 53.851 55.848 3,71
D. Pengadaan Listrik dan Gas 204.701 212.154 3,64
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 14.298 12.570 -12,08
F. Konstruksi 48.750 45.355 -6,96
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 22.815 22.856 0,18
H. Transportasi dan Pergudangan 29.050 30.828 6,12
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 21.743 20.614 -5,20
J. Informasi dan Komunikasi 278.465 323.065 16,02
K. Jasa Keuangan dan Asuransi 92.265 91.770 -0,54
L. Real Estate 472.367 450.230 -4,69
M,N. Jasa Perusahaan 47.845 46.824 -2,13
O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 37.787 35.824 -5,19
P. Jasa Pendidikan 26.991 27.852 3,19
Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 31.673 30.714 -3,03
R,S,T,U. Jasa lainnya 9.905 11.976 20,91
Indonesia 36.405 37.438 2,84

Sumber : BPS, PDB dan Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Gambar 5.8 Rata-rata Jam Kerja dan Rata-rata Upah/Gaji/Pendapatan Tenaga Kerja Menurut Kategori
Lapangan Usaha Ekonomi, 2015

Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2015 (Diolah)

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 50


37
Tahun 2016
BAB 45 Gambaran Produktivitas Sektoral di Indonesia

Gambar 5.8 menunjukkan bahwa hampir seluruh kategori lapangan usaha menerapkan
jam kerja di atas jam kerja normal. Pengaturan jam kerja di Indonesia sangat erat kaitannya
dengan sistem pengupahan. Secara umum, tenaga kerja di Indonesia memiliki jam kerja yang
lama dengan upah yang relatif rendah. Hanya tiga kategori lapangan usaha yang menerapkan
rata rata jam kerja di bawah atau sama dengan yang ditetapkan UU ketenagakerjaan,
yaitu kategori lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (A) selama 32 jam per
minggu; Jasa Pendidikan (P) selama 35 jam per minggu; dan Real Estate (L) selama 40 jam
per minggu. Peningkatan produktivitas tenaga kerja di Indonesia dapat dilakukan melalui
investasi di bidang sumber daya manusia dan infrastruktur. Peran pemerintah sangat
dibutuhkan dalam mengatasi permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia.

38
51 Pengukuran
Pengukuran
Pengukuran Produktivitas
Produktivitas
Produktivitas Nasional,
Nasional,
Nasional, Regional,
Regional,
Regional, dan
dandan
Sektoral
Sektoral
Sektoral
Tahun
Tahun
Tahun 2016
2016
2016
BAB
BAB 66

Kesimpulan
Kesimpulan
BAB 1
BAB
BAB
BAB
BAB 55156
BAB
BAB 1

PENTINGNYA
PENTINGNYA
Kesimpulan
PENTINGNYA
MENGUKURPRODUKTIVITAS
MENGUKUR PRODUKTIVITAS

2015
MENGUKUR PRODUKTIVITAS
Jumlah
Jumlah angkatan
angkatan kerja
menunjukkan
kerja selama
bahwa
selama lima tahun terakhir cenderung
ada sekitar
2015 menunjukkan bahwa ada sekitar 122 juta orang
cenderung meningkat.
angkatan kerja
meningkat. Data
di
Data tahun
Indonesia,
tahun
sebanyak
kerja di Indonesia, sebanyak
115Peningkatan
115juta
jutaorang Produktivitas
orangdiantaranya
diantaranya tercatat Sebagai
tercatat sebagai penduduk Tujuan Pembangunan
yang bekerja.
bekerja.
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
Pada
Pada tahun
tahun 2015, 2015, tingkat
tingkat pendidikan tenaga kerja Indonesia Indonesia sebagian sebagian besar besar

PP
erkembangan
berpendidikan SLTP
berpendidikan SLTP ke bawah teori
ke ekonomi
bawah (70,96 telah
persen) membawa
dan hampirberbagai60 perubahan
persen bekerja terkait
persen bekerja di kegiatan di dengan
kegiatan
erkembangan
bagaimana teori
mengukur ekonomi telah membawa
performa berbagai perubahan terkait dengan
informal.
informal. Namun
Namundemikian,
demikian, secara secara trensuatu tenaga negara.
kerja Salah satu
yang memiliki kriteria
memiliki yang
pendidikan
pendidikan sering
SMA
SMA digunakan
keatas
ke atas
bagaimana
untuk mengukur
mengetahui performa
kinerja suatu
suatu negara.
negara Salah
atau satu
daerah kriteria
adalah yang sering
pertumbuhan digunakan
ekonomi
meningkat
meningkatdari dari 31,53
31,53 persen
persen padapada tahun 2011 menjadi 37,71 persen persen pada pada tahun
tahun 2015.2015.Hal Hal
untuk
tersebutmengetahui
searah
searahdengan
(Krisnamurthi,
tersebut 1995
dengankinerja tren
dan
tren suatu negara
1996). atau
produktivitas
Sukirno,
produktivitas Dalamdaerah
tenaga menciptakan adalah 2011-2015.
kerja periode pertumbuhanekonomi
2011-2015.
pertumbuhan ekonomiyang
(Krisnamurthi, 1995 dan
besar, diperlukan Sukirno, 1996).
pertumbuhan outputDalam (Adammenciptakan
Smith dalam pertumbuhan
Arsyad, 1999) ekonomiyang yangbiasanya
besar, Produktivitas
Produktivitas
diperlukan tenaga
tenaga kerja
pertumbuhan kerjaoutput
di Indonesia
(Adam tahun
Smith 2015
dalam mencapai
mencapai
Arsyad, 78,18yang
78,18
1999) juta per
juta per tenaga
tenaga
biasanya
diukur
kerja.
kerja. dengan
Dilihat
Dilihat dari
dari Produk Domestik
pertumbuhannya,
pertumbuhannya, Bruto
angka (PDB)
tersebutatau Produk
meningkat Domestik
dari
dari tahun
tahunRegional
sebelumnya
sebelumnyaBruto (PDRB).
pada
pada
diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
periodeBerbicara
periode 2011-2014.
2011-2014. Peningkatan dengan
tentang output, maka tidak terlepas dari sistem produksi di suatu negaraUMP
Peningkatan tersebut juga searah meningkatnya
meningkatnya rata-rata
rata-rata UMP yang
Peningkatan Produktivitas Sebagai Tujuan Pembangunan
pada
pada periodetentang
periode
Berbicara tahun 2011-2015.
tahun 2011-2015.
output,yaitu
makasumber
tidak terlepas dari sistem produksi di suatu dan negara yangyang
terdiri dari 3 komponen, daya alam, sumber daya manusia, modal
terdiri dari 3 komponen,
selanjutnya disebut yaitu
sebagai sumber
faktor daya
danproduksi. alam, sumber
Pertumbuhan daya manusia,
kualitas maupun dan modal yang
Produktivitas
Produktivitas tenaga
tenaga kerja
kerja produktivitas ETK memiliki
memiliki nilai
nilai yang kuantitas
yang hampir
hampir sama faktor-
sama
selanjutnya
bahkan disebut
hampir
faktorhampir
bahkan produksi sebagai
berhimpit, faktor
kecuali
tersebutkecuali
berhimpit, produksi.
di tahun Pertumbuhan
2013.
adalah booster pertumbuhan ekonomi Pada kualitas
tahun maupun
2011
2011 dandan kuantitas
2015
bersama-sama faktor-
produktivitas
2015 produktivitas dengan

P
faktor
tenaga
tenaga produksi
kerjalebih
kerja
pemanfaatan tersebut
lebih tinggi
teknologi adalah
tinggidibandingkan
dibandingkan
(Robert booster
Solow pertumbuhan
produktivitas
dan TrevorETK. ekonomi
Swan Hal ini
dalam bersama-sama
disebabkan
Arsyad, oleh
disebabkan oleh
1999). dengan
jumlah
jumlah ETK
ETK
Akumulasi
pemanfaatan erkembangan
dibandingkan
dibandingkan
dari berbagai teknologi
dengan
dengan (Robert
tenaga
faktor tenaga
teori
tersebut Solow
kerja
kerja
ekonomi
dan
keseluruhanTrevor telah
Swan
jumlahnya
akan menghasilkan pertumbuhan
membawa
dalamlebihArsyad,
besar.
besar.
ekonomi
berbagai
1999).
Artinya
Artinya Akumulasi
ada
yang
perubahan
banyak
adatinggi
banyak jika
terkait
tenaga
dari bagaimana
kerja
berbagai
tenaga
didukung yang
faktorbekerja
kerja dengan
yang mengukur
bekerja
tersebut melebihi jamperforma
akan menghasilkan
melebihi
produktivitas yang kerja normal
tinggi pula. suatu
Dengannegara.
atau
pertumbuhan terjadiekonomi Salah
inefisiensi
inefisiensi
demikian, yang satu
tinggikriteria
pekerjaan.
pekerjaan.
pertumbuhan jika
ekonomi yang sering di
didukung
tidak dengan
dapat produktivitas
terlepas dari yang tinggi
produktivitas pula. Dengan
faktor-faktor demikian,
produksi. pertumbuhan ekonomi
Produktivitas jam kerja secara umum juga mengalami peningkatan. Produktivitas jam
tidak untuk
kerja
mengetahui
Produktivitas
dapat terlepas
meningkat
jam kerja secara
daridari kinerja
Rpproduktivitas
32.876 per per jam
jam
suatu
faktor-faktor
di tahun
tahun 2011
negara
produksi.
2011 menjadi
atau
peningkatan. daerah adalah
Produktivitas jam pertumbuhan e
kerja meningkat dari Rp 32.876 di menjadi Rp. Rp. 37.438
37.438 di di tahun
tahun2015.2015.Hal Hal
ini jugaDengan
ini(Krisnamurthi,
juga
Dengan
demikian, produktivitas
mengindikasikan
mengindikasikan
demikian, 1995 danpenggunaan
efisiensi
efisiensi
produktivitas
merupakan
Sukirno,
penggunaan
merupakan 1996).
jam
jam
salah
salah
kerja.
kerja.
satu
satu indikator penting dalam aktivitas
Dalam penting
indikator menciptakandalam pertumbuhan ekono
aktivitas
ekonomi. Produktivitas merupakan daya ungkit (leverage) bagi pertumbuhan ekonomi
besar,
ekonomi. Kategori
Kategori
nasional diperlukan
Produktivitas
dalam lapangan
lapangan
jangka pertumbuhan
merupakan
usaha
usaha
panjang. daya
Industri
Industri
Hal ungkit
ini yang output
(leverage)
Pengolahan
Pengolahan
menjadi (Adam
bagi
merupakan
merupakan
salah Smith
satupertumbuhan
kontributor
alasan dalam
kontributor
mengapa ekonomi Arsyad,
terbesar
terbesar
dewasa ini 1999) yang
dalam
nasional
dalam
banyak PDB
dalam
PDBnegaraIndonesia.
jangka
Indonesia. Sayangnya,
panjang. Hal
Sayangnya,
yang berlomba ini
dalam hal
yang ini tidak
menjadi
halmeningkatkan diimbangi
salah
ini tidak diimbangi satu dengan
dengan produktivitas yang
alasan
produktivitas. produktivitas
mengapa dewasa ini
yang
banyakdiukur
tinggi.
tinggi. negara dengan
Meskipun
Meskipun yangindustri Produk
industri
berlomba dalamDomestik
pengolahan
pengolahan merupakan
meningkatkan
merupakan Bruto (PDB) atau
kontributor
produktivitas.
kontributor Produk
terbesar
terbesar dalamDomestik
dalam PDB,
PDB, tapitapi Regional Bruto
produktivitas
Di tenaga
tataran kerja
nasional, kategori lapangan
produktivitas usaha
merupakan ini lebih
produktivitas tenaga kerja kategori lapangan usaha ini lebih rendah dibandingkan kategori salah rendah
satu dibandingkan
isu pembangunan kategori yang
Di tataran nasional, produktivitas merupakan salah satu isu pembangunan yang
lapangan
menjadi
lapangan
menjadi
Berbicara
usaha
bagian
usaha
bagian
Real
Real tentang
Estate
agenda
Estate
agenda prioritas
dan output,
kategori
prioritas
dan kategori pemerintah
pemerintah
maka
lapangan
lapangan saattidak
usaha
usaha
saatRencana
terlepas
Informasi
ini. Informasi
Peningkatan
ini. Peningkatan
dan
dandari sistem
Komunikasi.
produktivitas
Komunikasi.
produktivitas
produksi
menjadi
menjadi
di suatu neg
salah satu program
Produktivitas tenaga pembangunan dalam Pembangunan Jangka Menengah
salah terdiri
Nasional
Real Estate
dari
Produktivitas
satu program
(RPJMN)
(kategori
3tenaga
komponen, kerja tertinggi
kerja
pembangunan
2015-2019.
L), sebesar
tertinggi pada
Sasaran
927,17
yaitu
dalam
juta
pada 2015
sumber
Rencana
pembangunan
rupiah per
terjadi
daya
2015Pembangunan
ini
tenaga
di
di kategori
jugaalam,
terjadi kategori
merupakan
kerja
sumber
Jangka
per
lapangan
lapangan
tahun.
daya
Menengah
terjemahan
usaha
usaha
Sedangkan
manusia, dan mo
dalam
Real
Nasional Estate (kategori
(RPJMN) L),
2015-2019. sebesar 927,17
Sasaranpada juta
pembangunan rupiah per tenaga kerja per
ini juga merupakan terjemahan dalamtahun. Sedangkan
selanjutnya
Nawacita
kontribusi
kontribusi
Nawacita PDBPresiden
PDB
Presiden
dari
dari disebut
Joko
Joko Widodo
kategori
kategori
Widodo
sebagai
lapangan
lapangan
pada butir
faktor
butirini
usaha
usaha ini
keenam.
produksi.
keenam.
hanyalah
hanyalah Pertumbuhan
268,81
268,81 triliun rupiah. kualitas maupun kuantita
triliun rupiah.
faktor produksi tersebut adalah booster pertumbuhan ekonomi bersama-sama
pemanfaatan teknologi (Robert Solow dan Trevor Swan dalam Arsyad, 1999). Ak
1 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
152 dari berbagai
Pengukuran
Pengukuran
Pengukuran
Tahun
Pengukuran
Pengukuran
Produktivitas
Produktivitas
Produktivitas
2016
Produktivitas
Produktivitas
faktor
Nasional,
Nasional,
Nasional,
Nasional,
tersebut
Regional,
Regional,
Nasional,
dandan
Regional,
Regional,
Regional,
dan Sektoral akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang ti
Sektoral
Sektoral
dandan
Sektoral
Sektoral
60
52 Tahun
Tahun
Tahun 2016
2016
2016
didukung
Tahun
Tahun 2016 dengan produktivitas yang tinggi pula. Dengan demikian, pertumbuhan e
2016

tidak dapat terlepas dari produktivitas faktor-faktor produksi.


Kesimpulan BAB 6
Kesimpulan BAB 6

Kategori
Kategori lapangan
lapangan usaha
usaha Informasi
Informasi dan Komunikasi (kategori
dan Komunikasi (kategori J)
J) merupakan
merupakan kategori
kategori
lapangan
lapangan usaha dengan peningkatan produktivitas kedua terbesar pada tahun 2014 2015.
usaha dengan peningkatan produktivitas kedua terbesar pada tahun 2014 2015.
Pada tahun 2014 produktivitas kategori lapangan usaha ini sebesar 674,20 juta rupiah
Pada tahun 2014 produktivitas kategori lapangan usaha ini sebesar 674,20 juta rupiah perper
tahun. Sedangkan pada tahun 2015 sebesar 781,48 juta rupiah per tahun.
tahun. Sedangkan pada tahun 2015 sebesar 781,48 juta rupiah per tahun.
Sama
Sama halnya
halnya dengan
dengan produktivitas
produktivitas tenaga kerja, kategori
tenaga kerja, kategori lapangan
lapangan usaha
usaha Real
Real Estate
Estate
(kategori L) memiliki produktivitas ETK tertinggi tahun 2015, yakni sebesar 926,19 juta
(kategori L) memiliki produktivitas ETK tertinggi tahun 2015, yakni sebesar 926,19 juta per per
tenaga kerja per tahun. Kategori lapangan usaha ini juga memiliki produktivitas jam
tenaga kerja per tahun. Kategori lapangan usaha ini juga memiliki produktivitas jam kerja kerja
tertinggi,
tertinggi,yaitu
yaitu 450.230
450.230 juta
juta rupiah
rupiah per
per jam kerja.
jam kerja.
Pada
Pada tahun
tahun 2015
2015 terdapat
terdapat 88 provinsi
provinsi yang produktivitas tenaga
yang produktivitas tenaga kerjanya
kerjanya di
diatas
atasangka
angka
nasional
nasional yaitu
yaitu Provinsi
Provinsi Kalimantan
Kalimantan Timur,
Timur, DKI Jakarta, Kepulauan
Kepulauan Riau,
Riau, Kalimantan
Kalimantan Utara,
Utara,

AS
DKI Jakarta,
Riau,
Riau,Papua
PapuaBarat,
Barat, Papua,
Papua, dan
dan Jambi.
Produktivitas
Produktivitastenaga
tenagakerja
kerja tertinggi pada tahun 2015 ditempati
ditempatioleh
olehProvinsi
ProvinsiKalimantan
Kalimantan
Timur
Timurdan
dandiikuti
diikuti oleh
oleh DKI
DKI Jakarta.
Jakarta. Sedangkan produktivitas tenaga
tenaga kerja
kerjaterendah
terendahterjadi
terjadidi
di
Provinsi
ProvinsiNusa
NusaTenggara
Tenggara Timur.
Timur.
Pada
Pada tahun
tahun 2015
2015 terdapat
terdapat 9 provinsi yang produktivitas
produktivitas ekuivalen
ekuivalen tenaga
tenaga kerjanya
kerjanyadi
di
atas
atas angka
angka nasional
nasional yaitu
yaitu provinsi Kalimantan Timur, DKI Jakarta,
Jakarta, Riau,
Riau, Kalimantan
Kalimantan Utara,
Utara,
Kepulauan
KepulauanRiau,
Riau, Papua
Papua Barat,
Barat, Papua, Jambi, dan Sulawesi Selatan.
Selatan. Sedangkan
Sedangkanproduktivitas
produktivitas
ekuivalen
ekuivalentenaga
tenaga kerja
kerja terendah
terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara
TenggaraTimur.
Timur.
Dalam
Dalamhal
halproduktivitas
produktivitas jam kerja, terdapat 9 provinsi yang
yang memiliki
memilikiangka
angkadi
diatas
atasangka
angka
nasional
nasional yaitu
yaitu Provinsi
Provinsi Kalimantan
Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Riau,
Riau, Kalimantan
Kalimantan Utara,
Utara, Kepulauan
Kepulauan
Riau, Papua
Riau, Papua Barat,
Barat, Papua,
Papua, Jambi,
Jambi, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan
Sedangkan produktivitas
produktivitas jam
jamkerja
kerja
terendahtetap
terendah tetap berada
berada di
di Provinsi
Provinsi Nusa Tenggara Timur.

gunan Pada level


Pada
830,40 juta
830,40
level kabupaten/kota
kabupaten/kota produktivitas tenaga kerja
juta terjadi
terjadi di
di Kota
kerja tertinggi
tertinggi tahun
Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta,
tahun 2015
Jakarta, sedangkan
2015 sebesar
sedangkan yang
sebesar
yang terendah
terendah
sebesar4,98
sebesar 4,98juta
juta terjadi
terjadi di
di Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi
Provinsi Nusa
NusaTenggara
TenggaraTimur.
Timur.

terkait dengan
ering digunakan
buhan ekonomi
n ekonomi yang
9) yang biasanya
nal Bruto (PDRB).

uatu negara yang


dan modal yang
kuantitas faktor-
ma-sama dengan
1999). Akumulasi
yang tinggi jika Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Pengukuran
Pengukuran
Produktivitas
Produktivitas
Nasional,
Nasional,
Regional,
Regional,
dandan
Sektoral
Sektoral 53
Tahun 2016 61
53
mbuhan ekonomi Tahun
Tahun
2016
2016
DAFTAR PUSTAKA

Daftar Pustaka
ADB. (2015). Asian development outlook 2015 update. Enabling women, energizing Asia
Philippines:
ADB. (2015). Asian ADB.
development outlook 2015 update. Enabling women, energizing Asia.
Amalia,Philippines:
L. (2007).ADB.
Ekonomi Pembangunan. Graha Ilmu:Yogyakarta.
BPS . (2015). Laporan Perekonomian Indonesia 2015. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik (2016). Statistik Indonesia 2016. BPS:Jakarta.
BPS . (2015). Statistik Indonesia 2015. Jakarta: BPS.
Bappenas. 2009. Peran Sektor Informal sebagai Katup Pengaman Masalah
BPS. (2015). Indeks Pembangunan Manusia 2014. Jakarta: BPS.
Ketenagakerjaan. Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangunan, Bappenas, Jakarta
BPS. (2015). Keadaan Angkatan Kerja Agustus 2014. Jakarta: BPS.
Bird, K. dan C. Manning (2003), Economic Reform, Labour, Markets and Poverty, dalam
Republik Indonesia. (2014). PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN
K. Sharma (ed.), Trade Policy, Growth and Poverty in Asian Developing Countries,
2015 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL 2015-
Routledge, London/New York.
2019. JAKARTA: BAPPENAS.
Borjas, George
Mankiw J. 2013.
(2000), Teori MakroLabor Economics
Ekonomi, 6th Edition.
Edisi Keempat, Erlangga,New York: The McGraw-Hill
Jakarta
Companies Inc.
Siregar, H (2006), Perbaikan Struktur dan Pertumbuhan Ekonomi: Mendorong dan
Menciptakan
BPS.2015. KeadaanLapangan
AngkatanKerja,
KerjaJurnal Ekononomi
Di Indonesia Politik
Agustus dan BPS:Jakarta.
2015. Keuangan, INDEF, Jakarta
Todaro, Michael
BPS . (2015). P, diterjemahkan
Laporan oleh Indonesia
Perekonomian Munandar2015.
Haris (2006),
Jakarta:Pembangunan
BPS. Ekonomi, jilid
1, Edisi Kesembilan, Erlangga, Jakarta.
BPS . (2015). Statistik Indonesia 2015. Jakarta: BPS.

BPS. (2015). Indeks Pembangunan Manusia 2014. Jakarta: BPS.

BPS. (2015). Keadaan Angkatan Kerja Agustus 2014. Jakarta: BPS.

Chenery H.B. and Syrquin. 1975. Patterns of Development 1950 1970. Oxford University
Press, London.

Chenery, Hllis. 1979. Structural Change and Development Policy. Oxford University Press,
New York.

Ehrenberg Ronald G. dan Robert S. Smith. (2012). Modern Labor Economics: Theory and
Public Policy 11th Edition. Boston: Pearson Education, Inc.

Firmanzah (2014). Pertumbuhan Ekonomi Berkualitas. http://www.neraca.co.id/


article/38452/Pertumbuhan-Berkualitas [diakses 5 Oktober 2016]

Fitriadi. 2016. Struktur Ekonomi Provinsi Kalimantan Timur. Forum Ekonomi, Vol 17 No.2
2016, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Samarinda.

ILO. 2015. Key Indicators of The Labour Market (KILM)16: Labour Productivity. http://
www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---dgreports/---stat/documents/publication/
wcms_422456.pdf (Diakses tanggal 4 Oktober 2016)

Koran Sindo, 22 April 2015. 2030, Indonesia Masuk 20 Besar Ekonomi Terbaik di Dunia.
http://nasional.sindonews.com/read/992470/149/2030-indonesia-masuk-20-
besar-ekonomi-terbaik-di-dunia-1429678339

54 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
DAFTAR PUSTAKA
Kesimpulan BAB 6

Kategori lapangan usaha Informasi dan Komunikasi (kategori J) merupakan kategori


lapangan usaha dengan peningkatan produktivitas kedua terbesar pada tahun 2014 2015.
Pada tahun 2014 produktivitas kategori lapangan usaha ini sebesar 674,20 juta rupiah per
tahun. Sedangkan pada tahun 2015 sebesar 781,48 juta rupiah per tahun.
Krisnamurthi, Y.B. 1995. Agribisnis dan Transformasi Struktur Ekonomi. Tinjauan Aspek
Ekonomi
Sama halnyaMakro dari produktivitas
dengan Agribisnis Indonesia. Bunga
tenaga kerja, Rampai
kategori Agribisnis.
lapangan usahaMMA-IPB,
Real Estate
Bogor.
(kategori L) memiliki produktivitas ETK tertinggi tahun 2015, yakni sebesar 926,19 juta per
tenaga kerja per tahun. Kategori lapangan usaha ini juga memiliki produktivitas jam kerja
Mankiw (2000),
tertinggi, yaituTeori Makro
450.230 jutaEkonomi,
rupiah perEdisi
jam Keempat,
kerja. Erlangga, Jakarta

Mankiw, N. Gregory.
Pada 2011.
tahun 2015 Best Principles
terdapat 8 provinsiofyang
Macroeconomics. Mason:kerjanya
produktivitas tenaga CengagediLearning.
atas angka
nasional yaitu Provinsi Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara,
Meier, G.M. 1995. Leading Issues in Economic Development. Oxford University Press. New
Riau, Papua Barat, Papua, dan Jambi.
York
Produktivitas tenaga kerja tertinggi pada tahun 2015 ditempati oleh Provinsi Kalimantan
Owens, Mark F. dan John H. Kagel. 2010. Minimum wage restrictions and employee effort
Timur dan diikuti oleh DKI Jakarta. Sedangkan produktivitas tenaga kerja terendah terjadi di
in incomplete labor markets: An experimental investigation. Journal of Economic
Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Behavior & Organization Volume 73, Issue 3, March 2010, Pages 317326
Pada tahun 2015 terdapat 9 provinsi yang produktivitas ekuivalen tenaga kerjanya di
Pencavel, John.
atas angka 2014. The
nasional yaituProductivity of Working
provinsi Kalimantan Hours.
Timur, DKIIZA Discussion
Jakarta, Paper No. 8129
Riau, Kalimantan Utara,
April 2014
Kepulauan Riau, Papua Barat, Papua, Jambi, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan produktivitas
ekuivalen Anung.
Pramudyo, tenaga kerja
2015.terendah terdapat diSumber
Mempersiapkan ProvinsiDaya
Nusa Tenggara
Manusia Timur.
dalam Menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN
Dalam hal produktivitas Tahun
jam kerja, 2015. JBMA,
terdapat Volume
9 provinsi yangII, No. 2, September
memiliki 2014,
angka di atas angka
ISSN: 2252-5483. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2016.
nasional yaitu Provinsi Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Riau, Kalimantan Utara, Kepulauan
Riau, Papua Barat, Papua, Jambi, dan Sulawesi Selatan. Sedangkan produktivitas jam kerja
Ramayani, Citra. 2012. Analisis Produktivitas Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi
terendah tetap Jurnal
Indonesia. beradaKajian
di Provinsi Nusa Volume
Ekonomi, TenggaraI, Timur.
Nomor I, April 2012.
Pada level kabupaten/kota produktivitas tenaga kerja tertinggi tahun 2015 sebesar
Republik Indonesia. (2014). PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2
830,40 juta terjadi di Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, sedangkan yang terendah
TAHUN
sebesar 4,98 juta terjadi di Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
2015 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL
2015-

2019. JAKARTA: BAPPENAS.

Siregar, H (2006), Perbaikan Struktur dan Pertumbuhan Ekonomi: Mendorong dan


Menciptakan Lapangan Kerja, Jurnal Ekononomi Politik dan Keuangan, INDEF,
Jakarta

Sukirno sudono. 2006. Makro Ekonomi Teori Pengantar. PT. Griya Grafindo Persada,
Jakarta.

Sukirno, Sadono, 2000, Makro Ekonomi Modern, PT. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta.

Swasono, Yudo dan Endang Sulistyaningsih. 1993. Pengembangan Sumberdaya Manusia:


Konsepsi Makro untuk Pelaksanaan di Indonesia. Izufa Gempita, Jakarta.

Syverson, Chad. 2011. What Determines Productivity?. Journal of Economic Literature


2011, 49:2, 326365

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 53


55
Tahun 2016
DAFTAR PUSTAKA

Daftar Pustaka
Tambunan, Tulus T.H. 1996. Perekonomian Indonesia. Ghalia Indonesia.Jakarta

Todaro, Michael P, diterjemahkan oleh Munandar Haris (2006), Pembangunan Ekonomi, jilid
1, Edisi Kesembilan, Erlangga, Jakarta.

Todaro,
ADB. M. Asian
(2015). P. dandevelopment
S. C. Smith.outlook
(2014). 2015
Economic Development,
update. 12th energizing
Enabling women, Edition. Pearson
Asia.
Education, Inc,
Philippines: ADB. New Jersey.
BPS . (2015).
Todaro, M.P.Laporan
dan Smith,Perekonomian
S.C. (2006).Indonesia 2015. Jakarta:
Pembangunan Ekonomi.BPS.
Jilid I Edisi Kesembilan. Haris
Munandar (penerjemah). Erlangga, Jakarta.
BPS . (2015). Statistik Indonesia 2015. Jakarta: BPS.
BPS. (2015).
Umar, Indeks
Husein, Pembangunan
2002, Manusia
Riset Sumber Daya 2014. Jakarta:
Manusia, BPS. Keempat, Gramedia Pustaka
cetakan
Utama, Jakarta.
BPS. (2015). Keadaan Angkatan Kerja Agustus 2014. Jakarta: BPS.
Website.http://bisnis.liputan6.com/read/2286769/kepala-bps-ungkap-pemicu-
Republik Indonesia. (2014). PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN
perlambatan-ekonomi-ri)
2015 (http://news.liputan6.com/read/2296718/biang-kerok-
TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL 2015-
di-balik-perlambatan-ekonomi-indonesia)
2019. JAKARTA: BAPPENAS.
Mankiw
World (2000), TeoriForum.2016.
Economic Makro Ekonomi,
The Edisi Keempat,
Global Erlangga, Jakarta
Competitiveness Report 2016-2017.Geneva:
Siregar, WEF
H (2006), Perbaikan Struktur dan Pertumbuhan Ekonomi: Mendorong dan
Menciptakan Lapangan Kerja, Jurnal Ekononomi Politik dan Keuangan, INDEF, Jakarta
Todaro, Michael P, diterjemahkan oleh Munandar Haris (2006), Pembangunan Ekonomi, jilid
1, Edisi Kesembilan, Erlangga, Jakarta.

54
56 Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral
Tahun 2016
Lampiran
Lampiran
BAB 2 Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.

Sesungguhnya Indonesia memiliki pasar yang cukup baik untuk berinvestasi dan
memiliki peluang dalam meningkatkan daya saing. Didukung oleh sumberdaya alam yang
masih melimpah dan potensi penduduk yang besar, bukan tidak mungkin jika suatu saat
nanti Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin dalam perekonomian ASIA seperti halnya
prediksi Departemen Pertanian Amerika Serikat (Koran Sindo, 22 April 2015). Menurut riset
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya pada 2030 Indonesia akan masuk dalam
jajaran 20 besar negara-negara dengan perekonomian terbaik di dunia. Tentunya, untuk
mewujudkan cita-cita tersebut, diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni, yang
dapat bersaing di era globalisasi.

Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia di ASEAN Masih


Tertinggal

Dalam menghadapi persaingan global, maka peningkatan kualitas tenaga kerja adalah
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN yang
mencapai 20,6 ribu USD pada tahun 2014, ternyata produktivitas tenaga kerja Indonesia
masih berada di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar, Laos, Vietnam dan Filipina, level
produktivitas tenaga kerja Indonesia mencapai 23 juta USD. Namun, Singapura, Jepang,
Malaysia dan Thailand selalu mengalahkan Indonesia dalam pencapaian produktivitas
tenaga kerja. Keempat negara tersebut memang memiliki daya saing yang lebih baik dari
Indonesia.

Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China.
Negara yang belakangan disebut Tiongkok ini memiliki produktivitas tenaga kerja yang
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga
indeks daya saingnya jauh lebih tinggi dari Indonesia. Dari 12 pilar, hanya kondisi pasar
keuangan saja yang mengindikasikan lebih baiknya kondisi Indonesia dibandingkan China.

kondisi ekonomi makro merupakan faktor utama mengapa daya saing Indonesia masih
tertinggal dari China.

7 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 1. Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 58,58 60,23 60,78 58,75 57,31
SUMATERA UTARA 63,83 63,92 65,57 71,34 73,96
SUMATERA BARAT 54,43 56,93 61,07 61,14 64,33
RIAU 177,49 177,36 175,93 177,87 175,76
JAMBI 70,14 72,83 80,16 80,47 80,65
SUMATERA SELATAN 60,39 61,54 65,92 65,83 68,73
BENGKULU 36,17 37,91 41,26 41,67 42,10
LAMPUNG 47,63 48,56 52,03 51,67 54,89
KEP. BANGKA BELITUNG 68,46 68,50 70,61 73,08 73,66
KEPULAUAN RIAU 155,84 159,74 170,13 178,56 185,45
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 253,40 253,43 277,88 296,35 307,81
JAWA BARAT 55,47 55,24 58,38 59,76 64,23
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 41,48 41,82 44,13 46,22 49,08
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 36,99 37,62 40,10 40,66 44,13
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 57,11 58,15 61,00 65,40 68,74
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTEN
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga 66,39belum mampu
66,57 mengimbangi
70,94 71,94
produktivitas 76,25
pekerja
BALI 46,31
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar.47,48 50,89 53,59 55,55
NUSA TENGGARA BARAT 34,13 32,91 34,32 35,00 41,77
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 22,80 23,05 24,48 24,89 25,60
KALIMANTAN BARAT 42,07 43,78 46,94 48,11 50,21
KALIMANTAN TENGAH 56,06 58,12 61,76 63,86 64,95
KALIMANTAN SELATAN 51,38 52,73 55,65 57,19 58,69
KALIMANTAN TIMUR 292,68 292,15 273,30 313,24 308,80
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 186,67 184,21
SULAWESI UTARA 57,59 60,30 64,66 67,66 70,42
SULAWESI TENGAH 46,90 50,85 55,03 55,42 62,40
SULAWESI SELATAN 55,82 59,10 64,45 66,34 71,94
SULAWESI TENGGARA 56,07 60,11 64,45 65,83 67,90
GORONTALO 37,44 39,50 42,21 43,36 44,71
SULAWESI BARAT 35,42 36,34 40,75 40,62 43,60
MALUKU 31,66 34,24 36,69 39,16 37,93
MALUKU UTARA 37,52 38,03 40,03 42,12 42,23
PAPUA BARAT 129,46 127,82 132,69 132,88 137,67
PAPUA 73,16 72,61 74,65 75,17 81,16
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 67,84 68,68 72,33 74,73 78,18
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 55


587
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian
Lampiran 2. Produktivitas upah
Ekuivalen dan
Tenaga produktivitas
Kerja justru 2011-2015
Penuh Menurut Provinsi, sangat baik. Skor Indonesia pada
indikator (Juta
ini sebesar 4,6 atau
Rupiah/Pekerja/Tahun) berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 70,87
pasar yang 74,19cukup baik74,64 untuk berinvestasi
68,02 62,58
dan
SUMATERApeluang
memiliki UTARA dalam meningkatkan63,62 daya saing.63,59
Didukung oleh 67,63 sumberdaya
71,84 alam yang74,20
SUMATERA
masih BARAT dan potensi penduduk
melimpah 58,22 63,15bukan tidak
yang besar, 77,27mungkin64,80jika suatu 65,39
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin182,74
181,54 dalam perekonomian
189,30 ASIA seperti halnya
182,26 177,86
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika Serikat (Koran
77,52 82,63 Sindo,113,68
22 April 2015). Menurut 88,77
92,78 riset
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau64,05
SUMATERA SELATAN tepatnya pada67,27 2030 Indonesia
82,22 akan masuk dalam
71,11 73,31
jajaran
BENGKULU20 besar negara-negara dengan perekonomian
36,98 39,95 terbaik di
50,30 dunia. Tentunya,
44,19 untuk
45,75
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
50,84 sumber daya manusia
51,96 67,17 yang 55,14
mumpuni, yang 58,82
dapat bersaing di
KEP. BANGKA BELITUNG era globalisasi. 66,25 68,52 82,21 74,63 71,81
KEPULAUAN RIAU 129,67 135,00 152,77 154,61 163,25
DKI JAKARTA 209,95 214,25 245,43 250,12 257,24
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja51,56 Indonesia 52,23di ASEAN 59,97 Masih 56,53 59,77
JAWA TENGAH 41,40 41,76 51,08 46,18 47,76
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 36,49 37,33 47,43 39,61 41,57
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan global, 57,63 maka peningkatan
58,09 65,51 65,85
kualitas tenaga kerja adalah 68,03
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi60,19
pendidikan,61,96kualitas tenaga
69,60 kerja 67,40
Indonesia masih 70,19
BALI 41,54 41,84 49,37
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 48,75 49,50
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan dengan
produktivitasnya. 39,31 produktivitas
38,27 41,54 negara
rata-rata 38,25ASEAN yang 45,16
NUSA TENGGARA
mencapai 20,6TIMUR 26,82 ternyata
ribu USD pada tahun 2014, 27,64 30,47 tenaga30,70
produktivitas kerja Indonesia31,30
KALIMANTAN
masih beradaBARAT
di atasnya. Mengalahkan44,88 48,53
Kamboja, Myanmar, 55,27
Laos, Vietnam dan 52,28Filipina, level
52,34
produktivitas tenaga kerja Indonesia mencapai
KALIMANTAN TENGAH 56,01 2359,66
juta USD. 68,98
Namun, Singapura,
67,40 Jepang,
65,68
Malaysia
KALIMANTAN dan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 56,91 Indonesia
60,25 dalam64,44 pencapaian 60,99produktivitas
61,85
tenaga kerja.
KALIMANTAN TIMURKeempat negara tersebut memang
260,85 memiliki
256,67 daya saing
239,77 yang lebih
278,91 baik dari
273,47
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 180,03 166,37
SULAWESI UTARA menarik untuk disimak56,79
Hal yang 59,45
adalah perbandingan 65,53
Indonesia 66,43
dengan China. 68,31
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok
53,87 ini memiliki
59,61 produktivitas
71,31 61,01 kerja yang
tenaga 66,42
SULAWESI SELATAN 63,79 66,05 76,56
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 70,69 77,27
SULAWESI
indeks TENGGARA
daya saingnya jauh lebih tinggi62,83 71,21 Dari 12
dari Indonesia. 83,88
pilar, hanya73,13 72,09
kondisi pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan lebih 39,08 baiknya42,60
kondisi Indonesia
44,64 dibandingkan
42,50 China.
42,74
SULAWESI BARAT 49,75 50,22 69,38 52,37 55,94
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan faktor 33,43 utama36,74
mengapa daya 39,32 saing Indonesia
41,04 masih
37,88
tertinggal
MALUKU UTARAdari China. 41,78 45,28 46,71 47,75 46,35
PAPUA BARAT 127,84 132,86 141,90 138,39 139,06
PAPUA 75,51 79,33 84,87 83,48 88,78
INDONESIA 67,63 69,01 79,09 74,89 77,01
Catatan : ... Data tidak tersedia

56
5
7 8 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 3. Produktivitas Jam Kerja Menurut Provinsi, 2011-2015
(Rupiah/Jam)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 34.451 36.066 36.285 33.064 30.420
SUMATERA UTARA 30.929 30.913 32.878 34.923 36.072
SUMATERA BARAT 28.302 30.698 37.563 31.500 31.788
RIAU 88.248 88.830 92.021 88.596 86.459
JAMBI 37.684 40.166 55.260 45.100 43.154
SUMATERA SELATAN 31.138 32.701 39.967 34.567 35.639
BENGKULU 17.974 19.420 24.454 21.482 22.240
LAMPUNG 24.714 25.257 32.651 26.802 28.593
KEP. BANGKA BELITUNG 32.205 33.311 39.962 36.279 34.909
KEPULAUAN RIAU 63.035 65.627 74.265 75.160 79.357
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 102.059 104.148 119.306 121.586 125.045
JAWA BARAT 25.065 25.390 29.153 27.481 29.056
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 20.126 20.298 24.830 22.447 23.218
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 17.736 18.145 23.056 19.256 20.207
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 28.013 28.240 31.844 32.008 33.068
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTEN
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga 29.259 30.120mengimbangi
belum mampu 33.835 produktivitas
32.762 34.122
pekerja
BALI 20.191 20.338
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar. 23.997 23.700 24.064
NUSA TENGGARA BARAT 19.107 18.604 20.192 18.596 21.950
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 13.036 13.435 14.811 14.922 15.214
KALIMANTAN BARAT 21.815 23.590 26.868 25.415 25.445
KALIMANTAN TENGAH 27.226 29.003 33.531 32.766 31.928
KALIMANTAN SELATAN 27.664 29.288 31.323 29.648 30.065
KALIMANTAN TIMUR 126.803 124.771 116.553 135.581 132.935
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 87.515 80.873
SULAWESI UTARA 27.606 28.900 31.855 32.293 33.207
SULAWESI TENGAH 26.187 28.975 34.665 29.658 32.290
SULAWESI SELATAN 31.008 32.107 37.215 34.361 37.560
SULAWESI TENGGARA 30.541 34.614 40.777 35.547 35.043
GORONTALO 18.995 20.707 21.701 20.662 20.777
SULAWESI BARAT 24.186 24.411 33.726 25.459 27.193
MALUKU 16.251 17.861 19.113 19.950 18.413
MALUKU UTARA 20.308 22.010 22.705 23.210 22.531
PAPUA BARAT 62.146 64.586 68.977 67.275 67.597
PAPUA 36.706 38.564 41.259 40.583 43.159
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 32.876 33.546 38.446 36.405 37.438
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 5857


9
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 4. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator (Juta
ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 29,78pasar yang
32,69 cukup 33,70
baik untuk 34,86
berinvestasi35,31 dan
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan 36,74
daya saing.38,10
Didukung37,60 41,70 alam44,70
oleh sumberdaya yang
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk 34,15 yang besar,
34,50 bukan tidak
37,03 mungkin 39,27jika suatu39,16
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin91,52
89,59 dalam perekonomian
92,37 ASIA
97,35seperti 100,11
halnya
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika 32,45Serikat (Koran
33,41 Sindo,38,36
22 April 2015).
42,31 Menurut40,04riset
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau
SUMATERA SELATAN tepatnya 21,19
20,56 pada 2030 Indonesia
23,16 akan
23,65masuk dalam
23,84
jajaran
BENGKULU 20 besar negara-negara dengan
22,15 perekonomian
22,82 terbaik di
24,48 dunia. Tentunya,
24,90 untuk
22,85
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
32,82 sumber
33,55 daya manusia
33,24 yang mumpuni,
34,36 yang
36,06
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 45,81 42,24 44,54 43,49 38,23
KEPULAUAN RIAU 51,18 50,77 59,30 64,26 63,31
DKI JAKARTA 42,60 50,72 86,05 50,36 68,85
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja24,27 Indonesia 21,83 di ASEAN24,27 Masih 24,32 30,05
JAWA TENGAH 18,93 20,28 21,12 20,83 24,17
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 14,95 14,20 14,43 15,11 17,65
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan global, 18,21 maka19,11 20,30 21,45
peningkatan kualitas tenaga kerja adalah 22,75
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari29,85 29,90 kualitas26,13
sisi pendidikan, tenaga kerja32,16 33,17
Indonesia masih
BALI 28,75 29,60 31,66
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 34,34 36,03
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan 17,53
produktivitasnya. 18,40
dengan produktivitas 18,40
rata-rata 19,58 ASEAN22,29
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai TIMUR
20,6 ribu USD pada tahun10,75 11,27 produktivitas
2014, ternyata 11,73 tenaga 11,82 11,74
kerja Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada di atasnya. Mengalahkan 17,16 17,79
Kamboja, Myanmar, 19,48Vietnam19,41
Laos, dan Filipina,19,89
level
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia23,60 mencapai 23 23,69juta USD.25,21
Namun, Singapura,
26,16 Jepang,
30,03
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 18,84 Indonesia
19,08 dalam
20,07pencapaian
21,03 produktivitas
23,53
tenaga kerja.
KALIMANTAN TIMUR Keempat negara tersebut memang
65,22 memiliki
67,87 daya
58,92saing yang
75,08lebih baik dari
88,97
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 77,11 92,64
SULAWESI
Hal UTARA
yang menarik untuk disimak 38,83adalah perbandingan
40,46 41,29Indonesia44,38 45,92
dengan China.
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok 32,82 35,81
ini memiliki 37,55
produktivitas 40,10 kerja39,58
tenaga yang
SULAWESI SELATAN 28,46 29,47 31,53
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 34,64 37,10
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA
saingnya jauh lebih tinggi 32,22dari Indonesia.
35,95 Dari 37,19 38,27 kondisi 34,60
12 pilar, hanya pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan39,03 lebih baiknya kondisi Indonesia
39,41 42,69 dibandingkan
40,94 China.
46,91
SULAWESI BARAT 25,52 26,54 29,31 28,80 29,65
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan 16,35 faktor utama mengapa18,92
18,00 daya saing20,18
Indonesia masih
19,28
tertinggal
MALUKU UTARA dari China. 17,35 17,79 18,15 19,47 19,55
PAPUA BARAT 27,98 29,42 28,74 31,20 34,10
PAPUA 11,61 11,97 11,98 12,66 12,47
INDONESIA 25,42 26,25 27,62 28,97 31,11
Catatan : ... Data tidak tersedia

6
7
580 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 5. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 1.373,46 1.052,87 1.036,86 794,75 632,10
SUMATERA UTARA 128,22 102,35 138,81 168,79 206,19
SUMATERA BARAT 168,07 163,05 159,04 144,83 196,31
RIAU 3.744,96 2.936,45 2.834,11 2.472,82 2.825,55
JAMBI 1.302,50 1.020,59 1.133,54 914,16 1.155,17
SUMATERA SELATAN 1.186,69 1.014,80 984,22 1.409,25 963,45
BENGKULU 131,83 173,74 137,43 146,21 129,59
LAMPUNG 390,98 367,89 847,16 765,17 437,89
KEP. BANGKA BELITUNG 43,19 48,93 49,83 60,08 84,61
KEPULAUAN RIAU 1.327,70 1.290,67 1.296,01 1.763,61 1.641,39
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 201,96 203,26 182,35 218,98 102,49
JAWA BARAT 212,65 140,45 191,31 191,71 201,44
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 164,22 147,73 213,26 179,36 129,27
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 34,85 32,23 50,80 34,58 30,02
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 435,85 406,67 492,90 425,20 526,97
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 45,63 46,90 mengimbangi
belum mampu 52,05 39,80
produktivitas 92,80
pekerja
BALI 97,63
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar. 191,83 174,41 159,95 167,57
NUSA TENGGARA BARAT 306,32 219,89 329,81 290,89 675,80
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 28,52 23,80 32,13 40,98 45,06
KALIMANTAN BARAT 53,72 53,22 50,06 54,30 123,88
KALIMANTAN TENGAH 166,24 160,39 160,36 178,27 190,24
KALIMANTAN SELATAN 367,64 322,81 385,18 390,31 427,33
KALIMANTAN TIMUR 1.425,64 1.521,99 1.465,16 1.444,85 1.625,95
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 1.078,38 1.448,29
SULAWESI UTARA 107,44 95,60 129,18 155,88 188,77
SULAWESI TENGAH 239,50 242,58 458,68 457,03 386,57
SULAWESI SELATAN 416,36 485,24 589,56 827,73 628,25
SULAWESI TENGGARA 302,73 434,83 491,67 539,14 690,26
GORONTALO 17,06 13,87 20,69 23,36 20,54
SULAWESI BARAT 68,30 107,89 100,78 120,36 114,35
MALUKU 118,85 61,75 69,61 84,41 143,61
MALUKU UTARA 276,11 196,49 146,70 292,06 173,14
PAPUA BARAT 1.267,07 1.020,81 1.145,25 1.290,35 1.605,60
PAPUA 2.067,94 1.480,72 2.106,67 2.462,76 3.659,05
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 522,35 482,04 555,50 555,21 574,07
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 681


59
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 6. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Industri Pengolahan Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator (Juta
ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 110,44pasar yang
109,19 cukup106,10
baik untuk 81,31
berinvestasi63,06dan
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan 156,25 161,79
daya saing. Didukung176,20 169,95 alam
oleh sumberdaya 182,26
yang
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk 76,14 yang besar,
79,90 bukan100,51
tidak mungkin93,42jika suatu98,87
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin
693,63 dalam perekonomian
697,46 704,40 ASIA
718,69seperti 796,85
halnya
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika 224,54Serikat 239,34
(Koran Sindo, 22 April 2015).
235,63 245,08 Menurut riset
212,50
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau
SUMATERA SELATAN tepatnya201,17
234,99 pada 2030238,95
Indonesia akan
232,82masuk 259,81
dalam
jajaran
BENGKULU20 besar negara-negara dengan
70,03perekonomian
53,07 terbaik di
76,39 dunia. Tentunya,
80,80 untuk
62,73
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
77,87 sumber
86,92 daya manusia
105,77 yang mumpuni,
111,49 yang
103,88
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 321,24 263,69 276,58 289,57 290,46
KEPULAUAN RIAU 223,51 255,69 242,60 285,36 288,83
DKI JAKARTA 229,66 222,36 252,13 264,57 281,97
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja Indonesia
112,43 110,76 di ASEAN
119,57 Masih 126,35 133,02
JAWA TENGAH 72,36 69,02 76,41 83,28 84,91
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 34,06 31,47 37,86 36,82 37,60
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan 117,01 108,60 118,61 131,03
global, maka peningkatan kualitas tenaga kerja adalah 141,65
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari98,30 97,05 kualitas
sisi pendidikan, 109,03
tenaga kerja 102,13
Indonesia112,47
masih
BALI 22,55 22,36 23,44
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 25,26 30,30
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan 18,25
produktivitasnya. 18,97
dengan produktivitas 20,58
rata-rata 18,97 ASEAN17,88
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai 20,6TIMUR
ribu USD pada tahun 4,81
2014, ternyata 3,85 produktivitas
4,27 tenaga4,00 5,14
kerja Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada di atasnya. Mengalahkan167,66
Kamboja,194,61 222,35Vietnam209,76
Myanmar, Laos, 211,73
dan Filipina, level
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia292,53
mencapai305,61
23 juta USD. Namun, Singapura,
301,14 399,36 Jepang,
266,07
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 97,79 Indonesia
93,33 dalam 93,26pencapaian
116,03 produktivitas
106,95
tenaga kerja.
KALIMANTAN TIMURKeempat negara tersebut
1.091,45memang memiliki
808,22 daya
963,34 saing yang lebih
977,00 baik dari
1.095,19
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 290,20 390,18
SULAWESI
Hal UTARA
yang menarik untuk disimak 91,63adalah 108,99
perbandingan 122,12Indonesia 101,07
dengan 108,29
China.
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok
55,56 54,85
ini memiliki 60,65
produktivitas 62,66 kerja140,62
tenaga yang
SULAWESI SELATAN 113,36 115,17 143,17
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 155,47 141,04
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA
saingnya jauh lebih tinggi74,05dari Indonesia.
56,37 Dari 65,06
12 pilar, hanya73,98 kondisi 80,64
pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan15,34 lebih baiknya kondisi Indonesia
17,58 20,99 dibandingkan
19,81 China.
23,57
SULAWESI BARAT 55,38 62,82 69,87 70,28 75,87
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan 25,52 faktor utama mengapa56,98
29,13 daya saing60,96Indonesia masih
55,73
tertinggal
MALUKU UTARAdari China. 78,40 57,73 98,94 82,07 63,01
PAPUA BARAT 1.198,28 799,20 1.221,26 983,52 1.678,84
PAPUA 109,11 126,14 105,09 143,69 144,27
INDONESIA 108,36 105,19 113,96 118,67 124,37
Catatan : ... Data tidak tersedia

6
7
602 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 7. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Pengadaan Listrik dan Gas Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 60,72 58,93 44,42 62,58 41,28
SUMATERA UTARA 63,43 48,53 37,89 40,23 97,53
SUMATERA BARAT 20,25 34,80 34,37 32,61 25,99
RIAU 29,25 25,65 42,14 23,69 55,61
JAMBI 25,26 25,91 63,27 15,51 38,87
SUMATERA SELATAN 38,85 35,23 43,84 60,74 38,98
BENGKULU 10,76 19,68 20,22 20,78 17,93
LAMPUNG 56,18 47,62 34,70 168,78 43,26
KEP. BANGKA BELITUNG 46,36 17,34 21,71 34,53 15,54
KEPULAUAN RIAU 251,33 463,06 371,91 338,93 721,25
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 423,66 938,79 876,97 350,82 192,41
JAWA BARAT 191,62 134,30 117,34 145,46 156,54
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 33,38 30,87 52,40 44,04 33,15
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 22,70 49,96 24,04 54,53 178,07
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 234,06 162,14 215,00 161,87 186,02
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 361,17 346,19 mengimbangi
belum mampu 341,91 290,97
produktivitas 195,91
pekerja
BALI 51,22
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar.42,11 34,56 47,03 63,99
NUSA TENGGARA BARAT 18,69 14,02 23,33 37,58 32,91
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 21,27 13,98 12,29 11,84 14,76
KALIMANTAN BARAT 41,72 37,49 30,10 21,58 30,67
KALIMANTAN TENGAH 13,44 33,09 20,39 28,16 43,59
KALIMANTAN SELATAN 19,21 18,47 30,55 22,26 29,75
KALIMANTAN TIMUR 43,78 29,13 40,61 61,28 46,90
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 49,10 50,26
SULAWESI UTARA 13,25 24,83 29,32 46,26 30,78
SULAWESI TENGAH 16,16 10,75 10,02 17,54 11,87
SULAWESI SELATAN 27,05 14,37 24,97 28,67 62,52
SULAWESI TENGGARA 17,71 32,01 17,17 21,04 23,81
GORONTALO 77,55 44,94 22,52 20,58 12,42
SULAWESI BARAT 19,23 ... 18,52 18,22 16,05
MALUKU 9,66 6,53 7,24 21,57 32,33
MALUKU UTARA 14,48 14,85 23,01 21,97 18,30
PAPUA BARAT 66,90 24,02 23,95 11,75 24,24
PAPUA 22,67 18,39 34,03 30,72 23,38
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 470,97 425,13 458,94 459,14 471,54
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 683


61
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 8. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Menurut
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Provinsi, 2011-2015
berita yang (Jutacukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan8,10 daya saing. 12,61
Didukung oleh7,97 sumberdaya
12,87 alam 9,20 yang
masih
SUMATERA melimpah
UTARA dan potensi penduduk44,36 yang besar,
21,35 bukan tidak
34,94 mungkin 47,96jika suatu48,37
saat
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin43,59
27,09 dalam perekonomian
31,93 ASIA
26,41seperti halnya
50,66
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 12,30Serikat (Koran
28,61 Sindo,19,82
22 April 2015).
13,15 Menurut15,65riset
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau pada 2030157,38
tepatnya129,12
46,56 Indonesia akan 60,12masuk dalam
48,01
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
39,51 perekonomian
72,49 terbaik di
56,17 dunia. Tentunya,
45,82 untuk
76,09
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
79,62 sumber77,43 daya manusia
92,56 yang mumpuni,
36,30 yang
193,22
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 27,25 61,68 44,65 27,42 74,74
KEP. BANGKA BELITUNG 7,00 23,97 9,02 14,22 5,63
KEPULAUAN RIAU 141,79 264,45 176,44 139,29 161,06
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja70,85 Indonesia 80,05 di ASEAN 66,63 Masih 72,90 65,33
JAWA BARAT
Tertinggal 18,18 21,36 19,68 17,36 8,84
JAWA TENGAH 37,73 50,64 35,97 26,82 28,52
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global, 47,96 maka31,15 peningkatan 60,68 22,63 kerja adalah
kualitas tenaga 38,54
JAWA TIMUR 62,90 54,47 43,98 51,82
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih 50,73
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 10,63 ASEAN 17,06
lainnya. Namun,11,95 tidak demikian
9,90 14,61
dengan
BALI
produktivitasnya. Bila dibandingkan 77,60 74,25
dengan produktivitas 92,25
rata-rata 68,48 ASEAN36,87
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun44,292014, ternyata 142,36 tenaga
14,07 produktivitas 25,89 23,61
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
11,49 72,66 Laos,
10,34Vietnam14,80
dan Filipina,29,74
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia28,87mencapai 23 52,30juta USD.42,25
Namun, Singapura,
73,86 Jepang,
90,49
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
TENGAH 19,88 Indonesia
34,92 dalam31,59pencapaian
20,64 produktivitas
28,11
tenaga kerja.
KALIMANTAN SELATANKeempat negara tersebut
266,50memang memiliki
247,59 daya
148,72 saing yang
89,51lebih baik
131,78dari
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 33,34 39,61 44,85 38,94 23,02
KALIMANTAN UTARA ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China. 58,75 26,61
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
45,84 42,12
ini memiliki 52,65
produktivitas 48,71 kerja41,61
tenaga yang
lebih
SULAWESIrendah
TENGAHdari Indonesia, namun35,50 ternyata iklim
153,09 usahanya 70,38cukup kondusif,
27,12 43,91
sehingga
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 50,92 Dari107,51
48,30dari Indonesia. 12 pilar, hanya
74,02 kondisi 42,80
pasar
keuangan saja yang mengindikasikan111,53
SULAWESI TENGGARA lebih baiknya kondisi Indonesia
87,41 116,85 dibandingkan
81,04 China.
102,38
GORONTALO 224,89 13,24 73,42 9,33 24,24
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
35,93 utama mengapa
124,70 daya
252,35 saing Indonesia
258,06 masih...
#DIV/0!
tertinggal
MALUKU dari China. 186,57 105,84 69,82 108,81 116,34
MALUKU UTARA 122,36 53,04 42,14 21,25 43,08
PAPUA BARAT 587,52 278,31 342,53 469,10 215,41
PAPUA 99,02 58,92 181,00 49,17 40,02
INDONESIA 33,05 39,06 35,36 31,00 27,74
Catatan : ... Data tidak tersedia
64
7
62 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Lampiran
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 9. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Konstruksi Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 79,12 71,01 92,23 81,11 78,10
SUMATERA UTARA 124,22 117,25 120,41 136,50 150,79
SUMATERA BARAT 71,58 84,86 107,25 100,14 107,80
RIAU 226,24 237,72 220,53 255,24 235,79
JAMBI 91,76 105,43 130,29 138,49 135,51
SUMATERA SELATAN 178,58 172,36 202,14 170,00 169,20
BENGKULU 31,62 34,41 39,60 38,89 39,65
LAMPUNG 89,79 78,80 106,76 93,08 78,12
KEP. BANGKA BELITUNG 104,01 99,04 111,78 113,94 130,20
KEPULAUAN RIAU 328,17 362,47 365,97 432,05 390,30
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 984,65 949,90 995,06 858,82 852,56
JAWA BARAT 60,14 62,70 68,36 62,34 58,02
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 59,97 57,41 76,02 60,42 53,16
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 48,32 51,21 68,00 51,31 50,51
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 84,22 81,77 105,48 92,50 79,92
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 104,06 109,16 mengimbangi
belum mampu 116,21 114,02
produktivitas 119,74
pekerja
BALI 49,32
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar.58,41 54,08 55,68 61,08
NUSA TENGGARA BARAT 73,09 66,75 61,73 68,84 49,44
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 81,73 62,94 71,39 72,28 80,70
KALIMANTAN BARAT 86,76 84,71 93,00 98,89 120,16
KALIMANTAN TENGAH 100,95 103,35 120,75 124,30 94,77
KALIMANTAN SELATAN 69,29 69,42 71,76 76,63 79,89
KALIMANTAN TIMUR 366,67 313,20 251,98 342,90 301,61
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 495,15 348,08
SULAWESI UTARA 86,82 94,66 106,76 105,96 108,74
SULAWESI TENGAH 95,82 94,56 106,50 122,18 144,61
SULAWESI SELATAN 122,96 127,52 132,64 131,15 136,69
SULAWESI TENGGARA 119,15 106,95 137,25 137,01 130,28
GORONTALO 69,98 70,97 84,58 93,19 91,96
SULAWESI BARAT 67,03 64,11 70,42 75,38 69,92
MALUKU 56,27 71,94 54,27 75,56 52,76
MALUKU UTARA 53,93 61,74 69,30 53,21 57,22
PAPUA BARAT 232,97 258,15 375,57 274,65 270,39
PAPUA 266,56 380,65 359,94 354,36 328,83
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 109,11 106,29 121,70 113,54 107,40
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 685


63
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 10. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Menurut Provinsi, 2011-2015
berita yang(Jutacukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 55,28
daya saing. 58,98
Didukung59,77 57,81 alam64,36
oleh sumberdaya yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
65,46 yang besar,
63,75 bukan tidak
66,62 mungkin 71,45jika suatu73,35
saat
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin47,44
45,36 dalam perekonomian
47,17 ASIA
50,85seperti halnya
51,71
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 78,04Serikat (Koran
75,64 Sindo,81,51
22 April 2015).
83,01 Menurut84,54riset
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya 42,58
40,42 pada 2030 Indonesia
44,47 akan
46,32masuk dalam
50,09
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
40,06 perekonomian
43,27 terbaik di
45,43 dunia. Tentunya,
42,85 untuk
44,26
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
29,09 sumber31,41 daya manusia
35,90 yang mumpuni,
36,16 yang
46,09
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 36,17 34,78 38,66 36,82 36,69
KEP. BANGKA BELITUNG 55,13 50,60 56,66 53,14 58,03
KEPULAUAN RIAU 57,71 53,67 59,67 63,99 76,77
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja Indonesia
150,68 165,06 di ASEAN
164,16 Masih 183,05 184,05
JAWA BARAT
Tertinggal 38,38 40,55 41,69 44,22 46,06
JAWA TENGAH 35,19 32,44 33,09 35,91 37,09
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global,13,90 maka14,74 peningkatan 16,14 16,87 kerja adalah
kualitas tenaga 17,64
JAWA TIMUR 61,74 62,18 62,23 69,06
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih 72,11
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 42,72 ASEAN 40,52 46,76 tidak demikian
lainnya. Namun, 48,93 45,62
dengan
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN22,06
BALI 20,81 20,45 22,93 23,76 yang
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun21,60
2014, ternyata23,49 produktivitas
25,42 tenaga 25,06 25,05
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
39,19 35,79 Laos,
36,99Vietnam35,94
dan Filipina,36,27
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia54,66
mencapai 23 55,18juta USD.60,35
Namun, Singapura,
61,51 Jepang,
58,99
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
48,45 Indonesia
48,60 dalam
51,09pencapaian
49,60 produktivitas
43,69
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN 20,66memang21,63memiliki daya24,41saing yang
23,83lebih baik dari
24,31
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 72,97 77,88 65,23 69,95 72,14
KALIMANTAN UTARA ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China. 134,42 104,03
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
42,60 42,89
ini memiliki 48,57
produktivitas 50,29 kerja52,48
tenaga yang
SULAWESI TENGAH 34,95 37,30 40,25
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 38,20 40,24
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 42,49dari Indonesia.
47,65 Dari 52,06
12 pilar, hanya
51,03 kondisi 55,56
pasar
keuangan saja
SULAWESI TENGGARA yang mengindikasikan lebih
41,35 baiknya kondisi
38,70 Indonesia
42,23 dibandingkan
43,91 China.
47,27
GORONTALO 25,44 27,92 28,58 28,98 27,22
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
28,54 utama mengapa
24,63 daya
31,55 saing Indonesia
30,54 masih
45,31
tertinggal
MALUKU dari China. 32,72 33,70 41,33 45,09 36,89
MALUKU UTARA 50,82 53,54 60,35 62,72 62,79
PAPUA BARAT 48,11 49,79 55,33 51,85 55,08
PAPUA 67,81 76,38 86,74 95,10 92,27
INDONESIA 52,10 51,54 53,34 56,22 56,50
Catatan : ... Data tidak tersedia
6
7
646 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 11. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Transportasi dan Pergudangan Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 122,71 116,37 137,77 125,14 127,85
SUMATERA UTARA 67,97 64,07 72,11 74,12 66,90
SUMATERA BARAT 125,02 132,57 150,17 168,75 177,72
RIAU 35,22 36,14 41,35 42,96 43,03
JAMBI 55,58 80,41 68,52 72,42 74,47
SUMATERA SELATAN 30,45 32,86 33,65 31,29 37,11
BENGKULU 97,46 105,88 127,27 107,99 144,53
LAMPUNG 57,76 62,44 72,40 64,60 84,83
KEP. BANGKA BELITUNG 113,49 114,61 98,75 104,44 101,66
KEPULAUAN RIAU 75,10 67,19 76,86 79,23 90,28
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 106,00 96,51 108,35 123,41 139,33
JAWA BARAT 40,38 46,64 50,05 57,29 60,54
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 38,02 40,67 39,64 46,30 51,76
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 68,72 82,85 83,07 83,34 108,01
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 46,66 51,30 54,39 56,55 66,69
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 72,59 74,43 mengimbangi
belum mampu 75,61 74,65
produktivitas 75,04
pekerja
BALI 129,49 144,66
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar. 175,55 180,04 169,30
NUSA TENGGARA BARAT 56,75 67,72 71,92 67,77 86,36
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 27,08 24,69 24,77 30,80 27,94
KALIMANTAN BARAT 79,42 95,31 83,62 93,59 95,12
KALIMANTAN TENGAH 133,15 127,14 121,54 154,73 130,94
KALIMANTAN SELATAN 70,57 80,40 84,52 78,51 98,78
KALIMANTAN TIMUR 176,74 197,19 138,92 200,15 145,36
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 225,90 242,89
SULAWESI UTARA 64,49 64,17 70,76 73,34 74,82
SULAWESI TENGAH 59,30 68,87 67,21 72,87 84,84
SULAWESI SELATAN 44,12 45,91 53,25 59,42 64,46
SULAWESI TENGGARA 46,87 57,42 60,24 69,91 77,49
GORONTALO 28,75 32,33 31,40 43,03 39,67
SULAWESI BARAT 21,82 20,67 21,68 27,57 22,43
MALUKU 29,77 30,24 32,83 28,70 28,23
MALUKU UTARA 30,86 35,09 41,05 42,08 37,14
PAPUA BARAT 49,39 46,54 53,95 56,26 52,71
PAPUA 83,96 84,02 91,32 105,30 125,56
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 58,56 62,02 65,80 70,92 75,47
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 687


65
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 12. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Menurut Provinsi,
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
2011-2015
berita yang(Jutacukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 30,64
daya saing. 33,02
Didukung20,74 21,47 alam19,56
oleh sumberdaya yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
37,49 yang besar,
33,69 bukan tidak
36,39 mungkin 40,83jika suatu35,82
saat
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin16,07
15,66 dalam perekonomian
15,23 ASIA
13,20seperti halnya
12,76
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 22,22Serikat (Koran
26,28 Sindo,22,61
22 April 2015).
19,39 Menurut21,63riset
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya 31,11
38,89 pada 2030 Indonesia
35,59 akan
37,91masuk dalam
29,85
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
39,98perekonomian
54,81 terbaik di
41,37 dunia. Tentunya,
33,61 untuk
34,92
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
33,57 sumber38,99 daya manusia
34,41 yang mumpuni,
40,82 yang
31,13
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 35,01 31,96 30,50 28,48 29,71
KEP. BANGKA BELITUNG 74,81 75,66 68,34 70,54 52,88
KEPULAUAN RIAU 44,28 40,88 39,77 42,89 79,56
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja Indonesia
156,54 159,33 di ASEAN
168,46 Masih 159,53 168,00
JAWA BARAT
Tertinggal 35,11 37,39 35,92 29,04 26,44
JAWA TENGAH 36,00 35,79 31,51 31,26 30,73
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global,56,78 maka73,13 peningkatan 55,56 55,16 kerja adalah
kualitas tenaga 71,69
JAWA TIMUR 78,78 78,76 74,93 75,45
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih 76,40
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 37,79 ASEAN 41,27 34,46 tidak demikian
lainnya. Namun, 34,94 52,06
dengan
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN94,16
BALI 107,01 109,13 113,01 104,77 yang
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun36,00
2014, ternyata31,63 produktivitas
33,38 tenaga 27,19 21,15
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
23,50 28,53 Laos,
27,85Vietnam30,26
dan Filipina,23,41
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia57,10
mencapai 23 58,10juta USD.44,91
Namun, Singapura,
40,00 Jepang,
35,62
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
50,19 Indonesia
67,89 dalam
63,44pencapaian48,61 produktivitas
51,57
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN memang27,92
31,86 memiliki daya23,33saing yang22,37lebih baik dari
21,97
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 63,57 62,04 53,36 61,08 45,76
KALIMANTAN UTARA ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China. 124,07 74,88
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
42,35 43,62
ini memiliki 36,18
produktivitas 47,25 kerja39,79
tenaga yang
SULAWESI TENGAH 23,90 20,12 22,43
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 19,02 13,88
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 50,67dari Indonesia.
46,88 Dari 49,37
12 pilar, hanya47,26 kondisi 42,02
pasar
keuangan saja yang mengindikasikan37,51
SULAWESI TENGGARA lebih baiknya kondisi Indonesia
30,11 37,79 dibandingkan
29,08 China.
36,51
GORONTALO 73,54 51,65 38,02 42,33 31,03
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
13,92 utama mengapa
10,22 daya
13,32 saing Indonesia
11,07 masih
8,92
tertinggal
MALUKU dari China. 38,41 37,43 47,81 55,67 36,31
MALUKU UTARA 12,69 16,17 12,95 12,32 13,04
PAPUA BARAT 40,96 46,36 39,54 25,07 18,70
PAPUA 52,66 60,73 50,59 41,05 48,75
INDONESIA 59,23 60,36 57,44 53,52 51,36
Catatan : ... Data tidak tersedia
6
7
668 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 13. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Informasi dan Komunikasi Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 729,28 1.036,77 1.210,10 1.096,92 965,00
SUMATERA UTARA 265,57 327,62 368,27 349,35 470,44
SUMATERA BARAT 608,22 1.264,00 902,16 1.083,23 1.888,57
RIAU 144,16 278,13 218,62 330,05 368,34
JAMBI 543,09 549,88 586,81 490,36 1.377,38
SUMATERA SELATAN 407,94 449,92 740,18 532,44 948,94
BENGKULU 716,72 1.275,10 1.325,03 600,07 384,31
LAMPUNG 459,90 998,63 843,02 903,40 926,49
KEP. BANGKA BELITUNG 306,32 456,16 358,95 457,42 570,15
KEPULAUAN RIAU 498,08 306,92 579,18 371,68 525,61
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 917,86 1.103,73 1.062,04 1.125,87 1.340,26
JAWA BARAT 262,54 267,73 262,66 288,01 317,80
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 474,62 458,00 482,01 660,10 896,70
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 331,07 584,54 740,57 579,96 423,83
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 793,89 794,02 1.157,10 1.359,80 1.402,29
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 267,29 353,74 mengimbangi
belum mampu 351,30 366,50
produktivitas 361,52
pekerja
BALI 667,55
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar. 627,28 1.214,63 1.043,28 1.809,78
NUSA TENGGARA BARAT 406,65 511,99 388,43 334,65 525,77
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 835,63 1.859,93 1.772,07 1.403,15 1.092,18
KALIMANTAN BARAT 889,74 914,55 957,61 1.490,44 796,74
KALIMANTAN TENGAH 139,06 221,37 321,67 431,84 286,96
KALIMANTAN SELATAN 447,48 610,51 711,50 633,44 702,96
KALIMANTAN TIMUR 526,28 614,10 445,96 515,63 947,85
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 510,54 649,53
SULAWESI UTARA 554,13 396,42 1.492,40 555,37 756,94
SULAWESI TENGAH 566,77 543,36 616,51 1.000,16 888,28
SULAWESI SELATAN 496,01 822,29 1.450,37 922,58 1.528,76
SULAWESI TENGGARA 549,46 532,60 541,80 434,47 1.770,66
GORONTALO 171,34 191,22 335,40 581,99 637,76
SULAWESI BARAT 1.897,97 3.253,13 836,52 2.127,94 2.434,11
MALUKU 402,21 730,31 554,54 490,98 486,67
MALUKU UTARA 2.201,61 1.837,56 623,47 989,23 1.011,81
PAPUA BARAT 370,67 660,32 666,72 348,38 490,55
PAPUA 1.023,30 1.583,19 1.946,97 1.764,04 2.675,57
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 501,36 589,54 648,56 674,20 781,48
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 689


67
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 14. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator ini sebesar
(Juta 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 166,37pasar yang
145,95 cukup173,35
baik untuk170,63
berinvestasi192,27
dan
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan 196,61 194,87
daya saing. Didukung174,55 245,08 alam
oleh sumberdaya 194,92
yang
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk 181,07 yang besar,
158,37 bukan185,28 187,35jika suatu
tidak mungkin 160,96
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin
129,45 dalam perekonomian
101,80 124,08 ASIA
169,09seperti 133,40
halnya
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika 217,45Serikat 163,39
(Koran Sindo, 22 April 2015).
171,31 183,66 Menurut riset
218,84
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau
SUMATERA SELATAN tepatnya135,22
159,57 pada 2030137,62
Indonesia akan
197,06masuk 212,34
dalam
jajaran
BENGKULU20 besar negara-negara dengan
147,32perekonomian
146,66 terbaik di
114,82 dunia. Tentunya,
161,29 untuk
117,85
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
209,81 sumber
201,16 daya manusia
151,85 yang mumpuni,
152,65 yang
168,29
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 110,64 109,46 111,57 115,16 105,51
KEPULAUAN RIAU 285,64 261,28 396,74 356,23 245,54
DKI JAKARTA 563,22 641,68 666,15 677,64 619,56
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja Indonesia
102,80 95,91 di ASEAN
102,08 Masih 96,13 97,64
JAWA TENGAH 121,01 111,41 108,29 105,20 106,96
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 101,58 74,54 86,27 89,42 107,42
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan 133,97
global, maka peningkatan kualitas tenaga kerja 155,02
141,13 155,80 149,05 adalah
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari105,86 79,83 kualitas81,80
sisi pendidikan, tenaga kerja92,53 91,73
Indonesia masih
BALI 73,64 70,06 75,31
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 90,74 86,66
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan 87,25
produktivitasnya. 115,25
dengan produktivitas 100,78 136,62 ASEAN171,66
rata-rata negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai 20,6TIMUR
ribu USD pada tahun143,37 130,07 produktivitas
2014, ternyata 156,99 tenaga 143,93 106,73
kerja Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada 226,50
di atasnya. Mengalahkan Kamboja,170,60 222,00Vietnam212,04
Myanmar, Laos, 192,97
dan Filipina, level
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia269,91
mencapai359,07
23 juta USD. Namun, Singapura,
314,29 386,24 Jepang,
255,57
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 133,50 Indonesia
158,65 dalam
206,46pencapaian
252,56 produktivitas
145,07
tenaga kerja.
KALIMANTAN TIMURKeempat negara tersebut memang
309,45 memiliki
302,93 daya
230,69 saing yang lebih
308,77 baik dari
209,86
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 200,67 214,12
SULAWESI
Hal UTARA
yang menarik untuk disimak 142,18adalah 178,82
perbandingan 125,82Indonesia
137,95
dengan 151,23
China.
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok
163,38 ini 123,37 163,22
memiliki produktivitas 186,43
tenaga kerja196,79
yang
SULAWESI SELATAN 200,87 217,22 195,39
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga175,27 161,43
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA 256,59dari Indonesia.
saingnya jauh lebih tinggi 209,97 Dari188,62 148,89 kondisi155,29
12 pilar, hanya pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan139,52lebih baiknya kondisi Indonesia
160,21 124,15 dibandingkan
109,64 China.
229,36
SULAWESI BARAT 192,96 158,52 100,28 115,36 164,09
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan130,17 faktor utama mengapa123,70
152,27 daya saing119,18
Indonesia 167,94
masih
tertinggal
MALUKU UTARAdari China. 184,30 206,54 176,83 172,55 127,01
PAPUA BARAT 153,92 147,35 221,60 102,34 137,12
PAPUA 238,27 217,79 178,06 179,52 201,57
INDONESIA 207,28 200,75 204,29 211,45 207,83
Catatan : ... Data tidak tersedia

7
680 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 15. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Real Estat Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH ... 6.741,44 10.365,44 12.641,56 ...
SUMATERA UTARA 2.522,38 13.371,93 4.391,49 2.670,65 3.881,58
SUMATERA BARAT ... 3.513,32 51.506,82 1.691,44 10.692,98
RIAU 1.614,80 7.678,79 2.154,37 2.798,68 3.210,94
JAMBI ... ... ... ... ...
SUMATERA SELATAN 1.794,34 1.760,64 1.207,42 2.648,60 3.436,46
BENGKULU 6.557,55 10.061,14 13.797,85 2.590,03 6.540,04
LAMPUNG 4.542,71 6.326,70 7.948,12 1.613,81 35.512,78
KEP. BANGKA BELITUNG 11.323,75 10.302,22 9.869,45 ... 6.215,23
KEPULAUAN RIAU 478,77 736,13 2.765,78 473,97 8.941,23
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 1.519,05 1.315,30 1.328,84 1.150,09 1.152,17
JAWA BARAT 268,19 185,43 224,40 167,67 160,87
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 7.700,19 1.476,48 2.373,19 3.772,42 1.587,82
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 18.648,27 2.202,71 1.960,22 1.278,24 2.441,07
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 573,63 1.010,54 1.226,37 743,44 645,28
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 878,22 765,52 mengimbangi
belum mampu 1.144,26 870,17
produktivitas 700,09
pekerja
BALI 1.877,22
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar. 1.221,68 923,60 1.608,93 1.035,39
NUSA TENGGARA BARAT 13.045,84 ... ... 8.787,48 3.254,71
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR ... 5.122,24 5.066,24 ... 12.667,92
KALIMANTAN BARAT 5.440,34 6.592,20 10.372,67 1.932,30 4.774,05
KALIMANTAN TENGAH 44.008,54 80.362,91 6.743,45 3.508,24 721,19
KALIMANTAN SELATAN 3.347,14 1.083,42 6.970,94 859,44 1.564,31
KALIMANTAN TIMUR 1.365,11 864,79 1.744,16 1.381,25 1.807,37
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 7.592,55 786,32
SULAWESI UTARA 2.452,03 2.791,29 3.897,96 2.953,62 5.846,52
SULAWESI TENGAH 8.136,39 2.077,55 ... 2.800,06 7.394,51
SULAWESI SELATAN 2.890,33 2.631,55 3.511,56 2.921,05 2.226,98
SULAWESI TENGGARA ... 9.005,53 3.653,74 9.338,62 1.905,97
GORONTALO ... ... 2.310,70 2.445,98 10.995,68
SULAWESI BARAT 2.900,66 ... ... ... ...
MALUKU ... ... 1.255,17 873,09 ...
MALUKU UTARA ... ... 393,53 ... ...
PAPUA BARAT ... 485,08 15.098,63 ... 2.204,72
PAPUA 4.498,08 3.263,51 2.416,55 10.965,21 11.189,81
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 1.207,18 1.062,39 1.243,80 961,34 927,17
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 781


69
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 16. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Jasa Perusahaan Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator ini sebesar
(Juta 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 50,73pasar yang50,17 cukup 51,74
baik untuk 56,81
berinvestasi59,40 dan
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan 78,17
daya saing. 86,67
Didukung67,18 79,65 alam71,57
oleh sumberdaya yang
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk 27,08 yang besar,
26,27 bukan tidak
28,31 mungkin 28,50jika suatu33,94
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu0,55 pemimpin 0,53dalam perekonomian
0,65 ASIA
0,62seperti halnya
0,63
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika 128,77Serikat 139,57
(Koran Sindo, 22 April 2015).
187,58 131,33 Menurut riset
160,61
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau8,01
SUMATERA SELATAN tepatnya pada8,44 2030 Indonesia
8,99 akan
7,49masuk dalam
11,46
jajaran
BENGKULU 20 besar negara-negara dengan
94,66 perekonomian
134,66 terbaik
155,07di dunia. Tentunya,
162,83 untuk
125,58
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
9,40 sumber17,36 daya manusia
10,78 yang mumpuni,
11,83 yang
10,00
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 21,06 24,82 21,12 16,89 19,60
KEPULAUAN RIAU 0,44 0,55 0,57 0,56 0,56
DKI JAKARTA 395,58 473,84 436,40 563,36 510,04
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja14,96 Indonesia 18,52 di ASEAN 19,25 Masih 18,98 17,51
JAWA TENGAH 18,18 18,98 19,36 18,31 22,05
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 30,45 27,35 33,35 22,57 32,78
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan global, 63,57 maka61,71 71,00 58,13
peningkatan kualitas tenaga kerja adalah 68,93
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari25,27 28,66 kualitas23,91
sisi pendidikan, tenaga kerja31,79 24,85
Indonesia masih
BALI 29,07 27,31 31,87
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 36,01 32,32
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan dengan
produktivitasnya. 9,02 10,30
produktivitas 9,73
rata-rata 11,01 ASEAN12,80
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai TIMUR
20,6 ribu USD pada tahun18,60 2014, ternyata26,79 produktivitas
16,38 tenaga 17,46 19,72
kerja Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada di atasnya. Mengalahkan 36,45 60,01
Kamboja, Myanmar, 36,91Vietnam36,87
Laos, dan Filipina,43,41
level
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia 3,67 mencapai 23 4,14juta USD. 2,90
Namun, Singapura,
3,90 Jepang,
3,82
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 28,11 Indonesia
22,36 dalam27,99pencapaian
41,49 produktivitas
28,93
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
TIMUR memang26,30
28,64 memiliki daya 23,99saing yang
29,32lebih baik dari
33,60
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 39,81 70,60
SULAWESI
Hal UTARA
yang menarik untuk disimak 5,83adalah perbandingan
3,88 4,52Indonesia5,03
dengan China.5,59
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok 25,88 25,64
ini memiliki 20,74
produktivitas 24,80 kerja31,74
tenaga yang
SULAWESI SELATAN 42,31 37,27 29,66
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 34,51 30,72
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA
saingnya jauh lebih tinggi 13,89dari Indonesia.
17,67 Dari 15,46 20,39 kondisi 19,24
12 pilar, hanya pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan lebih 7,31 baiknya kondisi Indonesia
11,33 8,83 dibandingkan
4,83 China.
4,93
SULAWESI BARAT 9,07 13,47 25,14 18,85 6,92
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan102,71 faktor utama mengapa88,75
147,70 daya saing107,50
Indonesia masih
73,69
tertinggal
MALUKU UTARA dari China. 76,77 32,63 57,27 68,40 37,22
PAPUA BARAT 25,40 33,15 36,42 21,83 33,72
PAPUA 255,29 302,69 205,42 222,84 158,22
INDONESIA 93,39 103,43 101,79 108,36 108,66
Catatan : ... Data tidak tersedia

7
702 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 17. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 78,54 74,59 71,74 71,32 69,05
SUMATERA UTARA 78,11 91,36 90,77 106,11 78,73
SUMATERA BARAT 83,30 82,84 86,72 96,27 78,67
RIAU 85,37 101,58 92,55 86,96 65,56
JAMBI 61,89 55,52 54,36 76,13 68,11
SUMATERA SELATAN 70,25 66,70 60,67 70,23 77,04
BENGKULU 51,57 54,36 52,90 50,92 62,84
LAMPUNG 50,39 50,59 55,35 63,66 72,99
KEP. BANGKA BELITUNG 64,76 82,66 71,72 72,70 69,42
KEPULAUAN
Sumber:RIAU
APO Productivity Data Book 2016 81,97 70,77 78,95 69,35 68,78
DKI JAKARTA 263,91 332,10 303,30 376,37 342,13
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA BARAT 43,54 53,69 54,66 49,34 44,57
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
JAWA
54 TENGAH
ribu USD dalam satu jam. Demikian52,01 62,72 di Jepang
halnya pekerja 63,04 63,59 menciptakan
yang mampu 67,73
D I YOGYAKARTA
output hampir 4 kali lipat dari nominal 90,59uang yang
80,21
dihasilkan74,47 92,68dengan durasi
di Indonesia 89,40
JAWA TIMUR 60,93 72,44 77,33
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga belum mampu mengimbangi produktivitas pekerja 72,06 70,44
BANTEN
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya 31,77 masih sangat
46,63 besar.44,86 51,94 39,94
BALI 68,19 58,11 61,92 64,69 84,33
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA BARAT 45,15 43,23 45,60 43,90 45,65
NUSA TENGGARA TIMUR 55,05 56,74 64,08 65,15 74,50
KALIMANTAN BARAT 73,37 70,43 62,94 73,79 71,07
KALIMANTAN TENGAH 71,98 65,30 76,53 71,29 77,59
KALIMANTAN SELATAN 72,12 79,08 82,01 90,80 68,09
KALIMANTAN TIMUR 92,37 104,24 73,82 99,81 91,59
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 98,10 95,59
SULAWESI UTARA 60,30 64,70 64,79 72,78 71,15
SULAWESI TENGAH 42,32 42,91 43,75 53,27 50,19
SULAWESI SELATAN 50,65 50,40 48,93 53,26 58,69
SULAWESI TENGGARA 39,84 42,32 41,38 47,11 56,95
GORONTALO 45,45 52,37 51,78 59,14 49,33
SULAWESI BARAT 45,36 52,86 68,41 59,67 71,99
MALUKU 81,58 97,33 94,52 87,78 99,27
MALUKU UTARA 68,82 70,98 72,33 80,61 79,08
PAPUA BARAT 111,49 108,69 105,24 119,33 115,39
PAPUA APO Productivity Data Book 2015
Sumber: 104,58 99,59 107,66 128,15 123,34
INDONESIA 72,16 78,57 79,19 80,88 77,02
Catatan : ... Data tidak tersedia
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 783
71
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 18. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Jasa Pendidikan Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator ini sebesar
(Juta 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 16,67pasar yang17,07 cukup 15,76
baik untuk 14,94
berinvestasi16,71 dan
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan 28,82
daya saing. 29,99
Didukung32,55 30,02 alam30,59
oleh sumberdaya yang
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk 27,88 yang besar,
30,09 bukan tidak
30,02 mungkin 29,07jika suatu34,84
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin15,87
14,53 dalam perekonomian
15,06 ASIA
15,94seperti halnya
14,81
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika 39,20Serikat (Koran
46,36 Sindo,47,6922 April 2015).
49,95 Menurut43,28riset
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau
SUMATERA SELATAN tepatnya 31,94
34,20 pada 2030 Indonesia
35,11 akan
35,78masuk dalam
46,66
jajaran
BENGKULU 20 besar negara-negara dengan
45,69 perekonomian
46,40 terbaik di
49,15 dunia. Tentunya,
45,73 untuk
48,07
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
26,35 sumber25,09 daya manusia
26,23 yang mumpuni,
27,34 yang
35,98
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 32,95 38,46 39,50 43,40 39,90
KEPULAUAN RIAU 53,42 51,44 57,80 51,29 39,83
DKI JAKARTA 278,35 228,69 331,63 355,03 355,38
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja30,05 Indonesia 29,67 di ASEAN 31,46 Masih 35,77 34,38
JAWA TENGAH 31,94 35,80 41,08 41,47 44,12
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 52,91 60,25 59,19 59,36 56,71
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan global, 37,14 maka39,01 45,34 41,05
peningkatan kualitas tenaga kerja adalah 40,93
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari40,34 43,01 kualitas43,37
sisi pendidikan, tenaga kerja38,10 47,56
Indonesia masih
BALI 58,21 52,32 59,35
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 63,09 85,68
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan 25,34
produktivitasnya. 23,90
dengan produktivitas 26,84
rata-rata 27,68 ASEAN27,25
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai TIMUR
20,6 ribu USD pada tahun39,61 2014, ternyata40,39 produktivitas
39,72 tenaga 39,71 39,43
kerja Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada di atasnya. Mengalahkan 51,48 46,77
Kamboja, Myanmar, 51,52Vietnam51,56
Laos, dan Filipina,57,92
level
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia48,38 mencapai 23 56,53juta USD.47,79
Namun, Singapura,
53,84 Jepang,
52,95
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 41,24 Indonesia
47,52 dalam44,66pencapaian
43,61 produktivitas
44,31
tenaga kerja.
KALIMANTAN TIMUR Keempat negara tersebut memang
44,82 memiliki
50,63 daya
49,93saing yang
73,23lebih baik dari
68,95
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 82,45 61,30
SULAWESI
Hal UTARA
yang menarik untuk disimak 28,37adalah perbandingan
27,96 28,47Indonesia32,84 32,19
dengan China.
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok 40,10 43,86
ini memiliki 36,19
produktivitas 37,56 kerja41,85
tenaga yang
SULAWESI SELATAN 53,24 53,87 53,98
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 53,24 60,63
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA
saingnya jauh lebih tinggi 48,79dari Indonesia.
46,71 Dari 51,45 49,32 kondisi 50,59
12 pilar, hanya pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan25,95 lebih baiknya kondisi Indonesia
30,44 32,51 dibandingkan
34,90 China.
32,47
SULAWESI BARAT 49,68 52,14 42,74 38,93 38,65
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan 26,98 faktor utama mengapa25,22
26,07 daya saing30,17
Indonesia masih
29,49
tertinggal
MALUKU UTARA dari China. 24,21 23,74 22,05 22,10 25,46
PAPUA BARAT 65,52 68,16 57,12 75,02 70,80
PAPUA 49,48 62,01 59,09 75,66 65,67
INDONESIA 45,27 46,08 49,53 48,62 50,58
Catatan : ... Data tidak tersedia

7
724 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 19. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 65,00 59,53 63,24 61,49 66,20
SUMATERA UTARA 44,26 40,75 58,69 64,64 53,59
SUMATERA BARAT 53,57 61,14 63,59 63,28 50,39
RIAU 23,74 22,65 18,81 31,10 29,13
JAMBI 52,89 61,73 70,75 77,92 79,50
SUMATERA SELATAN 34,61 39,51 31,28 37,34 42,87
BENGKULU 51,00 52,57 60,05 53,03 53,35
LAMPUNG 50,41 61,42 59,56 58,69 83,34
KEP. BANGKA BELITUNG 50,75 43,05 41,11 44,64 52,37
KEPULAUAN RIAU 76,24 118,36 135,55 169,58 61,74
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 171,04 149,39 188,17 200,38 242,04
JAWA BARAT 40,55 40,97 37,26 39,02 44,55
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 32,56 38,95 36,60 41,85 36,26
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 45,75 49,55 49,68 65,71 51,46
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 38,19 46,78 46,06 43,70 43,30
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 61,62 55,29 mengimbangi
belum mampu 71,98 81,22
produktivitas 60,40
pekerja
BALI 68,61
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar.66,53 72,97 61,82 73,37
NUSA TENGGARA BARAT 70,57 63,18 58,73 63,71 69,08
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 51,91 47,23 49,19 44,10 41,96
KALIMANTAN BARAT 96,32 76,70 83,63 89,86 55,26
KALIMANTAN TENGAH 86,13 109,66 120,17 120,06 76,46
KALIMANTAN SELATAN 86,66 90,16 86,54 86,17 65,99
KALIMANTAN TIMUR 95,86 87,80 73,19 84,13 86,36
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 71,34 82,36
SULAWESI UTARA 148,73 159,41 142,23 135,12 189,68
SULAWESI TENGAH 63,14 61,71 55,80 52,09 81,38
SULAWESI SELATAN 73,82 62,72 68,27 69,12 72,33
SULAWESI TENGGARA 39,86 31,16 33,08 44,45 42,42
GORONTALO 104,31 106,53 116,83 127,28 112,99
SULAWESI BARAT 61,58 49,29 51,08 49,81 68,31
MALUKU 87,38 77,27 51,47 50,06 81,89
MALUKU UTARA 104,92 56,98 77,58 73,50 77,29
PAPUA BARAT 62,55 63,98 45,98 63,38 43,00
PAPUA 105,13 148,50 125,63 189,77 135,79
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 62,55 63,37 65,77 68,71 67,03
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 785


73
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 20. Produktivitas Tenaga Kerja di Sektor Lainnya Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator ini sebesar
(Juta 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 21,67pasar yang
18,88 cukup 20,41
baik untuk 20,97
berinvestasi22,98 dan
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan6,10 daya saing.5,23 5,04 sumberdaya
Didukung oleh 6,05 alam 7,49 yang
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk 30,60 yang besar,
29,76 bukan tidak
29,68 mungkin 16,37jika suatu32,51
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin17,50
16,01 dalam perekonomian
20,45 ASIA
21,62seperti halnya
21,66
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika 31,80Serikat (Koran
30,42 Sindo,36,04
22 April 2015).
10,98 Menurut35,08riset
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau
SUMATERA SELATAN tepatnya 16,14
18,20 pada 2030 Indonesia
17,01 akan
17,40masuk dalam
18,47
jajaran
BENGKULU 20 besar negara-negara dengan8,73 perekonomian
9,67 terbaik di
8,86 dunia. Tentunya,
8,98 untuk
11,40
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
13,65 sumber
11,50 daya manusia
13,60 yang mumpuni,
9,42 yang
16,98
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 10,38 11,91 10,38 15,83 16,34
KEPULAUAN RIAU 16,67 18,96 19,70 16,29 20,45
DKI JAKARTA 66,80 54,05 70,32 76,63 87,76
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja17,45 Indonesia 16,51 di ASEAN14,69 Masih 14,99 22,25
JAWA TENGAH 14,28 12,65 11,05 14,29 17,85
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 17,74 17,48 17,25 16,32 18,17
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan global, 20,18 maka17,99 11,92 17,14
peningkatan kualitas tenaga kerja adalah 18,91
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari13,44 11,54 kualitas14,84
sisi pendidikan, tenaga kerja12,89 19,02
Indonesia masih
BALI 11,67 13,71 14,92
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 17,62 16,81
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan 26,81
produktivitasnya. 22,16
dengan produktivitas 22,96
rata-rata 26,91 ASEAN24,15
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai TIMUR
20,6 ribu USD pada tahun36,10 35,48 produktivitas
2014, ternyata 36,15 tenaga 33,76 36,13
kerja Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada di atasnya. Mengalahkan 17,64 19,48
Kamboja, Myanmar, 19,36Vietnam19,20
Laos, dan Filipina,18,32
level
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia26,11 mencapai 23 27,57juta USD.24,50
Namun, Singapura,
23,24 Jepang,
22,21
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 11,74 Indonesia
12,45 dalam
12,00pencapaian
13,38 produktivitas
14,16
tenaga kerja.
KALIMANTAN TIMUR Keempat negara tersebut memang
28,46 memiliki
24,99 daya
22,48saing yang
27,32lebih baik dari
30,30
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 32,59 29,16
SULAWESI
Hal UTARA
yang menarik untuk disimak 16,24adalah perbandingan
19,49 27,03Indonesia23,89 26,13
dengan China.
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok 19,58 18,51
ini memiliki 20,64
produktivitas 12,22 kerja23,96
tenaga yang
SULAWESI SELATAN 24,94 28,93 30,65
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 18,24 35,99
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA
saingnya jauh lebih tinggi 38,97dari Indonesia.
31,01 Dari 33,78 39,65 kondisi 58,16
12 pilar, hanya pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan15,32 lebih baiknya kondisi Indonesia
17,81 17,43 dibandingkan
19,21 China.
18,38
SULAWESI BARAT 37,90 40,33 55,22 62,22 46,76
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan 26,32 faktor utama mengapa25,79
30,06 daya saing25,66
Indonesia masih
31,64
tertinggal
MALUKU UTARA dari China. 21,01 21,70 21,07 19,95 22,93
PAPUA BARAT 12,66 13,66 17,61 15,11 10,31
PAPUA 75,13 67,49 69,01 14,51 103,70
INDONESIA 22,00 20,24 18,84 20,67 26,99
Catatan : ... Data tidak tersedia

7
746 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 21. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Menurut
Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 43,49 49,25 43,78 34,86 46,18
SUMATERA UTARA 43,26 45,45 39,95 41,70 54,72
SUMATERA BARAT 44,90 47,31 51,41 39,27 48,57
RIAU 114,14 116,00 108,53 97,35 126,00
JAMBI 42,38 45,87 62,75 42,31 52,81
SUMATERA SELATAN 25,90 27,72 30,06 23,65 29,94
BENGKULU 25,78 28,36 30,51 24,90 28,58
LAMPUNG 41,41 43,13 45,25 34,36 46,92
KEP. BANGKA BELITUNG 52,52 47,41 52,12 43,49 40,14
KEPULAUAN
Sumber:RIAU
APO Productivity Data Book 2016 51,89 54,76 70,59 64,26 69,49
DKI JAKARTA 42,27 46,09 83,53 50,36 67,63
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA BARAT 31,26 28,91 28,90 24,32 39,15
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
JAWA
54 TENGAH
ribu USD dalam satu jam. Demikian23,98 25,48 di Jepang
halnya pekerja 25,25 20,83 menciptakan
yang mampu 30,09
D I YOGYAKARTA
output hampir 4 kali lipat dari nominal 20,46uang yang
18,85
dihasilkan20,23 15,11dengan durasi
di Indonesia 20,96
JAWA TIMUR 23,35 24,34 23,19
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga belum mampu mengimbangi produktivitas pekerja 21,45 29,16
BANTEN
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya 38,06 masih sangat
41,07 besar.30,67 32,16 41,78
BALI 33,12 32,82 32,43 34,34 38,94
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA BARAT 24,76 25,95 23,58 19,58 30,42
NUSA TENGGARA TIMUR 14,29 15,73 14,48 11,82 16,88
KALIMANTAN BARAT 21,29 23,26 23,89 19,41 23,70
KALIMANTAN TENGAH 26,57 27,43 28,89 26,16 34,53
KALIMANTAN SELATAN 24,51 25,26 23,01 21,03 30,26
KALIMANTAN TIMUR 68,82 70,78 51,36 75,08 92,36
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 77,11 88,50
SULAWESI UTARA 45,36 45,65 40,49 44,38 50,68
SULAWESI TENGAH 42,79 48,58 47,33 40,10 47,33
SULAWESI SELATAN 42,57 41,25 39,79 34,64 49,99
SULAWESI TENGGARA 42,77 52,63 51,68 38,27 43,82
GORONTALO 45,55 48,04 45,73 40,94 51,39
SULAWESI BARAT 41,85 44,57 49,45 28,80 44,82
MALUKU 20,37 22,65 20,85 20,18 22,08
MALUKU UTARA 22,09 23,85 20,72 19,47 25,61
PAPUA BARAT 31,62 35,49 32,08 31,20 40,30
Sumber:
PAPUA APO Productivity Data Book 2015 12,99 14,36 13,34 12,66 15,59
INDONESIA 32,32 33,81 37,71 28,97 39,24
Catatan : ... Data tidak tersedia
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 787
75
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 22. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Pertambangan dan Penggalian Menurut Provinsi,
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
2011-2015
berita yang(Jutacukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012 yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 1.307,23 1.084,93
daya saing. Didukung 1.050,17 794,75 alam
oleh sumberdaya 565,63
yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
115,32 yang besar,
95,57 bukan115,46
tidak mungkin168,79jika suatu saat
200,46
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin
175,83 dalam perekonomian
171,96 202,48 ASIA
144,83seperti 212,21
halnya
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika3.288,82Serikat (Koran Sindo,
2.531,90 22 April 2015).
2.203,47 2.472,82 Menurut riset
2.352,19
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya800,99
1.084,84 pada 2030 Indonesia akan
1.187,52 914,16 masuk dalam
1.029,28
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
932,24 perekonomian
800,92 terbaik di
825,36 dunia. Tentunya,
1.409,25 untuk
856,42
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
109,01 sumber
143,83 daya manusia
155,14 yang mumpuni,
146,21 yang
128,70
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 391,57 367,45 738,63 765,17 432,66
KEP. BANGKA BELITUNG 39,99 46,06 53,57 60,08 83,04
KEPULAUAN RIAU 1.081,12 955,70 951,60 1.763,61 1.576,97
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja Indonesia
184,80 198,24 di ASEAN143,29 Masih 218,98 92,61
JAWA BARAT
Tertinggal 196,06 122,32 178,07 191,71 189,83
JAWA TENGAH 150,52 147,61 219,88 179,36 124,37
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global, 32,45 maka31,34 peningkatan 51,51 34,58 kerja adalah
kualitas tenaga 28,42
JAWA TIMUR 408,28 401,65 413,37 425,20
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih 504,24
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 41,46 ASEAN 53,41
lainnya. Namun,50,61 tidak demikian
39,80 93,98
dengan
BALI 84,83 178,17 173,81
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN yang 159,95 129,38
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun339,89 251,95 produktivitas
2014, ternyata 290,07 tenaga 290,89 757,98
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
30,33 23,57 Laos,
29,36Vietnam40,98
dan Filipina,52,62
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia46,10mencapai 23 49,47juta USD.37,66
Namun, Singapura,
54,30 Jepang,
117,21
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
139,26 Indonesia
133,33 dalam
118,63pencapaian
178,27 produktivitas
159,83
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN memang257,61
296,04 memiliki daya312,64saing yang
390,31lebih baik dari
343,83
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 962,97 1.008,91 878,83 1.444,85 1.113,12
KALIMANTAN ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan1.049,76
UTARA 1.078,38 China.
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
90,93 81,53
ini memiliki 105,99
produktivitas 155,88
tenaga kerja174,04
yang
SULAWESI TENGAH 222,16 216,37 441,44
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 457,03 348,74
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 385,18dari Indonesia.
475,97 Dari573,3712 pilar, hanya
827,73 kondisi580,46
pasar
keuangan saja
SULAWESI TENGGARA yang mengindikasikan lebih
283,06 baiknya kondisi
459,69 Indonesia
495,78 dibandingkan
539,14 China.
771,26
GORONTALO 14,22 12,02 23,08 23,36 17,27
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
106,21 utama mengapa
123,05 daya
153,57 saing Indonesia
120,36 masih
150,60
tertinggal
MALUKU dari China. 94,81 52,84 45,08 84,41 119,86
MALUKU UTARA 243,49 164,12 103,99 292,06 165,28
PAPUA BARAT 996,21 776,48 749,53 1.290,35 1.387,47
PAPUA 1.668,89 1.129,40 1.424,09 2.462,76 2.970,48
INDONESIA 455,00 425,26 531,74 555,21 515,62
Catatan : ... Data tidak tersedia
78
76 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 23. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Industri Pengolahan Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 125,78 126,49 120,50 81,31 69,41
SUMATERA UTARA 139,01 144,93 145,20 169,95 167,50
SUMATERA BARAT 78,60 83,73 122,52 93,42 101,22
RIAU 618,80 618,37 591,51 718,69 731,77
JAMBI 211,40 217,16 235,52 245,08 194,34
SUMATERA SELATAN 210,21 188,46 239,11 232,82 240,93
BENGKULU 63,85 47,54 75,80 80,80 61,50
LAMPUNG 75,03 83,68 108,94 111,49 101,06
KEP. BANGKA BELITUNG 305,82 284,44 299,74 289,57 283,75
KEPULAUAN RIAU 184,26 211,48 177,99 285,36 246,10
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 197,56 193,71 220,98 264,57 248,54
JAWA BARAT 97,87 98,09 104,10 126,35 120,07
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 67,52 64,53 78,80 83,28 79,09
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 32,26 28,83 38,46 36,82 34,95
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 103,58 96,46 106,97 131,03 128,20
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 86,17 87,24 mengimbangi
belum mampu 95,68 102,13
produktivitas 103,56
pekerja
BALI 19,99
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar. 19,67 20,39 25,26 28,17
NUSA TENGGARA BARAT 18,88 20,75 20,09 18,97 18,41
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 5,88 4,88 5,00 4,00 6,51
KALIMANTAN BARAT 147,90 176,80 209,97 209,76 194,14
KALIMANTAN TENGAH 267,31 305,30 303,07 399,36 269,96
KALIMANTAN SELATAN 102,36 102,28 92,70 116,03 108,94
KALIMANTAN TIMUR 909,59 663,47 741,29 977,00 992,80
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 290,20 312,65
SULAWESI UTARA 88,90 106,27 110,65 101,07 108,51
SULAWESI TENGAH 58,59 59,06 68,40 62,66 155,74
SULAWESI SELATAN 116,01 117,23 147,19 155,47 134,50
SULAWESI TENGGARA 79,08 64,91 76,59 73,98 85,10
GORONTALO 15,15 17,37 18,49 19,81 23,39
SULAWESI BARAT 68,25 81,00 119,52 70,28 96,26
MALUKU 26,25 33,04 49,24 60,96 52,00
MALUKU UTARA 93,70 70,48 109,91 82,07 74,07
PAPUA BARAT 1.051,63 668,19 973,49 983,52 1.936,61
PAPUA 93,64 114,51 76,28 143,69 141,94
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 97,91 96,07 120,33 118,67 114,89
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 789


77
Tahun 2016
BAB 2 Lampiran Indonesia dalam Tataran Global
Produktivitas

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 24. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Pengadaan Listrik dan Gas Menurut Provinsi,
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
2011-2015
berita yang(Jutacukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 59,94
daya saing. 55,49
Didukung40,12 62,58 alam39,88
oleh sumberdaya yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
57,94 yang besar,
43,29 bukan tidak
31,38 mungkin 40,23jika suatu83,37
saat
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin32,55
19,78 dalam perekonomian
33,47 ASIA
32,61seperti halnya
23,66
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 29,10Serikat (Koran
18,70 Sindo,38,17
22 April 2015).
23,69 Menurut56,75riset
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya 32,39
30,96 pada 2030 Indonesia
70,66 akan
15,51masuk dalam
35,25
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
33,69 perekonomian
28,05 terbaik di
31,78 dunia. Tentunya,
60,74 untuk
32,81
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
9,07 sumber17,65 daya manusia
18,91 yang mumpuni,
20,78 yang
20,29
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 60,59 47,19 31,32 168,78 32,92
KEP. BANGKA BELITUNG 34,56 16,19 19,23 34,53 12,54
KEPULAUAN RIAU 208,22 383,30 296,52 338,93 760,60
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja Indonesia
361,08 845,21 di ASEAN
725,56 Masih 350,82 189,76
JAWA BARAT
Tertinggal 176,21 130,18 99,03 145,46 146,65
JAWA TENGAH 29,47 28,82 45,31 44,04 31,05
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global,24,41 maka39,68 peningkatan 24,94 54,53 kerja 121,97
kualitas tenaga adalah
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia163,80
JAWA TIMUR 203,74 131,78 188,99 161,87 masih
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 311,77 ASEAN322,21 323,17 tidak 290,97
lainnya. Namun, 183,25
demikian dengan
BALI
produktivitasnya. Bila dibandingkan 45,33 45,22
dengan produktivitas 27,63
rata-rata 47,03 ASEAN52,33
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun14,35
2014, ternyata19,04 produktivitas
22,70 tenaga 37,58 38,92
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
13,47 10,30 Laos,
10,95Vietnam11,84
dan Filipina,16,17
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia39,11
mencapai 23 30,96juta USD.30,81
Namun, Singapura,
21,58 Jepang,
26,62
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
11,22 Indonesia
49,19 dalam18,28pencapaian
28,16 produktivitas
38,39
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN memang18,57
16,97 memiliki daya 26,57saing yang
22,26lebih baik dari
26,67
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 35,96 26,80 28,79 61,28 42,65
KALIMANTAN UTARA ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China. 49,10 45,43
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
11,82 23,25
ini memiliki 25,27
produktivitas 46,26 kerja30,10
tenaga yang
SULAWESI TENGAH 13,71 9,99 9,67
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 17,54 17,41
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 23,84dari Indonesia.
13,30 Dari 21,87
12 pilar, hanya
28,67 kondisi 51,98
pasar
keuangan saja
SULAWESI TENGGARA yang mengindikasikan lebih
12,68 baiknya kondisi
36,31 Indonesia
18,15 dibandingkan
21,04 China.
26,34
GORONTALO 77,55 39,31 16,33 20,58 11,89
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
19,94 utama mengapa
#DIV/0! daya
13,87 saing Indonesia
18,22 masih
17,88
tertinggal
MALUKU dari China. 7,91 4,51 6,08 21,57 24,32
MALUKU UTARA 11,79 20,25 18,64 21,97 17,60
PAPUA BARAT 60,07 21,27 25,37 11,75 22,59
PAPUA 19,15 14,88 26,25 30,72 18,33
INDONESIA 420,00 385,81 453,84 459,14 436,43
Catatan : ... Data tidak tersedia
8
7
780 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran
Lampiran
Global BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 25. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan
Daur Ulang Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 7,68 11,67 7,24 12,87 10,15
SUMATERA UTARA 40,05 19,86 26,24 47,96 42,22
SUMATERA BARAT 26,50 40,43 32,57 26,41 43,18
RIAU 10,48 28,83 14,24 13,15 14,21
JAMBI 49,74 108,61 144,17 60,12 39,69
SUMATERA SELATAN 30,92 62,06 52,89 45,82 66,83
BENGKULU 74,68 64,15 91,81 36,30 218,14
LAMPUNG 25,00 58,89 41,55 27,42 82,08
KEP. BANGKA BELITUNG 4,83 17,58 7,40 14,22 4,92
KEPULAUAN
Sumber:RIAU
APO Productivity Data Book 2016 138,57 209,31 161,77 139,29 148,72
DKI JAKARTA 58,08 70,29 57,39 72,90 47,00
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA BARAT 16,16 18,02 16,30 17,36 8,78
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
JAWA
54 TENGAH
ribu USD dalam satu jam. Demikian34,60 50,58 di Jepang
halnya pekerja 33,25yang mampu
26,82 menciptakan
25,98
D I YOGYAKARTA
output hampir 4 kali lipat dari nominal 43,57uang yang
40,14 150,30 22,63dengan durasi
32,86
dihasilkan di Indonesia
JAWA TIMUR 53,03 48,80 41,84
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga belum mampu mengimbangi produktivitas pekerja 51,82 45,23
BANTEN
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya 9,77 masih sangat
16,32 besar. 8,98 9,90 12,90
BALI 67,16 80,63 89,66 68,48 41,54
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA BARAT 50,14 15,30 115,47 25,89 25,38
NUSA TENGGARA TIMUR 11,15 93,75 9,77 14,80 20,26
KALIMANTAN BARAT 27,19 46,18 37,04 73,86 76,50
KALIMANTAN TENGAH 18,03 30,24 28,07 20,64 28,39
KALIMANTAN SELATAN 262,09 390,04 142,28 89,51 127,46
KALIMANTAN TIMUR 28,44 27,21 28,35 38,94 17,39
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 58,75 19,18
SULAWESI UTARA 42,69 41,11 56,77 48,71 36,46
SULAWESI TENGAH 31,63 174,21 113,97 27,12 99,49
SULAWESI SELATAN 50,51 45,34 93,02 74,02 35,81
SULAWESI TENGGARA 119,76 79,34 124,06 81,04 103,16
GORONTALO 224,89 16,18 64,24 9,33 18,43
SULAWESI BARAT 27,39 149,91 552,02 258,06 #DIV/0!
...
MALUKU 200,65 57,57 53,78 108,81 225,39
MALUKU UTARA 77,96 58,81 25,69 21,25 36,01
PAPUA BARAT 1.305,59 182,93 293,00 469,10 234,67
PAPUA APO Productivity Data Book 2015
Sumber: 121,74 67,78 166,94 49,17 35,65
INDONESIA 29,68 35,39 34,67 31,00 25,86
Catatan : ... Data tidak tersedia
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 881
79
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 26. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Konstruksi Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki 80,25pasar yang
76,12 cukup 92,77
baik untuk 81,11
berinvestasi72,58dan
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan 109,80 102,81
daya saing. Didukung97,25 136,50 alam
oleh sumberdaya 134,60
yang
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk 65,69 yang besar,
79,39 bukan111,52 100,14jika suatu98,93
tidak mungkin saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah satu pemimpin
198,39 dalam perekonomian
203,55 183,15 ASIA
255,24seperti 213,12
halnya
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika 82,21Serikat (Koran
94,87 Sindo, 22 April 2015).
122,03 138,49 Menurut riset
125,51
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau
SUMATERA SELATAN tepatnya146,13
150,46 pada 2030191,19
Indonesia akan
170,00masuk 151,85
dalam
jajaran
BENGKULU20 besar negara-negara dengan
27,88perekonomian
29,98 terbaik di
36,75 dunia. Tentunya,
38,89 untuk
36,85
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
75,41 sumber
67,64 daya manusia
106,68 yang mumpuni,
93,08 yang
67,30
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 90,29 99,50 102,13 113,94 116,01
KEPULAUAN RIAU 258,70 293,65 280,40 432,05 332,36
DKI JAKARTA 819,91 792,81 793,47 858,82 708,86
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja51,89 Indonesia 54,16 di ASEAN 61,59 Masih 62,34 50,42
JAWA TENGAH 51,37 49,52 75,88 60,42 45,63
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 40,98 43,37 62,72 51,31 43,55
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan global,
70,01 maka67,23 89,83 92,50
peningkatan kualitas tenaga kerja adalah 67,84
BANTEN
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari88,54 95,65 kualitas97,32
sisi pendidikan, tenaga kerja114,02
Indonesia103,87
masih
BALI 40,46 45,54 41,35
rendah dibanding Negara-negara besar ASEAN lainnya. Namun, tidak demikian dengan 55,68 49,85
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan 64,63
produktivitasnya. 60,89
dengan produktivitas 53,52
rata-rata 68,84 ASEAN43,26
negara yang
NUSA TENGGARA
mencapai 20,6TIMUR
ribu USD pada tahun73,40
2014, ternyata56,34 produktivitas
60,10 tenaga 72,28 75,78
kerja Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada di atasnya. Mengalahkan76,41 74,18
Kamboja, Myanmar, 82,56Vietnam98,89
Laos, 105,06
dan Filipina, level
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia85,08
mencapai 23 90,45juta USD.97,76
Namun, Singapura,
124,30 Jepang,
85,45
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 63,84 Indonesia
66,77 dalam67,19pencapaian
76,63 produktivitas
76,05
tenaga kerja.
KALIMANTAN TIMURKeempat negara tersebut memang
303,12 memiliki
247,66 daya
187,16 saing yang lebih
342,90 baik dari
264,19
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 495,15 291,83
SULAWESI
Hal UTARA
yang menarik untuk disimak 80,80adalah perbandingan
87,01 89,89Indonesia
105,96
dengan 100,48
China.
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut Tiongkok
86,47 86,58
ini memiliki 108,27
produktivitas 122,18
tenaga kerja136,66
yang
SULAWESI SELATAN 113,46 115,02 113,50
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 131,15 120,62
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA 103,92dari Indonesia.
saingnya jauh lebih tinggi 102,72 Dari136,93 137,01 kondisi112,27
12 pilar, hanya pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan63,06 lebih baiknya kondisi Indonesia
61,53 70,89 dibandingkan
93,19 China.
81,96
SULAWESI BARAT 72,80 57,39 95,27 75,38 69,07
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan 44,15 faktor utama mengapa40,92
64,63 daya saing75,56
Indonesia masih
44,15
tertinggal
MALUKU UTARAdari China. 46,90 60,15 64,24 53,21 52,09
PAPUA BARAT 210,49 260,33 296,08 274,65 238,06
PAPUA 231,61 326,08 260,62 354,36 284,92
INDONESIA 93,91 91,64 123,14 113,54 93,30
Catatan : ... Data tidak tersedia

8
7
802 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 27. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 49,80 53,83 47,11 57,81 53,92
SUMATERA UTARA 53,96 52,25 50,41 71,45 60,92
SUMATERA BARAT 39,06 42,86 40,79 50,85 43,02
RIAU 62,40 62,33 60,03 83,01 67,44
JAMBI 33,87 35,83 38,17 46,32 42,26
SUMATERA SELATAN 32,74 36,11 36,77 42,85 37,30
BENGKULU 24,18 26,07 29,18 36,16 38,86
LAMPUNG 31,32 29,42 34,02 36,82 31,43
KEP. BANGKA BELITUNG 45,38 44,00 47,51 53,14 50,17
KEPULAUAN
Sumber:RIAU
APO Productivity Data Book 2016 43,07 39,92 44,50 63,99 61,57
DKI JAKARTA 115,31 127,98 117,35 183,05 144,58
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA BARAT 31,55 33,66 32,07 44,22 37,60
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
JAWA
54 TENGAH
ribu USD dalam satu jam. Demikian29,99 28,22 di Jepang
halnya pekerja 28,37 35,91 menciptakan
yang mampu 31,70
D I YOGYAKARTA
output hampir 4 kali lipat dari nominal 11,78uang yang
12,79
dihasilkan14,03 16,87dengan durasi
di Indonesia 14,95
JAWA TIMUR 51,32 51,76 49,24
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga belum mampu mengimbangi produktivitas pekerja 69,06 59,69
BANTEN
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya 34,62 masih sangat
33,91 besar.34,21 48,93 37,39
BALI 16,42 15,72 17,21 23,76 18,09
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA BARAT 20,34 21,90 21,23 25,06 22,35
NUSA TENGGARA TIMUR 32,98 30,58 29,40 35,94 30,94
KALIMANTAN BARAT 42,83 45,79 45,63 61,51 47,50
KALIMANTAN TENGAH 37,76 38,43 37,83 49,60 35,91
KALIMANTAN SELATAN 19,23 20,79 20,61 23,83 22,01
KALIMANTAN TIMUR 58,80 61,74 44,63 69,95 57,35
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 134,42 81,51
SULAWESI UTARA 35,65 37,99 37,72 50,29 44,59
SULAWESI TENGAH 30,95 33,26 36,69 38,20 35,14
SULAWESI SELATAN 37,05 41,17 43,51 51,03 49,64
SULAWESI TENGGARA 37,03 35,51 37,85 43,91 40,25
GORONTALO 23,01 24,88 22,06 28,98 22,32
SULAWESI BARAT 27,49 23,49 31,89 30,54 41,20
MALUKU 28,13 30,38 32,02 45,09 32,33
MALUKU UTARA 44,45 48,86 49,26 62,72 52,64
PAPUA BARAT 39,14 42,40 41,56 51,85 46,34
Sumber:
PAPUA APO Productivity Data Book 2015 51,70 62,75 65,03 95,10 76,70
INDONESIA 43,28 43,31 48,23 56,22 47,02
Catatan : ... Data tidak tersedia
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 883
81
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 28. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Transportasi dan Pergudangan Menurut Provinsi,
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
2011-2015
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 106,32
daya saing.102,74
Didukung110,29 125,14 alam
oleh sumberdaya 115,62
yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
51,26 yang besar,
48,88 bukan tidak
50,58 mungkin 74,12jika suatu50,99
saat
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin
107,36 dalam perekonomian
114,69 129,50 ASIA
168,75seperti 149,92
halnya
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 28,04Serikat (Koran
30,82 Sindo,32,51
22 April 2015).
42,96 Menurut36,77riset
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya 69,44
45,46 pada 2030 Indonesia
63,35 akan
72,42masuk dalam
65,15
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
23,74 perekonomian
27,69 terbaik di
27,50 dunia. Tentunya,
31,29 untuk
31,38
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
80,26 sumber82,66 daya manusia
104,69 yang mumpuni,
107,99 yang
129,44
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 49,72 53,96 61,27 64,60 71,57
KEP. BANGKA BELITUNG 97,57 108,57 87,83 104,44 96,02
KEPULAUAN RIAU 56,82 51,39 49,03 79,23 72,00
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja86,67 Indonesia 78,72 di ASEAN78,09 Masih 123,41 115,49
JAWA BARAT
Tertinggal 33,09 38,19 38,13 57,29 51,47
JAWA TENGAH 31,62 34,37 33,47 46,30 44,24
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global,59,74 maka70,53 peningkatan 67,22 83,34 kerja adalah
kualitas tenaga 91,12
JAWA TIMUR 38,50 41,74 42,50 56,55
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih 56,51
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 59,25 ASEAN 60,86 59,33 tidak demikian
lainnya. Namun, 74,65 61,45
dengan
BALI 105,34 114,25 126,97 180,04
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN yang 134,01
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun53,42
2014, ternyata61,13 produktivitas
57,38 tenaga 67,77 77,47
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
23,35 21,11 Laos,
19,44Vietnam30,80
dan Filipina,24,80
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia67,31
mencapai 23 81,00juta USD.65,41
Namun, Singapura,
93,59 Jepang,
82,80
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
115,24 Indonesia
110,30 dalam
89,44pencapaian
154,73 produktivitas
121,30
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN memang78,95
63,46 memiliki daya68,43saing yang
78,51lebih baik dari
94,12
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 142,18 158,16 99,11 200,15 119,30
KALIMANTAN UTARA ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China. 225,90 192,27
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
54,04 52,91
ini memiliki 53,67
produktivitas 73,34 kerja62,15
tenaga yang
SULAWESI TENGAH 50,93 61,73 60,39
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 72,87 78,78
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 36,64dari Indonesia.
38,48 Dari 42,98
12 pilar, hanya
59,42 kondisi 54,36
pasar
keuangan saja
SULAWESI TENGGARA yang mengindikasikan lebih
39,40 baiknya kondisi
52,15 Indonesia
52,88 dibandingkan
69,91 China.
63,68
GORONTALO 23,52 26,70 22,35 43,03 29,71
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
24,04 utama mengapa
19,40 daya
29,77 saing Indonesia
27,57 masih
22,70
tertinggal
MALUKU dari China. 22,74 23,67 23,51 28,70 21,82
MALUKU UTARA 24,92 29,40 30,22 42,08 30,24
PAPUA BARAT 36,91 39,71 38,18 56,26 43,02
PAPUA 65,28 69,94 61,59 105,30 96,97
INDONESIA 48,21 51,36 58,53 70,92 63,42
Catatan : ... Data tidak tersedia
8
7
824 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 29. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Menurut
Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 34,45 36,12 16,68 21,47 16,28
SUMATERA UTARA 31,85 29,93 28,05 40,83 29,86
SUMATERA BARAT 14,77 16,17 12,35 13,20 10,15
RIAU 19,26 25,37 16,95 19,39 16,68
JAMBI 34,88 29,80 31,26 37,91 26,38
SUMATERA SELATAN 31,18 46,09 32,68 33,61 29,56
BENGKULU 27,37 32,58 26,48 40,82 26,21
LAMPUNG 31,03 29,87 27,47 28,48 24,89
KEP. BANGKA BELITUNG 69,12 73,56 59,50 70,54 45,23
KEPULAUAN
Sumber:RIAU
APO Productivity Data Book 2016 34,45 32,00 26,92 42,89 67,58
DKI JAKARTA 125,84 127,26 119,31 159,53 132,93
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA BARAT 31,18 33,28 29,52 29,04 22,42
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
JAWA
54 TENGAH
ribu USD dalam satu jam. Demikian32,08 33,26 di Jepang
halnya pekerja 27,60 31,26 menciptakan
yang mampu 26,12
D I YOGYAKARTA
output hampir 4 kali lipat dari nominal 51,85uang yang
68,11
dihasilkan46,00 55,16dengan durasi
di Indonesia 57,92
JAWA TIMUR 67,53 67,97 56,11
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga belum mampu mengimbangi produktivitas pekerja 75,45 61,09
BANTEN
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya 32,86 masih sangat
38,45 besar.26,85 34,94 42,42
BALI 81,83 86,90 83,13 104,77 73,82
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA BARAT 33,94 31,58 27,83 27,19 17,65
NUSA TENGGARA TIMUR 18,93 20,09 17,97 30,26 19,13
KALIMANTAN BARAT 46,69 49,57 33,26 40,00 29,26
KALIMANTAN TENGAH 37,38 57,79 46,95 48,61 43,86
KALIMANTAN SELATAN 35,54 31,25 22,17 22,37 19,47
KALIMANTAN TIMUR 53,80 53,78 39,09 61,08 37,51
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 124,07 74,06
SULAWESI UTARA 38,23 39,49 29,98 47,25 35,46
SULAWESI TENGAH 21,88 19,76 24,90 19,02 11,24
SULAWESI SELATAN 41,24 41,85 39,20 47,26 34,78
SULAWESI TENGGARA 33,23 35,62 30,13 29,08 30,41
GORONTALO 78,71 57,06 33,27 42,33 26,16
SULAWESI BARAT 17,33 12,84 17,51 11,07 7,87
MALUKU 35,18 34,91 40,42 55,67 27,10
MALUKU UTARA 12,10 16,25 8,67 12,32 12,53
PAPUA BARAT 34,36 36,64 28,00 25,07 16,04
Sumber:
PAPUA APO Productivity Data Book 2015 38,48 46,06 34,98 41,05 42,16
INDONESIA 51,07 53,42 51,87 53,52 42,41
Catatan : ... Data tidak tersedia
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 885
83
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 30. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Informasi dan Komunikasi Menurut Provinsi, 2011-
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
2015
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012 yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 682,41
daya saing.962,27
Didukung 1.050,96 1.096,92 alam
oleh sumberdaya 828,01
yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
227,70 yang besar,
266,68 bukan264,58
tidak mungkin 349,35jika suatu saat
403,83
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin
418,08 dalam perekonomian
938,62 662,88 ASIA seperti
1.083,23 halnya
1.439,07
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 115,48Serikat 227,81
(Koran Sindo, 22 April 2015).
159,59 330,05 Menurut riset
290,78
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya501,84
480,72 pada 2030429,16Indonesia akan490,36masuk1.165,34
dalam
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
322,01 perekonomian
335,19 terbaik
528,73di dunia. Tentunya,
532,44 untuk
832,98
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
511,81 sumber
827,48 daya manusia
977,74 yang mumpuni,
600,07 yang
306,55
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 396,25 848,63 643,32 903,40 829,98
KEP. BANGKA BELITUNG 225,72 314,81 253,54 457,42 479,90
KEPULAUAN RIAU 313,85 223,63 369,06 371,68 473,41
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja Indonesia
756,03 892,03 di ASEAN783,24 Masih 1.125,87 1.137,55
JAWA BARAT
Tertinggal 215,34 208,46 208,96 288,01 274,19
JAWA TENGAH 359,44 401,52 386,87 660,10 721,33
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan 298,80 global, maka537,05
peningkatan 580,50 579,96 kerja 367,78
kualitas tenaga adalah
JAWA TIMUR 642,71 610,96 903,20 1.359,80
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia 1.129,60
masih
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 216,94 ASEAN293,70 272,54 tidak 366,50
lainnya. Namun, 315,81
demikian dengan
BALI
produktivitasnya. Bila dibandingkan526,44 533,10
dengan produktivitas 1.101,80 1.043,28 ASEAN
rata-rata negara 1.531,30
yang
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun397,94 536,00 produktivitas
2014, ternyata 378,66 tenaga 334,65 436,31
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja,
742,19 Myanmar,1.265,81
1.544,35 Laos, Vietnam dan Filipina,
1.403,15 level
984,43
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia683,38
mencapai678,55
23 juta USD. Namun,1.490,44
671,87 Singapura, Jepang,
734,81
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
114,82 Indonesia
176,13 dalam
246,85 pencapaian
431,84 produktivitas
265,51
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN 319,99memang626,34
memiliki daya513,61saing yang
633,44lebih baik dari
603,44
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 438,64 504,93 344,59 515,63 888,25
KALIMANTAN
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan 447,90
UTARA ... ... ... 510,54 China.
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
370,12 ini 307,32 1.255,40
memiliki produktivitas 555,37
tenaga kerja672,09
yang
SULAWESI TENGAH 518,02 491,55 532,79
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 1.000,16 888,91
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 401,49dari Indonesia.
676,75 Dari 12 pilar, hanya
1.173,98 922,58 kondisi pasar
1.335,26
keuangan saja
SULAWESI TENGGARA yang mengindikasikan lebih
486,97 baiknya kondisi
393,69 Indonesia
413,65 dibandingkan
434,47 China.
1.482,22
GORONTALO 134,96 166,98 267,12 581,99 440,39
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
1.234,64 utama mengapa
2.788,10 daya
1.548,42 saing Indonesia
2.127,94 masih
1.433,08
tertinggal
MALUKU dari China. 300,64 625,99 424,59 490,98 441,47
MALUKU UTARA 3.054,13 1.670,51 421,52 989,23 981,38
PAPUA BARAT 264,56 564,04 500,23 348,38 431,18
PAPUA 891,40 1.178,28 1.429,73 1.764,04 2.141,53
INDONESIA 406,47 476,65 570,43 674,20 664,59
Catatan : ... Data tidak tersedia
8
7
846 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 31. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi Menurut Provinsi, 2011-
2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 158,74 144,54 151,44 170,63 173,67
SUMATERA UTARA 172,43 172,92 144,90 245,08 182,12
SUMATERA BARAT 166,32 156,34 167,14 187,35 150,72
RIAU 120,49 92,17 119,37 169,09 124,33
JAMBI 195,00 145,91 156,97 183,66 207,73
SUMATERA SELATAN 143,32 123,21 129,65 197,06 190,72
BENGKULU 131,56 120,79 102,37 161,29 100,00
LAMPUNG 194,88 180,96 128,63 152,65 153,22
KEP. BANGKA BELITUNG 95,56 99,37 107,89 115,16 105,82
KEPULAUAN
Sumber:RIAU
APO Productivity Data Book 2016 258,19 233,54 332,89 356,23 216,32
DKI JAKARTA 519,28 572,20 547,82 677,64 578,79
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA BARAT 89,36 87,73 83,28 96,13 89,08
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
JAWA
54 TENGAH
ribu USD dalam satu jam. Demikian 106,98 98,44 di Jepang
halnya pekerja 99,02 105,20 menciptakan
yang mampu 95,56
D I YOGYAKARTA
output hampir 4 kali lipat dari nominal 100,22uang yang
68,68
dihasilkan82,66 89,42dengan100,50
di Indonesia durasi
JAWA TIMUR 119,24 121,30 129,03
yang sama. Tenaga kerja Indonesia juga belum mampu mengimbangi produktivitas pekerja 149,05 135,75
BANTEN
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya 93,53 masih sangat
70,88 besar.66,70 92,53 83,29
BALI 66,51 59,84 66,42 90,74 75,76
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA BARAT 82,76 128,62 89,02 136,62 158,26
NUSA TENGGARA TIMUR 135,80 113,93 140,34 143,93 95,53
KALIMANTAN BARAT 184,87 150,06 195,83 212,04 169,93
KALIMANTAN TENGAH 248,48 319,14 245,05 386,24 232,89
KALIMANTAN SELATAN 124,47 143,81 189,46 252,56 135,75
KALIMANTAN TIMUR 267,20 272,56 183,72 308,77 201,38
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 200,67 201,39
SULAWESI UTARA 131,08 166,13 106,79 137,95 150,46
SULAWESI TENGAH 147,76 108,26 153,11 186,43 186,48
SULAWESI SELATAN 187,52 211,63 164,27 175,27 149,77
SULAWESI TENGGARA 218,85 184,62 165,02 148,89 129,30
GORONTALO 114,17 148,12 96,49 109,64 183,60
SULAWESI BARAT 196,56 162,17 143,39 115,36 156,10
MALUKU 100,46 108,67 101,53 119,18 144,90
MALUKU UTARA 169,13 190,66 145,77 172,55 111,65
PAPUA BARAT 166,23 115,10 175,92 102,34 126,54
Sumber:
PAPUA APO Productivity Data Book 2015 198,50 191,92 139,04 179,52 166,14
INDONESIA 185,75 179,61 198,75 211,45 188,78
Catatan : ... Data tidak tersedia
Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 887
85
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 32. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Real Estat Menurut Provinsi, 2011-2015
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
dengan kontribusi
PROVINSIproduktivitas tenaga 2011 kerja. 2012 2013 2014 2015
ACEHSesungguhnya Indonesia memiliki...pasar5.867,37 yang cukup 10.998,41
baik untuk12.641,56
berinvestasi dan ...
SUMATERA UTARA
memiliki peluang dalam meningkatkan 2.536,08 13.801,39
daya saing. Didukung oleh sumberdaya
4.595,13 2.670,65 alam yang
2.749,78
SUMATERA
masih BARAT
melimpah dan potensi penduduk...yang25.815,29
besar, bukan450.684,67
tidak mungkin1.691,44jika suatu
#DIV/0!
...
saat
nanti
RIAU Indonesia akan menjadi salah 1.516,98
satu pemimpin9.435,66
dalam perekonomian
3.159,14 ASIA seperti
2.798,68 halnya
4.297,02
prediksi
JAMBI Departemen Pertanian Amerika...Serikat (Koran ... Sindo, 22 ... April 2015).... Menurut riset
...
lembaga tersebut, 15 tahun lagi atau
SUMATERA SELATAN tepatnya
1.967,34 pada 2030957,03
3.427,71 Indonesia2.648,60
akan masuk3.436,38
dalam
BENGKULU20 besar negara-negara dengan
jajaran 6.557,55perekonomian
57.492,26 terbaik
482.924,59di dunia. Tentunya, untuk
2.590,03 ...
mewujudkan
LAMPUNG cita-cita tersebut, diperlukan
3.602,12 sumber
5.769,44 daya manusia
8.693,26 yang mumpuni,
1.613,81 yang
44.390,97
dapat bersaing
KEP. BANGKA di era globalisasi.
BELITUNG 9.583,46... 14.543,30 ... 7.315,71
KEPULAUAN RIAU 343,39 923,77 7.909,63 473,97 8.111,38
DKI JAKARTA 1.612,86 1.506,27 1.285,93 1.150,09 1.374,06
Produktivitas
JAWA BARAT Tenaga Kerja Indonesia
240,58 172,58 di ASEAN
179,95 Masih 167,67 150,62
JAWA TENGAH 6.029,79 1.066,70 1.709,25 3.772,42 1.383,21
Tertinggal
D I YOGYAKARTA 372.965,35 1.767,89 2.043,80 1.278,24 1.958,47
JAWADalam
TIMUR menghadapi persaingan 507,45
global, maka peningkatan kualitas tenaga kerja 550,47
846,67 873,56 743,44
adalah
BANTEN
yang mutlak untuk dilakukan. Dari734,61 817,92 kualitas
1.038,63 870,17
hal sisi pendidikan, tenaga kerja Indonesia653,40
masih
BALI
rendah dibanding Negara-negara 1.886,34
besar ASEAN 1.470,88 757,46 tidak1.608,93
lainnya. Namun, demikian 1.511,85
dengan
NUSA TENGGARA BARATBila dibandingkan dengan
produktivitasnya. ... ...
produktivitas ...
rata-rata 8.787,48 ASEAN
negara 2.650,19
yang
NUSA TENGGARA
mencapai 20,6TIMUR
ribu USD pada tahun 2014, 17.074,14 produktivitas
... ternyata 9.966,64 tenaga kerja
... 9.935,62
Indonesia
KALIMANTAN
masih BARAT
berada 439.650,14
di atasnya. Mengalahkan Kamboja, 5.083,36
Myanmar,9.004,11
Laos, Vietnam dan Filipina,
1.932,30 level
6.958,85
produktivitas
KALIMANTAN TENGAHtenaga kerja Indonesia mencapai
586.780,58 357.168,49
23 juta USD. Namun,3.508,24
33.717,24 Singapura, Jepang,
839,37
Malaysia
KALIMANTANdan Thailand selalu mengalahkan
SELATAN 3.719,59 Indonesia
1.334,16 dalam
15.347,30pencapaian
859,44 produktivitas
2.140,17
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
TIMUR memang720,72
1.155,89 memiliki 1.605,37
daya saing 1.381,25
yang lebih baik dari
2.754,78
Indonesia.
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 7.592,55 10.484,23
SULAWESI
Hal UTARA 2.829,13adalah2.628,67
yang menarik untuk disimak 3.374,08Indonesia
perbandingan 2.953,62
dengan5.081,94
China.
SULAWESIyang
Negara TENGAHbelakangan disebut 6.641,95
Tiongkok ini3.088,31 ...
memiliki produktivitas 2.800,06 7.394,51
tenaga kerja yang
SULAWESI SELATAN 2.669,47 1.864,52 2.622,43 2.921,05
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 1.943,69
SULAWESIdaya
indeks TENGGARA 6.432,52 Dari
saingnya jauh lebih tinggi ...dari Indonesia. 2.257,69 9.338,62 kondisi
12 pilar, hanya 22.689,29
pasar
keuangan
GORONTALO saja yang mengindikasikan lebih ... baiknya kondisi
... Indonesia
3.851,17 dibandingkan
2.445,98 China.
...
SULAWESI BARAT 12.891,83 ... ... ... ...
kondisi
MALUKU ekonomi makro merupakan faktor ... utama mengapa
... daya
915,23 saing Indonesia
873,09 masih
...
tertinggal dari China.
MALUKU UTARA ... ... 655,88 ... ...
PAPUA BARAT ... 5.717,59 ... ... 3.382,76
PAPUA 9.635,60 6.530,52 4.109,87 10.965,21 12.764,75
INDONESIA 1.132,04 1.069,00 1.241,01 961,34 926,19
Catatan : ... Data tidak tersedia

88
7
86 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Lampiran
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 33. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Jasa Perusahaan Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 48,89 47,78 49,37 56,81 62,49
SUMATERA UTARA 73,89 78,66 53,22 79,65 65,27
SUMATERA BARAT 25,45 26,21 25,36 28,50 32,93
RIAU 0,47 0,45 0,49 0,62 0,53
JAMBI 115,70 124,07 163,48 131,33 141,03
SUMATERA SELATAN 7,44 7,74 7,77 7,49 10,68
BENGKULU 87,92 117,06 160,05 162,83 117,11
LAMPUNG 9,46 15,87 10,13 11,83 10,26
KEP. BANGKA BELITUNG 19,11 24,31 22,12 16,89 18,79
KEPULAUAN RIAU 0,40 0,48 0,45 0,56 0,46
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 337,98 428,98 345,13 563,36 448,52
JAWA BARAT 13,25 16,72 16,01 18,98 15,59
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 15,95 17,31 17,34 18,31 20,11
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 26,81 25,14 35,67 22,57 29,10
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 54,60 53,48 53,50 58,13 59,97
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 22,15 25,17 mengimbangi
belum mampu 19,59 31,79
produktivitas 20,68
pekerja
BALI 23,70
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar.20,89 24,51 36,01 27,60
NUSA TENGGARA BARAT 7,99 11,63 9,09 11,01 11,27
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 16,61 26,62 14,16 17,46 18,66
KALIMANTAN BARAT 31,49 52,75 28,81 36,87 38,99
KALIMANTAN TENGAH 3,30 4,12 2,36 3,90 3,17
KALIMANTAN SELATAN 24,82 22,26 32,11 41,49 27,64
KALIMANTAN TIMUR 25,49 21,47 18,49 29,32 29,32
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 39,81 70,07
SULAWESI UTARA 5,48 3,55 3,79 5,03 5,62
SULAWESI TENGAH 25,62 22,84 20,71 24,80 30,28
SULAWESI SELATAN 37,94 37,85 26,41 34,51 27,51
SULAWESI TENGGARA 13,97 20,44 17,03 20,39 15,73
GORONTALO 8,44 17,70 7,09 4,83 4,29
SULAWESI BARAT 13,47 11,04 21,95 18,85 6,55
MALUKU 107,43 116,21 74,81 107,50 70,33
MALUKU UTARA 68,48 32,10 52,66 68,40 37,38
PAPUA BARAT 25,41 31,58 32,96 21,83 31,96
PAPUA 230,24 257,77 137,28 222,84 129,75
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 82,36 92,79 96,38 108,36 96,32
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 889


87
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 34. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
Sosial Wajib Menurut Provinsi, 2011-2015
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 80,20
daya saing. 77,71
Didukung66,84 71,32 alam67,13
oleh sumberdaya yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
75,33 yang besar,
84,96 bukan tidak
79,61 mungkin
106,11jika suatu74,34
saat
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin84,33
80,56 dalam perekonomian
82,43 ASIA
96,27seperti halnya
75,12
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 82,84Serikat 100,00
(Koran Sindo,80,94
22 April 2015).
86,96 Menurut66,37
riset
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya 60,25
64,81 pada 2030 Indonesia
56,04 akan
76,13masuk dalam
68,65
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
70,09 perekonomian
66,82 terbaik di
59,72 dunia. Tentunya,
70,23 untuk
75,77
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
52,49 sumber55,36 daya manusia
49,01 yang mumpuni,
50,92 yang
63,03
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 49,57 46,79 51,05 63,66 72,32
KEP. BANGKA BELITUNG 66,61 85,01 69,03 72,70 68,65
KEPULAUAN RIAU 77,49 68,57 71,25 69,35 63,30
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja Indonesia
244,33 314,32 di ASEAN
245,55 Masih 376,37 319,67
JAWA BARAT
Tertinggal 40,83 49,45 47,70 49,34 41,52
JAWA TENGAH 50,35 61,64 58,24 63,59 61,89
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global,85,52 maka75,95 peningkatan 63,66 92,68 kerja adalah
kualitas tenaga 80,04
JAWA TIMUR 57,13 68,66 63,67 72,06
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih 65,20
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 29,74 ASEAN 44,15 37,02 tidak demikian
lainnya. Namun, 51,94 37,90
dengan
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN77,99
BALI 60,72 51,65 56,86 64,69 yang
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun45,90
2014, ternyata43,56 produktivitas
46,24 tenaga 43,90 44,27
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
52,39 56,10 Laos,
60,54Vietnam65,15
dan Filipina,73,25
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia68,72
mencapai 23 67,92juta USD.56,75
Namun, Singapura,
73,79 Jepang,
68,36
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
70,80 Indonesia
66,67 dalam
72,46pencapaian
71,29 produktivitas
74,28
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN memang81,47
73,52 memiliki daya82,06saing yang
90,80lebih baik dari
67,49
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 96,66 104,01 65,46 99,81 91,30
KALIMANTAN UTARA ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China. 98,10 98,04
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
57,42 61,95
ini memiliki 58,35
produktivitas 72,78 kerja67,11
tenaga yang
SULAWESI TENGAH 45,55 46,23 42,98
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 53,27 51,03
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 50,83dari Indonesia.
50,43 Dari 47,23
12 pilar, hanya
53,26 kondisi 58,48
pasar
keuangan saja
SULAWESI TENGGARA yang mengindikasikan lebih
41,90 baiknya kondisi
45,07 Indonesia
44,14 dibandingkan
47,11 China.
57,08
GORONTALO 49,79 61,89 47,88 59,14 48,08
kondisi ekonomi
SULAWESI BARAT makro merupakan faktor
51,88 utama mengapa
66,18 daya
86,16 saing Indonesia
59,67 masih
78,29
tertinggal
MALUKU dari China. 78,30 98,82 79,30 87,78 95,79
MALUKU UTARA 71,11 77,70 71,34 80,61 82,18
PAPUA BARAT 113,80 120,75 94,26 119,33 116,38
PAPUA 105,57 100,14 92,70 128,15 122,27
INDONESIA 69,96 76,81 81,77 80,88 73,70
Catatan : ... Data tidak tersedia
9
7
880 Pengukuran
PengukuranProduktivitas
ProduktivitasNasional,
Nasional,Regional,
Regional,dan
danSektoral
Sektoral
Tahun
Tahun2016
2016
Produktivitas Indonesia dalam Tataran Global
Lampiran BAB 2

Gambar 2.3 Produktivitas Tenaga Kerja di Beberapa Negara (Ribu US$), 2014
Lampiran 35. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Jasa Pendidikan Menurut Provinsi, 2011-2015
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)

PROVINSI 2011 2012 2013 2014 2015


ACEH 26,19 29,64 20,34 14,94 20,97
SUMATERA UTARA 38,37 38,27 36,68 30,02 36,43
SUMATERA BARAT 36,09 39,41 42,32 29,07 39,07
RIAU 18,40 22,25 17,83 15,94 18,08
JAMBI 52,33 62,51 90,37 49,95 54,14
SUMATERA SELATAN 41,53 39,37 48,11 35,78 52,71
BENGKULU 55,20 57,22 71,39 45,73 55,77
LAMPUNG 32,56 32,17 36,33 27,34 44,24
KEP. BANGKA BELITUNG 41,88 47,47 56,13 43,40 45,32
KEPULAUAN RIAU 66,51 74,25 64,52 51,29 42,16
DKI JAKARTA
Sumber: APO Productivity Data Book 2016 318,62 242,93 350,97 355,03 390,12
JAWA BARAT 34,70 34,48 41,56 35,77 38,90
Dalam hal produktivitas per jam kerja, Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura,
JAWA TENGAH 36,47 42,17 60,05 41,47 47,21
Jepang, dan Malaysia. Tenaga kerja di Singapura dapat menghasilkan barang dan jasa sebesar
D I YOGYAKARTA 55,95 65,79 82,37 59,36 55,90
54 ribu USD dalam satu jam. Demikian halnya pekerja di Jepang yang mampu menciptakan
JAWA TIMUR 43,53 46,83 57,53 41,05 45,75
output hampir 4 kali lipat dari nominal uang yang dihasilkan di Indonesia dengan durasi
BANTENsama. Tenaga kerja Indonesia juga
yang 49,24 46,64 mengimbangi
belum mampu 43,48 38,10
produktivitas 55,28
pekerja
BALI 62,03
di negeri tetangga Malaysia yang gapnya masih sangat besar.51,61 61,00 63,09 85,42
NUSA TENGGARA BARAT 34,57 34,52 43,52 27,68 32,75
Gambar 2.4 Produktivitas Per Jam Kerja di Beberapa Negara (US$), 2013
NUSA TENGGARA TIMUR 44,57 47,57 45,77 39,71 43,50
KALIMANTAN BARAT 64,43 56,89 64,55 51,56 67,01
KALIMANTAN TENGAH 61,71 76,22 61,22 53,84 65,31
KALIMANTAN SELATAN 84,52 147,31 67,90 43,61 53,43
KALIMANTAN TIMUR 52,73 62,17 53,90 73,23 78,75
KALIMANTAN UTARA ... ... ... 82,45 70,95
SULAWESI UTARA 33,08 31,75 30,66 32,84 34,49
SULAWESI TENGAH 106,74 141,06 58,82 37,56 46,39
SULAWESI SELATAN 92,46 102,66 74,67 53,24 71,93
SULAWESI TENGGARA 107,84 100,56 79,03 49,32 60,29
GORONTALO 45,90 101,21 34,67 34,90 34,91
SULAWESI BARAT 193,89 267,60 80,33 38,93 49,63
MALUKU 33,26 28,33 25,73 30,17 31,95
MALUKU UTARA 34,42 55,90 34,42 22,10 29,33
PAPUA BARAT 73,30 84,54 63,61 75,02 83,43
PAPUA 54,68 66,35 56,23 75,66 71,43
INDONESIA
Sumber: APO Productivity Data Book 2015 56,23 57,96 72,78 48,62 57,29
Catatan : ... Data tidak tersedia

Pengukuran Produktivitas Nasional, Regional, dan Sektoral 981


89
Tahun 2016
BAB 2 Produktivitas
Lampiran Indonesia dalam Tataran Global

kesesuaian pemberian upah dan produktivitas justru sangat baik. Skor Indonesia pada
Lampiran 36. Produktivitas Ekuivalen Tenaga Kerja Penuh di Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Menurut Provinsi,
indikator ini sebesar 4,6 atau berada pada ranking 29 dari 138 negara. Hal ini merupakan
2011-2015
berita yang cukup menggembirakan karena kompensasi upah dinilai sudah cukup sesuai
(Juta Rupiah/Pekerja/Tahun)
dengan kontribusi produktivitas tenaga kerja.
PROVINSI Indonesia memiliki
Sesungguhnya 2011 pasar 2012yang cukup2013 baik untuk 2014berinvestasi
2015 dan
ACEH
memiliki peluang dalam meningkatkan 71,03
daya saing. 65,23
Didukung60,80 61,49 alam72,18
oleh sumberdaya yang
masih
SUMATERAmelimpah
UTARA dan potensi penduduk
42,00 yang besar,
36,81 bukan tidak
49,27 mungkin 64,64jika suatu46,44
saat
nanti Indonesia
SUMATERA BARAT akan menjadi salah satu pemimpin61,69
51,89 dalam perekonomian
57,23 ASIA
63,28seperti halnya
46,63
prediksi
RIAU Departemen Pertanian Amerika 22,72Serikat (Koran
20,87 Sindo,15,71
22 April 2015).
31,10 Menurut28,46riset
lembaga
JAMBI tersebut, 15 tahun lagi atau tepatnya 63,95
54,02 pada 2030 Indonesia
67,29 akan
77,92masuk dalam
78,42
jajaran 20 besar
SUMATERA SELATAN negara-negara dengan
35,50 perekonomian
40,46 terbaik di
30,72 dunia. Tentunya,
37,34 untuk
40,56
mewujudkan
BENGKULU cita-cita tersebut, diperlukan
51,38 sumber55,11 daya manusia
58,01 yang mumpuni,
53,03 yang
54,61
dapat bersaing di era globalisasi.
LAMPUNG 54,40 59,91 51,80 58,69 76,83
KEP. BANGKA BELITUNG 48,99 41,45 37,93 44,64 49,43
KEPULAUAN RIAU 66,92 109,99 119,49 169,58 53,67
Produktivitas
DKI JAKARTA Tenaga Kerja Indonesia
154,95 131,83 di ASEAN
150,05 Masih 200,38 222,36
JAWA BARAT
Tertinggal 37,96 38,99 29,62 39,02 41,01
JAWA TENGAH 31,22 36,79 31,20 41,85 34,73
D I YOGYAKARTA
Dalam menghadapi persaingan global,43,65 maka45,66 peningkatan 47,20 65,71 kerja adalah
kualitas tenaga 47,60
JAWA TIMUR 36,97 42,17 39,18 43,70
hal yang mutlak untuk dilakukan. Dari sisi pendidikan, kualitas tenaga kerja Indonesia masih 38,92
BANTEN dibanding Negara-negara besar
rendah 53,71 ASEAN 49,92 61,53 tidak demikian
lainnya. Namun, 81,22 56,93
dengan
produktivitasnya. Bila dibandingkan dengan produktivitas rata-rata negara ASEAN65,52
BALI 64,39 61,46 62,52 61,82 yang
NUSA TENGGARA
mencapai BARAT
20,6 ribu USD pada tahun84,05
2014, ternyata67,47 produktivitas
52,72 tenaga 63,71 71,06
kerja Indonesia
masih beradaTIMUR
NUSA TENGGARA di atasnya. Mengalahkan Kamboja, Myanmar,
49,01 46,33 Laos,
46,56Vietnam44,10
dan Filipina,42,58
level
produktivitas
KALIMANTAN BARAT tenaga kerja Indonesia99,89
mencapai 23 72,81juta USD.75,43
Namun, Singapura,
89,86 Jepang,
54,84
Malaysia dan
KALIMANTAN TENGAH Thailand selalu mengalahkan
85,22 Indonesia
107,84 dalam
123,77pencapaian
120,06 produktivitas
82,49
tenaga kerja.
KALIMANTAN Keempat negara tersebut
SELATAN memang100,00
100,48 memiliki daya91,33saing yang
86,17lebih baik dari
67,00
Indonesia.
KALIMANTAN TIMUR 90,13 81,69 57,67 84,13 80,20
KALIMANTAN UTARA ... ... ...
Hal yang menarik untuk disimak adalah perbandingan Indonesia dengan China. 71,34 80,83
SULAWESIyang
Negara UTARA belakangan disebut Tiongkok
134,11 ini 151,58 120,82
memiliki produktivitas 135,12
tenaga kerja172,28
yang
SULAWESI TENGAH 65,76 66,24 58,80
lebih rendah dari Indonesia, namun ternyata iklim usahanya cukup kondusif, sehingga 52,09 77,51
indeks
SULAWESIdaya saingnya jauh lebih tinggi
SELATAN 71,64dari Indonesia.
61,65 Dari 63,97
12 pilar, hanya
69,12 kondisi 72,11
pasar