Anda di halaman 1dari 7

PENGERTIAN EKOLOGI KULTURAL

Ekologi kultural tidak hanya sekedar membicarakan interaksi bentuk-bentuk kehidupan


dalam suatu ekosistem tertentu, melainkan membahas cara manusia (berkat budaya sebagai
sarananya) memanipulasi dan membentuk ekosistem itu sendiri.
Aliran ekologi kultural muncul sebagai reaksi atas paham evolusi kebudayaan yang
dicetuskaan oleh para pakar antropologi awal abad ke 19.seperti morgan dan tylor . dengan
semakin meningkatnya perolehan dua secara rinci tentang beragam kebudayaan dan
organisasi sosial dari berbagai kelompok masyarakat yang relatif maasih sederhana.

Namun Dua pendekar antropologi yang diakui sebagai pelopor munculnya aliran ekologi
kultural adalah
julian h. Steward
leslie white.
SEJARAH EKOLOGI KULTURAL
1.hubungan antara lingkungan dan teknologi yang eksploitatif atau produktif.
2.hubungan timbal antara pola perilaku dan teknologi eksploitatif.
3.Sejauh mana pola perilaku mempengaruhi sektor budaya lainnya.

Hotel Horison, salah satu hotel modern di Kawasan Kota lama, makassar.
Dari bangunan hotel horison yaitu mencolok pada bagian atapnya, dimana terinspirasi dengan
bentuk atap rumah Tongkonan Toraja.
2.Bandara sultan hassanuddin makassar
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Kota Makassar. Merupakan salah satu bandara
dengan desain modern yang dimiliki Indonesia. Bentuknya sangat sarat akan nilai-nilai tradisi
lokal Bugis Makassar.
inti atap yang terinspirasi dengan bentuk kepala perahu Phinisi, dibagian bawah berbentuk
gelombang yang memberikan makna semangat bahari orang Bugis Makassar, penggabungan
desain yang sangat futuristik sangat memberikan karakter khas dengan dominasi warna putih
dan biru, tampak sangat modern tetapi masih mengahargai kearifan lokal setempat.
ekologi kultural bandara sultan hasanuddin:
ekologi kultural hotel horison:
3. Al Markaz Al Islami
Al Markaz Al Islami. Mesjid megah didesain oleh Arsitek Ir. Achmad Numan yang
merancang Al Markaz juga menambahkan unsur arsitektur Masjid Katangka Gowa dan
rumah adat Bugis-Makassar pada umumnya.
eko kultural Al Markaz Al Islami:
masjid ini tidak memiliki kubah atau atap bundar, tetapi kuncup segi empat meniru kuncup
Masjid Katangka dan rumah Bugis-Makassar.
4.Phinisi tower
Gedung berlantai 17 ini merupakan salah satu gedung di indonesia yg mempunyai arsitektur
unik berbentuk perahu layar Phinisi dan juga dengan design yg sangan Futuristik dengan
pengabungan unsur budaya lokal
ekologi kultural phinisi tower:
sangat menghargai budaya lokal Bugis Makassar, dimana bangunannya terinspirasi dari layar
di perahu phinisi yang memberikan pemaknaan simbol kejayaan, kebanggaan, dan
keagungan
ekologi kultural cenderung menekankan teknologi dan ekonomi dalam analisis terhadap
budaya, karena dari sisi waktu dan sisi budaya akan terlihat jelas perbedaannya.
5. The Centre Culturel Tjibaou
The Centre Culturel Tjibaou Berada diTinu Semenanjung sempit, sekitar 8 kilometer (5.0
mil) timur laut dari pusat bersejarah Nouma, ibukota Kaledonia Baru,
The Centre Culturel Tjibaou,sang arsitek benama Renzo Piano. didedikasikan untuk Jean-
Marie Tjibaou yang meninggal pada tahun 1989 saat memimpin perjuangan untuk otonomi
negaranya dari pemerintah Prancis.

The Centre Culturel Tjibaou sebuah Badan pengembangan Kanak Budaya dengan tujuan
mempromosikan Kanak linguistik dan warisan arkeologi
Bahan yang digunakan dalam pembangunan kubah kerucut terdiri dari kayu laminasi dan
kayu alami, beton, karang, coran aluminium, panel kaca, kulit pohon dan stainless steel.
ekologi kultural pada The Centre Culturel Tjibaou
Pusat budaya yang dicampur warisan linguistik dan artistik orang-orang Kanak. Tradisi
bangunan Kanak dan sumber daya dari arsitektur internasional modern yang dicampur
dengan ide dari arsitek Piano.
Konsep The Centre Culturel Tjibaou terinspirasi dari bangunan Tradisional Kanak Great
House berbentuk kerucut.
dikhususkan untuk asal-usul budaya dan mencari identitas Kanak asli Kaledonia Baru dan
Pasifik Selatan.
6. Wafi mall
Wafi Mall, atau disebut juga The Souk Khan Murjan. Salah satu mall berkelas di Dubai ini
mempunyai luas bangunan ini 79.989 meter persegi. Terletak di dalam kompleks Kota Mesir
dengan tema Wafi City Mall
Dibuka pada 2001 dan berisi 1.000 ruang parkir tertutup serta lebih dari 350 toko di lima
lantai. Dilengkapi dengan butik-butik kelas atas, seperti Marks & Spencer, Topshop, La
Senza, restoran, kawasan taman hiburan (Encounter Zone), ruangan bawah tanah bertema
Arab (Khan Murjan), dan spa (Cleopatra Spa).
ekologi kultural pada wafi mall
Mall ini bertema Mesir Kuno, termasuk taman dan restorannya berbentuk piramid.
Semua desain Wafi Mal sendiri menggambarkan suasana kehidupan Mesir Kuno.
7.The Muscogee (Creek) Nation Museum
dikenal sebagai Creek, yang berbasis di negara bagian AS dari Oklahoma.Pusat Kebudayaan
& Arsip menceritakan banyak cerita dari orang-orang Muscogee. Dibangun dengan standar
praktik terbaik dari American Association of Museum (AAM).
Ekologi kultural The Muscogee (Creek) Nation Museum
Konsep bangunan: A Mound modern
Desain dari Museum dan Pusat Kebudayaan didasarkan pada prinsip-prinsip Muscogee
(Creek) warisan. bentuk dasarnya adalah interpretasi modern dari gundukan Mississippian
yang merupakan aspek penting dan unik dari Muscogee sejarah (Creek). Bentuk-bentuk
gundukan itu pusat Mvskoke keyakinan, upacara, adat istiadat dan warisan arsitektur. Dengan
membangun Museum baru dan Pusat Kebudayaan sebagai penghormatan kepada tradisi
gundukan-bangunan ini, bangunan menjadi gambar ikon dan titik fokus untuk kompleks
ibukota Muscegee (Creek).
---------- Pesan terusan ----------
Dari: "fikri pandoez" <fikri.batboyscorpy@gmail.com>
Tanggal: 11 Mar 2017 00.09
Subjek: fikri lagi man
Kepada: "iman fadhil" <imanfadhilArsitektur@gmail.com>
Cc:

PENGERTIAN EKOLOGI KULTURAL


Ekologi kultural tidak hanya sekedar membicarakan interaksi bentuk-bentuk kehidupan
dalam suatu ekosistem tertentu, melainkan membahas cara manusia (berkat budaya sebagai
sarananya) memanipulasi dan membentuk ekosistem itu sendiri.
Aliran ekologi kultural muncul sebagai reaksi atas paham evolusi kebudayaan yang
dicetuskaan oleh para pakar antropologi awal abad ke 19.seperti morgan dan tylor . dengan
semakin meningkatnya perolehan dua secara rinci tentang beragam kebudayaan dan
organisasi sosial dari berbagai kelompok masyarakat yang relatif maasih sederhana.

Namun Dua pendekar antropologi yang diakui sebagai pelopor munculnya aliran ekologi
kultural adalah
julian h. Steward
leslie white.
SEJARAH EKOLOGI KULTURAL
1.hubungan antara lingkungan dan teknologi yang eksploitatif atau produktif.
2.hubungan timbal antara pola perilaku dan teknologi eksploitatif.
3.Sejauh mana pola perilaku mempengaruhi sektor budaya lainnya.

Hotel Horison, salah satu hotel modern di Kawasan Kota lama, makassar.
Dari bangunan hotel horison yaitu mencolok pada bagian atapnya, dimana terinspirasi dengan
bentuk atap rumah Tongkonan Toraja.
2.Bandara sultan hassanuddin makassar
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Kota Makassar. Merupakan salah satu bandara
dengan desain modern yang dimiliki Indonesia. Bentuknya sangat sarat akan nilai-nilai tradisi
lokal Bugis Makassar.
inti atap yang terinspirasi dengan bentuk kepala perahu Phinisi, dibagian bawah berbentuk
gelombang yang memberikan makna semangat bahari orang Bugis Makassar, penggabungan
desain yang sangat futuristik sangat memberikan karakter khas dengan dominasi warna putih
dan biru, tampak sangat modern tetapi masih mengahargai kearifan lokal setempat.
ekologi kultural bandara sultan hasanuddin:
ekologi kultural hotel horison:
3. Al Markaz Al Islami
Al Markaz Al Islami. Mesjid megah didesain oleh Arsitek Ir. Achmad Numan yang
merancang Al Markaz juga menambahkan unsur arsitektur Masjid Katangka Gowa dan
rumah adat Bugis-Makassar pada umumnya.
eko kultural Al Markaz Al Islami:
masjid ini tidak memiliki kubah atau atap bundar, tetapi kuncup segi empat meniru kuncup
Masjid Katangka dan rumah Bugis-Makassar.
4.Phinisi tower
Gedung berlantai 17 ini merupakan salah satu gedung di indonesia yg mempunyai arsitektur
unik berbentuk perahu layar Phinisi dan juga dengan design yg sangan Futuristik dengan
pengabungan unsur budaya lokal
ekologi kultural phinisi tower:
sangat menghargai budaya lokal Bugis Makassar, dimana bangunannya terinspirasi dari layar
di perahu phinisi yang memberikan pemaknaan simbol kejayaan, kebanggaan, dan
keagungan
ekologi kultural cenderung menekankan teknologi dan ekonomi dalam analisis terhadap
budaya, karena dari sisi waktu dan sisi budaya akan terlihat jelas perbedaannya.
5. The Centre Culturel Tjibaou
The Centre Culturel Tjibaou Berada diTinu Semenanjung sempit, sekitar 8 kilometer (5.0
mil) timur laut dari pusat bersejarah Nouma, ibukota Kaledonia Baru,
The Centre Culturel Tjibaou,sang arsitek benama Renzo Piano. didedikasikan untuk Jean-
Marie Tjibaou yang meninggal pada tahun 1989 saat memimpin perjuangan untuk otonomi
negaranya dari pemerintah Prancis.

The Centre Culturel Tjibaou sebuah Badan pengembangan Kanak Budaya dengan tujuan
mempromosikan Kanak linguistik dan warisan arkeologi
Bahan yang digunakan dalam pembangunan kubah kerucut terdiri dari kayu laminasi dan
kayu alami, beton, karang, coran aluminium, panel kaca, kulit pohon dan stainless steel.
ekologi kultural pada The Centre Culturel Tjibaou
Pusat budaya yang dicampur warisan linguistik dan artistik orang-orang Kanak. Tradisi
bangunan Kanak dan sumber daya dari arsitektur internasional modern yang dicampur
dengan ide dari arsitek Piano.
Konsep The Centre Culturel Tjibaou terinspirasi dari bangunan Tradisional Kanak Great
House berbentuk kerucut.
dikhususkan untuk asal-usul budaya dan mencari identitas Kanak asli Kaledonia Baru dan
Pasifik Selatan.
6. Wafi mall
Wafi Mall, atau disebut juga The Souk Khan Murjan. Salah satu mall berkelas di Dubai ini
mempunyai luas bangunan ini 79.989 meter persegi. Terletak di dalam kompleks Kota Mesir
dengan tema Wafi City Mall
Dibuka pada 2001 dan berisi 1.000 ruang parkir tertutup serta lebih dari 350 toko di lima
lantai. Dilengkapi dengan butik-butik kelas atas, seperti Marks & Spencer, Topshop, La
Senza, restoran, kawasan taman hiburan (Encounter Zone), ruangan bawah tanah bertema
Arab (Khan Murjan), dan spa (Cleopatra Spa).
ekologi kultural pada wafi mall
Mall ini bertema Mesir Kuno, termasuk taman dan restorannya berbentuk piramid.
Semua desain Wafi Mal sendiri menggambarkan suasana kehidupan Mesir Kuno.
7.The Muscogee (Creek) Nation Museum
dikenal sebagai Creek, yang berbasis di negara bagian AS dari Oklahoma.Pusat Kebudayaan
& Arsip menceritakan banyak cerita dari orang-orang Muscogee. Dibangun dengan standar
praktik terbaik dari American Association of Museum (AAM).
Ekologi kultural The Muscogee (Creek) Nation Museum
Konsep bangunan: A Mound modern
Desain dari Museum dan Pusat Kebudayaan didasarkan pada prinsip-prinsip Muscogee
(Creek) warisan. bentuk dasarnya adalah interpretasi modern dari gundukan Mississippian
yang merupakan aspek penting dan unik dari Muscogee sejarah (Creek). Bentuk-bentuk
gundukan itu pusat Mvskoke keyakinan, upacara, adat istiadat dan warisan arsitektur. Dengan
membangun Museum baru dan Pusat Kebudayaan sebagai penghormatan kepada tradisi
gundukan-bangunan ini, bangunan menjadi gambar ikon dan titik fokus untuk kompleks
ibukota Muscegee (Creek).
Makna Kultural Bangunan dan Strategi Pelestarian

Konsep makna kultural bangunan


Di dalam Burra Charter, makna kultural berarti "nilai estetika, peranan sejarah,
keilmuan, atau sosial untuk generasi di masa lampau, sekarang, dan masa mendatang".
Makna kultural merupakan sebuah konsep yang membantu untuk mengestimasi nilai suatu
tempat yang dianggap signifikan. Diharapkan, dengan memahami masa lalu dan
memperdalam masa kini, di masa mendatang akan menjadi bernilai bagi generasi selanjutnya.
Konsep ini merupakan gabungan nilai-nilai arsitektural dari suatu lingkungan
bersejarah. Menurut Wiryomartono (2002), bangunan monumental yang merupakan
bangunan yang dilindungi oleh undang-undang harus memenuhi satu atau lebih dari kriteria
peradaban dan teknis sebagai berikut: 1. Memiliki sumbangan terhadap inovasi atau temuan
kreatif atau prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknik rancangan, dan
konstruksi; 2. Menjadi bagian terpadu ingatan kolektif masyarakat tentnga tempat dan
masyarakatnya berada; 3. Usia yang lebih dari 50 tahun dengan dugaan secara ilmiah
memiliki indikasi kuat, merupakan kesatuan atau bagian dari hasil peradaban dari zaman
tertentu; 4. Kelangkaan dalam jumlah dan kualitas pada produk sejenis dan kini mudah
diproduksi lagi. Jikapun dapat diproduksi lagi, keaslian dan keotentikan sistem produksi
maupun konsumennya tidak menunjang; dan 5.Menjadi rujukan masyarakat dalam arti
tempat ziarah atau tujuan dan identitas tempat.

Kriteria penilaian bangunan berdasarkan makna kultural


Dalam upaya pelaksanaan pelestarian baik bangunan maupun kawasan sebelum
dilakukannya pelestarian tersebut, terdapat suatu proses penilaian makna kultural yang
dimiliki bangunan maupun kawasan tersebut. Tujuan dari penilaian makna kultural ini ialah
untuk menentukan arah serta strategi pelestarian yang dirasa sesuai dengan kondisi bangunan
maupun kawasan yang akan dilestarikan. Menurut Catanese (dalam Pontoh, 1992) krietria
penilaian pada bangunan yang memiliki makna kultural terbagi atas: a. Kriteria estetika atau
keindahan yang berkaitan dengan keindahan arsitektural dari berbagai masa. Tolak ukur yang
digunakan dalam kriteria estetika meliputi bentuk, gaya, struktur, tata kota yang mewakili
prestasi khusus atau gaya sejarah tertentu; b.Kriteria kejamakan (typical), yaitu bangunan
bangunan yang merupakan wakil dari kelas atau tipe bangunan tertentu. Tolak ukur
kejamakan ditentukan oleh bentuk suatu ragam atau jenis khusus yang spesifik; c. Kriteria
kelangkaan (searcity), merupakan bangunan terakhir yang menjadi peninggalan dari gaya
yang mewakili jamannya; d.Kriteria keluarbiasaan (superlative), merupakan kriteria bagi
bangunan yang paling menonjol, besar, tinggi dan sebagainya; e. Kriteria peran sejarahnya
(hystorical role), merupakan bangunan maupun lingkungan yang memiliki peran dalam
peristiwa bersejarah, sebagai ikatan simbolis dengan peristiwa masa lalu dengan
perkembangan kota; danf. Kriteria memperkuat kawasan (landmark), kehadiran bangunan
tersebut dapat mempengaruhi kawasan sekitarnya dan bermakna untuk meningkatkan dn citra
lingkungan.
Selain ke enam tolak ukur yang telah dijabarkan oleh Catanese diatas, menurut Kerr
(1983) dalam Budiharjo (1997) terdapat kriteria penilian lain yang menjadi tolak ukur
penilaian antara lain: a. Kriteria nilai sosial, merupakan kriteria yang digunakan pada
bangunan maupun kawasan yang bermakna bagi masyarakat; b. Kriteria nilai komersial,
merupakan kriteria yang digunakan sehubungan dengan peluangnya untuk dimanfaatkan bagi
kegiatan ekonomis; dan c. Kriteria nilai ilmiah, berkaitan dengan peranannya untuk
pendidikan dan pengembangan ilmu.
Attoe (1989: 423-425) mengemukakan poin-poin yang menjadi pertimbangan dalam
penilaian sutu bangunan, antara lain: 1. Estetika, Keindahan yang berkaitan dengan
keindahan arsitektural dari berbagai masa; 2. Keluarbiasaan, Bangunan yang dianggap
sebagai bangunan yang pertama dibangun, misalnya gereja pertama, bangunan bertingkat
pertama, dan lain-lain; 3. Peranan sejarah, Bangunan yang memiliki kaitan dengan
peristiwa atau tokoh sejarah tertentu; 4. Kelangkaan, Bangunan yang melambangkan tradisi
kebudayaan, yaitu mencerminkan kedaan sebenarnya, cara kehidupan dan cara melakukan
sesuatu pada sesuatu tempat dan suatu waktu tertentu; 5.Karakter bangunan, Bangunan
yang unik dan langka dan merupakan warisan terahir dari suau tipe bangunan.
Dalam Guidelines to the Burra Charter (1988), dijelaskan mengenai criteria nilai-nilai
makna kultural secara umum sebagai berikut: 1. Nilai estetika: Nilai estetika mencakup
aspek persepsi sensorik yang kriteria dapat dan harus ditetapkan. Kriteria tersebut dapat
mencakup beberapa pertimbangan, antara lain skala, bentuk, tekstur, warna, dan material dari
kain, bau dan suara yang terkait dengan tempat dan penggunaannya; 2. Nilai
historis (historic value): Nilai sejarah meliputi sejarah dari estetika, ilmu pengetahuan dan
sosial, dan oleh karena itu, untuk sebagian besar persyaratan yang mendasar ditetapkan dalam
bagian ini. Sebuah tempat mungkin memiliki nilai sejarah karena telah mempengaruhi, atau
telah dipengaruhi oleh, sebuah peristiwa bersejarah, fase, atau kegiatan. Mungkin juga
memiliki nilai sejarah sebagai lokasi peristiwa penting. Untuk setiap tempat tertentu
signifikansi akan lebih besar tergantung dari bukti dari asosiasi atau peristiwa bertahan di
situ, atau pengaturan secara substansial utuh, dari mana telah diubah atau bukti yang tidak
dapat bertahan hidup. Namun, beberapa peristiwa atau asosiasi mungkin begitu penting
bahwa tempat tetap penting terlepas dari pengobatan selanjutnya;3. Nilai ilmiah: Nilai dari
tempat yang dikaji akan tergantung pada pentingnya data yang terlibat, kelangkaan data
tersebut, kualitas keterwakilan data, dan pada tingkat yang lebih lanjut dapat berkontribusi
besar dalam memberikan informasi yang substansial; 4. Nilai sosial: Nilai sosial mencakup
kualitas tempat yang telah menjadi fokus spiritual, sentimen budaya politik, nasional atau
lainnya untuk mayoritas atau kelompok minoritas; dan 5. Pendekatan-pendekatan lainnya:
Pengelompokan ke dalam nilai-nilai estetika, sejarah, ilmiah dan sosial merupakan salah satu
pendekatan untuk memahami konsep signifikansi budaya. Namun, kategori yang lebih tepat
dapat dikembangkan seiring dengan meningkatnya pemahaman akan tempat tertentu.

Strategi Pelestarian Bangunan


Pelestarian bangunan cagar budaya merupakan salah satu topik yang kurang mendapat
perhatian dari masyarakat, sehingga mengakibatkan banyak bangunan bersejarah yang tidak
memiliki fungsi lagi tidak mendapat perhatian yang sepatutnya dan secara tiba-tiba
keberadaannya menghilang tanpa disadari. Upaya pelestarian bangunan maupun kawasan
kuno banyak mengalami kendala khususnya di kota besar. Berdasarkan pada hasil studi yang
dilakukan oleh (Panjaitan 2004), beberapa kendala yang terjadi pada usaha pelestarian
bangunan antara lain: 1.Faktor Eksternal: - Kepadatan penduduk mempengaruhi
pertumbuhan kota dan menjadikan nilai tanah dan bangunan menjadi tinggi, adanya
perubahan struktur masyarakat yang berpengaruh pada kehidupan sosialnya; - Banyak
bangunan baru yang tidak menjaga kesinambungan dengan bangunan lama, tidak sedikit pula
pembangunan bangunan baru dilakukan dengan membongkar bangunan lama yang
bersejarah; -Banyak bangunan lama yang terbengkalai dan digunakan untuk fungsi yang tidak
semestinya; - Kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat yang masih rendah
mengakibatkan kurangnya kesadaran masyarakatnya akan kesejarahan yang dimiliki kota;
dan 2. Faktor Internal: - Rendahnya kesadaran serta minimnya pengetahuan berkaitan
dengan bangunan bersejarah yang memiliki potensi besar serta berpengaruh terhadap
identitas kota; - Tidak adanya kepastian hukum terhadap pelestarian objek-objek kawasan
bersejarah di Kota Surabaya; - Tidak ada kesadaran akan pentingnya nilai gaya bangunan,
skala bangunan ataupun skala ruang pada perancangan bangunan baru disekitar kawasan
bangunan bersejarah.
Menurut Busono (2009) strategi pelestarian bangunan kuno sangat terkait erat dengan
kegiatan pemeliharaan bangunan. Aktifitas pemeliharaan bangunan tidak sekedar merupakan
kegiatan merawat bangunan secara fisik, melainkan kegiatan yang mencakup aspek teknis
maupun administratif dalam mempertahankan dan memulihkan fugnsi bangunan
sebagaimana mestinya. Kegiatan pemeliharaan bangunan meliputi berbagai aspek yang dapat
dikategorikan dalam empat kegiatan, antara lain: - Pemeliharaan rutin harian;
-Rectification ( perbaikan bangunan yang baru selesai); - Replacement ( penggantian bagian
yang berharga dari bangunan); dan - Retrofitting(melengkapi bangunan sesuai kemajuan
teknologi).
Secara umum kegiatan pemeliharaan bangunan dapat dibagi menjadi 2 macam kegiatan
yakni pemeliharaan rutin dan pemeliharaan remedial(perbaikan). Pemeliharaan rutin adalah
pemeliharaan yang dilaksanakan dalam interval waktu tertentu untuk mempertahankan
gedung dalam kondisi yang diinginkan. Sebagai contoh kegiatan pemeliharaan rutin ini ialah
kegiatan pengecatan dinding luar yang dilaksanakan 2 tahun sekali, pengecatan interior 3
tahun sekali, pembersihan dinding luar dan sebagainya. Pemeliharaan rutin juga berkaitan
dengan perbaikan atau penggantian komponen yang rusak akibat proses alami maupun proses
pemakaian bangunan (Busono, 2009)
Dalam upaya adaptasi fungsi bangunan yang akan dilestarikan, tentunya akan ada
upaya-upaya penyesuaian terhadap fungsi pengguna yang baru dan juga standar-standar
bangunan di masa kini. Hal ini tentunya akan berdampak terhadap perubahan fisik eksisting
bangunan untuk menyesuaikan kebutuhan saat ini. Secara umum, terdapat dua jenis strategi
pelestarian bangunan, yakni strategi yang berupa arahan/panduan (guideline) dan strategi
yang berupa aspek teknis pelaksanaan tindakan pelestarian. Nurmala (2003) menjabarkan
strategi pelestarian komponen bangunan melalui standar pengaturan melalui beberapa dasar
pertimbangan, antara lain estetika, kejamakan, kelangkaan, keistimewaan, dan nilai historis
(Tabel 2).